
MALAM ini, aku tidak menginap di rumah Suci lagi. Selain tidak ingin menimbulkan masalah lebih besar kepada gadis berkacamata yang mendesis ini, aku memang merasa tidak nyaman dan sungkan jika harus merepotkan keluarganya lagi.
Atau mungkin karena hati kecilku yang juga menolak?
Tidak ingin mengingat masa lalu, tidak ingin mendapatkan kehangatan yang membicarakan masa lalu, karena masa lalu tidak bisa lagi terulang.
Semuanya berubah, semuanya tidak lagi sama.
Apalagi karena mesin waktu tidak bisa pergi ke masa lalu.
Meskipun Mama Suci bersikeras, aku tetap memaksa untuk menolaknya. Tapi, kami sama-sama keras kepala, sampai pada akhirnya muncul kesepakatan bahwa aku akan diantar oleh sopir pribadi keluarga Suci. “Baiklah kalau begitu. Saya berterima kasih banyak, Tante. Saya pulang dulu,” pamitku menunduk sembari menutup pintu ruang tamu.
“Hati-hati di jalan ya, sayang,” sahut Mama Suci dengan kecupan selamat tinggal.
Meninggalkan Mama Suci, gadis dengan telinga kecil lancip, dan gadis berkacamata yang mendesis, aku pun mulai turun dari teras menuju carport, membuka pintu mobil hitam SUV setelah bercakap sebentar dengan sopirnya, kemudian duduk dan mempersilakan sang pengemudi untuk memulai perjalanannya.
“Bapak sudah menyetir mobil berapa lama? Nyaman sekali rasanya disetir oleh Bapak. Jangan-jangan punya kemampuan rahasia, ya? Kkkkk,” celotehku basa-basi
“Ah, tidak. Mas Ragib berlebihan. Ini pekerjaan saya, jadi saya sudah terbiasa untuk MENGAMATI kanvas yang melukiskan potret seorang wanita dengan detail kecil penuh perhatian, aku dan Suci membahas panjang kemungkinan proses yang terjadi di balik pengerjaan gambar ini. Baik tentang tekniknya, maupun estimasi waktu pengerjaannya.
“Hasil dari kuasnya halus… mirip foto? Gak. Highlight-nya justru kasar. Tapi, malah kelihatan mirip rambut normal? Kalau liat lama-lama, ada kecenderungan kalau ini tetep lukisan,” komentarku tidak pada siapapun. “Hebat… pelukisnya bisa membagi antara potret foto dengan lukisan tidak sempurna hasil manusia. Apalagi di bagian bajunya, banyak goresan kasar. Tapi, itu bukan masalah. Apalagi focal point ada di mata, kan? Tapi, kenapa warna kulitnya harus biru, ya? Cahayanya masih sama-sama kuning seperti yang lain. Warna latarnya juga biru? Apa ini seperti tenggelam, ya? Matanya juga melihat ke arah lain, bukan ke depan. Seperti menangis? Tapi, ini ekspresif sekali, sih,” lanjutku sambil mengelus dagu.
“Dia bukan manusia?” heran Suci.
“Kenapa bukan? Proporsinya sangat manusiawi, kok.”
“Warnanya banyak. Bukan warna manusia.”
“Aku setuju. Tidak ada warna kulit manusia yang biru pekat, lalu dicampur merah, kuning, atau bahkan hijau. Bahkan warna cahayanya tidak murni kuning dan putih. Ada campuran jingga dan cokelat? Mungkin ini cara pelukisnya mengekspresikan maknanya? Entahlah. Apa nama lukisannya? ‘Drown’ …tenggelam? Maksudnya eksplisit begitu saja? Warna birunya dari pantulan air laut?”
“Suci jadi ingin nangis,” lanjut Suci lebih lama menatap lukisan wanita biru ini.
“…,” aku menoleh menatap Suci yang berada di samping, melihat matanya yang bersinar terang berubah menjadi mata yang sembab merah, siap untuk membanjiri mukanya dengan air mata. Kembali menatap lukisan di depan, aku lumayan bisa paham teriakan permintaan tolong dari wanita biru ini. Meskipun mulutnya hanya terbuka separuh–bukan terbuka untuk berteriak–rasanya aku bisa mendengar suara yang tenggelam dari wanita biru ini. Seperti ingin menghabiskan udara di dalam paru-parunya, seperti ingin menghabiskan sisa waktu hidupnya.
Lebih lanjut, aku dan Suci jalan-jalan lagi mencari lukisan lain, sekaligus menikmati suasana yang ditawarkan oleh pameran ini. Jumlah dari lukisan yang dipajang sendiri mungkin berjumlah lebih dari belasan. Sekitar 30 lukisan? Atau mungkin lebih sedikit dari itu? Selain lukisan dan kanvas, pameran ini dilengkapi oleh banner vertikal yang dipasang di setiap pilar, ada juga x banner yang berada di sudut pameran, hingga banner horizontal yang digantung sampai-sampai lantai atas bisa melihatnya dengan jelas. Di bagian depan, terlihat sesuatu selain lukisan, yakni sebuah panggung dan monitor besar di belakangnya.
Ini benar-benar pameran yang didukung secara maksimal.
Bukan asal-asalan, terlihat jelas ada niat yang besar di dalamnya.
Di sekitar pameran, terlihat pengunjung yang malu-malu hanya melihat dari sisi luarnya saja. Hanya berbincang dengan kerabat atau keluarganya, mengomentari keberadaan pameran yang tidak biasa ini. Ada juga yang saling dorong tidak berani untuk bertanya, hingga petugas pun mendekat untuk membantu menjawab. Tidak hanya pengunjung yang mampir atas dasar iseng belaka, pengunjung yang menikmati lukisan pun tetap hadir meskipun hanya satu dua saja.
Tidak hanya untuk dewasa, di satu sisi pameran terdapat area melukis yang diperuntukkan bagi anak kecil yang penasaran. Semuanya bisa menikmati pameran, semuanya kebagian.
Ketika berkeliling, ternyata lukisan yang dipajang pun variatif banyak jenisnya. Dari lukisan pemandangan, potret seseorang (seperti wanita biru tadi), lukisan kejadian seperti perang atau demonstrasi, dengan subjek manusia maupun hewan, bahkan lukisan abstrak? Ada beberapa coretan dan goresan acak, menampilkan dunia yang realistis, maupun dunia yang sulit dimengerti. Pokoknya, aku dan Suci benar-benar menikmati pameran ini. Apalagi, gadis ini tidak pernah tidak membahas atau bertanya kepadaku, meminta pendapatku, terkait interpretasi masing-masing terhadap lukisan-lukisan ini.
“Tangannya mirip laba-laba?”
“Kuningnya seram. Ini masa depan?”
“Kenapa nenek ini menangis?”
“Ini rusa?”
“Ini adu ayam? Ekornya bagus!”
“Ini Bandung jaman dulu? Suci jadi ingin ke Bandung.”
“Kalau ini Jakarta?”
“Ini gunung berapi, ya?”
“Ini mirip coretan anak kecil.”
Dan berbagai pertanyaan atau tanggapan lain yang tidak bisa dijelaskan satu persatu. Seperti anak kecil, Suci terlihat antusias dan selalu bertanya dari setiap lukisan yang dia lihat. Meski terkadang dia merasa tidak nyaman terhadap satu lukisan karena suasana menyeramkan, Suci selalu berusaha bertanya dan menerka ‘Kira-kira pelukisnya ingin menyampaikan apa?’ yang tidak selalu bisa kujawab.
Aku kan bukan pelukisnya?
Sampai pada akhirnya kita berada di penghujung pameran, kita pun tidak memiliki pilihan kecuali kembali berputar. Tunggu. Nila kemana? Dia yang membawa Suci kesini, kan? pikirku heran ketika tersadar bahwa gadis berkacamata itu telah hilang. Aku menoleh kiri-kanan, melihat sekeliling, berusaha mencari kemana gerangan gadis itu pergi?
__ADS_1
“Ayo ulang! Suci mau liat dari awal lagi!” ajak Suci tanpa permisi, langsung saja pergi meninggalkanku dan pergi ke kanvas pertama. Beruntung, dia tidak menarik tanganku lagi. Aku tidak perlu terpaksa untuk mengikutinya, tidak lagi harus menjawab setiap pertanyaannya. Akhirnya aku bisa bebas!
Tidak. Masih ada masalah yang harus aku selesaikan. Kemana Nila pergi?
Meninggalkan Suci, aku pun pergi dari kawasan pameran. Mulai berkeliling di lantai dasar ini, mencari kemana gerangan gadis itu pergi. Nila memang terlihat berbohong ketika bilang paham tentang lukisan. Tapi aku pikir dia tidak perlu menyendiri juga, kan?
Tidak. Sejak awal Nila memang memaksa ingin pergi, kan?
Padahal dia tersiksa? Padahal dia tidak ingin? Bisa jadi Nila butuh waktu untuk menenangkan diri? Bisa jadi dia sedang di toilet. Siapa tahu juga? Aku dan Suci bukannya menghabiskan waktu berjam-jam di pameran, kan? Nila bisa jadi memang berada di toilet.
Ya. Benar.
Tidak perlu khawatir. Nila memang sedang pergi ke toilet untuk menenangkan diri. Ini sudah hampir sore hari, tentunya Nila lelah karena memaksakan diri untuk mengikuti jalan-jalan bersama Suci (dan aku) ini, kan?
Aku pun kembali ke kawasan pameran, untuk mendapatkan jawaban yang sangat salah terhadap spekulasiku ini.
Di samping sebuah pilar, terdapat kursi panjang yang memang diperuntukkan agar pengunjung bisa beristirahat. Disana, terlihat Nila yang duduk dengan takut, gelisah, panik, juga cemas, dengan mata yang menunjukkan perasaan kacau, badan yang tegang dan kaku, bingung bagaimana merespon. Tangan yang menggenggam kursi pun terlihat gemetaran, pokoknya dalam kondisi tidak baik-baik saja.
Wanita perawat sempat bilang bahwa Nila memiliki kondisi tertentu. Aku tidak begitu tahu apa kondisi ‘tertentu’ tersebut. Yang pasti, dia sangat menolak kehadiranku di rumah Suci, berusaha untuk mengusirku sebisa mungkin. Bisa jadi kondisinya adalah takut akan orang baru? Dan sekarang, dia harus menghadapi dua orang lelaki yang aku pun tidak ketahui identitasnya? Mereka berdua pun terlihat sedang menggoda dan mengajak Nila untuk bermain, jalan-jalan, mungkin meminta nomor teleponnya?
Yah, mereka tidak sepenuhnya salah. Nila, gadis berkacamata dengan rambut bergelombang cantik ini memang terlihat sangat menawan, memberikan impresi menarik bagi siapapun yang melihatnya. Sejak awal, aku pikir gadis ini memang lumayan cantik terlepas dari perilaku kasarnya yang selalu menunjukkan rasa benci kepadaku.
Tidak.
Meskipun Nila merupakan gadis cantik nan sederhana karena tengah mengenakan kaus biru tua, sweater panjang abu-abu, dan celana jeans biru saja, tidak semestinya dua lelaki ini menggodanya. MEREKA SALAH!!! DUA LAKI-LAKI INI SALAH!!!!
“Nila! Akhirnya ketemu juga. Udah nunggu, ya? Kkkk. Eh, ini siapa?” teriakku sambil berlari mendekati Nila, memotong lengan lelaki yang sempat ingin memeluk pundaknya. “Lagi bicara apa, nih? Gue ikut juga, dong!”
“Eh? Bicara… pameran? Pameran! Ya!” jawab sang lelaki gelagapan.
“Ya! Pameran. Aneh banget, ya. Pameran lukisan? Pffft- Siapa yang bakal suka?”
“Kkkk. Gitu, ya? Yasudah. Nila, langsung, yuk?” tanyaku sambil mengulurkan tangan, yang langsung digenggam Nila yang berdiri tergesa-gesa. “Makasih. Daah!” salamku pergi meninggalkan mereka tanpa perlu menerima respon.
“Cih. Udah ada cowoknya, ya?” lirik sang lelaki dengan nada rendah yang sebenarnya masih bisa aku dengar jelas. “Gak bisa berbagi, apa?”
Setelahnya, aku pun pergi mencari tempat yang lebih aman dan nyaman, pergi menjauh, sampai akhirnya menemukan kawasan yang sepi. Kawasan yang cocok untuk menenangkan diri, cocok untuk berdiam diri.
Sambil duduk di kursi, Nila yang berada di sampingku (sudah melepaskan genggaman tangan) ternyata masih gemetaran. Sebenarnya, aku ingin melakukan sesuatu untuknya seperti mengucapkan sesuatu yang menyenangkan atau sekadar mengelus pundaknya. Tapi, tentu saja aku urungkan. Aku tidak berhak melakukan itu, pun sifat Nila yang menilai semua hal selain Suci adalah suatu keburukan. Alhasil, aku diamkan saja gadis ini, yang ternyata sedang sesenggukan menahan tangis sambil mengusap air matanya.
“Ragib dari mana aja, sih!? Suci cari-cari ternyata santai disini!? Dari tadi Suci bicara sendiri, dong? Ragib bodoh! Tolol. Nila kenapa? Ragib ini Nila kenapa!? Ragib payah banget! Ragib jahat!” pekik Suci dengan hinaan lainnya tidak membiarkanku dan Nila untuk menenangkan diri. Suci lebih lanjut memeluk Nila yang masih sesenggukan, menatapku marah seakan-akan akulah pelaku dari semua permasalahan yang ada.
Tidak sudi, aku pun meminta Nila untuk menjelaskannya sehingga suasana bisa lebih tenang. Tapi, tatapan Nila masih tajam, masih mendesis, bagaikan ular yang berusaha untuk mencekik mangsanya, siap melahapnya tanpa bekas.
PADAHAL AKU SUDAH BERBUAT BAIK, LOH?
MALAH DIPERLAKUKAN SEPERTI INI!?
Aku jadi ingat mengapa aku tidak ingin pergi kesini sejak awal…
Dua gadis ini merepotkan sekali!!
Aku tidak suka. Aku tidak suka. Aku tidak suka. Aku tidak suka.
Aku tidak suka.
“Udahlah gak penting. Mending sekarang lihat ini,” ucap Suci melepas pelukan pada Nila, untuk memamerkan lembaran pamflet berwarna biru kepada kami berdua. “Ada lomba melukis! Bukan untuk anak kecil, melukis profesional! Wah, Suci gak sabar! Suci bisa menang juara berapa, ya? Hehe-hehe, hehehehe. Asik asik asik!” pekiknya antusias melupakan aku dan Nila, berputar-putar memegang pamflet di kedua tangannya.
Sebenarnya, percaya diri Suci ini boleh diacungi jempol. Tapi, meremehkan kompetisi sampai bisa memilih juara ke berapa yang ingin diraihnya?
Aku pikir ini titik balik Suci agar bisa ditampar oleh pahitnya fakta kehidupan.
TIDAK terasa, tiba-tiba saja hari sudah mendekati malam. Bersamaan dengan itu, energi yang Suci miliki pun perlahan surut dan tenggelam. Dia sudah lelah, rasa kantuknya sudah mulai menguasai jiwa. Sebenarnya, Suci masih bergandengan tangan dengan Nila secara aktif. Mengayunkannya ke depan belakang, berusaha untuk menolak bahwa hari akan berubah. Masalahnya, pameran sudah hampir selesai, sudah berada pada sesi penutupan. Kita tidak memiliki pilihan lain, selain pergi menghabiskan waktu di restoran cepat saji untuk mengisi perut yang sejak tadi belum diisi.
Memesan nasi ayam hingga kenyang, memenuhi rengekan perut hingga pengap, rasa kantuk ternyata malah kembali menyerang. Tidak lagi tersisa energi yang bisa Suci keluarkan, Nila pun memberikan elusan nina bobo kepadanya. Gadis berkacamata itu tidak gemetaran lagi, tidak panik dan ketakutan lagi. Meskipun di sekitarnya masih banyak orang-orang berlalu lalang, masih ada aku yang duduk di seberangnya (hanya dibatasi oleh meja makan), dia terlihat tenang saja mengelus Suci di sampingnya.
Waktu berlalu dengan lambat, tiap elusan dilakukan secara perlahan.
Aku yang melihatnya pun ikut terbawa kantuk, apalagi dengan suara yang tidak terdengar, kecuali riuh orang-orang di kejauhan, juga beberapa serangga dan binatang yang bersembunyi di balik malam. Menatap langit, aku hanya bisa melihat warna jingga yang perlahan tertutupi oleh biru tua, hitam, dan beberapa bintang yang tersebar disana-sini.
__ADS_1
“Tidak! Jangan tidur dulu. Kita masih menunggu jemputan, kan?” tanyaku memecah keheningan, berusaha untuk mengembalikan kami bertiga pada kenyataan. Menampar pipi untuk menyadarkan diri, juga memukul menggebrak meja untuk membangunkan dua gadis di depan. Tentu, ini bukanya berita baik untuk mereka berdua.
Dengan Suci yang terbangun dan panik langsung duduk tegak (terlihat bekas saus di mulutnya), juga Nila yang tersentak kaget sedang santai mengelus rambut dan pipi Suci, hinaan dan cercaan pun siap dilayangkan. “Apasih? Kaget tahu!” pekik Suci tidak suka.
“Bego banget. Gak bisa lihat situasi apa!?” maki Nila yang sebenarnya tidak keluar secara nyata dari mulutnya, melainkan hanya tatapan sinisnya saja.
“Kok udah ngantuk? Gimana sih? Masih sore, tahu! Kkkkk,” ajakku langsung berdiri menyeka baju, melihat kiri-kanan dan sekeliling, mengambil ponsel untuk menanyai kabar sang sopir pribadi Suci yang bersuara bulat. Pak Ahmad namanya. Dia sudah berada di sekitar komplek mall? “Pak Ahmad udah dekat. Kita jalan ke gerbang belakang, yuk!”
“Males banget. Ngantuk tahu! Ragib tolol!” protes Suci. “Kita dijemput disini!”
“Iya di mall ini, kan? Kkkk. Udah gapapa. Gak lama juga, kan? Nanti siapa yang bakal gendong?” jawabku langsung pergi dari restoran cepat saji.
Mau bagaimana lagi? Siapa yang akan menggendongnya jika Suci tertidur di restoran cepat saji ini? Nila tidak mungkin. Aku? Aku menyentuh Suci saja sudah merupakan peringatan berbahaya di mata Nila. Terpaksa, Suci pun berjalan dengan rangkulan Nila. Kami berjalan perlahan, pergi ke arah yang berlawanan dari arah datang.
Setelah berjalan kurang lebih 10 menit, akhirnya kami sampai pada mobil minivan hitam mengilat yang juga baru sampai di salah satu parkiran terbuka. Aku melambai pada pemilik mobil, dan muncul Pak Ahmad dengan ekspresi kaget seperti melihat hantu di belakang kami.
“Loh, Mas Mbak yang datang kemari? Waduh, saya tidak enak jadinya,” ucap Pak Ahmad begitu keluar dari mobil. Beliau langsung membuka pintu geser dengan gesit, lalu pergi menghilang dari hadapan kami bertiga. Kenapa terburu-buru? pikirku heran.
Masih kebingungan dengan hilangnya Pak Ahmad diantara angin, Nila yang berjalan sempoyongan menggotong Suci di belakang mendahuluiku untuk memasuki mobil lebih dahulu. “Udah dibilang, kan? Kamu memang gak becus! Merepotkan saja. Cowok tolol!” hina Nila dengan tatapan sinisnya sebelum masuk ke kursi belakang mobil.
“Silakan, Mas Ragib,” sebut Pak Ahmad yang menutup pintu geser, lalu mengajakku untuk duduk di bagian depan mobil di samping sopir.
PUKUL 10 malam. Ini hari yang sangat melelahkan, batinku melihat jam dinding begitu menekan sakelar lampu ruang tamu yang masih tidak terisi oleh perabotan apapun. Sekarang, aku sudah kembali ke rumah kesayanganku yang masih berantakan penuh belasan manekin di bagian dalamnya, dan dedaunan atau sampah organik lainnya di teras taman depan rumah.
Tentu saja, rumahku ini merupakan pemberhentian terakhir dari Pak Ahmad. Prioritas utamanya adalah memulangkan dua tuan putri eksekutif ke kediamannya masing-masing. Bukannya aku protes atau semacamnya. Aku hanya menjelaskan alasan mengapa aku sampai di rumah mendekati tengah malam.
Tentu… bukan protes, bukan keluhan. Hanya penjelasan saja.
Tapi, ini tetap hari yang melelahkan, batinku sekali lagi.
Pergi ke ruang tengah, aku langsung duduk di sofa (sambil memeluk para manekin). Menatap bukan pada apapun, aku pun bangkit, mengambil gelas, dan meminum air mineral sebagai jawaban atas rasa penat yang aku rasakan.
Sebagai bayaran atas sesi belajar yang justru bukan dari Suci sendiri, aku harus mengorbankan akhir pekanku sampai sejauh ini. Apakah ini setimpal? Entahlah. Setidaknya, aku cukup percaya diri untuk mengerjakan kuis susulan dari Pak Prima. Aku harap.
Tapi… dengan bayaran sebesar ini? Harus berurusan dengan gadis-gadis merepotkan ini? Nila dan Suci? Yang sama-sama membenciku?
Nila memang jelas membenciku. Tapi Suci? Aku sebenarnya sulit untuk menjelaskannya juga. Dalam satu waktu, dia memang anak kecil yang menyenangkan. Tidak… justru karena Suci seperti anak kecil yang merepotkan, dia selalu seenaknya, yang selalu membuat semuanya menjadi berantakan tak karuan.
Meskipun bersosialisasi adalah sesuatu yang tidak ingin aku tinggalkan, tidak ingin kehilangan teman dan segala macam, tidak ingin merasa sendirian, yang aku lakukan bersama Suci dan Nila ini rasanya berbanding terbalik. Bukannya merasa senang bersama teman, aku malah harus menyiapkan mental baja atas hinaan dan kata-kata kasar mereka. Itu sangat tidak nyaman. Ini sangat tidak nyaman! Pergi ke rumah Suci sangatlah tidak menyenangkan, ucapku pada diri sendiri sembari merangkul manekin yang masih tak bernyawa.
Aku hanya ingin hidup tenang bersama teman-teman. Tidak lagi sendirian, saling bantu-membantu, bersama saling mengisi waktu-waktu kehidupan.
Harus seperti magnet yang berbeda kutub, saling memeluk dan bersatu.
Bukan seperti Suci dan Nila, yang justru saling tolak menolak denganku
…
Lelah sekali.
Mungkin aku main gim dulu?
\~\~\~\~\~\~\~\~
Kasian banget ya jadi Ragib WKWKWK
Harus ngurusin anak kecil di pameran, makan sore pun dimarahin mulu
Pulang-pulang capek, nyampe rumah hampir jam 10 :”)
Selamat datang lagi, teman-teman!
Bukannya dapet temen yang bisa saling membantu, Ragib malah dapet orang yang saling bentak dan tolak menolak ya
Kalian sendiri giman menghadapi tipe orang yang berbeda banget sama kalian?
Kayak kutub magnet yang tolak menolak itu?
Btw …
__ADS_1
See you next time ;)
Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!