
DI BAWAH langit yang masih mengguyur hujan hingga besok subuh (karena jenis ini memang terkenal
sebagai hujan yang tahan lama), di atas trotoar yang ubinnya masih
hilang-hilangan, aku berjalan pulang tanpa menggunakan payung. Melihat
kiri-kanan waspada, melihat cermat setiap kendaraan yang melintas, menatap
seksama terhadap apapun yang dapat membuatku celaka. Entahlah motor yang
ugal-ugalan, preman yang memaksa meminta jatah, bahkan mungkin ada penguntit? Siap mengancam dengan pisau meminta barang berharga.
Tidak, tidak. Lupakan. Lupakan! Ini semua halusinasi.
Tidak ada yang terjadi. Hanya ada aku di jalan ini, dan orang-orang
tidak ada yang ingin mencelakaiku… aku harap.
“Shhuuu!” napasku ditarik masih dibantu alat pernapasan. Ada alasan
mengapa aku berjalan di jalanan, meskipun dengan semua teknologi yang telah
berkembang ini. Seperti yang Faisal bilang, gedung olahraga tempatku
futsal tadi cukup terpencil. Waktu yang dibutuhkan untuk berjalan ke jalan raya
utamanya saja lebih dari 30 menit. Maka dari itu, pilihan menggunakan taksi dan
angkutan umum dicoret sementara karena aku tidak mau repot berjalan ke jalan
raya utama.
Pilihan selanjutnya adalah ojek daring, kan? Dengan ponsel yang
berfungsi, pulang bukanlah menjadi masalah. Kecuali, masalah hujan yang
mengguyur lebat ini. Hampir satu jam waktu aku habiskan untuk menatap para
pengemudi yang membatalkan pesananku ini.
“Apa alasannya? Kenapa semuanya menolakku begini? Kenapa semuanya
meninggalkanku begini? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa?” tanyaku frustasi dan
depresi, hingga akhirnya ponselku mati, membuat satu pilihan untuk pulang
dicoret lagi.
Tidak ada pilihan, aku harus pergi ke jalan utama dan membatalkan
coretan pada taksi atau angkutan umum tadi. Alhasil, aku memaksakan diri untuk
berjalan di bawah hujan lebat, pada waktu malam yang gelap, tanpa payung, tanpa
seorangpun yang bisa membantu dan mengulurkan tangan. Sebenarnya, selama aku
berjalan menyusuri jalan ini, aku melirik kiri-kanan mencari ojek pangkalan.
Hanya saja, dengan berat hati harus aku coret lagi pilihan ini karena tidak ada
pangkalan yang bisa aku temukan.
Setelah waktu yang cukup panjang, akhirnya aku sampai juga di pinggir
jalan utama. Lelah dan merasa tidak karuan, aku berencana untuk pulang dengan
aman dan nyaman. Maka, aku panggil saja taksi sebagai satu dari dua pilihan
yang tersisa. Hanya saja, karena perawakanku yang basah kuyup, tidak ada satupun
pengemudi yang berbaik hati untuk mengizinkanku masuk mobil mereka.
Sampai pada akhirnya pilihan hanya tersisa satu, angkutan umum terpaksa
aku gunakan. Bahkan, itu pun dengan perjalanan yang masih memiliki banyak
kendala ini dan itu. Seperti mobil yang diam menunggu penumpang, mengambil
jalur yang berputar-putar, hingga paksaan para sopir untuk menurunkanku di
tengah jalan (karena alasan mereka juga ingin pulang). Pergantian angkutan umum
bahkan tetap terjadi berkali-kali, sampai aku benar-benar harus berjalan
menggunakan kedua kaki saja.
Akhirnya, setelah perjalanan yang panjang, sebuah gapura yang sangat
kukenali bisa terlihat juga. Gapura yang warnanya usang dan catnya terkelupas,
di atasnya terlihat ilustrasi rumah dan rumput, hingga sebuah tulisan yang
terpampang di tengah begitu jelas (karena ada lampu kecil di bagian paling atas
untuk memudahkan penerangan dan pembacaan).
Tulisan tersebut mewakili nama komplek yang berada di satu lingkup yang
sama, sebuah komplek perumahan medioker bernama ‘Pondok Asri’. Komplek
perumahan tempat rumahku (rumah ayahku sebenarnya) berada, tempat destinasi
tujuan akhirku bersemayam.
Tapi, sebelum aku benar-benar bisa memasuki melewati gapura tersebut,
portal yang hanya ditutup pada tengah malam itu dilewati santai oleh sebuah
mobil hitam yang berjalan pelan, bahkan berhenti sebentar di tengah-tengah
gapura, membuat jalanku sedikit terhambat dan terhalangi. Terdengar entahlah
apa, mungkin sedang berbicara basa-basi dengan satpam penjaga yang bekerja di
dalam pos kecil dekat gapura.
Melihat kesempatan, aku berencana untuk menyapa satpam juga, mengikuti
aliran sosial yang terjadi, sekaligus memaksa diri berusaha memberikan rasa
tenang. Memangnya kamu kenal? Memangnya dia tahu kamu tinggal disini? Kapan
kamu berinteraksi dengan orang-orang disini? “Tidak ada salahnya, kan?
J-Ja-Jangan membuat semuanya menjadi lebih sulit, dong!” bantahku pada batin
yang terus menyerang.
Dan ketika aku mengakhiri debat yang dimulai oleh diriku sendiri, satpam
dengan perawakan besar dan hitam gelap tak terlihat malah melihatku dengan
tatapan heran. Aku tersentak, hanya menunduk membatalkan apapun yang ingin aku
lakukan, sambil berusaha tidak menampilkan niat jahat. Aku memalingkan muka,
kembali berusaha berjalan pulang.
Beruntung, satpam itu memilih untuk kembali ke pos kecilnya.
Tunggu. Tidak. Satpam itu kembali keluar?
Tidak Tidak! Kenapa satpam justru mengejarku? Apa yang aku lakukan?
Tolong! Tolong! Kenapa selalu aku, sih?
Berjalan cepat dan berlari melewati jajaran ruko, hingga rumah-rumah
warga di kiri-kanan, aku berusaha kabur lebih cepat dari satpam yang mengangkat
benda entahlah apa, pokoknya memiliki ujung yang runcing dan lancip, terlihat
membahayakan. Inilah kenapa aku tidak ingin kembali pulang ke rumah. Tidak
ada apapun yang bisa membuatku tenang, batinku memprotes kesal. Mau
bagaimana? Sehari-hari, biasanya aku menginap di rumah teman, di indekos teman,
di warung bersama teman, pokoknya tidak pernah sendirian.
Aku tidak punya pilihan!
Aku tidak bisa dan tidak boleh untuk sendirian.
Setelah lega melihat satpam yang berhenti mengejar, aku yang kehilangan
napas, sesak, dan terengah-engah mulai menghirup alat bantu napas sekali lagi
untuk melanjutkan perjalanan. Namun, sisa perjalanan ini sepertinya akan lebih
sulit karena tubuhku yang lelah seperti mau ambruk. Aku pun berjalan
sempoyongan pelan kehabisan tenaga, selalu menyangga diri dengan bertahan pada
pagar, atau mungkin dinding, atau apapun di setiap rumah warga.
Seperti biasa, aku mencoba menghibur diri lagi dengan menatap sekitar.
Dengan lampu jalan berwarna kuning jingga yang remang, terlihat warung di sisi
kanan dengan lampu teras menyala terang, pun terlihat satu dua anak kecil
bermain bercakap entahlah apa. Di depanku, terlihat seorang laki-laki dengan
celana pendeknya berjalan mendekati warung tadi dari arah berlawanan sambil
menatapku heran. Berjalan lebih jauh, terlihat gazebo di tengah taman yang
ditempati oleh banyak remaja sedang merokok, berbicara entahlah apa, bermain
sesuatu di ponsel mereka, bermain gitar, menyanyikan sesuatu, atau diam menatap
langit. Satu waktu, aku lihat mereka menatapku seperti sedang menghakimi ‘orang
bodoh mana yang hujan-hujanan pada malam hari?’.
Aku berjalan tidak bergeming, memastikan tidak ada niat jahat mendekati,
atau siapapun yang berusaha mencelakaiku dan membuatku mati (selain kehabisan
__ADS_1
oksigen atau sesak bernapas). Aku memang tinggal di sini. Tidak. Aku pindah
kesini. Tapi, meskipun sudah sejak tiga tahun yang lalu, aku tidak benar-benar
tinggal di sini. Aku tidak begitu tahu apakah perumahan medioker ini memiliki
masyarakat yang baik atau tidak. Lebih baik waspada berlebihan daripada
menyesal, kan?
Akhirnya, setelah sejak tadi berjalan lurus dari gapura, lalu belok
kanan di ujung jalan, lalu belok kiri lagi di pertigaan setelahnya, aku sampai
di rumah paling ujung, yang orang-orang jauhi, rumah di sudut yang tidak
diinginkan
Rumah dua tingkat yang sebenarnya serupa seperti rumah komplek medioker
pada umumnya, rumah dari bata, atap dengan tanah liat, mungkin keramik, entahlah
apa aku tidak begitu tahu (yang penting bukan kaca), dengan jendela yang cukup
membuat ventilasi yang baik, hingga taman kecil di depannya.
Kecuali, rumput yang mulai merambat, lampu yang mati, bahkan mungkin
bohlamnya pecah? Entahlah apakah masih memiliki listrik atau tidak. Dinding
yang kotor penuh bercak noda tidak pernah dicat ulang, lantai penuh sampah
tidak pernah dibersihkan, jendela yang selalu tertutup menyembunyikan diri
tidak ingin dilihat dari dunia luar. Rumah ini memberikan aura yang tidak
menyenangkan, bahkan selalu disebut rumah angker hingga anak-anak katanya
banyak menjauhinya.
Beruntung, rumah ini tetap kokoh dan layak huni. Meskipun memang kotor
dan berantakan karena aku hanya pulang kesini empat sampai lima kali
dalam satu bulan. Mau bagaimana? Tempat ini hanya tempat persinggahan untukku
tidur, jika tidak ada pilihan lain yang tersedia (seperti yang terjadi saat
ini).
Meskipun angker dan berantakan, aku tidak peduli. Rasa dingin yang
membuatku menggigil memaksaku untuk tetap masuk ke dalam rumah ini, rumahku
sendiri. Aku mulai mengambil kunci dari dalam kantong celana, memutar lubang
kunci sampai berbunyi klik, membuka pintu depan, memperlihatkan penampakan
rumah yang selama ini aku tinggalkan.
“Aku pulang,” seruku bukan pada siapa-siapa, melainkan kegelapan malam
saja. Aku tidak bisa melihat apa-apa, kecuali ruang tamu kecil yang sedikit
mendapatkan cahaya dari sinar bulan. Berusaha untuk menghangatkan diri, aku
langsung berjalan maju, berusaha untuk mencari sakelar lampu di ujung ruangan
secepatnya.
Melangkah dengan mantap, aku yang berencana meraih ujung ruangan justru
dikejutkan oleh penampakan seseorang lain yang melintas dari sisi kiri.
Entahlah siapa, berjalan tenang mengikutiku, lalu hilang di ujung sudut pandang
mata.
Heran dengan kehadiran yang tidak diharapkan, aku langsung panik,
menarik napas panjang, berusaha mempersiapkan diri terhadap apapun yang tengah
menunggu. Akankah aku mati disini? Apakah ini saatnya? Seperti masa lalu?
Tapi masa lalu di hutan pun ayah tetap menolong!
Tolong? Tolong! Ayah? Ayah! Jangan biarkan aku sendiri lagi!
Berusaha melindungi diri, aku pun mundur sedikit, berusaha menjauh dari
penampakan tadi. Melirik sekitar, mencari dengan cepat apapun yang bisa
dijadikan senjata, sebelum akhirnya tersandung oleh entahlah apa. Tiba-tiba,
tanpa persiapan yang matang, aku malah bertemu lagi oleh sang pemilik
penampakan.
Jantungku sempat copot, berhenti berdetak sebentar, panik karena
malaikat maut siap menjemput. “Kkkk–kakhakha-khahahah,” tawaku kemudian, sebagai
respon begitu melihat penampakan lebih jelas.
bayangan.
Aku berdiri membetulkan diri, menyeka celanaku yang penuh debu dan
peluh, menatap bayangan di sebuah cermin yang terpasang di dinding depanku,
yang menampilkan diriku sendiri sedang basah tidak nyaman. Dengan rambut
berantakan juga, dengan penampakan yang menyedihkan.
“Kkkkk. Kenapa lo? Basah amat itu sekujur tubuh. Kotor pula. Kayak orang
yang nyebur ke kolam nyari harga diri yang hanyut dibawa arus,” sindirku
terhadap bayangan di depan. “Tiap bulan dikasih duit, tapi payung pun gak
punya? Habis buat apa aja sih? Kkkkkk!”
Kemudian, aku tinggalkan penampakan yang ternyata hanya halusinasi atas
bayanganku belaka, langsung kembali pada tujuan utama untuk mencari sakelar.
Dalam tiga langkah selanjutnya, ujung dinding akhirnya aku temukan. Gelap, aku
pun meraba-raba sekitar, meraba di atas bawah, kiri dan kanan, sampai akhirnya
aku temukan juga sebuah sakelar dengan tiga tombol dengan posisi setinggi
kepala. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu pendek. Cocok dan mudah digunakan,
cocok untuk sakelar lampu yang entahlah terkoneksi kepada bohlam yang mana.
Sakelar aku tekan, dan setelahnya muncul penerangan di belakangku.
Ini untuk ruang tamu, ya?
Dan ketika aku menekan tombol yang lain, lampu di teras depan mulai
menyala dengan remang-remang hingga akhirnya praktis mati. Baiklah, ini
cukup, pikirku melihat lampu. Tanganku menjauh dari sakelar, lalu aku mulai
balik badan untuk melihat ruang tamu dengan lebih jelas. Tapi, apa yang aku
harapkan? Ruang tamu ini hanya terdiri dari cermin di sisi kananku, lalu nakas
dan kursi kecil dari kayu di sisi yang berlawanan.
Tidak ada furnitur berarti, karena memang bukan rumah yang ditempati
satu keluarga yang berfungsi. Atau tidak? Rumah ini sebenarnya ditempati oleh
lebih dari satu orang? Aku tidak benar-benar sendirian disini, kok. Di ujung
ruangan, terlihat beberapa kecoak yang mulai kocar-kacir melihat cahaya, mulai
kabur dari ruang tamu dan pergi mencari perlindungan pada tempat yang lebih
gelap dan lembap.
“Kkkk, kotor banget dah tempatnya. Ada kecoak dan serangga?” protesku
bukan pada siapapun. “Brrrr!” gigilku kemudian menyadari tubuh ini yang masih
basah kuyup.
Aku langsung balik badan, berusaha untuk menerka lagi dimana gerangan
kamar mandi berada. Bergerak memasuki lengkungan dinding, menuju koridor gelap
dengan sedikit penerangan dari ruang tamu. Dengan tangan terlentang ke kiri,
aku berusaha mengikuti setiap lekukan dinding di sisi kiri sampai pada akhirnya
sampai juga pada sebuah sakelar lain yang berada di depan ruangan dengan pintu
tertutup.
Tapi, sebelum aku tekan sakelar ini, terdengar suara seperti terjatuh.
Suara yang sangat jelas, sangat dekat pula jaraknya. Rasanya, suara terjatuh
ini berada di samping kananku, yang masih berada di dalam koridor gelap ini.
Bahkan, sebelum aku lihat pun sudah aku rasakan bayangan yang jatuh ini
menatapku lamat-lamat. Hanya saja, suara jatuh ini tidak langsung membanting di
atas ubin. Seperti tersangkut, seperti jatuh dengan kikuk.
Merasa aman, aku beranikan diri saja untuk menatap bayangan di sisi
kanan.
Aku hanya berhalusinasi, kan? Ti-tidak ada, tidak ada siapapun di rumah
__ADS_1
ini, kan?
Nyatanya, aku salah besar.
Begitu aku tekan empat tombol sakelar, serentak empat lampu langsung
menyala semua, memberikan jawaban atas tatapan lamat dari bayangan jatuh
barusan. Dan disana, bayangan yang ternyata posisinya terjatuh canggung
tersebut adalah ayahku sendiri.
“Ah. Aku pulang, yah,” seruku dengan napas tenang, mengetahui bahwa itu
hanya kenalanku saja. Kenalan berbahan dasar fiber, yang warna awalnya
putih, namun aku cat sedemikian rupa untuk mengikuti orang asli. Kenalan dan
kawanku ini tidak bergerak, dengan tubuh yang kaku, tidak bernapas, tidak
mengedip, bahkan tangan dan organ tubuhnya lepas? Mulai berceceran lagi, ya?
Aku perbaiki lagi posisi ayah, juga bersamaan dengan teman-temannya yang
juga terjatuh di belakangnya, membentuk efek domino dari ruang tengah. Tidak
seperti ruang tamu, justru berbalikan dengan ruang tamu, ruang tengah ini
terdiri dari dua sofa yang cukup nyaman, meja rendah cukup lebar di tengahnya,
dan dipenuhi oleh kenalan-kenalanku yang sudah menunggu kedatanganku.
Mereka serupa seperti ayah barusan, mereka manekin berbahan dasar fiber.
Awalnya semua berwarna putih, ada yang memiliki cat namun pudar, berpakaian
macam-macam, ada juga yang tidak berpakaian sama sekali. Mereka tidak bisa
bergerak, tubuhnya kaku, tidak bernapas, tidak mengedip, matanya tidak
menunjukkan kehidupan, karena memang bukan makhluk hidup. Terkadang, beberapa
bagian tubuh mereka bahkan terlepas. Ada yang kepalanya terjatuh, ada yang
hanya badannya saja berbaring di sofa. Namun, mereka semua mengisi rumahku,
selalu menunggu kedatanganku pulang.
“Aku pulang!” seruku sekali lagi, tanpa ada yang menjawab.
SETELAH
membersihkan diri dengan cukup dari kamar mandi di samping ruang tengah, aku
menatap ruangan dengan senyum yang sama. Senyum yang tenang, senyum yang
membuat rasa cemasku hilang tak berbekas.
Merasa lapar, aku langsung pergi menuju kulkas di salah satu sisi
ruangan. Membuka pintunya dengan penuh harapan, namun harus langsung menyadari
fakta bahwa ini adalah rumah yang ditinggalkan. Aku tidak memiliki apapun,
karena memang tidak memiliki hobi untuk memasak makanan sendiri.
Biar sajalah. Bukan lapar yang terlalu penting juga.
Aku bisa melewati malam tanpa masalah.
Aku tutup lagi pintu kulkas, dilanjutkan untuk pergi menuju salah satu
sofa di tengah, untuk kemudian bercengkrama dengan para manekin yang diam
dingin tak berjiwa. Sebenarnya, jumlah manekin ini hanya belasan. Entahlah
berapa jumlah pastinya. Karena ada bagian yang hilang, ada yang tidak lengkap,
jumlah pasti manekin utuh pun tidak bisa dihitung lagi. Tapi, yang penting
adalah jumlah tersebut sudah cukup untuk membuat ruang tengah ini penuh, belum
lagi jika menghitung yang ada di ruangan tertutup tadi.
“Ups, maaf maaf. Kkkkk!” tawaku setelah ceroboh menyenggol lautan
manekin. Salah satu dari mereka pun terjatuh, kepalanya terguling bebas di atas
lantai. Beruntung, aku langsung sigap menangkap sang kepala, untuk mencegahnya
tidak lebih jauh berkelana tanpa arah dan tujuan. Kemudian, aku simpan kepala
itu di atas meja rendah sebagai teman bicara malam ini, menemani kepala-kepala
lain di atas sini.
Aku lalu duduk di atas sofa, ditemani juga oleh banyak tubuh tanpa
kepala yang kaku, yang aku gerakkan sedemikian rupa sehingga membuat keadaan
seakan-akan kita saling merangkul satu sama lain.
“Rumah ini kotor banget, ya? Emang gak pernah dibersihkan, sih. Justru
ngeri juga kalau tiba-tiba aku pulang semuanya jadi bersih. Kkkkk!” tawaku
sembari santai bersandar di antara rangkulan manekin. Kemudian aku melirik ke
sekeliling, mencari bahan bicara yang bisa aku bahas. “Darimana saja sih ini
kotornya? Gak ada yang tinggal disini juga, kan?”
“Atau justru kotor karena ditinggali serangga dan hewan entahlah apa?”
“Rumahnya emang ditinggalkan, sih. Jadinya milik bersama.”
“Kenapa pula harus di pojok, sih? Jadi sumber serangga dan penyakit,
kan!?”
“Tapi, bukannya ingin di tempat lain juga sih. Ini sudah oke.”
“Untung saja masih ada air. Bisa mandi, bisa bersih-bersih.”
“Gimana kalau gue malah sial gak ada air? Kayak Atma, dong? Kkkkk!”
Dan setelahnya, aku terus mengoceh tanpa henti, membicarakan apapun
tidak kepada siapapun. Hanya kepada diri sendiri, berusaha untuk menghibur
diri.
Sampai pada akhirnya aku mulai lelah, atau mungkin hanya alasan karena
tidak ada lagi bahan pembicaraan, aku mulai berdiri, angkat kaki, pergi menuju
ruangan tertutup tadi. Meninggalkan manekin yang masih tidak bergerak, juga
dengan kepala-kepala mereka yang terdiam saling berhadapan satu sama lain.
Berjalan sempoyongan lagi, aku buka pintu ruangan tertutup, untuk
mendapati ruangan dengan cahaya remang-remang, dan tetap menampilkan beberapa
manekin yang tersebar disana-sini. Setidaknya, kasur utama yang berada di dalam
masih terlihat, menunjukkan bahwa ini tetap kamar tidur yang layak.
“Selamat malam semuanya!” ucapku kepada para manekin yang berdiri
canggung, mungkin juga tertidur canggung, yang menemaniku tidur bersama.
“Selamat tidur!” ucapku sekali lagi.
Sambil menarik selimut, aku perlahan mulai membiarkan rasa kantuk
merajalela.
Meski aku tidak begitu menyadarinya, ada tetesan air mata yang tidak
ingin aku jelaskan lebih lanjut, entahlah datang darimana, bersamaan dengan
jarum jam berdetak dengan sangat lambat.
“Selamat tidur semuanya!” ucapku lagi.
Se-lamat…, ti-dur
\~\~\~\~\~\~\~\~
Ada banyak
manekin di rumah?
Horror gak tuh?
Ahahahaha!
Selamat datang
lagi, teman-teman!
Ragib kenapa
punya banyak manekin di rumahnya, ya?
Bukannya
rumahnya ini neraka?
Ternyata
hantunya adalah manekin ini?
Btw …
See you next
time ;)
__ADS_1
Tungguin setiap
minggu untuk chapter barunya, ya!