Setan, Suci, Siuman

Setan, Suci, Siuman
Bab 13: Gitu Doang Gak Bisa?


__ADS_3

DITARIK ke seluruh penjuru sekolah, ternyata kami bukannya pergi mengunjungi perpustakaan (meskipun perpustakaan sekolah tidak buka 24 jam juga). Tapi, tentu aku penasaran, kemana gadis ini membawaku pergi? Bukankah untuk belajar? Tempat apa lagi yang cocok untuk belajar? Apakah ruang kelas yang kosong? Atau pergi ke kantin sembari memakan kudapan?


Tunggu. Kenapa kita malah pergi melewati gerbang sekolah? Apakah hendak pergi ke taman kota yang sejuk? Ini sudah sore! Yang ada suasana dingin saja. Apakah pergi ke perpustakaan kota yang lebih lengkap? Atau ke kafe sambil meminum kopi?


Seperti kemarin, setelah kami mengunjungi pos satpam untuk mengambil tas milik Suci, kami melintasi zebra cross tanpa lihat kiri kanan (dan membuat onar lagi kepada para pengendara mobil dan motor yang penuh emosi), menunggu di halte dengan kursi berwarna biru dengan banyak jejak vandalisme, diakhiri menaiki mobil angkutan kota berwarna hijau dengan dua garis putih. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda dari kemarin. Suci tidak membuka kaca untuk melihat pemandangan, matanya lurus menatap ke depan sedang fokus entahlah memikirkan apa, dengan kaki yang dihentakkan menyatakan ketidak sabarannya.


Meskipun ingin semuanya selesai dengan cepat, tidak mungkin juga untuk menyuruh sang supir angkutan kota untuk mengemudikan mobilnya cepat-cepat.


Ketidaksabaran gadis ini tidak akan berbuah.


Mobil angkutan kota akan selalu berhenti menunggu, terkadang berhenti untuk menaiki, atau juga menurunkan penumpang. Tidak hanya itu, mungkin sang sopir juga akan mengambil jalan memutar demi mencari lebih banyak penumpang.


“Kkkkk. Gak sabar banget, sih? Mau buru-buru juga kamu gak bisa apa-apa, kan?”


“…,” Suci tidak menjawab, tidak menoleh, bahkan tidak menghentikan hentakan kakinya sama sekali. Suci tidak terusik, dia tidak peduli.


“Memangnya mau belajar dimana, sih? Kenapa gak di perpus sekolah aja?”


“Rumah! Belajar! Nyaman!” ketus Suci kemudian dengan singkat dan cepat.


“Eh? Aduh gak enak, nih. Masa iya ke rumah kamu lagi? Baru kemarin aku repotin orang tua kamu, kan? Dikasih makan, boleh menginap. Gak masalah? Kamu gapapa?” tanyaku sungkan. Apa iya aku boleh kembali merepotkan Suci lagi?


“…,” serupa seperti sebelumnya, Suci tidak menjawab lagi.


Sebenarnya, tanpa diberitahu bahwa kita akan pergi ke rumahnya pun aku sudah mengetahui polanya dengan mudah. Apalagi karena mobil angkutan kota berwarna hijau dengan dua garis putih ini tidak pergi menuju ke lokasi tertentu sebagai kandidat tempat belajar yang nyaman (meskipun aku tidak tahu juga kalau ada kafe yang nyaman di sekitar rumah Suci).


Setelahnya, tidak ada percakapan yang terjadi lagi. Diajak berbicara pun Suci tidak menjawabnya dengan benar. Apalagi, karena gadis ini tidak akan bisa untuk berfokus pada satu topik pembicaraan saja. Dia selalu terdistraksi entahlah oleh apa, selalu bermain pergi kesana kemari seenaknya.


Saat perjalanan usai, ternyata ada satu lagi perbedaan dengan kemarin. Suci tidak membentur kepalanya saat turun, tidak jatuh terpeleset ceroboh menuruni tangga mobil, membayar ongkos dengan pas, langsung berjalan cepat mengikuti jalur menuju rumahnya ini.


Apa yang terjadi pada gadis ini? pikirku heran.


Aku sedikit terkejut, tapi aku hanya bisa angkat bahu. Sedikit cekikikan, karena melihat satu lagi keanehan yang gadis ini tunjukkan.


Kira-kira dia akan berubah menjadi seperti apa lagi?


Hipotesisku, perubahan pada Suci ini dipengaruhi oleh film yang kemarin ia tonton. Tentang sahabat perempuan yang bisa berubah bertransformasi menjadi peri, memiliki kekuatan untuk membasmi kejahatan, yang berjudul The Magic of Fairy Dust.


Layaknya karakter di dalam film tersebut, sekarang Suci lah yang sedang bertransformasi. Dari Suci yang hiperaktif bertindak seperti anak kecil yang ceroboh, berubah menjadi Suci yang tidak peduli pada apapun kecuali untuk fokus pada satu tujuan saja, entahlah nanti akan berubah menjadi apa lagi.


Atau tidak…? Sebelum Suci yang seperti anak kecil, dia sempat menjadi pribadi yang fokus seperti sekarang ini, kan? Suci yang sangat fokus sehingga saat Gen mengganggunya pun dia tidak terusik, juga saat sedang fokus saat menggambar laba-laba kemarin.


Jadi, transformasinya hanya berputar-putar saja, ya?


Dari A ke B, kembali ke A, berputar kembali ke B, dan begitu saja siklusnya.


Apa mungkin akan ada perubahan ke sifat ‘C’?


Lebih lanjut, sifat ‘A’ Suci yang fokus ini ditunjukkan dari caranya berjalan yang penuh percaya diri dan tegak tegap, dengan gerakan kepala yang cepat seperti leher ayam. Tidak lagi asal mencuri makanan dari minimarket karena lapar, tidak terdistraksi untuk bermain dengan kucing dan mengelusnya, bahkan langkahnya yang mantap tersebut tidak membuatnya harus tersandung dan terjatuh lagi.


Setelah beberapa lama, akhirnya kami sampai lagi pada rumah tiga lantai yang terdiri dari basement, lantai dasar, dan lantai dua setelahnya. Dengan kombinasi pagar besi dan tembok putih yang melindungi bagian depan rumah, jalan setapak dan tangga yang menghubungi teras dengan dekorasi batu alam dan taman indah di sekitarnya, hingga pintu utama yang beratap disangga oleh pilar indah dengan vas tumbuhan di sekitarnya.


“Aku harus kesini lagi, ya?” tanyaku lirih melirik kiri-kanan sulit untuk menikmati keindahan dan kemewahan pemandangan yang rumah ini berikan.


“Ragib cepat! Suci buru-buru!” protesnya sambil menarik tanganku lagi.


Pintu dibuka, kami pun masuk tanpa permisi. Karena Suci pemilik rumah ini, mungkin wajar saja masuk rumah seenaknya dan tidak berekspresi. Tapi, aku yang sudah merepotkan orang tuanya kemarin sedikit merasa sungkan dan tidak nyaman, hanya bisa ikut menjadi peliharaan yang Suci tarik kesana-kemari.


Tidak seperti kemarin, kali ini Mama Suci langsung menyambut Suci, karena kebetulan beliau memang berada di dapur sedang memasak sesuatu. Ini aroma adonan kue? “Ma, Suci belajar dulu. Jangan ganggu,” pinta Suci singkat, langsung balik badan untuk menaiki tangga dan beranjak ke kamar tidurnya.


Seperti bermain rumah-rumahan kemarin, kami duduk di meja rendah di sisi kiri kamar. Tanpa basa-basi, Suci langsung membuka buku tulis, buku paketnya juga, kertas-kertas ulangan, hingga membuka laptopnya untuk memulai sesi pembelajaran. “Ayo! Suci mulai dari mana?” tanyanya kemudian setelah membawa tiga toples berisi kudapan.


“…,” jika harus bertanya, aku juga kebingungan, sih.


Aku hanya menatap semua materi pembelajaran yang Suci tawarkan, memilah-milah yang tampaknya mudah, hingga pada akhirnya sadar bahwa tidak ada satupun pelajaran yang mudah untuk aku terima. Aku menemukan kesimpulan, aku jawab saja pertanyaan Suci dengan angkatan bahu serta tatapan seperti orang kebingungan.


DI ATAS kasur, Suci merengek seperti anak kecil. Memukul-mukulnya, berguling-guling sembari memeluk boneka binatang, berteriak tidak karuan meminta tolong, seperti anak kecil yang marah tidak dibelikan permen oleh ibunya. Aku menatapnya kasihan, karena sebagian besar ini salahku juga. Aku menunduk sedikit, melihat meja yang berisi tumpukan kertas dan buku tulis penuh coretan, lanjut memalingkan muka melihat jam dinding.


Ini baru berlangsung 15 menit.


Aku menoleh ke kiri, menatap cermin panjang yang tinggi, melihat diriku sendiri yang bodoh dan menyedihkan. Tidak. Untuk apa aku dikasihani? Yang patut dikasihani justru Suci, gadis yang merengek tak karuan tersebut. Dia harus berhadapan denganku yang tidak becus, murid yang pernah tinggal kelas namun tidak paham terhadap pelajaran apapun.


Apakah ini baik-baik saja?


Teriakan dan rengekan Suci rasanya sangat nyaring. Tapi, belum ada ketukan dari luar yang berencana untuk bertanya? Apakah aku harus bersyukur bahwa tidak ada yang mendengarnya? Jika ada orang yang melihatnya, siapapun yang melihatnya, pasti akan menyalahkan dan memojokkanku atas tuduhan yang tidak-tidak.


Yang pasti, sekarang Suci sudah bangkit duduk, berkata ingin pergi ke kamar mandi, dan membuka pintu di sudut kamarnya—yang sejak kemarin membuatku penasaran apa gerangan yang ditutupi oleh pintu tersebut.


Berarti memang betul kamar mandi, ya?


Aku hanya duduk canggung, bingung terhadap apa yang lebih baik aku lakukan. Dibantu oleh Suci saja aku tidak becus, bagaimana aku bisa belajar sendiri? Aku tatap berbagai tulisan, angka, grafik, arah panah, lingkaran, dan garis amburadul yang mengisi kertas kotretan, tapi pikiranku benar-benar tidak bisa berputar dan berpikir bagaimana permasalahan ini bisa diselesaikan.


Tapi, apakah yang Suci lakukan itu memang mengajariku?


Sejujurnya aku lebih baik diajari oleh Pak Doktor saja. Jika perhatianku fokus, aku yakin bisa mengerjakan kuis dan ulangan dengan maksimal.


“Ragib bodoh, ya? Gitu doang gak bisa?” protes Suci 10 detik ketika sesi belajar dimulai. “Ini itu caranya pakai ini, terus tinggal ubah atasnya, kita tambahin, atur jumlahnya, hasilnya tinggal lihat pilihan. Gampang, kan?” jelas Suci ketika mulai melingkari, memberi arah, dan menggarisi soal dan pembahasan di atas kertas.


“...,” mataku mencoba mengikuti arahannya, bahkan hingga memiringkan kepala berusaha untuk mengikuti dari sudut pandang Suci. Hanya saja, yang aku lihat gadis ini hanya mencocokkan satu formula dengan formula lain, dihubungkan dengan panah, simbol tambah kurang bagi, hingga melingkari jawaban pada kertas soal.


Apa yang sebenarnya terjadi? pikirku bingung pada penjelasan Suci.


Suci tidak menjelaskan apapun, kecuali hanya menyertakan fakta yang sudah jelas (bahwa cara mengerjakan soal ini adalah dengan menggunakan formula ini). Tapi, aku tetap tidak paham mengapa, tidak tahu menahu alasan sebenarnya mengapa harus menggunakan formula tersebut.


“Ini dari mana? Kenapa bisa jadi seperti ini?” tanyaku tidak paham.


“Dari sini,” suci melingkari formula. “Lalu masukin, tambahin angka, terus kerjain!”


“Tapi kenapa? Hasil ini bisa dapet dari mana?”

__ADS_1


“Angkanya udah dirubah soal ke sini!”


“Tapi ini angkanya beda sama yang soal kasih?”


“Karena sudah dihitung, kan?” Suci kembali menciptakan panah dari satu titik ke titik lain. “Aduh! Langsung kerjain saja, deh. Pasti paham!” kesal Suci sembari mengambil kertas soal baru.


Jika dilihat, sebenarnya kotretan pembahasan Suci sangat jauh berbeda dengan kertas soal baru ini. Penuh garis dan panah, lingkaran, dan angka dimana-mana. Tapi, rasanya pikiranku tetap saja kosong melompong, tidak ada isinya kecuali ucapan-ucapan tidak bermakna Suci (dan beberapa panah dan lingkaran).


“...,” aku termenung, membuat Suci kembali kesal dan ganas memberontak. Ekspresi di wajahnya seperti kebingungan, dia tidak paham mengapa aku sama sekali tidak mengerti apa yang soal tanya. Meskipun aku yang mengerjakan soal, Suci lah yang frustasi dan rambutnya acak-acakan.


Tatapan Suci penuh dengan keputusasaan, terlihat dari rambut lurusnya yang ditarik hebat oleh kedua tangannya. Apalagi, dengan jawaban yang kupilih ala kadarnya, Suci yang mendengar alasanku menjawab karena insting saja kembali berteriak dan menghujat.


“Gini doang gak bisa? Di sekolah ngapain aja, sih? Guru yang jelasin gak dengar? Otak kamu dipake untuk apa aja, hah!? Bodoh banget! Tolol! Bego! Dongo! Otak Udang! Bloon! Idiot! Nih, kaya gini! Sudah Suci jelasin, kan!?” hujat Suci yang mengerjakan soal barunya sendiri, untuk kemudian dipenuhi lagi oleh panah dan lingkaran. “Sekarang ngerti?” lanjutnya kemudian.


“...,” gelengku diam pada Suci. Sekali lagi, aku hanya mengernyitkan alis dan menggaruk kepala yang tidak gatal karena kebingungan.


“RAGIB BEGO!” teriak Suci. “Yasudah, Suci jelasin SMP, deh!” saran Suci langsung berdiri, pergi ke meja belajarnya mencari buku paket yang sudah tidak dipakai lagi, untuk kemudian kita pelajari bersama apa-apa yang harus diajarkan.


Naas, hasilnya sama saja.


Entahlah aku yang memang terlewat bodoh, atau Suci yang tidak pandai mengajarkan.


Aku bukannya ingin menyalahkan Suci juga, sih. Dia sudah rela untuk meluangkan waktunya untuk mengajariku banyak hal. Tidak semua orang sudi melakukan ini, kan?



Tidak!


Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! Tidak!


Suci memang tidak bisa mengajari dengan baik! Dia memang pintar, tapi tidak cukup pintar untuk membagikan secuil kejeniusannya kepada orang lain.


Butuh keterampilan lain agar bisa menjadi pengajar handal!


Sejak saat itu, 15 menit telah berlalu. Entahlah ini waktu yang cepat atau tidak, pada akhirnya Suci tampak menyerah dengan mengeluarkan tantrum di atas kasur empuknya. Berteriak tidak karuan, berusaha untuk mengeluarkan seluruh emosi dan amarahnya.


Membuka pintu di sudut kamar, pulang dari kamar mandi, Suci terlihat hidup kembali seperti baru saja mendapatkan pencerahan ilahi. Berjalan dengan tenang, tanpa amarah dan emosi, bahkan menampilkan wajah yang antusias? Suci kembali duduk di depanku, membuka lagi buku paket dan kertas-kertas soal, kembali melanjutkan pembelajaran yang tidak ada akhirnya ini. Mau bagaimana? Sifatku dan Suci terlalu bertolak belakang, sulit untuk menemukan titik temunya.


“Bego banget! Gini doang, kan?”


“Ragib otaknya dipake, dong! Suci aja bisa kerjain gampang, kan?


“Kok gak bisa sih? Suci bingung Ragib gak bisa dimana.”


“Idioott! Salah lagi salah lagi!”


“Tolol!”


Dan berbagai hinaan dan ejekan lain terus dilontarkan oleh Suci, bukan sebuah solusi dari permasalahan yang sedang aku hadapi. Aku tidak paham apa yang tidak aku mengerti, Suci pun tidak tahu metode yang cocok untuk mengajariku ini.


Kami hanya seperti magnet dengan kutub yang sama, dengan sifat yang saling tolak menolak. Tidak bisa bersatu, tidak bisa menghasilkan satu titik cerah. Sampai terdengar sebuah ketukan pintu, menandakan sebuah kabar telah datang. Entahlah itu kabar buruk atau kabar baik, aku hanya berharap ini semua bisa segera berakhir..


Sambil menoleh untuk merespon, aku bertanya-tanya apakah wanita perawat yang akan mengirimkan kudapan atau minuman tambahan untuk membantu sesi pembelajaran, atau justru Mama dan Papa Suci yang penasaran dan khawatir terhadap anaknya yang sedang berdua dengan lelaki tak dikenal yang menumpang rumah mereka tadi malam?


Siapapun itu, bantu kami! Tidak… bantu aku!


Sebelum aku bisa melihat penampakan yang mengetuk pintu, lebih dahulu perhatianku terdistraksi oleh suara pecahan kaca, seperti suara gelas yang terjatuh.


Padahal, pintu belum setengahnya terbuka. Apakah masalahnya seburuk itu?


Dengan daun pintu yang perlahan terbuka, cahaya perlahan memberikan informasi yang lebih nyata, penampakan siluet yang hanya terdiri dari bayangan belaka mulai menunjukkan tubuh aslinya. Dia adalah gadis yang mengenakan kacamata bulat, dengan rambut bergelombang melebihi pundak, dia adalah gadis yang memiliki nama ‘Nila’. Atau menurut wanita perawat,  panggilannya ‘Mbak Nila’, ya?


Apakah ini berita buruk untukku?


SEKARANG, kami terpaksa memindahkan sesi pembelajaran dari kamar pribadi Suci ke ruang bermain yang berada di lantai bawah. Serupa seperti sebelumnya, aku duduk di sofa yang berdekatan dengan pintu, sementara Nila dan Suci bersantai di bean bag di ujung ruangan yang lain. Jarak kita berjauhan, harus saling berteriak jika ingin melakukan komunikasi. Apakah ini sesi pembelajaran yang lebih efektif? pikirku. Tapi, aku juga tidak bisa protes jika pilihannya hanya belajar dengan Suci–yang selalu  menghinaku.


Tapi, apakah belajar akan lebih efektif dengan kehadiran gadis yang menatapku penuh rasa benci? Seperti melihat serangga menjijikkan, tapi mengusirnya sendiri tidak berani?


Tidak berani, tidak bisa, tidak mau, atau ada kendala lain?


Aku sendiri tidak begitu tahu.


Sejujurnya, jarak yang kami miliki ini—yang saling berjauhan dari satu sisi ruangan ke sisi ruangan lain—mengingatkanku pada sesi pembelajaran di sekolah (minus sofa yang nyaman dan guru yang duduk santai di bean bag). Sesi pembelajaran ini juga cukup berbeda dengan sesi pembelajaran dengan Suci yang terkesan lebih intim dan personal karena jarak antara murid dan guru hanya dibatasi oleh satu meja rendah kecil saja.


Selain sekolah, sesi pembelajaran kali ini juga serupa bimbel, ya?


Ada alasan mengapa sesi pembelajaran harus dipindahkan ke ruang bermain ini. Selain Suci yang mungkin mulai bosan, juga sebuah upaya untuk mengganti suasana sehingga Suci tidak selalu menghina dan berkata kasar, alasan penting lainnya ada hubungannya dengan gadis berkacamata dengan muka masam jauh di depanku ini.


Sebelumnya, setelah terdengar suara pecahan gelas di depan kamar Suci, lalu pintu pun terbuka menyingkap Nila sebagai sang penampakan, terlihat lebih jelas bahwa gadis berkacamata ini sedang tersungkur jatuh tak berkuasa. Badannya gemetar hebat seperti ketakutan baru saja melihat hantu yang menyeramkan, berusaha mencari perlindungan atau apapun untuk menutup diri, bahkan hingga melirik kiri-kanan seperti sedang mencari senjata atau apapun yang bisa dilempar sebagai upaya perlindungan diri.


Heran dengan respon Nila yang begitu ketakutan, aku hanya melirik kiri-kanan, mencari apa gerangan yang Nila takutkan. Sayangnya, tidak ada siapapun selain aku pribadi dan Suci yang terpisah oleh meja rendah ini.


Tidak. Suci sudah tidak berada di kamar.


Tidak peduli dengan pecahan gelas yang berserakan tak karuan, Suci langsung meluncur memeluk Nila seperti seorang anak hilang yang akhirnya menemukan ibu kandungnya. Suci seperti mengadu sesuatu kepadanya, seperti meminta pertolongan (pada gadis yang justru terlihat pasrah), dan kemudian mengeluskan kepalanya seperti berusaha untuk melepas rasa rindu yang mengganggunya.


Aku bangun dan bersandar pada kusen pintu, kebingungan melihat kejadian yang tengah terjadi di depanku ini. Suci yang memeluk Nila meminta bantuan, dan Nila sendiri yang menatapku curiga dan penuh ancaman.


“KE-KENAPA KAMU A-DA DI SINI!? KAMU APAKAN SUCI!? DA-SAR BEJAT! TIDAK PUNYA URAT MALU! Baru kemarin kamu merepotkan Suci dan orangtuanya. Kamu masih menginginkan lebih? Sekarang kamu melakukan pelecehan padanya? KAMU HARUSNYA MALU! APAKAH DERAJATMU SERENDAH INI!? Aku sumpah kamu sial seumur hidup! Aku sumpahi kamu mati mengenaskan! Cowok brengsek!” bentak Nila padaku dengan suara yang bergetar dan terbata-bata.


“…,” bingung menjawab, aku hanya diam saja.


Mau bagaimana? Dia separuh betul, kok.


Aku juga sudah menduga bahwa ini akan terjadi karena teriakan-teriakan Suci sebelumnya. Aku mau membela diri pun rasanya akan sia-sia saja.


“Ka-mu hanya diam? Be-rarti kamu ti-dak menyangkal su-dah melecehkan Suci? Po-polisi! LAPOR POLISI! LAPOR SEKARANG! Tangkap cowok bedebah ini!” lanjut Nila sembari duduk mengesot berusaha meraih ponselnya.


“Hng? Nilaaaaa! Suci capek! Ragib susah banget belajarnya! Suci bingung harus gimana. Bantu Suciiiii! Ragib tolol banget. SMP aja gak bisa! Huaaaa!” tangis Suci setelah Nila sedikit bergerak, menghancurkan fokus dan kenyamanan Suci untuk bersantai mendapatkan kehangatan dari gadis berkacamata ini.

__ADS_1


“H-ah…? Di-ajarin? SMP?”


“Bantu Suciiiii! Repot banget. Huaaaaa!” rengek Suci lagi.


“Bantu kamu? Ka-kamu gapapa, Ci?”


“Mana ada!? Suci stress banget gimana harus ajarin Ragib. Dia bodoh banget! Gak bisa paham-paham!”


“…,” jawab Nila diam, masih berusaha memutar otaknya untuk mengikuti apa yang sebenarnya terjadi di sekitarnya. Dia bolak-balik menatap Suci dan memutar matanya, sambil membelai kepala Suci untuk menenangkan dirinya. Sampai tatapan Nila mulai beralih kepadaku, sebuah tatapan jijik dan penuh ancaman hinaan, juga alis yang mengernyit. Namun tatapan ini lebih ramah, tanpa ada niatan untuk memanggil polisi dan bala bantuan.


Aku hanya mengangkat bahu, seakan berkata ‘aku tidak bersalah loh, ya!’


Meskipun kesalahpahaman sudah diselesaikan dengan singkat dan cepat, muka masam Nila masih terpampang jelas tanpa ada tanda-tanda akan membaik dalam waktu dekat, seperti muka masam inilah ciri khas yang dimiliki oleh gadis berkacamata bulat tersebut. Apakah dia selalu bermuka masam kepada teman-temannya? Apakah dia baik-baik saja? Atau Suci satu-satunya teman? Atau justru Suci terpaksa berteman dengannya?


Mungkin tidak. Terlihat dari Suci yang meluncur memeluk Nila barusan, sangat terlihat bahwa Suci mencintai Nila dengan sepenuh hati. Suci memeluknya erat seperti kerabat dekat, Suci menginginkan kehadiran sang gadis berkacamata bulat.


Sayangnya, fakta bahwa dua gadis ini saling mencintai dan merupakan kerabat dekat sama sekali tidak membantu masalahku. Gadis yang satu bertingkah seperti bocah mengajariku seenaknya dengan hujatan dan hinaan, dan gadis satu lagi selalu memandangku jijik penuh ancaman, bahkan terlihat ingin sekali mengusirku dari rumah ini. Pasrah, aku mulai berpikir tentang masalah lain saja, tentang bagaimana aku harus memperbaiki hubungan pada Remi, mungkin juga Faisal, agar aku tetap diterima oleh kelompok mereka.


Karena aku tidak punya pilihan lain selain gagal dalam ujian, setidaknya aku harus menggunakan sisa-sisa waktu dengan maksimal, kan? Aku harus mempersiapkan diri lebih matang, harus hadapi fakta bahwa aku harus pindah sekolah.


Atau justru itu hanya ancaman saja, ya?


Buktinya, aku tinggal kelas tahun lalu pun bukan masalah besar, kan? Aku masih bisa berteman dengan Balkis, anak-anak OSIS, dan Remi pun masih bermain nongkrong di warung stasiun karena dekat dengan indekosnya, kan?


Jika dipikir-pikir lagi, aku bisa santai saja…? Tidak perlu melebih-lebihkan, tidak perlu dibawa pusing…? Kkkk. Santai saja… santai saja! Ya, santai!


“Suci, aku mulai dari mana? Lagipula kenapa harus bantu cowok itu belajar, sih?”


“Dari awal. Nila ajari seperti ke Suci kemarin! Nila pinter, kan? Suci yakin Nila bisa! Ragib aja emang tolol gak becus,” imbuh Suci tiduran santai memakan macaron warna-warni.


“Eughh,” protes Nila terang-terangan seperti hendak muntah sembari membuka buku paket. “Woi, buka buku paket matematika kelas 10 halaman 41. Kamu bisa lihat kotak pink, kan? Coba baca pelan-pelan dan maknai sendiri, lalu jelasin kepada saya interpretasi kamu,” lanjutnya kemudian dengan nada sinis.


“Ah, kotak pink? Em… Ada di sini, ke situ… jadi? Hm… Aku gak begitu tahu? Entahlah. Aku pikir kita belajar matematika. Kenapa malah banyak rumus kimia, huruf-huruf, dan simbol gini?” jawabku polos menjawab Nila.


“Haaah,” desah Nila kecewa. “Memang otak udang,” lanjutnya mengejek dan menghujat mengikuti Suci.


MATEMATIKA dilewat, tidak perlu menghabiskan tenaga untuk sesuatu yang tidak bisa dipahami dalam waktu singkat. Nila mengalihkan pembelajaran ke pelajaran sejarah, ilmu pengetahuan, dan segala bentuk hafal-hafalan yang lebih menekankan ingatan daripada logika angka dan formula rumus bertingkat yang membutuhkan konsentrasi tajam. Kita mulai dari hal yang paling sederhana, yaitu belajar untuk menghafal itu sendiri. Jika rumus formula tidak bisa dihafal, bagaimana pemecahan masalah dari soal bisa diselesaikan, kan?


“Bagaimana? Apakah kamu merasa lebih baik?” tanya Nila sambil memainkan rambut Suci, memutarnya, memilinkannya, ikut memakan macaron mengisi kebosanan.


“Lumayan. Aku tidak pernah berpikir untuk menyingkat kata-kata penting menjadi akronim. Setelah tahu polanya, aku lumayan terbiasa,” jawabku setelah masuk tiga jam sesi pembelajaran, dengan jarak yang masih berjauhan dengan Nila di ruang bermain ini.


Melupakan angka-angka, sekarang aku diajarkan untuk menghafal saja melalui berbagai metode. Ada yang menganalogikan dengan dunia nyata, menyingkatnya dengan akronim, melupakan detail tidak penting dan langsung fokus pada topiknya saja, dan berbagai macam metode lain. Meskipun wajah Nila masam kecut seperti benci dan tidak sudi mengajariku, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa sistem dan metode pembelajarannya sangat efektif daripada banyak garis panah dan lingkaran yang tidak penting (karena memang tidak bisa dilakukan dengan jarak yang berjauhan).


“Baguslah kalau begitu. Kalau gitu, tugasku selesai kan, Ci? Aku sudah membantunya belajar?” tanya Nila yang masih terus membelai Suci atau terkadang memeluknya canggung.


Mendengar informasi bahwa sesi pembelajaran usai, Suci yang separuh tertidur langsung terbangun dan kembali antusias mengingat alasan utama mengapa dia sejak awal ingin membantuku belajar. “Selesai? Ragib selesai belajar? Pergi jalan-jalan jadi? Asiik!” papar Suci kegirangan. “Ragib, minggu di mall jam 9, ya! Wah, Suci seneng banget. Gak sabar! Ehe-hehe, hehehe!” lanjutnya cekikikan.


“Kalian bakal pergi?” tanya Nila mengangkat alis sebelah.


“Ya! Pameran lukisan! Pergi! Suci gak sabar!”


“Hah!? Suci, kamu bakal pergi sama cowok ini? Berdua? Kenapa gak ajak aku? Kenapa harus sama cowok yang baru kenal ini, sih?” tanya Nila cemburu.


“Nila mau ikut? Ayo! Tapi paham lukisan?”


“Pa-paham, kok! Pokoknya, aku harus ikut! Kamu itu jangan langsung percaya sama orang asing, Ci! Jangan berduaan sama cowok brengsek ini! Aku harus lindungi kamu!”


“Oke. Ayo jalan bertiga!” senyum Suci.


Brengsek? Apakah rasa bencinya kepadaku ini wajar, ya? Aku tidak ingat pernah melakukan sesuatu kepadanya yang dapat membuatku sangat dibenci seperti ini. Apakah aku pernah melakukan sesuatu yang salah? Aku tidak paham mengapa Nila sangat membenciku seperti ini. Aku… juga tidak paham mengapa Remi meninggalkanku. Aku tidak paham mengapa Faisal jarang mengajakku bermain futsal, aku tidak paham mengapa OSIS menolakku ikut rapat, padahal aku sering membantu mereka.



Ah, kenapa pikiranku malah melenceng?


Tapi… aku memang penasaran!!!


Aku tidak pernah ingin untuk menyakiti hati seseorang. Aku hanya berusaha untuk menjadi teman semuanya, membantu sesama, berusaha untuk menjadi orang yang disukai oleh semua orang, agar aku tidak ditinggalkan lagi. Apakah itu buruk? Dimana letak buruknya? Kenapa ada saja orang yang tidak menyukaiku, meskipun kebaikan sudah kutabur dimana-mana?


Aku pikir, Suci sendiri sudah menerima keberadaanku (meskipun entahlah posisinya dimana). Kejadian kemarin di ruang tamu—ketika aku tidak sengaja ikut berpelukan—sudah dimaafkan oleh Suci, kan? Mama Suci juga baik padaku. Memberikanku baju ganti, mengizinkan untuk menginap, memberikan makan malam, tapi kenapa Nila masih terus membenci saja?


Caranya mengajar memang sangat profesional, menyampingkan rasa bencinya kepadaku. Aku akui itu, aku hargai itu.


Tapi, aku tidak tahu bagaimana nanti ketika harus jalan-jalan menghabiskan waktu dengan seseorang yang membenciku? Apa yang aku lakukan pasti akan selalu salah di pandangannya. Meskipun tujuanku disini hanya menemani Suci, Nila tidak akan diam saja jika orang yang dicintainya ini menghadapi masalah, kan?


Apakah semuanya akan baik-baik saja?


\~\~\~\~\~\~\~\~


Ternyata Ragib mau diajarin sama Suci?


Tapi rupanya cara belajarnya Suci jauh banget sama yang Ragib kira


Kasian banget malah dibego-begoin WKWKWKKWKWKWK


Selamat datang lagi, teman-teman!


Setelah semua neraka yang Ragib lalui untuk diajarin sama Suci


Ragib akhirnya malah diajarin sama Nila


Apakah ini kemajuan dan merupakan hal baik?


Tapi yang lebih penting lagi, kira-kira akan gimana “kencan” mereka nanti?


Ketika isinya adalah orang-orang yang saling benci WKWKWKWKKW


Btw …

__ADS_1


See you next time ;)


Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!


__ADS_2