Setan, Suci, Siuman

Setan, Suci, Siuman
Bab 5: Menertawakan Lucunya Kehidupan


__ADS_3

SEBELUM matahari berhasil menampakkan dirinya dengan jelas, ketika langit masih


berwarna biru muram meski tidak terlalu gelap, sebagian orang sudah memulai


aktivitasnya masing-masing, termasuk diriku pribadi. Aku segera pergi dari


dekapan ayah, juga teman-teman kenalan fiberku (yang masih tanpa ekspresi) di


rumah. Berpamitan tanpa ada yang menjawab, untuk segera kembali ke dunia nyata,


kepada teman-teman yang memiliki jiwa, pergi kembali bersekolah dan


bercengkrama dengan nyata.


Hari baru, semangat baru.


Kamu bisa lakukan ini, Gib. Ayo! batinku menyemangati diri sendiri.


Tidak seperti kemarin, ojek daring yang bersedia mengantarku pergi ke


sekolah lebih mudah ditemukan. Bahkan, tidak sampai 10 detik aku memesan, sudah


langsung diterima oleh pengemudi tanpa dibatalkan lagi satu menit kemudian.


Tunggu… aku serius akan pesan ojek? Bertemu orang asing? Bagaimana jika


aku diculik dibawa ke tempat aneh? Dibuang entah dimana, tidak bisa bersekolah?


Bagaimana jika ini jebakan, aku dirampok, lalu ditinggal sendirian?


Bagaimana jika aku disekap, lalu ditinggalkan di tengah hutan lagi?


Bagaimana jika motornya rusak, lalu mogok, bahkan oleng dan tertabrak?


Bagaimana jika…


“Sssuuuu,” aku tarik napas dalam-dalam, berusaha untuk menenangkan


jantung yang mulai berdetak cepat, bersamaan dengan rasa panik yang merangsang


seluruh tubuh. Beruntung, kali ini udara pagi yang dingin sedikit bersahabat


dan membantuku membersihkan seluruh saluran pernapasan. Tidak perlu alat bantu,


napas sudah bisa kembali normal. “Haaaah!” embusku kemudian.


Tidak perlu debat tidak penting lagi. Tenang, tenang. Harus tenang.


Tidak perlu paranoid, semuanya dalam kondisi yang baik-baik saja. Ini


bukan hal yang luar biasa, kan? Aku sudah melakukan ini berkali-kali, bahkan


semalam pun aku pulang dengan aman. Meskipun tentu sempat dimarahi, dibentak,


atau apapun itu, karena masuk berbasah-basah sampai harus duduk di bagian


pintunya saja.


Tidak masalah, tidak masalah.


Semuanya dalam kondisi baik-baik saja, batinku menenangkan.


Napasku perlahan kembali tenang, lebih terkendali, tanganku tidak


bergetar lagi, pandanganku kembali jelas, tidak kabur lagi. Semuanya perlahan


dalam kendali, sampai ojek daring itu tiba-tiba datang dan muncul di depan


mata. Aku kembali panik menatap orang asing ini, merasa sia-sia saja semua


pemanasan yang aku lakukan tadi. Aku kembali cemas, kembali panik, kembali


gemetaran, kembali ketakutan.


“Ojeknya, dek? Ke SMA Puji Harapan, ya?” tanya sang pengemudi yang mulai


mengangkat kaca helmnya, berbicara dengan nada ringan, dengan ajakan yang


menenangkan. Dari balik helmnya, terlihat rupa pria paruh baya yang mungkin


berumur 40 tahun, dengan warna kulit coklat tua, kumis dan jenggot hitam dan


sedikit aksen abu, tidak lupa dengan senyum hangat bercahayanya.


Lihat, kan? Dia sama sekali tidak terlihat berbahaya. Ajakannya pun


menenangkan.


Tenang, Ragib. Tenang saja.


Tidak ada beruang disini, tidak ada marabahaya sama sekali.


Berusaha tenang, aku balas senyumannya, berusaha menjawab


keramahtamahannya. Lalu aku berjalan perlahan sedikit gemetaran, sudah tidak


memiliki pilihan untuk kabur atau membatalkannya. Akhirnya, aku duduk juga di


atas jok motor, namun dengan posisi yang cukup jauh hingga menyentuh behel


motor bagian belakang. Enggan untuk memeluk atau memegang jaket sang pengemudi,


berharap saja tidak terlempar, terjatuh, atau yang lain sebagainya.


Apakah aku akan baik-baik saja?


Bagaimana dengan ponsel?


Apakah aku bisa menelepon seseorang jika terjadi sesuatu?


Sebelum aku bisa memulai pertanyaan dan debat lagi perihal adegan


penyelamatan, sang pengemudi sudah lebih dahulu menancap gas maju. Beruntung,


bukan dengan kecepatan yang mengkhawatirkan hingga aku hilang keseimbangan. Tenang


saja, tenang saja, ucapku meyakini diri sendiri lagi.


Ponselku pun berada dalam genggaman, siap untuk menelepon siapapun untuk


meminta pertolongan. Berharap saja, semuanya berubah tidak seperti kemarin,


setidaknya ada satu orang yang akan mengangkat teleponku ini.


Atau itu sebenarnya diperlukan?


Jujur, sepertinya aku cukup bisa menikmati perjalanan pagi ini (jika aku


singkirkan fakta bahwa pengemudinya adalah orang asing). Perjalanan ini lumayan


tenang, aku bisa menghibur diri melihat ke sekeliling, menyaksikan orang-orang


yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku bisa sedikit merasa tenang,


tidak seperti kemarin malam ketika aku benar-benar sendirian. Di atas motor


ini, seharusnya aku tidak mungkin didekati dengan mencurigakan, kan?


Tidak perlu ada rasa khawatir lagi, selain dari pengendara lain yang


menabrak, atau dari pengemudi motor ini sendiri yang ugal-ugalan. Oh,


tidak!?


Seketika, jantungku berhenti berdetak lagi. Aku mulai mengingat tentang


semua kemungkinan yang pengemudiku ini bisa lakukan, pikiranku mulai berfantasi


terhadap skenario-skenario yang belum terjadi, mungkin akan terjadi, bahkan


pasti terjadi?


Tentang semua kejahatan, tentang semua marabahaya yang bisa aku


pikirkan.


Tanganku bergetar hebat. Lalu menjalar ke tubuh, merambat ke kepala,


kedua mata, pandangan pun kembali kabur. Satu ikatan yang tidak bisa


dilepaskan, saluran pernapasan pun ikut sempit membuat sesak tidak bisa


bernapas. Aku membuka mulut berusaha mengeluarkan sesuatu, namun suara pun


tidak ada yang keluar melewati tenggorokan yang panas ini.


Sesak… Tolong! Tak bisa bernapas!


Dimana alat bantu napas?


Sayangnya, alat bantu napas (dengan bodohnya) aku simpan lagi terkubur


di dalam tas yang sebenarnya tidak ada isinya sama sekali. Meskipun begitu,


karena tetap sulit untuk diraih, aku hanya bisa menyesal dengan semua tindakan


tanpa akal yang aku lakukan.


Tidak ingin mati cepat-cepat, aku coba mengatur napas dengan pelan,


dengan tipis, dengan tenang. “P-pak, ap-apakah ki-kita… bisa ber-henti terlebih


dahulu?” tanyaku lirih, sadar bahwa napasku tidak membuahkan hasil yang aku


inginkan.


Maaf, maaf, maaf, maaf. Maafkan telah lancang, tapi aku sesak napas.


Mohon ampun, mohon ampun, doaku dalam hati, mempersiapkan diri terhadap respon sang pengemudi yang


akan berang dan geram karena diganggu, seperti ibu angkatku saat itu pada saat


di dapur, sebelum melempar dan meninggalkanku sendirian di tengah hutan.


Tapi, aku benar-benar butuh untuk berhenti.


Aku masih ingin hidup, tapi sebelumnya aku harus bernapas normal


terlebih dahulu.


…sayangnya, tidak ada tanda-tanda sang pengemudi akan menoleh ke


belakang, berusaha untuk menjawab apa-apa yang aku sampaikan. Aku sedikit


bimbang, apakah ini lebih baik daripada respon ibu angkatku yang geram wajahnya


merah?


Artinya, aku akan meregang nyawa di atas motor ini?


Atau lebih baik mendapat bentakan dan amarah dari dewa iblis?


Eh…? kejutku terhadap


sang pengemudi.


Aku pikir, sang pengemudi ini tidak menggubris permintaanku. Aku pikir,


dia sibuk dengan suara angin riuh yang menerpa helmnya, bunyi mesin dari


kendaraan yang penuh di sekelilingnya, juga klakson di beberapa tempat pada


saat tertentu.


Kenapa kita berhenti? Tidak mungkin pengemudi menuruti permintaanku,


kan?


Apakah benar aku diculik? Apakah benar pengemudi ini mengantarku ke


tempat aneh-aneh? Apa yang sebenarnya terjadi?


“Silakan, dik. Sudah sampai,” seru sang pengemudi dengan riang kemudian.

__ADS_1


Bersamaan dengan senyum hangatnya, bapak tua ini menoleh ke belakang dengan


kaca helm yang diangkat. Motor kemudian distandar, aku dibantu untuk turun,


untuk terduduk dan berlutut di atas tanah, dengan behel motor yang kupegang


sebagai penyangga.


“ADA APA, DIK? AP-APAKAH ADIK BAIK-BAIK SAJA? AD-ADA YANG BISA SAYA


BANTU!?” panik sang bapak tua pengemudi.


Aku tidak menanggapinya, kecuali untuk fokus mengambil tas dan merogoh


dalam-dalam letak alat bantu napas. Setelahnya, aku menghirup napas dengan


tarikan panjang, udara dingin pun membuat setiap saluran pernapasan memuai,


seketika semuanya kembali normal.


Tidak. Kondisi tubuhku tidak semuanya kembali normal. Tanganku yang


memegang behel motor masih bergetar, tanganku ini masih merasakan kehadiran


orang asing di depanku.


“Ti-tidak apa. Te-terima kasih, pak!” jawabku kemudian sambil bangkit


dan mundur menjauh dari sang bapak tua, sambil memberikan isyarat tolakan


terhadap bantuannya.


“Baiklah kalau begitu. Saya jadi panik, tadi. Bwahahaha!” tawa pengemudi


lantang, berusaha mendinginkan suasana panas yang baru saja terjadi. “Baiklah


kalau begitu. pembayaran sudah melalui aplikasi, kan? Saya pamit dulu, ya,”


ucapnya kemudian sambil menancap gas pada motornya dan melambai pergi.


Menyadari bahwa ancaman sudah pergi, aku yang masih merasa was-was mulai


balik badan dan lanjut berjalan pergi ke depan gerbang sekolah. Melewati sebuah


gapura dengan tulisan ‘Sekolah Menengah Atas Puji Harapan’, dengan pagar


besi geser yang terbuka separuh, juga dinding beton di sekitar memberikan


batas-batas nyata antara wilayah sekolah dan yang bukan. Kemudian aku menarik


napas dalam, berusaha untuk mengatur ulang semua perasaan dan hati yang


terguncang atas semua yang baru saja terjadi.


Tenang… tenang. Aku sudah berada di sekolah. Aku mengenal semua orang


disini. Mereka temanku, mereka semua kenalanku, mereka semua baik. Mereka tidak


akan ragu untuk menolong, mereka semua bisa diandalkan.


Tidak ada lagi orang asing, tidak ada lagi yang bisa berlaku jahat.


Tenang, tenanglah, Ragib!


Fuuhhh, hembusku


panjang sebagai penanda tubuh yang siap. Aku pasang senyum yang besar, mulai


melirik kiri-kanan, mencari aktivitas apa yang bisa aku mulai atau bantu


sebagai tanda permulaan hari, untuk mengisi energi hingga melambung tinggi.


Mungkin membantu menyapu halaman, membuka ruangan kelas, membantu guru


untuk membawa barang bawaannya, membantu penjual kantin mempersiapkan makan


pagi, atau apapun itu yang bermanfaat.


Sebagai bayaran atas perlindungan yang aku terima di lingkungan sekolah,


aku harus melakukan sesuatu yang bermanfaat, kan?


Tidak ada yang diberikan, tidak ada yang bisa aku dapatkan.


Lagipula, ini merupakan salah satu bentuk penyibukkan diri yang sangat


bermanfaat. Selagi aku sibuk membantu orang lain, tidak hanya aku bisa


menghindari posisi aku akan ditinggal sendiri, aku bisa melupakan perasaan


cemas sehingga tidak perlu lagi diserang rasa panik lagi.


Atau… tidak?


Nyatanya, meskipun aku berada di sekolah, rasa cemas dan panik ini tetap


bisa datang dan merenggut nyawa? Tanpa pemberitahuan, tanpa bersiap-siap, ada


sebuah serangan dadakan yang tidak aku duga kedatangannya dari arah belakang.


“WUAA!” kejut seseorang perempuan yang praktis membuat jantungku


berhenti berdetak. Kejutan ini datang seperti direncanakan, seperti kejutan


yang datang di dalam rumah hantu mencekam yang memang sengaja dilakukan untuk


mengageti para kontestan.


Tidak.


Ini lebih buruk daripada sebuah hantu buatan omong kosong. Rasanya,


suara yang dikeluarkan ini seperti sebuah suara teriakan yang biasa


didentangkan oleh para atlet bela diri setelah melancarkan sebuah gerakan


mematikan. Apakah aku baru saja ditikam? Apakah dadaku sekarang


berlubang?  Aku tidak bisa merasakan apa-apa lagi.


tidak sempat berteriak untuk mengekspresikan rasa kagetku sendiri. Aku


tersungkur, terjatuh di atas paving block semen yang keras, langsung


meringkuk berusaha melindungi diri terhadap apapun yang baru saja mengejutkanku


dari belakang itu.


Panik, jantungku berdegup kencang, air keringat perlahan yang membasahi


tubuh, tangan bergetar tak karuan, pandangan berubah gelap, juga napas kembali


sesak.


“EH? RAGIB? KE-KENAPA!? MAAF, MAAF!” lanjut sang pemilik suara dengan


nyaring dan suara yang bergetar panik. Sebenarnya, aku bisa mengenali betul


siapa pemilik suara itu. Itu adalah suara dari salah satu orang yang dapat


menjamin perlindunganku, suara teman dekatku. Tapi, entah mengapa aku masih


butuh waktu untuk merasa aman kembali, untuk merasa tenang lagi. Aku masih


menutup telinga untuk menolak fakta bahwa itu adalah temanku, masih merasa


bahwa aku kembali tersungkur ke tepi jurang, dan di depanku sekarang ada


beruang ganas yang siap menerkam dan memangsaku.


Kenapa, kenapa ini terjadi lagi?


Maaf. Maafkan aku! seruku meminta


maaf dengan suara yang tidak keluar, mungkin karena memang untuk diri sendiri


juga. Tidak ada gunanya memang jika lawan bicara tidak mendengarnya secara


langsung. Tapi, aku bukannya melakukan ini dengan sadar. Mungkin hanya sebuah


respon yang diatur secara otomatis?


Sampai pada akhirnya ada tangan hangat yang menyentuh kulit tanganku,


dilanjut dengan pundak sekaligus merangkul pelan, menggoyang tubuhku dengan


suara yang lebih akrab. Aku pun mulai memberanikan diri untuk membuka mata,


untuk melihat seorang perempuan yang terus berminta maaf, bahkan mulai


mengeluarkan air mata?


Lalu, ada apa ini? Kenapa ada banyak orang-orang di sekeliling?


Mereka seperti melihat sebuah pertunjukkan? Apa yang sebenarnya terjadi?


Semakin lama semakin jernih, di depanku sudah terproyeksi sebuah wajah


bulat yang matanya berair. Dia benar menangis? Dengan bibir yang tipis,


pipi yang menggemaskan, rambut hitam pendek yang mengembang di bagian


belakangnya, aku langsung ingin tertawa dan mengejek kembali rambut berantakan


seperti habis bangun tidur itu.


Ini rambut milik Atma.


Setelah kesadaran sudah kembali, aku mulai melirik lebih jelas ke


kiri-kanan, ke sekeliling, untuk melihat banyak orang yang penasaran dan


sedikit menunjukkan rasa khawatir, berusaha untuk membantu (padahal tidak


juga), yang kemudian mulai berbisik diantara mereka masing-masing dengan


ekspresi kecewa.


Pasti keluhan yang berbunyi ‘oh sudah selesai?’, atau ‘aku pikir ada


apa’.


“RAGIB? Ka-kamu baik-baik saja? Ma-af! Maaf! Maafkan aku! Aku tidak tahu


kalau penyakitmu sedang kambuh! Maaf! Ma-afkan aku,” seru Atma tersedu-sedu


Aku tersenyum tipis, tertawa kecil seperti tersedak, membalas rengekan


Atma yang menggemaskan itu. “Kkkk! Gue pikir siapa. Ternyata Atma, ya. Baru


bangun tidur? Rambut lo masih saja berantakan, nih,” ejekku kemudian sembari


memainkan rambut Atma yang mengembang itu.


Bersamaan dengan itu, para penonton pun perlahan-lahan meninggalkan


tempat kejadian. Tidak ingin lagi menjadi pusat perhatian dan bahan tontonan,


aku pun beranjak berdiri sembari mengajak Atma yang masih bersimbah peluh penuh


air mata. Aku tarik tangannya dengan pelan dan hati-hati, aku genggam tangannya


erat sembari ikut mengusap air matanya yang sudah membasahi seragamnya.


“Kantin dulu, yuk!” ajakku kemudian, yang langsung dibalas dengan


anggukan kecil dan sebuah sesenggukan bekas menangis.


DUDUK sambil


meminum air mineral untuk melepas dahaga, kami hanya diam sambil menatap langit


yang tidak menampilkan apa-apa. Karena kami memang datang jauh lebih awal

__ADS_1


sebelum bel pertama berdentang, kami bisa duduk santai tanpa perlu khawatir


tentang hukuman atas kelas yang dilewatkan.


Perlahan tapi pasti, kondisi Atma kian membaik. Aku belai ubun-ubunnya,


seakan memberitahu padanya bahwa semuanya baik-baik saja.


“Kkkk, kalau lagi nangis lo jelek banget, Ma,” ejekku lagi berusaha


untuk memperbaiki perasaan gadis ini. “Apalagi wajah lo cepet banget merahnya.


Udah kayak tomat. Kkkkk,” kekehku tanpa menghentikan belaian kepala Atma.


 “Ih apaan sih, lo? Ja-jahat banget,” ringis Atma masih


sesenggukan. “Tapi, gue minta maaf banget, ya. Gue gak tau kalau kambuh lagi.”


“Yasudah. Gapapa kali? Masih aja gak bisa move on dan membahas yang


berlalu. Gue juga udah baikkan, kan? Semuanya udah selesai, kok! Tenang aja!


Kkkkkk.”


“Uf-fufu,” lanjut Atma tertawa kecil, tidak lupa disusul dengan pukulan


ringan pada punggungku sebagai ciri khasnya.


Memang. Kejadian ini merupakan yang kedua kali ketika aku terkejut panik


hingga meringkuk tak berkuasa. Mungkin yang pertama saat aku baru masuk ke


sekolah ini?


Sekitar tiga tahun yang lalu, saat kelas 10 dan pertama kali masuk SMA


(aku pernah tinggal kelas), adalah saat aku pertama kali hidup sendirian dan


ditinggalkan orang tua, dengan trauma dan mimpi buruk yang baru terjadi tidak


lama sebelum itu. Tentang kejadian di hutan, pada masa SMP, ketika aku dan


ayahku terombang-ambing, baru saja ditinggal oleh ibu kandungku.


Pada saat kelas lima SD, aku kehilangan ibu kandungku dalam kecelakaan.


Tidak hanya anaknya yang terpukul, ayahku pun depresi. Entahlah darimana ayahku


mendapatkan saran, kita pun memutuskan pindah pergi ke sebuah desa, jauh dari


kota tempat tinggalku berasal. Entahlah berusaha untuk melepaskan semua emosi,


menenangkan diri, memulai hidup yang baru, entahlah apa yang ayahku pikirkan.


Dan kejadian-kejadian di desa ini—ketika aku SMP—adalah semua kejadian


buruk yang terjadi kepadaku, yang membekas dalam ingatan paling dalam. Tentang


tenggelam, tentang tersesat, tentang tertipu, tentang menjadi bahan tontonan,


tentang kekecewaan, dan yang paling penting adalah tentang aku yang dibuang di


hutan oleh ibu angkatku, dan tentang kejadian beruang yang mencekam.


Tapi, bukan itu yang ingin aku jelaskan sekarang.


Selepas aku trauma akan kesendirian pada SMP, nyatanya saat masuk SMA


aku malah diperintahkan untuk hidup sendiri oleh bisikan setan dari ibu


angkatku (dengan maksud lingkungan keras akan membentuk pribadi yang keras pula).


Tidak memiliki pilihan—meskipun takut akan semua hal asing yang berada di


sekitar—aku hanya berusaha untuk tetap maju atas janji ayah yang katanya akan


kembali kepadaku.


Meski harus dibuka oleh kejadian yang membuat nyawa berada di tepi


jurang oleh kejutan Atma seperti hari ini, aku tetap beruntung pada sekolah


ini. Baik murid-muridnya, para petugas, bahkan para penghuni kantin, mereka


sangat menyambut hangat kedatanganku. Dengan tangan yang terbuka atau pelukan


memberi rasa aman, aku mulai bisa melupakan rasa kesendirian dengan menyibukkan


diri dengan apapun yang teman-teman lakukan. Hingga akhirnya aku mulai merasa


membaik, meskipun memakan waktu yang sangat lama.


Sebenarnya, aku bukannya takut akan kejutan.


Hanya saja, kondisiku yang cemas dan panik selalu bisa membuat napas


mendadak sesak. Tapi, bisa kukatakan bahwa pembuka adegan dari babak pertemanan


yang Atma buka memberiku banyak kesempatan. Dengan sifatnya yang periang dan


mudah berteman, selalu bekerja keras tanpa banyak mengeluh (meski dengan


kutukan selalu sial yang menyertainya), teman-teman Atma pun menjadi temanku


juga. Aku perlahan bisa membangun koneksi, untuk perlahan membuatku tidak


sendirian lagi.


Hingga akhirnya aku bisa menyebut Atma sebagai teman, apalagi karena


memberiku jaminan teman yang menunggu di akhir waktu sekolah, jaminan teman


yang membuatku selalu dibutuhkan di OSIS, jaminan bahwa aku tidak akan


sendirian lagi. Bahwa akan ada teman yang menolong, teman yang menunggu, yang


membantuku.


Lalu, dengan jaminan-jaminan ini, kenapa aku masih panik tak bisa


bernapas dikejutkan Atma kedua kali? Karena aku ditinggalkan Faisal setelah


futsal?


Mungkin karena aku kembali merasakan rasa kesendirian mutlak?


Padahal, aku baik-baik saja pada saat perjalanan pulang ke rumah


kemarin?


Entahlah. Yang bisa aku pastikan, sekarang aku sudah berada dalam tempat


perlindungan terbaik, sebuah tempat tinggal paling baik. Sekolah adalah tempat


untukku bercengkrama dengan teman-teman, dan orang-orang yang kukenal sangat


baik.


 “Soalnya lo kemarin pulang gak bilang-bilang. Jadi, gue pikir bisa


jail kagetin sebagai hukuman. Tapi, gue gak tahu kalau hukumannya malah kayak


gini. Lagian lo darimana aja, sih?” cerocos Atma kemudian.


“Iya, ya. Biasanya kita pulang bareng. Emang mendadak banget sih kemarin.


Gak ada hujan, gak ada angin, tiba-tiba JELEGER muncul petir,” jawabku bingung


mengangkat bahu.


“HAH? Kemarin lo kena petir? Apa lo ada luka? Dimana? Dimana?”


“Kkkk! Bukan gitu juga. Ya, maksudnya memang mendadak banget aja gitu.


Kemarin Faisal tiba-tiba ajak main futsal karena kurang orang. Gue juga gak


ngapa-ngapain bareng Remi di tongkrongan, yasudah ikut aja. Eh iya, lo harus


tahu! Bola yang kemarin kita pakai itu warnanya pink lucu gitu, loh!


Warna cewek banget. Kkkkk!”


“Ih, gue pikir beneran. Terus, kenapa memangnya kalau bola warna pink?”


“Enggak juga. Lucu aja, sih. Mungkin karena gue jarang liat bola kayak


gitu?”


“Gak paham. Kebiasaan lo, Gib. Selalu bikin semua jadi lucu. Padahal gak


ada yang lucu sama sekali,” balas Atma sambil mengajakku untuk membantu


keluarganya menyiapkan salah satu kios di kantin sekolah. “Eh, tolong ambil


wadah itu, dong.”


“Wadah ini!? Lo masih mau ngemil pagi-pagi? Nanti gendut, loh?”


“Berisik ah!”


“Kkkkkk! Eh, bagi juga dong. Gue baru inget belum sarapan,” seruku sambil


mengambil bolu kukus dari wadah di atas meja (dan tentu tidak lupa untuk bayar


setelahnya).


Tapi, seperti yang aku katakan sebelumnya, Atma memang memiliki kutukan


bahwa hidupnya akan selalu sial. Buktinya, ketika Atma membawa wadah berisi


belasan bolu kukus ini, gagang yang dipegang Atma harus terlepas dan membuat


semua bolu kukus terjatuh bebas di atas lantai yang masih kotor ini.


Atma yang menatap makan paginya hilang begitu saja hanya tertawa.


Menertawakan dirinya sendiri, menertawakan lucunya kehidupan.


“Yasudah. Urus yang lain saja,” ajak Atma langsung merapikan semua


kekacauan yang diperbuatnya, melupakan kesialannya sebagai angin lalu. Aku pun


membantunya, membantu keluarganya, mengisi pagi untuk membantu persiapan kios


agar siap menjajakan dagangan. Tidak lupa, di sela-sela waktu pun aku


bercengkrama dengan dua adik Atma yang kecil-kecil untuk bermain di sekitar


kios, menjadi kakak laki-laki tambahan bagi mereka.


\~\~\~\~\~\~\~\~


Aku pernah denger, healing itu bukan sebuah cara pengobatan


Tapi, healing adalah sebuah perjalanan.


Makanya, trauma yang ada membekas sejak kecil, pasti masih ada sisa-sisanya meski udah besar pun.


Dan pastinya pasti mempengaruhi hidup banget ya …


Selamat datang lagi, teman-teman!


Ternyata Ragib punya masa lalu yang cukup ekstrim juga ya


Bahkan ketemu orang asing aja seperti ketemu musuh


Ragib jadi panik sendiri, jadi gak bisa tenang.


:”)


Btw …


See you next time ;)

__ADS_1


Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!


__ADS_2