
MESKIPUN aku bukannya masuk secara ilegal dan melanggar aturan (karena sejak awal aku
ditarik paksa), aku tetap merasa sungkan ketika sudah memasuki ruangan ini.
Tidak hanya panik karena memasuki ruangan asing, tidak hanya terperana oleh
perabotan di dalam, ada perasaan lain yang membuatku membatu, sulit untuk
menjadi diriku biasanya.
Apakah karena tahu ini ruangan seorang gadis?
Selama ini aku memang tidak pernah mengunjungi rumah Atma, sih.
“HEHE-HE. INI KAMARKU! TA-DA!” pamer Suci dengan bahagia.
Seperti anak kecil yang memamerkan kerajinannya kepada orang tuanya,
Suci sangat antusias dan bersemangat, dengan tangan kanannya yang masih
menggenggam tanganku. Aku menatap sekilas, melihat seluruh kerajaan Suci yang
sangat dibanggakannya ini. Tapi, sebelum aku bisa menjelaskan barang apa dan
dimana, tiba-tiba Suci langsung melepaskan genggaman tangan, untuk menjatuhkan
diri di atas kasurnya yang empuk (benar-benar menjatuhkan diri karena dia
sempat terpeleset). Dia tiduran terlentang, seperti lega dan puas setelah lelah
yang ia rasakan sepanjang hari.
Kasur itu merupakan kasur besar yang mewah, yang lebarnya bahkan bisa
menampung hingga tiga sampai empat orang dewasa. Dengan pilar di empat sisinya,
sebuah tirai kelambu abu-abu yang melindunginya, entahlah untuk melindungi dari
nyamuk, entah dari tatapan mengintip dari luar kamar, dengan gorden berwarna ungu
di lapisan luar setelah tirai. Saat ini, tirai dan gorden yang melindungi
ranjang itu sedang dilipat dan digulung di setiap sisi pilarnya, sehingga
penampakan keseluruhan isi kasur yang terbentang di tengah-tengah ruangan
terlihat dengan jelas.
Dengan seprai berendai terlihat sangat nyaman, mungkin juga halus,
ditemani oleh selimut yang berendai pula. Ada beberapa bantal dan guling, ada
pula belasan boneka hewan bulu lembut sedang duduk menunggu. Aku mulai melirik
kiri-kanan, terlihat banyak lemari dan rak yang digunakan untuk menyimpan
buku-buku, terdapat meja belajar dan sebuah laptop tertutup, meja kecil rendah
bulat di bagian kiri dan beberapa bantal alas duduk, tidak lupa sebuah televisi
yang cukup besar ditempel di dinding, mungkin 28 inchi? Bersamaan dengan
lukisan-lukisan atau poster yang menghiasi penjuru kamar.
Ada satu yang membuatku sedikit heran. Apakah tidak ada lemari
baju?
Sebenarnya, di sudut ruangan kanan terdapat pintu yang tertutup,
entahlah mengarah kemana. Melihat kemegahan rumah ini, aku pikir kamar pribadi
pasti memiliki kamar mandi di dalam ruangan, kan? Apakah lemari baju juga
terdapat di ruangan tersembunyi disana?
“Kkkk, banyak sekali bonekamu itu. Seperti anak kecil saja. Kamu masih
bermain boneka?” komentarku menanggapi Suci.
“Boneka seru! Mereka asik! Sini,” pekik Suci sambil bangkit dari
tidurnya.
Suci kemudian pergi ke arah meja kecil rendah di bagian kiri ruangan,
menyuruhku untuk duduk bersamanya. Dia buka lemari di sampingnya, yang ternyata
menyimpan lebih banyak boneka plastik yang kali ini berbentuk manusia. Dia
simpan boneka pria berpakaian santai itu di atas meja sedemikian rupa,
seakan-akan boneka itu adalah manusia ketiga diantara kami berdua. Suci bahkan
berbicara dengannya selayak mana dia berbicara denganku, meski tentu saja itu
merupakan komunikasi satu arah saja. Tidak puas, Suci ambil lagi boneka
lainnya, sampai pada akhirnya kami praktis bermain rumah-rumahan.
Meskipun aku sendiri masih kebingungan siapa berperan sebagai apa.
Masih kurang puas dan merasa lengkap, Suci keluarkan lagi peralatan
lainnya dengan semangat. Dimulai dari miniatur rumah (yang lebarnya justru
lebih besar dari Suci sehingga dia cukup kesulitan membawanya), ada piring
kecil, gelas, juga teko yang terbuat dari porselen dengan ukiran cantik. Ada
pula miniatur mobil, gedung, pohon dan segala vegetasinya, benar-benar seperti
kita memainkan permainan kehidupan betulan.
“Brum brum,” gumam Suci menirukan suara mobil. Dia melewati taplak meja
yang bertindak sebagai jalan raya, melaju melintas berbagai kesibukan kota,
hingga melanggar aturan dunia dengan mengangkat mobil tersebut seakan terbang.
“Papa Pulang!” lanjutnya setelah memainkan mobil tersebut melakukan
belokan-belokan tidak nyata, sampai akhirnya sampai di depan miniatur rumah.
“Papa! Papa!” teriak Suci lainnya, namun kali ini dengan nada tinggi
seperti anak kecil sungguhan. Dia buka pintu rumah miniatur tersebut, untuk
mengeluarkan seorang boneka plastik menyerupai figur anak kecil perempuan.
“Anakku, rindu sekali!” jawab Suci dengan suaranya yang sedikit berat sambil
memainkan boneka pria dewasa dan anaknya untuk saling berpelukan.
“Ragib! Kamu!” sembur Suci setelahnya, memanggilku untuk melakukan
sesuatu. Tapi, apa yang harus aku lakukan? Tiba-tiba begini? Aku pun
panik, langsung mencari mainan apapun yang bisa digunakan untuk menyambut papa
yang pulang barusan.
“Miau Miau!” ucapku menirukan suara kucing setelah mengambil mainan
secara acak. Aku mainkan kucing abu-abu ini seakan-akan datang dari taman,
seperti baru pulang dari perjalanan menakjubkannya.
Aku ikuti jari-jemari Suci, saling cium satu sama lain antara boneka
plastik ini, bahkan Suci tambah lagi satu figur wanita tua sebagai mamanya.
Alhasil, satu keluarga pun lengkap saling bersama berpelukan satu sama lain.
“Ayo kita makan!” ajak sang Papa. Suci kemudian singkirkan miniatur
rumah, mobil, pohon, dan semua yang mengganggu, untuk menyisakan alat makan
porselen indah yang tadi.
Sang Papa disimpan duduk di depan Suci, aku mengambil mainan Mamanya,
dan bagian kosong di antara kami disimpan boneka sang anak (meskipun pada
akhirnya Suci tetap mengambil perannya). Ini makan malam yang menyenangkan,
penuh dengan percakapan dan canda tawa dari sang Papa (Suci) dan anaknya (tetap
Suci).
__ADS_1
Padahal, ini hanya sandiwara, aku pun hanya mendengar suara Suci saja.
Tapi, entah mengapa aku bisa merasakan kehadiran sosok ayah betulan dari
suara Suci, batinku
berkomentar sambil tersenyum, namun setelahnya sudut mulut ini malah melengkung
ke arah yang salah. Aku seperti cemberut, disusul oleh mata yang berair, bahkan
hingga mulai meneteskan air mata dan menangis.
Ini makan malam yang indah
Ini keluarga yang menyenangkan.
Ini kejadian yang selalu aku impikan.
Mulutku semakin cemberut, emosi tak kuat untuk ditahan, air mata terus
pecah membasahi wajah. Tanganku yang memegang boneka figur wanita pun harus
dilepas untuk menyeka air mata. Meskipun aku berusaha mengelap habis kucuran
air mata ini, sayangnya tidak ada tanda-tanda berita baik. Bahkan pikiranku
mulai kacau, tidak bisa lagi berfokus pada kegiatan rumah-rumahan ini lagi. Aku
hanya terus mengarungi lautan memori, memunculkan kembali ingatan-ingatan yang
terkubur bersama dengan ibu yang sudah tiada.
“Ragib? Kenapa nangis?” tanya Suci yang langsung menghentikkan
permainannya.
Dia berdiri, berusaha untuk mendekatiku (meskipun kecerobohannya membuat
kepala kami membentur satu sama lain), untuk kemudian mengelus pundak dan
punggungku.
Seperti yang bisa diperkirakan, tangisanku bukannya semakin reda. Elusan
hangatnya membuat tangis ini malah menjadi-jadi, semakin tidak bisa
dikendalikan lagi. Meskipun aku ingin berhenti, ini seperti sudah bukan kuasaku
lagi.
Panik, Suci gelagapan kebingungan terhadap apa yang harus ia lakukan.
Meskipun peduli, tapi Suci tetap tidak tahu apa yang sebaiknya diberikan.
Seperti melihat kucing yang kehujanan, dia hanya membawanya karena kasihan,
kebingungan harus menyelamatkannya bagaimana. Dia membawa tisu lebih
banyak, berusaha untuk mengalihkan perhatian dengan memainkan mainan berbunyi
nyaring, berusaha memberikan sisa makanan bekal yang ternyata hanya tersisa
tomat dan wortel (sambil menjalarkan lidahnya menunjukkan rasa tidak suka),
hingga menyalakan televisi untuk bersama-sama menonton film, sambil tidak lupa
untuk terus mengelus pundak dan pungggungku.
“Lihat! Mereka cantik, ya! Suci suka persahabatan mereka,” sebut Suci
sebelum fokusnya kembali teralihkan sepenuhnya oleh film tersebut, film yang
sama kami tonton di ruang tamu sebelumnya.
Memang. Suci terdistraksi lagi oleh film yang ia tonton, lupa dengan
tujuan utamanya untuk membantuku. Tapi, melihat Suci yang bahagia sebenarnya
sudah membuatku sedikit lebih tenang. Aku bahkan ikut menonton dengannya,
melihatnya meragakan aksi transformasi, ikut mengajakku menonton keseruan
setiap aksi yang ditawarkan. Hingga akhirnya hari semakin malam, kita bersandar
di samping ranjang dengan lelah, dengan Suci yang menyandarkan kepalanya pada
Seiring waktu, juga dengan tisu dan perlakuan yang Suci berikan, hatiku
mulai kembali tenang, atau justru berubah secara signifikan? Tidak hanya
pundakku, tapi juga hatiku, juga dadaku, sedikit terasa gelitik hangat yang
tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
“Hewan-hewannya lucu dan aneh-aneh, ya. Kamu gambar dari film ini?”
tanyaku di penghujung film, ketika seluruh karakter akhirnya berkumpul saling
meminta maaf dan memperbaiki tali persahabatan mereka.
“AH! Iya! Gambar! Suci suka!” pekik Suci seperti melupakan sesuatu.
Dia pun langsung berdiri, membuka laci meja belajar, mengambil banyak
buku sketsa yang lebih lebih besar daripada yang digunakannya tadi di sekolah.
“Ini gambar Suci. Gimana? Keren, kan?” pamer Suci kemudian.
Dari seluruh kertas yang ditunjukkan serentak, aku mulai
membalik-balikkan gambar yang memiliki berbagai jenis. Ada gambar hanya sketsa
dari pensil saja, ada yang sudah diberikan garis-garis tebal dari pulpen, ada
yang diberikan arsir atau bayangan, ada juga yang sudah diberi warna mungkin
dari pensil warna, crayon, atau mungkin spidol.
Dari binatang-binatang itu sendiri ada banyak jenisnya pula seperti
burung hantu berkaki empat, kijang dengan kaki belakang jangkrik, kucing
berekor dua, macan yang bisa mimikri seperti bunglon, ular dengan paruh burung,
bebek dengan taring yang tajam, dan berbagai macam binatang aneh yang hanya
muncul di dalam dongeng saja.
“Idemu bagus. Tapi, referensinya dari mana? Apakah film tadi saja?”
“Tidak. Hanya dari kepala,” jawab Suci singkat.
“Kkkk. Pantas saja. Ada banyak gambar yang menurutku aneh dan tidak
sesuai. Aku jadi teringat ketika menggambar saat masih kecil. Ini gambarmu
ketika kecil juga? Aku kagum!”
“…!” kaget Suci sambil menundukkan kepalanya.
“Eh? Ada apa?”
“He-hehe, hehehe! He-Hu, huaa. AAAAAAA,” jerit Suci tanpa aba-aba,
langsung menangis meluapkan emosinya. Tapi, ini tangisan yang berbeda denganku.
Tangisan Suci ini adalah tangisan yang lebih dahsyat, tangisan yang lebih
hebat. “HUAAAA, haaa-ha. Hahaaah. He-hehe, heheh. Su-ci, su-ka kamu! Suci suka
Ragib! Beda! Beda dari semuanya. Hehe-heheh!” kekeh Suci satu detik kemudian,
ketika tangisannya justru tenang dengan sendirinya.
“Ha…?”
“Ya! Suci suka Ragib! Orang-orang selalu bilang bagus. Tapi, Suci tidak
suka! Mereka gak ngerti. Hanya Ragib yang ngerti. Ragib suka gambar?” cerocos
Suci bertubi-tubi sambil menggenggam tanganku.
“Yah… dulu aku suka. Tapi, sekarang bahkan tidak bisa pegang pensil. Aku
muntah.”
“Muntah? Perut kamu masalah? Baik-baik saja?”
“Kkkk. Tidak apa. Sudah lama, kok.”
__ADS_1
“Tapi suka sama gambar? Suka lukisan-lukisan?”
“Mungkin…?” jawabku ambigu sambil memegang dagu.
“Minggu ini ada pameran! Mau ikut? Ayo ikut Suci! Suci butuh Ragib!
Seru!!”
“…? Pameran? Pameran apa?”
“Pameran lukisan! Banyak gambar! Banyak yang hebat! Suci gak sabar!
Minggu ini! Ayo sama-sama!” ajak Suci antusias, sambil meragakan dan
merentangkan tangan.
Aku dibutuhkan olehnya? Aku dibutuhkan oleh seseorang?
Aku ditunggu oleh Suci?
Suci menginginkan aku ada?
Jujur, aku kebingungan bagaimana menanggapinya. Remi menginkan aku ada,
aku ditunggu oleh Faisal, aku dibutuhkan juga oleh Balkis. Aku paham perasaan
kita satu sama lain, tapi rasanya yang satu ini berbeda. Dengan kerakusannya
seperti anak kecil, Suci seperti mengajakku terang-terangan, tanpa dosa,
seperti kertas yang seluruhnya putih, siap aku isi bagaimanapun aku mau.
Berbeda dengan Remi, Faisal, atau Balkis, dimana kertas tersebut memiliki
aturan main, dan aku pun hanya diberikan satu bagian kertas saja.
Tapi, aku pikir ini kesempatan yang bagus. Mungkin, aku bisa
mengonfirmasi tentang absennya serangan panik yang biasanya selalu terjadi,
namun kali ini hilang tak berbekas?
Aku ingin, aku sangat ingin!
Tapi aku takut, kebingungan terhadap apa yang akan terjadi.
Takut keluar dari zona nyaman, takut semuanya menjadi berantakan.
Bagaimana jika ini justru tidak bekerja, dan aku harus kembali ke titik
nol?
Tidak. Jangan pikirkan itu terlebih dahulu. Ada masalah yang lebih
genting yang melarangku untuk ikut pameran dengan Suci. Pak Prima menunggu kuis
susulanku minggu depan. Baru sore ini ultimatumnya diutarakan. Aku tidak bisa
menganggapnya angin lalu, kan? Aku tidak akan memiliki waktu untuk belajar
selain akhir pekan ini.
“Aku sebenarnya ingin. Tapi sedikit tidak enak dan sungkan, nih.
Lagipula, aku juga ada kesibukan. Kkkkk. Kenapa tidak ajak Nila saja? Kamu
kesepian, ya? Uuuuu, kasihan,” kekehku menjawab Suci.
“Kenapa!? Sibuk apa? Sibuk apa!?” berang Suci sedikit emosi.
“Aku yakin Nila pasti ingin ikut denganmu, kok. Atau kamu lupa
mengajaknya? Mau aku temani ajak dia pergi ke pameran? Kkkkk.”
“Kamu. Sibuk. Apa!? Jawab!”
“…yah, pokoknya sibuk deh. Ada kegiatan penting. Tidak bisa ikut.”
“Jawab. Sibuk. Apa!? Ragib pokoknya ikut!” paksa Suci.
“Haaaah,” hembusku menyerah. “Aku ada kuis susulan minggu depan. Aku
harus belajar akhir pekan ini. Pak Prima mengancam kalau kuis ini gagal lagi,
aku bakal pindah sekolah. Jadi, aku harus belajar benar-benar.”
“!?” Alis Suci terangkat sebelah. “Belajar mudah! Suci bantu! Ragib ikut
pameran!”
“Hah? Mudah dari Hongkong? Mana ada belajar mudah?”
“Belajar mudah! Rangking satu! Lomba, juara, mudah! Belajar mudah!”
Tunggu. Aku baru ingat. Suci adalah salah satu murid terbaik sekolah,
kan? Dia selalu ranking satu di sekolah? Bahkan, aku pikir dia terpilih untuk
mengikuti olimpiade dan berbagai lomba? Aku jarang ikut upacara, sih. Tidak
pernah sibuk urusi prestasi orang lain.
Tapi, aku pikir ini kesempatan yang bagus?
Kalau Suci bisa bantu aku belajar, setidaknya untuk minggu depan aku
bisa kerjakan kuis susulan dengan baik? Bisa ambil hati guru-guru, tidak perlu
pindah sekolah?
Masalah terselesaikan, bahkan sebelum hari berputar?
“Kamu akan bantu belajar? Yakin…?” tanyaku ragu-ragu.
“Yakin! Belajar mudah! Sampai lulus juga ajari! Suci suka Ragib! Suci
bantu Ragib!”
“Baiklah. Kamu ajari aku belajar untuk kuis dan semua ulangan, ya.
Janji?”
“Janji. Pameran Ragib ikut!?”
“Janji. Aku pergi ke pameran minggu ini!”
Terlepas dari semua keanehan yang Suci lakukan, kalau dilihat baik-baik
sebenarnya gadis ini hanya gadis polos yang baik. Aku bahkan bisa mulai untuk
menyukainya.
Sambil menggenggam tangannya untuk berdansa berputar bersama, aku
tersenyum bahagia bahwa salah satu masalahku sudah terselesaikan oleh anak
jenius ini.
Pindah sekolah? Bukan masalah!
Ragib siap menjadi murid teladan, siap mengerjakan soal dengan benar!
\~\~\~\~\~\~\~\~
Wow
Gak ada hujan gak ada angin
Tiba-tiba masalah Ragib “katanya” bisa dibantu oleh perempuan yang belum sehari kenal?
Apakah Ragib bisa percaya Suci?
Selamat datang lagi, teman-teman!
Ternyata Suci ini banyak banget kejutannya ya HAHAHAHA
Gak cuman dari sifat kekanak-kanakannya, dari keluarganya, dari semua yang Ragib alami.
Padahal awalnya mereka gak saling kenal, kan?
…
Apakah ini tanda-tanda……….??????
Btw …
See you next time ;)
Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!
__ADS_1