
KEESOKAN harinya, dengan niat untuk meminta maaf, aku pun memberanikan diri untuk mengunjungi
Remi pada jam istirahat. Meskipun ini adalah momen langka karena Remi pasti
sedang bersama teman sekelasnya, ini harus kulakukan, harus kupaksakan.
Aku pun beranjak pergi ke area makan kantin, mulai melirik kiri-kanan
dimana gerangan si rambut licin itu berada. “Wah!? Lo berani banget makan
seblak. Kkkk. Memangnya kuat? Yang kemarin aja lo sampe nangis-nangis, kan?”
“Enak aja. Yang punya mulut pedas bukan cuman
lo. Gue juga bisa makan pedas!”
“Eh, Gib?”
“Gib? Apa kabar?”
“Halo, Gib,” beberapa teman sekelas Remi
(bukan bagian kelompok nongkrong di warung stasiun) menjawab sapaanku dan
memulai basa-basi. “Ayo makan!”
“Oh, iya iya. Makan silakan,” jawabku
langsung duduk di samping Remi. “Oh, gue tahu. Ini akal-akalan lo biar besok
gak masuk, ya? Biar long weekend gitu? Kkkkk. Ketahuan mau curang, nih!
Memang murid berandalan lo, ya!”
“Ahahaaha! Terusin, Gib. Jangan kasih ampun!
Ahahahah!”
“Ud-haah… liat aja nih, hah…, gue bakal ngabisin seblaknya!” sanggah
Remi melambaikan tangan, menangkis tawa teman-temannya. Dia masih berusaha
sekuat tenaga untuk terus menghabiskan makanan pedas dengan poker facenya,
meskipun dengan jelas lidahnya terus menjulur seperti anjing kepanasan.
“Tapi kayaknya enak nih makan seblak. Gue juga beli, ah!”
“Jangan! Men-ding lo-hah…, beli susu putih aj-hah! Gue minta nanti. Lo
makan bekas gue aja,” tolak Remi menahanku pergi.
“Lah? Katanya lo kuat? Gimana, sih? Kkkk. Ngomong doang gede, buktiin
dong!”
“Gue kasih-hah… tahu. Ini namanya simbiosis mutualisme. Lo murid bego
gak akan ngerti! Saling berbagi-hah… saling diuntungkan.”
“Jangan. Susu putih jelek kalo abis makan seblak. Mending lo beli roti
aja. Biar bisa bareng-bareng juga, kan?”
“Lah kenapa roti? Mending beli teh panas! Lawan panas sama panas! Kalau
dingin nanti gak akan selesai masalahnya.”
“Ngawur kalian. Mending beli nasi aja. Kebetulan itu nasi uduk masih ada
tuh! Kalau pakai nasi nanti biar lebih netral. Percaya, deh!”
“Itu semua menu yang pengen lo beli, kali? Kkkk. Jadi gue beli apaan,
nih?”
“Bukannya gitu, Gib. Kita ini baik. Berusaha untuk ngasih saran biar lo
nanti gak nyesel,” sebut salah seorang teman lain dengan nada rendah seperti
memberi petuah.
Pada akhirnya, aku beli saja nasi gulung dan air putih. Membeli sesuatu
di antara saran-saran itu, agar tidak ada lagi suasana panas karena debat
antara satu dengan yang lain. Setelahnya, kami pun makan bersama apapun di atas
meja (kecuali seblak pedas Remi), hingga bel kembali berbunyi menandakan
istirahat yang berakhir.
Meskipun ini hanyalah sesi istirahat yang biasa-biasa saja, setidaknya
aku bisa berbaikan dengan Remi terkait kejadian kemarin—meskipun aku tetap
tidak bisa mengikuti kegiatan entahlah apa. “Memangya kemarin lagi ngapain,
deh? Gue ditinggalin buset. Ikut dong!” pintaku menyinggung peristiwa kemarin.
“Ada lah pokoknya,” jawab Remi tidak peduli.
“Ahaha! Ya ada, lah! Urusan itu, tuh! Ada pokoknya. Ahahaha!” teman lain
menanggapi dengan tawa lain.
Setelah berbincang lebih lanjut, ternyata ‘urusan penting itu’ masih
akan tetap dilakukan hari ini (dan aku tetap tidak diajak). Sehingga, tidak
akan ada acara nongkrong di warung stasiun, tidak bisa lagi menghabiskan waktu
sore senja seperti biasa.
Masalahnya… kenapa?
Kenapa aku ditinggal lagi? Padahal aku pikir hubungan kita baik-baik
saja?
Seraya terombang-ambing dalam lautan prasangka, aku menatap punggung
Remi dan teman-teman lain yang meninggalkanku di kantin sekolah sendirian.
BEL ketiga berbunyi, tanda untuk pulang di sore hari. Setelah menyelesaikan urusan
kesalahpahaman dengan Remi pada istirahat pertama yang sebenarnya tidak selesai
juga, tercipta sebuah kesimpulan bahwa acara harian untuk berkumpul nongkrong
berdiam menunggu hari di warung stasiun, tidak akan dilaksanakan.
Sekarang, pertanyaan pun muncul. Apa yang harus aku lakukan tanpa
mereka?
Apakah aku mungkin bisa bermain futsal dengan Faisal?
Bagaimana dengan Balkis? Apakah rapatnya sudah selesai?
Atma…? Aku takut Gatra ada disana dan mengganggu semuanya.
Suci…? Aku baru kenal dia kemarin. Rasanya sungkan untuk melakukan
apa-apa.
…
Aku tidak ingin sendirian, aku tidak ingin kesepian!
Seseorang tolong temani aku!
Jangan tinggalkan aku sendirian lagi!
Jangan… Tinggalkan… Lagipula, kenapa aku ditinggalkan Remi, sih!?
Kenapa!? Kenapa!? Kenapa!? Kita tidak ada marah atau apa, kan!?
Setidaknya berikan alasan, dong!
Aku salah apa!? Kenapa harus ditinggalkan sendirian!?
Kenapa hanya aku sendirian!? Kenapa yang lain boleh ikut, kecuali aku!?
Tunggu…
Berusaha untuk menyibukkan diri melupakan urusan Remi, aku langsung
pergi ke lantai dua, pergi ke ruangan di sudut gedung, mengunjungi mesin waktu
yang bisa membawaku pergi ke masa depan.
Apakah bisa? Apakah bisa? Apakah bisa? Apakah bisa?
Tolonglah bisa!
Pintu diketuk, bersamaan dengan jantungku yang kencang berdegup.
“Oh, Ragib? Masuk masuk,” ucap seseorang begitu pintu dibuka, menjawab
perasaanku yang sempat terpuruk tenggelam. Seperti matahari yang akhirnya
terbit, ventilasi dan gorden pun terbuka untuk menyinari ruangan yang gelap
gulita.
Memberi harapan, memberikan kesempatan.
“Kkkkk. Makasih makasih,” ucapku dengan panik yang tak lagi membelenggu.
“Tumben sepi. Kemarin habis rapat apa? Kayaknya sibuk banget. Kkkkk!”
“Yah, ada lah pokoknya. Lo gak perlu tahu. Eh iya, Gib. Lo masih punya
duit? Kita mau beli camilan nih. Kemarin habis pas rapat,” timpal Balkis dari
balik meja sambil memainkan ponselnya.
“Hah? Jadi kemarin kalian rapat atau malah acara makan-makan, nih?
Gimana sih kok gue ga diajak. Kkkk! Ada kok. Butuh berapa?”
“Serius gue. Kemarin isi rapatnya daging semua. Capek kita. Butuh
energi. Makanan kan sumber energi, tiba-tiba habis deh. 100 ribu aja untuk
minggu ini.”
“Nih,” uang merah pun langsung aku simpan di meja Balkis.
“Oke. Lo memang bisa diandalkan, Gib. Makasih, ya!” imbuh Balkis yang
praktis membuatku tersenyum panjang, bahkan sampai tidak bisa aku sembunyikan.
Aku hampir terkekeh, hampir melayang terbang hingga nirwana. “Tunggu. Baju lo
tumben rapi,” tanya Balkis menahanku, yang dilanjutkan dengan endusan dari
hidung peseknya. “Hah? Kok lo wangi banget, sih? Parfum mahal, nih! Gue tahu
banget. Lo abis dari mana, buset?”
Kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan senyum, bahkan mungkin
tembus sedikit? Yang langsung kulanjutkan dengan dada yang dibusungkan. Aku
pamerkan tubuhku yang baru, dengan serba-serbi aksesoris yang ternyata langsung
disinggung oleh Balkis.
“He He He,” ejekku kemudian.
Kemarin malam, ketika Suci masih sibuk membicarakan ini itu penuh
energi, aku yang belum bisa memecahkan solusi bagaimana harus melewati hari di
tempat yang tidak kuketahui, langsung diberikan saran, anjuran, dan tumpangan
dari Mama Suci. Suatu saat, pintu kamar Suci diketuk tiga kali. Suci menjawab
seperlunya, dibukalah pintu untuk menunjukkan wanita tua dengan rambut pirang
dan mata biru cerah, serta wanita perawat yang menunduk hormat di sampingnya.
Tunggu. Ada penampakan yang bersembunyi di balik wanita perawat.
Dengan menggenggam seragam wanita perawat kuat-kuat, penampakan ini
berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukan kontak mata. Seperti sedang
mengintip, seperti kehadirannya tidak ingin diketahui. Masalahnya, besar badan
dari penampakan di belakang wanita perawat itu bukannya lebih kecil, bahkan
lebih besar dari wanita perawat? Penampakan itu merupakan seorang gadis,
memantulkan cahaya dari kacamata bulatnya, dengan rambut bergelombang melebihi
pundak—dan jika diperhatikan lebih lanjut—yang menutupi sesuatu di lehernya.
Terlihat bekas luka yang jumlahnya tidak sedikit, tersebar di seluruh
leher, beberapa bagian dagu, juga pipinya. Itu Nila? pikirku menerka.
“Maafkan telat memperkenalkan diri. Saya Mama Suci, atau… saya
mengganggu kalian? Maaf, ya,” wanita dengan rambut pirang memulai percakapan
sambil menunduk.
“Khk, ti-tidak, Tante! Saya tidak terganggu, kok! Sa-saya justru
berterima kasih,” jawabku gugup. Lagipula, aku dan Suci bukannya sedang
melakukan hal yang tidak senonoh, kok! Kita hanya duduk berdampingan di atas
meja belajar, menonton video-video binatang dan kucing lucu di dalam laptop.
“Mama!” sebut Suci antusias dan langsung memeluknya erat-erat.
“Suci! Kamu masih semangat, ya,” jawab Mama Suci lalu berpeluk erat
dengan anaknya. “Ekehm. Maaf… nama-nya…?”
“Saya Ra-Ragib, Tante!”
“Dengan Nak Ragib, ya. Suci tidak pernah bercerita tentang kamu. Dia
memaksa kamu datang? Maaf merepotkan, ya,” ucap Mama Suci sambil membelai Suci.
“Ti-tidak masalah, tante. Saya tidak keberatan, kok.”
“Ohoho. Kamu anak baik ya, Nak Ragib. Tapi, hari sudah larut malam. Saya
tidak keberatan untuk menyiapkan makan malam dan ruang tidur. Tapi, bagaimana
dengan orang tuamu? Kamu tidak apa-apa?”
“... ti-tidak. Tidak masalah? Saya pikir…”
“Baiklah. Kalau begitu, kita makan malam dahulu, yuk! Sudah jam sembilan
malam.”
“Ah, ba-baik, tante. Ad-aduh, saya jadi sungkan tidak enak, nih…”
“Ohohoho, Santai saja, Nak Ragib. Ikut saja. Makin banyak makin seru,
kan?” ajak Mama Suci membalikkan badan sembari memberikan gestur tangan seperti
mengajakku untuk mengikutinya turun ke lantai bawah.
Diakhiri dengan anggukan wanita perawat dan tatapan sinis Nila seperti
ular berbisa, aku hanya bisa mengikuti dengan kaku, berjalan dengan gelagapan. Tidak
perlu pulang ke rumah, tidak perlu repot mengurusi bagaimana akan melewati
malam, tahu-tahu disuguhi penginapan, batinku tersenyum bahagia.
Tanpa berpikir dua kali, aku langsung mengikuti Mama Suci dengan
semangat, untuk turun ke lantai bawah dan mengikuti sesi makan malam bersama
mereka.
Melewati jalur ketika aku ditarik Suci dari ruangan—yang aku asumsikan
sebagai ruang bermain—tadi, aku langsung melihat ruang makan di sebelah kiri
yang sekarang sudah terisi dengan sempurna oleh menu makan malam yang terlihat
elegan dan mewah. Tidak lupa juga dengan sapaan singkat oleh seorang pria tua
yang berumur sekitar 50 tahun dengan rambut pirang dan mata biru terang
(sepertinya Papa Suci), suasana yang timbul seperti penuh kasih sayang dan
kehangatan.
"Wah, rupanya ada Nila, ya? Maaf, ya,” ucap Papa Suci entahlah maksudnya
apa. Kalau dia adalah kepala keluarga rumah ini, kenapa harus minta maaf
__ADS_1
segala?
“Papa!” seru Suci berlari memeluk Papanya, yang langsung disambut dengan
tangan terbuka. Papa Suci balas memeluk Suci, disusul Mamanya untuk duduk di
sampingnya, praktis membuatku dan yang lain ikut untuk duduk di sekitarnya.
Aku yang masih gelagapan langsung lirik kiri-kanan, tidak sengaja
menelaah melihat apa saja menu makan malam ini. Di wadah kaca putih ada sup
jamur, ada pula mangkuk penuh dengan sayuran seperti selada, tomat, bawang
bombai, bahkan alpukat, dan apel yang dihiasi oleh mayones di atasnya, ada pula
menu utama yang terdiri dari ayam panggang satu ekor, dan diakhiri dengan
puding stroberi dingin yang sudah dipotong-potong.
Tersenyum dan menertawai kegagapanku, Mama Suci membantuku untuk
menuangkan makanan di dalam piring. “Mau sup terlebih dahulu? Atau langsung
ayam panggangnya?” tanyanya ringan penuh senyuman.
Aku hanya bisa mengangguk tak karuan, yang membuat Papa Suci ikut
tertawa menambah keseruan makan malam. Bahkan beliau mulai untuk bertanya-tanya
tentang asal-usul keberadaanku (karena tiba-tiba datang di meja makan mereka).
Beliau sebenarnya sempat menoleh bertanya kepada Suci, tapi gadis itu masih
sibuk pada makanannya sendiri.
Aku hanya bisa menepuk jidat, langsung menjawab Papa Suci seadanya,
sejujurnya, dan apa adanya. Beruntung, orang tua Suci adalah pendengar yang
baik. Mereka mendengarkan ceritaku dengan khidmat, yang membuatku lebih
bersemangat untuk bercerita lebih lanjut. Aku seperti diterima oleh mereka,
bukan lagi orang asing yang tiba-tiba datang yang hanya ikut mampir merepotkan.
Sayangnya, respon gadis berkacamata bulat yang menyendiri di ujung meja
sangatlah jauh berbeda. Dia masih menatap dengan sinis, penuh rasa curiga dan
keringat dingin.
Dia tidak duduk terlalu jauh? Kalau begini pemandangannya, justru Nila
yang terlihat seperti orang asing atau anak buangan?
Yah, itu bukan masalah untukku, sih.
Makan malam pun berlangsung dengan sangat khidmat, dengan penuh canda tawa,
penuh kehangatan baik dari suasannya, penerangan lampunya, maupun dari
hidangangannya itu sendiri. Kapan terakhir kali aku bisa makan dengan layak,
ya? tanyaku dalam hati.
Aku beruntung, air mataku sudah habis pada saat bermain dengan Suci di
kamarnya tadi. Meskipun aku tetap merasakan perasaan yang ganjil ini, aku masih
bisa menahannya dengan baik. Tidak perlu lagi menangis, tidak perlu lagi
merepotkan yang lain.
Sayangnya, kehangatan dan rasa nyaman disudahi begitu saja bersamaan
dengan acara makan malam itu sendiri. Orang tua Suci masih memiliki kesibukan
yang harus dikerjakan, dan Nila pun menculik Suci dengan dalih akan menemaninya
tidur. “Tante, Aku boleh tidur bareng Suci lagi, kan?” tanya Nila tanpa
basa-basi.
“Tentu saja, sayang. Suci juga kelihatannya sudah mengantuk begitu,”
jawab Mama Suci dengan tenang. Cup, lanjutnya dengan mencium dahi Suci
tanda selamat malam.
Dan dengan begitu, Nila langsung merangkul Suci, membawanya pergi menuju
kamar untuk tidur bersama. Hmm… Mereka sudah terbiasa untuk tidur bersama?
Aku pikir itu wajar saja jika melihat kasur Suci yang begitu besar.
Tapi, Suci masih ingin tidur ditemani?
Kkkk. Dia benar-benar seperti anak kecil, ya.
“Ragib, kamu boleh pakai ruang bermain untuk menginap. Tidak apa-apa,
kan?” suara damai Mama Suci langsung menyentuh kalbuku. “Maaf. Saya belum
mempersiapkan kamar tamunya karena berbagai masalah. Tapi, disana tetap ada
kasur yang nyaman, kok.”
“Ah! Tidak apa, Tante! Boleh menginap juga saya sangat berterima kasih,”
jawabku sambil menunduk.
“Ohoho. Anakku sayangku!” lanjut Mama Suci memeluk kepalaku sebentar,
mengusapnya pelan, dilanjut untuk menuntunku pergi ruang bermain bersama.
Seperti dugaanku, bagian menjorok di sudut kanan ruang bermain tersedia
sebuah kasur dengan bantal dan selimut yang nyaman untuk satu orang. Setelah
ditunjukkan berbagai macam sakelar untuk penerangan, Mama Suci pun langsung
pamit undur diri. “Selamat tidur. Besok bangun pagi-pagi, ya!”
PAGINYA, aku bangun subuh-subuh sekali. Meskipun kasurnya sangat empuk—mungkin karena aku
tidur di kasur asing—aku tetap bisa bangun pagi begitu saja. “Mau apa, ya?”
tanyaku canggung dan kebingungan sambil duduk di atas kasur, menatap
lamat-lamat sekali lagi ruang bermain dengan fasilitas lengkap ini.
Aku jadi iri. Ingin coba bermain komputernya…
…
Tuk tuk, suara ketukan
datang dari pintu. Setelahnya muncul pertanyaan dari suara yang cukup serak,
suara wanita perawat. Aku datang menjemput suara, membukanya dengan penuh tanda
tanya. Tidak. Aku justru sangat antusias karena akhirnya aku diselamatkan. Aku
akhirnya bisa mulai beraktifitas, tidak merasa canggung lagi terpaksa berdiam
diri saja.
Ternyata, aku diperbolehkan untuk menggunakan kamar mandi di depan ruang
bermain ini, kamar mandi yang kemarin aku gunakan juga untuk membasuh dan
membersihkan diri bekas minuman yang tumpah. Tidak lagi ambigu untuk ‘membasuh’
saja, aku benar-benar dipersilakan untuk mandi dengan bebas. Apalagi, dengan
fakta bahwa anggota keluarga Suci lain menggunakan kamar mandi yang berbeda,
aku tidak perlu risau dan khawatir akan durasi penggunaannya.
Aku bisa beradaptasi dengan air pancuran shower serta
tombol-tombolnya pelan-pelan, memilih dan menimbang lamat-lamat apakah aku
harus mandi dengan air panas atau air dingin, mulai membasuh badan hingga sela-sela
dengan sabun cair yang tersedia (yang sangat harum), lalu juga hingga bagian
kepala dan keramas (masih harum sekali), mencuci muka (yang sangat segar),
hingga akhirnya diselesaikan dengan handuk putih (yang sangat lembut dan
menggelitik) untuk mengeringkan betul-betul seluruh permukaan kulit.
Oh. Tidak lupa, aku keluarkan juga semua ampas sisa makan semalam di
Setelah benar-benar selesai, aku langsung mengambil seragam yang terdiri
dari kemeja putih dan celana abu-abu yang sudah dicuci kering oleh wanita
perawat (hebat sekali bisa kering dalam semalam), beserta kaus dan ****** *****
yang terlihat baru karena masih disimpan dalam box penjualannya.
“Rapi banget! Mulus, gak ada lipatan, udah kayak seragam baru aja.
Kkkk,” kekehku terkagum melihat cermin di depan. Bahkan, aku sampai mengendus
mencium aroma dari seragam ini sendiri yang aromanya serupa dengan sabun dan
sampo saat mandi. Seperti aroma bunga entahlah apa, tidak terlalu kuat, tapi
sangat menyejukkan. Membuat lubang hidungku meregang sendirinya, menggelitik
setiap bulu yang tersembunyi di dalamnya.
Fuahhhh! Aku merasa seperti terlahir kembali.
Tidak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi dan menciptakan kesan yang
buruk, aku pun langsung membuka pintu dan siap membantu melakukan aktivitas
apapun. Namun, tidak seperti sebelumnya, sekarang wanita perawat tidak lagi
datang melayaniku. Ada majikannya yang harus dilayani dengan baik, terutama
dalam kesibukan pagi seperti menyiapkan makan dan segala urusannya, seperti
urusan dua gadis di depan ruangan keluarga ini. Terlihat Nila tengah merangkul
dan berusaha sekuat tenaga memanggul Suci yang setengah tidur, bahkan masih
mengenakan piyama tidur. Mereka berjalan sempoyongan, Suci terlihat malas
melakukan apa-apa.
“Haaaaaaaaaaa!” raung Suci entahlah protes karena malas bangun, atau
sebuah upaya untuk terus terjaga.
Aku menatap tak berkomentar, hanya melakukan tugas sebagai penonton yang
menikmati kesibukan hidup orang lain—karena aku disuruh untuk sarapan dan
siap-siap sendiri saja. Selesai dengan Suci, Nila langsung ikut membantu wanita
perawat menyiapkan segala urusan sebelum berangkat pergi, Mama Suci membantu
anaknya untuk melakukan mandi pagi, dan Papa Suci yang tidak terlihat entahlah
dimana. “Tuan sudah berangkat subuh tadi,” jawab wanita perawat pada pertanyaan
isengku. “Mas Ragib sudah siap?”
“Siap!” ucapku hormat setelah semuanya rampung.
“Hati-hati dan selamat jalan!” lambai wanita perawat di depan teras.
Dan dengan begitu, aku yang sudah mengikat tali sepatu mulai pergi
keluar rumah bersama Suci (yang masih separuh mengantuk), meninggalkan wanita
perawat dan Mama Suci yang masih mengenakan jubah mandi, pergi menuruni tangga
teras untuk menuju mobil yang sudah siap berangkat mengantarkan kami ke
sekolah.
“Oh, Nila tidak ikut?” tanyaku begitu membuka pintu mobil.
“Mbak Nila berbeda sekolah dengan Suci. Sekolahnya pun hanya berjarak
jalan kaki dari sini. Jadi tidak perlu ikut,” ucap sang sopir dengan suara
bulat yang mulai menancap gas siap berangkat.
SETELAH pamer
secukupnya pada Balkis, berdiskusi masalah kudapan yang harus dibeli untuk
teman melakukan rapat, lalu menghabiskan waktu sampai senja, ternyata aku tidak
bisa berlama-lama di dalam mesin waktu ini. Para penghuni akan segera pulang,
dan sekali lagi aku ditinggalkan sendirian.
Aku sebenarnya ingin menggunakan mesin waktu ini untuk menyelesaikan
masalah kesendirian, untuk melupakan perasaan ini, dan pergi maju ke masa
depan. Sayangnya, untuk hari ini pintu akan dikunci rapat, aku tidak bisa
menggunakannya sama sekali, aku ditendang dibuang tidak diinginkan.
Tidak ada Balkis, Remi, maupun Faisal?
Kemana sekarang aku pergi?
Kemana? Kemana? Kemana? Kemana? Kemana? Kemana?
Cari seseorang… Jangan sendirian… Pergi bantu teman…
Apakah tidak masalah jika aku pergi mengunjungi Atma?
Apakah baik-baik saja hubungan kami setelah kedatangan Gatra kemarin?
Gatra mau apa, sih!? Apakah dia akan menculik Atma dariku juga? Seperti
yang diceritakan orang-orang bahwa beruang besar itu adalah playboy kelas
kakap?
…
Atma, tolong aku, ya! batinku berharap seraya langkah mulai diambil untuk turun ke lantai
dasar. Dengan alis yang mengernyit, bibir yang kugigit, napas yang mulai cepat,
hingga tangan yang bergetar tidak bisa diam, aku melangkah pelan-pelan melewati
area makan kantin, lalu pergi lebih lanjut menuju dapur yang berada lebih
dalam. Melewati warung serba ada, lalu ada stand yang menjual seblak dan
bakso, lalu ada juga nasi dan mi goreng, hingga berakhir di stand dapur
yang menjual berbagai jus buah dan gorengan.
“…?”
“Ah, Ragib? Mau beli sesuatu? Gorengannya
masih panas, loh!”
“Ah, enggak, pak. Masih kenyang. Lagipula
sudah waktunya pulang. Bapak tidak pulang juga? Wah, adonannya masih banyak,
ya. Semangat, pak! Semoga laku, ya! Kkkkk,” kekehku jahil pada seorang pria tua
yang kulitnya penuh keriput namun terlihat mengilap mungkin karena pengaruh
minyak. Itu Ayahnya Atma. Dia masih semangat menjajakan dagangannya sembari
ditemani oleh dua anak kecil (mungkin umurnya di bawah delapan tahun) yang
sedang tidur di balik kursi bambu panjang di belakangnya.
“Oh. Nyari Atma? Dia tadi pergi bawa jus
buah. Gak tahu kemana. Tapi masih di sekolah, kok. Mungkin jualan ke sekitar,”
lanjut Ayah Atma sambil meniriskan minyak dari belasan gorengan yang diangkat
menggunakan saringan.
“Kkkk. Bapak tahu aja. Makasih, ya!” sahutku
sambil melambai pergi.
Setelah mendapatkan informasi, tanpa
basa-basi aku pun langsung mencari dimana Atma berkelana menjajakan dagangan.
__ADS_1
Sudah menjadi kebiasaan dan keseharian baginya untuk membantu orang tuanya
seperti ini. Dia adalah gadis pekerja keras, selalu berusaha yang terbaik untuk
adik-adiknya, selalu berputar mencari pelanggan sekaligus teman.
Sayangnya, dia memang sering mendapatkan kesialan yang sangat tidak
wajar.
Pernah suatu ketika, Atma yang sedang
beristirahat di lapangan belakang (karena baru selesai berolahraga) harus
ditabrak oleh seorang murid ceroboh sehingga makan siangnya terjatuh ke taman
sebelah yang dibatasi pagar kawat. Sebenarnya, tidak ada masalah dengan bekal
Atma. Bekalnya masih terbungkus, masih terlindungi. Masalahnya muncul ketika
Atma berusaha untuk mengambil bekalnya di balik pagar kawat tersebut. Karena
Atma menginginkan solusi yang cepat, dia berusaha meraih menggapai bekalnya
lewat lubang pagar kawat yang sedikit sempit. Naas, Atma malah sial untuk
tersangkut separuh badannya, sehingga sulit ditarik keluar. Padahal,
siswa-siswa yang bolos sering melewati lubang pagar kawat tersebut untuk
melancarkan aksinya dan tidak ada tanda-tanda kegagalan. Lalu, kenapa
giliran Atma yang malah harus tersangkut? Tubuh Atma bahkan tidak besar?
Berkatnya, pagar kawat pun dipotong seperlunya untuk sekalian diganti
dengan kawat yang baru. Tidak ada lagi lubang, tidak ada lagi upaya percobaan
bolos dari murid-murid berandalan.
Atau, pernah ada juga kejadian ketika Atma diminta untuk membeli sebuah
barang dari toko di luar sekolah (Atma yang mengajukan diri), pulang-pulang
gadis ini malah kembali dengan keadaan seragam yang basah kuyup. Menurut
ceritanya, dia mendapat cipratan air dari mobil yang melintasi kubangan di
jalan sebelahnya. Meskipun langit mendung, Atma pun sudah membawa payung,
nyatanya air membasahinya bukan dari atas langit. Seperti biasa, Atma hanya
tertawa saja menceritakan semua kesialannya ini.
“Apakah dia pergi ke lapangan belakang, ya?” tanyaku masih berusaha
mencari dimana gerangan gadis dengan rambut mengembang tersebut. Ternyata,
betul saja. Karena hari ini sedang ada latihan ekstrakurikuler basket, Atma
menggunakan kesempatan tersebut untuk menjajakan minuman dan kudapan ringan
kepada murid-murid yang lelah berolahraga.
Di koridor dengan kursi panjang yang menghadap ke lapangan, sudah duduk
dengan santai Atma dengan wadah besar di sampingnya yang terisi separuh oleh
dagangannya. Mungkin seseorang sudah membelinya? “Atma!” seruku
kemudian. Atma menoleh, langsung melambaikan tangan dan mempersilakanku untuk
duduk di sampingnya.
“Halo, Gib! Kemarin kemana? Lo ngilang lagi, nih. Sebel, deh!” protes
Atma.
“Kkkk. Iya nih. Gak tahu gue juga. Tiba-tiba masalah gue jadi hancur
berantakan gitu. Eh, beli esnya dong.”
“Oohh. Fufufu, masalah ulangan pasti, ya? Lo belajar yang bener, dong.
Masa iya nanti ngulang kelas lagi?” sindi Atma sambil memberikan ice stick berwarna
kuning.
“Gue bukannya pengen tinggal kelas juga, kali. Cuman ya gimana lagi?
Remi dan yang lain emang nguras waktu banget. Gak ada waktu untuk belajar. Tapi
tanpa mereka, gue juga gak mau sendirian. Pokoknya gitu, deh,” keluhku sambil
mengemut ice stick rasa jeruk lemon ini. “Oh, iya. Kemarin gue liat lo
dilabrak sama Cindy? Kenapa tuh? Kalian gak pernah ada masalah, kan? Apalagi
secara teknis dia adik kelas lo. Berani banget! Kkkkk,” lanjutku mengalihkan
pembicaraan.
“Ufufufu-fufu. Iya! Lucu banget tahu, gak?
Kalau lagi ada latihan ekskul apapun gue pasti diem di sini kan, ya? Jualan
apapun pokoknya. Nah, Cindy ini katanya punya crush gitu ke anak basket
gue gak tahu siapa. Nah, sebagai teman yang baik, temen-temen Cindy minta gue
untuk berhenti cari muka sama crush-nya Cindy. ‘Buset,’ gue bilang.
‘Mana gue tahu yang mana orangnya!?’ Padahal gue ya temenan sama siapa aja.
Yang mau beli makanan, minuman, siapapun boleh. Kalau masalah temen, semua juga
berteman. Gue juga kalau deketan sama orang yang paling sama lo doang, Gib.
Orang-orang juga sering liat lo bantu jualan orang tua gue, kan? Tapi, ya gitu
deh. Ufufufu-fufu,” jelas Atma disusul gelak tawa.
“Terus gimana? Gue liat sampe Gatra dateng,
sih. Makanya gue gak jadi nyamperin. Gatra bukannya tipe orang dingin, ya? Gue
pikir semua orang benci sama dia?”
“Hah!? Apa iya? Gue gak ngerasain itu, kok.
Ah, kebetulan. Ada orangnya, tuh. Gatra!” panggil Atma pada sang sosok besar
yang baru saja kita bicarakan.
Sebenarnya, aku yang selalu bermain kesana kemari menawarkan bantuan
mencari teman (agar tidak sendirian), tentu kenal dengan Gatra. Semua orang di
sekolah kenal dengannya, karena perawakan besar tinggi tidak mungkin dilewatkan
orang-orang. Hanya saja, seperti yang Remi katakan, orang-orang menjauhi Gatra
karena memiliki ekspresi yang dingin dan matanya yang menyerupai mata ikan
mati. Aku sungkan untuk memulai pembicaraan kepadanya, karena kehadiran Gatra
seperti memiliki pelindung besar untuk menyuruh orang-orang pergi dari
hadapannya.
“Gatra, ini Ragib. Gib, ini Gatra!” seru Atma yang memperkenalkan kami
berdua sambil memukul punggung Gatra. Aku pun menunduk hormat sebagai
formalitas, meskipun mata masih tidak bisa berpaling dari perawakan besarnya
ini.
Gatra sebenarnya siswa kelas 11. Tapi, perawakannya tidak menunjukkan
sebagai manusia normal berumur 16 tahun. Tingginya sekitar 170 sampai 180
senti, pundaknya lebar, dadanya membidang, otonya kuat dan berisi, tapi bukan
seperti otot yang dilatih di dalam gym sehingga begitu keras. Rambutnya
tipis cepak, alisnya tajam menukik, dengan tatapannya seperti ikan mati
memberikan kesan bahwa dia seperti sedang kesal, marah, atau kecewa kepada
lawan bicaranya. “Saya Gatra, kak,” jawab monster besar ini sambil menawarkan
tangannya untuk berjabat.
Ketika kami saling jabat tangan, aku merasakan genggaman yang kuat dari
tangan Gatra ini. Memang pantas dia menjadi pemain unggulan ekstrakurikuler
basket, pikirku
Atma sendiri sebenarnya sedikit lebih pendek dariku. Tapi, jika aku
membandingkannya lagi, aku jauh lebih pendek daripada Gatra. Sekarang, melihat
Atma yang memukul-mukul punggung Gatra dan mereka berdua berdiri berdampingan,
seperti melihat seorang putri bangsawan dan pengawal pribadinya yang garang.
Putri ini adalah gadis yang nakal, yang memiliki sifat untuk bebas melakukan
apapun, bahkan menjahili pengawalnya yang ukurannya lebih besar dari sang putri
sendiri. Pengawal ini terlihat sangat loyal dan setia, namun sepertinya sedikit
canggung. Entahlah bagaimana cara merespon perasaan sang putri, sehingga hanya
bisa menjadi samsak tinjunya saja.
“Maaf. Saya masih ada latihan. Du-luan,” ucap Gatra dengan suara tipis
seperti sedang berbisik, sangat tidak cocok dengan perawakannya. Apakah Gatra
justru pemalu?
Dan dengan begitu, Gatra kembali memasuki lapangan, menemui
teman-temannya, untuk lanjut mendominasi latihan tanding yang sedang dilakukan
tersebut. Gatra terlihat sangat menonjol, karena menjadi pemain tertinggi di
antara temannya. Tidak hanya mengintimidasi lawan untuk enggan menembak
mencetak angka, perawakan besarnya ini pun terlihat mengintimidasi temannya
untuk selalu mengoper bola padanya.
“Gue jadi iri. Gatra punya sesuatu yang dia kuasai, lo juga punya
sesuatu yang lo lakuin dan sukai. Gue gak pernah punya apa-apa selain main
kesana kemari,” celetukku lirih sembari menonton terus permainan basket yang
Gatra tampilkan di lapangan.
“Hm? Kenapa?”
“...! Ah, enggak. Enggak… gapapa,” sangkalku pada Atma. “Tapi, Gatra
mainnya bagus banget, ya. Sayang tadi kita gak banyak bicara. Dia orangnya
gimana? Lo suka dia?”
“Gue suka Gatra? Kenapa lo tanya gitu? Fufu-fu! Kenapa, nih?” goda Atma
sambil terkekeh. “Lo cemburu, ya? Jarang-jarang nih lo keliatan cemburu!
Ufufufu-fufu,” lanjutnya sambil menepuk (memukul) punggungku.
“Gue pikir orang-orang benci sama Gatra. Tapi, lo justru gak sependapat?
Gue sedikit bingung ketika ngeliat langsung. Bikin ngeri, tatapannya sadis,
tapi dia kayakknya orang baik-baik aja, bukan orang yang bakal celakai orang
lain.”
“Yang gue tahu, dia justru manis banget, loh! Waktu itu gue liat dia
kasih makan kucing jalanan, main, bahkan ngelus perutnya juga! Kemarin pun dia
bantu melerai Cindy.”
“Oh, ya? Gatra akrab sama kucing?”
“Yup. Kenapa memangnya? Tumben penasaran banget sama Gatra. Emang dia
ada masalah sama OSIS? Atau lo beneran cemburu sama gue? Hah!? Ya ampun terharu
banget gue, Gib. Fufu-fufu! Tenang-tenang. Gue bisa yakinin lo, kok. Nih. Gue
kemarin–”
“RAAGIIIIB!” teriak seorang gadis yang memotong suara Atma. Tidak hanya
aku dan Atma, teriakan ini mencuri juga semua perhatian seluruh siswa yang
mendengarnya. Mereka menghentikan aktivitasnya, mereka penasaran dan menoleh
mencari sumber suara.
Dengan suara cemprengnya, ini seperti teriakan seorang anak kecil yang
mencari temannya untuk mengajaknya bermain bersama. Sebenarnya, aku tidak ingin
peduli, apalagi karena telah memotong pembicaraanku dengan Atma. Tapi, melihat
tingkahnya kemarin seperti anak kecil yang hilang dan butuh bantuan, aku
langsung beranjak mencari dan berusaha menenangkan pembuat onar yang berteriak
sore-sore seperti ini.
“Apa, sih!? Jangan teriak-teriak begitu, dong!” protesku sambil
mendekati sang pemilik suara, seorang gadis bernama Suci. Merasa teriakannya
telah dijawab, Suci langsung mencari keberadaanku, langsung mendekatiku juga
untuk mengajak tos dan berputar menari-nari sambil tertawa bahagia tanpa dosa.
“Ragib! Kamu lagi apa!?”
“Hah? Lagi diem aja. Ngisi waktu liat orang main basket,” jawabku pada
Suci sambil membawanya pergi ke kursi panjang tempatku duduk tadi, untuk aku
temukan dua gadis ini seperti yang barusan dilakukan Atma. “Suci, ini Atma.
Perkenalkan diri–”
“Kamu diem gak ngapa-ngapain? Kok gak belajar? Belajar! Nanti minggu gak
pergi? Kamu bohong!?” protes Suci memotong pembicaraan.
“Hah? Kenapa jadi bohong? Bilangnya baru kemarin, kan? Kita juga belum
ada rencana untuk belajar bareng? Kenapa harus cepat-cepat?”
“Gak! Belajar! Sekarang! Harus pergi hari minggu! Cepat!” perintah Suci
protes.
“Eh? Eh? Kok jadi gitu? T-tunggu!”
“Gak boleh bohong! Belajar! Ragib nakal!” paksa Suci sambil menarik
tangan dan menculikku dari sesi tontonan sore ini. Tidak ada protes yang bisa
dilayangkan, tidak ada penjelasan yang bisa aku berikan, karena aku sendiri pun
bukannya menolak hal ini terjadi sebenarnya, sih.
\~\~\~\~\~\~\~\~
Kasian banget ya hidup Ragib
Huhuhuhuh T.T
Gak tau salah apa, tiba-tiba temennya ninggalin gitu aja
Siapa sih yang bisa tahan ditinggalin gitu :”)
Selamat datang lagi, teman-teman!
Meskipun akhirnya Ragib ada yang temenin, lagi-lagi dia dipaksa Suci?
Kayanya Suci egois banget ya?
Kira-kira ada apa, nih? Kalian pernah punya temen yang egois kaya Suci juga?
(Meskipun Ragib bingung juga nih, Suci betulan temen atau bukan huhuhuh)
Btw …
__ADS_1
See you next time ;)
Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!