Setan, Suci, Siuman

Setan, Suci, Siuman
Bab 3: Udah, Kamu Gak Usah Ikut


__ADS_3

SEPERTI yang Faisal katakan, gedung olahraga serbaguna ini memang cukup jauh dari jalan raya


utama. Jalan yang ada bahkan hanya jalan sempit dan kecil, dua mobil yang berpapasan


harus tipis-tipis mengikis jika tidak ingin jatuh ke sungai. Terkadang ada


jalan berlubang tidak rata, memberikan guncangan pada motor, membuat pantat


sedikit nestapa. Karenanya, hampir tidak mungkin ada polisi yang berjaga atau


berpatroli untuk sekadar menilang menambah uang makan.


Tidak memakai helm pun tidak masalah, ucapku setuju mengulang kata-kata Faisal


Wilayah luar gedung ini memiliki area parkir memanjang yang sudah


digunakan belasan motor terparkir rapi terlindungi pagar bata. Lalu, ada pula


gazebo di ujung wilayah mungkin diperuntukkan sebagai tempat bersantai sang


juru parkir.


Memasuki gedung, terlihat dua lapang futsal (yang terkadang juga dipakai


untuk basket, voli, bulu tangkis, pokoknya macam-macam karena sebutannya pun


gedung olahraga serbaguna), juga enam kursi bertingkat seperti kursi taman yang


terletak di koridor di antara dua lapang tersebut. Ada satu warung yang menjual


aneka makanan dan minuman siap saji, namun dengan harga yang sangat mahal. Dua


ruang ganti yang memiliki toilet di bagian yang lebih dalam yang cukup bersih,


meskipun terkadang ditemukan partikel debu, kain, kotoran, entahlah apa,


berwarna hitam, mungkin cokelat, yang mengambang di lantai toilet dan menjadi


genangan menyumbat drainase.


“Wah, udah lama gue gak kesini. Gak pengap kayak kelas, ya? Itu spanduk


jamuran dari tahun 2015 masih dipasang? Kkkk,” tawaku menyindir bagian dalam


gedung begitu kami menyimpan barang-barang di atas kursi bertingkat.


“Cepat ganti baju, Gib. Kita sudah telat,” seru Faisal dengan gesit


langsung menanggalkan seragamnya dan memperlihatkan baju ganti dibaliknya.


Lalu, dia merapikan tas dan helmnya dengan cepat, mengganti sepatunya dengan


sepatu olahraga, praktis memasuki lapangan dan melakukan pemanasan.


Tidak hanya Faisal, teman-temannya pun bergerak dengan cepat tidak


menghabiskan waktu dengan percuma.


Memangnya sekarang jam berapa? heranku terhadap gerakan buru-buru mereka.


Aku menilik menoleh kepala kesana kemari, mencari dimana gerangan jam


dinding berada. Dengan hasil yang nihil meski sudah mengulang berkali-kali, aku


keluarkan saja ponsel dari kantong celana. Setelah membuka layar, ternyata


waktu menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit? Ini sudah sore juga, ya.


Biasanya, lapang futsal disewa untuk satu jam bermain. Dengan waktu yang


canggung seperti ini, kita sudah menyia-nyiakan 10 menit untuk di perjalanan.


Dengan pemanasan yang dilakukan juga sekitar 10 menit, waktu produktif bermain


berarti hanya sekitar 30-40 menit saja. Ini memang sudah telat. Pantas saja


mereka buru-buru.


Tidak ingin menjadi beban yang merugikan, aku pun langsung melakukan


persiapan dan segera masuk menuju lapang futsal. Beruntung, aku menggunakan


pakaian ganti yang dilapis berada di balik seragam sekolah. Meskipun tidak


khusus untuk berolahraga, setidaknya ini lebih dari cukup.


“Kkkkk, apaan nih? Bolanya warna pink lucu begini? Kita mau main


futsal atau rumah-rumahan? Kayak cewek aja,” komentarku begitu masuk ke


lapangan. Sayangnya, karena orang-orang masih sibuk melakukan pemanasan, tidak


ada satupun balasan dari gurauanku ini.


Yah, bukannya mengharapkan jawaban juga, sih. Hanya mencairkan suasana


saja.


Dan dengan begitu, aku pun berinisiatif membawa bola pink lucu


ini untuk menemani pemasanku berlari mengitari lapangan. Sambil menggiring


bola, sambil menendang kecil, aku panasi tubuh dan kakiku pelan-pelan. Sampai


pada akhirnya ada seorang yang lebih dahulu menyelesaikan pemanasannya, dia


langsung memanggilku dengan seruan dan tangan yang terangkat, meminta untuk


mengoper bola padanya.


“Gib, jaga gawang, ya!” pinta Faisal ketika pemanasan usai.


“Buset. Berat amat tanggung jawab gue. Kalau kebobolan jangan salahin


gue, ya. Kkkkk. Udah lama gak main, nih. Beda sama lo yang rutin latihan,


bahkan weekend pun masih sering latihan, ya?”


“Hah!? Kok kamu tahu?” heran Faisal dengan nada rendah sambil mengernyitkan alis. “Enggak.


Biarin. Kamu hanya pelengkap saja, kok. Beban gak berat-berat juga.


Yasudah. Mulai, yuk? Priiiiit!” jerit Faisal meniru suara peluit sembari


berlari ke tengah lapang memberi kode mulainya pertandingan.


Futsal praktis dimulai, permainan akhirnya dilaksanakan. Secara umum,


semuanya berjalan dengan lancar. Bola dioper dari satu ke yang lain, umpan jauh


dilambungkan siap menembak gol, namun pertahanan musuh lebih baik dari perkiraan.


Entahlah karena operan yang berhasil dipotong, atau karena penjaga gawang yang


fokus dan tidak berkedip. Berbeda denganku, yang masih memiliki rasa takut dan


khawatir ketika ada bola yang datang dengan cepat ke arah gawang. Seakan-akan


ruang pribadiku dipenetrasi tanpa izin, sedangkan aku harus menghadapinya tanpa


persiapan matang.


Aku tetap coba sekuat tenaga, menahan tembakan bola dengan tangan


terbuka, dengan posisi yang sebenarnya cukup canggung juga. Rupanya ini cukup


berhasil, meski harus dibayar dengan rasa memar dan perih di kedua tangan. Setidaknya,


aku menjalani peranku dengan baik, kan? tanyaku pada diri sendiri. “Mantap.


Ayo lawan balik!” seru salah seorang pemain belakang satu tim yang langsung


memberi umpan jauh kepada Faisal di depan, mencoba memberikan perlawanan balik.


Mengetahui bahwa aku bisa sedikit tenang karena bola berada di daerah


musuh, aku kibaskan tangan dengan cepat, berusaha untuk menghilangkan rasa


sakit yang menyebar di seluruh telapak tangan. Tidak mempan, aku usap saja telapak


tangan ke atas pahaku ini, berharap rasa sakit bisa terbagi rata.


Sayangnya tidak ada pilihan yang cukup efektif.


Sebelum aku bisa menyelesaikan masalah tangan yang terlampau sakit ini,


tiba-tiba dari arah depan sudah muncul tendangan lain. Aku pikir, rasanya bola


ini datang dengan sangat lambat. Membesar perlahan-lahan, mendekatiku dengan


gerakan konstan. Aku menatapnya pelan-pelan, bingung terhadap apa gerangan yang


akan datang.


Sebelum aku bisa berusaha melindungi diri, wajahku praktis dihantam oleh


laju bola yang baru saja diterjang. Persis di tengah-tengah, persis menuju


wajah, mungkin hidungku patah? Seperti tendangan penuh emosi dan bersifat


pribadi.


Mataku berkunang-kunang hitam dan kuning, semuanya gelap, tidak bisa


melihat apapun di sekitar, kecuali rasa sakit dan panas yang menyebar di


seluruh wajah. Aku sedikit tersungkur, namun kakiku lebih dahulu menjaga badan


untuk berusaha seimbang dan menolak tumbang.


“Ayo, Gib! Cuman ketendang di muka doang, kan? Lanjut lanjut!”


Aku membuka mata separuh, sepertinya permainan masih berlangsung. Gol


tetap tidak terjadi? Syukurlah. “Kkkk—shhhhh. Ayo ayo!” jawabku dengan tawa


kecil dan ringisan kesakitan, sambil melempar bola jauh ke depan.


Belum sudah satu iritasi dan rangsangan sakit di telapak tangan resmi


selesai, muncul lagi rasa perih di wajah yang mungkin tidak akan sembuh dalam


waktu dekat. Masalahnya, tendangan tangkas kepada wajahku ini lebih parah dari


telapak tangan. Kepalaku sedikit berputar, sesuatu menusuk-nusuk tengkorakku,


kepala berdenyut mengantarkan rasa sakit, bahkan aku merasa seperti darah


keluar menetes dengan lancar.


Aku mengusap, menyentuh pelipis, berusaha menyeimbangkan tubuh.


Tapi, sebelum semuanya menjadi jelas, ada teriakan di sisi lapangan lain


yang terdengar dengan lantang, bersamaan dengan suara hantaman pagar besi.


“Goool!” teriaknya.


Tidak ingin tertinggal, aku paksakan mata untuk membuka dan melihat.


Ternyata, Faisal sedang melakukan selebrasi setelah berhasil mencetak angka.


Teman satu tim saling tepuk tangan, berusaha menggambarkan rasa senang. Merasa


ikut berbahagia, aku ikut berjalan ke tengah lapang menyusul Faisal, berusaha


untuk ikut selebrasi bersama. “Udah, udah. Kamu gak usah ikut, Gib. Gawang


jangan dibiarkan gitu. Balik sana,” perintah Faisal.


“Eh? Iya, ya Betul juga. Kkkkk,” balasku tertawa kembali menjaga


gawang.


Permainan belum usai. Saatnya kembali fokus meski masih ada rasa perih


di permukaan wajah. Lagipula, aku yakin seiring waktu rasa sakit ini akan


berangsur sembuh. Aku perlahan bisa melihat dengan mata yang jelas, bisa


menjaga gawang dengan maksimal, bisa lagi menerima lebih banyak rasa sakit di


bagian luar permukaan kulit seperti hasil terjangan dan tendangan bola, maupun


rasa sakit di bagian dalam seperti otot yang kram, saraf yang hampir terputus


salah tendang, atau rasa sakit pada sendi dan tulang.


Ini sih tidak akan sembuh minimal satu minggu!


MASIH berusaha


siap-siap mendapat terkaman bola lagi, tiba-tiba terdengar bunyi bel nyaring


yang memekakkan telinga. Sangat tidak indah, tidak nyaman untuk didengar. Ini


adalah tanda bahwa waktu sewa telah berakhir, saatnya kami pulang dan angkat


kaki.


Serius? Sudah selesai lagi?


Cepat juga. Padahal ini bukan ruang OSIS, kan?Aku tidak merasakannya.


Aku sebenarnya tidak begitu ingat skor akhir yang terjadi antara kedua


tim. Tapi, melihat Faisal yang menepuk tangan dengan bahagia, dilanjut


selebrasi kecil dengan rekan timnya, besar kemungkinan bahwa kami memenangkan


permainan.


Berusaha membayar selebrasi yang tidak jadi tadi, pun dengan fakta bahwa


permainan telah usai dan tidak ada alasan untukku menjaga gawang, aku mendekati

__ADS_1


Faisal untuk ikut melakukan selebrasi bersama. “Mantap, Sal! Tubuh lebar lo


masih lincah, ya! Gue pikir isinya lemak doang. Kkkkk,” seruku sambil merangkul


Faisal karena selebrasi satu tim sudah usai begitu aku datang.


“Hah? Apaan? Oh, ya iyalah!” timpal Faisal sambil menyingkirkan


rangkulan tanganku di pundaknya. “Capek aku. Tangan kamu juga basah. Aku mau


minum dulu.”


“Padahal gedungnya luas dan cukup ventilasi. Tapi capek tetep bikin


pengap, ya? Haus juga gue,” ujarku sambil mengibaskan kaus yang penuh peluh dan


keringat. Aku langsung pergi menuju tas untuk mengambil air minum, sayangnya


tidak menemukan apapun kecuali kekosongan. Aku memang tidak pernah membawa


apa-apa, kan? Apa yang aku harapkan? Di warung kopi bersama Remi pun tidak


membeli satupun minuman kemasan.


“Gib, mau beli minum? Nitip, dong! Nih uangnya,” seru seseorang ketika


aku mulai beranjak pergi dari kursi bertingkat, terlihat ingin pergi menuju


warung yang selalu dikutuk orang-orang karena menjual apapun terlalu mahal.


Tapi, pada akhirnya semua orang yang menyewa lapangan tidak punya pilihan untuk


tetap membeli di warung ini.


Aku balik badan, mengambil uang berwarna ungu, lalu pergi mengikuti


koridor di bagian depan gedung yang terhubung dengan pintu masuk gedung.


Kemudian belok ke kanan, dan sampailah pada warung yang berada di depan lapang


futsal kedua. Sebenarnya, di depan warung ini tetap ada beberapa kursi plastik


dan meja kayu seadanya yang sudah goyang dan lapuk. Tapi, karena aku mendapat


jatah untuk bermain di lapang futsal pertama, lebih dekat untuk menyimpan


barang-barang di kursi tingkat saja.


“Beli airnya dua, bu!” seruku kepada ibu penjaga warung dengan kemeja


dan celana jeans. Proses jual beli pun terjadi, aku mendapatkan dua


botol minuman dingin untuk melepas penat, dan ibu penjaga warung mendapatkan


dua uang berwarna ungu sebagai bayarannya.


Tanpa basa-basi—karena memang tidak memiliki urusan—aku langsung kembali


ke kursi tingkat, memberikan botol minuman kepada yang menitip tadi, dan


akhirnya meminum air yang rasanya sedikit aneh. Tidak ada manis-manisnya, tidak


memberikan kesembuhan pada semua rasa sakit yang diderita oleh tubuhku.


Tapi, kalau masalah dehidrasi tentu saja ini solusinya.


“Yah, main futsal seru, sih. Capek memang, tapi asik juga. Lain kali


ajak-ajak dong kalau main lagi. Kkkkkk,” tukasku memecah keheningan


“Hm? Kita gak tahu, ya. Soalnya sekarang memang lagi kurang orang. Tapi


mungkin bisa dikondisikan. Lihat nanti saja. Tidak bisa janji juga,” sahut


Faisal.


“Kkkkk, santai santai. Kalau ada apa-apa, gue siap bantu, kok!”


“…”


“…bentar. Gue ke toilet dulu,” ucapku ketika air minum kemasan 600ml


langsung habis dalam hitungan detik.


“Jangan lama-lama. Kita mau pulang.”


“Kkkkk. Oke oke. Cuman pipis doang, kok,” ucapku langsung pergi membawa


tas menuju ruang ganti yang berada di bagian gedung lebih dalam.


Seperti yang aku katakan sebelumnya, ruang ganti ini memiliki dua jenis


untuk masing-masing jenis kelamin yang saling berdekatan. Satu untuk perempuan


dan yang satu untuk laki-laki. Memilih tanpa keliru, aku langsung memasuki


ruangan cukup besar dengan kursi panjang kayu di tengah-tengah ruangan, loker


yang mengisi seluruh dindingnya, kecuali satu bagian di sudut ruangan yang


diperuntukkan untuk pintu menuju toilet.


Melirik kiri dan kanan, aku mencari dimana loker yang masih tersedia.


Setelah mendapatkannya, aku langsung membuka loker tersebut, menyimpan barang


bawaan, menutup, dan terakhir menguncinya. Kembali pada tujuan, aku pun langsung


pergi menuju sudut ruangan, membuka pintu toilet, masih sambil membawa kunci


loker untuk menangkal kesempatan mencuri bagi orang iseng yang berkeliaran.


“Fuuuh!” ucapku puas. Setelah menyimpan seluruh kotoran di dalam tubuh,


rasanya nyaman sekali untuk membuang semuanya secara percuma. Tidak lupa,


setelah cairan di dalam tubuh dikeluarkan, cairan keringat pun aku basuh juga


untuk mendapatkan kesegaran maksimal.


Merasa nyaman, aku langsung keluar dan duduk dengan tenang di kursi


panjang di tengah ruangan ganti. Berusaha untuk mengistirahatkan diri, berusaha


untuk tidak memikirkan apapun kecuali sebuah usaha untuk mendinginkan diri. Aku


menatap langit-langit krem penuh noda, dengan lampu LED panjang yang tidak


pernah dimatikan, terlihat ada serangga kecil yang berputar di sekitarnya.


“Gib? Lama amat lu,” ucap suara yang tiba-tiba muncul bersamaan dengan


seonggok kepala dari balik pintu depan. “Kita udah mau pulang. Lo masih lama?”


Itu bukan Faisal. Aku lupa namanya. Padahal, sering berpapasan


kalau ada urusan OSIS. Heri? Hendra? Haris? Kita jarang bertukar nama


kalau sedang berbicara, sih.


teman bermain futsal tadi. “Oh, kalian udah mau pulang? Kkkkk. Aduh gak enak,


nih. Gue kayaknya masih pengen istirahat. Badan pegel-pegel dan sakit semua,”


balasku sungkan.


“Yakin? Nanti lo pulang gimana?”


“Gampang itu. Kkkkk. Gue yang gak enak nih jadi merepotkan kalian. Udah


mengantar, udah ini itu. Kalian duluan aja pulang. Gak masalah, kok,” sambungku


kemudian.


“Udah malem, loh?”


“Kkkkk. Udah gapapa. Santai aja.”


“...,” lawan bicara tidak menjawab. Dia menatap kasihan, sementara aku


masih tersenyum canggung terhadap apa yang sebaiknya dilakukan. “Bentar,”


ucapnya kemudian, mengakhiri diam yang tidak berkesudahan.


Mau bagaimana lagi? Rasanya kakiku ini masih sulit untuk digerakkan,


tapi rasanya cukup gengsi dan sungkan untuk berkata kalau aku tidak berdaya.


Sebenarnya, memang kita tidak bisa dibandingkan. Mereka terbiasa untuk


bermain futsal dengan rajin, berolahraga dan membentuk badan, sementara aku


bermain futsal kalau diajak mereka saja. Aku tidak berbohong ketika sungkan


tidak enak. Mereka sudah mengajak, mereka semua baik, mengantar pergi dan


terkadang pulang, sudah memberikan lebih dari apa yang diharapkan.


SETELAH cukup


lama berdiam, istirahat dan memulihkan diri, bahkan hingga mengoles salep yang


hampir kadaluarsa dari kotak P3K di ruang ganti, aku mulai beranjak pergi untuk


menyusul teman lain yang hendak pulang.


Seharusnya, kata-kata ‘bentar’ yang diucapkan tadi menjelaskan sesuatu,


kan?


Tapi, kenapa sekarang kursi tingkat diantara dua lapangan sudah kosong


melompong? Aku pikir kalian masih akan menungguku? Lalu kenapa dia memberi


harapan palsu?


“Aku bener-bener ditinggal oleh mereka?” tanyaku pasrah. Aku duduk di


kursi bertingkat, menatap orang asing yang sekarang mengisi lapang futsal yang


dialihfungsikan menjadi lapang badminton. Bunyi tepukan suara koknya sangat


merdu, memecah keheningan yang terjadi di dalam pikiranku.


Sekarang, aku mulai memikirkan banyak hal. Seperti lampu jalan yang


akhirnya berubah hijau menyala, pikiran-pikiranku mengalir bak rantai kendaraan


yang sudah emosi menunggu. Semuanya bergerak perlahan, saling klakson satu sama


lain tidak sabar, bergerak dengan statis, namun lama kelamaan malah menjadi


kacau. Tiba-tiba lampu hijau dari arah lain menyala bersamaan, sampai terjadi


persilangan kendaraan yang membuat jalan gaduh dan kacau berantakan.


Terlalu banyak berpikir, aku sampai tidak bisa fokus terhadap apa yang


sebenarnya harus aku pikirkan. Kepala menjadi pusing, sakit tak karuan, hingga


memengaruhi kinerja otak, saraf, bahkan seluruh organ tubuhku. Perlahan tapi


pasti, sebuah serangan mulai muncul. Sebuah serangan yang aku kenali, serangan


panik yang mencekik mati.


Saluran pernapasan tersumbat dan menyempit, pertukaran oksigen bahkan


sulit untuk terjadi. “Tunggu. Atma? Masih ada Atma, kan? Atma dimana? Kita bisa


pulang bareng?” seruku tersadar, langsung melonggarkan rongga saluran


pernapasan.


Aku menengadah, mulai merasakan sebuah jalan keluar. Menoleh kiri-kanan,


mencari sesuatu yang hilang. Melirik lebih jauh kesana kemari, ke seluruh


ruangan, seperti anak yang hilang mencari ibunya di dalam pasar. Sayangnya, aku


tidak bisa mengubah fakta bahwa aku masih berada di gedung olahraga, dengan


tanda-tanda Atma yang tidak berada dimana-mana.


Aku sebenarnya tidak ingin menyerah, pikiranku bahkan berusaha menolak


fakta kebenaran. Hanya saja, perlahan-lahan ular-ular kenyataan mengikat dan


melilit tubuhku. Mulai dari kaki, melingkari ************, menggigit kecil


tanganku membuatnya mati rasa, terus menuju badan dan dadaku, tidak lupa ke


tulang belakang dan menuju kepala. Sampai akhirnya mulutku gemetaran, air liur


pun tidak bisa ditegak. Apa mereka sudah mencekikku? Hidungku tidak bisa


berfungsi dengan normal. Napas tak karuan, terengah-engah keluar masuk seperti


lelah berolahraga, pupilku pun bergerak tak karuan memberikan gambar kabur,


hingga pandangan berubah menjadi hitam dan gelap total.


Sendirian? Aku sendirian? Di-mana? Dimana orang-orang? O-rang, orang?


Tidak? Tenang. Ini masih banyak orang?


Aku terjatuh. Duduk dengan keras, gemetaran tak bisa dihentikan.


Berusaha membuat gambar kembali jelas, mulai melihat berbagai pengunjung yang


menggunakan gedung olahraga, dengan suara decitan sepatunya, dengan kok yang


terpukul dengan sempurna, kadang tawa atau celotehan tidak penting.


… tidak!

__ADS_1


Aku menampar diri sendiri, berusaha memulihkan diri. Memukul lagi bagian


kepalaku, lalu dadaku juga, berusaha melonggarkan diafragma. Aku genggam erat


kedua celanaku, tapi aku tidak puas. Kedua pahaku pun dicengkeram erat, hingga


kuku mulai mengikis kulit dan membuat sakit. “Akh! Ti-tidak! Bagai—? Bukan!


Mereka? Ada! Ber-sama! Bersama! Semua? Ada!” celotehku tidak jelas.


Aku pukul lagi kepalaku, pukul lagi dadaku, cengkram lagi pahaku lebih


sakit, sampai mungkin keluar darah segar karena semuanya menjadi sedikit


dingin? Tapi aku tidak tahu lagi. Kepalaku sangat pusing, semuanya berputar,


tidak ada apapun yang bisa aku lakukan selain berfokus untuk mengatur napas dan


berusaha bertahan hidup.


Berusaha melakukan sesuatu lebih kompleks, aku berusaha meraih tasku,


entahlah dimana letaknya. Harusnya di sekitar sini?


Apa yang terjadi? Apa yang akan kulakukan?


Entah juga. Mungkin ini memori otot? Aku pun tidak protes.


Aku buka resleting tas, aku rogoh apapun yang berada di sana selain buku


tulis, lalu kekosongan, lalu tempat pensil kosong, lalu kekosongan lagi, sampai


akhirnya sesuatu yang terkubur nun jauh di sana, terdapat sebuah benda berbentuk


tabung pipih, sebuah alat bantu pernapasan.


Aku hirup dengan mantap, perlahan terasa sensasi dingin pada hidung dan


paru-paruku (tentu bukan pada paha atau kepalaku karena alasan organ tersebut


terasa dingin memiliki penyebab yang berbeda).


Setidaknya, aku bisa bernapas dengan lebih tenang untuk sementara.


“Sekarang, apa yang terjadi? Mari dipikirkan baik-baik,” ucapku dengan


lantang. Pikirkan baik-baik? Sejak kapan aku pakai otak untuk berpikir?


Kkkkk, batinku membalas. “Sudahlah, berhenti bicara, berhenti berpikir.


Mulutmu ini memang harus dijahit agar diam,” balasku dengan lantang lagi.


Tapi, batinku seperti tidak ingin kalah. Dan setelahnya, dialog saling


membalas yang bertolak belakang antara akal sehat dan batin mulai terjadi


dengan begitu intens.


Seperti perempuan saja pakai acara menjahit segala. Memangnya bisa?


Janji tidak nangis kalau tertusuk jarumnya? Kkkk. “Diam! Kenapa semuanya harus dipermasalahkan, sih?


Apa-apa dikomentar, apa-apa dikritik.”


Kkkk. kenapa tidak? Ini yang membuatku tetap bertahan hidup, kan? Agar


semuanya menjadi lucu, agar semua bisa tertawa, karena memang semua ini bahan


lelucon. Hidupku saja sudah merupakan sirkus? “Sirkus apanya? Sudahlah. Sudahlah! SUDAHLAH,


SUDAHLAH, SUDAHLAH!” teriakku keras berusaha menyingkirkan ucapan batin, hingga


mengundang perhatian seluruh orang. Mereka bahkan menghentikan aktivitasnya?


(Entahlah, hanya terkaanku saja. Aku tidak melihat jelas).


Berusaha untuk memusatkan fokus, aku tutup telingaku kuat-kuat, dengan


sakit, dengan penuh amarah dan tenaga. Ingat, ingat, ingat. Pikirkan


semuanya!


Sederhananya, aku memang ditinggalkan oleh Faisal dan yang lain.


Yasudahlah, biarkan saja. Kkkkk, lemah sekali mereka. Mau kemana sih mereka


buru-buru pulang? Tapi, sekarang pertanyaannya, bagaimana aku pulang?


Bagaimana tadi aku pergi kesini? Dibonceng Faisal, kan? Ini artinya aku


tidak memiliki kendaraan untuk pulang? Tenang. Masih ada ojek daring atau ojek


pangkalan. Bahkan, ada ada angkutan kota, kan? Tenang saja.


“Ah, takdir sialan. Sekarang kalian memutuskan untuk hujan? Terima kasih


banyak,” ucapku mendengar deras air yang turun. Atau mungkin tidak juga?


Rasanya hujan ini sudah sejak tadi terdengar. Aku yang tidak fokus? Atau


mungkin ini juga alasan mengapa Faisal dan lainnya memutuskan untuk pulang dengan


cepat?


Lalu, sekarang bagaimana aku bisa pulang?


“Telepon, tel-epon, telepon? Telepon!” ucapku  terbata-bata. Betul


juga. Aku bisa minta bantuan teman lain? “Sekarang, mari kita coba hubungi


siapa yang kira-kira bisa diminta bantuan?”


“Halo?”


“Halo? Bo-”


“Halo? Boleh-”


“Halo? Boleh minta-”


“Halo? Tolong dong-”


“Halo? Hujan nih, jem-”


“Halo?”


Kkkkk. Apa sih yang orang-orang lakukan? Sibuk sekali mengerjakan tugas


dari guru, ya? Huhu, ada yang jadi binatang peliharaan, nih. Tidak ada yang


angkat sama sekali. Atau justru mereka saling bersekongkol?


Aduh bagaimana, sih?


Punya ponsel dipakai untuk main gim doang, apa? Giliran dihubungi tidak


ada yang mau bantu!


“Ukh,” sesalku sembari memukul tembok beton yang praktis membuat


jari-jariku memerah lebam dan sakit. Sakit? Entahlah. Tidak bisa aku rasakan


lagi. “Tidak, jangan begitu. Jangan begitu. Jangan begitu. Aku masih, aku tidak


boleh, aku– mereka… butuh, masih, teman, te- butuh- ukh!” erangku terbata-bata


sembari bersandar pada tembok di teras gedung.


Dengan kepalan tangan yang tidak berhenti memukul menggunakan rasa


kekecewaan yang tersisa, tiba-tiba air liur tersedak lagi untuk ditelan.


Bersamaan dengan itu, napas pun berhenti bersirkulasi. Aku terkapar jatuh,


mencengkram dada dengan sakit, berusaha dengan sekuat tenaga untuk kembali


bernapas.


Berjalan merangkak, aku pergi menuju kursi bertingkat untuk meraih


ranselku, mengambil kembali alat bantu napas (yang entahlah mengapa malah aku


simpan lagi di dalam tas). “Sssuuuu–haaaah,” ucapku mencoba menarik napas.


Perlahan, napas kembali dingin dan normal, bahkan teringat pada sebuah suara


dentingan logam di dalam tas.


Aku rogoh lagi tasku seperti maling yang buta informasi, mencari apapun


yang sepertinya merupakan secarik cahaya harapan untukku. Ternyata, harapan


memang bersinar terang, meski aku justru kembali kecewa karena terlalu silau.


Dentingan ini berasal dari sebuah gantungan kunci yang juga diliputi benang


kusut, sedikit debu, dan tersangkut satu sama lain.


Aku genggam kunci itu dengan kuat, dengan sakit, dengan mata yang berair


dan menangis, juga mulut yang berusaha untuk menolak.


“Apakah tidak ada pilihan lain?” tanyaku bukan pada siapa-siapa. Aku


mencoba merenung, mencoba berpikir sebuah solusi dan jalan lain selain


menggunakan gantungan kunci ini. “Hah!? Apa? Mau apa?” kagetku tiba-tiba begitu


merasakan presensi aura yang mendekati dan terkesan membahayakan.


Aku menoleh, mendapati seseorang yang berperawakan tinggi dan besar


seperti beruang, penuh keringat di seluruh tubuh, baru saja menyentuhku dan


praktis memberikan kesan menyeramkan ingin menerkam. “Hiiii!” jeritku


setelahnya ketakutan seperti gadis cilik.


Berusaha untuk menyelamatkan nyawaku sendiri dengan meminta ampun, aku


langsung jatuh tersungkur dari kursi, berusaha untuk menjauh dari sumber


ancaman.


Mungkin karena kebingungan akan aksiku yang tidak masuk akal, dia hanya


mengangkat bahu tidak peduli. Presensi menghilang tipis, dia pun perlahan


pergi. “Fuh, syukurlah,” ucapku menghembuskan napas, meski jantungku tidak


berdetak normal kembali.


Tapi, begitu aku mulai berdiri dan menegakkan tubuh, telapak tangan


kananku malah merasakan sakit. Ini sakit yang cukup menyiksa, seperti tertusuk


tanpa ampun oleh tajamnya sebuah benda. Nyatanya, begitu aku buka telapak


tangan, kembali lagi aku ditakuti oleh kehadiran gantungan kunci ini. Aku


berharap tidak pernah membuka telapak tangan dan terus tersiksa selamanya kalau


ini jawabannya, pikirku membandingkan.


Sebuah gantungan kunci dengan dua jenis kunci yang sama, ada juga


pengait bulatnya, dan sebuah catatan kusam yang ditempel di pengait tersebut.


Ini merupakan catatan penuh informasi yang sangat menyesakkan dan mencekik,


informasi yang sebenarnya aku ciptakan sebagai tanda dan memoriam, untuk selalu


membuatku teringat.


Catatan itu bertulisan ‘home’ dari tinta pulpen yang sudah


sedikit pudar, kertasnya sedikit menguning dan tidak dilaminating, bahkan


terdapat kerusakan dan berlubang di beberapa tempat. Tapi, setidaknya ini masih


layak, bisa terbaca dengan jelas dan mudah.


“Aku… aku, tidak punya pilihan lain, ya?”


\~\~\~\~\~\~\~\~


Kadang rasa


segan itu bisa jadi boomerang itu kita gak, sih?


Ada yang pernah


ngalamin juga, gak? Bilang gak usah gak usah padahal hati pengen :”D


Selamat datang


lagi, teman-teman!


Ragib lagi kena


serangan apa nih, ya?


Rumahnya adalah


nerakanya?


Memangnya di


rumahnya ada hantu gitu!?


Btw …


See you next


time ;)

__ADS_1


__ADS_2