Setan, Suci, Siuman

Setan, Suci, Siuman
Bab 2: Berusaha untuk Menjadi Berguna


__ADS_3

 SETELAH melewati keseharian dan rupa-rupa kejadian yang terjadi di sekolah, akhirnya


bel terakhir berbunyi, bunyi yang sangat ditunggu oleh seluruh penduduk


sekolah. Tidak hanya siswa-siswi dan murid yang bersekolah, petugas dan pegawai


juga bersuka cita, bahkan hingga petugas kebersihan pula. Semuanya menantikan


bunyi bel ini, semuanya menyunggingkan senyum lebar akhirnya bisa pulang dan


beristirahat.


Bapak penjual bakso, penjual minuman dingin di sebelahnya, hingga


beberapa penghuni kantin pun ikut gembira mendengarkan bunyi bel. Ini artinya,


akan ada lebih banyak calon pelanggan yang dapat membantu mereka menafkahi


keluarganya. Tubuh yang lelah dan penat terkadang membutuhkan konsumsi tambahan


di sore hari, kan?


Untukku pribadi, ada rutinitas lain yang biasa dilakukan begitu bunyi


bel pulang sekolah berbunyi (jika tidak ada permintaan dadakan yang harus aku


bantu). Tanpa disuruh dua kali, dengan memori otot yang sudah tersusun hafal


sedemikian rupa, aku melangkahkan kaki pergi keluar dari pintu gerbang belakang


sekolah, menyusuri trotoar di pinggir jalan yang ubinnya beberapa rusak (karena


hancur ditimpa oleh pohon, atau katanya dicuri oleh seseorang pada malam hari).


Aku sedikit bingung. Memangnya ada yang akan membeli ubin trotoar jalan?


Remi bilang, selalu ada.


Sempat penasaran dan kebingungan, aku tanyakan lebih lanjut terkait


permasalahan itu. Remi bilang, apapun pasti bisa dijual dimanapun. Aku awalnya


ingin melanjutkan pertanyaan yang masih menggantung. Tapi, setelah kupikir


lagi biarkan saja tidak perlu dipikirkan. Lanjut saja bermain ponsel, ucapku


dalam hati.


Berusaha mengisi hiburan sambil berjalan santai, aku melihat berbagai


kendaraan di jalanan yang berlalu lalang. Dimulai dari mobil, motor, angkutan


kota yang terkadang berhenti mendadak menimbulkan kemacetan, sesekali juga


melintas truk dan bus besar, hingga becak yang terdiam pasrah tidak ada penumpang


baru.


Memang bukan hiburan yang layak. Tapi, ini kulakukan agar bisa


menghabiskan waktu kurang lebih 10 menit agar bisa sampai di tempat favorit


untuk nongkrong dan berkumpul bersama teman dari macam-macam sekolah. Mengisi


waktu dengan menghibur diri dengan lebih layak seperti menghardik pelajaran


sekolah, sistem pendidikan itu sendiri, terkadang guru-guru yang menyebalkan,


berdebat kusir membicarakan apapun, sampai pada akhirnya pulang tanpa


menghasilkan solusi yang jelas.


Setelah melewati perjalanan yang penuh debu dan polusi udara, kadang


juga polusi suara berupa teriakan atau klakson, badanku otomatis belok ke kiri


mengikuti alur trotoar. Melewati jalanan yang lebih padat karena orang-orang


yang sibuk mencari parkir, lalu lanjut berjalan melingkar karena di tengah


jalan ada sebuah patung kereta, sampai akhirnya aku bertemu dengan warung kopi


yang memiliki meja dan kursi dari semen dengan permukaan ubin, seperti sebuah


altar pengorbanan, sangat berbeda dari warung kopi pada umumnya dengan kursi


dari meja kayunya (meskipun sebenarnya aku tidak tahu juga apakah ini betul


semen atau hanya marmer).


“Wah, datang juga lo. Si Ganteng Ragib, gangguan tenggorokan! Kakaka!”


sebut seorang siswa dengan rambut dengan gel licin ke belakang yang mengenakan


kaus hitam dan celana seragam abu-abunya. “Lama amat, sih?”


“Kkkkk. Biasa… murid favorit sekolah sibuk, nih. Mempersiapkan masa


depan supaya licin selicin rambut lo, Rem,” balasku sambil duduk di atas kursi


semen di samping Remi, siswa pemilik rambut licin ke belakang itu.


“Mana ada!” tolaknya penuh emosi.


“Kkkk, santai aja buset. Bercanda doang ini. Udah udah. Bang, beli


gorengan, ya! Jangan layu lagi kayak kemarin. Kkkkk,” pintaku kemudian.


Jika bisa dijelaskan, warung kopi ini merupakan sebuah wilayah persegi


panjang yang cukup besar. Seperempat lebih sedikit wilayah di pojok kiri


digunakan untuk dapur dan penjajaan makanan itu sendiri. Sisanya adalah tempat


bagi para pelanggan untuk duduk dan menikmati makanannya. Tapi, setengah


wilayah di bagian kanan penuh oleh kursi dan meja kayu seperti warung kopi pada


umumnya, sedangkan seperempat sisanya merupakan wilayah meja kursi dari semen


yang sedang aku, Remi, dan teman lainnya gunakan.


“Si-siyap, maws,” jawab seorang pria kurus yang umurnya sekitar 20 tahun


sekian, yang langsung pergi ke bagian belakang warung kopi, pergi ke balik


dinding dari wilayah makan eksklusif dari semen (atau marmer) ini.


Di wilayah makan dengan meja dan kursi dari semen ini, ada tiga orang


lain selain aku dan Remi yang juga sudah menanggalkan kemeja putih seragamnya,


namun aku tetap tahu bahwa dua diantara mereka adalah teman Remi dari sekolah


yang berbeda. Mereka semua memiliki kesamaan, yakni kumpulan siswa SMA kelas


11, yang semuanya asik bermain gim di ponsel masing-masing. Karena sudah lebih


dahulu sampai di tempat, terlihat berserak suguhan gorengan, kopi hitam di


dalam gelas kaca, bungkus plastik kemasan camilan berwarna kuning untuk kacang


atom, dan bungkus hijau untuk biskuit.


Tidak lupa, sebuah asbak yang fungsi sebenarnya entahlah untuk apa


karena abu rokok tetap dibuang sembarangan tersebar di atas meja semen ini.


“Ayo login, Gib. Langsung kejer ranking biar bisa ikut


pendaftaran turnamen bulan depan di mall sebelah,” ajak Remi masih memainkan


ponselnya.


“Hah!? Tahu dari mana, lo?” tanya Jojo, siswa dengan kaus putih dan mata


sipit.


“Kemarin ada di videonya si botak, kan? Lo orang gak nonton dia? Dia


jelasin panjang lebar,” protes Remi emosi.


“Botak yang mana? Pemain Paus Biru itu?”


“Lo masih ikutin tim Paus Biru? Udah gue bilang tips-tips mereka itu


bohong semua. Cuman untuk konten! Dan lo gak tahu Bobi si Botak? Males banget,


dah! Udah sering gue suruh tonton dia, tonton dia, kalian harus tonton dia!


Kenapa lo gak pernah bisa gue kasih tahu, sih?” bentak Remi.


“Daripada di sekolah stress, main gim juga stress? Gue mending pilih


hiburan yang bikin gue seneng, lah!” ucap Jojo membela diri.


“Mendang mending mendang mending. Alasan aja lo. Orang lain masih banyak


yang sibuk gak protes, tuh? Gue liat komentarnya ada aja yang nyempetin diri.”


“Kkkk, baru juga mulai udah panas aja nih kayak neraka. Kalian abis


kesetanan, apa? Demen amat berantem. Makan dulu yuk, makan,” pisahku pada


perseturuan ini sebelum membuat keadaan makin canggung. “Ayo mending login aja kita?” lanjutku berusaha mengembalikan topik.


“Yasudah buruan.”


“Iya deh, ayo.”


Dan dengan begitu, kami langsung menatap fokus ponsel masing-masing.


Kami miringkan ponsel, buka salah satu aplikasi gim MOBA, multiplayer online


battle arena, sebuah permainan yang mengharuskan pemainya menghancurkan


istana musuh dengan pahlawan dan kekuatan yang berbeda-beda. Setelah pencarian match yang cepat, kami langsung merubah posisi duduk lebih sigap untuk memulai


permainan.


Di match kali ini (atau mungkin di setiap match), aku


mendapatkan peran untuk menjadi bagian support yang memastikan teman


tidak mati sia-sia. Seperti menyembuhkan darahnya yang sekarat, atau bahkan


strategi untuk mengorbankan diri demi memancing fokus musuh untuk membunuh


pahlawanku saja (bukan alasan dan alibi untuk jawaban kenapa aku mati banyak).


“Aduh, mati lagi support kita. Kenapa, sih?”


“Jadi berat banget ini match. Gib, lo cari posisi yang aman,


dong!” bentak Remi.


“Kkkkk. Maaf. Taktik pengorbanan diri ini!” ucapku membela diri.


“Jangan minta maaf. Lakukan hal yang benar,” protes Remi selanjutnya.

__ADS_1


“Mending 4 lawan 5 kalau gini situasinya,” ucap seorang pelan.


Sembari kami sibuk berusaha untuk menang (meskipun sebenarnya aku hanya


menonton karena pahlawanku masih mati), tiba-tiba seorang pria datang


mengantarkan sepiring gorengan hangat. “Si-siylawkan,” ucapnya dengan


gemetaran.


Maklum, pria kurus dengan kulit coklat tua ini sedikit bermasalah. Baik


wajahnya, maupun jari-jari di tangan kirinya. Tidak. Bukan hanya sedikit.


Organ-organ itu memang tidak normal, seperti ditarik ke bagian dalam.


Penampakannya pun sudah tidak lagi menjadi penampakan tubuh yang normal.


Wajahnya terlipat ke bagian dalam tengkoraknya, sehingga berbicara atau


bernapas pun terdapat kesulitan.


“Iwni, pewsawnan gowrengannya, yua!” lanjut sang pria malang sambil


menaruh piring. Melalui layanan itu, kita bisa melihat jari-jari di tangan


kirinya yang hanya terdiri dari tiga jari yang berfungsi. Yakni jempolnya,


telunjuknya, dan juga setengah jari tengah. Sisanya, jari-jari tersebut


terlipat ke dalam telapak tangannya, sama sekali tidak bisa dipakai.


Setelahnya, pria malang yang biasa dipanggil Mas Marno itu langsung


pamit dari meja kami, langsung pergi memberikan teh hangat kepada pembeli di


meja kayu sebelah.


“Nah, udah hidup lagi,” sebutku menatap ponsel dengan pemberitahuan


bahwa pahlawanku yang sudah kembali hidup. “Ayo ayo, lanjutin aja perangnya.


Gue dateng,” ucapku antusias sebagai seorang support dengan jumlah mati


11 yang tetap berusaha untuk menjadi berguna, berusaha untuk tetap menjaga semuanya


tetap bernyawa.


SEMBILAN menit


berlalu, gim yang kami mainkan sudah menemui titik akhir karena istana milik


musuh akhirnya berhasil dihancurkan. Akhirnya, kami bisa melanjutkan aktivitas


lain—yang sebenarnya tidak terdiri dari apapun kecuali makan, merokok, dan


meminum kopi—dan mengistirahatkan ponsel kami yang mulai panas.


“Udah panas? Jelek banget ponsel lo, Gib. Gue bilang juga apa? Jangan


beli ponsel yang murah-murah gitu. Jelek, gak bisa apa-apa, umurnya pendek


banget,” protes Remi lagi.


“Kkkkk. Ya mau gimana lagi? Gue juga semalam lupa isi baterai. Jadi


banyak masalahnya deh,” jawabku mulai mengambil powerbank.


“Ah, yang bener?” tanya Remi meragukan.


““AHAHAHAHAH!”” tawa semua merespon Remi.


“Eh, ngomong-ngomong. Rem, lo kenal sama Gatra, gak? Lo ikut ekskul


basket juga, kan?” tanya Jojo mengalihkan pembicaraan.


“Gatra? Buset. Kayaknya semua orang ngomongin dia mulu, ya? Iya iya. Dia


tinggi, dia besar, dia ganteng, dia dingin, semua yang orang-orang bicarakan


itu benar adanya. Apa? Lo juga ngidam sama Gatra?”


“Mana ada. Cewek gue yang ngidam. Dia kemarin teriak-teriak meleleh,


atau klepek-klepek, atau apalah gue gak ngerti. Masalahnya, objeknya itu ke


Gatra. Ya kesel dong gue? Makanya, gue pengen ngomong ke Gatra, atau setidaknya


ngapain lah sama dia.”


“Ah, yang bener? Cewek lo yang ngidam, nih?”


“Eh serius, buset.”


“Lo ada masalah sama cowok? Seberapa penting dan besar sih masalah lo?


Berantem aja udah. Masalah laki ya beresin dengan fisik.”


“Realistis, dong. Mana bisa gue yang biasa-biasa kayak begini, lawan


monster kayak dia? Udah kayak manusia melawan beruang aja. Sekali tampar gue


juga pingsan kali?”


“Cengeng banget lo. Jangan jadi penakut! Masalah sepele gini ya


selesaikan dengan mudah. Di luar sana banyak yang punya masalah lebih berat, loh?


Tapi mereka bisa tegar, kan? Lo jangan mau kalah sama mereka, dong!” petuah


Remi dengan alis mengerut.


“Bukan masalah penakut atau bukan, tolol. Gue cuman pengen tahu Gatra


“Ooh. Bilang dong. Kalau saran gue, jauh-jauh deh sama orang kayak


Gatra. Dia itu badannya besar tapi gak bisa liat situasi. Selalu seenaknya


sendiri, semuanya harus sesuai dengan keinginan dia. Mentang-mentang badan


besar gitu, ya? Dia pengen pegang kendali, gak bisa belajar jadi mayoritas. Paham


maksud gue, kan? Gue dan temen-temen basket sih jauhin dia. Biar tahu rasa.


Busuk banget kelakuannya. Jilat-jilat guru, cari-cari muka, biar dapet nilai


gede sendirian. OH, GUE KEMARIN LIHAT INI. Mungkin karena badannya yang gede,


udah jadi sifatnya untuk menindas hal-hal kecil, ya? Di belakang sekolah, gue


denger ada kucing mengeong nangis. Buset dah gue pikir. Ini Gatra emang monster


beneran, ya? Mumpung gak ada orang yang liat, dia siksa kucing untuk hiburan?”


gosip Remi dengan antusias.


“Wah? Serius, lo? Cewek gue emang buta, nih!”


“Jauhin deh pokoknya Gatra ini. Cuman ada masalah kalau kita deket-deket


sama itu beruang. Cewek lo juga kasih tahu, Gatar itu monster beringas. Tindas


hewan kecil, tindas teman, apatis, egois, sombong, suka seenaknya sendiri.”


“Wah gila juga, ya. Makasih, Rem!”


“Nah, informasi itu mahal, bro! Beliin gue rokok, dong. Abis nih.


Kakaka!”


“Lah, gue gak pegang uang. Gib, pinjam duit lo, dong.”


“Hah!?” kagetku tiba-tiba dipanggil karena sejak awal tidak dilibatkan


atau apapun. “Tapi, hutang kalian kemarin belum dibayar, kan? Nanti numpuk,


loh?”


“Hah? Hutang kemarin kenapa itung-itungan?” potong Remi protes. “Itu kan


gue pake untuk kita-kita juga? Inikah artinya teman? Untuk apa kita selama ini


nongkrong bareng kalau hutang juga itung-itungan? Kita bukan teman, nih? Kita


cuman orang asing? Lo juga orang kaya, kan? Hal sepele gini gak perlu jadi


urusan, lah,” lanjut Remi emosi.


“Eh, enggak. Gue cuman ngasih saran aja. Kkkkk! Bentar bentar. Ini gue


ambil dulu. Nih,” ucapku sambil memberikan uang biru dari dalam dompet.


“Nah, gitu dong. Jadi teman itu harus perhatian,” balas Remi sambil


mengambil uang secara kasar, seperti masih menyimpan dendam atas sindiranku


terhadap hutangnya yang menggunung. Jujur, bukan jumlah yang aku permasalahkan.


Sejak awal, aku hanya khawatir kalau Remi tidak akan membayar hutang-hutangnya.


Itu akan jadi masalah untuknya, kan?


Tapi, apa yang dia katakan ada benarnya juga, sih.


Uangnya dipakai untuk kita bersama juga.


Lagipula, itu harga yang sangat murah jika memikirkan bahwa aku masih


diterima di sini setiap hari, pikirku meyakinkan diri lagi. Tidak ada yang diberikan, tidak ada


yang bisa aku dapatkan. Sudah wajar jika aku ingin waktu mereka, aku harus


memberi sesuatu, kan?


Setelah memanggil Mas Marno, dalam hitungan detik dua bungkus rokok dan


beberapa minuman langsung disajikan di atas meja. Kami langsung menyantapnya


dengan lahap, sembari menikmati suasana petang yang mulai dingin namun tetap


menyejukkan.


“Ayo lanjut main lagi!” ajak Remi setelah lima menit berselang.


Aktivitas dilanjutkan, semua pun langsung fokus dan tenang. Satu detik


setelahnya, ketenangan berubah menjadi kecemasan dan kepanikan. Di detik yang


lainnya, kepanikan berubah menjadi rasa kesal dan emosi yang meluap-luap. Emosi


dan perasaan ini silih berganti, selalu berputar dalam pola yang sama. Hal ini


tentu ada hubungannya dengan gim yang sedang kita mainkan. Terkadang, kita bisa


menang dengan mudah, ada juga ketika menang dengan usaha dan jerih payah, ada


juga kalah dengan hina, hingga kalah oleh gangguan kereta yang melintas.


Padahal, kereta hanya melintas setiap satu jam sekali. Tapi, seseorang

__ADS_1


yang tengah emosi dan kesal selalu bisa membuat apapun—bahkan yang tidak masuk


akal sekalipun—menjadi sebuah alasan dan objek kekesalannya agar sesuatu bisa


disalahkan.


Kami memang sudah menghabiskan cukup waktu di warung ini. Beberapa kali,


kereta memang sudah melintas. Hipotesisku, yang membuat kereta menjadi masalah


adalah kedatangannya yang tiba-tiba dan memecah fokus orang-orang. Semua yang


dibangun menjadi hancur lebur, semuanya jadi hilang kendali, meski sebenarnya


suara kereta tidak begitu berisik dan mengganggu.


“Haaaah, kalah lagi. Merah, merah, merah, merah aja semuanya. Kapan bisa


naik ke berlian?” protes Remi emosi menghembuskan napas kesal.


“Lanjut nanti malam lagi aja, lah. Gue mau ngerokok dulu,” sebut Jojo.


“Ya. Setuju!”


Dan dengan begitu, waktu untuk istirahat pun kembali datang. Agar bisa


menikmati senja merah di balik patung kereta, aku mulai balik badan. Melihat


lalu lalang orang yang bergerak, entahlah sedang mengurusi permasalahan


kehidupan apa. Ada juru parkir yang sedang membantu mobil keluar dengan nyaman,


ada pemotor yang tidak sabar dan mulai memberi klakson kepada mobil untuk cepat


bergerak memberi jalan, ada juga pengemis yang diam saja sejak siang berusaha


menjual rasa iba, hingga keluarga yang membawa banyak bawaan, mungkin sedang


mempersiapkan kepergian mereka dengan kereta.


Ada banyak rupanya, ada banyak jenisnya, ada banyak pemandangan yang


bisa disaksikan di bawah rona merah, angin sepoi, dan polusi yang tiada henti.


Dan yang paling mencolok, terlihat pemandangan kelompok yang melirik kiri kanan


kebingungan, tengah mengenakan seragam sepertiku, sebuah kemeja putih dan


celana abu-abu.


Ups, mata kami baru saja bertemu, ya?


Mereka adalah murid dari sekolahku, terlihat sedang menuju kemari,


membuatku dan Remi menjadi panik. Apa yang terjadi? Apakah itu salah seorang


komite kedisiplinan? Tapi ini sudah lewat waktu sekolah. Kita tidak akan


dihukum, kan?


“Kenapa ada banyak murid sekolah gue kesini!? Awas! Buang rokoknya!


Bersihkan semuanya! Buang semua barang bukti! Gue gak mau lagi dihukum gak


jelas sama Pak Agus! Gib, ulur waktu! Kita sembunyi. Cepat! Cepat!” perintah


Remi tergesa-gesa.


“Siap, pak bos!”


Sayangnya, sebelum aku bahkan bisa mengulur waktu dan meluruskan


kesalahpahaman, kelompok murid yang terdiri dari sembilan orang ini sudah lebih


dahulu berada di depan warung kopi. Tepatnya berada di tempat kami, tempat


dimana terdapat kursi dan meja dari semen dengan permukaan ubin seperti altar.


Mereka tengah melihat semua kekacauan dengan canggung, kebingungan mengapa kami


panik terbirit-birit.


Kita sudah kepergok merokok?


Kita akan dihukum lagi?


Beruntung, kelompok murid ini bukanlah bagian dari komite kedisiplinan.


Seorang dengan badan dan bahu yang lebar serta poni terbelah dua ini hanyalah


dimiliki oleh Faisal saja. Dan dia bahkan bukan bagian dari OSIS, apalagi


komite kedisiplinan. Dia hanya murid yang biasa-biasa saja.


“Aku cari kamu kemana-mana, ternyata masih nongkrong disini, ya?” tanya


Faisal tanpa basa-basi, tanpa perkenalan, tanpa menyapa.


“Kkkkk. Iya, nih. Nongkrong manja sambil ngopi. Mau ikut?”


“Tidak. Aku ingin ajak main futsal. Kurang orang, nih. Daripada disini,


olahraga saja, yuk!” tolak Faisal dengan tegas, sembari mengajak dengan sama


tegasnya.


Aku yang kebingungan hanya menoleh kiri dan kanan. Aku diajak bermain


futsal lagi? Aku sebenarnya sangat gembira dan bersuka cita akhirnya ini


terjadi lagi. Tapi, setelahnya aku berpikir sekali lagi, berusaha menimbang apa


yang sebaiknya aku lakukan.


Rasanya sangat ingin, tapi sedikit sungkan?


“Tapi, gue gak bawa motor. Nanti gimana perginya?”


“Santai saja. Bisa nebeng, kok. Tempat futsal yang biasa. Kamu ingat,


kan? Masuk gang dan di sebelah sungai. Mana ada polisi disana? Gak perlu


khawatir helm.”


Waduh. Jadi makin sulit untuk nolak, nih.


Semuanya tinggal tergantung oleh gengsi dan rasa malu saja, sih.


Aku sungkan dan segan meninggalkan Remi. Tapi, aku pun tidak ingin


menolak Faisal. Kami memang jarang berbicara dan bukan teman dekat. Tapi, aku


selalu senang dan ingin untuk bermain futsal dengannya, pikirku menimbang pilihan. Baiklah kalau begitu.


“Yasudah. Rem, nanti malam lanjut main, kan? Gue pamit duluan, ya.


Faisal ngajak main futsal ternyata,” sebutku yakin sembari berdiri tegak dan


membereskan barang.


Akhirnya terbebas dari rasa panik karena kedatangan komite kedisiplinan


palsu, Remi dan yang lain pun mulai bisa bergerak bebas lagi, tidak perlu


bersembunyi menutup diri. Perlahan, semuanya kembali duduk dengan santai, tidak


perlu lagi khawatir akan hukuman sekolah yang mengerikan.


“Heh, ya terserah lo juga, sih,” deham Remi. “Tapi, masa lo pergi gini,


aja? Tinggalin kita? Gue pikir kita teman. Udah dilanggar lagi, ya? Gue sih gak


mau munafik, ya. Gue gak suka sama lo dan rutinitas futsal kalian, Sal. Gak


jelas. Untuk apa olahraga yang bikin tubuh sakit-sakitan? Ngerokok ya ngerokok


aja. Gak usah cari muka untuk main futsal segala.”


“…”


Faisal tidak bergeming, tidak menanggapi, bahkan tidak menatap Remi sang


pemilik suara. Dia hanya berdiri dengan santai, sambil terlihat menunggu


jawabanku atas ajakannya.


“Tapi gue capek-capek ngomong gini juga lo gak pernah dengar, kan? Udah


gue bilang ini, udah gue bilang gitu, jangan ini, jangan itu, ya gak pernah


didengar juga. Untuk apa gue ngomong? Saran gue, lo gak perlu ikut futsal, Gib.


Udah. Titik. Di sini aja main gim karena masa depan lebih jelas. Ada turnamen


bulan depan. Lo futsal juga gak berencana profesional, kan? Awas aja nanti lo


dateng merengek-rengek ke gue,” sindir Remi emosi.


Wah, terima kasih banyak, loh!


Saran kamu malah bikin kepala mau meledak karena menambah beban pikiran.


Aku salah apa sama kalian, sih?


Tapi, aku pun bukannya bisa menolak setelah memberi lampu hijau kepada


Faisal. Dengan canggung, aku pun mulai beranjak pergi tanpa mengatakan apapun


kepada Remi kecuali kalimat singkat. “Duluan, ya!” pamitku kemudian.


Dan tentu saja, tidak ada jawaban balasan.


\~\~\~\~\~\~\~\~


Di kota kalian trotoarnya


ada yang bolong-bolong juga, gak? Temenku bilang kalau ubin ilangi tu bisa


dijual loh. Aneh-aneh juga ya. Wkwkwkwkwk.


Selamat datang Kembali,


teman-teman!


Ragib lagi dilemma


milih sirkel nih


Tapi menurut


kalian mending kebingugan atau gak punya sirkel sama sekali? :(


Serba salah


yekan


See you next


time ;)

__ADS_1


Tungguin setiap


minggu untuk chapter barunya, ya!


__ADS_2