
SEPERTI yang Faisal katakan, gedung olahraga serbaguna ini memang cukup jauh dari jalan raya
utama. Jalan yang ada bahkan hanya jalan sempit dan kecil, dua mobil yang berpapasan
harus tipis-tipis mengikis jika tidak ingin jatuh ke sungai. Terkadang ada
jalan berlubang tidak rata, memberikan guncangan pada motor, membuat pantat
sedikit nestapa. Karenanya, hampir tidak mungkin ada polisi yang berjaga atau
berpatroli untuk sekadar menilang menambah uang makan.
Tidak memakai helm pun tidak masalah, ucapku setuju mengulang kata-kata Faisal
Wilayah luar gedung ini memiliki area parkir memanjang yang sudah
digunakan belasan motor terparkir rapi terlindungi pagar bata. Lalu, ada pula
gazebo di ujung wilayah mungkin diperuntukkan sebagai tempat bersantai sang
juru parkir.
Memasuki gedung, terlihat dua lapang futsal (yang terkadang juga dipakai
untuk basket, voli, bulu tangkis, pokoknya macam-macam karena sebutannya pun
gedung olahraga serbaguna), juga enam kursi bertingkat seperti kursi taman yang
terletak di koridor di antara dua lapang tersebut. Ada satu warung yang menjual
aneka makanan dan minuman siap saji, namun dengan harga yang sangat mahal. Dua
ruang ganti yang memiliki toilet di bagian yang lebih dalam yang cukup bersih,
meskipun terkadang ditemukan partikel debu, kain, kotoran, entahlah apa,
berwarna hitam, mungkin cokelat, yang mengambang di lantai toilet dan menjadi
genangan menyumbat drainase.
“Wah, udah lama gue gak kesini. Gak pengap kayak kelas, ya? Itu spanduk
jamuran dari tahun 2015 masih dipasang? Kkkk,” tawaku menyindir bagian dalam
gedung begitu kami menyimpan barang-barang di atas kursi bertingkat.
“Cepat ganti baju, Gib. Kita sudah telat,” seru Faisal dengan gesit
langsung menanggalkan seragamnya dan memperlihatkan baju ganti dibaliknya.
Lalu, dia merapikan tas dan helmnya dengan cepat, mengganti sepatunya dengan
sepatu olahraga, praktis memasuki lapangan dan melakukan pemanasan.
Tidak hanya Faisal, teman-temannya pun bergerak dengan cepat tidak
menghabiskan waktu dengan percuma.
Memangnya sekarang jam berapa? heranku terhadap gerakan buru-buru mereka.
Aku menilik menoleh kepala kesana kemari, mencari dimana gerangan jam
dinding berada. Dengan hasil yang nihil meski sudah mengulang berkali-kali, aku
keluarkan saja ponsel dari kantong celana. Setelah membuka layar, ternyata
waktu menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit? Ini sudah sore juga, ya.
Biasanya, lapang futsal disewa untuk satu jam bermain. Dengan waktu yang
canggung seperti ini, kita sudah menyia-nyiakan 10 menit untuk di perjalanan.
Dengan pemanasan yang dilakukan juga sekitar 10 menit, waktu produktif bermain
berarti hanya sekitar 30-40 menit saja. Ini memang sudah telat. Pantas saja
mereka buru-buru.
Tidak ingin menjadi beban yang merugikan, aku pun langsung melakukan
persiapan dan segera masuk menuju lapang futsal. Beruntung, aku menggunakan
pakaian ganti yang dilapis berada di balik seragam sekolah. Meskipun tidak
khusus untuk berolahraga, setidaknya ini lebih dari cukup.
“Kkkkk, apaan nih? Bolanya warna pink lucu begini? Kita mau main
futsal atau rumah-rumahan? Kayak cewek aja,” komentarku begitu masuk ke
lapangan. Sayangnya, karena orang-orang masih sibuk melakukan pemanasan, tidak
ada satupun balasan dari gurauanku ini.
Yah, bukannya mengharapkan jawaban juga, sih. Hanya mencairkan suasana
saja.
Dan dengan begitu, aku pun berinisiatif membawa bola pink lucu
ini untuk menemani pemasanku berlari mengitari lapangan. Sambil menggiring
bola, sambil menendang kecil, aku panasi tubuh dan kakiku pelan-pelan. Sampai
pada akhirnya ada seorang yang lebih dahulu menyelesaikan pemanasannya, dia
langsung memanggilku dengan seruan dan tangan yang terangkat, meminta untuk
mengoper bola padanya.
“Gib, jaga gawang, ya!” pinta Faisal ketika pemanasan usai.
“Buset. Berat amat tanggung jawab gue. Kalau kebobolan jangan salahin
gue, ya. Kkkkk. Udah lama gak main, nih. Beda sama lo yang rutin latihan,
bahkan weekend pun masih sering latihan, ya?”
“Hah!? Kok kamu tahu?” heran Faisal dengan nada rendah sambil mengernyitkan alis. “Enggak.
Biarin. Kamu hanya pelengkap saja, kok. Beban gak berat-berat juga.
Yasudah. Mulai, yuk? Priiiiit!” jerit Faisal meniru suara peluit sembari
berlari ke tengah lapang memberi kode mulainya pertandingan.
Futsal praktis dimulai, permainan akhirnya dilaksanakan. Secara umum,
semuanya berjalan dengan lancar. Bola dioper dari satu ke yang lain, umpan jauh
dilambungkan siap menembak gol, namun pertahanan musuh lebih baik dari perkiraan.
Entahlah karena operan yang berhasil dipotong, atau karena penjaga gawang yang
fokus dan tidak berkedip. Berbeda denganku, yang masih memiliki rasa takut dan
khawatir ketika ada bola yang datang dengan cepat ke arah gawang. Seakan-akan
ruang pribadiku dipenetrasi tanpa izin, sedangkan aku harus menghadapinya tanpa
persiapan matang.
Aku tetap coba sekuat tenaga, menahan tembakan bola dengan tangan
terbuka, dengan posisi yang sebenarnya cukup canggung juga. Rupanya ini cukup
berhasil, meski harus dibayar dengan rasa memar dan perih di kedua tangan. Setidaknya,
aku menjalani peranku dengan baik, kan? tanyaku pada diri sendiri. “Mantap.
Ayo lawan balik!” seru salah seorang pemain belakang satu tim yang langsung
memberi umpan jauh kepada Faisal di depan, mencoba memberikan perlawanan balik.
Mengetahui bahwa aku bisa sedikit tenang karena bola berada di daerah
musuh, aku kibaskan tangan dengan cepat, berusaha untuk menghilangkan rasa
sakit yang menyebar di seluruh telapak tangan. Tidak mempan, aku usap saja telapak
tangan ke atas pahaku ini, berharap rasa sakit bisa terbagi rata.
Sayangnya tidak ada pilihan yang cukup efektif.
Sebelum aku bisa menyelesaikan masalah tangan yang terlampau sakit ini,
tiba-tiba dari arah depan sudah muncul tendangan lain. Aku pikir, rasanya bola
ini datang dengan sangat lambat. Membesar perlahan-lahan, mendekatiku dengan
gerakan konstan. Aku menatapnya pelan-pelan, bingung terhadap apa gerangan yang
akan datang.
Sebelum aku bisa berusaha melindungi diri, wajahku praktis dihantam oleh
laju bola yang baru saja diterjang. Persis di tengah-tengah, persis menuju
wajah, mungkin hidungku patah? Seperti tendangan penuh emosi dan bersifat
pribadi.
Mataku berkunang-kunang hitam dan kuning, semuanya gelap, tidak bisa
melihat apapun di sekitar, kecuali rasa sakit dan panas yang menyebar di
seluruh wajah. Aku sedikit tersungkur, namun kakiku lebih dahulu menjaga badan
untuk berusaha seimbang dan menolak tumbang.
“Ayo, Gib! Cuman ketendang di muka doang, kan? Lanjut lanjut!”
Aku membuka mata separuh, sepertinya permainan masih berlangsung. Gol
tetap tidak terjadi? Syukurlah. “Kkkk—shhhhh. Ayo ayo!” jawabku dengan tawa
kecil dan ringisan kesakitan, sambil melempar bola jauh ke depan.
Belum sudah satu iritasi dan rangsangan sakit di telapak tangan resmi
selesai, muncul lagi rasa perih di wajah yang mungkin tidak akan sembuh dalam
waktu dekat. Masalahnya, tendangan tangkas kepada wajahku ini lebih parah dari
telapak tangan. Kepalaku sedikit berputar, sesuatu menusuk-nusuk tengkorakku,
kepala berdenyut mengantarkan rasa sakit, bahkan aku merasa seperti darah
keluar menetes dengan lancar.
Aku mengusap, menyentuh pelipis, berusaha menyeimbangkan tubuh.
Tapi, sebelum semuanya menjadi jelas, ada teriakan di sisi lapangan lain
yang terdengar dengan lantang, bersamaan dengan suara hantaman pagar besi.
“Goool!” teriaknya.
Tidak ingin tertinggal, aku paksakan mata untuk membuka dan melihat.
Ternyata, Faisal sedang melakukan selebrasi setelah berhasil mencetak angka.
Teman satu tim saling tepuk tangan, berusaha menggambarkan rasa senang. Merasa
ikut berbahagia, aku ikut berjalan ke tengah lapang menyusul Faisal, berusaha
untuk ikut selebrasi bersama. “Udah, udah. Kamu gak usah ikut, Gib. Gawang
jangan dibiarkan gitu. Balik sana,” perintah Faisal.
“Eh? Iya, ya Betul juga. Kkkkk,” balasku tertawa kembali menjaga
gawang.
Permainan belum usai. Saatnya kembali fokus meski masih ada rasa perih
di permukaan wajah. Lagipula, aku yakin seiring waktu rasa sakit ini akan
berangsur sembuh. Aku perlahan bisa melihat dengan mata yang jelas, bisa
menjaga gawang dengan maksimal, bisa lagi menerima lebih banyak rasa sakit di
bagian luar permukaan kulit seperti hasil terjangan dan tendangan bola, maupun
rasa sakit di bagian dalam seperti otot yang kram, saraf yang hampir terputus
salah tendang, atau rasa sakit pada sendi dan tulang.
Ini sih tidak akan sembuh minimal satu minggu!
MASIH berusaha
siap-siap mendapat terkaman bola lagi, tiba-tiba terdengar bunyi bel nyaring
yang memekakkan telinga. Sangat tidak indah, tidak nyaman untuk didengar. Ini
adalah tanda bahwa waktu sewa telah berakhir, saatnya kami pulang dan angkat
kaki.
Serius? Sudah selesai lagi?
Cepat juga. Padahal ini bukan ruang OSIS, kan?Aku tidak merasakannya.
Aku sebenarnya tidak begitu ingat skor akhir yang terjadi antara kedua
tim. Tapi, melihat Faisal yang menepuk tangan dengan bahagia, dilanjut
selebrasi kecil dengan rekan timnya, besar kemungkinan bahwa kami memenangkan
permainan.
Berusaha membayar selebrasi yang tidak jadi tadi, pun dengan fakta bahwa
permainan telah usai dan tidak ada alasan untukku menjaga gawang, aku mendekati
__ADS_1
Faisal untuk ikut melakukan selebrasi bersama. “Mantap, Sal! Tubuh lebar lo
masih lincah, ya! Gue pikir isinya lemak doang. Kkkkk,” seruku sambil merangkul
Faisal karena selebrasi satu tim sudah usai begitu aku datang.
“Hah? Apaan? Oh, ya iyalah!” timpal Faisal sambil menyingkirkan
rangkulan tanganku di pundaknya. “Capek aku. Tangan kamu juga basah. Aku mau
minum dulu.”
“Padahal gedungnya luas dan cukup ventilasi. Tapi capek tetep bikin
pengap, ya? Haus juga gue,” ujarku sambil mengibaskan kaus yang penuh peluh dan
keringat. Aku langsung pergi menuju tas untuk mengambil air minum, sayangnya
tidak menemukan apapun kecuali kekosongan. Aku memang tidak pernah membawa
apa-apa, kan? Apa yang aku harapkan? Di warung kopi bersama Remi pun tidak
membeli satupun minuman kemasan.
“Gib, mau beli minum? Nitip, dong! Nih uangnya,” seru seseorang ketika
aku mulai beranjak pergi dari kursi bertingkat, terlihat ingin pergi menuju
warung yang selalu dikutuk orang-orang karena menjual apapun terlalu mahal.
Tapi, pada akhirnya semua orang yang menyewa lapangan tidak punya pilihan untuk
tetap membeli di warung ini.
Aku balik badan, mengambil uang berwarna ungu, lalu pergi mengikuti
koridor di bagian depan gedung yang terhubung dengan pintu masuk gedung.
Kemudian belok ke kanan, dan sampailah pada warung yang berada di depan lapang
futsal kedua. Sebenarnya, di depan warung ini tetap ada beberapa kursi plastik
dan meja kayu seadanya yang sudah goyang dan lapuk. Tapi, karena aku mendapat
jatah untuk bermain di lapang futsal pertama, lebih dekat untuk menyimpan
barang-barang di kursi tingkat saja.
“Beli airnya dua, bu!” seruku kepada ibu penjaga warung dengan kemeja
dan celana jeans. Proses jual beli pun terjadi, aku mendapatkan dua
botol minuman dingin untuk melepas penat, dan ibu penjaga warung mendapatkan
dua uang berwarna ungu sebagai bayarannya.
Tanpa basa-basi—karena memang tidak memiliki urusan—aku langsung kembali
ke kursi tingkat, memberikan botol minuman kepada yang menitip tadi, dan
akhirnya meminum air yang rasanya sedikit aneh. Tidak ada manis-manisnya, tidak
memberikan kesembuhan pada semua rasa sakit yang diderita oleh tubuhku.
Tapi, kalau masalah dehidrasi tentu saja ini solusinya.
“Yah, main futsal seru, sih. Capek memang, tapi asik juga. Lain kali
ajak-ajak dong kalau main lagi. Kkkkkk,” tukasku memecah keheningan
“Hm? Kita gak tahu, ya. Soalnya sekarang memang lagi kurang orang. Tapi
mungkin bisa dikondisikan. Lihat nanti saja. Tidak bisa janji juga,” sahut
Faisal.
“Kkkkk, santai santai. Kalau ada apa-apa, gue siap bantu, kok!”
“…”
“…bentar. Gue ke toilet dulu,” ucapku ketika air minum kemasan 600ml
langsung habis dalam hitungan detik.
“Jangan lama-lama. Kita mau pulang.”
“Kkkkk. Oke oke. Cuman pipis doang, kok,” ucapku langsung pergi membawa
tas menuju ruang ganti yang berada di bagian gedung lebih dalam.
Seperti yang aku katakan sebelumnya, ruang ganti ini memiliki dua jenis
untuk masing-masing jenis kelamin yang saling berdekatan. Satu untuk perempuan
dan yang satu untuk laki-laki. Memilih tanpa keliru, aku langsung memasuki
ruangan cukup besar dengan kursi panjang kayu di tengah-tengah ruangan, loker
yang mengisi seluruh dindingnya, kecuali satu bagian di sudut ruangan yang
diperuntukkan untuk pintu menuju toilet.
Melirik kiri dan kanan, aku mencari dimana loker yang masih tersedia.
Setelah mendapatkannya, aku langsung membuka loker tersebut, menyimpan barang
bawaan, menutup, dan terakhir menguncinya. Kembali pada tujuan, aku pun langsung
pergi menuju sudut ruangan, membuka pintu toilet, masih sambil membawa kunci
loker untuk menangkal kesempatan mencuri bagi orang iseng yang berkeliaran.
“Fuuuh!” ucapku puas. Setelah menyimpan seluruh kotoran di dalam tubuh,
rasanya nyaman sekali untuk membuang semuanya secara percuma. Tidak lupa,
setelah cairan di dalam tubuh dikeluarkan, cairan keringat pun aku basuh juga
untuk mendapatkan kesegaran maksimal.
Merasa nyaman, aku langsung keluar dan duduk dengan tenang di kursi
panjang di tengah ruangan ganti. Berusaha untuk mengistirahatkan diri, berusaha
untuk tidak memikirkan apapun kecuali sebuah usaha untuk mendinginkan diri. Aku
menatap langit-langit krem penuh noda, dengan lampu LED panjang yang tidak
pernah dimatikan, terlihat ada serangga kecil yang berputar di sekitarnya.
“Gib? Lama amat lu,” ucap suara yang tiba-tiba muncul bersamaan dengan
seonggok kepala dari balik pintu depan. “Kita udah mau pulang. Lo masih lama?”
Itu bukan Faisal. Aku lupa namanya. Padahal, sering berpapasan
kalau ada urusan OSIS. Heri? Hendra? Haris? Kita jarang bertukar nama
kalau sedang berbicara, sih.
teman bermain futsal tadi. “Oh, kalian udah mau pulang? Kkkkk. Aduh gak enak,
nih. Gue kayaknya masih pengen istirahat. Badan pegel-pegel dan sakit semua,”
balasku sungkan.
“Yakin? Nanti lo pulang gimana?”
“Gampang itu. Kkkkk. Gue yang gak enak nih jadi merepotkan kalian. Udah
mengantar, udah ini itu. Kalian duluan aja pulang. Gak masalah, kok,” sambungku
kemudian.
“Udah malem, loh?”
“Kkkkk. Udah gapapa. Santai aja.”
“...,” lawan bicara tidak menjawab. Dia menatap kasihan, sementara aku
masih tersenyum canggung terhadap apa yang sebaiknya dilakukan. “Bentar,”
ucapnya kemudian, mengakhiri diam yang tidak berkesudahan.
Mau bagaimana lagi? Rasanya kakiku ini masih sulit untuk digerakkan,
tapi rasanya cukup gengsi dan sungkan untuk berkata kalau aku tidak berdaya.
Sebenarnya, memang kita tidak bisa dibandingkan. Mereka terbiasa untuk
bermain futsal dengan rajin, berolahraga dan membentuk badan, sementara aku
bermain futsal kalau diajak mereka saja. Aku tidak berbohong ketika sungkan
tidak enak. Mereka sudah mengajak, mereka semua baik, mengantar pergi dan
terkadang pulang, sudah memberikan lebih dari apa yang diharapkan.
SETELAH cukup
lama berdiam, istirahat dan memulihkan diri, bahkan hingga mengoles salep yang
hampir kadaluarsa dari kotak P3K di ruang ganti, aku mulai beranjak pergi untuk
menyusul teman lain yang hendak pulang.
Seharusnya, kata-kata ‘bentar’ yang diucapkan tadi menjelaskan sesuatu,
kan?
Tapi, kenapa sekarang kursi tingkat diantara dua lapangan sudah kosong
melompong? Aku pikir kalian masih akan menungguku? Lalu kenapa dia memberi
harapan palsu?
“Aku bener-bener ditinggal oleh mereka?” tanyaku pasrah. Aku duduk di
kursi bertingkat, menatap orang asing yang sekarang mengisi lapang futsal yang
dialihfungsikan menjadi lapang badminton. Bunyi tepukan suara koknya sangat
merdu, memecah keheningan yang terjadi di dalam pikiranku.
Sekarang, aku mulai memikirkan banyak hal. Seperti lampu jalan yang
akhirnya berubah hijau menyala, pikiran-pikiranku mengalir bak rantai kendaraan
yang sudah emosi menunggu. Semuanya bergerak perlahan, saling klakson satu sama
lain tidak sabar, bergerak dengan statis, namun lama kelamaan malah menjadi
kacau. Tiba-tiba lampu hijau dari arah lain menyala bersamaan, sampai terjadi
persilangan kendaraan yang membuat jalan gaduh dan kacau berantakan.
Terlalu banyak berpikir, aku sampai tidak bisa fokus terhadap apa yang
sebenarnya harus aku pikirkan. Kepala menjadi pusing, sakit tak karuan, hingga
memengaruhi kinerja otak, saraf, bahkan seluruh organ tubuhku. Perlahan tapi
pasti, sebuah serangan mulai muncul. Sebuah serangan yang aku kenali, serangan
panik yang mencekik mati.
Saluran pernapasan tersumbat dan menyempit, pertukaran oksigen bahkan
sulit untuk terjadi. “Tunggu. Atma? Masih ada Atma, kan? Atma dimana? Kita bisa
pulang bareng?” seruku tersadar, langsung melonggarkan rongga saluran
pernapasan.
Aku menengadah, mulai merasakan sebuah jalan keluar. Menoleh kiri-kanan,
mencari sesuatu yang hilang. Melirik lebih jauh kesana kemari, ke seluruh
ruangan, seperti anak yang hilang mencari ibunya di dalam pasar. Sayangnya, aku
tidak bisa mengubah fakta bahwa aku masih berada di gedung olahraga, dengan
tanda-tanda Atma yang tidak berada dimana-mana.
Aku sebenarnya tidak ingin menyerah, pikiranku bahkan berusaha menolak
fakta kebenaran. Hanya saja, perlahan-lahan ular-ular kenyataan mengikat dan
melilit tubuhku. Mulai dari kaki, melingkari ************, menggigit kecil
tanganku membuatnya mati rasa, terus menuju badan dan dadaku, tidak lupa ke
tulang belakang dan menuju kepala. Sampai akhirnya mulutku gemetaran, air liur
pun tidak bisa ditegak. Apa mereka sudah mencekikku? Hidungku tidak bisa
berfungsi dengan normal. Napas tak karuan, terengah-engah keluar masuk seperti
lelah berolahraga, pupilku pun bergerak tak karuan memberikan gambar kabur,
hingga pandangan berubah menjadi hitam dan gelap total.
Sendirian? Aku sendirian? Di-mana? Dimana orang-orang? O-rang, orang?
Tidak? Tenang. Ini masih banyak orang?
Aku terjatuh. Duduk dengan keras, gemetaran tak bisa dihentikan.
Berusaha membuat gambar kembali jelas, mulai melihat berbagai pengunjung yang
menggunakan gedung olahraga, dengan suara decitan sepatunya, dengan kok yang
terpukul dengan sempurna, kadang tawa atau celotehan tidak penting.
… tidak!
__ADS_1
Aku menampar diri sendiri, berusaha memulihkan diri. Memukul lagi bagian
kepalaku, lalu dadaku juga, berusaha melonggarkan diafragma. Aku genggam erat
kedua celanaku, tapi aku tidak puas. Kedua pahaku pun dicengkeram erat, hingga
kuku mulai mengikis kulit dan membuat sakit. “Akh! Ti-tidak! Bagai—? Bukan!
Mereka? Ada! Ber-sama! Bersama! Semua? Ada!” celotehku tidak jelas.
Aku pukul lagi kepalaku, pukul lagi dadaku, cengkram lagi pahaku lebih
sakit, sampai mungkin keluar darah segar karena semuanya menjadi sedikit
dingin? Tapi aku tidak tahu lagi. Kepalaku sangat pusing, semuanya berputar,
tidak ada apapun yang bisa aku lakukan selain berfokus untuk mengatur napas dan
berusaha bertahan hidup.
Berusaha melakukan sesuatu lebih kompleks, aku berusaha meraih tasku,
entahlah dimana letaknya. Harusnya di sekitar sini?
Apa yang terjadi? Apa yang akan kulakukan?
Entah juga. Mungkin ini memori otot? Aku pun tidak protes.
Aku buka resleting tas, aku rogoh apapun yang berada di sana selain buku
tulis, lalu kekosongan, lalu tempat pensil kosong, lalu kekosongan lagi, sampai
akhirnya sesuatu yang terkubur nun jauh di sana, terdapat sebuah benda berbentuk
tabung pipih, sebuah alat bantu pernapasan.
Aku hirup dengan mantap, perlahan terasa sensasi dingin pada hidung dan
paru-paruku (tentu bukan pada paha atau kepalaku karena alasan organ tersebut
terasa dingin memiliki penyebab yang berbeda).
Setidaknya, aku bisa bernapas dengan lebih tenang untuk sementara.
“Sekarang, apa yang terjadi? Mari dipikirkan baik-baik,” ucapku dengan
lantang. Pikirkan baik-baik? Sejak kapan aku pakai otak untuk berpikir?
Kkkkk, batinku membalas. “Sudahlah, berhenti bicara, berhenti berpikir.
Mulutmu ini memang harus dijahit agar diam,” balasku dengan lantang lagi.
Tapi, batinku seperti tidak ingin kalah. Dan setelahnya, dialog saling
membalas yang bertolak belakang antara akal sehat dan batin mulai terjadi
dengan begitu intens.
Seperti perempuan saja pakai acara menjahit segala. Memangnya bisa?
Janji tidak nangis kalau tertusuk jarumnya? Kkkk. “Diam! Kenapa semuanya harus dipermasalahkan, sih?
Apa-apa dikomentar, apa-apa dikritik.”
Kkkk. kenapa tidak? Ini yang membuatku tetap bertahan hidup, kan? Agar
semuanya menjadi lucu, agar semua bisa tertawa, karena memang semua ini bahan
lelucon. Hidupku saja sudah merupakan sirkus? “Sirkus apanya? Sudahlah. Sudahlah! SUDAHLAH,
SUDAHLAH, SUDAHLAH!” teriakku keras berusaha menyingkirkan ucapan batin, hingga
mengundang perhatian seluruh orang. Mereka bahkan menghentikan aktivitasnya?
(Entahlah, hanya terkaanku saja. Aku tidak melihat jelas).
Berusaha untuk memusatkan fokus, aku tutup telingaku kuat-kuat, dengan
sakit, dengan penuh amarah dan tenaga. Ingat, ingat, ingat. Pikirkan
semuanya!
Sederhananya, aku memang ditinggalkan oleh Faisal dan yang lain.
Yasudahlah, biarkan saja. Kkkkk, lemah sekali mereka. Mau kemana sih mereka
buru-buru pulang? Tapi, sekarang pertanyaannya, bagaimana aku pulang?
Bagaimana tadi aku pergi kesini? Dibonceng Faisal, kan? Ini artinya aku
tidak memiliki kendaraan untuk pulang? Tenang. Masih ada ojek daring atau ojek
pangkalan. Bahkan, ada ada angkutan kota, kan? Tenang saja.
“Ah, takdir sialan. Sekarang kalian memutuskan untuk hujan? Terima kasih
banyak,” ucapku mendengar deras air yang turun. Atau mungkin tidak juga?
Rasanya hujan ini sudah sejak tadi terdengar. Aku yang tidak fokus? Atau
mungkin ini juga alasan mengapa Faisal dan lainnya memutuskan untuk pulang dengan
cepat?
Lalu, sekarang bagaimana aku bisa pulang?
“Telepon, tel-epon, telepon? Telepon!” ucapku terbata-bata. Betul
juga. Aku bisa minta bantuan teman lain? “Sekarang, mari kita coba hubungi
siapa yang kira-kira bisa diminta bantuan?”
“Halo?”
“Halo? Bo-”
“Halo? Boleh-”
“Halo? Boleh minta-”
“Halo? Tolong dong-”
“Halo? Hujan nih, jem-”
“Halo?”
Kkkkk. Apa sih yang orang-orang lakukan? Sibuk sekali mengerjakan tugas
dari guru, ya? Huhu, ada yang jadi binatang peliharaan, nih. Tidak ada yang
angkat sama sekali. Atau justru mereka saling bersekongkol?
Aduh bagaimana, sih?
Punya ponsel dipakai untuk main gim doang, apa? Giliran dihubungi tidak
ada yang mau bantu!
“Ukh,” sesalku sembari memukul tembok beton yang praktis membuat
jari-jariku memerah lebam dan sakit. Sakit? Entahlah. Tidak bisa aku rasakan
lagi. “Tidak, jangan begitu. Jangan begitu. Jangan begitu. Aku masih, aku tidak
boleh, aku– mereka… butuh, masih, teman, te- butuh- ukh!” erangku terbata-bata
sembari bersandar pada tembok di teras gedung.
Dengan kepalan tangan yang tidak berhenti memukul menggunakan rasa
kekecewaan yang tersisa, tiba-tiba air liur tersedak lagi untuk ditelan.
Bersamaan dengan itu, napas pun berhenti bersirkulasi. Aku terkapar jatuh,
mencengkram dada dengan sakit, berusaha dengan sekuat tenaga untuk kembali
bernapas.
Berjalan merangkak, aku pergi menuju kursi bertingkat untuk meraih
ranselku, mengambil kembali alat bantu napas (yang entahlah mengapa malah aku
simpan lagi di dalam tas). “Sssuuuu–haaaah,” ucapku mencoba menarik napas.
Perlahan, napas kembali dingin dan normal, bahkan teringat pada sebuah suara
dentingan logam di dalam tas.
Aku rogoh lagi tasku seperti maling yang buta informasi, mencari apapun
yang sepertinya merupakan secarik cahaya harapan untukku. Ternyata, harapan
memang bersinar terang, meski aku justru kembali kecewa karena terlalu silau.
Dentingan ini berasal dari sebuah gantungan kunci yang juga diliputi benang
kusut, sedikit debu, dan tersangkut satu sama lain.
Aku genggam kunci itu dengan kuat, dengan sakit, dengan mata yang berair
dan menangis, juga mulut yang berusaha untuk menolak.
“Apakah tidak ada pilihan lain?” tanyaku bukan pada siapa-siapa. Aku
mencoba merenung, mencoba berpikir sebuah solusi dan jalan lain selain
menggunakan gantungan kunci ini. “Hah!? Apa? Mau apa?” kagetku tiba-tiba begitu
merasakan presensi aura yang mendekati dan terkesan membahayakan.
Aku menoleh, mendapati seseorang yang berperawakan tinggi dan besar
seperti beruang, penuh keringat di seluruh tubuh, baru saja menyentuhku dan
praktis memberikan kesan menyeramkan ingin menerkam. “Hiiii!” jeritku
setelahnya ketakutan seperti gadis cilik.
Berusaha untuk menyelamatkan nyawaku sendiri dengan meminta ampun, aku
langsung jatuh tersungkur dari kursi, berusaha untuk menjauh dari sumber
ancaman.
Mungkin karena kebingungan akan aksiku yang tidak masuk akal, dia hanya
mengangkat bahu tidak peduli. Presensi menghilang tipis, dia pun perlahan
pergi. “Fuh, syukurlah,” ucapku menghembuskan napas, meski jantungku tidak
berdetak normal kembali.
Tapi, begitu aku mulai berdiri dan menegakkan tubuh, telapak tangan
kananku malah merasakan sakit. Ini sakit yang cukup menyiksa, seperti tertusuk
tanpa ampun oleh tajamnya sebuah benda. Nyatanya, begitu aku buka telapak
tangan, kembali lagi aku ditakuti oleh kehadiran gantungan kunci ini. Aku
berharap tidak pernah membuka telapak tangan dan terus tersiksa selamanya kalau
ini jawabannya, pikirku membandingkan.
Sebuah gantungan kunci dengan dua jenis kunci yang sama, ada juga
pengait bulatnya, dan sebuah catatan kusam yang ditempel di pengait tersebut.
Ini merupakan catatan penuh informasi yang sangat menyesakkan dan mencekik,
informasi yang sebenarnya aku ciptakan sebagai tanda dan memoriam, untuk selalu
membuatku teringat.
Catatan itu bertulisan ‘home’ dari tinta pulpen yang sudah
sedikit pudar, kertasnya sedikit menguning dan tidak dilaminating, bahkan
terdapat kerusakan dan berlubang di beberapa tempat. Tapi, setidaknya ini masih
layak, bisa terbaca dengan jelas dan mudah.
“Aku… aku, tidak punya pilihan lain, ya?”
\~\~\~\~\~\~\~\~
Kadang rasa
segan itu bisa jadi boomerang itu kita gak, sih?
Ada yang pernah
ngalamin juga, gak? Bilang gak usah gak usah padahal hati pengen :”D
Selamat datang
lagi, teman-teman!
Ragib lagi kena
serangan apa nih, ya?
Rumahnya adalah
nerakanya?
Memangnya di
rumahnya ada hantu gitu!?
Btw …
See you next
time ;)
__ADS_1