Setan, Suci, Siuman

Setan, Suci, Siuman
Bab 4: Kepalanya Terjatuh


__ADS_3

DI BAWAH langit yang masih mengguyur hujan hingga besok subuh (karena jenis ini memang terkenal


sebagai hujan yang tahan lama), di atas trotoar yang ubinnya masih


hilang-hilangan, aku berjalan pulang tanpa menggunakan payung. Melihat


kiri-kanan waspada, melihat cermat setiap kendaraan yang melintas, menatap


seksama terhadap apapun yang dapat membuatku celaka. Entahlah motor yang


ugal-ugalan, preman yang memaksa meminta jatah, bahkan mungkin ada penguntit? Siap mengancam dengan pisau meminta barang berharga.


Tidak, tidak. Lupakan. Lupakan! Ini semua halusinasi.


Tidak ada yang terjadi. Hanya ada aku di jalan ini, dan orang-orang


tidak ada yang ingin mencelakaiku… aku harap.


“Shhuuu!” napasku ditarik masih dibantu alat pernapasan. Ada alasan


mengapa aku berjalan di jalanan, meskipun dengan semua teknologi yang telah


berkembang ini.  Seperti yang Faisal bilang, gedung olahraga tempatku


futsal tadi cukup terpencil. Waktu yang dibutuhkan untuk berjalan ke jalan raya


utamanya saja lebih dari 30 menit. Maka dari itu, pilihan menggunakan taksi dan


angkutan umum dicoret sementara karena aku tidak mau repot berjalan ke jalan


raya utama.


Pilihan selanjutnya adalah ojek daring, kan? Dengan ponsel yang


berfungsi, pulang bukanlah menjadi masalah. Kecuali, masalah hujan yang


mengguyur lebat ini. Hampir satu jam waktu aku habiskan untuk menatap para


pengemudi yang membatalkan pesananku ini.


“Apa alasannya? Kenapa semuanya menolakku begini? Kenapa semuanya


meninggalkanku begini? Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa?” tanyaku frustasi dan


depresi, hingga akhirnya ponselku mati, membuat satu pilihan untuk pulang


dicoret lagi.


Tidak ada pilihan, aku harus pergi ke jalan utama dan membatalkan


coretan pada taksi atau angkutan umum tadi. Alhasil, aku memaksakan diri untuk


berjalan di bawah hujan lebat, pada waktu malam yang gelap, tanpa payung, tanpa


seorangpun yang bisa membantu dan mengulurkan tangan. Sebenarnya, selama aku


berjalan menyusuri jalan ini, aku melirik kiri-kanan mencari ojek pangkalan.


Hanya saja, dengan berat hati harus aku coret lagi pilihan ini karena tidak ada


pangkalan yang bisa aku temukan.


Setelah waktu yang cukup panjang, akhirnya aku sampai juga di pinggir


jalan utama. Lelah dan merasa tidak karuan, aku berencana untuk pulang dengan


aman dan nyaman. Maka, aku panggil saja taksi sebagai satu dari dua pilihan


yang tersisa. Hanya saja, karena perawakanku yang basah kuyup, tidak ada satupun


pengemudi yang berbaik hati untuk mengizinkanku masuk mobil mereka.


Sampai pada akhirnya pilihan hanya tersisa satu, angkutan umum terpaksa


aku gunakan. Bahkan, itu pun dengan perjalanan yang masih memiliki banyak


kendala ini dan itu. Seperti mobil yang diam menunggu penumpang, mengambil


jalur yang berputar-putar, hingga paksaan para sopir untuk menurunkanku di


tengah jalan (karena alasan mereka juga ingin pulang). Pergantian angkutan umum


bahkan tetap terjadi berkali-kali, sampai aku benar-benar harus berjalan


menggunakan kedua kaki saja.


Akhirnya, setelah perjalanan yang panjang, sebuah gapura yang sangat


kukenali bisa terlihat juga. Gapura yang warnanya usang dan catnya terkelupas,


di atasnya terlihat ilustrasi rumah dan rumput, hingga sebuah tulisan yang


terpampang di tengah begitu jelas (karena ada lampu kecil di bagian paling atas


untuk memudahkan penerangan dan pembacaan).


Tulisan tersebut mewakili nama komplek yang berada di satu lingkup yang


sama, sebuah komplek perumahan medioker bernama ‘Pondok Asri’. Komplek


perumahan tempat rumahku (rumah ayahku sebenarnya) berada, tempat destinasi


tujuan akhirku bersemayam.


Tapi, sebelum aku benar-benar bisa memasuki melewati gapura tersebut,


portal yang hanya ditutup pada tengah malam itu dilewati santai oleh sebuah


mobil hitam yang berjalan pelan, bahkan berhenti sebentar di tengah-tengah


gapura, membuat jalanku sedikit terhambat dan terhalangi. Terdengar entahlah


apa, mungkin sedang berbicara basa-basi dengan satpam penjaga yang bekerja di


dalam pos kecil dekat gapura.


Melihat kesempatan, aku berencana untuk menyapa satpam juga, mengikuti


aliran sosial yang terjadi, sekaligus memaksa diri berusaha memberikan rasa


tenang. Memangnya kamu kenal? Memangnya dia tahu kamu tinggal disini? Kapan


kamu berinteraksi dengan orang-orang disini? “Tidak ada salahnya, kan?


J-Ja-Jangan membuat semuanya menjadi lebih sulit, dong!” bantahku pada batin


yang terus menyerang.


Dan ketika aku mengakhiri debat yang dimulai oleh diriku sendiri, satpam


dengan perawakan besar dan hitam gelap tak terlihat malah melihatku dengan


tatapan heran. Aku tersentak, hanya menunduk membatalkan apapun yang ingin aku


lakukan, sambil berusaha tidak menampilkan niat jahat. Aku memalingkan muka,


kembali berusaha berjalan pulang.


Beruntung, satpam itu memilih untuk kembali ke pos kecilnya.


Tunggu. Tidak. Satpam itu kembali keluar?


Tidak Tidak! Kenapa satpam justru mengejarku? Apa yang aku lakukan?


Tolong! Tolong! Kenapa selalu aku, sih?


Berjalan cepat dan berlari melewati jajaran ruko, hingga rumah-rumah


warga di kiri-kanan, aku berusaha kabur lebih cepat dari satpam yang mengangkat


benda entahlah apa, pokoknya memiliki ujung yang runcing dan lancip, terlihat


membahayakan. Inilah kenapa aku tidak ingin kembali pulang ke rumah. Tidak


ada apapun yang bisa membuatku tenang, batinku memprotes kesal. Mau


bagaimana? Sehari-hari, biasanya aku menginap di rumah teman, di indekos teman,


di warung bersama teman, pokoknya tidak pernah sendirian.


Aku tidak punya pilihan!


Aku tidak bisa dan tidak boleh untuk sendirian.


Setelah lega melihat satpam yang berhenti mengejar, aku yang kehilangan


napas, sesak, dan terengah-engah mulai menghirup alat bantu napas sekali lagi


untuk melanjutkan perjalanan. Namun, sisa perjalanan ini sepertinya akan lebih


sulit karena tubuhku yang lelah seperti mau ambruk. Aku pun berjalan


sempoyongan pelan kehabisan tenaga, selalu menyangga diri dengan bertahan pada


pagar, atau mungkin dinding, atau apapun di setiap rumah warga.


Seperti biasa, aku mencoba menghibur diri lagi dengan menatap sekitar.


Dengan lampu jalan berwarna kuning jingga yang remang, terlihat warung di sisi


kanan dengan lampu teras menyala terang, pun terlihat satu dua anak kecil


bermain bercakap entahlah apa. Di depanku, terlihat seorang laki-laki dengan


celana pendeknya berjalan mendekati warung tadi dari arah berlawanan sambil


menatapku heran. Berjalan lebih jauh, terlihat gazebo di tengah taman yang


ditempati oleh banyak remaja sedang merokok, berbicara entahlah apa, bermain


sesuatu di ponsel mereka, bermain gitar, menyanyikan sesuatu, atau diam menatap


langit. Satu waktu, aku lihat mereka menatapku seperti sedang menghakimi ‘orang


bodoh mana yang hujan-hujanan pada malam hari?’.


Aku berjalan tidak bergeming, memastikan tidak ada niat jahat mendekati,


atau siapapun yang berusaha mencelakaiku dan membuatku mati (selain kehabisan

__ADS_1


oksigen atau sesak bernapas). Aku memang tinggal di sini. Tidak. Aku pindah


kesini. Tapi, meskipun sudah sejak tiga tahun yang lalu, aku tidak benar-benar


tinggal di sini. Aku tidak begitu tahu apakah perumahan medioker ini memiliki


masyarakat yang baik atau tidak. Lebih baik waspada berlebihan daripada


menyesal, kan?


Akhirnya, setelah sejak tadi berjalan lurus dari gapura, lalu belok


kanan di ujung jalan, lalu belok kiri lagi di pertigaan setelahnya, aku sampai


di rumah paling ujung, yang orang-orang jauhi, rumah di sudut yang tidak


diinginkan


Rumah dua tingkat yang sebenarnya serupa seperti rumah komplek medioker


pada umumnya, rumah dari bata, atap dengan tanah liat, mungkin keramik, entahlah


apa aku tidak begitu tahu (yang penting bukan kaca), dengan jendela yang cukup


membuat ventilasi yang baik, hingga taman kecil di depannya.


Kecuali, rumput yang mulai merambat, lampu yang mati, bahkan mungkin


bohlamnya pecah? Entahlah apakah masih memiliki listrik atau tidak. Dinding


yang kotor penuh bercak noda tidak pernah dicat ulang, lantai penuh sampah


tidak pernah dibersihkan, jendela yang selalu tertutup menyembunyikan diri


tidak ingin dilihat dari dunia luar. Rumah ini memberikan aura yang tidak


menyenangkan, bahkan selalu disebut rumah angker hingga anak-anak katanya


banyak menjauhinya.


Beruntung, rumah ini tetap kokoh dan layak huni. Meskipun memang kotor


dan  berantakan karena aku hanya pulang kesini empat sampai lima kali


dalam satu bulan. Mau bagaimana? Tempat ini hanya tempat persinggahan untukku


tidur, jika tidak ada pilihan lain yang tersedia (seperti yang terjadi saat


ini).


Meskipun angker dan berantakan, aku tidak peduli. Rasa dingin yang


membuatku menggigil memaksaku untuk tetap masuk ke dalam rumah ini, rumahku


sendiri. Aku mulai mengambil kunci dari dalam kantong celana, memutar lubang


kunci sampai berbunyi klik, membuka pintu depan, memperlihatkan penampakan


rumah yang selama ini aku tinggalkan.


“Aku pulang,” seruku bukan pada siapa-siapa, melainkan kegelapan malam


saja. Aku tidak bisa melihat apa-apa, kecuali ruang tamu kecil yang sedikit


mendapatkan cahaya dari sinar bulan. Berusaha untuk menghangatkan diri, aku


langsung berjalan maju, berusaha untuk mencari sakelar lampu di ujung ruangan


secepatnya.


Melangkah dengan mantap, aku yang berencana meraih ujung ruangan justru


dikejutkan oleh penampakan seseorang lain yang melintas dari sisi kiri.


Entahlah siapa, berjalan tenang mengikutiku, lalu hilang di ujung sudut pandang


mata.


Heran dengan kehadiran yang tidak diharapkan, aku langsung panik,


menarik napas panjang, berusaha mempersiapkan diri terhadap apapun yang tengah


menunggu. Akankah aku mati disini? Apakah ini saatnya? Seperti masa lalu?


Tapi masa lalu di hutan pun ayah tetap menolong!


Tolong? Tolong! Ayah? Ayah! Jangan biarkan aku sendiri lagi!


Berusaha melindungi diri, aku pun mundur sedikit, berusaha menjauh dari


penampakan tadi. Melirik sekitar, mencari dengan cepat apapun yang bisa


dijadikan senjata, sebelum akhirnya tersandung oleh entahlah apa. Tiba-tiba,


tanpa persiapan yang matang, aku malah bertemu lagi oleh sang pemilik


penampakan.


Jantungku sempat copot, berhenti berdetak sebentar, panik karena


malaikat maut siap menjemput. “Kkkk–kakhakha-khahahah,” tawaku kemudian, sebagai


respon begitu melihat penampakan lebih jelas.


bayangan.


Aku berdiri membetulkan diri, menyeka celanaku yang penuh debu dan


peluh, menatap bayangan di sebuah cermin yang terpasang di dinding depanku,


yang menampilkan diriku sendiri sedang basah tidak nyaman. Dengan rambut


berantakan juga, dengan penampakan yang menyedihkan.


“Kkkkk. Kenapa lo? Basah amat itu sekujur tubuh. Kotor pula. Kayak orang


yang nyebur ke kolam nyari harga diri yang hanyut dibawa arus,” sindirku


terhadap bayangan di depan. “Tiap bulan dikasih duit, tapi payung pun gak


punya? Habis buat apa aja sih? Kkkkkk!”


Kemudian, aku tinggalkan penampakan yang ternyata hanya halusinasi atas


bayanganku belaka, langsung kembali pada tujuan utama untuk mencari sakelar.


Dalam tiga langkah selanjutnya, ujung dinding akhirnya aku temukan. Gelap, aku


pun meraba-raba sekitar, meraba di atas bawah, kiri dan kanan, sampai akhirnya


aku temukan juga sebuah sakelar dengan tiga tombol dengan posisi setinggi


kepala. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu pendek. Cocok dan mudah digunakan,


cocok untuk sakelar lampu yang entahlah terkoneksi kepada bohlam yang mana.


Sakelar aku tekan, dan setelahnya muncul penerangan di belakangku.


Ini untuk ruang tamu, ya?


Dan ketika aku menekan tombol yang lain, lampu di teras depan mulai


menyala dengan remang-remang hingga akhirnya praktis mati. Baiklah, ini


cukup, pikirku melihat lampu. Tanganku menjauh dari sakelar, lalu aku mulai


balik badan untuk melihat ruang tamu dengan lebih jelas. Tapi, apa yang aku


harapkan? Ruang tamu ini hanya terdiri dari cermin di sisi kananku, lalu nakas


dan kursi kecil dari kayu di sisi yang berlawanan.


Tidak ada furnitur berarti, karena memang bukan rumah yang ditempati


satu keluarga yang berfungsi. Atau tidak? Rumah ini sebenarnya ditempati oleh


lebih dari satu orang? Aku tidak benar-benar sendirian disini, kok. Di ujung


ruangan, terlihat beberapa kecoak yang mulai kocar-kacir melihat cahaya, mulai


kabur dari ruang tamu dan pergi mencari perlindungan pada tempat yang lebih


gelap dan lembap.


“Kkkk, kotor banget dah tempatnya. Ada kecoak dan serangga?” protesku


bukan pada siapapun. “Brrrr!” gigilku kemudian menyadari tubuh ini yang masih


basah kuyup.


Aku langsung balik badan, berusaha untuk menerka lagi dimana gerangan


kamar mandi berada. Bergerak memasuki lengkungan dinding, menuju koridor gelap


dengan sedikit penerangan dari ruang tamu. Dengan tangan terlentang ke kiri,


aku berusaha mengikuti setiap lekukan dinding di sisi kiri sampai pada akhirnya


sampai juga pada sebuah sakelar lain yang berada di depan ruangan dengan pintu


tertutup.


Tapi, sebelum aku tekan sakelar ini, terdengar suara seperti terjatuh.


Suara yang sangat jelas, sangat dekat pula jaraknya. Rasanya, suara terjatuh


ini berada di samping kananku, yang masih berada di dalam koridor gelap ini.


Bahkan, sebelum aku lihat pun sudah aku rasakan bayangan yang jatuh ini


menatapku lamat-lamat. Hanya saja, suara jatuh ini tidak langsung membanting di


atas ubin. Seperti tersangkut, seperti jatuh dengan kikuk.


Merasa aman, aku beranikan diri saja untuk menatap bayangan di sisi


kanan.


Aku hanya berhalusinasi, kan? Ti-tidak ada, tidak ada siapapun di rumah

__ADS_1


ini, kan?


Nyatanya, aku salah besar.


Begitu aku tekan empat tombol sakelar, serentak empat lampu langsung


menyala semua, memberikan jawaban atas tatapan lamat dari bayangan jatuh


barusan. Dan disana, bayangan yang ternyata posisinya terjatuh canggung


tersebut adalah ayahku sendiri.


“Ah. Aku pulang, yah,” seruku dengan napas tenang, mengetahui bahwa itu


hanya kenalanku saja. Kenalan berbahan dasar fiber, yang warna awalnya


putih, namun aku cat sedemikian rupa untuk mengikuti orang asli. Kenalan dan


kawanku ini tidak bergerak, dengan tubuh yang kaku, tidak bernapas, tidak


mengedip, bahkan tangan dan organ tubuhnya lepas? Mulai berceceran lagi, ya?


Aku perbaiki lagi posisi ayah, juga bersamaan dengan teman-temannya yang


juga terjatuh di belakangnya, membentuk efek domino dari ruang tengah. Tidak


seperti ruang tamu, justru berbalikan dengan ruang tamu, ruang tengah ini


terdiri dari dua sofa yang cukup nyaman, meja rendah cukup lebar di tengahnya,


dan dipenuhi oleh kenalan-kenalanku yang sudah menunggu kedatanganku.


Mereka serupa seperti ayah barusan, mereka manekin berbahan dasar fiber.


Awalnya semua berwarna putih, ada yang memiliki cat namun pudar, berpakaian


macam-macam, ada juga yang tidak berpakaian sama sekali. Mereka tidak bisa


bergerak, tubuhnya kaku, tidak bernapas, tidak mengedip, matanya tidak


menunjukkan kehidupan, karena memang bukan makhluk hidup. Terkadang, beberapa


bagian tubuh mereka bahkan terlepas. Ada yang kepalanya terjatuh, ada yang


hanya badannya saja berbaring di sofa. Namun, mereka semua mengisi rumahku,


selalu menunggu kedatanganku pulang.


“Aku pulang!” seruku sekali lagi, tanpa ada yang menjawab.


SETELAH


membersihkan diri dengan cukup dari kamar mandi di samping ruang tengah, aku


menatap ruangan dengan senyum yang sama. Senyum yang tenang, senyum yang


membuat rasa cemasku hilang tak berbekas.


Merasa lapar, aku langsung pergi menuju kulkas di salah satu sisi


ruangan. Membuka pintunya dengan penuh harapan, namun harus langsung menyadari


fakta bahwa ini adalah rumah yang ditinggalkan. Aku tidak memiliki apapun,


karena memang tidak memiliki hobi untuk memasak makanan sendiri.


Biar sajalah. Bukan lapar yang terlalu penting juga.


Aku bisa melewati malam tanpa masalah.


Aku tutup lagi pintu kulkas, dilanjutkan untuk pergi menuju salah satu


sofa di tengah, untuk kemudian bercengkrama dengan para manekin yang diam


dingin tak berjiwa. Sebenarnya, jumlah manekin ini hanya belasan. Entahlah


berapa jumlah pastinya. Karena ada bagian yang hilang, ada yang tidak lengkap,


jumlah pasti manekin utuh pun tidak bisa dihitung lagi. Tapi, yang penting


adalah jumlah tersebut sudah cukup untuk membuat ruang tengah ini penuh, belum


lagi jika menghitung yang ada di ruangan tertutup tadi.


“Ups, maaf maaf. Kkkkk!” tawaku setelah ceroboh menyenggol lautan


manekin. Salah satu dari mereka pun terjatuh, kepalanya terguling bebas di atas


lantai. Beruntung, aku langsung sigap menangkap sang kepala, untuk mencegahnya


tidak lebih jauh berkelana tanpa arah dan tujuan. Kemudian, aku simpan kepala


itu di atas meja rendah sebagai teman bicara malam ini, menemani kepala-kepala


lain di atas sini.


Aku lalu duduk di atas sofa, ditemani juga oleh banyak tubuh tanpa


kepala yang kaku, yang aku gerakkan sedemikian rupa sehingga membuat keadaan


seakan-akan kita saling merangkul satu sama lain.


“Rumah ini kotor banget, ya? Emang gak pernah dibersihkan, sih. Justru


ngeri juga kalau tiba-tiba aku pulang semuanya jadi bersih. Kkkkk!” tawaku


sembari santai bersandar di antara rangkulan manekin. Kemudian aku melirik ke


sekeliling, mencari bahan bicara yang bisa aku bahas. “Darimana saja sih ini


kotornya? Gak ada yang tinggal disini juga, kan?”


“Atau justru kotor karena ditinggali serangga dan hewan entahlah apa?”


“Rumahnya emang ditinggalkan, sih. Jadinya milik bersama.”


“Kenapa pula harus di pojok, sih? Jadi sumber serangga dan penyakit,


kan!?”


“Tapi, bukannya ingin di tempat lain juga sih. Ini sudah oke.”


“Untung saja masih ada air. Bisa mandi, bisa bersih-bersih.”


“Gimana kalau gue malah sial gak ada air? Kayak Atma, dong? Kkkkk!”


Dan setelahnya, aku terus mengoceh tanpa henti, membicarakan apapun


tidak kepada siapapun. Hanya kepada diri sendiri, berusaha untuk menghibur


diri.


Sampai pada akhirnya aku mulai lelah, atau mungkin hanya alasan karena


tidak ada lagi bahan pembicaraan, aku mulai berdiri, angkat kaki, pergi menuju


ruangan tertutup tadi. Meninggalkan manekin yang masih tidak bergerak, juga


dengan kepala-kepala mereka yang terdiam saling berhadapan satu sama lain.


Berjalan sempoyongan lagi, aku buka pintu ruangan tertutup, untuk


mendapati ruangan dengan cahaya remang-remang, dan tetap menampilkan beberapa


manekin yang tersebar disana-sini. Setidaknya, kasur utama yang berada di dalam


masih terlihat, menunjukkan bahwa ini tetap kamar tidur yang layak.


“Selamat malam semuanya!” ucapku kepada para manekin yang berdiri


canggung, mungkin juga tertidur canggung, yang menemaniku tidur bersama.


“Selamat tidur!” ucapku sekali lagi.


Sambil menarik selimut, aku perlahan mulai membiarkan rasa kantuk


merajalela.


Meski aku tidak begitu menyadarinya, ada tetesan air mata yang tidak


ingin aku jelaskan lebih lanjut, entahlah datang darimana, bersamaan dengan


jarum jam berdetak dengan sangat lambat.


“Selamat tidur semuanya!” ucapku lagi.


Se-lamat…, ti-dur


\~\~\~\~\~\~\~\~


Ada banyak


manekin di rumah?


Horror gak tuh?


Ahahahaha!


Selamat datang


lagi, teman-teman!


Ragib kenapa


punya banyak manekin di rumahnya, ya?


Bukannya


rumahnya ini neraka?


Ternyata


hantunya adalah manekin ini?


Btw …


See you next


time ;)

__ADS_1


Tungguin setiap


minggu untuk chapter barunya, ya!


__ADS_2