Setan, Suci, Siuman

Setan, Suci, Siuman
Bab 20: Iya, Janji


__ADS_3

KEMBALI ke ruang bermain, kembali menghadapi gadis berkacamata bulat yang masih menunjukkan ekspresi tidak suka, jijik, bahkan seperti ingin muntah? Yang masih mendesis, berusaha untuk menjaga jarak sejauh-jauhnya denganku, dan siap untuk menyerang dengan melempariku dengan apapun yang tersedia. Namun, dia tetap merasa memiliki kewajiban untuk tidak meninggalkan Suci sendirian, sehingga pergi dari ruangan bukanlah pilihan.


Ada satu perbedaan yang signifikan dibandingkan beberapa hari lalu. Jika sebelumnya Suci berada di samping sang gadis berkacamata sehingga dia bisa melindunginya dengan cekatan, namun sekarang Suci malah menempel dengan lengket, duduk di sofa bersama denganku. Masalahnya, Suci bukannya duduk dengan tujuan untuk membahas sesuatu. Suci benar-benar duduk di satu sofa yang sama, bersebelahan hanya berjarak beberapa senti, bahkan terkadang pundak kami saling bersentuhan!


Tidak hanya kedatanganku (yang tidak mengganggu) yang tidak diinginkannya, sekarang Suci praktis sudah dicuri dari genggamannya juga. Ini benar-benar membuatnya resah, bahkan terlihat marah. Bisa terlihat muncul sebuah bayangan dari dalam kegelapan, seperti sebuah ritual pemanggilan arwah untuk mendapatkan kekuatan, hanya untuk memberiku hukuman. Jujur, aku bukannya berada disini atas keinginan sendiri juga.


Aku dibawa paksa oleh Suci, Suci sendirilah yang menginginkan kehadiranku disini.


Menginginkan…? pikirku sedikit teralihkan.


Maka dari itu, kondisi ini cukup canggung untukku pribadi.


Sejujurnya, hubungan antara Nila dan Suci ini sejauh apa, ya? Aku pikir mereka hanya sahabat biasa-biasa saja? Tapi, Nila seperti membuat rumah ini menjadi rumahnya sendiri? Apakah ini memang rumah Nila? Aku pikir ini rumah Suci. Apakah mereka bersaudara? Tapi tidak begitu terlihat kemiripan genetik antara keduanya.


Entahlah.


Pokoknya, Nila seperti seorang kakak yang overprotective terhadap adiknya. Merasa semua hal yang dilakukan Suci harus diketahuinya dan berdasarkan izinnya. Sedangkan Suci sendiri, seperti anak kecil yang tidak begitu peduli terhadap sekitar, kecuali untuk melakukan apapun yang dia inginkan.


“Gak makan lagi? Minum? Dingin atau panas? Susu? Cokelat? Jus? Mau yang mana?” cerocos Suci bertanya kepadaku praktis saat melihatku berhenti mengambil kue kering. Matanya penasaran, juga terdapat getaran kekhawatiran yang muncul dari balik tenggorokannya.


Kenapa anak ini? Tidak biasanya dia menawariku sesuatu dan melayaniku sampai seperti ini, pikirku penasaran.


“Tidak. Nanti lagi saja. Aku tidak lapar,” jawabku tenang sembari menutup toples.


“Eh? Jangan! Kenapa…? Mau pulang? Nanti. Suci mohon. Mau main? Mau boneka? Mau apa? Mau baca buku? Eeh… eh,” pusing Suci sambil bergerak kesana kemari menawariku berbagai hal, berusaha menjagaku untuk tetap berada di rumahnya.


Memang. Intensinya masih sama, yakni berusaha untuk memaksaku tetap tinggal di rumahnya lebih lama. Namun, caranya dalam menyampaikan intenisinya kini sudah berubah drastis. Apa yang terjadi? Kenapa dia repot-repot melayaniku segala? Kenapa dia peduli denganku? Aku pikir Suci orang yang egois? Suci biasanya hanya mementingkan urusan sendiri, dunia hanya berputar di sekelilingnya saja.


“Tidak apa-apa. Tidak perlu,” tolakku dengan senyum kecil.


“Eeeeh? J-jangan pulang. Please… tunggu. Mau apa? Belajar lagi? Nila ajari dong! Ajari sekali lagi? Ada ulangan lagi? Bagaimana ulangan?” pinta Suci menoleh kepada gadis yang masih duduk tidak peduli di ujung ruangan yang lain.


“SEENAK JIDAT!!! GAK MAU. KENAPA AKU HARUS BANTUIN LAGI!?” teriak Nila instan. “Laki-laki memang payah. Gak becus! Bajingan,” lanjutnya lirih seperti berbisik, meskipun aku masih bisa mendengarnya dengan jelas.


“Kenapa? Kamu sendiri yang bilang, kan? Suci pikir sepakat?”


“Gak! Aku tarik kata-kataku. Gak mau lagi ngajarin serigala itu!”


“Emm… gimana, ya? Ragib jangan pulang, ya! Mau tidur? Mau istirahat? Sofa nyaman, kan? Mau main? Ayo main!” pelas Suci seperti tidak ada pilihan lain.


“Kkkkk. Sebenarnya kamu kenapa, sih? Tumben banget tawarin aku macem-macem. Gak mau bahas gambar dan lomba lagi? Gimana progress lomba kemarin?”


“IYA! GAMBAR! Suci udah gambar baaaanyak banget! Mau minta saran! Banyak yang aneh. Banyak yang bingung. Mau minta… gak. Enggak! Nanti. Gambar nanti. Gak boleh egois. Tanya Ragib, bukan Suci. Suci nanti lagi. Sekarang Ragib. Ragib? Mau main? Gambar nanti aja. Ehe-hehe,” kekeh Suci seperti terpaksa, dengan sedikit nada tidak puas.


Suci berusaha untuk tidak selalu membicarakan dirinya saja?

__ADS_1


Apakah ini gara-gara teriakkanku kemarin, ya?


Apakah ini hal yang baik? Ketika Suci akhirnya bisa berubah dari sifat buruknya? Atau justru ini hal yang buruk karena Suci memaksakan dirinya? Berusaha untuk bertransformasi menjadi kepribadian ‘D’ untuk memelas orang lain, akhirnya muncul sifat dan kepribadian yang baru, kepribadian yang sangat tidak cocok dengan sifat alami kekanak-kanakannya. Aku sendiri cukup bimbang. Senang karena akhirnya diperhatikan, senang karena aku memang menyukai perhatian semacam ini. Namun, di sisi lain aku malah merasa bersalah karena Suci bukan lagi Suci yang aku kenal (meskipun kenal dengannya belum bisa disebut kenal dekat atau semacamnya juga).


“Kkkkk. Gimana kalau aku mau cerita aja. Boleh, gak?”


“Boleh! Ragib mau cerita? Cerita apa? Suci dengarkan!” jawab Suci antusias sembari kembali duduk di sofa, dengan tatapan penuh bintangnya seperti benar-benar tertarik dan siap mendengarkan.


“Bukan bukan,” jawabku melambaikan tangan. “Maksudnya, aku mau Suci cerita aja. Aku mau dengar cerita dari Suci. Gimana?”


“Cerita dari Suci? Cerita apa?” heran Suci memiringkan kepala.


“Iya. Gimana perkembangan gambarnya? Ada kemajuan? Kalau memang bingung tanya aja. Gak perlu maksa untuk nanya tentang aku, kok. Aku juga akhir-akhir ini mikir kalau kata-kata kamu ada benarnya. Kkkkk!”


“Ragib mau cerita gambar? Tapi nanti Ragib pergi lagi…? Suci gak mau Ragib pergi. Kalau cerita gambar, kata Nila sama Mama, Suci egois. Cuma mentingin Suci aja. Kalau cerita gambar… Ragib pergi?”


“Kkkk. Enggak, kok. Aku yang tanya, kan? Aku memang penasaran. Udah dua minggu nemu masalah apa aja, nih?”


“Ragib janji gak pergi?”


“Iya, janji.”


“Ehe-hehe, hehehe!” kekeh Suci tersipu malu, bahkan pipinya hingga merah merona. Seperti sumbatan pada saluran air yang berhasil untuk dikeluarkan, Suci pun bercerita dengan deras. Tanpa rem, tanpa jeda, dengan penuh semangat, kembali menjadi Suci yang aku kenal tiga minggu lalu, kembali menjadi seorang anak kecil yang antusias seperti sedang bercerita keseruan karyawisata bersama teman-temannya kepada orangtuanya.


Suci mulai bercerita, tentang kemajuan dan hambatannya dalam menggambar, khususnya eksekusi idenya di atas kertas. Dia mencoba untuk mengubah berbagai ide dan referensi yang dilihatnya di pameran, bahkan dari televisi dan film-film di dalam gambarnya. Suci kombinasikan dengan sudut pandangnya sendiri, sayangnya satu kepala tidak dirasa cukup olehnya. Dan satu-satunya cara untuk memecahkan masalah ini adalah dengan bertanya kepadaku—sebagai orang yang sedikit paham profesi ini—karena aku termasuk dalam kategori ‘bukan orang-orang (normal)’ yang selalu memuji dan berkata bagus, namun tidak paham apa yang sebenarnya Suci tanya.


Sebenarnya, Mama Suci dan Nila tidak pernah mempermasalahkannya.


Tapi, yang Suci butuhkan sekarang adalah aku, kan? Bukan mereka berdua.


Setelah berdiskusi panjang dengan Mama dan sahabatnya, Suci mulai dilatih untuk berusaha melayani, berusaha untuk memikirkan orang lain, berusaha untuk mengesampingkan keegoisan pribadinya, hingga akhirnya muncul kepribadian ‘D’ pada Suci ini yang membuatnya benar-benar menjadi orang lain.


“Kkkk. Begitu, ya? Kamu sudah melalui perjalanan panjang? Suci hebat. Suci sekarang sudah besar, ya,” responku bangga seperti ayah yang bahagia menatap tumbuh kembang anaknya.


“Ehehe-hehe. Sudah sudah! Sekarang gambar! Bahas gambar! Ayo!”


“Boleh. Aku juga kangen sama gambar-gambar kamu.”


“Hehe-hehe, hehehehe,” kekeh lain Suci namun kali ini dengan senyum sombong.


“Tapi kamu gapapa? Aku gak begitu paham tentang lomba sayembara gambar ini. Tapi gimana sekolah? Suci masih bisa ikuti?”


“Heh, lucu sekali orang idiot khawatir terhadap orang jenius. Gak penting banget,” bisik Nila dari ujung ruangan (yang sebenarnya—sekali lagi—bisa terdengar dengan jelas).


“Gapapa! Suci pintar! Gambar penting. Nomor satu.”

__ADS_1


“Kalau gitu, aku boleh minta ajari lagi? Kkkkk. Aku mau terima tawaran yang kamu ajak tadi untuk belajar bareng. Gimana?”


“BOLEH! Suci suka Ragib. Ragib boleh apapun. Ayo, Nila! Belajar lagi!”


“Gak. Males. Aku gak peduli sama kalian!” jawab Nila tak acuh.


“Eeeeeeeeeeeeeeeeehhhh!?” protes Suci dengan kecewa.


“Harus ajarin cowok brengsek ini lagi? Gak, deh.”


“Kalau kamu memang gak suka, gimana kalau aku bawa teman lain? Kita juga belajarnya nanti di restoran atau semacamnya. Lebih terbuka, kan? Aku gak akan macem-macem, kok!” pelasku memohon Nila.


“Heh. Di rumah aja aku tolak, apalagi di luar? Otak udang memang. Logikanya gak dipake. Sok tahu banget. Aku gak sudi bantu orang yang udah sakitin hati Suci. Aku gak mau. Awasa aja kamu paksa Suci dan curi Suci lagi. Gak! Gak! GAK! AWAS KAMU CURI SUCI LAGI! AWAS KALAU KAMU AMBIL SUCI LAGI!!” teriaknya protes seperti sebuah upaya perlindungan diri sendiri.


“SUCI, KENAPA HARUS BANTU COWOK BRENGSEK INI, SIH? KENAPA HARUS SAMA DIA!? KENAPA GAK SAMA AKU AJA? KENAPA KAMU TINGGALIN AKU!? AKU GAK MAU KEHILANGAN KAMU. KITA UDAH SAHABATAN LEBIH LAMA, KAN? IYA, KAN? SUCI??? IYA, KAN? SUCI… KENAPA?” teriak Nila lebih lanjut seperti memohon, yang sebenarnya lebih mengarah kepada gadis di sebelahku.


Kemudian, Nila benar-benar seperti ingin menangis.


Seperti seorang lelaki yang tidak rela ditinggal pacarnya, menangis hebat tidak bisa membendung emosinya.


\~\~\~\~\~\~\~\~


Abis diajak baikan, dikasih biskuit, tiba-tiba Suci malah tawarin ini itu ke Ragib


YAKALI RAGIB GAK KAGET


APALAGI NILA LIDAHNYA MAKIN BERBISA NIH


WKWKWKKWKW


Selamat datang lagi, teman-teman!


Kira-kira Nila ini punya masalah apa sama Ragib, ya?


Enggak. Ini lebih pribadi.


Kira-kira Nila ngalamin apa di masa lalunya sampe gini banget, ya?


Masalah Ragib dengan Suci beres, sekarang malah mulai masalah dengan Nila.


wkwkkwkwkwkwkwkw


Btw …


See you next time ;)

__ADS_1


Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!


__ADS_2