Setan, Suci, Siuman

Setan, Suci, Siuman
Bab 17: Suci Hebat. Suci Berbakat.


__ADS_3

KEMBALI mengunjungi rumah mewah tiga lantai ini, yang tidak bisa lagi kunikmati segala kenyamanan dan kehangatannya karena sudah terlampau panas, bahkan sudah seperti panas neraka? Telingaku panas, hatiku juga cukup panas, mendengar dua gadis ini menghina dan menghardikku, tidak seperti kucing jalanan yang kotor dekil yang pasti akan mendapatkan kasih sayang yang layak dari mereka.


Tidak. Aku mulai paham.


Aku seperti kecoak terbang yang menghantui rumah mewah ini, sehingga semuanya justru mengharapkanku pergi, berharap aku binasa, tidak pernah datang lagi ke tempat ini.


Pertanyaannya, kenapa Suci menarikku lagi dan memaksaku datang?


Sederhana. Karena Suci bukanlah gadis biasa. Tidakkah terlihat dari setiap buku sketsanya, berapa banyak hewan atau serangga yang tidak normal, cukup aneh dan mengganggu, yang tidak nyaman dilihat di dalamnya?


Suci memang gadis (anak kecil) yang menyukai segala keanehan, bahkan hingga menatapnya penuh tanda tanya besar di kepalanya.


Disini, aku mengisi peran sebagai serangga yang sama anehnya (meskipun entahlah  dimana letak anehnya), sehingga Suci berusaha untuk memeras habis semua hal tentang diriku untuk dinikmatinya sendiri. Aku merupakan hewan percobaan, dan Suci adalah ilmuwan gila yang sudah tidak mengerti batas antara akal sehat dan pikiran nalar manusia normal pada umumnya. Dia akan melakukan apapun, dengan cara apapun, yang penting berhasil untuk mendapatkan hasil yang dia inginkan.


Turun dari mobil, aku masih ditarik paksa oleh Suci seperti anjing yang diberikan tali pengikat di lehernya. Atau mungkin itu terlalu naif? Aku ditarik paksa oleh Suci seperti narapidana yang diborgol, dibawa jalan oleh petugas sipir untuk melaksanakan administrasi. Dengan paksaaan, dengan kasar, berusaha untuk tidak membiarkanku kabur seenaknya.


Aku sebenarnya cukup penasaran kenapa kali ini dia dijemput oleh mobil pribadi. Bukankah selama ini dia pulang menggunakan angkutan kota? pikirku mengisi waktu.


Yah, pada akhirnya itu bukan urusanku juga. Dia orang kaya dan berada, bebas melakukan apapun semaunya. Jika hari ini ia ingin dijemput, tinggal panggil sopir saja dan mereka pasti akan sigap datang melayaninya.


Praktis berjalan melewati pintu utama dan memasuki ruang tamu, nyatanya aku telah disambut oleh gadis berkacamata bulat yang tersentak hebat begitu melihat kehadiranku. Meskipun Suci hanya nyelonong masuk rumah tanpa salam tanpa pembukaan, kehadiranku sendiri sudah merupakan peringatan dan pengumuman bagi seluruh penghuni rumah. Gadis berkacamata yang sedang asik memakan kue kering ini harus berhenti mengunyah untuk menganga, menatapku penuh waspada dan curiga, dengan rasa takut dan panik yang perlahan mulai menyelimuti tubuhnya.


Seperti melihat preman yang mengerikan, seperti melihat setan yang baru keluar dari neraka, seperti melihat hantu yang gentayangan. Gadis berkacamata itu berhenti bernapas, tangan dan badannya mulai gemetaran, seperti berusaha memproteksi diri melakukan transformasi menjadi batu yang tidak mungkin bisa diganggu.


Aku hanya melihat dengan malas, sampai pada akhirnya meninggalkan gadis yang sukses membatu tersebut karena harus pergi ke lantai dua.


Melewati lagi ruang olahraga, lalu beberapa ruangan dengan pintu yang tertutup, hingga akhirnya sampai di depan pintu tertutup lain dengan papan nama bertuliskan ‘Suci’ di depannya. Gadis yang menarikku ini membuka pintunya cepat, langsung pergi menuju meja belajarnya di bagian kanan, berusaha mengorek dan mencari sesuatu.


Akhirnya lepas juga, pikirku sambil melihat pergelangan tangan yang memerah. Meskipun sebenarnya cengkramannya tidak terlalu kuat dan keras, pun kukunya dipotong secara sempurna sehingga tidak menikam dan menggores kulit, rasanya risih saja aku dibawa-bawa seperti anjing peliharaan.


Tidak. Tahanan penjara, ya?


Kepalaku kembali menengadah, melihat Suci yang masih rusuh sendiri membuat kamarnya berantakan oleh kertas-kertas. Ada kertas yang diisi oleh coretan-coretan frustasi, ada yang diisi kumpulan gambar hewan yang tidak selesai, dan gambar lain seperti pemandangan. Gambar-gambar ini ada yang dihasilkan oleh pensil dan grafit, ada juga yang menggunakan pulpen berbagai warna.


“Nah, ini dia!” seru Suci seperti mendapatkan harta karun yang terkubur ratusan tahun. “Gimana?” tanya Suci memperlihatkan kertas A3 yang kali ini sudah terisi gambar dengan lengkap. Di sana, terlihat seekor kuda unicorn yang memukau berada di atas tebing hijau rindang penuh tanaman dan bunga. Sebenarnya, ini gambar yang mewah, ini gambar yang menunjukkan keagungan. Sayangnya, aku sudah tidak peduli lagi.


“Apanya?” tanyaku acuh masih menggenggam pergelangan tangan.


“Gambarnya. Gimana!? Pendapat Ragib?”


“Iya, bagus. Bagus, bagus.”


“B-bagus?”

__ADS_1


“Bagus. Sempurna. Suci hebat. Suci berbakat,” pujiku dengan nada datar.


“…,” jawab Suci diam sembari menurunkan tangan, tidak lagi menunjukkan gambar kuda unicorn itu. Aku sebenarnya tidak terlalu memperhatikannya dengan seksama. Tapi, aku pikir Suci seperti sedang kecewa, seperti tidak lagi antusias dan bergairah. “Gak! Gak bisa! Ragib gak boleh! Gaaak!” teriak Suci sambil menjenggut rambutnya.


“Kamu hanya mau tunjukkan itu saja? Aku pulang, ya,” seruku tanpa tanda tanya. Aku bukan meminta izin, bukan meminta persetujuan Suci juga. Aku langsung balik badan, meninggalkan Suci yang masih mengalami krisis eksistensi.


Sayangnya, pulangku tidak bisa terjadi dengan mulus (meskipun sudah kuduga juga). Tanganku digenggam oleh Suci, seakan menahanku untuk pulang, tidak boleh membiarkanku kemana-mana meskipun tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.


“Gambarku? Gimana?” tanya Suci sekali lagi setelah diam beberapa lama.


“Bagus. Sudah kubilang bagus, kan?”


“Gaaaak! Bukan itu! Ragib spesial! Ragib bukan orang-orang. Memang gak bisa belajar dan bodoh, sih. Tapi Ragib paham gambar! Kasih pendapat gambar Suci untuk lomba! Harus sempurna, harus keren, dan harus luar biasa! Bantu Suci!”


“...!? Siapa yang bilang aku bodoh? Kamu aja yang gak bisa ajarin! Buktinya diajarin sama Nila lancar, kan? Yang ada, kamu itu seenaknya dan egois! Udah aku bilang gak paham, tapi tetep maksa untuk ajarin hal yang sama,” balasku membentak menjawab Suci.


“Enggak? Ragib emang gak bisa. Nila pintar, aku pintar. Kamu senang, kan?”


“Mana ada!? Kemarin jalan-jalan aja kamu seenaknya sendiri. Jalan-jalan sendiri, gak mentingin orang lain, bahkan kamu gak peka kalau Nila gak suka, kan? Coba pikirin orang lain juga, dong! Otak dipake gak cuman untuk diri sendiri! Untuk orang lain juga!”


“Nila? Nila kenapa? Karena kamu, kan?”


“Seenaknya banget. Jaga omongan kamu! Nila itu dari awal kepaksa ikut, tahu!”


“Tapi kita seneng-seneng?”


“Mereka bukan temen Ragib. Mereka jahat!”


“Tau dari mana kamu!? Kenal juga enggak, kan!? Jangan seenaknya kalau ngomong! Kita temenan udah lama, kita main bareng udah lama! Kamu justru orang baru tapi udah ganggu hidup orang! Kamu harusnya tahu diri!”


“Tapi Ragib gak bisa main? Suci liat selalu diejek. Kenapa maksa? Tinggalin aja! Mereka bukan teman. Mereka jahat! Mereka itu setan!”


“Memangnya kalau diejek kenapa!? Namanya juga temenan!? Udah biasa! Mereka itu temenku, dan aku temen mereka! Kamu yang justru bukan siapa-siapa. KAMU YANG JUSTRU BUKAN TEMEN AKU!”


“Enggak… ENGGAK, ENGGAK!! TEMEN!!!! RAGIB TEMEN SUCI. SUCI TEMEN RAGIB. SUCI BUTUH RAGIB, SUCI SUKA RAGIB!!!” teriak Suci tidak ingin kalah dan mengalah. Dengan marah, dengan sedikit nada keputusasaan, dengan Suci yang mulai menunduk karena telah mengalir setetes air mata.


Setelahnya… muncul keheningan.


Cukup canggung, cukup aneh juga.


Heran, bingung, merasa aneh, tapi juga marah dan emosi menjadi satu. Aku butuh untuk memprosesnya, aku butuh untuk menarik napas.


“Butuh? Butuh katamu!? Butuh untuk apa!? Untuk jadi tempat pelampiasan!? Untuk jadi anjing peliharaan!? Bullshit! Temen apanya? Kamu cuman butuh orang yang bisa bantu muasin kamu doang! Kamu itu egois! Selalu tentang ‘aku’, ‘aku’, dan ‘aku’ aja. Aku pikir, kamu cuman gadis pendiem yang gak pantes dibully orang. Nyatanya? Kamu memang orang yang wajar untuk gak punya temen sama sekali! Kamu ini toxic!

__ADS_1


Kamu selalu pengen semuanya sesuai keinginan kamu doang. Mentang-mentang kamu kaya? Mentang-mentang kamu punya semuanya? Aku gak peduli! Aku gak mau jadi temen kamu! Kalau kamu mau tahu, aku sama sekali gak nyaman deket-deket sama kamu! Aku tersiksa setiap kali ketemu sama kamu! Aku yakin Nila deketin kamu cuman demi uang! Aku gak suka sama kamu! Aku benci sama kamu! Aku harap kita gak pernah ketemu! Aku harap aku gak pernah kenal sama kamu!” bentakku murka tepat di depan muka Suci.



Ruangan lengang. Tidak ada kata-kata yang terucap, tidak ada suara yang terdengar, tidak ada apa-apa lagi yang terjadi setelah teriakan yang kuluapkan dengan puas itu. Seperti gunung berapi, aku akhirnya memuntahkan seluruh magma dan amarahku yang sudah terkumpul jutaan tahun di dalam tubuh dan pikiranku. Aku mengeluarkan unek-unekku, aku mengeluarkan semua yang bisa aku keluarkan


Tidak peduli kalau Suci mulai menangis sesenggukan.


Tidak peduli kalau Nila siap melempariku dengan apapun lagi.


Tidak peduli kalau Mama Suci kecewa dan meminta ganti rugi.


Melepaskan genggaman tangan Suci yang sudah melemah, kali ini aku benar-benar balik badan untuk keluar dari kamar Suci, meninggalkan Nila dan Mama Suci yang ternyata berada di ruang tamu saling tatap kebingungan, langsung keluar dari kediaman Suci. Menghiraukan Pak Ahmad yang sedang mengelap mobil SUV, keluar dari jalan yang tidak memiliki trotoar ini, pulang ke rumahku sendiri.


Aku pikir, baru  kali ini aku merasa sangat puas untuk pulang ke rumah.


Pulang kepada dekapan para manekin. Pulang mendekap mereka sekali lagi.


Setidaknya, sekarang aku benar-benar bisa kembali menjadi normal, kan? Kembali menjalani hari-hari yang tidak pernah berubah sejak tiga tahun lalu? Tidak. Mungkin dua tahun lalu. Tahun pertama SMA tidak begitu menyenangkan. Kali ini, semuanya benar-benar kembali normal. Kembali seperti sedia kala.



Aku harap.


\~\~\~\~\~\~\~\~


Gak kuat dengan semua perlakuan Suci, akhirnya Ragib meledak juga?!


Sampe marah-marahin Suci gak tuh!


WKWKWKWKKW


Selamat datang lagi, teman-teman!


Kalau kalian jadi Ragib kira-kira bakal betulan marah gak?


Atau, kalian sendiri gimana nih menanggapi cowok yang marahin cewek, yakan?


Apalagi sampe bilang dengan jelas kalau Suci itu toxic


Wadaw …


Btw …

__ADS_1


See you next time ;)


Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!


__ADS_2