
PADA dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Mereka ingin bercengkrama dengan manusia lain,
mereka butuh untuk bersama manusia lain. Segala cara dilakukan agar bisa
melakukan hubungan dengan manusia lain, salah satunya adalah untuk menyukai,
memiliki, atau bahkan menjadi sesuatu yang sama dan serupa. Manusia
lebih menyukai sesuatu yang sudah disukai banyak orang, manusia ingin menjadi
satu kesatuan. Mengedepankan sama rata sama rasa, semuanya perlu untuk berlaku
hal yang sama.
Kenapa? Karena kita semua ingin merasa diterima.
Dengan konsep tersebut, karena manusia merupakan satu kesatuan yang
sama, maka tidak boleh ada cacat di dalamnya. Jika terdapat sebuah cacat, tidak
segan kita semua menghardik cacat yang berbeda tersebut, menggunjingnya, bahkan
hingga mengeluarkannya dari dalam komunitas sosial itu sendiri.
Umumnya, di dalam suatu komunitas terdapat jenis manusia alpha sebagai pemimpin, yang biasanya memiliki suara terbesar yang didengar oleh
orang lain. Suaranya absolut, suaranya tidak pernah salah, semuanya mendukung
suara tersebut, semuanya bahkan rela melakukan apapun yang suara tersebut
perintahkan.
Tahun lalu, mungkin juga tahun ini, atau sejak awal, aku terperangkap
dalam kelompok homogen ini. Kelompok yang meminta setiap anggota harus merubah
penampilan, kebiasaan, beradaptasi terhadap kualifikasi yang kelompok inginkan.
Aku, sebagai orang yang membutuhkan relasi sebagai tempat tinggal, tentunya
terpaksa untuk merubah diri pula.
Meskipun begitu, aku tetap melakukan ini dengan sukarela.
Daripada harus diserang asma dan mati mendadak? Lagipula membantu orang
lain bukanlah hal yang merugikan. Kelak, mereka akan melakukan balas budi juga,
kan? Aku sedang melakukan investasi untuk masa depan.
Meskipun sampai saat ini aku belum merasakannya juga, sih.
Sampai pada titik aku sudah terbiasa untuk membantu dan tidak ambil
pusing lagi terhadap balas budi yang kutunggu. Yang penting, asalkan hari ini
aku memiliki tempat bernaung, akan kulakukan apapun, kapanpun, dan dimanapun.
Nomaden…? Mungkin itu kata yang cocok untukku sekarang?
Kejadian tentang kelompok homogen ini bukannya mengusikku atau segala
macam. Ketika membicarakan Suci, dia adalah salah satu dari korban kejahatan
yang pernah aku lakukan sebagai kelompok homogen. Melihatnya masih fokus pada
dunianya sendiri, malah membuatku sedikit merasa bersalah. Tidak. Bukan sedikit
lagi. Aku memang merasa bersalah atas semua hal yang tidak kulakukan untuknya.
Lagipula, mau bagaimana lagi? Ini semua hanya pekerjaan, sama sekali bukan
urusan pribadi.
Pada saat itu, Suci hanya sedang menjadi dirinya sendiri, seperti yang
sedang kusaksikan saat ini. Sibuk dengan urusan dan dunianya sendiri, tidak ada
yang direpotkan, tidak ada yang peduli juga. Hanya saja, komunitas homogen ini
gemar untuk melakukan pekerjaan atas dasar kemanusiaan, untuk menjunjung tinggi
nilai moralitas yang mereka percaya. Mereka berusaha menyampaikan kebenaran,
berusaha memberi saran terhadap siapapun yang melakukan kesalahan (dengan tidak
jarang menggunakan kekerasan).
Padahal, aku sendiri tidak tahu apa batas dari kebenaran dan kesalahan
tersebut, selain sesuatu yang tidak lebih tebal dari sehelai rambut, yang
manusia alpha ini ciptakan sendiri. Rentan, sangat rapuh, bisa terkoyak
dan rusak dengan mudah. Namun, karena ini merupakan titah dan keputusan sang
manusia alpha, tidak ada yang mengomentari sama sekali, karena
kepercayaan yang sudah membutakan mata para pengikutnya.
Ditambah dengan kemampuan sang manusia alpha bernama Gen dalam
berbicara yang berkarisma, juga mendapatkan suntikan dana yang cukup besar,
kepalanya pun menjadi besar (tidak secara harfiah) untuk benar-benar bebas
melakukan apapun yang dia inginkan.
Meskipun mencuri atau membunuh, mungkin para pengikutnya pasti berpikir
ini adalah kejahatan yang diperlukan menuju kebaikan dengan skala yang lebih
besar. Semuanya dijustifikasi, semuanya tutup mata untuk mengakui kebenaran
yang nyata.
Termasuk diriku juga, karena Gen memang benar-benar mempengaruhi semua
orang.
Lidahnya lihai dalam memotivasi bawahannya, pun bisa menjilat seseorang
yang lebih tua darinya. Gen selalu mengonfirmasi kecurigaan yang seseorang
khawatirkan, ikut melempar batu pada musuh yang sama, membantu dan mendorong
mimpi pengikutnya, melakukan pembenaran kesalahan, hingga menghilangkan rasa
takut terhadap apapun. Manusia alpha ini menjadi rumah, sekaligus jati
diri baru bagi pengikutnya.
Semuanya terpana, meleleh dibuatnya. Tidak ingin mencoba menjadi
musuhnya, sebagian murid sekolah pun memilih untuk berada dalam genggamannya.
Siap menjadi kurir makanan untuknya, siap memberikan catatan sekolah untuknya,
membersihkan setiap peluh keringatnya, memijat otot-otot lelahnya, menjadi
kursi untuknya, menjadi pijakannya.
Aku sempat penasaran. Apakah nilainya yang bagus di sekolah adalah
pemberian guru? Atau justru dia memang anak yang pintar?
Sebenarnya, setelah mendengar ucapannya yang memiliki tingkatan tinggi,
aku rasa ujian sekolah hanya sekadar omong kosong untuknya. Tapi, apakah itu
memang sesuatu yang bisa terjadi setelah semua hal yang dia lakukan? Aku
sedikit memiliki keraguan.
Tapi setelahnya, aku berhenti berpikir saja.
Salah satu tingkah angkuh Gen sebagai manusia alpha yang pernah
ia lakukan, terjadi sekitar satu tahun lalu, kepada Suci, ketika gadis tersebut
masih duduk di kelas 11 (dan aku yang belum menjadi siswa kelas 11 abal-abal).
Saat itu, kami sedang melakukan patroli rutin sembari menebar kebijaksanaan.
Lalu, di lapangan belakang, Suci sedang berdiam berjongkok menatap rumput dan
tanaman sekitarnya penuh semut, tidak lupa untuk menyentuh para semut dengan
pulpennya, seperti yang aku saksikan sekarang.
Suci hanya berfokus pada semut tersebut, seakan-akan sedang melakukan
penelitian penting tentang serangga itu di atas buku sketsanya.
Merasa apa yang dilakukan Suci tidaklah efektif dan efisien, Gen pun
bersandar di pembatas kawat yang membatasi koridor dan lapangan, untuk memulai
pembicaraan. Dia menatap Suci dengan lemah lembut, dengan tangan yang terlipat
di dada, sembari tertawa kecil untuk membuat suasana lebih santai.
“Jangan lakukan itu pada semut. Kamu justru mengganggu mereka.
Percayalah padaku, yang kamu lakukan itu salah. Memerhatikan para semut pekerja
ini sedikit salah dan melenceng. Pernahkah kamu berpikir untuk perhatikan sang
ratu semut saja? Semut-semut ini tidak lain hanya buruh untuk ratu mereka saja,
kan?” saran Gen pada Suci.
“…,” sayangnya, Suci tidak merespon dengan apapun, bahkan tolehan
kepalanya.
Kaget pada respon yang tidak diperkirakan, Gen tersentak pada perilaku
Suci. Padahal, dia percaya telah memberikan saran terbaik untuk gadis dengan
rambut ekor kuda hitam legam ini. Tidak ada maksud jahat, kecuali dari diri
Suci sendiri yang hatinya sudah menjadi batu dan menolak untuk mendapatkan
__ADS_1
kebenaran.
Beberapa pengikutnya saling menoleh antara satu sama lain, baik yang
berada di koridor di belakang Gen, maupun yang ada di dalam lapangan sedang
bermain basket. Ada yang geram pada Suci, ada yang ingin menghajarnya, ada yang
ingin menghukumnya.
“Untuk apa menjadi murid berprestasi, juara dalam peringkat sekolah dan
lomba, jika menjadi makhluk sosial saja tidak terampil? Jangan salahkan aku
kalau nanti kamu hanya berakhir menjadi pembantu saja. Kamu tidak akan berada
di puncak sosial, tidak bisa terus menerus menjadi pemenang, bahkan tidak bisa
menjadi apa-apa,” lanjut Gen dengan sedikit nada kesal di sudut bibirnya.
Namun, sekali lagi Suci tidak bergeming untuk membalas, bahkan untuk sekadar
mendengarkan perkataannya.
Dunia Suci tidak goyah, dunianya masih damai di dalam pikirannya
sendiri.
Dua kali tidak merespon, seluruh pengikut Gen praktis merasa geram oleh
Suci. Dia tidak menghormati, apalagi dengan fakta bahwa Suci adalah adik kelas
yang seharusnya lebih menghormati. Petuah kakak kelas yang bijak yang harus
dihormati tidak dilakukan Suci dengan baik. Maka, pelajaran pun harus
dilaksanakan sedini mungkin sebelum semuanya berubah menjadi lebih buruk.
Pelan tapi pasti, para pemain basket di lapangan seperti sedang
memperluas area bermainnya, bahkan hingga melewati garis pembatas di lapangan.
Mereka seperti melakukannya dengan sengaja, seperti mencoba untuk membuat
kecelakaan yang terencana. Dan ternyata betul saja. Ketika mereka mengoper bola
kesana kemari, menggiringnya dengan tidak tepat kecuali melambung-lambung, salah
satu lambungan bola itu harus ditangkap oleh pemain yang siap mengorbankan
untuk terbang hingga menjatuhkan diri menimpa Suci dengan kekuatan yang bukan
main.
Masalahnya, bukan hanya fakta bahwa sang pemain baru saja menjatuhkan
diri menimpa Suci. Aku melihatnya dengan jelas, bahwa pemain itu sekaligus
menyikut Suci, melakukan apapun untuk melakukan kekerasan dengan dalih
kecelakaan yang dibuat-buat. Alhasil, Suci sebagai matras hidup harus
tersungkur jatuh, kaki dan tangannya lecet berdarah, seragamnya kotor tak
karuan, semuanya menjadi berantakan sudah.
Melihat kecelakaan yang mematikan di depan matanya, Gen berteriak
menunjukkan rasa kagetnya, langsung pergi ke dalam lapangan setelah tertawa
kecil puas dari balik wajahnya. Tidak ada yang ingin menyangkal, tidak ada yang
ingin menolak, justru kami, bahkan aku sendiri pun tertawa sedikit, tertawa
banyak, tertawa hingga tak mampu membantu Gen yang berlagak seakan-akan
menyelamatkan Suci terhadap kecelakaan terencana tersebut.
Itu adalah awal yang sangat berbekas di dalam benakku.
Meskipun Gen dengan gagah melindungi Suci, senyumannya tidak bisa
berbohong. Mereka semua menikmatinya, mereka semua melakukan sandiwara.
Keesokan harinya, hari-hari berikutnya, pekan-pekan selanjutnya,
bulan-bulan yang akan datang, serangan-serangan yang dilakukan kepada Suci
akhirnya dilakukan secara terang-terangan. Apalagi dengan fakta bahwa Suci
sebagai penyandang tuna rungu, semua orang pun ingin ikut berpesta, tidak ingin
ketinggalan dalam melakukan perundungan pada Suci. Saking banyaknya gosip dan
kabar burung yang beredar, aku sampai tidak benar-benar tahu apakah Suci
menyandang tuna rungu betulan atau hanya memang jarang berbicara saja.
Perundungan yang aku tahu, beragam bentuknya. Dimulai dari berteriak
keras di samping telinganya secara seperti ingin menghancurkan gendang telinga,
mengambil buku sketsa atau pulpennya lalu melempar entah kemana, terkadang ke
yang mengaitkan kakinya pada Suci untuk membuatnya terjungkal terjatuh,
menyembunyikan tas dan barang-barang miliknya, menyiram dengan air bekas pel,
menyemprotkan air dari selang pada saat piket, memberikan bubuk cabai pedas di
atas makanannya, melakukan kecelakaan-kecelakaan pada jam olahraga, dan
berbagai macam perilaku lainnya selama setahun penuh yang ditujukan sebagai
upaya pembelajaran agar Suci bisa sadar diri.
Meskipun aku tidak melakukan serangan itu secara langsung, tetap saja
aku merasa bersalah karena sudah tahu bahwa perundungan akan terjadi, namun
tetap memutuskan untuk diam saja tidak membela dan melakukan apa-apa.
Mau bagaimana lagi? Aku tidak ingin keluar dari kelompok homogen ini,
tidak ingin sendirian menjadi satu-satunya orang yang melarang perundungan pada
Suci untuk kemudian menjadi bual-bualan Gen. Aku sudah bersusah payah
mendapatkan kepercayaan sehingga bisa diterima sebagai bagian dari komunitas,
bisa memiliki teman yang saling percaya satu sama lain, bisa untuk merasakan
perlindungan untuk menjaga diri, agar tidak perlu mendapatkan serangan panik
atau sesak napas yang kambuh lagi.
MESKIPUN seluruh serangan itu benar-benar terjadi, gadis dengan rambut hitam ekor kuda
ini sepertinya tidak terlalu terusik. Suci tahun lalu, maupun Suci yang
sekarang aku lihat sedang bermain dengan laba-laba, merupakan sesosok manusia
yang serupa, yang masih sibuk dengan urusan dan dunianya sendiri. Apakah
serangan-serangan itu hanya bualan belaka? Hanya ancaman-ancaman belaka?
Baguslah kalau begitu.
Setidaknya, pada suatu waktu guru pasti akan bertindak untuk mencegah,
kan?
Tapi, kalau memang semua serangan itu betul terjadi, aku tidak begitu
melihat bekasnya seperti memar atau bekas luka semacamnya ketika mataku tidak
sengaja memindai seluruh tubuhnya. Meskipun begitu, aku harus mengakui
kekebalan hati Suci yang sejak awal sudah disebutkan bahwa hatinya sudah
menjadi batu.
Melakukan eksperimen, aku ikut berjongkok mengamati Suci yang masih
fokus pada laba-laba. Ternyata, memang serupa seperti tahun lalu, Suci masih
tidak bergeming, masih tidak peduli dengan apa atau siapa yang berada di
sekitarnya. “Hati-hati. Bagaimana kalau laba-laba itu terganggu dan menggigit
kamu?” tanyaku perlahan, tanpa ada niat untuk menyerangnya, kecuali murni rasa
khawatir saja.
Tapi, Suci tetap serupa seperti Suci yang aku ketahui, tidak peduli,
tidak mendengarkan apapun yang tidak menarik di telinganya.
Sekali lagi, secara insting, aku memperhatikan lagi tubuh dan perawakan
yang Suci miliki, seperti sedang menganalisis sesuatu dengan cermat dan teliti.
Mukanya yang mulus, kulit sawo matang cerah tanpa ada abnormalitas seperti
memar atau bahkan bekas kekerasan, telinga yang lancip dan kecil, ada tahi
lalat yang bersembunyi di balik telinga kirinya, mata besar bersinar yang
sekarang fokus pada laba-laba dan buku sketsanya, juga bulu mata yang lentik
sangat cantik, bibirnya yang tipis, hingga rambut lurus diikat ekor kuda dengan
poni di atas mata.
Setelahnya, mataku turun sedikit ke bawah, untuk menatap tangan dan kaki
yang ramping dan langsing, dada yang tidak begitu terlihat menonjol (meskipun
aku sedikit menyesal mengapa aku memerhatikan ini), mengenakan seragam sekolah
putih abu-abu dengan rok rempel, hingga sepatu warrior yang serupa seperti
murid kebanyakan, namun terlihat putih bersih seperti setiap minggu dibersihkan
__ADS_1
secara rutin.
Aktivitas yang Suci lakukan?
Terus menatap laba-laba, menyentuh dedaunan dan jaringnya dengan pulpen,
lalu menggambarnya di dalam buku sketsa serta menulis sebuah tulisan entahlah
apa kontennya, sepertinya tentang observasinya terkait laba-laba. Tunggu!
Ketika aku menatap lebih lanjut terkait aktivitas yang dia lakukan, ada
keganjilan yang ditunjukkan oleh hasil gambar yang Suci lakukan
Apakah Suci dengan sengaja menggambar laba-laba ini dengan salah?
“Aku pikir kaki laba-laba yang ini mengarah pada bentuk yang sedikit
keliru? Sendinya terdapat pada titik-titik ini, kan? Atau mungkin kamu berusaha
menggambar sesuatu? Laba-laba ini memiliki ekor?” ucapku tanpa sadar
mengomentari gambar yang berada di atas kertas sketsa milik Suci.
Mendengar itu, Suci langsung menoleh kepalanya cepat, menatapku dengan
lamat-lamat, seperti kaget menyadari kehadiran hantu di sampingnya. Praktis,
aku tersentak pada gerakan Suci tersebut, bahkan aku sendiri pun kaget
dibuatnya.
Apakah aku telah mengatakan hal yang salah atau menyinggungnya?
Apakah Suci ingat bahwa aku salah satu anak buah Gen yang mengganggunya?
Sebelum aku bisa mengucapkan permintaan maaf dengan jelas, ekspresi Suci
lebih dahulu membuatku ciut, meski itu adalah ekspresi bahagia dengan senyum
lebar di atas wajahnya. Aku memiliki perasaan buruk melihat senyum lebar
ini. Seperti senyum lebar para manekin di dalam mimpi?
“Aneh memang laba-laba berekor. Suci bingung. Tapi memang begini. Bukan
salah, bukan sengaja. Sini sini,” pekik Suci cempreng meraih tanganku,
menariknya untuk sedikit berpindah tempat, dan menatap sang laba-laba dari sisi
yang berbeda.
Dan ternyata betul saja. Memang terlihat sebuah ekor yang terbuat dari
salah satu kakinya, yang muncul secara tidak wajar di tubuh laba-laba ini. Apa
yang terjadi? Apakah laba-laba ini terlahir dengan cacat? Atau ini merupakan
hasil luka setelah berkelahi?
Posisinya memang aneh.
Aku pun menatapnya semakin lekat, semakin dekat.
“Iya… aneh, ya? Kamu suka menggambar laba-laba ini?” tanyaku lebih
lanjut, penasaran dengan apa yang sebenarnya Suci lakukan selama ini.
“Suci gambar banyak hewan dan serangga!” sebutnya antusias.
Suci pun mulai membalikkan kertas demi kertas dari buku sketsanya,
sampai pada akhirnya Suci tunjukkan sebuah capung yang memiliki dua ekor yang
sebelah sayapnya patah, ada juga kumbang yang tubuhnya penyok seperti badan
mobil yang habis tertabrak, semut dengan empat badan dan tujuh kaki, ada
jangkrik dengan tiga kaki belakang, kambing berkaki lima sedang meminum susu
dari ibunya, kelinci hidung besar dan panjang, ular berkepala dua, babi
bersisik seperti landak yang terlihat kejam siap menerkam, serigala dengan
tanduk seperti rusa yang, burung gagak berwarna merah, dan masih banyak
keganjilan hewan lainnya, atau lebih tepatnya aku sebut mutasi hewan?
Dalam setiap lembaran yang ditunjukkan Suci dengan muka bahagia, aku
hanya bisa menahan rasa jijik, sekaligus sedikit rasa kagum juga. Seluruh
penampakan yang ganjil ini tidak pernah kulihat di dunia nyata. Apakah ini
semua hasil cedera hewan yang telah berkelahi? Cacat yang dibawa sejak lahir?
Atau justru memang ada fantasi yang Suci masukkan ke dalam gambarnya?
“Kamu menggambar itu semua?” tanyaku sambil menutup mulut berusaha tidak
muntah mengeluarkan isi perut. Masalahnya, gambar Suci bukan hanya garis-garis
membentuk sketsa. Itu gambar yang realistis, dengan warna-warna yang nyata.
Bukan lagi sebuah gambar, melainkan seperti foto yang ditempel ke atas kertas.
“Hehe-hehe, heheheh. Iya! Kamu suka?”
“Tidak terlalu…”
“Hehe-hehe, heheheh. Aneh! Aneh, kan? Hehe,” kekeh Suci terbahak-bahak,
seperti akhirnya berhasil menjalankan misinya dengan sempurna untuk menjahili
orang. “Mau lihat lebih banyak?” lanjut Suci.
“…?” Aku menoleh kaget, juga karena rasa penasaran.
Apa maksudnya lihat lebih banyak?
“Ayo pulang!” ajak Suci dengan suara yang bersemangat. Dia langsung
menutup bukunya, bangkit berdiri, tapi tiba-tiba kakinya tergelincir dan
tubuhnya terjatuh tepat di depanku. Sebenarnya, bukan hal yang serius, bukan
hal yang berbahaya. Aku bisa menangkapnya dengan mudah.
“Buset lo ceroboh amat, dah! Untung aja gue bisa nangkep,” protesku
sambil menangkap Suci dengan suara normalku, menghancurkan karakter yang aku
bangun sejak awal di depan Suci sebagai siswa yang baik-baik.
“Ehe, hehe? Hehe-hehe, heheheh. Sudah. Ayo pulang!” kekeh Suci
selanjutnya, lanjut berdiri normal, bahkan langsung menarik tanganku. Tapi,
baru dua langkah dia hendak berlari, kakinya malah terselip lagi. Beruntung,
dia tidak terjatuh karena berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya. Tanpa jeda,
tanpa tawa lain, aku langsung ditarik lagi dengan keras pergi menuju pos depan.
Pulang kemana? Apakah kita akan pulang ke rumah Suci?
Aku bingung. Apa yang gadis ini pikirkan membawa laki-laki yang tidak
dikenalnya untuk pergi ke rumahnya? Tapi apakah kita akan benar-benar pergi
pulang ke rumahnya?
Sebenarnya, aku tidak ambil pusing. Teman-teman sibuk meninggalkanku,
aku tidak punya pilihan untuk menghabiskan waktu juga. Daripada harus pulang ke
rumah, mungkin ini menjadi pilihan yang terbaik.
Tunggu…
Bagaimana jika sebenarnya Suci orang yang jahat dan berencana melakukan
sesuatu yang aneh-aneh kepadaku?
Entahlah. Aku tidak merasakan hal itu. Aku tidak merasa Suci adalah
orang asing, selayakmana aku merasakan kepanikan ketika melihat pengemudi ojek
daring pagi tadi. Tidak ada rasa khawatir, tidak ada rasa panik. Hanya rasa
bingung, juga sedikit penasaran. Padahal, urusan kami masing-masing tidak
begitu penting. Takdir dan nasib hidup tidak saling bersilangan, tidak saling membutuhkan
satu sama lain.
Kita hanya orang asing, kita hanya sebatas teman satu sekolahan.
Bahkan aku ragu Suci menganggapku teman.
\~\~\~\~\~\~\~\~
Gak ada hujan gak ada angin, Suci yang aneh tiba-tiba ngomong sama Ragib?
Padahal orang-orang anggep dia aneh …
Selamat datang lagi, teman-teman!
Kira-kira ada gak yang sama kaya Suci? Yang lebih suka sama dunianya sendiri?
Gak peduli sama orang-orang, yang penting fokus ke kita aja?
Kadang orang-orang itu bikin capek yaaaa
Kadang sendirian itu lebih enak yaaaa
Wkwkkwkwk dasar aku introvert
Btw …
See you next time ;)
Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!
__ADS_1