Setan, Suci, Siuman

Setan, Suci, Siuman
Bab 8: Perempuan yang Aneh Sekali


__ADS_3

PADA dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Mereka ingin bercengkrama dengan manusia lain,


mereka butuh untuk bersama manusia lain. Segala cara dilakukan agar bisa


melakukan hubungan dengan manusia lain, salah satunya adalah untuk menyukai,


memiliki, atau bahkan menjadi sesuatu yang sama dan serupa. Manusia


lebih menyukai sesuatu yang sudah disukai banyak orang, manusia ingin menjadi


satu kesatuan. Mengedepankan sama rata sama rasa, semuanya perlu untuk berlaku


hal yang sama.


Kenapa? Karena kita semua ingin merasa diterima.


Dengan konsep tersebut, karena manusia merupakan satu kesatuan yang


sama, maka tidak boleh ada cacat di dalamnya. Jika terdapat sebuah cacat, tidak


segan kita semua menghardik cacat yang berbeda tersebut, menggunjingnya, bahkan


hingga mengeluarkannya dari dalam komunitas sosial itu sendiri.


Umumnya, di dalam suatu komunitas terdapat jenis manusia alpha sebagai pemimpin, yang biasanya memiliki suara terbesar yang didengar oleh


orang lain. Suaranya absolut, suaranya tidak pernah salah, semuanya mendukung


suara tersebut, semuanya bahkan rela melakukan apapun yang suara tersebut


perintahkan.


Tahun lalu, mungkin juga tahun ini, atau sejak awal, aku terperangkap


dalam kelompok homogen ini. Kelompok yang meminta setiap anggota harus merubah


penampilan, kebiasaan, beradaptasi terhadap kualifikasi yang kelompok inginkan.


Aku, sebagai orang yang membutuhkan relasi sebagai tempat tinggal, tentunya


terpaksa untuk merubah diri pula.


Meskipun begitu, aku tetap melakukan ini dengan sukarela.


Daripada harus diserang asma dan mati mendadak? Lagipula membantu orang


lain bukanlah hal yang merugikan. Kelak, mereka akan melakukan balas budi juga,


kan? Aku sedang melakukan investasi untuk masa depan.


Meskipun sampai saat ini aku belum merasakannya juga, sih.


Sampai pada titik aku sudah terbiasa untuk membantu dan tidak ambil


pusing lagi terhadap balas budi yang kutunggu. Yang penting, asalkan hari ini


aku memiliki tempat bernaung, akan kulakukan apapun, kapanpun, dan dimanapun.


Nomaden…? Mungkin itu kata yang cocok untukku sekarang?


Kejadian tentang kelompok homogen ini bukannya mengusikku atau segala


macam. Ketika membicarakan Suci, dia adalah salah satu dari korban kejahatan


yang pernah aku lakukan sebagai kelompok homogen. Melihatnya masih fokus pada


dunianya sendiri, malah membuatku sedikit merasa bersalah. Tidak. Bukan sedikit


lagi. Aku memang merasa bersalah atas semua hal yang tidak kulakukan untuknya.


Lagipula, mau bagaimana lagi? Ini semua hanya pekerjaan, sama sekali bukan


urusan pribadi.


Pada saat itu, Suci hanya sedang menjadi dirinya sendiri, seperti yang


sedang kusaksikan saat ini. Sibuk dengan urusan dan dunianya sendiri, tidak ada


yang direpotkan, tidak ada yang peduli juga. Hanya saja, komunitas homogen ini


gemar untuk melakukan pekerjaan atas dasar kemanusiaan, untuk menjunjung tinggi


nilai moralitas yang mereka percaya. Mereka berusaha menyampaikan kebenaran,


berusaha memberi saran terhadap siapapun yang melakukan kesalahan (dengan tidak


jarang menggunakan kekerasan).


Padahal, aku sendiri tidak tahu apa batas dari kebenaran dan kesalahan


tersebut, selain sesuatu yang tidak lebih tebal dari sehelai rambut, yang


manusia alpha ini ciptakan sendiri. Rentan, sangat rapuh, bisa terkoyak


dan rusak dengan mudah. Namun, karena ini merupakan titah dan keputusan sang


manusia alpha, tidak ada yang mengomentari sama sekali, karena


kepercayaan yang sudah membutakan mata para pengikutnya.


Ditambah dengan kemampuan sang manusia alpha bernama Gen dalam


berbicara yang berkarisma, juga mendapatkan suntikan dana yang cukup besar,


kepalanya pun menjadi besar (tidak secara harfiah) untuk benar-benar bebas


melakukan apapun yang dia inginkan.


Meskipun mencuri atau membunuh, mungkin para pengikutnya pasti berpikir


ini adalah kejahatan yang diperlukan menuju kebaikan dengan skala yang lebih


besar. Semuanya dijustifikasi, semuanya tutup mata untuk mengakui kebenaran


yang nyata.


Termasuk diriku juga, karena Gen memang benar-benar mempengaruhi semua


orang.


Lidahnya lihai dalam memotivasi bawahannya, pun bisa menjilat seseorang


yang lebih tua darinya. Gen selalu mengonfirmasi kecurigaan yang seseorang


khawatirkan, ikut melempar batu pada musuh yang sama, membantu dan mendorong


mimpi pengikutnya, melakukan pembenaran kesalahan, hingga menghilangkan rasa


takut terhadap apapun. Manusia alpha ini menjadi rumah, sekaligus jati


diri baru bagi pengikutnya.


Semuanya terpana, meleleh dibuatnya. Tidak ingin mencoba menjadi


musuhnya, sebagian murid sekolah pun memilih untuk berada dalam genggamannya.


Siap menjadi kurir makanan untuknya, siap memberikan catatan sekolah untuknya,


membersihkan setiap peluh keringatnya, memijat otot-otot lelahnya, menjadi


kursi untuknya, menjadi pijakannya.


Aku sempat penasaran. Apakah nilainya yang bagus di sekolah adalah


pemberian guru? Atau justru dia memang anak yang pintar?


Sebenarnya, setelah mendengar ucapannya yang memiliki tingkatan tinggi,


aku rasa ujian sekolah hanya sekadar omong kosong untuknya. Tapi, apakah itu


memang sesuatu yang bisa terjadi setelah semua hal yang dia lakukan? Aku


sedikit memiliki keraguan.


Tapi setelahnya, aku berhenti berpikir saja.


Salah satu tingkah angkuh Gen sebagai manusia alpha yang pernah


ia lakukan, terjadi sekitar satu tahun lalu, kepada Suci, ketika gadis tersebut


masih duduk di kelas 11 (dan aku yang belum menjadi siswa kelas 11 abal-abal).


Saat itu, kami sedang melakukan patroli rutin sembari menebar kebijaksanaan.


Lalu, di lapangan belakang, Suci sedang berdiam berjongkok menatap rumput dan


tanaman sekitarnya penuh semut, tidak lupa untuk menyentuh para semut dengan


pulpennya, seperti yang aku saksikan sekarang.


Suci hanya berfokus pada semut tersebut, seakan-akan sedang melakukan


penelitian penting tentang serangga itu di atas buku sketsanya.


Merasa apa yang dilakukan Suci tidaklah efektif dan efisien, Gen pun


bersandar di pembatas kawat yang membatasi koridor dan lapangan, untuk memulai


pembicaraan. Dia menatap Suci dengan lemah lembut, dengan tangan yang terlipat


di dada, sembari tertawa kecil untuk membuat suasana lebih santai.


“Jangan lakukan itu pada semut. Kamu justru mengganggu mereka.


Percayalah padaku, yang kamu lakukan itu salah. Memerhatikan para semut pekerja


ini sedikit salah dan melenceng. Pernahkah kamu berpikir untuk perhatikan sang


ratu semut saja? Semut-semut ini tidak lain hanya buruh untuk ratu mereka saja,


kan?” saran Gen pada Suci.


“…,” sayangnya, Suci tidak merespon dengan apapun, bahkan tolehan


kepalanya.


Kaget pada respon yang tidak diperkirakan, Gen tersentak pada perilaku


Suci. Padahal, dia percaya telah memberikan saran terbaik untuk gadis dengan


rambut ekor kuda hitam legam ini. Tidak ada maksud jahat, kecuali dari diri


Suci sendiri yang hatinya sudah menjadi batu dan menolak untuk mendapatkan

__ADS_1


kebenaran.


Beberapa pengikutnya saling menoleh antara satu sama lain, baik yang


berada di koridor di belakang Gen, maupun yang ada di dalam lapangan sedang


bermain basket. Ada yang geram pada Suci, ada yang ingin menghajarnya, ada yang


ingin menghukumnya.


“Untuk apa menjadi murid berprestasi, juara dalam peringkat sekolah dan


lomba, jika menjadi makhluk sosial saja tidak terampil? Jangan salahkan aku


kalau nanti kamu hanya berakhir menjadi pembantu saja. Kamu tidak akan berada


di puncak sosial, tidak bisa terus menerus menjadi pemenang, bahkan tidak bisa


menjadi apa-apa,” lanjut Gen dengan sedikit nada kesal di sudut bibirnya.


Namun, sekali lagi Suci tidak bergeming untuk membalas, bahkan untuk sekadar


mendengarkan perkataannya.


Dunia Suci tidak goyah, dunianya masih damai di dalam pikirannya


sendiri.


Dua kali tidak merespon, seluruh pengikut Gen praktis merasa geram oleh


Suci. Dia tidak menghormati, apalagi dengan fakta bahwa Suci adalah adik kelas


yang seharusnya lebih menghormati. Petuah kakak kelas yang bijak yang harus


dihormati tidak dilakukan Suci dengan baik. Maka, pelajaran pun harus


dilaksanakan sedini mungkin sebelum semuanya berubah menjadi lebih buruk.


Pelan tapi pasti, para pemain basket di lapangan seperti sedang


memperluas area bermainnya, bahkan hingga melewati garis pembatas di lapangan.


Mereka seperti melakukannya dengan sengaja, seperti mencoba untuk membuat


kecelakaan yang terencana. Dan ternyata betul saja. Ketika mereka mengoper bola


kesana kemari, menggiringnya dengan tidak tepat kecuali melambung-lambung, salah


satu lambungan bola itu harus ditangkap oleh pemain yang siap mengorbankan


untuk terbang hingga menjatuhkan diri menimpa Suci dengan kekuatan yang bukan


main.


Masalahnya, bukan hanya fakta bahwa sang pemain baru saja menjatuhkan


diri menimpa Suci. Aku melihatnya dengan jelas, bahwa pemain itu sekaligus


menyikut Suci, melakukan apapun untuk melakukan kekerasan dengan dalih


kecelakaan yang dibuat-buat. Alhasil, Suci sebagai matras hidup harus


tersungkur jatuh, kaki dan tangannya lecet berdarah, seragamnya kotor tak


karuan, semuanya menjadi berantakan sudah.


Melihat kecelakaan yang mematikan di depan matanya, Gen berteriak


menunjukkan rasa kagetnya, langsung pergi ke dalam lapangan setelah tertawa


kecil puas dari balik wajahnya. Tidak ada yang ingin menyangkal, tidak ada yang


ingin menolak, justru kami, bahkan aku sendiri pun tertawa sedikit, tertawa


banyak, tertawa hingga tak mampu membantu Gen yang berlagak seakan-akan


menyelamatkan Suci terhadap kecelakaan terencana tersebut.


Itu adalah awal yang sangat berbekas di dalam benakku.


Meskipun Gen dengan gagah melindungi Suci, senyumannya tidak bisa


berbohong. Mereka semua menikmatinya, mereka semua melakukan sandiwara.


Keesokan harinya, hari-hari berikutnya, pekan-pekan selanjutnya,


bulan-bulan yang akan datang, serangan-serangan yang dilakukan kepada Suci


akhirnya dilakukan secara terang-terangan. Apalagi dengan fakta bahwa Suci


sebagai penyandang tuna rungu, semua orang pun ingin ikut berpesta, tidak ingin


ketinggalan dalam melakukan perundungan pada Suci. Saking banyaknya gosip dan


kabar burung yang beredar, aku sampai tidak benar-benar tahu apakah Suci


menyandang tuna rungu betulan atau hanya memang jarang berbicara saja.


Perundungan yang aku tahu, beragam bentuknya. Dimulai dari berteriak


keras di samping telinganya secara seperti ingin menghancurkan gendang telinga,


mengambil buku sketsa atau pulpennya lalu melempar entah kemana, terkadang ke


yang mengaitkan kakinya pada Suci untuk membuatnya terjungkal terjatuh,


menyembunyikan tas dan barang-barang miliknya, menyiram dengan air bekas pel,


menyemprotkan air dari selang pada saat piket, memberikan bubuk cabai pedas di


atas makanannya, melakukan kecelakaan-kecelakaan pada jam olahraga, dan


berbagai macam perilaku lainnya selama setahun penuh yang ditujukan sebagai


upaya pembelajaran agar Suci bisa sadar diri.


Meskipun aku tidak melakukan serangan itu secara langsung, tetap saja


aku merasa bersalah karena sudah tahu bahwa perundungan akan terjadi, namun


tetap memutuskan untuk diam saja tidak membela dan melakukan apa-apa.


Mau bagaimana lagi? Aku tidak ingin keluar dari kelompok homogen ini,


tidak ingin sendirian menjadi satu-satunya orang yang melarang perundungan pada


Suci untuk kemudian menjadi bual-bualan Gen. Aku sudah bersusah payah


mendapatkan kepercayaan sehingga bisa diterima sebagai bagian dari komunitas,


bisa memiliki teman yang saling percaya satu sama lain, bisa untuk merasakan


perlindungan untuk menjaga diri, agar tidak perlu mendapatkan serangan panik


atau sesak napas yang kambuh lagi.


MESKIPUN seluruh serangan itu benar-benar terjadi, gadis dengan rambut hitam ekor kuda


ini sepertinya tidak terlalu terusik. Suci tahun lalu, maupun Suci yang


sekarang aku lihat sedang bermain dengan laba-laba, merupakan sesosok manusia


yang serupa, yang masih sibuk dengan urusan dan dunianya sendiri. Apakah


serangan-serangan itu hanya bualan belaka? Hanya ancaman-ancaman belaka?


Baguslah kalau begitu.


Setidaknya, pada suatu waktu guru pasti akan bertindak untuk mencegah,


kan?


Tapi, kalau memang semua serangan itu betul terjadi, aku tidak begitu


melihat bekasnya seperti memar atau bekas luka semacamnya ketika mataku tidak


sengaja memindai seluruh tubuhnya. Meskipun begitu, aku harus mengakui


kekebalan hati Suci yang sejak awal sudah disebutkan bahwa hatinya sudah


menjadi batu.


Melakukan eksperimen, aku ikut berjongkok mengamati Suci yang masih


fokus pada laba-laba. Ternyata, memang serupa seperti tahun lalu, Suci masih


tidak bergeming, masih tidak peduli dengan apa atau siapa yang berada di


sekitarnya. “Hati-hati. Bagaimana kalau laba-laba itu terganggu dan menggigit


kamu?” tanyaku perlahan, tanpa ada niat untuk menyerangnya, kecuali murni rasa


khawatir saja.


Tapi, Suci tetap serupa seperti Suci yang aku ketahui, tidak peduli,


tidak mendengarkan apapun yang tidak menarik di telinganya.


Sekali lagi, secara insting, aku memperhatikan lagi tubuh dan perawakan


yang Suci miliki, seperti sedang menganalisis sesuatu dengan cermat dan teliti.


Mukanya yang mulus, kulit sawo matang cerah tanpa ada abnormalitas seperti


memar atau bahkan bekas kekerasan, telinga yang lancip dan kecil, ada tahi


lalat yang bersembunyi di balik telinga kirinya, mata besar bersinar yang


sekarang fokus pada laba-laba dan buku sketsanya, juga bulu mata yang lentik


sangat cantik, bibirnya yang tipis, hingga rambut lurus diikat ekor kuda dengan


poni di atas mata.


Setelahnya, mataku turun sedikit ke bawah, untuk menatap tangan dan kaki


yang ramping dan langsing, dada yang tidak begitu terlihat menonjol (meskipun


aku sedikit menyesal mengapa aku memerhatikan ini), mengenakan seragam sekolah


putih abu-abu dengan rok rempel, hingga sepatu warrior yang serupa seperti


murid kebanyakan, namun terlihat putih bersih seperti setiap minggu dibersihkan

__ADS_1


secara rutin.


Aktivitas yang Suci lakukan?


Terus menatap laba-laba, menyentuh dedaunan dan jaringnya dengan pulpen,


lalu menggambarnya di dalam buku sketsa serta menulis sebuah tulisan entahlah


apa kontennya, sepertinya tentang observasinya terkait laba-laba. Tunggu!


Ketika aku menatap lebih lanjut terkait aktivitas yang dia lakukan, ada


keganjilan yang ditunjukkan oleh hasil gambar yang Suci lakukan


Apakah Suci dengan sengaja menggambar laba-laba ini dengan salah?


“Aku pikir kaki laba-laba yang ini mengarah pada bentuk yang sedikit


keliru? Sendinya terdapat pada titik-titik ini, kan? Atau mungkin kamu berusaha


menggambar sesuatu? Laba-laba ini memiliki ekor?” ucapku tanpa sadar


mengomentari gambar yang berada di atas kertas sketsa milik Suci.


Mendengar itu, Suci langsung menoleh kepalanya cepat, menatapku dengan


lamat-lamat, seperti kaget menyadari kehadiran hantu di sampingnya. Praktis,


aku tersentak pada gerakan Suci tersebut, bahkan aku sendiri pun kaget


dibuatnya.


Apakah aku telah mengatakan hal yang salah atau menyinggungnya?


Apakah Suci ingat bahwa aku salah satu anak buah Gen yang mengganggunya?


Sebelum aku bisa mengucapkan permintaan maaf dengan jelas, ekspresi Suci


lebih dahulu membuatku ciut, meski itu adalah ekspresi bahagia dengan senyum


lebar di atas wajahnya. Aku memiliki perasaan buruk melihat senyum lebar


ini. Seperti senyum lebar para manekin di dalam mimpi?


“Aneh memang laba-laba berekor. Suci bingung. Tapi memang begini. Bukan


salah, bukan sengaja. Sini sini,” pekik Suci cempreng meraih tanganku,


menariknya untuk sedikit berpindah tempat, dan menatap sang laba-laba dari sisi


yang berbeda.


Dan ternyata betul saja. Memang terlihat sebuah ekor yang terbuat dari


salah satu kakinya, yang muncul secara tidak wajar di tubuh laba-laba ini. Apa


yang terjadi? Apakah laba-laba ini terlahir dengan cacat? Atau ini merupakan


hasil luka setelah berkelahi?


Posisinya memang aneh.


Aku pun menatapnya semakin lekat, semakin dekat.


“Iya… aneh, ya? Kamu suka menggambar laba-laba ini?” tanyaku lebih


lanjut, penasaran dengan apa yang sebenarnya Suci lakukan selama ini.


“Suci gambar banyak hewan dan serangga!” sebutnya antusias.


Suci pun mulai membalikkan kertas demi kertas dari buku sketsanya,


sampai pada akhirnya Suci tunjukkan sebuah capung yang memiliki dua ekor yang


sebelah sayapnya patah, ada juga kumbang yang tubuhnya penyok seperti badan


mobil yang habis tertabrak, semut dengan empat badan dan tujuh kaki, ada


jangkrik dengan tiga kaki belakang, kambing berkaki lima sedang meminum susu


dari ibunya, kelinci hidung besar dan panjang, ular berkepala dua, babi


bersisik seperti landak yang terlihat kejam siap menerkam, serigala dengan


tanduk seperti rusa yang, burung gagak berwarna merah, dan masih banyak


keganjilan hewan lainnya, atau lebih tepatnya aku sebut mutasi hewan?


Dalam setiap lembaran yang ditunjukkan Suci dengan muka bahagia, aku


hanya bisa menahan rasa jijik, sekaligus sedikit rasa kagum juga. Seluruh


penampakan yang ganjil ini tidak pernah kulihat di dunia nyata. Apakah ini


semua hasil cedera hewan yang telah berkelahi? Cacat yang dibawa sejak lahir?


Atau justru memang ada fantasi yang Suci masukkan ke dalam gambarnya?


“Kamu menggambar itu semua?” tanyaku sambil menutup mulut berusaha tidak


muntah mengeluarkan isi perut. Masalahnya, gambar Suci bukan hanya garis-garis


membentuk sketsa. Itu gambar yang realistis, dengan warna-warna yang nyata.


Bukan lagi sebuah gambar, melainkan seperti foto yang ditempel ke atas kertas.


“Hehe-hehe, heheheh. Iya! Kamu suka?”


“Tidak terlalu…”


“Hehe-hehe, heheheh. Aneh! Aneh, kan? Hehe,” kekeh Suci terbahak-bahak,


seperti akhirnya berhasil menjalankan misinya dengan sempurna untuk menjahili


orang. “Mau lihat lebih banyak?” lanjut Suci.


“…?” Aku menoleh kaget, juga karena rasa penasaran.


Apa maksudnya lihat lebih banyak?


“Ayo pulang!” ajak Suci dengan suara yang bersemangat. Dia langsung


menutup bukunya, bangkit berdiri, tapi tiba-tiba kakinya tergelincir dan


tubuhnya terjatuh tepat di depanku. Sebenarnya, bukan hal yang serius, bukan


hal yang berbahaya. Aku bisa menangkapnya dengan mudah.


“Buset lo ceroboh amat, dah! Untung aja gue bisa nangkep,” protesku


sambil menangkap Suci dengan suara normalku, menghancurkan karakter yang aku


bangun sejak awal di depan Suci sebagai siswa yang baik-baik.


“Ehe, hehe? Hehe-hehe, heheheh. Sudah. Ayo pulang!” kekeh Suci


selanjutnya, lanjut berdiri normal, bahkan langsung menarik tanganku. Tapi,


baru dua langkah dia hendak berlari, kakinya malah terselip lagi. Beruntung,


dia tidak terjatuh karena berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya. Tanpa jeda,


tanpa tawa lain, aku langsung ditarik lagi dengan keras pergi menuju pos depan.


Pulang kemana? Apakah kita akan pulang ke rumah Suci?


Aku bingung. Apa yang gadis ini pikirkan membawa laki-laki yang tidak


dikenalnya untuk pergi ke rumahnya? Tapi apakah kita akan benar-benar pergi


pulang ke rumahnya?


Sebenarnya, aku tidak ambil pusing. Teman-teman sibuk meninggalkanku,


aku tidak punya pilihan untuk menghabiskan waktu juga. Daripada harus pulang ke


rumah, mungkin ini menjadi pilihan yang terbaik.


Tunggu…


Bagaimana jika sebenarnya Suci orang yang jahat dan berencana melakukan


sesuatu yang aneh-aneh kepadaku?


Entahlah. Aku tidak merasakan hal itu. Aku tidak merasa Suci adalah


orang asing, selayakmana aku merasakan kepanikan ketika melihat pengemudi ojek


daring pagi tadi. Tidak ada rasa khawatir, tidak ada rasa panik. Hanya rasa


bingung, juga sedikit penasaran. Padahal, urusan kami masing-masing tidak


begitu penting. Takdir dan nasib hidup tidak saling bersilangan, tidak saling membutuhkan


satu sama lain.


Kita hanya orang asing, kita hanya sebatas teman satu sekolahan.


Bahkan aku ragu Suci menganggapku teman.


\~\~\~\~\~\~\~\~


Gak ada hujan gak ada angin, Suci yang aneh tiba-tiba ngomong sama Ragib?


Padahal orang-orang anggep dia aneh …


Selamat datang lagi, teman-teman!


Kira-kira ada gak yang sama kaya Suci? Yang lebih suka sama dunianya sendiri?


Gak peduli sama orang-orang, yang penting fokus ke kita aja?


Kadang orang-orang itu bikin capek yaaaa


Kadang sendirian itu lebih enak yaaaa


Wkwkkwkwk dasar aku introvert


Btw …


See you next time ;)


Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!

__ADS_1


__ADS_2