Setan, Suci, Siuman

Setan, Suci, Siuman
Bab 7: Tempat yang Menyeramkan


__ADS_3

SEBELUM semuanya menjadi jelas, aku terbangun di dalam kamarku sendiri. Waktunya kapan?


Entahlah. Sekitar malam, mungkin tengah malam, mungkin mendekati subuh. Aku


tidak tahu kapan. Yang penting, matahari masih mengistirahatkan dirinya,


digantikan oleh bulan yang ternyata sama-sama bersembunyi tertutup awan hujan. Apakah


sekarang masih hujan? Hujan sore setelah futsal memang deras. Benarkah?


Entahlah. Aku tidak begitu ingat. Berapa lama kejadiannya? Bagaimana dengan


sekarang?


Ah… aku tidak bisa fokus.


Setidaknya, sekarang aku sudah sadar sepenuhnya. Aku mulai bangkit dan


duduk, mengusap mata yang lelah merah. Tidak bisa tidur lagi, aku mengerang


pelan saja mengeluarkan suara tidak jelas berusaha untuk tetap fokus.


Apakah benar ada suara rintik? Tidak. Lupakan itu. Ada sesuatu yang


lebih penting untuk aku khawatirkan sekarang.


Apakah semalam terjadi perampokan? Rumahku dijarah orang jahat?


Aku menahan napas, melihat kiri-kanan, berusaha mengolah pikiran. Tapi,


tak ada apapun yang berhasil diolah, kecuali mata yang membelalak dan respon


untuk panik.


 “Dimana para manekin? Dimana ayah, dimana teman-teman semua?”


tanyaku heran melihat seisi kamar yang hanya diisi oleh kasur yang cukup megah


ukuran dewasa, satu nakas dengan lampu tidur di samping kasur, empat jendela


tertutup rapat dengan 2 gorden di sisi-sisinya, satu meja belajar yang


berantakan oleh kertas, buku, alat tulis, dan alat pewarna yang membuatku


muntah, serta satu lemari besar setinggi dinding.


Semuanya merupakan kamar yang normal, kecuali kehadiran manekin yang


jumlahnya belasan telah hilang entah kemana.


Aku berdiri, pergi dari kasur. Dengan tangan yang menyisir udara di


sekitar, seperti sedang meraba angin, berusaha menangkap sesuatu dari


ketiadaan. Aku membuka gorden, melihat kegelapan malam yang benar-benar gelap


tidak terlihat apapun kecuali hitam legam. Lagipula, kenapa aku buka gorden?


Tidak ada alasan juga kenapa aku harus melihat kondisi luar, kan?


Setelahnya, aku mencari para manekin ke bawah ranjang, dalam laci nakas,


di setiap pintu lemari, di kolong meja belajar, di sela-sela lemari dan dinding


yang lebarnya dua senti, hingga aku putari lagi kamar ini sekitar dua-tiga


kali, untuk tidak menemukan apapun kecuali rasa panik yang semakin


menjadi-jadi.


Didorong oleh rasa panik, aku mulai buka pintu kamar, untuk melihat


keadaan ruang tengah, ruang tamu, dan tangga ke lantai dua yang berada


diantaranya. Tidak ada tanda-tanda pemaksaan, tidak ada kerusakan, tidak ada


hal yang berantakan yang tidak aku ketahui (karena memang rumah ini pada


dasarnya sudah berantakan karena sudah lama tidak ditinggali).


Pokoknya, tidak ada keanehan yang tidak bisa aku jelaskan.


Kecuali—serupa seperti kejadian di dalam kamar—tidak ada satupun ayah,


teman-teman, maupun siapapun yang harusnya menemaniku malam ini, saat ini,


setiap kali aku pulang ke rumah. Tidak ada fiber putih yang kaku, tak ada fiber


yang memiliki pakaian, atau mungkin beberapa bagiannya dicat, tidak ada manekin


yang kepalanya buntung, tidak ada yang manekin yang tersisa, tidak ada manekin


sama sekali. Tidak ada.


“Tidak ada? Tidak ada. Tidak ada… tidak ada. Tidak ada! TIDAK ADA! TIDAK


ADA!!!” teriakku panik bukan pada siapa-siapa, kecuali langit-langit rumah,


atau mungkin lantai ubin yang kotor penuh debu dan noda.


Aku berlutut tidak kuasa dan merasa pasrah. Air mata mulai mengalir,


sesenggukan kesulitan bernapas, sampai pada akhirnya asmaku kambuh lagi. Aku


terjatuh terkapar, kembali mencengkeram dadaku dengan sakit, memukulnya lagi,


berusaha untuk bernapas setipis mungkin, sebisa mungkin.


Kemana teman-temanku pergi? Kemana mereka? Mereka tidak bernyawa, mereka


tidak bisa bergerak tanpa kuperintahkan! Mereka tidak bisa berbicara, kecuali


aku ajak mereka berbicara!


Apa yang terjadi?


Kemana mereka pergi?


Kenapa mereka tidak pamit terlebih dahulu?


Aku tidak paham. Aku tidak mengerti.


Merasa tidak rela, aku paksakan tubuh untuk bangkit, berusaha untuk


duduk kembali. Dengan muka yang berubah warna-warni, wajah biru kehabisan


napas, juga mata dan telinga yang memerah. Aku berusaha menoleh ke sekeliling


lagi.


Aku yakin mereka hanya sembunyi, aku yakin mereka hanya bermain petak


umpet.


Sayangnya, tidak ada sama sekali tanda-tanda para manekin akan pulang,


akan kembali pada dekapan, kembali ke rumah untuk bermalam. Lebih buruk, aku


malah berteleportasi ke sebuah ruangan tanpa batas kecuali warna putih saja.


Apa yang terjadi?


Apakah ini ulah mesin waktu?


Sekarang mereka bisa melakukan teleportasi antar ruangan?


Bukan ini fungsi mesin waktu yang aku harapkan!


“Hihihihi,” tiba-tiba terdengar suara tawa melengking yang tidak aku


kenali, entahlah berasal dari mana. Mungkin dari arah belakang, mungkin dari


depan, mungkin dari samping, mungkin dari semua arah. Aku mencari dengan


seksama dari mana suara tersebut muncul, namun tiba-tiba dari arah belakang


muncul orang-orang yang bergerak sistematis ke segala arah seperti pasukan baris


berbaris. Sekarang aku berada di sebuah persimpangan jalan?


Beruntung aku diam saja di atas trotoar mengamati, tidak perlu


mengganggu orang-orang yang sibuk berlalu lalang. Setelah aku perhatikan,


nampaknya mereka memiliki wajah yang serupa, senyum besar mengerikan yang sama,


seperti teman-teman manekin di rumah, seperti buatan dari produksi pabrik yang


sama. Mereka manusia buatan? Tapi, mereka bukan terbuat dari fiber, bukan


berwarna putih polos, meski tetap tidak memiliki organ dalam.


Selanjutnya, mulai terdengar suara yang lugas dari arah yang lebih


dekat. Suara ini keluar dari kerumunan manusia buatan, seperti suara percakapan


yang terjadi sebagai latar belakang. Sembari menenteng tas kerjanya, mereka


berbicara entahlah apa, berbisik-bisik membicarakan sesuatu, hingga tertawa


tidak terkendali?


Apa yang terjadi? Kenapa gerakannya menjadi kacau?


Perlahan tapi pasti, semua manusia buatan ini mulai diam mengerumuni


suatu tempat, tidak lagi bergerak dengan sistematis, hingga mereka saling


bertabrakan.


Sebenarnya, aku tidak terlalu peduli dengan manusia buatan ini. Yang aku


khawatirkan adalah dimana temanku sekarang berada?


Dan kapan aku mendapatkan pertolongan?


Aku yang masih duduk terkulai lemas, mengamati kerumunan manusia buatan


yang perlahan semakin kacau, bergerak acak kemana-mana, bahkan hingga ke


trotoar sisi jalan. Mereka menembus tubuhku? Seakan-akan melupakan kehadiranku,


seakan-akan aku tidak berada disana, seakan-akan aku tidak pernah ada sama


sekali.


“Kh!” napasku kembali tersenggal. Kapan pertolongan datang? pikirku


sekali lagi. Tunggu. Aku teringat sesuatu. Ayah akan datang, kan? Aku masih


memiliki ayah, kan? Masih? Mungkinkah masih memiliki? Remi? Balkis? Faisal?


Teman-teman yang lain?


Mataku mulai merah mengeluarkan air mata lagi, tanganku menampilkan


saraf-saraf hijau membiru. Aku masih bisa merasakan diri! Aku tetap ada, hidup,


dan berada disini.


Aku hidup, aku hidup. Aku bisa merasakan diri, aku masih bisa merasa.


Tunggu. Aku pikir aku sedang terkulai dikerubungi oleh manusia buatan


ini seperti lalat yang mengerubungi bangkai?


Apakah aku mendapatkan penglihatan orang ketiga? Atau mungkin tidak. Aku


tiba-tiba merasa bisa terbang seakan jiwaku yang melayang? Semakin jauh,


semakin lama, semakin tinggi, aku lihat diriku sendiri terkapar di bawah sana


dikerubungi manusia buatan.


Dari atas sini, semakin jauh, tubuh fisikku semakin tidak terlihat lagi.


Ditutupi oleh kerumunan manusia buatan yang tidak memiliki tujuan jelas di


dalam ruangan tak terbatas, sampai pada akhirnya aku hanya melihat mereka


seperti kumpulan semut yang mengantarkan makanan pada ratunya. Tidak ada lagi


individualitas, semuanya telah bersatu menjadi satu kesatuan yang padu. Semakin


lama melayang, semakin tinggi menjauh, sampai aku hanya bisa melihat layar


putih saja. Lalu tiba-tiba layar berubah hitam, dan aku kehilangan kesadaran.


SETELAH dibuat bingung oleh konsep waktu; ini kapan, sudah berapa lama berselang (meski sedang


tidak menggunakan mesin waktu), aku langsung terbangun membuka mata setelah


diserang oleh cahaya mencurigakan. Masih heran, ternyata aku menemukan


langit-langit yang tidak aku kenali. Setelah berusaha bangkit pun aku tetap


mendengar decitan per pegas yang asing. Bahan kasurnya juga asing. Apakah


aku pernah tidur di atas sini sebelumnya? Pernah. Tapi, tidak dalam waktu dekat


sepertinya.


Beruntung, napas sudah kembali normal (meski sedikit pengap dan ada bau


obat-obatan kimia entahlah apa), aku tidak sedang dalam kondisi


mengkhawatirkan. “Di-mana aku seka-rang?” lirihku serak, bahkan mungkin sampai


tidak bersuara.


Aku bahkan curiga ini mungkin hanya pertanyaan batinku belaka.


Apa itu barusan? Sebuah mimpi? Mimpi manekin yang tiba-tiba menghilang?


Tapi, aku pikir itu mimpi semalam. Apakah itu benar mimpi semalam? Aku


bermimpi hal yang sama dua kali?


Ah… sudahlah. Tidak penting. Yang jelas, dimana aku sekarang?


Seingatku, pada kuis Pak Prima aku terkapar? Sesak… lalu pingsan?


Pingsan?


Aku menatap kiri–kanan, berusaha mencari informasi. Di sampingku


terlihat tirai berwarna hijau membagi dan menyekat, ada dinding biru bersih,


lalu di depanku ada sebuah lemari kayu berkaca berwarna putih. Kasur yang aku


pakai? Ternyata ini brankar yang sudah basah oleh air entahlah apa. Keringat?


Atau aku mengompol?


Kkkk-khakhahah. Lucu sekali.


Merasa aneh dan tidak nyaman… apanya yang tidak nyaman? Perasaanku?


Fisikku? Fisik? Tubuhku sangat bugar dan baik-baik saja. Tidak. Perutku sakit.


Aku lapar.


Setelahnya, aku langsung bangkit dan berusaha untuk turun dari brankar.


Ternyata, kaus kakiku masih terpasang rapat. Sepatuku? Disimpan rapi di sudut


sekat.


Aku… harus pergi. Haruskah aku pergi? Disini sangat nyaman. Sangat menenangkan. Meskipun sendiri, aku tidak


begitu risau dan cemas. Tapi, aku merasa bahwa aku tetap harus pergi. Aku harus


kembali bersekolah.


Dan dengan begitu, aku bergegas menyimpul tali sepatu, berdiri dengan


mantap, menggeser tirai untuk menyingkap dua orang perempuan di samping pintu


keluar berwarna putih (yang memiliki sebidang kaca di atasnya). Di samping


pintu, terdapat sebuah meja seperti meja administrasi, banyak dokumen dan alat


tulis diatasnya, dan seorang wanita dengan jas dokter putih duduk di belakang


meja, tengah menggenggam tangan seorang murid perempuan yang duduk di depannya


dengan gemetar. Sebuah konseling?


Setelah ditilik, wanita dengan jas dokter itu sedang menenangkan siswi


yang memiliki wajah bulat dan mata sembab, bahkan air mata masih mengalir dari


matanya yang merah? Murid perempuan ini juga memiliki rambut hitam legam


yang mengembang di bagian belakangnya. Sudah siang, tapi rambutnya masih


seperti rambut bangun tidur saja, sindirku dalam hati.


“Hem,” dehamku tersenyum menatap mereka. Praktis, kedua perempuan ini


kaget dan sedikit heran. Keduanya langsung berdiri, berniat menyambutku dengan


lebih layak. Namun naas, sang gadis dengan rambut mengembang harus terjerembab


ke dalam kursi lipatnya. Masalahnya, ini bukan hanya terjatuh karena


kecerobohan belaka. Kursi yang didudukinya seperti ikut hancur juga, karena


sekrupnya memutuskan untuk memisahkan diri. Meski sejak tadi sang gadis yang duduk


tidak menunjukkan masalah berarti? Sial sekali gadis ini, pikirku.


“Kkkkk! Lo selalu aja sial dimanapun berada, Ma,” tawaku sambil bergegas


meraih Atma, bahkan sebelum sang wanita dengan jas dokter bisa beraksi. Aku


raih tangannya, membantu badannya berdiri setelah tergelincir turun masuk pada


bagian dudukan kursi. “Gue kasihan sama kursinya. Udah rapuh, tapi masih lo


paksa untuk pake juga. Utututututu!”


Gadis dengan rambut mengembang ini hanya bisa menahan rasa malu sambil


terus berusaha berdiri (dan tidak lupa untuk berusaha melakukan pukulan pada


punggungku). Sebelum benturan terjadi, aku sudah siap menerimanya dengan


menutup sebelah mata dengan sedikit tawa. Tapi, yang aku terima justru


genggaman erat pada bahu, dengan rasa tangis yang kembali menjadi-jadi.


“Lo… gapapa, Gib? I-ni pasti salah gue tadi pagi, kan? Ma-afin gue, Gib!


Huhu-hu-hu! Gu-e nyesel! Hu-hu-huhuu. Maaf, Gib!” rengeknya tersedu-sedu.


Mendengar permintaan maaf itu, aku hanya tersenyum ringan. Mengambil


kedua tangannya, menggenggamnya erat dengan hangat, sekalian mencari tempat


duduk untuknya beristirahat dengan lebih baik. “Maafin gue, Gib!” lanjut Atma.


Aku hanya lanjut tersenyum mengiyakan, sambil terkadang membelainya.


Memutuskan untuk duduk di salah satu brankar, aku memilih untuk menunggu


Atma menyelesaikan urusannya. Alhasil, ruangan dengan dinding biru dengan


banyak tirai hijau ini hanya diisi oleh gema suara tangis Atma saja. Meski


begitu, rasanya sangat nyaman, sangat tenang, sangat menenangkan.


Sembari melirik sekitar, tahu-tahu aku saling bertukar pandang dengan


wanita dengan jas putih (yang aku asumsikan perawat di ruangan UKS ini. Ini

__ADS_1


seharusnya UKS, kan?). Kami sebenarnya saling bertukar senyum. Tapi, senyum


wanita itu adalah senyum yang tulus, sedangkan milikku hanya senyum canggung.


Aku merasa sungkan sudah merepotkannya.


Tapi, mau bagaimana lagi? Atma masih membutuhkan beberapa waktu untuk


bisa menenangkan dirinya. Lagipula, bukan sebuah kejadian sehari-hari untuk


Atma menangis tersedu begini. Kupikir, ini ada hubungannya dengan kejadian tadi


pagi? Atma yang merupakan anak pertama tentunya memiliki rasa tanggung jawab


besar. Dengan kejadian yang membuatnya syok dan terguncang tadi pagi, dia pasti


berusaha untuk menyalahkan diri sendiri. Aku juga bukannya selalu ambruk dan


pingsan secara berkala. Meskipun tentu, aku memiliki serangan panik yang cukup


fatal, tapi aku selalu bisa untuk menahannya. Tidak. Justru, perilaku Atma ini


adalah hal yang wajar. Karena aku tidak pernah terlihat pingsan dan jatuh


ambruk di depannya, kejadian ini sangatlah langka. Sebagai teman, aku pikir


sangat wajar dia merasa khawatir. Tapi, tetap saja… aku tidak berpikir bahwa


dia akan menangis seperti ini. Aku pikir, dia hanya akan memukul punggungku


seperti biasa, pukulan runtun, atau mungkin kekerasan-kekerasan lainnya.


Padahal, aku pikir Atma adalah orang yang tidak ingin terlihat lemah.


Dia selalu memaksakan diri, dia selalu memasang wajah yang kuat sehari-hari.


Apakah menangis sebuah kelemahan? Bisa jadi bukan.


Kenapa aku berpikir demikian?


Entahlah. Aku hanya merasa Atma yang sekarang terlihat lebih rentan


ketika sedang mengeluarkan emosinya dengan dahsyat. Lucu rasanya. Aku bisa


melihat sisi Atma yang jarang ditunjukkannya dalam dua tahun terakhir.


“Ufhu-huhu, fufu-fuhuhu. Fufufufu,” tawa Atma terbata-bata seperti


dipaksakan. “Jangan bilang siapa-siapa ya gue nangis jelek gini,” lanjutnya


sambil mengusap air mata


Aku hanya tersenyum, mengangguk seperlunya untuk menjawab permintaan


tersebut. “Eh, ini rambut lo makin berantakan, ya? Bentar bentar,” seruku


kemudian sembari mengambil dan merapikan helaian rambut basah yang menempel di


wajahnya, sekalian juga air mata di pipinya, juga berusaha untuk meluruskan


rambut mengembangnya. Menggesernya ke kiri kanan, menyisirnya menggunakan


sela-sela jari, memainkannya layaknya sebuah mainan anak kecil.


Tanpa aba-aba, tiba-tiba tangan kananku yang masih menyisir rambut Atma


langsung kena tampar lagi, ditambah juga oleh dorongan kuat dari kedua tangan


Atma. Sebuah seruan dan bentuk protes, dengan nada sedikit kesal dan juga tawa.


“Kkkkk! Enggak, enggak. Lo jelek kalau nangis soalnya. Gue lebih suka


liat senyum- senyum lo kayak biasa,” lanjutku membetulkan duduk di brankar.


“Tapi, terima kasih, loh. Udah mau khawatir, udah tolongin gue, bahkan sampai


tungguin di UKS? Lo yang bawa gue ke UKS?”


“Idiiih, itu sih lo yang mau, ya?” tolaknya dengan jahil. “Enggak kok.


Gue justru baru datang kesini pas istirahat siang. Katanya lo udah pingsan dari


pagi? Sekarang udah sore tahu! Dasar kebo! Tidur lo nyenyak banget, ya?”


“Sore?” tanyaku panik, tidak percaya terhadap perkataan gila oleh gadis


di depanku ini. “Gue ambruk memang pas pelajaran Pak Prima. Itu masih pagi, ya?


Jadi udah berapa lama gue pingsan?” tanyaku pada diri sendiri, sambil menekan


sisi pelipis berusaha mengingat segala kekacauan yang sudah terjadi.


“Pas gue tanya-tanya, Pak Prima yang bawa lo ke UKS. Gue tanya-tanya pun


bapak bilang untuk jangan ganggu. Kalau dari jadwal, lo kayaknya emang udah


ambruk setelah kita pisah pagi di kantin. Lo serius gapapa?”


“…”


“Gib? Ragib?” tanya Atma dengan nada khawatir sambil membelai


punggungku.


Sebenarnya, setelah mendengarkan semua fakta dari mulut Atma, aku yang


terkejut hampir mendapatkan serangan panik lagi. Namun, karena bukan serangan


panik atas kesendirian, melainkan rasa panik ringan atas keterkejutan saja atas


waktu aku tertidur, aku tidak perlu sesak napas, tidak perlu bercucur keringat


dingin. Apalagi, ada gadis dengan rambut mengembang di sampingku, yang masih


dengan lembut mengelusku.


Seperti vacuum cleaner, tangan Atma bak menyedot seluruh rasa


panikku, menyaringnya semua debu-debu dan serpihan kotor, membersihkannya tak


bersisa.


“Ah… enggak. Gue juga gak begitu paham. Tapi, setidaknya gue harus


bilang makasih dulu ke Pak Prima. Gue mungkin cuman tumbang karena semalem


ujan-ujanan aja. Kkkkk! Apalagi sekarang udah sore? Kita pamitan dulu, yuk,”


lanjutku sambil turun dari brankar, lalu membantu Atma turun juga, keluar dari


bilik sekat tirai ini. Lalu kami pergi ke meja administrasi dekat pintu keluar,


pergi ke tempat wanita perawat berjaga, untuk berpamitan dan berterima kasih.


Setelah semua formalitas dijalankan, mendapatkan juga senyum balasan


dari wanita perawat, kami langsung berjalan dengan lebih bebas di koridor


sekolah. Tapi, karena ruang guru dan kantin berada di tempat yang berbeda, aku


dan Atma harus berpisah lagi di pertigaan koridor.


Awalnya, Atma sempat gundah karena masih khawatir dengan kondisiku.


Hanya saja, waktu petang seperti ini adalah waktu yang sangat dibutuhkan


oleh orang tuanya untuk mendapatkan tangan tambahan dan membantu di dapur


kantin. Sudah pasti aku meminta Atma mendahulukan keluarga, kan? Meskipun Atma bilang aku sudah menjadi bagian keluarganya, aku hanya tersenyum


tersipu malu. Tapi, pada akhirnya kami harus tetap berpisah. Bahkan aku sampai


memastikan Atma hingga tiga kali bahwa kita memang perlu untuk berpisah


sementara.


“Yakin?” tanya Atma dengan mata sedihnya.


“Kkkk, biasa aja kali. Gue udah sehat ini. Yakin!” seruku menepuk dan


membusungkan dada.


“Yasudah. Nanti kalau ada apa-apa gue ada di kantin, ya. Atau mungkin di


lapangan belakang!” teriak Atma melambaikan tangan dan praktis pergi pada arah


yang berlawanan. Aku tatap punggungnya yang setiap tiga langkah selalu menoleh


dan melambai, sampai pada akhirnya benar-benar berpisah karena belokan koridor


yang harus Atma ambil.


Baiklah, saatnya kerjakan urusan lain, batinku menyemangati diri.


Aku hendak balik badan, namun sakit kepala tiba-tiba datang. Ketika aku


tatap koridor sekolah, mereka mulai memanjang menjauh, seakan-akan ujungnya


ditarik hingga tak terbatas. Kepalaku sakit lagi, sampai tubuhku harus ambruk


lagi, meski aku cukup beruntung napasku tidak kembali sesak.


Kepalaku menoleh ke sekeliling. Untunglah tidak ada siapapun.


Tunggu, kenapa aku bersyukur? Ini bencana!


Tidak. Bukan juga. Lebih baik tidak ada yang tahu bukan?


Tapi aku harus sendiri lagi? Bagaimana jika aku ambruk lagi seperti tadi


pagi? Tidak ada yang menolong? TIDAK ADA YANG MENOLONG!?!?



Sudahlah. Sekarang saatnya aku pergi ke ruang guru. Aku lewati koridor


panjang halusinasi tadi yang hanya terdiri dari jalan setapak di antara taman


kecil, menaiki tangga di bagian kiri, berjalan menyusuri koridor di lantai dua,


Ruangan tempat aku baru saja mendapat ceramah dari Pak Doktor kemarin, yang


mungkin akan kudapatkan lagi dari Pak Prima.


Sebenarnya aku sudah menjadi langganan pergi ke ruang guru juga, kok.


Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


“Iya, saya paham. Semua guru juga sudah paham sama kamu. Kamu punya


penyakit, kamu punya kondisi khusus. Tapi, kami juga manusia. Kami lelah dengan


akal-akalan kamu. Apa Cindy, Nabila, dan yang lainnya benar, ya? Kamu hanya


cari perhatian saja? Saya pikir, para guru sudah terlalu lembek padamu, Gib,”


kesal Pak Prima dengan tangan yang disilangkan di depan dada.


“Baiklah. Begini saja. Bapak kasih waktu hingga minggu depan untuk


mengulang kuis. Bagaimanapun caranya, kamu harus belajar, harus tinggali


sifat-sifat malas kamu dan main-main tidak jelas di warung stasiun. Tinggalkan


teman-temanmu, dan kalau bisa tidak perlu berteman sama sekali. Sudah! Belajar


saja! Jadi murid yang teladan! Bapak sudah tidak peduli. Kamu harus buktikan


pada kami kalau kamu murid yang layak, atau kami akan paksa kamu pindah sekolah


pada penilaian akhir semester nanti. Kami tidak butuh siswa sepertimu yang


hanya menguras tenaga saja. Kamu paham!?” lanjut Pak Prima dengan bentakkan dan


ekspresi yang lebih berang.


Aku yang mendengarkan Pak Prima sejak tadi sebenarnya sedang duduk di


kursi yang sejajar dengannya. Tapi, entah mengapa aku malah menciut, seperti


sedang berhadapan dengan beruang yang sedang mempermainkan makanannya.


Aku tidak berkutik, aku hanya bisa menerima nasib.


Kenapa semua guru disini jahat, sih?


Kenapa mereka tidak bisa menjadi orang dan teman yang baik?


Kenapa kalian membuat sekolah ini sebagai tempat yang menyeramkan?


“Gib? Ragib? Bagaimana!? Kamu sudah paham!?” pekik Pak Prima geram.


“Eh? I-iya. Baik, pak!”


“Bilang, dong! Jangan melamun terus. Sudah. Sana pulang! Saya capek


berhadapan dengan kamu,” lanjut Pak Prima sambil berdiri dan mengemas


barangnya. Beliau lalu mengenakan jaket, praktis meninggalkanku, juga


meninggalkan ruang guru.


Aku hanya menatap Pak Prima yang sudah tiada, bersamaan dengan harapan


dan keseharian yang perlahan-lahan tidak bisa kugenggam lagi. Ultimatum sudah


dikeluarkan, pilihannya adalah berjuang atau mati. Tidak. Mungkin pilihannya


tidak sesederhana itu. Pilihannya adalah mati perlahan-lahan atau mati tanpa


rasa sakit.


Keduanya pilihan yang buruk, tidak ada yang baik sama sekali.


Kalau aku tidak berhasil mengambil hati para guru minggu depan, aku


dipaksa untuk pindah sekolah dengan lingkungan asing yang tidak aku ketahui.


Bisa jadi lebih buruk, bisa jadi serupa seperti hutan belantara yang tidak


mengenal ampun. Aku akan sendirian lagi, aku akan memulainya dari nol lagi.


Di sisi lain, jika aku belajar dan mengejar akademik sambil meninggalkan


hubungan sosial, aku tidak bisa bercengkrama lagi bersama teman-teman seperti


biasa, dan akhirnya aku tetap akan ditinggalkan, aku akan tetap sendirian.


Bagaimanapun pilihannya, aku tetap akan menderita. Kembali ke titik


awal, tidak memiliki teman, pasrah menjadi seonggok daging yang tidak berguna


lagi.


Apa yang harus aku lakukan?


Apakah tidak ada pilihan yang lebih baik lagi?



Tanpa sadar, ketika aku masih berkelebat dan berselancar dalam pikiranku


sendiri dalam menerka jawaban yang lebih manusiawi, aku sudah berjalan di atas


trotoar yang melingkar. Aku sudah meninggalkan ruang guru, meninggalkan


sekolah, berjalan melihat patung kereta di bundaran tengah jalan, siap pergi


menuju warung tempat aku biasa menghabiskan waktu. Aku siap bermain entahlah


apa, bersama Remi dan yang lain, hingga senja bahkan malam.


Apakah aku pergi ke sini tanpa sadar? Seperti pengaturan pilot otomatis?


Atau justru aku kemari karena membutuhkan jawaban?


Apapun itu, aku sebenarnya tidak ingin peduli juga.


Lupakan saja sejenak masalah ini.


Sekarang, saatnya untuk menghabiskan waktu tanpa tujuan bersama teman, mungkin


juga sekalian menaikkan peringkat dalam gim di ponsel? Aku ingin segera


keluar dari peringkat emas untuk mengejar Remi dan yang lain.


Senyumku lebar, hatiku tidak sabar, siap untuk menyapa dan menyeru


dengan wajah cerah. Tapi, nyatanya aku hanya mendapatkan kekosongan belaka?


Tidak. Sebenarnya, di atas kursi semen berubin ini tetap ada perawakan fisik,


tetap ada manusia yang nyata yang sedang menempati. Sayangnya, mereka bukan


kenalanku, bukan kelompok Remi dan yang lainnya, bukan tempat pulang untukku.


“…! Oh? Ternyata ada Jojo disini. Yang lain kemana, Jo?” tanyaku dengan


nada tinggi sambil melambaikan tangan ketika sadar masih ada satu orang yang


aku kenali. Dia adalah Jojo, seorang yang memiliki mata sipit, yang kemarin


mengenakan kaus putih, dan sekarang pun masih tetap putih?


“…? Lo balik kesini, Gib? Gue pikir main futsal lagi sama Faisal.”


“Kagak. Ya kan biasanya nongkrong disini abis pulang. Yang lain kemana?”


“Ya pergi. Gue juga sekarang mau nyusul. Kemarin lo pergi, sih. Jadi


gatau apa-apa deh,” sebutnya seakan menyalahkanku.


“Kkkk, iya sih… gue kemaren pergi. Sekarang kalian ada acara? Lo mau


nyusul, kan? Gue ikut dong!”


“Gak bisa,” tolak Jojo tanpa belas kasih. “Motor gue udah penuh sama


barang. Lagipula, kalau mau ikut tanya si Remi dulu. Soalnya ini bukan


sembarang acara. Kakaknya si Remi lagi traktir gitu bikin pesta. Yang ikut udah


dihitung kemarin. Kalau lo tiba-tiba ikut bisa repot nanti.”


“Oh…? Gitu, ya?”


“Yasudah. Gue berangkat dulu. Lo cari hiburan apa gitu, kek. Terserah,”


lanjutnya sambil melambaikan tangan dan pergi memunggungiku.


“…”


Apa yang harus aku lakukan sekarang?


Bisa saja aku paksakan untuk ikut acara Remi. Tapi, sebenarnya sungkan


juga. Aku takut mengganggunya, takut merepotkan yang tidak-tidak.


Tapi, kenapa aku tidak diajak?


Jojo dan yang lain diajak. Kenapa aku tidak diajak?


“Karena kemarin gak ada? Karena kemarin ikut Faisal?”


Jadi ini semua salahku?


Melihat sekeliling tanpa ada orang yang kukenali, secara reflek aku


langsung kembali ke sekolah. Berusaha mencari sesuatu untuk dilakukan, atau


sebenarnya hanya berbohong pada diri sendiri juga. Aku mencari perlindungan,


mencari zona nyaman. Faisal cukup rajin bermain futsal, kan? Apakah


kira-kira dia sudah berangkat?

__ADS_1


Mendapatkan ide cemerlang, aku bergegas berlari ke sekolah, langsung


mencari dimana gerangan Faisal berada. Berlari kesana-kemarin, secepat mungkin,


berusaha untuk tidak lagi ditinggalkan.


Apakah ada di parkiran motor belakang? Apakah berada di taman sedang


menunggu waktu? Apakah sedang di kelasnya melakukan piket? Apakah memakan


camilan di kantin? Atau justru sedang bermain di lapang belakang?


Aku mencari ke seluruh sekolah tanpa arah, lagi-lagi seperti anak yang


linglung  bingung berusaha mencari keberadaan ibunya di kerumunan pasar.


Beruntung, akhirnya aku bisa menemukan Faisal dan kawan-kawannya, yang ternyata


sedang berdiam di atas motor menunggu entahlah siapa di gerbang depan.


Padahal ketika aku datang tadi mereka tidak ada disana?


“Sal! Faisal!” seruku sambil terengah-engah kehabisan napas.


“…?”


“Kkkkk, rame amat. Mau pada kemana, nih? Jalan-jalan touring?”


“Kagak. Mana ada jalan-jalan sore-sore begini. Mau futsal di lapang


komplek.”


“Wih! Lo semua memang rajin banget, ya. Kkkk. Gue ikut, dong! Gimana


sih? Kemaren kan gue bilang pengen diajak main lagi. Kkkkk,” tawaku sekali lagi


untuk membuat situasi tidak canggung.


“Hm? Sorry… gak bisa. Udah penuh,” tolak Faisal seperti Jojo,


tidak ada rasa ampun dan belas kasih sama sekali. “Nah, itu orangnya dateng,”


seru Faisal berikutnya, sambil menunjukkan seorang siswa yang melewati dan


menyapaku sebentar, formalitas mungkin, lalu beranjak menaiki motor untuk


dibonceng oleh Faisal.


Tanpa salam, mereka langsung pergi begitu saja meninggalkanku sendirian


di sini.


Belum bisa menghadapi realita, aku hanya berdiri tidak bergeming di


gerbang depan sekolah. Saking lamanya aku berdiam, sampai-sampai ada beberapa


pengemudi angkutan kota yang memberi klakson kepadaku, seakan-akan aku memang


sedang menunggu kedatangan mereka. Setiap kali mereka datang, berkali-kali aku


tolak mereka, berkali-kali juga mereka berdecak lidah menghujatku.


Biarkan saja. Aku sudah kebal. Hujatan mereka tidak berarti.



Tidak. Aku tidak kebal. Aku tidak kebal sama sekali.


Dua sudut mulutku perlahan turun, perasaanku juga menciut bersamaan dengan


helaan napas panjang, mukaku berubah masam? Aku hanya menunduk. Aku merasa


hujan akan turun. Sayangnya, tidak ada satupun yang sesuai dengan harapanku.


Hujan sama sekali tidak turun, tapi napasku malah mulai sesak lagi.


“Tidak. Bagaimana dengan Balkis? OSIS pasti selalu sibuk, kan? Aku


kunjungi saja mereka mumpung masih ada di sekolah,” ucapku dengan sumringah,


setelah mendapatkan lagi satu ide cemerlang.


Aku balik badan, pergi ke sisi kanan wilayah sekolah, naik ke lantai


dua, mengikuti koridor hingga sudut gedung, pergi ke sebuah ruangan paling


ujung di timur laut, lalu mulai mengetuk pintu tersebut.


“Tidak bisa. Kamu bukan bagian dari OSIS, Gib. Kita lagi rapat penting,


nih. Mungkin lain kali, ya!” tolak seseorang dari balik pintu yang bahkan hanya


dibuka separuh, seperti sedang menyembunyikan sesuatu di dalamnya.


Sesuatu yang sangat rahasia, tidak bisa seenaknya disebarkan kepada


massa.


Dan dengan begitu, tiga kali berturut-turut, aku ditolak mentah-mentah


oleh tiga teman yang berbeda. Sebuah rekor baru. Ahahahahah, hahahk, kkkkk! batinku


tertawa bukan pada siapa-siapa. Tidak pernah sama sekali terjadi seperti ini.


Tidak pernah aku benar-benar sendirian seperti ini selain pada awal


tahun SMA.


Sendirian? Aku benar sendirian? Aku ditinggalkan!


Aku ditinggalkan sendirian.


Mereka sibuk, mereka meninggalkanku, mereka seakan menganggapku tidak


ada.


Apa yang salah? Apakah aku melakukan kesalahan kepada mereka?


Kenapa aku ditinggalkan? Kenapa aku ditinggalkan? Kenapa aku


ditinggalkan?


KENAPA AKU DITINGGALKAN!?


Kenapa kalian sekarang malah berubah menjadi para guru-guru yang selalu


jahat padaku? Bukankah aku selalu membantu dan memberikan sesuatu kepada


kalian?


Aku selalu memberikan bantuan finansial kepada Balkis dan OSIS.


Aku selalu bersedia untuk mengisi kekosongan untuk futsal kepada Faisal.


Aku selalu mengikuti perintah Remi tentang kehidupan sekolah.


Aku salah apa? Aku butuh kalian, aku selalu berikan yang terbaik untuk


kalian, aku rela menggunakan uang dari ayah untuk kalian. Tapi kenapa aku malah


ditinggalkan?



Aku… harus minta maaf.


Minta maaf?


Aku harus minta maaf. Aku harus minta maaf. Aku harus minta maaf. Aku


harus minta maaf. Aku harus minta maaf. Aku harus minta maaf. Aku harus minta


maaf. Aku harus minta maaf. Aku harus minta maaf. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA, pikiranku berteriak tanpa suara sama sekali.


“Atma?” tanyaku tiba-tiba saat pikiranku kacau tak berwujud.


Aku turun ke lantai dasar, pergi ke kantin dengan cepat, ternyata tidak


ada, langsung beranjak ke lapangan belakang. Di sini memang banyak murid


melakukan ekstrakurikuler olahraga. Ini kesempatan untuk Atma menjajakan


dagangannya. Mungkin bisa juga aku sekalian melakukan pendinginan? Ya.


Betul,  batinku mengangguk menyetujui.


Tapi, ketika aku mulai mendekati lapangan, yang aku dapati disana


bukanlah sesuatu yang dapat mendinginkan kepalaku yang panas mengepul ini.


Justru kepalaku semakin panas, merasa geram, dan amarahku meledak-ledak. Disana


sudah ada beberapa perempuan yang tampilannya paling modis, kulitnya putih bersih,


mengenakan rok span memamerkan kelangsingan. Disana ada Cindy, Nabila, dan


kelompoknya yang sedang melakukan sesuatu, entahlah apa, hanya terlihat


siluetnya, namun aku yakin betul mereka sedang melakukan perundungan. Tidak.


Aku bisa lihat lebih jelas? Mereka melakukan perundungan pada seorang gadis


dengan rambut yang mengembang di belakangnya?


Apakah ketidakberuntungan Atma memang seburuk ini?


Harus repot-repot bertemu orang-orang yang sibuk mengurusi orang lain.


Padahal, mereka bukannya satu kelas juga.


Aku berlari, aku berusaha untuk gesit menyelamatkan satu-satunya


penyelamatku.


“…”


Sebelum bisa berlari mendekat, sebelum para gadis modis itu sadar akan


kehadiranku, sudah aku lihat terlebih dahulu sebuah perawakan tubuh besar


seperti beruang yang menghalangi mereka untuk mengganggu Atma lebih jauh.


Aku tidak bisa melihat lebih jelas sebetulnya. Seorang yang memiliki


perawakan tubuh besar ini kawan atau lawan? Apakah ini kondisi yang baik atau


bukan? Sampai pada akhirnya aku dekati lagi, untuk menemukan bahwa perawakan


tubuh besar ini memang hanya dimiliki oleh satu orang di seluruh warga sekolah


ini. Itu adalah Gatra!


Aku lantas berhenti, mengingat seluruh celoteh dan ucapan yang


disampaikan oleh orang-orang tentang Gatra. Tidak. Bukankah itu artinya aku justru


memiliki alasan untuk mengintervensi mereka? Sebelum Atma mendapatkan


kemalangan lebih lanjut, aku harus berlari cepat menyelamatkannya, memaksa Atma


untuk membagi kemalangannya itu, untuk tidak menanggungnya seorang diri.


Tapi, rasanya aku tetap tidak ingin untuk mengganggu mereka lebih


lanjut. Atma tidak terlihat terganggu, bahkan justru terlihat senang bahagia


meskipun tetap memberikan senyum canggung. Buktinya, gangguan dari gadis-gadis


dengan tampilan modis itu tiba-tiba berakhir, mereka juga pergi dengan wajah


yang kesal dan sedikit menahan rasa malu?


Di sisi lain, Atma yang masih tersenyum canggung mulai duduk santai,


bahkan hingga mengajak Gatra untuk duduk juga di sebelahnya. Mereka lalu


memakan makanan yang Atma jajakan, barulah kemudian keduanya tersenyum lepas


(meskipun entahlah membicarakan apa; bisa jadi kelezatan roti kukus Atma)


Aku sendiri tidak berniat mendengar, tidak berniat lebih lanjut ikut


campur urusan mereka. Rasanya memang sedih. Sangat sedih. Setelah ditolak oleh


Remi, Faisal, bahkan Balkis sekalipun. Ketika aku ingin pergi menghabiskan


waktu dengan Atma—gadis yang sempat menangis untukku di ruang UKS—dia justru


sedang melakukan ritual kekerasannya untuk memukul punggung kepada lelaki lain


yang ukurannya dua kali lebih besar darinya (tidak lupa dengan tawa


terbahaknya).


Aku langsung balik badan, siap pergi mencari tempat untuk menimbang


pikiran.


Tapi, aku bahkan tidak bisa untuk berpikir bagaimana caranya


menghabiskan waktu seorang diri. Tiba-tiba saja, ceramah dari Pak Doktor


kemarin, juga ancaman dari Pak Prima tadi, langsung menerjang melakukan


penetrasi menembus pertahananku.


Dengan begini, apakah pilihannya sudah jelas?


Dengan sisa waktu yang sedikit, aku hanya bisa memilih untuk belajar,


kan? Belajar untuk membuktikan kepada Pak Prima agar aku tidak ditendang dari


sekolah ini. Lagipula, aku sudah ditinggalkan oleh semua temanku, ditinggalkan


seorang diri, ditinggalkan karena tidak ada yang peduli.


Barangkali tidak juga. Kondisi yang ada tidak seburuk yang kupikirkan.


Aku masih bisa meminta maaf kepada teman-teman besok, agar bisa kembali pada


keseharian yang biasa, kembali seakan tidak terjadi apa-apa.


Tapi apakah aku siap pindah sekolah?


Pindah ke sekolah yang sama-sama menjadi mimpi buruk dengan kondisiku


saat ini? Kondisi yang ditinggalkan, tidak ada teman yang menolong, menemani,


maupun bersama untuk setidaknya menghabiskan senja?


Apakah pilihanku hanyalah untuk mencoba belajar? Apa lagi yang harus aku


lakukan sekarang? Apa!? Apa!? Apakah aku harus belajar!? Lalu apa? Meski


belajar sekarang, mungkin juga akhir pekan, aku tidak yakin bisa lulus kuis


susulan Pak Prima pekan depan. Apakah belajar merupakan pilihan sia-sia?


Meskipun aku belajar sekalipun, lalu mendapatkan nilai baik, lulus dengan


betul, tapi aku harus kehilangan teman?


Sembari bergelut dengan diriku sendiri sambil memikirkan banyak hal,


khususnya aktivitas yang harus aku lakukan sekarang di bawah matahari yang


mulai menghilang. Aku melewati sebuah taman terbuka sebelum berjalan ke koridor


sekolah kembali.


Aku menatap vegetasi dan tumbuhan rendah berwarna hijau, air berwarna


coklat dari lumut dari air mancur kecil, batu-batuan berwarna abu-abu? Ada juga


beberapa warna terang lain dari bunga-bunga kecil yang tersebar. Apakah ini


bisa membantu pikiranku? Entahlah. Sejujurnya, aku pun tidak begitu ingin


menatap taman kecil ini. Hanya saja, ada sebuah keganjilan yang berada di


antara seluruh keindahan vegetasi alam tersebut.


Terlihat seorang siswi sekolah, sedang berjongkok, menyentuh dedaunan


yang berada di taman tersebut dengan pulpen, seperti anak kecil yang penasaran


terhadap setiap hal di sekitarnya. Tidak. Dia bukannya memainkan dedaunan!


Ketika aku lihat dan dekati lebih seksama karena penasaran apa gerangan yang


dikerjakannya, gadis dengan rambut hitam ekor kuda ini ternyata sedang


memainkan laba-laba!


Laba-laba yang sedang berdiam di sarangnya, sarang yang dibangun di


antara dedaunan dan ranting tipis, dan dedaunan yang bersentuhan dengan jaring


laba-laba inilah yang gadis ini sedang mainkan. Seperti penasaran bermain


mainan baru, seperti penasaran apa yang akan terjadi jika ia jahili sang


laba-laba.


Apakah dia tidak peduli dengan kemungkinan yang akan dilakukan laba-laba


tersebut seperti melompat dan menggigitnya? Bahkan dia tidak peduli denganku


yang sudah berada di dekatnya, yang mungkin hanya berjarak dua langkah di


sampingnya.


Oh.


Setelah ditelusuri lebih lanjut, gadis ini ternyata gadis yang pernah


aku ketahui. Dengan aktivitasnya yang selalu dipertanyakan karena dianggap aneh,


nyentrik, juga sinting? Seperti memiliki dunianya sendiri, selalu fokus pada


hal yang tidak berada di depannya. Gadis berambut hitam ini memiliki


mata yang bersinar besar, telinga yang kecil lancip, serta memiliki kemampuan


untuk menoleh dan menggerakkan kepala dengan cepat. Seperti robot? Bukan.


Seperti hewan? Seperti kucing yang mendengar suara asing, seperti ayam yang


mencari batu untuk ditelan, atau seperti burung yang mencari mangsa.


Gadis ini… bernama Suci?


\~\~\~\~\~\~\~\~


Kemaren ada kuis dadakan gak ada yang kasih tau


Sekarang temennya sendiri ninggalin Ragib


Hidupnya kasian banget ya :”))


Selamat datang lagi, teman-teman!


Ada yang pernah juga ditinggalin sama temen tanpa alesan yang jelas?


Rasanya nyesek banget kan yaaaaaa :”))


Kita gak tau apa-apa gak salah apa-apa, tapi tiba-tiba ditinggalin


Bikin overthinking aja…!!!!!!!


Btw …


See you next time ;)


Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!

__ADS_1


__ADS_2