Setan, Suci, Siuman

Setan, Suci, Siuman
Bab 12: Yah, Ada Lah Pokoknya


__ADS_3

KEESOKAN harinya, dengan niat untuk meminta maaf, aku pun memberanikan diri untuk mengunjungi


Remi pada jam istirahat. Meskipun ini adalah momen langka karena Remi pasti


sedang bersama teman sekelasnya, ini harus kulakukan, harus kupaksakan.


Aku pun beranjak pergi ke area makan kantin, mulai melirik kiri-kanan


dimana gerangan si rambut licin itu berada. “Wah!? Lo berani banget makan


seblak. Kkkk. Memangnya kuat? Yang kemarin aja lo sampe nangis-nangis, kan?”


            “Enak aja. Yang punya mulut pedas bukan cuman


lo. Gue juga bisa makan pedas!”


            “Eh, Gib?”


            “Gib? Apa kabar?”


            “Halo, Gib,” beberapa teman sekelas Remi


(bukan bagian kelompok nongkrong di warung stasiun) menjawab sapaanku dan


memulai basa-basi. “Ayo makan!”


            “Oh, iya iya. Makan silakan,” jawabku


langsung duduk di samping Remi. “Oh, gue tahu. Ini akal-akalan lo biar besok


gak masuk, ya? Biar long weekend gitu? Kkkkk. Ketahuan mau curang, nih!


Memang murid berandalan lo, ya!”


            “Ahahaaha! Terusin, Gib. Jangan kasih ampun!


Ahahahah!”


“Ud-haah… liat aja nih, hah…, gue bakal ngabisin seblaknya!” sanggah


Remi melambaikan tangan, menangkis tawa teman-temannya. Dia masih berusaha


sekuat tenaga untuk terus menghabiskan makanan pedas dengan poker facenya,


meskipun dengan jelas lidahnya terus menjulur seperti anjing kepanasan.


“Tapi kayaknya enak nih makan seblak. Gue juga beli, ah!”


“Jangan! Men-ding lo-hah…, beli susu putih aj-hah! Gue minta nanti. Lo


makan bekas gue aja,” tolak Remi menahanku pergi.


“Lah? Katanya lo kuat? Gimana, sih? Kkkk. Ngomong doang gede, buktiin


dong!”


“Gue kasih-hah… tahu. Ini namanya simbiosis mutualisme. Lo murid bego


gak akan ngerti! Saling berbagi-hah… saling diuntungkan.”


“Jangan. Susu putih jelek kalo abis makan seblak. Mending lo beli roti


aja. Biar bisa bareng-bareng juga, kan?”


“Lah kenapa roti? Mending beli teh panas! Lawan panas sama panas! Kalau


dingin nanti gak akan selesai masalahnya.”


“Ngawur kalian. Mending beli nasi aja. Kebetulan itu nasi uduk masih ada


tuh! Kalau pakai nasi nanti biar lebih netral. Percaya, deh!”


“Itu semua menu yang pengen lo beli, kali? Kkkk. Jadi gue beli apaan,


nih?”


“Bukannya gitu, Gib. Kita ini baik. Berusaha untuk ngasih saran biar lo


nanti gak nyesel,” sebut salah seorang teman lain dengan nada rendah seperti


memberi petuah.


Pada akhirnya, aku beli saja nasi gulung dan air putih. Membeli sesuatu


di antara saran-saran itu, agar tidak ada lagi suasana panas karena debat


antara satu dengan yang lain. Setelahnya, kami pun makan bersama apapun di atas


meja (kecuali seblak pedas Remi), hingga bel kembali berbunyi menandakan


istirahat yang berakhir.


Meskipun ini hanyalah sesi istirahat yang biasa-biasa saja, setidaknya


aku bisa berbaikan dengan Remi terkait kejadian kemarin—meskipun aku tetap


tidak bisa mengikuti kegiatan entahlah apa. “Memangya kemarin lagi ngapain,


deh? Gue ditinggalin buset. Ikut dong!” pintaku menyinggung peristiwa kemarin.


“Ada lah pokoknya,” jawab Remi tidak peduli.


“Ahaha! Ya ada, lah! Urusan itu, tuh! Ada pokoknya. Ahahaha!” teman lain


menanggapi dengan tawa lain.


Setelah berbincang lebih lanjut, ternyata ‘urusan penting itu’ masih


akan tetap dilakukan hari ini (dan aku tetap tidak diajak). Sehingga, tidak


akan ada acara nongkrong di warung stasiun, tidak bisa lagi menghabiskan waktu


sore senja seperti biasa.


Masalahnya… kenapa?


Kenapa aku ditinggal lagi? Padahal aku pikir hubungan kita baik-baik


saja?


Seraya terombang-ambing dalam lautan prasangka, aku menatap punggung


Remi dan teman-teman lain yang meninggalkanku di kantin sekolah sendirian.


BEL ketiga berbunyi, tanda untuk pulang di sore hari. Setelah menyelesaikan urusan


kesalahpahaman dengan Remi pada istirahat pertama yang sebenarnya tidak selesai


juga, tercipta sebuah kesimpulan bahwa acara harian untuk berkumpul nongkrong


berdiam menunggu hari di warung stasiun, tidak akan dilaksanakan.


Sekarang, pertanyaan pun muncul. Apa yang harus aku lakukan tanpa


mereka?


Apakah aku mungkin bisa bermain futsal dengan Faisal?


Bagaimana dengan Balkis? Apakah rapatnya sudah selesai?


Atma…? Aku takut Gatra ada disana dan mengganggu semuanya.


Suci…? Aku baru kenal dia kemarin. Rasanya sungkan untuk melakukan


apa-apa.



Aku tidak ingin sendirian, aku tidak ingin kesepian!


Seseorang tolong temani aku!


Jangan tinggalkan aku sendirian lagi!


Jangan… Tinggalkan… Lagipula, kenapa aku ditinggalkan Remi, sih!?


Kenapa!? Kenapa!? Kenapa!? Kita tidak ada marah atau apa, kan!?


Setidaknya berikan alasan, dong!


Aku salah apa!? Kenapa harus ditinggalkan sendirian!?


Kenapa hanya aku sendirian!? Kenapa yang lain boleh ikut, kecuali aku!?


Tunggu…


Berusaha untuk menyibukkan diri melupakan urusan Remi, aku langsung


pergi ke lantai dua, pergi ke ruangan di sudut gedung, mengunjungi mesin waktu


yang bisa membawaku pergi ke masa depan.


Apakah bisa? Apakah bisa? Apakah bisa? Apakah bisa?


Tolonglah bisa!


Pintu diketuk, bersamaan dengan jantungku yang kencang berdegup.


“Oh, Ragib? Masuk masuk,” ucap seseorang begitu pintu dibuka, menjawab


perasaanku yang sempat terpuruk tenggelam. Seperti matahari yang akhirnya


terbit, ventilasi dan gorden pun terbuka untuk menyinari ruangan yang gelap


gulita.


Memberi harapan, memberikan kesempatan.


“Kkkkk. Makasih makasih,” ucapku dengan panik yang tak lagi membelenggu.


“Tumben sepi. Kemarin habis rapat apa? Kayaknya sibuk banget. Kkkkk!”


“Yah, ada lah pokoknya. Lo gak perlu tahu. Eh iya, Gib. Lo masih punya


duit? Kita mau beli camilan nih. Kemarin habis pas rapat,” timpal Balkis dari


balik meja sambil memainkan ponselnya.


“Hah? Jadi kemarin kalian rapat atau malah acara makan-makan, nih?


Gimana sih kok gue ga diajak. Kkkk! Ada kok. Butuh berapa?”


“Serius gue. Kemarin isi rapatnya daging semua. Capek kita. Butuh


energi. Makanan kan sumber energi, tiba-tiba habis deh. 100 ribu aja untuk


minggu ini.”


“Nih,” uang merah pun langsung aku simpan di meja Balkis.


“Oke. Lo memang bisa diandalkan, Gib. Makasih, ya!” imbuh Balkis yang


praktis membuatku tersenyum panjang, bahkan sampai tidak bisa aku sembunyikan.


Aku hampir terkekeh, hampir melayang terbang hingga nirwana. “Tunggu. Baju lo


tumben rapi,” tanya Balkis menahanku, yang dilanjutkan dengan endusan dari


hidung peseknya. “Hah? Kok lo wangi banget, sih? Parfum mahal, nih! Gue tahu


banget. Lo abis dari mana, buset?”


Kali ini aku benar-benar tidak bisa menahan senyum, bahkan mungkin


tembus sedikit? Yang langsung kulanjutkan dengan dada yang dibusungkan. Aku


pamerkan tubuhku yang baru, dengan serba-serbi aksesoris yang ternyata langsung


disinggung oleh Balkis.


“He He He,” ejekku kemudian.


Kemarin malam, ketika Suci masih sibuk membicarakan ini itu penuh


energi, aku yang belum bisa memecahkan solusi bagaimana harus melewati hari di


tempat yang tidak kuketahui, langsung diberikan saran, anjuran, dan tumpangan


dari Mama Suci. Suatu saat, pintu kamar Suci diketuk tiga kali. Suci menjawab


seperlunya, dibukalah pintu untuk menunjukkan wanita tua dengan rambut pirang


dan mata biru cerah, serta wanita perawat yang menunduk hormat di sampingnya.


Tunggu. Ada penampakan yang bersembunyi di balik wanita perawat.


Dengan menggenggam seragam wanita perawat kuat-kuat, penampakan ini


berusaha sebisa mungkin untuk tidak melakukan kontak mata. Seperti sedang


mengintip, seperti kehadirannya tidak ingin diketahui. Masalahnya, besar badan


dari penampakan di belakang wanita perawat itu bukannya lebih kecil, bahkan


lebih besar dari wanita perawat? Penampakan itu merupakan seorang gadis,


memantulkan cahaya dari kacamata bulatnya, dengan rambut bergelombang melebihi


pundak—dan jika diperhatikan lebih lanjut—yang menutupi sesuatu di lehernya.


Terlihat bekas luka yang jumlahnya tidak sedikit, tersebar di seluruh


leher, beberapa bagian dagu, juga pipinya. Itu Nila? pikirku menerka.


“Maafkan telat memperkenalkan diri. Saya Mama Suci, atau… saya


mengganggu kalian? Maaf, ya,” wanita dengan rambut pirang memulai percakapan


sambil menunduk.


“Khk, ti-tidak, Tante! Saya tidak terganggu, kok! Sa-saya justru


berterima kasih,” jawabku gugup. Lagipula, aku dan Suci bukannya sedang


melakukan hal yang tidak senonoh, kok! Kita hanya duduk berdampingan di atas


meja belajar, menonton video-video binatang dan kucing lucu di dalam laptop.


“Mama!” sebut Suci antusias dan langsung memeluknya erat-erat.


“Suci! Kamu masih semangat, ya,” jawab Mama Suci lalu berpeluk erat


dengan anaknya. “Ekehm. Maaf… nama-nya…?”


“Saya Ra-Ragib, Tante!”


“Dengan Nak Ragib, ya. Suci tidak pernah bercerita tentang kamu. Dia


memaksa kamu datang? Maaf merepotkan, ya,” ucap Mama Suci sambil membelai Suci.


“Ti-tidak masalah, tante. Saya tidak keberatan, kok.”


“Ohoho. Kamu anak baik ya, Nak Ragib. Tapi, hari sudah larut malam. Saya


tidak keberatan untuk menyiapkan makan malam dan ruang tidur. Tapi, bagaimana


dengan orang tuamu? Kamu tidak apa-apa?”


“... ti-tidak. Tidak masalah? Saya pikir…”


“Baiklah. Kalau begitu, kita makan malam dahulu, yuk! Sudah jam sembilan


malam.”


“Ah, ba-baik, tante. Ad-aduh, saya jadi sungkan tidak enak, nih…”


“Ohohoho, Santai saja, Nak Ragib. Ikut saja. Makin banyak makin seru,


kan?” ajak Mama Suci membalikkan badan sembari memberikan gestur tangan seperti


mengajakku untuk mengikutinya turun ke lantai bawah.


Diakhiri dengan anggukan wanita perawat dan tatapan sinis Nila seperti


ular berbisa, aku hanya bisa mengikuti dengan kaku, berjalan dengan gelagapan. Tidak


perlu pulang ke rumah, tidak perlu repot mengurusi bagaimana akan melewati


malam, tahu-tahu disuguhi penginapan, batinku tersenyum bahagia.


Tanpa berpikir dua kali, aku langsung mengikuti Mama Suci dengan


semangat, untuk turun ke lantai bawah dan mengikuti sesi makan malam bersama


mereka.


Melewati jalur ketika aku ditarik Suci dari ruangan—yang aku asumsikan


sebagai ruang bermain—tadi, aku langsung melihat ruang makan di sebelah kiri


yang sekarang sudah terisi dengan sempurna oleh menu makan malam yang terlihat


elegan dan mewah. Tidak lupa juga dengan sapaan singkat oleh seorang pria tua


yang berumur sekitar 50 tahun dengan rambut pirang dan mata biru terang


(sepertinya Papa Suci), suasana yang timbul seperti penuh kasih sayang dan


kehangatan.


"Wah, rupanya ada Nila, ya? Maaf, ya,” ucap Papa Suci entahlah maksudnya


apa. Kalau dia adalah kepala keluarga rumah ini, kenapa harus minta maaf

__ADS_1


segala?


“Papa!” seru Suci berlari memeluk Papanya, yang langsung disambut dengan


tangan terbuka. Papa Suci balas memeluk Suci, disusul Mamanya untuk duduk di


sampingnya, praktis membuatku dan yang lain ikut untuk duduk di sekitarnya.


Aku yang masih gelagapan langsung lirik kiri-kanan, tidak sengaja


menelaah melihat apa saja menu makan malam ini. Di wadah kaca putih ada sup


jamur, ada pula mangkuk penuh dengan sayuran seperti selada, tomat, bawang


bombai, bahkan alpukat, dan apel yang dihiasi oleh mayones di atasnya, ada pula


menu utama yang terdiri dari ayam panggang satu ekor, dan diakhiri dengan


puding stroberi dingin yang sudah dipotong-potong.


Tersenyum dan menertawai kegagapanku, Mama Suci membantuku untuk


menuangkan makanan di dalam piring. “Mau sup terlebih dahulu? Atau langsung


ayam panggangnya?” tanyanya ringan penuh senyuman.


Aku hanya bisa mengangguk tak karuan, yang membuat Papa Suci ikut


tertawa menambah keseruan makan malam. Bahkan beliau mulai untuk bertanya-tanya


tentang asal-usul keberadaanku (karena tiba-tiba datang di meja makan mereka).


Beliau sebenarnya sempat menoleh bertanya kepada Suci, tapi gadis itu masih


sibuk pada makanannya sendiri.


Aku hanya bisa menepuk jidat, langsung menjawab Papa Suci seadanya,


sejujurnya, dan apa adanya. Beruntung, orang tua Suci adalah pendengar yang


baik. Mereka mendengarkan ceritaku dengan khidmat, yang membuatku lebih


bersemangat untuk bercerita lebih lanjut. Aku seperti diterima oleh mereka,


bukan lagi orang asing yang tiba-tiba datang yang hanya ikut mampir merepotkan.


Sayangnya, respon gadis berkacamata bulat yang menyendiri di ujung meja


sangatlah jauh berbeda. Dia masih menatap dengan sinis, penuh rasa curiga dan


keringat dingin.


Dia tidak duduk terlalu jauh? Kalau begini pemandangannya, justru Nila


yang terlihat seperti orang asing atau anak buangan?


Yah, itu bukan masalah untukku, sih.


Makan malam pun berlangsung dengan sangat khidmat, dengan penuh canda tawa,


penuh kehangatan baik dari suasannya, penerangan lampunya, maupun dari


hidangangannya itu sendiri. Kapan terakhir kali aku bisa makan dengan layak,


ya? tanyaku dalam hati.


Aku beruntung, air mataku sudah habis pada saat bermain dengan Suci di


kamarnya tadi. Meskipun aku tetap merasakan perasaan yang ganjil ini, aku masih


bisa menahannya dengan baik. Tidak perlu lagi menangis, tidak perlu lagi


merepotkan yang lain.


Sayangnya, kehangatan dan rasa nyaman disudahi begitu saja bersamaan


dengan acara makan malam itu sendiri. Orang tua Suci masih memiliki kesibukan


yang harus dikerjakan, dan Nila pun menculik Suci dengan dalih akan menemaninya


tidur. “Tante, Aku boleh tidur bareng Suci lagi, kan?” tanya Nila tanpa


basa-basi.


“Tentu saja, sayang. Suci juga kelihatannya sudah mengantuk begitu,”


jawab Mama Suci dengan tenang. Cup, lanjutnya dengan mencium dahi Suci


tanda selamat malam.


Dan dengan begitu, Nila langsung merangkul Suci, membawanya pergi menuju


kamar untuk tidur bersama. Hmm… Mereka sudah terbiasa untuk tidur bersama?


Aku pikir itu wajar saja jika melihat kasur Suci yang begitu besar.


Tapi, Suci masih ingin tidur ditemani?


Kkkk. Dia benar-benar seperti anak kecil, ya.


“Ragib, kamu boleh pakai ruang bermain untuk menginap. Tidak apa-apa,


kan?” suara damai Mama Suci langsung menyentuh kalbuku. “Maaf. Saya belum


mempersiapkan kamar tamunya karena berbagai masalah. Tapi, disana tetap ada


kasur yang nyaman, kok.”


“Ah! Tidak apa, Tante! Boleh menginap juga saya sangat berterima kasih,”


jawabku sambil menunduk.


“Ohoho. Anakku sayangku!” lanjut Mama Suci memeluk kepalaku sebentar,


mengusapnya pelan, dilanjut untuk menuntunku pergi ruang bermain bersama.


Seperti dugaanku, bagian menjorok di sudut kanan ruang bermain tersedia


sebuah kasur dengan bantal dan selimut yang nyaman untuk satu orang. Setelah


ditunjukkan berbagai macam sakelar untuk penerangan, Mama Suci pun langsung


pamit undur diri. “Selamat tidur. Besok bangun pagi-pagi, ya!”


PAGINYA, aku bangun subuh-subuh sekali. Meskipun kasurnya sangat empuk—mungkin karena aku


tidur di kasur asing—aku tetap bisa bangun pagi begitu saja. “Mau apa, ya?”


tanyaku canggung dan kebingungan sambil duduk di atas kasur, menatap


lamat-lamat sekali lagi ruang bermain dengan fasilitas lengkap ini.


Aku jadi iri. Ingin coba bermain komputernya…



Tuk tuk, suara ketukan


datang dari pintu. Setelahnya muncul pertanyaan dari suara yang cukup serak,


suara wanita perawat. Aku datang menjemput suara, membukanya dengan penuh tanda


tanya. Tidak. Aku justru sangat antusias karena akhirnya aku diselamatkan. Aku


akhirnya bisa mulai beraktifitas, tidak merasa canggung lagi terpaksa berdiam


diri saja.


Ternyata, aku diperbolehkan untuk menggunakan kamar mandi di depan ruang


bermain ini, kamar mandi yang kemarin aku gunakan juga untuk membasuh dan


membersihkan diri bekas minuman yang tumpah. Tidak lagi ambigu untuk ‘membasuh’


saja, aku benar-benar dipersilakan untuk mandi dengan bebas. Apalagi, dengan


fakta bahwa anggota keluarga Suci lain menggunakan kamar mandi yang berbeda,


aku tidak perlu risau dan khawatir akan durasi penggunaannya.


Aku bisa beradaptasi dengan air pancuran shower serta


tombol-tombolnya pelan-pelan, memilih dan menimbang lamat-lamat apakah aku


harus mandi dengan air panas atau air dingin, mulai membasuh badan hingga sela-sela


dengan sabun cair yang tersedia (yang sangat harum), lalu juga hingga bagian


kepala dan keramas (masih harum sekali), mencuci muka (yang sangat segar),


hingga akhirnya diselesaikan dengan handuk putih (yang sangat lembut dan


menggelitik) untuk mengeringkan betul-betul seluruh permukaan kulit.


Oh. Tidak lupa, aku keluarkan juga semua ampas sisa makan semalam di


Setelah benar-benar selesai, aku langsung mengambil seragam yang terdiri


dari kemeja putih dan celana abu-abu yang sudah dicuci kering oleh wanita


perawat (hebat sekali bisa kering dalam semalam), beserta kaus dan ****** *****


yang terlihat baru karena masih disimpan dalam box penjualannya.


“Rapi banget! Mulus, gak ada lipatan, udah kayak seragam baru aja.


Kkkk,” kekehku terkagum melihat cermin di depan. Bahkan, aku sampai mengendus


mencium aroma dari seragam ini sendiri yang aromanya serupa dengan sabun dan


sampo saat mandi. Seperti aroma bunga entahlah apa, tidak terlalu kuat, tapi


sangat menyejukkan. Membuat lubang hidungku meregang sendirinya, menggelitik


setiap bulu yang tersembunyi di dalamnya.


Fuahhhh! Aku merasa seperti terlahir kembali.


Tidak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi dan menciptakan kesan yang


buruk, aku pun langsung membuka pintu dan siap membantu melakukan aktivitas


apapun. Namun, tidak seperti sebelumnya, sekarang wanita perawat tidak lagi


datang melayaniku. Ada majikannya yang harus dilayani dengan baik, terutama


dalam kesibukan pagi seperti menyiapkan makan dan segala urusannya, seperti


urusan dua gadis di depan ruangan keluarga ini. Terlihat Nila tengah merangkul


dan berusaha sekuat tenaga memanggul Suci yang setengah tidur, bahkan masih


mengenakan piyama tidur. Mereka berjalan sempoyongan, Suci terlihat malas


melakukan apa-apa.


“Haaaaaaaaaaa!” raung Suci entahlah protes karena malas bangun, atau


sebuah upaya untuk terus terjaga.


Aku menatap tak berkomentar, hanya melakukan tugas sebagai penonton yang


menikmati kesibukan hidup orang lain—karena aku disuruh untuk sarapan dan


siap-siap sendiri saja. Selesai dengan Suci, Nila langsung ikut membantu wanita


perawat menyiapkan segala urusan sebelum berangkat pergi, Mama Suci membantu


anaknya untuk melakukan mandi pagi, dan Papa Suci yang tidak terlihat entahlah


dimana. “Tuan sudah berangkat subuh tadi,” jawab wanita perawat pada pertanyaan


isengku. “Mas Ragib sudah siap?”


“Siap!” ucapku hormat setelah semuanya rampung.


“Hati-hati dan selamat jalan!” lambai wanita perawat di depan teras.


Dan dengan begitu, aku yang sudah mengikat tali sepatu mulai pergi


keluar rumah bersama Suci (yang masih separuh mengantuk), meninggalkan wanita


perawat dan Mama Suci yang masih mengenakan jubah mandi, pergi menuruni tangga


teras untuk menuju mobil yang sudah siap berangkat mengantarkan kami ke


sekolah.


“Oh, Nila tidak ikut?” tanyaku begitu membuka pintu mobil.


“Mbak Nila berbeda sekolah dengan Suci. Sekolahnya pun hanya berjarak


jalan kaki dari sini. Jadi tidak perlu ikut,” ucap sang sopir dengan suara


bulat yang mulai menancap gas siap berangkat.


SETELAH pamer


secukupnya pada Balkis, berdiskusi masalah kudapan yang harus dibeli untuk


teman melakukan rapat, lalu menghabiskan waktu sampai senja, ternyata aku tidak


bisa berlama-lama di dalam mesin waktu ini. Para penghuni akan segera pulang,


dan sekali lagi aku ditinggalkan sendirian.


Aku sebenarnya ingin menggunakan mesin waktu ini untuk menyelesaikan


masalah kesendirian, untuk melupakan perasaan ini, dan pergi maju ke masa


depan. Sayangnya, untuk hari ini pintu akan dikunci rapat, aku tidak bisa


menggunakannya sama sekali, aku ditendang dibuang tidak diinginkan.


Tidak ada Balkis, Remi, maupun Faisal?


Kemana sekarang aku pergi?


Kemana? Kemana? Kemana? Kemana? Kemana? Kemana?


Cari seseorang… Jangan sendirian… Pergi bantu teman…


Apakah tidak masalah jika aku pergi mengunjungi Atma?


Apakah baik-baik saja hubungan kami setelah kedatangan Gatra kemarin?


Gatra mau apa, sih!? Apakah dia akan menculik Atma dariku juga? Seperti


yang diceritakan orang-orang bahwa beruang besar itu adalah playboy kelas


kakap?



Atma, tolong aku, ya! batinku berharap seraya langkah mulai diambil untuk turun ke lantai


dasar. Dengan alis yang mengernyit, bibir yang kugigit, napas yang mulai cepat,


hingga tangan yang bergetar tidak bisa diam, aku melangkah pelan-pelan melewati


area makan kantin, lalu pergi lebih lanjut menuju dapur yang berada lebih


dalam. Melewati warung serba ada, lalu ada stand yang menjual seblak dan


bakso, lalu ada juga nasi dan mi goreng, hingga berakhir di stand dapur


yang menjual berbagai jus buah dan gorengan.


            “…?”


            “Ah, Ragib? Mau beli sesuatu? Gorengannya


masih panas, loh!”


            “Ah, enggak, pak. Masih kenyang. Lagipula


sudah waktunya pulang. Bapak tidak pulang juga? Wah, adonannya masih banyak,


ya. Semangat, pak! Semoga laku, ya! Kkkkk,” kekehku jahil pada seorang pria tua


yang kulitnya penuh keriput namun terlihat mengilap mungkin karena pengaruh


minyak. Itu Ayahnya Atma. Dia masih semangat menjajakan dagangannya sembari


ditemani oleh dua anak kecil (mungkin umurnya di bawah delapan tahun) yang


sedang tidur di balik kursi bambu panjang di belakangnya.


            “Oh. Nyari Atma? Dia tadi pergi bawa jus


buah. Gak tahu kemana. Tapi masih di sekolah, kok. Mungkin jualan ke sekitar,”


lanjut Ayah Atma sambil meniriskan minyak dari belasan gorengan yang diangkat


menggunakan saringan.


            “Kkkk. Bapak tahu aja. Makasih, ya!” sahutku


sambil melambai pergi.


            Setelah mendapatkan informasi, tanpa


basa-basi aku pun langsung mencari dimana Atma berkelana menjajakan dagangan.

__ADS_1


Sudah menjadi kebiasaan dan keseharian baginya untuk membantu orang tuanya


seperti ini. Dia adalah gadis pekerja keras, selalu berusaha yang terbaik untuk


adik-adiknya, selalu berputar mencari pelanggan sekaligus teman.


Sayangnya, dia memang sering mendapatkan kesialan yang sangat tidak


wajar.


            Pernah suatu ketika, Atma yang sedang


beristirahat di lapangan belakang (karena baru selesai berolahraga) harus


ditabrak oleh seorang murid ceroboh sehingga makan siangnya terjatuh ke taman


sebelah yang dibatasi pagar kawat. Sebenarnya, tidak ada masalah dengan bekal


Atma. Bekalnya masih terbungkus, masih terlindungi. Masalahnya muncul ketika


Atma berusaha untuk mengambil bekalnya di balik pagar kawat tersebut. Karena


Atma menginginkan solusi yang cepat, dia berusaha meraih menggapai bekalnya


lewat lubang pagar kawat yang sedikit sempit. Naas, Atma malah sial untuk


tersangkut separuh badannya, sehingga sulit ditarik keluar. Padahal,


siswa-siswa yang bolos sering melewati lubang pagar kawat tersebut untuk


melancarkan aksinya dan tidak ada tanda-tanda kegagalan. Lalu, kenapa


giliran Atma yang malah harus tersangkut? Tubuh Atma bahkan tidak besar?


Berkatnya, pagar kawat pun dipotong seperlunya untuk sekalian diganti


dengan kawat yang baru. Tidak ada lagi lubang, tidak ada lagi upaya percobaan


bolos dari murid-murid berandalan.


Atau, pernah ada juga kejadian ketika Atma diminta untuk membeli sebuah


barang dari toko di luar sekolah (Atma yang mengajukan diri), pulang-pulang


gadis ini malah kembali dengan keadaan seragam yang basah kuyup. Menurut


ceritanya, dia mendapat cipratan air dari mobil yang melintasi kubangan di


jalan sebelahnya. Meskipun langit mendung, Atma pun sudah membawa payung,


nyatanya air membasahinya bukan dari atas langit. Seperti biasa, Atma hanya


tertawa saja menceritakan semua kesialannya ini.


“Apakah dia pergi ke lapangan belakang, ya?” tanyaku masih berusaha


mencari dimana gerangan gadis dengan rambut mengembang tersebut. Ternyata,


betul saja. Karena hari ini sedang ada latihan ekstrakurikuler basket, Atma


menggunakan kesempatan tersebut untuk menjajakan minuman dan kudapan ringan


kepada murid-murid yang lelah berolahraga.


Di koridor dengan kursi panjang yang menghadap ke lapangan, sudah duduk


dengan santai Atma dengan wadah besar di sampingnya yang terisi separuh oleh


dagangannya. Mungkin seseorang sudah membelinya? “Atma!” seruku


kemudian. Atma menoleh, langsung melambaikan tangan dan mempersilakanku untuk


duduk di sampingnya.


“Halo, Gib! Kemarin kemana? Lo ngilang lagi, nih. Sebel, deh!” protes


Atma.


“Kkkk. Iya nih. Gak tahu gue juga. Tiba-tiba masalah gue jadi hancur


berantakan gitu. Eh, beli esnya dong.”


“Oohh. Fufufu, masalah ulangan pasti, ya? Lo belajar yang bener, dong.


Masa iya nanti ngulang kelas lagi?” sindi Atma sambil memberikan ice stick berwarna


kuning.


“Gue bukannya pengen tinggal kelas juga, kali. Cuman ya gimana lagi?


Remi dan yang lain emang nguras waktu banget. Gak ada waktu untuk belajar. Tapi


tanpa mereka, gue juga gak mau sendirian. Pokoknya gitu, deh,” keluhku sambil


mengemut ice stick rasa jeruk lemon ini. “Oh, iya. Kemarin gue liat lo


dilabrak sama Cindy? Kenapa tuh? Kalian gak pernah ada masalah, kan? Apalagi


secara teknis dia adik kelas lo. Berani banget! Kkkkk,” lanjutku mengalihkan


pembicaraan.


            “Ufufufu-fufu. Iya! Lucu banget tahu, gak?


Kalau lagi ada latihan ekskul apapun gue pasti diem di sini kan, ya? Jualan


apapun pokoknya. Nah, Cindy ini katanya punya crush gitu ke anak basket


gue gak tahu siapa. Nah, sebagai teman yang baik, temen-temen Cindy minta gue


untuk berhenti cari muka sama crush-nya Cindy. ‘Buset,’ gue bilang.


‘Mana gue tahu yang mana orangnya!?’ Padahal gue ya temenan sama siapa aja.


Yang mau beli makanan, minuman, siapapun boleh. Kalau masalah temen, semua juga


berteman. Gue juga kalau deketan sama orang yang paling sama lo doang, Gib.


Orang-orang juga sering liat lo bantu jualan orang tua gue, kan? Tapi, ya gitu


deh. Ufufufu-fufu,” jelas Atma disusul gelak tawa.


            “Terus gimana? Gue liat sampe Gatra dateng,


sih. Makanya gue gak jadi nyamperin. Gatra bukannya tipe orang dingin, ya? Gue


pikir semua orang benci sama dia?”


            “Hah!? Apa iya? Gue gak ngerasain itu, kok.


Ah, kebetulan. Ada orangnya, tuh. Gatra!” panggil Atma pada sang sosok besar


yang baru saja kita bicarakan.


Sebenarnya, aku yang selalu bermain kesana kemari menawarkan bantuan


mencari teman (agar tidak sendirian), tentu kenal dengan Gatra. Semua orang di


sekolah kenal dengannya, karena perawakan besar tinggi tidak mungkin dilewatkan


orang-orang. Hanya saja, seperti yang Remi katakan, orang-orang menjauhi Gatra


karena memiliki ekspresi yang dingin dan matanya yang menyerupai mata ikan


mati. Aku sungkan untuk memulai pembicaraan kepadanya, karena kehadiran Gatra


seperti memiliki pelindung besar untuk menyuruh orang-orang pergi dari


hadapannya.


“Gatra, ini Ragib. Gib, ini Gatra!” seru Atma yang memperkenalkan kami


berdua sambil memukul punggung Gatra. Aku pun menunduk hormat sebagai


formalitas, meskipun mata masih tidak bisa berpaling dari perawakan besarnya


ini.


Gatra sebenarnya siswa kelas 11. Tapi, perawakannya tidak menunjukkan


sebagai manusia normal berumur 16 tahun. Tingginya sekitar 170 sampai 180


senti, pundaknya lebar, dadanya membidang, otonya kuat dan berisi, tapi bukan


seperti otot yang dilatih di dalam gym sehingga begitu keras. Rambutnya


tipis cepak, alisnya tajam menukik, dengan tatapannya seperti ikan mati


memberikan kesan bahwa dia seperti sedang kesal, marah, atau kecewa kepada


lawan bicaranya. “Saya Gatra, kak,” jawab monster besar ini sambil menawarkan


tangannya untuk berjabat.


Ketika kami saling jabat tangan, aku merasakan genggaman yang kuat dari


tangan Gatra ini. Memang pantas dia menjadi pemain unggulan ekstrakurikuler


basket, pikirku


Atma sendiri sebenarnya sedikit lebih pendek dariku. Tapi, jika aku


membandingkannya lagi, aku jauh lebih pendek daripada Gatra. Sekarang, melihat


Atma yang memukul-mukul punggung Gatra dan mereka berdua berdiri berdampingan,


seperti melihat seorang putri bangsawan dan pengawal pribadinya yang garang.


Putri ini adalah gadis yang nakal, yang memiliki sifat untuk bebas melakukan


apapun, bahkan menjahili pengawalnya yang ukurannya lebih besar dari sang putri


sendiri. Pengawal ini terlihat sangat loyal dan setia, namun sepertinya sedikit


canggung. Entahlah bagaimana cara merespon perasaan sang putri, sehingga hanya


bisa menjadi samsak tinjunya saja.


“Maaf. Saya masih ada latihan. Du-luan,” ucap Gatra dengan suara tipis


seperti sedang berbisik, sangat tidak cocok dengan perawakannya. Apakah Gatra


justru pemalu?


Dan dengan begitu, Gatra kembali memasuki lapangan, menemui


teman-temannya, untuk lanjut mendominasi latihan tanding yang sedang dilakukan


tersebut. Gatra terlihat sangat menonjol, karena menjadi pemain tertinggi di


antara temannya. Tidak hanya mengintimidasi lawan untuk enggan menembak


mencetak angka, perawakan besarnya ini pun terlihat mengintimidasi temannya


untuk selalu mengoper bola padanya.


“Gue jadi iri. Gatra punya sesuatu yang dia kuasai, lo juga punya


sesuatu yang lo lakuin dan sukai. Gue gak pernah punya apa-apa selain main


kesana kemari,” celetukku lirih sembari menonton terus permainan basket yang


Gatra tampilkan di lapangan.


“Hm? Kenapa?”


“...! Ah, enggak. Enggak… gapapa,” sangkalku pada Atma. “Tapi, Gatra


mainnya bagus banget, ya. Sayang tadi kita gak banyak bicara. Dia orangnya


gimana? Lo suka dia?”


“Gue suka Gatra? Kenapa lo tanya gitu? Fufu-fu! Kenapa, nih?” goda Atma


sambil terkekeh. “Lo cemburu, ya? Jarang-jarang nih lo keliatan cemburu!


Ufufufu-fufu,” lanjutnya sambil menepuk (memukul) punggungku.


“Gue pikir orang-orang benci sama Gatra. Tapi, lo justru gak sependapat?


Gue sedikit bingung ketika ngeliat langsung. Bikin ngeri, tatapannya sadis,


tapi dia kayakknya orang baik-baik aja, bukan orang yang bakal celakai orang


lain.”


“Yang gue tahu, dia justru manis banget, loh! Waktu itu gue liat dia


kasih makan kucing jalanan, main, bahkan ngelus perutnya juga! Kemarin pun dia


bantu melerai Cindy.”


“Oh, ya? Gatra akrab sama kucing?”


“Yup. Kenapa memangnya? Tumben penasaran banget sama Gatra. Emang dia


ada masalah sama OSIS? Atau lo beneran cemburu sama gue? Hah!? Ya ampun terharu


banget gue, Gib. Fufu-fufu! Tenang-tenang. Gue bisa yakinin lo, kok. Nih. Gue


kemarin–”


“RAAGIIIIB!” teriak seorang gadis yang memotong suara Atma. Tidak hanya


aku dan Atma, teriakan ini mencuri juga semua perhatian seluruh siswa yang


mendengarnya. Mereka menghentikan aktivitasnya, mereka penasaran dan menoleh


mencari sumber suara.


Dengan suara cemprengnya, ini seperti teriakan seorang anak kecil yang


mencari temannya untuk mengajaknya bermain bersama. Sebenarnya, aku tidak ingin


peduli, apalagi karena telah memotong pembicaraanku dengan Atma. Tapi, melihat


tingkahnya kemarin seperti anak kecil yang hilang dan butuh bantuan, aku


langsung beranjak mencari dan berusaha menenangkan pembuat onar yang berteriak


sore-sore seperti ini.


“Apa, sih!? Jangan teriak-teriak begitu, dong!” protesku sambil


mendekati sang pemilik suara, seorang gadis bernama Suci. Merasa teriakannya


telah dijawab, Suci langsung mencari keberadaanku, langsung mendekatiku juga


untuk mengajak tos dan berputar menari-nari sambil tertawa bahagia tanpa dosa.


“Ragib! Kamu lagi apa!?”


“Hah? Lagi diem aja. Ngisi waktu liat orang main basket,” jawabku pada


Suci sambil membawanya pergi ke kursi panjang tempatku duduk tadi, untuk aku


temukan dua gadis ini seperti yang barusan dilakukan Atma. “Suci, ini Atma.


Perkenalkan diri–”


“Kamu diem gak ngapa-ngapain? Kok gak belajar? Belajar! Nanti minggu gak


pergi? Kamu bohong!?” protes Suci memotong pembicaraan.


“Hah? Kenapa jadi bohong? Bilangnya baru kemarin, kan? Kita juga belum


ada rencana untuk belajar bareng? Kenapa harus cepat-cepat?”


“Gak! Belajar! Sekarang! Harus pergi hari minggu! Cepat!” perintah Suci


protes.


“Eh? Eh? Kok jadi gitu? T-tunggu!”


“Gak boleh bohong! Belajar! Ragib nakal!” paksa Suci sambil menarik


tangan dan menculikku dari sesi tontonan sore ini. Tidak ada protes yang bisa


dilayangkan, tidak ada penjelasan yang bisa aku berikan, karena aku sendiri pun


bukannya menolak hal ini terjadi sebenarnya, sih.


\~\~\~\~\~\~\~\~


Kasian banget ya hidup Ragib


Huhuhuhuh T.T


Gak tau salah apa, tiba-tiba temennya ninggalin gitu aja


Siapa sih yang bisa tahan ditinggalin gitu :”)


Selamat datang lagi, teman-teman!


Meskipun akhirnya Ragib ada yang temenin, lagi-lagi dia dipaksa Suci?


Kayanya Suci egois banget ya?


Kira-kira ada apa, nih? Kalian pernah punya temen yang egois kaya Suci juga?


(Meskipun Ragib bingung juga nih, Suci betulan temen atau bukan huhuhuh)


Btw …

__ADS_1


See you next time ;)


Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!


__ADS_2