
PRAKTIS pada pukul tujuh pagi, bel sekolah berdering memaksa kami untuk pergi memasuki
kelas. Pamitan seperlunya kepada keluarga Atma, kami langsung berpisah pada
jalan masing-masing (karena memang kelas kami berbeda).
Menaiki tangga, belok ke arah kanan, lalu melewati koridor yang dipenuhi
oleh kelas-kelas lain, setelahnya aku langsung memasuki ruang kelas 11 IPS-4
yang sudah diisi separuh murid yang tengah sibuk oleh urusannya masing-masing.
Ada yang masih berusaha menahan kantuk, ada yang bahkan mencuri waktu untuk
tidur, ada yang sedang panik mengerjakan tugas, ada yang baru saja pulang dari
kantin dan memulai sarapan pagi, ada juga gerombolan yang sedang bergosip
entahlah apa, dan banyak lagi rupanya.
Setelah bel berhenti berbunyi, Akbar sang ketua kelas dengan kacamata
bulatnya langsung berdiri, beranjak pergi ke depan ruangan untuk menyimpan
sebuah kursi di tengah-tengah, kemudian memulai memimpin rutinitas pagi dengan
membaca doa.
Ada yang terlihat antusias, beberapa hanya formalitas, sisanya terlihat
malas.
Mau bagaimana lagi? Dengan ketidakhadiran guru untuk memantau,
murid-murid merasa ini bukanlah aktivitas yang penting untuk dilakukan.
Tapi, Akbar tidak peduli. Dia menghela napas panjang, hanya berfokus
pada rutinitas yang akan dia pimpin. Napas panjang itu seperti menjelaskan
bahwa dia tidak terlalu ingin banyak mengurusi. Mungkin karena tidak peduli,
mungkin karena murid bandel tidak akan pernah bisa diberi tahu.
Aku sendiri tergolong pada orang yang melakukannya demi formalitas
belaka. Bukanya tidak menghargai sampai malas-malas, namun tidak begitu pula
antusias.
Sampai pada akhirnya rutinitas selesai, buku ditutup, Akbar pun kembali
ke tempat duduknya untuk kembali melakukan apapun yang ingin dia lakukan
sebelum guru datang. Seperti semua murid di kelas, mereka masih sibuk
melanjutkan mengerjakan tugas, ada juga yang tetap tidur terlelap, melanjutkan
makan paginya, atau mengobrol tentang apapun yang terlintas di benak pikiran
(yang biasanya hanya diisi oleh gosip membicarakan orang).
“Gatra si anak basket itu ternyata memang brengsek! Gelagatnya sombong
banget cuman mau pulang bareng cewek-cewek doang. Bisa-bisa pacar gue diembat
juga sama si Gatra ini,” protes seorang siswa yang rambutnya jabrik di sampingku. Namanya Julian, ya? pikirku berusaha mengingat.
“Hah!? Kemarin si Remi juga bahas Gatra. Gue gak banyak main di ekskul
basket, memangnya dia kenapa, sih? Sering banget dibahas,” timpalku mengikuti
perbincangan..
“Eh, asal lo tahu, Gib. Seisi sekolah emang ngomongin dia tahu! Orangnya
besar mirip beruang, gak pernah senyum, jutek, gak mau berteman. Dia itu
nyentrik banget. Masalahnya, cewek-cewek ngidol si brengsek ini. Gimana kita
gak panas?” geram Julian.
“Iya! Gue setuju. Ada juga cerita, Gatra ini gak pulang tapi malah
nongkrong aja diem di koridor samping lapangan bareng si anak kantin. Koridor
itu kan sering dilewati orang-orang, gue yakin itu Gatra mau pamer! Buktinya,
lama kelamaan cewek-cewek pada ikut ke koridor, dengan dalih belajar bareng.
Cari muka banget dia. Sok-sokan mau pamer kalau dia pintar. Mana ada! Orang
kayak gitu otaknya pasti kosong semua! Gue yakin mereka lagi ngegosip! Bahkan,
gue yakin si Gatra ini cuman lagi tebar pesona.”
“Anak kantin? Si Atma? Si Miskin juga ikutan kesana? Ahahahaahhaha!”
“Iya! Gue kalau jadi Atma pasti malu sih. Gak pernah mau sekolah lagi.
Pindah sekolah sekalian kalau keluarga kerja di kantin kayak gitu. Oh, iya.
Tadi pagi lo ada juga kejadian apa sama si Atma, Gib? Hati-hati. Kebawa miskin
nanti.”
“Hah…?” heranku terkejut. Kenapa aku harus berada dalam posisi yang
canggung seperti ini? Apakah aku harus melanjutkan pembicaraan dengan teman
kelas sampai harus menjual teman baik? Beruntung, suara langkah kaki yang berat
di koridor, disusul oleh hentakkan pintu keras terdengar di depan kelas.
Guru sudah datang, menyelamatkanku dari kebingungan.
Tapi, sebenarnya tidak juga.
Datangnya guru ini tidak lebih baik dari kondisi ketika aku harus
menikam Atma dari belakang demi bercakap riang menjelek-jelekannya dengan teman
sebangku. Baik kondisi itu atau kondisi dengan guru, dua-duanya sama-sama mimpi
buruk, sama-sama membawa marabahaya dan bencana.
Tanpa ada salam, tanpa ada perkenalan, Pak Prima yang memiliki muka
garang, katanya memiliki banyak bekas luka, hingga kadang dikenal sebagai
preman, langsung menyimpan tas tentengnya di atas meja, mengeluarkan banyak
kertas, dan mulai menghitung.
Dengan gerakannya yang terburu-buru, Pak Prima yang berjalan dengan kuat
dan berat langsung membagikan selebaran kepada seluruh kelas. Beberapa ada yang
kaget, beberapa heran apa gerangan yang dibagikan Pak Prima, beberapa terlihat
santai seperti sudah menduga kejadian ini akan terjadi. Seperti halnya Akbar
yang santai, kacamata bulatnya bersinar seperti sudah siap untuk mengerjakan
apapun di depannya.
__ADS_1
Setelah membagikan selebaran dengan kasar, Pak Prima kembali ke depan
kelas, lalu diam sembari melihat sekeliling, seperti sedang memantau melihat
kondisi seisi kelas. Dengan suara tegas, intonasi yang lugas bukan berteriak,
seperti kondektur kereta, seperti pembawa berita, Pak Prima langsung
mengumumkan konteks terkait pembagian selebaran tersebut. “Silakan kerjakan.
Kuis dadakan,” serunya sambil berkacak pinggang.
Sebagian murid terkesiap, menunjukkan rasa keberatannya. Bahkan, ada
yang berusaha mengajukan banding untuk berdiskusi dengan Pak Prima dengan
tangannya yang diangkat. Tapi, setelah satu kali tidak digubris oleh Pak Prima,
kami tidak berencana untuk melakukan yang kedua kalinya. Semuanya tahu, semuanya
tidak memiliki kuasa untuk protes terhadap takdir yang sedang menjadi jahat
pada mereka.
Salah satu yang ingin mengajukan banding adalah aku pribadi, yang
kemarin baru diceramah oleh Pak Doktor betapa bodohnya aku karena sering gagal
dalam ulangan. Aku hanya bisa menatap lembar kuis gelagapan, dengan keringat
dingin yang mengucur dari ubun-ubun hingga pangkal kaki. Siap untuk membuktikan
kepada para guru bahwa aku memang murid terbodoh yang tidak diinginkan oleh
siapapun.
Kuis? Kenapa tidak ada yang beri tahu? Padahal aku selalu berusaha untuk
dekat dengan semua orang.
Tapi, kenapa aku tetap ditinggalkan?
Apalagi oleh teman-teman di sekitarku yang terdiri dari Akbar dan
kawan-kawannya yang giat belajar, tentu aku tidak mungkin mencoba meminta
pertolongan mereka. Aku bukannya berada dalam pertemanan buruk dengan mereka.
Aku selalu berusaha yang terbaik untuk bercengkrama dengan siapapun, selalu
berteman kapanpun dimanapun.
Tapi, masalah akademik tidak selalu bisa disangkut pautkan dengan
sosial. meskipun aku dan Akbar memiliki hubungan pertemanan yang cukup baik,
dia tidak mungkin akan membantuku untuk mencontek. Bahkan, Akbar hanya
tersenyum kecil jahat, dengan tawa yang merendahkan, seperti puas menonton
karma yang terjadi kepada temannya ini.
Atau bahkan aku ragu Akbar masih menganggapku teman.
Oh… tidak?
Pak Prima pamit tanpa bicara. Dengan langkah yang terburu-buru, Pak
Prima angkat pantat dari kursi gurunya, pergi keluar tanpa aba-aba, dan menutup
pintunya rapat-rapat. Apakah ini belas kasih dari Tuhan? Apakah aku masih
memiliki kesempatan?
kesempatan untuk bertanya, mencari kesempatan untuk tidak gagal lagi dalam
ujian.
Sebenarnya, hal ini merupakan makanan sehari-hari bagiku. Aku selalu gagal
dalam ujian atau ulangan, bahkan hingga tahun keduaku di kelas 11 ini. Remi,
Faisal, bahkan Atma, tahu bahwa aku memang selalu gagal. Tapi, aku tidak pernah
mempermasalahkannya selama aku bisa selalu berteman bersama dengan mereka.
Sayangnya, ancaman Pak Doktor kemarin tentang rencana untuk menendangku
ke sekolah lain masih terngiang-ngiang di kepala. Kalau itu memang terjadi,
semua usahaku untuk berteman dan tidak sendirian hanya akan berakhir sia-sia.
Semuanya hancur berantakan, tak ada yang tersisa, aku harus mengulangnya lagi
dari awal.
Sudah. Jangan banyak berpikir lagi. Tidak penting!
Langsung lakukan saja apa yang harus kulakukan, sebelum Pak Prima
kembali.
Aku condongkan tubuh ke depan perlahan, berbisik-bisik kesana kemari,
mencari kunci dari teka-teki, berusaha memecahkan misteri ini.
“Emang kuis dadakan banget, ya?”
“Kok gak ada informasi, sih?”
“Kemarin Pak Prima kasih kode mau kuis?”
“Jawabannya apa sih?”
“Eh, jawaban untuk ini gak ada, ya?”
“Mau liat dikit, dong.”
“Kerja sama, yuk!”
“Menurut lo jawaban ini C bukan, sih?”
“Ini apa, sih?”
“Ayo dong dikiiiiit, aja.”
Dan berbagai pertanyaan singkat aku tanyakan lebih gencar lagi.
Sayangnya, dari semua pertanyaan yang aku ajukan hingga menjelajah ke seluruh
kelas, aku tidak bisa mendapatkan apapun yang aku cari. Mereka semua
mengusirku, mereka semua egois, menganggap setiap orang untuk dirinya
masing-masing, mereka berkata bahwa ini salahku pribadi.
Bahkan, Julian sang rambut jabrik yang sedang bekerja sama tetap saja
mengusirku, tidak boleh ikut serta dalam kelompoknya. “Kalau terlalu banyak
jawaban yang sama, nanti Pak Prima curiga. Cari teman yang lain aja dulu!”
usirnya sembari menutup lembar jawaban dengan seluruh badannya.
Tidak ingin menyerah, aku terus tanya baik-baik kepada orang lain,
__ADS_1
dengan bahasa yang lebih memelas, dengan imbalan yang lebih tinggi. Entahlah
itu membelikan jajanan, membeli makan siangnya, mengajaknya jalan-jalan minggu
nanti, membayarkan untuk menonton bioskop, atau yang lain-lainnya. Tapi, mereka
masih bersikukuh untuk tidak mencampurkan dua urusan yang berbeda ini.
Sayangnya, sebelum aku bisa lebih lanjut berusaha untuk mencari jawaban,
suara langkah berat milik Pak Prima terdengar kembali di koridor luar kelas.
Pak Prima menyudahi urusannya entahlah apa, segera kembali ke kelas untuk
mengawasi kuis dadakan ini, memaksa setiap murid yang mencurigakan kembali
duduk dengan rapi.
Aku pun terkena dampaknya, segera berlari dengan keringat dingin
membasahi tubuh, untuk duduk rapi di tempatku. Dengan gemetaran, aku hanya bisa
menatap takdir yang tengah mencabik-cabik harapanku. Apalagi, dengan intuisi
Pak Prima yang tajam dalam mencium bau keanehan. Beliau langsung berjalan-jalan
mengitari kelas untuk mengawasi ujian, tidak lagi duduk tertidur di meja guru
depan.
Aku masih belum bisa mendapatkan jawaban?
Aku masih tersesat?
Tersesat… seperti di dalam hutan? Aku kembali ke dalam hutan? Dengan
pepohonan besar yang membentang, ditinggalkan begitu saja, tak ada bekal maupun
ilmu pengetahuan, tidak tahu arah kemana aku harus melangkah. Melirik
kiri-kanan, menatap sekeliling, memperhatikan seluruh lingkungan yang berada di
sekitar, namun hasilnya tetap nihil. Tidak ada yang bisa kudapatkan, tidak ada
yang bisa kumanfaatkan.
Pengap, panas, sesak, semuanya menjadi satu. Ditambah dengan didihan
kepala para siswa yang sedang berpikir, ventilasi seadanya tidak lagi berfungsi
seperti sedia kala. Napasku mengempis, saluran pernapasan memipih, oksigen
tidak dapat kuhirup lagi.
“Hhhkkkk! Hhhkk!” suaraku bengek menguik.
Aku kesulitan bernapas, asma kambuh lagi, apalagi dengan tatapan dingin
seakan-akan tengah melakukan justifikasi, sekaligus tingkah acuh tidak peduli
oleh seluruh orang di dalam kelas. Mereka meninggalkanku semua, meskipun secara
fisik berada tidak lebih dari 10 meter dariku. Aku kembali sendirian, di tengah
kerumunan yang egois ini. Alhasil, pandanganku mulai kabur, pikiranku mulai
melakukan dansa secara acak, melompat dari satu tempat ke tempat lain, semuanya
bertransformasi, menjadi amoeba, menjadi taburan pada donat, menjadi ruangan
hampa putih yang kosong, kemudian kelap-kelip menyiksa penyandang epilepsi.
To-long aku…, seruku pada
diriku sendiri. Namun, tidak ada pertolongan datang. Mungkin karena suara yang
tidak keluar, mungkin karena orang-orang sudah lelah tidak peduli juga.
Meskipun begitu, aku terus mencengkeram dada dengan sakit, memukulnya berusaha
melonggarkan saluran pernapasan, hingga terjatuh juga dari kursi, meringkuk
seperti siput yang ingin pulang ke dalam rumahnya.
“Mau kabur dari kuis segitu banget, ya? Basi banget, deh,” ejek seorang
perempuan.
“Eh liat, mukanya merah ungu gitu. Udah kayak cacing aja. Coba kita
lempar ke tanah, dia pasti langsung masuk ke lubang deh,” balas perempuan lain.
“Ahahahahah! Lo berlebihan, Cin!”
“Eh, tapi gue benar kan? Kalau kita kasih garam pasti lebih heboh,”
lanjut suara yang aku ketahui betul. Milik seorang perempuan yang selalu tampil
paling modis, yang memiliki kulit paling putih bersih, dengan rok span ketat
memamerkan badan yang langsing.
Berusaha untuk merespon, aku tolehkan kepala sedikit. Ternyata, ada satu
lagi sosok yang bertubuh tinggi menyeramkan, memberikan aura kematian. Dia
menatapku seperti malaikat maut, tengah menunggu nyawaku melayang dengan
sendirinya tanpa perlu repot-repot mencabutnya. Dia tidak begitu peduli, bahkan
terlihat kecewa.
Apakah dia menikmati ini?
“Pak Prima, maaf. Ta-tapi, tolong s-saya…,” pintaku terbata-bata, dengan
energi dan suara yang tersisa, berusaha untuk mengulurkan tangan meminta
pertolongan.
Setelahnya, aku tidak tahu juga.
\~\~\~\~\~\~\~\~
Kasian banget ada kuis dadakan tapi gak ada yang ngasih tau ahahaha
Udah gitu Ragib lagi menderita malah dikira alesan doang.
Sedih banget hidup Ragib :”)
Selamat datang lagi, teman-teman!
Ada yang pernah kejadian tiba-tiba ada kuis dadakan di sekolahnya?
Tapi tingkah Ragib yang mau kerja sama pas guru lagi gak ada jangan ditiru yaaa!
Itu bukan perilaku yang mencerminkan sebuah kedisiplinan
:)))
Btw …
See you next time ;)
Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!
__ADS_1