
SEBELUM semuanya menjadi jelas, aku terbangun di dalam kamarku sendiri. Waktunya kapan?
Entahlah. Sekitar malam, mungkin tengah malam, mungkin mendekati subuh. Aku
tidak tahu kapan. Yang penting, matahari masih mengistirahatkan dirinya,
digantikan oleh bulan yang ternyata sama-sama bersembunyi tertutup awan hujan. Apakah
sekarang masih hujan? Hujan sore setelah futsal memang deras. Benarkah?
Entahlah. Aku tidak begitu ingat. Berapa lama kejadiannya? Bagaimana dengan
sekarang?
Ah… aku tidak bisa fokus.
Setidaknya, sekarang aku sudah sadar sepenuhnya. Aku mulai bangkit dan
duduk, mengusap mata yang lelah merah. Tidak bisa tidur lagi, aku mengerang
pelan saja mengeluarkan suara tidak jelas berusaha untuk tetap fokus.
Apakah benar ada suara rintik? Tidak. Lupakan itu. Ada sesuatu yang
lebih penting untuk aku khawatirkan sekarang.
Apakah semalam terjadi perampokan? Rumahku dijarah orang jahat?
Aku menahan napas, melihat kiri-kanan, berusaha mengolah pikiran. Tapi,
tak ada apapun yang berhasil diolah, kecuali mata yang membelalak dan respon
untuk panik.
“Dimana para manekin? Dimana ayah, dimana teman-teman semua?”
tanyaku heran melihat seisi kamar yang hanya diisi oleh kasur yang cukup megah
ukuran dewasa, satu nakas dengan lampu tidur di samping kasur, empat jendela
tertutup rapat dengan 2 gorden di sisi-sisinya, satu meja belajar yang
berantakan oleh kertas, buku, alat tulis, dan alat pewarna yang membuatku
muntah, serta satu lemari besar setinggi dinding.
Semuanya merupakan kamar yang normal, kecuali kehadiran manekin yang
jumlahnya belasan telah hilang entah kemana.
Aku berdiri, pergi dari kasur. Dengan tangan yang menyisir udara di
sekitar, seperti sedang meraba angin, berusaha menangkap sesuatu dari
ketiadaan. Aku membuka gorden, melihat kegelapan malam yang benar-benar gelap
tidak terlihat apapun kecuali hitam legam. Lagipula, kenapa aku buka gorden?
Tidak ada alasan juga kenapa aku harus melihat kondisi luar, kan?
Setelahnya, aku mencari para manekin ke bawah ranjang, dalam laci nakas,
di setiap pintu lemari, di kolong meja belajar, di sela-sela lemari dan dinding
yang lebarnya dua senti, hingga aku putari lagi kamar ini sekitar dua-tiga
kali, untuk tidak menemukan apapun kecuali rasa panik yang semakin
menjadi-jadi.
Didorong oleh rasa panik, aku mulai buka pintu kamar, untuk melihat
keadaan ruang tengah, ruang tamu, dan tangga ke lantai dua yang berada
diantaranya. Tidak ada tanda-tanda pemaksaan, tidak ada kerusakan, tidak ada
hal yang berantakan yang tidak aku ketahui (karena memang rumah ini pada
dasarnya sudah berantakan karena sudah lama tidak ditinggali).
Pokoknya, tidak ada keanehan yang tidak bisa aku jelaskan.
Kecuali—serupa seperti kejadian di dalam kamar—tidak ada satupun ayah,
teman-teman, maupun siapapun yang harusnya menemaniku malam ini, saat ini,
setiap kali aku pulang ke rumah. Tidak ada fiber putih yang kaku, tak ada fiber
yang memiliki pakaian, atau mungkin beberapa bagiannya dicat, tidak ada manekin
yang kepalanya buntung, tidak ada yang manekin yang tersisa, tidak ada manekin
sama sekali. Tidak ada.
“Tidak ada? Tidak ada. Tidak ada… tidak ada. Tidak ada! TIDAK ADA! TIDAK
ADA!!!” teriakku panik bukan pada siapa-siapa, kecuali langit-langit rumah,
atau mungkin lantai ubin yang kotor penuh debu dan noda.
Aku berlutut tidak kuasa dan merasa pasrah. Air mata mulai mengalir,
sesenggukan kesulitan bernapas, sampai pada akhirnya asmaku kambuh lagi. Aku
terjatuh terkapar, kembali mencengkeram dadaku dengan sakit, memukulnya lagi,
berusaha untuk bernapas setipis mungkin, sebisa mungkin.
Kemana teman-temanku pergi? Kemana mereka? Mereka tidak bernyawa, mereka
tidak bisa bergerak tanpa kuperintahkan! Mereka tidak bisa berbicara, kecuali
aku ajak mereka berbicara!
Apa yang terjadi?
Kemana mereka pergi?
Kenapa mereka tidak pamit terlebih dahulu?
Aku tidak paham. Aku tidak mengerti.
Merasa tidak rela, aku paksakan tubuh untuk bangkit, berusaha untuk
duduk kembali. Dengan muka yang berubah warna-warni, wajah biru kehabisan
napas, juga mata dan telinga yang memerah. Aku berusaha menoleh ke sekeliling
lagi.
Aku yakin mereka hanya sembunyi, aku yakin mereka hanya bermain petak
umpet.
Sayangnya, tidak ada sama sekali tanda-tanda para manekin akan pulang,
akan kembali pada dekapan, kembali ke rumah untuk bermalam. Lebih buruk, aku
malah berteleportasi ke sebuah ruangan tanpa batas kecuali warna putih saja.
Apa yang terjadi?
Apakah ini ulah mesin waktu?
Sekarang mereka bisa melakukan teleportasi antar ruangan?
Bukan ini fungsi mesin waktu yang aku harapkan!
“Hihihihi,” tiba-tiba terdengar suara tawa melengking yang tidak aku
kenali, entahlah berasal dari mana. Mungkin dari arah belakang, mungkin dari
depan, mungkin dari samping, mungkin dari semua arah. Aku mencari dengan
seksama dari mana suara tersebut muncul, namun tiba-tiba dari arah belakang
muncul orang-orang yang bergerak sistematis ke segala arah seperti pasukan baris
berbaris. Sekarang aku berada di sebuah persimpangan jalan?
Beruntung aku diam saja di atas trotoar mengamati, tidak perlu
mengganggu orang-orang yang sibuk berlalu lalang. Setelah aku perhatikan,
nampaknya mereka memiliki wajah yang serupa, senyum besar mengerikan yang sama,
seperti teman-teman manekin di rumah, seperti buatan dari produksi pabrik yang
sama. Mereka manusia buatan? Tapi, mereka bukan terbuat dari fiber, bukan
berwarna putih polos, meski tetap tidak memiliki organ dalam.
Selanjutnya, mulai terdengar suara yang lugas dari arah yang lebih
dekat. Suara ini keluar dari kerumunan manusia buatan, seperti suara percakapan
yang terjadi sebagai latar belakang. Sembari menenteng tas kerjanya, mereka
berbicara entahlah apa, berbisik-bisik membicarakan sesuatu, hingga tertawa
tidak terkendali?
Apa yang terjadi? Kenapa gerakannya menjadi kacau?
Perlahan tapi pasti, semua manusia buatan ini mulai diam mengerumuni
suatu tempat, tidak lagi bergerak dengan sistematis, hingga mereka saling
bertabrakan.
Sebenarnya, aku tidak terlalu peduli dengan manusia buatan ini. Yang aku
khawatirkan adalah dimana temanku sekarang berada?
Dan kapan aku mendapatkan pertolongan?
Aku yang masih duduk terkulai lemas, mengamati kerumunan manusia buatan
yang perlahan semakin kacau, bergerak acak kemana-mana, bahkan hingga ke
trotoar sisi jalan. Mereka menembus tubuhku? Seakan-akan melupakan kehadiranku,
seakan-akan aku tidak berada disana, seakan-akan aku tidak pernah ada sama
sekali.
“Kh!” napasku kembali tersenggal. Kapan pertolongan datang? pikirku
sekali lagi. Tunggu. Aku teringat sesuatu. Ayah akan datang, kan? Aku masih
memiliki ayah, kan? Masih? Mungkinkah masih memiliki? Remi? Balkis? Faisal?
Teman-teman yang lain?
Mataku mulai merah mengeluarkan air mata lagi, tanganku menampilkan
saraf-saraf hijau membiru. Aku masih bisa merasakan diri! Aku tetap ada, hidup,
dan berada disini.
Aku hidup, aku hidup. Aku bisa merasakan diri, aku masih bisa merasa.
Tunggu. Aku pikir aku sedang terkulai dikerubungi oleh manusia buatan
ini seperti lalat yang mengerubungi bangkai?
Apakah aku mendapatkan penglihatan orang ketiga? Atau mungkin tidak. Aku
tiba-tiba merasa bisa terbang seakan jiwaku yang melayang? Semakin jauh,
semakin lama, semakin tinggi, aku lihat diriku sendiri terkapar di bawah sana
dikerubungi manusia buatan.
Dari atas sini, semakin jauh, tubuh fisikku semakin tidak terlihat lagi.
Ditutupi oleh kerumunan manusia buatan yang tidak memiliki tujuan jelas di
dalam ruangan tak terbatas, sampai pada akhirnya aku hanya melihat mereka
seperti kumpulan semut yang mengantarkan makanan pada ratunya. Tidak ada lagi
individualitas, semuanya telah bersatu menjadi satu kesatuan yang padu. Semakin
lama melayang, semakin tinggi menjauh, sampai aku hanya bisa melihat layar
putih saja. Lalu tiba-tiba layar berubah hitam, dan aku kehilangan kesadaran.
SETELAH dibuat bingung oleh konsep waktu; ini kapan, sudah berapa lama berselang (meski sedang
tidak menggunakan mesin waktu), aku langsung terbangun membuka mata setelah
diserang oleh cahaya mencurigakan. Masih heran, ternyata aku menemukan
langit-langit yang tidak aku kenali. Setelah berusaha bangkit pun aku tetap
mendengar decitan per pegas yang asing. Bahan kasurnya juga asing. Apakah
aku pernah tidur di atas sini sebelumnya? Pernah. Tapi, tidak dalam waktu dekat
sepertinya.
Beruntung, napas sudah kembali normal (meski sedikit pengap dan ada bau
obat-obatan kimia entahlah apa), aku tidak sedang dalam kondisi
mengkhawatirkan. “Di-mana aku seka-rang?” lirihku serak, bahkan mungkin sampai
tidak bersuara.
Aku bahkan curiga ini mungkin hanya pertanyaan batinku belaka.
Apa itu barusan? Sebuah mimpi? Mimpi manekin yang tiba-tiba menghilang?
Tapi, aku pikir itu mimpi semalam. Apakah itu benar mimpi semalam? Aku
bermimpi hal yang sama dua kali?
Ah… sudahlah. Tidak penting. Yang jelas, dimana aku sekarang?
Seingatku, pada kuis Pak Prima aku terkapar? Sesak… lalu pingsan?
Pingsan?
Aku menatap kiri–kanan, berusaha mencari informasi. Di sampingku
terlihat tirai berwarna hijau membagi dan menyekat, ada dinding biru bersih,
lalu di depanku ada sebuah lemari kayu berkaca berwarna putih. Kasur yang aku
pakai? Ternyata ini brankar yang sudah basah oleh air entahlah apa. Keringat?
Atau aku mengompol?
Kkkk-khakhahah. Lucu sekali.
Merasa aneh dan tidak nyaman… apanya yang tidak nyaman? Perasaanku?
Fisikku? Fisik? Tubuhku sangat bugar dan baik-baik saja. Tidak. Perutku sakit.
Aku lapar.
Setelahnya, aku langsung bangkit dan berusaha untuk turun dari brankar.
Ternyata, kaus kakiku masih terpasang rapat. Sepatuku? Disimpan rapi di sudut
sekat.
Aku… harus pergi. Haruskah aku pergi? Disini sangat nyaman. Sangat menenangkan. Meskipun sendiri, aku tidak
begitu risau dan cemas. Tapi, aku merasa bahwa aku tetap harus pergi. Aku harus
kembali bersekolah.
Dan dengan begitu, aku bergegas menyimpul tali sepatu, berdiri dengan
mantap, menggeser tirai untuk menyingkap dua orang perempuan di samping pintu
keluar berwarna putih (yang memiliki sebidang kaca di atasnya). Di samping
pintu, terdapat sebuah meja seperti meja administrasi, banyak dokumen dan alat
tulis diatasnya, dan seorang wanita dengan jas dokter putih duduk di belakang
meja, tengah menggenggam tangan seorang murid perempuan yang duduk di depannya
dengan gemetar. Sebuah konseling?
Setelah ditilik, wanita dengan jas dokter itu sedang menenangkan siswi
yang memiliki wajah bulat dan mata sembab, bahkan air mata masih mengalir dari
matanya yang merah? Murid perempuan ini juga memiliki rambut hitam legam
yang mengembang di bagian belakangnya. Sudah siang, tapi rambutnya masih
seperti rambut bangun tidur saja, sindirku dalam hati.
“Hem,” dehamku tersenyum menatap mereka. Praktis, kedua perempuan ini
kaget dan sedikit heran. Keduanya langsung berdiri, berniat menyambutku dengan
lebih layak. Namun naas, sang gadis dengan rambut mengembang harus terjerembab
ke dalam kursi lipatnya. Masalahnya, ini bukan hanya terjatuh karena
kecerobohan belaka. Kursi yang didudukinya seperti ikut hancur juga, karena
sekrupnya memutuskan untuk memisahkan diri. Meski sejak tadi sang gadis yang duduk
tidak menunjukkan masalah berarti? Sial sekali gadis ini, pikirku.
“Kkkkk! Lo selalu aja sial dimanapun berada, Ma,” tawaku sambil bergegas
meraih Atma, bahkan sebelum sang wanita dengan jas dokter bisa beraksi. Aku
raih tangannya, membantu badannya berdiri setelah tergelincir turun masuk pada
bagian dudukan kursi. “Gue kasihan sama kursinya. Udah rapuh, tapi masih lo
paksa untuk pake juga. Utututututu!”
Gadis dengan rambut mengembang ini hanya bisa menahan rasa malu sambil
terus berusaha berdiri (dan tidak lupa untuk berusaha melakukan pukulan pada
punggungku). Sebelum benturan terjadi, aku sudah siap menerimanya dengan
menutup sebelah mata dengan sedikit tawa. Tapi, yang aku terima justru
genggaman erat pada bahu, dengan rasa tangis yang kembali menjadi-jadi.
“Lo… gapapa, Gib? I-ni pasti salah gue tadi pagi, kan? Ma-afin gue, Gib!
Huhu-hu-hu! Gu-e nyesel! Hu-hu-huhuu. Maaf, Gib!” rengeknya tersedu-sedu.
Mendengar permintaan maaf itu, aku hanya tersenyum ringan. Mengambil
kedua tangannya, menggenggamnya erat dengan hangat, sekalian mencari tempat
duduk untuknya beristirahat dengan lebih baik. “Maafin gue, Gib!” lanjut Atma.
Aku hanya lanjut tersenyum mengiyakan, sambil terkadang membelainya.
Memutuskan untuk duduk di salah satu brankar, aku memilih untuk menunggu
Atma menyelesaikan urusannya. Alhasil, ruangan dengan dinding biru dengan
banyak tirai hijau ini hanya diisi oleh gema suara tangis Atma saja. Meski
begitu, rasanya sangat nyaman, sangat tenang, sangat menenangkan.
Sembari melirik sekitar, tahu-tahu aku saling bertukar pandang dengan
wanita dengan jas putih (yang aku asumsikan perawat di ruangan UKS ini. Ini
__ADS_1
seharusnya UKS, kan?). Kami sebenarnya saling bertukar senyum. Tapi, senyum
wanita itu adalah senyum yang tulus, sedangkan milikku hanya senyum canggung.
Aku merasa sungkan sudah merepotkannya.
Tapi, mau bagaimana lagi? Atma masih membutuhkan beberapa waktu untuk
bisa menenangkan dirinya. Lagipula, bukan sebuah kejadian sehari-hari untuk
Atma menangis tersedu begini. Kupikir, ini ada hubungannya dengan kejadian tadi
pagi? Atma yang merupakan anak pertama tentunya memiliki rasa tanggung jawab
besar. Dengan kejadian yang membuatnya syok dan terguncang tadi pagi, dia pasti
berusaha untuk menyalahkan diri sendiri. Aku juga bukannya selalu ambruk dan
pingsan secara berkala. Meskipun tentu, aku memiliki serangan panik yang cukup
fatal, tapi aku selalu bisa untuk menahannya. Tidak. Justru, perilaku Atma ini
adalah hal yang wajar. Karena aku tidak pernah terlihat pingsan dan jatuh
ambruk di depannya, kejadian ini sangatlah langka. Sebagai teman, aku pikir
sangat wajar dia merasa khawatir. Tapi, tetap saja… aku tidak berpikir bahwa
dia akan menangis seperti ini. Aku pikir, dia hanya akan memukul punggungku
seperti biasa, pukulan runtun, atau mungkin kekerasan-kekerasan lainnya.
Padahal, aku pikir Atma adalah orang yang tidak ingin terlihat lemah.
Dia selalu memaksakan diri, dia selalu memasang wajah yang kuat sehari-hari.
Apakah menangis sebuah kelemahan? Bisa jadi bukan.
Kenapa aku berpikir demikian?
Entahlah. Aku hanya merasa Atma yang sekarang terlihat lebih rentan
ketika sedang mengeluarkan emosinya dengan dahsyat. Lucu rasanya. Aku bisa
melihat sisi Atma yang jarang ditunjukkannya dalam dua tahun terakhir.
“Ufhu-huhu, fufu-fuhuhu. Fufufufu,” tawa Atma terbata-bata seperti
dipaksakan. “Jangan bilang siapa-siapa ya gue nangis jelek gini,” lanjutnya
sambil mengusap air mata
Aku hanya tersenyum, mengangguk seperlunya untuk menjawab permintaan
tersebut. “Eh, ini rambut lo makin berantakan, ya? Bentar bentar,” seruku
kemudian sembari mengambil dan merapikan helaian rambut basah yang menempel di
wajahnya, sekalian juga air mata di pipinya, juga berusaha untuk meluruskan
rambut mengembangnya. Menggesernya ke kiri kanan, menyisirnya menggunakan
sela-sela jari, memainkannya layaknya sebuah mainan anak kecil.
Tanpa aba-aba, tiba-tiba tangan kananku yang masih menyisir rambut Atma
langsung kena tampar lagi, ditambah juga oleh dorongan kuat dari kedua tangan
Atma. Sebuah seruan dan bentuk protes, dengan nada sedikit kesal dan juga tawa.
“Kkkkk! Enggak, enggak. Lo jelek kalau nangis soalnya. Gue lebih suka
liat senyum- senyum lo kayak biasa,” lanjutku membetulkan duduk di brankar.
“Tapi, terima kasih, loh. Udah mau khawatir, udah tolongin gue, bahkan sampai
tungguin di UKS? Lo yang bawa gue ke UKS?”
“Idiiih, itu sih lo yang mau, ya?” tolaknya dengan jahil. “Enggak kok.
Gue justru baru datang kesini pas istirahat siang. Katanya lo udah pingsan dari
pagi? Sekarang udah sore tahu! Dasar kebo! Tidur lo nyenyak banget, ya?”
“Sore?” tanyaku panik, tidak percaya terhadap perkataan gila oleh gadis
di depanku ini. “Gue ambruk memang pas pelajaran Pak Prima. Itu masih pagi, ya?
Jadi udah berapa lama gue pingsan?” tanyaku pada diri sendiri, sambil menekan
sisi pelipis berusaha mengingat segala kekacauan yang sudah terjadi.
“Pas gue tanya-tanya, Pak Prima yang bawa lo ke UKS. Gue tanya-tanya pun
bapak bilang untuk jangan ganggu. Kalau dari jadwal, lo kayaknya emang udah
ambruk setelah kita pisah pagi di kantin. Lo serius gapapa?”
“…”
“Gib? Ragib?” tanya Atma dengan nada khawatir sambil membelai
punggungku.
Sebenarnya, setelah mendengarkan semua fakta dari mulut Atma, aku yang
terkejut hampir mendapatkan serangan panik lagi. Namun, karena bukan serangan
panik atas kesendirian, melainkan rasa panik ringan atas keterkejutan saja atas
waktu aku tertidur, aku tidak perlu sesak napas, tidak perlu bercucur keringat
dingin. Apalagi, ada gadis dengan rambut mengembang di sampingku, yang masih
dengan lembut mengelusku.
Seperti vacuum cleaner, tangan Atma bak menyedot seluruh rasa
panikku, menyaringnya semua debu-debu dan serpihan kotor, membersihkannya tak
bersisa.
“Ah… enggak. Gue juga gak begitu paham. Tapi, setidaknya gue harus
bilang makasih dulu ke Pak Prima. Gue mungkin cuman tumbang karena semalem
ujan-ujanan aja. Kkkkk! Apalagi sekarang udah sore? Kita pamitan dulu, yuk,”
lanjutku sambil turun dari brankar, lalu membantu Atma turun juga, keluar dari
bilik sekat tirai ini. Lalu kami pergi ke meja administrasi dekat pintu keluar,
pergi ke tempat wanita perawat berjaga, untuk berpamitan dan berterima kasih.
Setelah semua formalitas dijalankan, mendapatkan juga senyum balasan
dari wanita perawat, kami langsung berjalan dengan lebih bebas di koridor
sekolah. Tapi, karena ruang guru dan kantin berada di tempat yang berbeda, aku
dan Atma harus berpisah lagi di pertigaan koridor.
Awalnya, Atma sempat gundah karena masih khawatir dengan kondisiku.
Hanya saja, waktu petang seperti ini adalah waktu yang sangat dibutuhkan
oleh orang tuanya untuk mendapatkan tangan tambahan dan membantu di dapur
kantin. Sudah pasti aku meminta Atma mendahulukan keluarga, kan? Meskipun Atma bilang aku sudah menjadi bagian keluarganya, aku hanya tersenyum
tersipu malu. Tapi, pada akhirnya kami harus tetap berpisah. Bahkan aku sampai
memastikan Atma hingga tiga kali bahwa kita memang perlu untuk berpisah
sementara.
“Yakin?” tanya Atma dengan mata sedihnya.
“Kkkk, biasa aja kali. Gue udah sehat ini. Yakin!” seruku menepuk dan
membusungkan dada.
“Yasudah. Nanti kalau ada apa-apa gue ada di kantin, ya. Atau mungkin di
lapangan belakang!” teriak Atma melambaikan tangan dan praktis pergi pada arah
yang berlawanan. Aku tatap punggungnya yang setiap tiga langkah selalu menoleh
dan melambai, sampai pada akhirnya benar-benar berpisah karena belokan koridor
yang harus Atma ambil.
Baiklah, saatnya kerjakan urusan lain, batinku menyemangati diri.
Aku hendak balik badan, namun sakit kepala tiba-tiba datang. Ketika aku
tatap koridor sekolah, mereka mulai memanjang menjauh, seakan-akan ujungnya
ditarik hingga tak terbatas. Kepalaku sakit lagi, sampai tubuhku harus ambruk
lagi, meski aku cukup beruntung napasku tidak kembali sesak.
Kepalaku menoleh ke sekeliling. Untunglah tidak ada siapapun.
Tunggu, kenapa aku bersyukur? Ini bencana!
Tidak. Bukan juga. Lebih baik tidak ada yang tahu bukan?
Tapi aku harus sendiri lagi? Bagaimana jika aku ambruk lagi seperti tadi
pagi? Tidak ada yang menolong? TIDAK ADA YANG MENOLONG!?!?
…
Sudahlah. Sekarang saatnya aku pergi ke ruang guru. Aku lewati koridor
panjang halusinasi tadi yang hanya terdiri dari jalan setapak di antara taman
kecil, menaiki tangga di bagian kiri, berjalan menyusuri koridor di lantai dua,
Ruangan tempat aku baru saja mendapat ceramah dari Pak Doktor kemarin, yang
mungkin akan kudapatkan lagi dari Pak Prima.
Sebenarnya aku sudah menjadi langganan pergi ke ruang guru juga, kok.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Iya, saya paham. Semua guru juga sudah paham sama kamu. Kamu punya
penyakit, kamu punya kondisi khusus. Tapi, kami juga manusia. Kami lelah dengan
akal-akalan kamu. Apa Cindy, Nabila, dan yang lainnya benar, ya? Kamu hanya
cari perhatian saja? Saya pikir, para guru sudah terlalu lembek padamu, Gib,”
kesal Pak Prima dengan tangan yang disilangkan di depan dada.
“Baiklah. Begini saja. Bapak kasih waktu hingga minggu depan untuk
mengulang kuis. Bagaimanapun caranya, kamu harus belajar, harus tinggali
sifat-sifat malas kamu dan main-main tidak jelas di warung stasiun. Tinggalkan
teman-temanmu, dan kalau bisa tidak perlu berteman sama sekali. Sudah! Belajar
saja! Jadi murid yang teladan! Bapak sudah tidak peduli. Kamu harus buktikan
pada kami kalau kamu murid yang layak, atau kami akan paksa kamu pindah sekolah
pada penilaian akhir semester nanti. Kami tidak butuh siswa sepertimu yang
hanya menguras tenaga saja. Kamu paham!?” lanjut Pak Prima dengan bentakkan dan
ekspresi yang lebih berang.
Aku yang mendengarkan Pak Prima sejak tadi sebenarnya sedang duduk di
kursi yang sejajar dengannya. Tapi, entah mengapa aku malah menciut, seperti
sedang berhadapan dengan beruang yang sedang mempermainkan makanannya.
Aku tidak berkutik, aku hanya bisa menerima nasib.
Kenapa semua guru disini jahat, sih?
Kenapa mereka tidak bisa menjadi orang dan teman yang baik?
Kenapa kalian membuat sekolah ini sebagai tempat yang menyeramkan?
“Gib? Ragib? Bagaimana!? Kamu sudah paham!?” pekik Pak Prima geram.
“Eh? I-iya. Baik, pak!”
“Bilang, dong! Jangan melamun terus. Sudah. Sana pulang! Saya capek
berhadapan dengan kamu,” lanjut Pak Prima sambil berdiri dan mengemas
barangnya. Beliau lalu mengenakan jaket, praktis meninggalkanku, juga
meninggalkan ruang guru.
Aku hanya menatap Pak Prima yang sudah tiada, bersamaan dengan harapan
dan keseharian yang perlahan-lahan tidak bisa kugenggam lagi. Ultimatum sudah
dikeluarkan, pilihannya adalah berjuang atau mati. Tidak. Mungkin pilihannya
tidak sesederhana itu. Pilihannya adalah mati perlahan-lahan atau mati tanpa
rasa sakit.
Keduanya pilihan yang buruk, tidak ada yang baik sama sekali.
Kalau aku tidak berhasil mengambil hati para guru minggu depan, aku
dipaksa untuk pindah sekolah dengan lingkungan asing yang tidak aku ketahui.
Bisa jadi lebih buruk, bisa jadi serupa seperti hutan belantara yang tidak
mengenal ampun. Aku akan sendirian lagi, aku akan memulainya dari nol lagi.
Di sisi lain, jika aku belajar dan mengejar akademik sambil meninggalkan
hubungan sosial, aku tidak bisa bercengkrama lagi bersama teman-teman seperti
biasa, dan akhirnya aku tetap akan ditinggalkan, aku akan tetap sendirian.
Bagaimanapun pilihannya, aku tetap akan menderita. Kembali ke titik
awal, tidak memiliki teman, pasrah menjadi seonggok daging yang tidak berguna
lagi.
Apa yang harus aku lakukan?
Apakah tidak ada pilihan yang lebih baik lagi?
…
Tanpa sadar, ketika aku masih berkelebat dan berselancar dalam pikiranku
sendiri dalam menerka jawaban yang lebih manusiawi, aku sudah berjalan di atas
trotoar yang melingkar. Aku sudah meninggalkan ruang guru, meninggalkan
sekolah, berjalan melihat patung kereta di bundaran tengah jalan, siap pergi
menuju warung tempat aku biasa menghabiskan waktu. Aku siap bermain entahlah
apa, bersama Remi dan yang lain, hingga senja bahkan malam.
Apakah aku pergi ke sini tanpa sadar? Seperti pengaturan pilot otomatis?
Atau justru aku kemari karena membutuhkan jawaban?
Apapun itu, aku sebenarnya tidak ingin peduli juga.
Lupakan saja sejenak masalah ini.
Sekarang, saatnya untuk menghabiskan waktu tanpa tujuan bersama teman, mungkin
juga sekalian menaikkan peringkat dalam gim di ponsel? Aku ingin segera
keluar dari peringkat emas untuk mengejar Remi dan yang lain.
Senyumku lebar, hatiku tidak sabar, siap untuk menyapa dan menyeru
dengan wajah cerah. Tapi, nyatanya aku hanya mendapatkan kekosongan belaka?
Tidak. Sebenarnya, di atas kursi semen berubin ini tetap ada perawakan fisik,
tetap ada manusia yang nyata yang sedang menempati. Sayangnya, mereka bukan
kenalanku, bukan kelompok Remi dan yang lainnya, bukan tempat pulang untukku.
“…! Oh? Ternyata ada Jojo disini. Yang lain kemana, Jo?” tanyaku dengan
nada tinggi sambil melambaikan tangan ketika sadar masih ada satu orang yang
aku kenali. Dia adalah Jojo, seorang yang memiliki mata sipit, yang kemarin
mengenakan kaus putih, dan sekarang pun masih tetap putih?
“…? Lo balik kesini, Gib? Gue pikir main futsal lagi sama Faisal.”
“Kagak. Ya kan biasanya nongkrong disini abis pulang. Yang lain kemana?”
“Ya pergi. Gue juga sekarang mau nyusul. Kemarin lo pergi, sih. Jadi
gatau apa-apa deh,” sebutnya seakan menyalahkanku.
“Kkkk, iya sih… gue kemaren pergi. Sekarang kalian ada acara? Lo mau
nyusul, kan? Gue ikut dong!”
“Gak bisa,” tolak Jojo tanpa belas kasih. “Motor gue udah penuh sama
barang. Lagipula, kalau mau ikut tanya si Remi dulu. Soalnya ini bukan
sembarang acara. Kakaknya si Remi lagi traktir gitu bikin pesta. Yang ikut udah
dihitung kemarin. Kalau lo tiba-tiba ikut bisa repot nanti.”
“Oh…? Gitu, ya?”
“Yasudah. Gue berangkat dulu. Lo cari hiburan apa gitu, kek. Terserah,”
lanjutnya sambil melambaikan tangan dan pergi memunggungiku.
“…”
Apa yang harus aku lakukan sekarang?
Bisa saja aku paksakan untuk ikut acara Remi. Tapi, sebenarnya sungkan
juga. Aku takut mengganggunya, takut merepotkan yang tidak-tidak.
Tapi, kenapa aku tidak diajak?
Jojo dan yang lain diajak. Kenapa aku tidak diajak?
“Karena kemarin gak ada? Karena kemarin ikut Faisal?”
Jadi ini semua salahku?
Melihat sekeliling tanpa ada orang yang kukenali, secara reflek aku
langsung kembali ke sekolah. Berusaha mencari sesuatu untuk dilakukan, atau
sebenarnya hanya berbohong pada diri sendiri juga. Aku mencari perlindungan,
mencari zona nyaman. Faisal cukup rajin bermain futsal, kan? Apakah
kira-kira dia sudah berangkat?
__ADS_1
Mendapatkan ide cemerlang, aku bergegas berlari ke sekolah, langsung
mencari dimana gerangan Faisal berada. Berlari kesana-kemarin, secepat mungkin,
berusaha untuk tidak lagi ditinggalkan.
Apakah ada di parkiran motor belakang? Apakah berada di taman sedang
menunggu waktu? Apakah sedang di kelasnya melakukan piket? Apakah memakan
camilan di kantin? Atau justru sedang bermain di lapang belakang?
Aku mencari ke seluruh sekolah tanpa arah, lagi-lagi seperti anak yang
linglung bingung berusaha mencari keberadaan ibunya di kerumunan pasar.
Beruntung, akhirnya aku bisa menemukan Faisal dan kawan-kawannya, yang ternyata
sedang berdiam di atas motor menunggu entahlah siapa di gerbang depan.
Padahal ketika aku datang tadi mereka tidak ada disana?
“Sal! Faisal!” seruku sambil terengah-engah kehabisan napas.
“…?”
“Kkkkk, rame amat. Mau pada kemana, nih? Jalan-jalan touring?”
“Kagak. Mana ada jalan-jalan sore-sore begini. Mau futsal di lapang
komplek.”
“Wih! Lo semua memang rajin banget, ya. Kkkk. Gue ikut, dong! Gimana
sih? Kemaren kan gue bilang pengen diajak main lagi. Kkkkk,” tawaku sekali lagi
untuk membuat situasi tidak canggung.
“Hm? Sorry… gak bisa. Udah penuh,” tolak Faisal seperti Jojo,
tidak ada rasa ampun dan belas kasih sama sekali. “Nah, itu orangnya dateng,”
seru Faisal berikutnya, sambil menunjukkan seorang siswa yang melewati dan
menyapaku sebentar, formalitas mungkin, lalu beranjak menaiki motor untuk
dibonceng oleh Faisal.
Tanpa salam, mereka langsung pergi begitu saja meninggalkanku sendirian
di sini.
Belum bisa menghadapi realita, aku hanya berdiri tidak bergeming di
gerbang depan sekolah. Saking lamanya aku berdiam, sampai-sampai ada beberapa
pengemudi angkutan kota yang memberi klakson kepadaku, seakan-akan aku memang
sedang menunggu kedatangan mereka. Setiap kali mereka datang, berkali-kali aku
tolak mereka, berkali-kali juga mereka berdecak lidah menghujatku.
Biarkan saja. Aku sudah kebal. Hujatan mereka tidak berarti.
…
Tidak. Aku tidak kebal. Aku tidak kebal sama sekali.
Dua sudut mulutku perlahan turun, perasaanku juga menciut bersamaan dengan
helaan napas panjang, mukaku berubah masam? Aku hanya menunduk. Aku merasa
hujan akan turun. Sayangnya, tidak ada satupun yang sesuai dengan harapanku.
Hujan sama sekali tidak turun, tapi napasku malah mulai sesak lagi.
“Tidak. Bagaimana dengan Balkis? OSIS pasti selalu sibuk, kan? Aku
kunjungi saja mereka mumpung masih ada di sekolah,” ucapku dengan sumringah,
setelah mendapatkan lagi satu ide cemerlang.
Aku balik badan, pergi ke sisi kanan wilayah sekolah, naik ke lantai
dua, mengikuti koridor hingga sudut gedung, pergi ke sebuah ruangan paling
ujung di timur laut, lalu mulai mengetuk pintu tersebut.
“Tidak bisa. Kamu bukan bagian dari OSIS, Gib. Kita lagi rapat penting,
nih. Mungkin lain kali, ya!” tolak seseorang dari balik pintu yang bahkan hanya
dibuka separuh, seperti sedang menyembunyikan sesuatu di dalamnya.
Sesuatu yang sangat rahasia, tidak bisa seenaknya disebarkan kepada
massa.
Dan dengan begitu, tiga kali berturut-turut, aku ditolak mentah-mentah
oleh tiga teman yang berbeda. Sebuah rekor baru. Ahahahahah, hahahk, kkkkk! batinku
tertawa bukan pada siapa-siapa. Tidak pernah sama sekali terjadi seperti ini.
Tidak pernah aku benar-benar sendirian seperti ini selain pada awal
tahun SMA.
Sendirian? Aku benar sendirian? Aku ditinggalkan!
Aku ditinggalkan sendirian.
Mereka sibuk, mereka meninggalkanku, mereka seakan menganggapku tidak
ada.
Apa yang salah? Apakah aku melakukan kesalahan kepada mereka?
Kenapa aku ditinggalkan? Kenapa aku ditinggalkan? Kenapa aku
ditinggalkan?
KENAPA AKU DITINGGALKAN!?
Kenapa kalian sekarang malah berubah menjadi para guru-guru yang selalu
jahat padaku? Bukankah aku selalu membantu dan memberikan sesuatu kepada
kalian?
Aku selalu memberikan bantuan finansial kepada Balkis dan OSIS.
Aku selalu bersedia untuk mengisi kekosongan untuk futsal kepada Faisal.
Aku selalu mengikuti perintah Remi tentang kehidupan sekolah.
Aku salah apa? Aku butuh kalian, aku selalu berikan yang terbaik untuk
kalian, aku rela menggunakan uang dari ayah untuk kalian. Tapi kenapa aku malah
ditinggalkan?
…
Aku… harus minta maaf.
Minta maaf?
Aku harus minta maaf. Aku harus minta maaf. Aku harus minta maaf. Aku
harus minta maaf. Aku harus minta maaf. Aku harus minta maaf. Aku harus minta
maaf. Aku harus minta maaf. Aku harus minta maaf. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA, pikiranku berteriak tanpa suara sama sekali.
“Atma?” tanyaku tiba-tiba saat pikiranku kacau tak berwujud.
Aku turun ke lantai dasar, pergi ke kantin dengan cepat, ternyata tidak
ada, langsung beranjak ke lapangan belakang. Di sini memang banyak murid
melakukan ekstrakurikuler olahraga. Ini kesempatan untuk Atma menjajakan
dagangannya. Mungkin bisa juga aku sekalian melakukan pendinginan? Ya.
Betul, batinku mengangguk menyetujui.
Tapi, ketika aku mulai mendekati lapangan, yang aku dapati disana
bukanlah sesuatu yang dapat mendinginkan kepalaku yang panas mengepul ini.
Justru kepalaku semakin panas, merasa geram, dan amarahku meledak-ledak. Disana
sudah ada beberapa perempuan yang tampilannya paling modis, kulitnya putih bersih,
mengenakan rok span memamerkan kelangsingan. Disana ada Cindy, Nabila, dan
kelompoknya yang sedang melakukan sesuatu, entahlah apa, hanya terlihat
siluetnya, namun aku yakin betul mereka sedang melakukan perundungan. Tidak.
Aku bisa lihat lebih jelas? Mereka melakukan perundungan pada seorang gadis
dengan rambut yang mengembang di belakangnya?
Apakah ketidakberuntungan Atma memang seburuk ini?
Harus repot-repot bertemu orang-orang yang sibuk mengurusi orang lain.
Padahal, mereka bukannya satu kelas juga.
Aku berlari, aku berusaha untuk gesit menyelamatkan satu-satunya
penyelamatku.
“…”
Sebelum bisa berlari mendekat, sebelum para gadis modis itu sadar akan
kehadiranku, sudah aku lihat terlebih dahulu sebuah perawakan tubuh besar
seperti beruang yang menghalangi mereka untuk mengganggu Atma lebih jauh.
Aku tidak bisa melihat lebih jelas sebetulnya. Seorang yang memiliki
perawakan tubuh besar ini kawan atau lawan? Apakah ini kondisi yang baik atau
bukan? Sampai pada akhirnya aku dekati lagi, untuk menemukan bahwa perawakan
tubuh besar ini memang hanya dimiliki oleh satu orang di seluruh warga sekolah
ini. Itu adalah Gatra!
Aku lantas berhenti, mengingat seluruh celoteh dan ucapan yang
disampaikan oleh orang-orang tentang Gatra. Tidak. Bukankah itu artinya aku justru
memiliki alasan untuk mengintervensi mereka? Sebelum Atma mendapatkan
kemalangan lebih lanjut, aku harus berlari cepat menyelamatkannya, memaksa Atma
untuk membagi kemalangannya itu, untuk tidak menanggungnya seorang diri.
Tapi, rasanya aku tetap tidak ingin untuk mengganggu mereka lebih
lanjut. Atma tidak terlihat terganggu, bahkan justru terlihat senang bahagia
meskipun tetap memberikan senyum canggung. Buktinya, gangguan dari gadis-gadis
dengan tampilan modis itu tiba-tiba berakhir, mereka juga pergi dengan wajah
yang kesal dan sedikit menahan rasa malu?
Di sisi lain, Atma yang masih tersenyum canggung mulai duduk santai,
bahkan hingga mengajak Gatra untuk duduk juga di sebelahnya. Mereka lalu
memakan makanan yang Atma jajakan, barulah kemudian keduanya tersenyum lepas
(meskipun entahlah membicarakan apa; bisa jadi kelezatan roti kukus Atma)
Aku sendiri tidak berniat mendengar, tidak berniat lebih lanjut ikut
campur urusan mereka. Rasanya memang sedih. Sangat sedih. Setelah ditolak oleh
Remi, Faisal, bahkan Balkis sekalipun. Ketika aku ingin pergi menghabiskan
waktu dengan Atma—gadis yang sempat menangis untukku di ruang UKS—dia justru
sedang melakukan ritual kekerasannya untuk memukul punggung kepada lelaki lain
yang ukurannya dua kali lebih besar darinya (tidak lupa dengan tawa
terbahaknya).
Aku langsung balik badan, siap pergi mencari tempat untuk menimbang
pikiran.
Tapi, aku bahkan tidak bisa untuk berpikir bagaimana caranya
menghabiskan waktu seorang diri. Tiba-tiba saja, ceramah dari Pak Doktor
kemarin, juga ancaman dari Pak Prima tadi, langsung menerjang melakukan
penetrasi menembus pertahananku.
Dengan begini, apakah pilihannya sudah jelas?
Dengan sisa waktu yang sedikit, aku hanya bisa memilih untuk belajar,
kan? Belajar untuk membuktikan kepada Pak Prima agar aku tidak ditendang dari
sekolah ini. Lagipula, aku sudah ditinggalkan oleh semua temanku, ditinggalkan
seorang diri, ditinggalkan karena tidak ada yang peduli.
Barangkali tidak juga. Kondisi yang ada tidak seburuk yang kupikirkan.
Aku masih bisa meminta maaf kepada teman-teman besok, agar bisa kembali pada
keseharian yang biasa, kembali seakan tidak terjadi apa-apa.
Tapi apakah aku siap pindah sekolah?
Pindah ke sekolah yang sama-sama menjadi mimpi buruk dengan kondisiku
saat ini? Kondisi yang ditinggalkan, tidak ada teman yang menolong, menemani,
maupun bersama untuk setidaknya menghabiskan senja?
Apakah pilihanku hanyalah untuk mencoba belajar? Apa lagi yang harus aku
lakukan sekarang? Apa!? Apa!? Apakah aku harus belajar!? Lalu apa? Meski
belajar sekarang, mungkin juga akhir pekan, aku tidak yakin bisa lulus kuis
susulan Pak Prima pekan depan. Apakah belajar merupakan pilihan sia-sia?
Meskipun aku belajar sekalipun, lalu mendapatkan nilai baik, lulus dengan
betul, tapi aku harus kehilangan teman?
Sembari bergelut dengan diriku sendiri sambil memikirkan banyak hal,
khususnya aktivitas yang harus aku lakukan sekarang di bawah matahari yang
mulai menghilang. Aku melewati sebuah taman terbuka sebelum berjalan ke koridor
sekolah kembali.
Aku menatap vegetasi dan tumbuhan rendah berwarna hijau, air berwarna
coklat dari lumut dari air mancur kecil, batu-batuan berwarna abu-abu? Ada juga
beberapa warna terang lain dari bunga-bunga kecil yang tersebar. Apakah ini
bisa membantu pikiranku? Entahlah. Sejujurnya, aku pun tidak begitu ingin
menatap taman kecil ini. Hanya saja, ada sebuah keganjilan yang berada di
antara seluruh keindahan vegetasi alam tersebut.
Terlihat seorang siswi sekolah, sedang berjongkok, menyentuh dedaunan
yang berada di taman tersebut dengan pulpen, seperti anak kecil yang penasaran
terhadap setiap hal di sekitarnya. Tidak. Dia bukannya memainkan dedaunan!
Ketika aku lihat dan dekati lebih seksama karena penasaran apa gerangan yang
dikerjakannya, gadis dengan rambut hitam ekor kuda ini ternyata sedang
memainkan laba-laba!
Laba-laba yang sedang berdiam di sarangnya, sarang yang dibangun di
antara dedaunan dan ranting tipis, dan dedaunan yang bersentuhan dengan jaring
laba-laba inilah yang gadis ini sedang mainkan. Seperti penasaran bermain
mainan baru, seperti penasaran apa yang akan terjadi jika ia jahili sang
laba-laba.
Apakah dia tidak peduli dengan kemungkinan yang akan dilakukan laba-laba
tersebut seperti melompat dan menggigitnya? Bahkan dia tidak peduli denganku
yang sudah berada di dekatnya, yang mungkin hanya berjarak dua langkah di
sampingnya.
Oh.
Setelah ditelusuri lebih lanjut, gadis ini ternyata gadis yang pernah
aku ketahui. Dengan aktivitasnya yang selalu dipertanyakan karena dianggap aneh,
nyentrik, juga sinting? Seperti memiliki dunianya sendiri, selalu fokus pada
hal yang tidak berada di depannya. Gadis berambut hitam ini memiliki
mata yang bersinar besar, telinga yang kecil lancip, serta memiliki kemampuan
untuk menoleh dan menggerakkan kepala dengan cepat. Seperti robot? Bukan.
Seperti hewan? Seperti kucing yang mendengar suara asing, seperti ayam yang
mencari batu untuk ditelan, atau seperti burung yang mencari mangsa.
Gadis ini… bernama Suci?
\~\~\~\~\~\~\~\~
Kemaren ada kuis dadakan gak ada yang kasih tau
Sekarang temennya sendiri ninggalin Ragib
Hidupnya kasian banget ya :”))
Selamat datang lagi, teman-teman!
Ada yang pernah juga ditinggalin sama temen tanpa alesan yang jelas?
Rasanya nyesek banget kan yaaaaaa :”))
Kita gak tau apa-apa gak salah apa-apa, tapi tiba-tiba ditinggalin
Bikin overthinking aja…!!!!!!!
Btw …
See you next time ;)
Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!
__ADS_1