
SEKARANG kami ada di mobil angkutan kota. Mobil yang hanya terdiri dari dua bagian, yakni
kursi di depan bagi pengemudi dan satu penumpang, dan bagian belakang yang
terdiri dari dua kursi memanjang saling berhadapan di sisi badan mobil, dengan
kaca yang juga memanjang. Kaca ini terkadang bisa dibuka, terkadang rusak
tersumbat sengaja tidak bisa dibuka oleh sang pemilik mobil.
Sembari duduk bersama beberapa penumpang, Aku menatap heran tentang
kehadiran Suci yang sekarang sedang mengangkat kakinya, duduk berlutut di atas
kursi memanjang ini, memegang kusen jendela, menatap seluruh pemandangan yang
kita lewati (yang terdiri dari hiruk pikuk kesibukan kota, bukan pemandangan
alam yang menyenangkan).
Apa yang gadis ini pikirkan? Kenapa dia begitu penuh gairah? Bukankah
kita hanya pergi menuju rumahnya? Tapi, gelagat yang Suci berikan ini seperti seorang anak kecil yang
penasaran sedang pergi berlibur, penasaran apa yang berada di ujung perjalanan.
Kalau memang pergi ke rumahnya, artinya dia sudah sering melakukan ini,
kan?
Tapi, dari matanya yang masih bersinar, dia seperti melihat sesuatu yang
baru di hadapannya. Bukan lagi pemandangan rutinitas yang biasa dilalui dalam
perjalanan pergi maupun pulang sekolah.
Kemana kita akan pergi? Aku juga tidak tahu.
Tapi, entah mengapa aku masih tidak merasa gelisah dan mulai panik.
Setelah ditarik paksa oleh Suci dari taman kecil di samping koridor
sekolah, kami pergi menuju gerbang depan sekolah, namun belok sebentar untuk
memasuki pos satpam. Tanpa salam, tanpa pendahuluan, Suci langsung membuka
pintu dan memasuki ruang satpam yang terlihat di dalamnya dua layar yang
menunjukkan hasil tangkap kamera pengawas. Sambil mengoprek-oprek sesuatu di
dalam ruangan satpam, Suci berteriak bahagia “Pulang, pulang!” tanpa peduli
sekitar.
Beruntung, pria yang umurnya sekitar 40 tahun ini tidak merasa terusik
oleh kehadiran Suci, meskipun dia adalah satpam yang bertugas menjaga keamanan.
Hal ini dapat terlihat dengan seragam kemeja putihnya, dasi hitam, ikat
pinggang berbadan emas, juga celana katun hitam, pentungan yang dikaitkan di
sisi ikat pinggang, hingga benda komunikasi walkie-talkie yang terpasang
di dadanya.
Pria ini adalah satpam tulen, bukan satpam jadi-jadian, atau satpam
palsu yang tugasnya hanya memalak orang-orang sekitar.
Ekspresi di atas wajahnya memang sedikit penasaran dengan kedatangan
yang tiba-tiba. Tapi, tetap bukan ekspresi kaget atau segala macam. Dengan
wajah yang sedikit bopeng bekas jerawat, kumis dan jenggot yang dicukur gundul,
rambutnya yang tipis, pria ini justru memberikan senyum penasaran dengan
kehadiranku, bukan pada Suci.
“Dari tadi kamu bulak-balik saja, Gib. Tidak pulang?” tanya sang satpam
bernama Pak Imam ini kepadaku sambil tetap memegang koran dan duduk di atas
kursi plastik. Pos satpam ini sebenarnya sedikit lebih besar dari pos satpam
lain, karena memiliki teras kecil beratap di bagian luarnya yang terdiri dari
meja yang dibangun dengan semen. Di atas meja tersebut terlihat sebuah televisi
tabung kecil, kopi, dan makanan di atas piring yang ditutupi kertas. Setelah
teras, ada juga ruangan pos satpam itu sendiri yang tidak aku bisa lihat dengan
jelas selain Suci dan dua monitor.
“Kkkk! Bapak juga masih sibuk main TTS nih, pak. Belum pulang? Gimana
kabar istri, Pak? Kkkkk,” tawaku menjawab Pak Imam.
“Ah, kamu ini malah ingetin saya. Saya belum pulang karena istri pasti
masih marah-marah di rumah. Mending santai dulu sebelum dimarahin lagi, kan?”
jawab Pak Imam merentangkan koran sambil bersandar santai di kursinya. “Kamu
gimana? Saya pikir tadi sudah pergi? Ke stasiun lagi, ya?”
"Kkkkkk. Yah, banyak yang ter—"
Sebelum aku bisa menjawab lebih lanjut, Suci dengan gesit keluar dari
ruang satpam sambil menggendong tas ransel berwarna birunya. Tanpa
pamit—kecuali teriakan bahagianya untuk pulang—dia langsung pergi melewati Pak
Imam, kembali menarik tanganku untuk pergi keluar gerbang. Lalu, kami
menyebrang jalan dengan seenaknya sampai diprotes oleh klakson dari banyak
pengendara, namun akhirnya sampai juga di seberang jalan dengan jantung yang
hampir copot. Tidak bisakah dia fokus jika sedang menyebrangi jalan?
Tidak menunggu kondisi lebih tenang, Suci langsung menarik tanganku lagi
untuk berjalan di trotoar, untuk menunggu angkutan kota berwarna hijau dengan
dua garis putih. Ketika muncul, Suci kemudian memanggilnya, langsung
menaikinya, dan disinilah kami berada. Aku yang duduk mengernyitkan alis, juga
Suci yang bahagia menatap kemacetan di tengah jalan.
TERNYATA, perjalanannya tidak begitu rumit seperti yang aku kira. Setelah turun dari
angkutan kota (Suci sempat salah ambil langkah dan hampir terjatuh), kami
memasuki jalan tanpa trotoar yang cukup besar untuk dilewati dua mobil. Namun,
jalan ini tidak terlihat sebagai jalan komplek perumahan. Selanjutnya, kami
menelusuri jalan ini dengan diam, di bawah rembulan yang perlahan menunjukkan
dirinya. Hari sudah semakin larut malam, sudah semakin gelap gulita. Tapi,
energi yang Suci miliki rasanya tidak ada perubahan sejak kami bertemu
di sekolah beberapa puluh menit lalu.
Seperti yang orang-orang katakan, Suci tidak pernah benar-benar bisa
fokus terhadap apa yang ada di depannya, kecuali sesuatu yang murni berasal
dari dunianya sendiri. Padahal, kita sedang berjalan ‘pulang’ (entahlah apakah
kita benar-benar pulang ke rumahnya atau bukan). Tapi, rasanya Suci menjadi
penunjuk arah yang cukup buruk. Dia tidak menjelaskan apapun, dia tidak
menjawab pertanyaanku dengan cukup.
“Ini jalan apa?”
“Jalan pulang,” jawabanya tanpa menoleh.
“Apakah kamu tahu jalan ini?”
“Ya. Jalan pulang!” jawabnya sekali lagi, tanpa menoleh, masih dengan
suara riang.
“Apakah pulang… maksudnya pulang ke rumahmu?”
“Pulang… ya pulang?”
Dan setelahnya, aku memutuskan untuk tidak bertanya lebih lanjut.
Selain komunikasi yang tidak berjalan dengan begitu baik, Suci pun
terkadang seperti anak tersesat yang kebingungan terhadap apa yang ia kerjakan
sendiri. Seperti contohnya tadi, setelah turun dari mobil angkutan kota dia
malah berlari kegirangan tanpa membayar terlebih dahulu. Aku pun kena bentak,
langsung membayar dengan sedikit malu.
Selanjutnya, ketika ada seekor kucing yang sedang tidur bertengger pada
salah satu pagar tembok rumah warga, konsentrasi Suci terusik dan memilih untuk
bermain dengan kucing tersebut dengan waktu yang cukup lama (karena dia juga
sedang menggambar kucing itu). Tidak ada tanda-tanda untuk pulang, tidak ada
tanda-tanda Suci ingin menyudahi aktivitasnya. Tapi, tanpa aba-aba, ketika aku
sedang berjongkok kelelahan, Suci menghilang di kegelapan malam, membuatku jadi
korban anak hilang.
Ada juga ketika Suci pergi ke mini market, menyapa kasirnya basa basi,
pergi mengambil makanan yang ia inginkan, memakannya di tempat (sempat ceroboh
menjatuhkan rotinya), lalu pergi tanpa membayar. Aku hanya menatap bingung,
tidak percaya dan tidak ingin percaya terhadap apa yang baru saja aku saksikan.
Apakah sang kasir sudah hafal tingkah Suci?
Apakah ini artinya kita sudah dekat dengan kediamannya?
Selain aktivitas yang merepotkan, ada juga aksi Suci lain yang
__ADS_1
menjelaskan betapa kekanak-kanakannya gadis ini. Di pinggir jalan (tanpa
trotoar), terdapat garis pembatas jalan dengan cat yang sedikit pudar. Bagiku
sendiri, itu tidak terlalu berarti apa-apa, selain batas untuk pejalan kaki
berjalan. Namun, Suci langsung merentangkan tangannya, berjalan di atas garis
pembatas jalan itu, seakan-akan sedang berjalan pada papan kayu yang berbahaya.
Jika garis itu terputus, Suci akan berusaha untuk tidak menginjak aspal hitam,
seakan-akan aspal tersebut adalah lava merah yang berbahaya, atau mungkin api
neraka, bisa jadi juga cairan asam. Entahlah apa, pokoknya bukan sesuatu yang
harus dipijak.
Sayangnya, Suci langsung teralihkan lagi fokusnya pada sebuah rumah yang
terlihat sangat megah dan mewah. Dengan pagar tembok berwarna putih bersih,
beberapa ornamen emas menghiasi, juga pagar besi yang separuh terbuka
memperlihatkan mobil yang sedang dicuci di luar garasi. Lalu ada pilar putih
yang menopang lantai dua, hingga taman di sudut teras yang diisi berbagai
tumbuhan dan air terjun kolam mini.
Sebenarnya, jika dipikirkan lagi ketika kami memasuki kawasan ini,
rumah-rumah warga yang terbentang di kiri-kanan terdiri dari berbagai rumah
mewah. Tapi, mungkin karena Suci sedang sibuk dengan urusan yang tidak ada
sangkut pautnya dengan rumah, pun aku lelah menjaga Suci, aku tidak terlalu
ambil pusing untuk memerhatikan.
Bersama Suci, aku perhatikan lamat-lamat rumah megah ini, sampai fokusku
terpecahkan dengan aksi polos Suci lainnya untuk sembarangan membuka pagarnya
dan membiarkan dirinya masuk selayak mana dialah pemilik dari rumah ini.
Sontak, aku langsung mengejarnya dan berusaha untuk menghentikannya
lebih lanjut dalam merepotkan orang-orang “Keluar! Kita tidak boleh seenaknya
masuk ke rumah orang seperti ini!” seruku sambil (akhirnya balas dendam)
menarik tangan Suci.
Tapi, Suci hanya memiringkan kepalanya, menatapku bingung, lalu menarik
tangannya dari genggamanku. “Ini pulang,” serunya kemudian.
Aku terheran, aku terdiam membeku.
Sampai Suci menaiki tangga teras, membuka pintu depannya dengan kunci
dari kantong roknya, tertawa bahagia mengumumkan dirinya yang sudah pulang pada
seisi rumah. Aku masih terkejut, bahkan mulutku terbuka lebar-lebar, tidak
begitu percaya terhadap apa yang baru saja terjadi.
DI DALAM ruang tamu besar, terlihat lampu gantung yang digunakan juga untuk lantai dua, dinding
serba putih memajang lukisan, tanaman hijau di dalam pot di sudut ruangan,
televisi pipih dengan lebar lima langkah di bagian kanan, hingga meja rendah
dari marmer yang mengilap dan kaca di atasnya. Di sini, aku duduk dengan
canggung di atas sofa mewah dengan hiasan berwarna krem dan sedikit emas.
Canggung karena sadar aku telah memasuki rumah orang asing, khususnya
gadis yang aku temui belum satu hari. Canggung karena bingung bagaimana harus
berhadapan dengan orang yang tidak aku kenali. Canggung dengan kemewahan yang
akhirnya kurasakan lagi. Canggung merasakan kehangatan dari definisi rumah itu
sendiri.
Canggung karena ingatan masa lalu?
Kapan terakhir kali aku bisa pulang ke rumah dengan bangga dan bahagia?
Sebelum ibu yang—
…
“Mau teh, kopi, atau jus?” tanya seseorang dari sebelah kanan. Aku
menengadah sedikit, terlihat seorang wanita yang berumur sekitar 30 tahun,
rambut yang disanggul, mengenakan baju seperti perawat.
“Ah? Ti-tidak. A-air putih saja,” jawabku gugup.
“SUCI MAU ES JERUK!” teriak gadis yang duduk bersebrangan denganku,
hanya dibatasi oleh meja rendah ini saja.
“Tapi Mbak… sekarang sudah masuk waktu malam. Nanti Nyonya akan marah,
loh?”
“Aku hidangkan susu coklat panas, ya,” lanjut wanita perawat dengan
tenang.
“Mamaaaaa!” teriak Suci mengeluarkan tantrum, sedangkan wanita perawat
hanya tersenyum simpul tidak begitu peduli. Dia pergi menuju bagian rumah lebih
dalam, meninggalkan Suci yang menyilangkan tangannya dengan ekspresi ketus
mencari perhatian. Namun begitu, fokus Suci teralihkan lagi. Terlihat dari
matanya yang melihat kesana-kemari, diikuti oleh kepala yang bergerak cepat,
seperti sedang mencari hiburan yang dapat mengobati kekesalannya.
Sampai pada akhirnya dia menemukan remot televisi terselip di dalam
sofa, Suci gesit mengambilnya, langsung dia arahkan kepada televisi besar untuk
menyalakannya.
Ternyata, televisi itu menampilkan sebuah kartun yang menceritakan
sekelompok sahabat perempuan yang bisa bertransformasi menjadi peri, yang
bertugas untuk menyelamatkan teman mereka yang diculik oleh sesuatu yang jahat
(entahlah apa aku tidak fokus menonton). Film ini didominasi oleh warna-warna
cerah khususnya merah muda, banyak lagu dan dansa yang dilakukan karakternya,
dengan banyak adegan transformasi yang dilakukan karakter dengan sangat elegan.
Tunggu. Di film ini hewan merupakan karakter yang bisa berbicara?
Apa judulnya? The Magic of Fairy Dust?
Sebenarnya, aku tidak protes juga. Hanya saja, seluruh karakter hewan di
film ini mengingatkanku pada gambar-gambar yang dibuat oleh Suci.
Membicarakan Suci, aku memalingkan wajah dari televisi untuk melihatnya
sedang antusias dengan mata yang lebih bersinar dan berbinar-binar. Nampaknya,
Suci sangat menikmati film ini. Bisa terlihat dari mulutnya yang terbuka lebar,
terkadang dia berdiri ikut penasaran, atau mengikuti gerakan-gerakan
transformasi elegan yang dilakukan karakter di dalam film.
“Ohohoho, maafkan atas keterlambatan saya,” seru seseorang yang terlihat
mendekati ruang tamu ini dari bagian dalam rumah. Dia adalah seorang wanita
yang umurnya sekitar 40 tahun, memiliki rambut pirang yang disanggul juga,
kulit wajah maupun keseluruhannya putih dan kencang mengilap, mata biru yang
membuatku terpesona, mengenakan sweater biru muda longgar, celana katun
longgar juga yang berwarna krem, dan alas kakinya mengenakan sandal rumah
berbulu. “Suci, kamu sudah pulang?” lanjut sang wanita.
“Mamaaaa! Suci pulang!”
“Ohoho, anakku sudah pulang!”
Meninggalkan film yang baru ia nikmati dengan sepenuh hati, Suci
langsung memalingkan fokusnya untuk menyambut kedatangan wanita yang
dipanggilnya Mama tersebut. Itu ibunya? pikirku tidak percaya. Begitu
sang wanita ikut duduk di samping Suci, Suci langsung memeluknya erat, meminta
kepalanya untuk dielus-elus, mereka mulai melupakan lingkungan di sekelilingnya
seperti dunia hanya milik berdua.
“Kenapa kamu diam di sini? Gak langsung ke kamar?”
“Ma, tadi Suci nemuin laba-laba ada ekor di sekolah! Aneh loh, Ma!”
“Laba-laba berekor? Kok bisa, ya?”
“Gak tahu Suci juga. Heran. Makanya gak langsung pulang. Hehe-hehe,
hehehe!”
“Terus, selain itu ngapain aja di sekolah?”
“Oh, iya! Tadi ada belajar Bahasa Indonesia. Disuruh baca puisi ke
depan. Gak ada yang mau kecuali Suci, Ma!”
“Wiiih, Suci hebat, ya? Terus gimana? Kamu lancar baca puisinya?”
“Lancar dong! Suci hebat, kan? Hehe! Tapi yang bikin kesel itu
matematika. Terlalu mudah. Yasudah, Suci makan aja ke kantin.”
__ADS_1
“Tapi Suci sudah izin ke gurunya?”
“…”
“Suci…?” tanya Mama Suci dengan gemulai.
“U-udah? Udah kayaknya? Ya. Mungkin? Suci lupa? Hehe.”
“Suci….? Hm?”
“Eng-gak kayaknya…”
“Nanti gak boleh gitu lagi, ya? Kalau mau pergi ke kantin atau ke
toilet, harus izin dulu sama gurunya. Gak sopan. Jangan diulangi lagi, ya?”
sebut sang wanita sambil terus membelai rambut hitam Suci, namun dengan
ekspresi yang lebih serius.
Selanjutnya, Suci dan Mamanya terus bercerita tentang seluruh kejadian
yang terjadi pada Suci hari ini di sekolah, yang justru membuatku sedikit
penasaran dan ikut meresapi ceritanya juga. Mungkin karena ini satu-satunya
hiburan?
Mungkin juga karena aku masih sungkan untuk bertanya mengapa aku
terperangkap di rumah Suci? Lagipula, aku tidak terlalu mengeluh juga karena
sofa yang nyaman ini, kok.
Pelan tapi pasti, seraya aku dengar suara dan percakapan antara ibu dan
anak penuh kehangatan dan kasih sayang tersebut, rasa gugup dan panik yang akan
mengonsumsiku tiba tiba menghilang. Aku ikut diserap masuk oleh cerita-cerita
Suci yang penuh energi, penuh perhatian, penuh antusias.
Namun, lama kelamaan tidak hanya kesadaranku saja yang diserap keluar.
Memori yang terkubur jauh di dalam hati juga tergali keluar, apalagi seputar
kehidupan hangat di rumah besar. Seperti terjatuh ke dalam sumur dalam,
akhirnya penyelamatan dilakukan. Tidak ada gertakan, tidak ada perlawanan untuk
menolak. Memori ini pelan-pelan mengambil kesadaranku, mulai berhalusinasi
tentang adegan yang serupa.
Padahal, aku masih menatap dan mendengar Suci dan Mamanya saja. Di
depanku mereka masih bercerita, Suci masih dibelai, keduanya masih berpelukan.
Hanya mereka berdua, dua perempuan yang saling sayang menyayangi.
Namun, secara perlahan inderaku mulai mati rasa. Aku tidak lagi bisa
menggerakkan tubuhku, tidak bisa lagi mendengar apa yang Suci katakan, kecuali
detak jantungku sendiri. Aku tidak bisa lagi menghirup aroma segar yang datang
dari pengharum ruangan, tidak bisa lagi merasakan rasa dingin di sekujur tubuh
habis perjalanan malam pulang dari sekolah, tidak bisa lagi mengecap air liurku
sendiri yang sedari awal tidak ada rasanya.
Aku hanya bisa melihat, menatap, memandang, menonton mulut Suci yang
terus bergerak mengatup-ngatup, tangannya yang bergerak kesana kemari
merekayasa sebuah kejadian atau benda, gesturnya yang berubah seiring dengan
ekspresinya, dengan tangan sang wanita—Mama Suci—yang terus mengelus kepalanya,
terkadang terkesiap terkejut menutup mulutnya setelah mendengar kejadian yang
Suci ceritakan.
Seiring indera yang tidak bisa kurasakan lagi selain tatapan mata,
jantungku juga berdegup dengan kencang. Mulutku tergagap, pandanganku mulai
kabur tidak fokus. Kepalaku pun sakit seperti ditusuk oleh ribuan jarum kecil
dari berbagai arah, hingga sakit berat sebelah.
Napasku perlahan tersengal lagi, aku mulai merasakan air mengalir di
sisi pelipis. Pelan tapi pasti, aku malah melihat Mama Suci melakukan
transformasi, seperti yang tadi dilakukan oleh karakter di dalam televisi.
Rambut pirangnya berubah menjadi coklat hitam, warna kulit putihnya juga
berubah menjadi sawo matang, hingga warna matanya yang berubah menjadi coklat
tua.
Ibu…?
Kenapa ada gadis ini di dekapan ibu? Kenapa ibu memeluk orang lain?
Awas! Kamu ganggu saja!
Kamu tidak berhak ada di sana! Akulah anak ibu sesungguhnya!
Tanganku seperti memanjang, seperti bisa meraih dua perempuan di depanku
dalam satu genggaman. Apakah ruang dan waktu memang sedang berubah? Aku
merasakan ruangan ini menggeliat dan meregang. Aku merasakan bahwa aku bisa
meraih mereka berdua, bisa memisahkan gadis aneh ini yang tengah memeluk ibuku
sendiri.
Aku benci gadis ini.
Pergi! Pergi dari dekapan ibu!
Semakin dekat, semakin yakin bahwa aku bisa pisahkan dekapan dua
perempuan ini. Pisahkan dengan paksa, pisahkan dengan seluruh emosi yang selama
ini terkumpul di dalam hati. Jika perlu, aku lawan seluruh ruang dan waktu di
dunia, aku singkirkan ilmu sains yang ada, hanya untuk berganti posisi dengan
gadis di depan.
Tapi, sebelum aku benar-benar bisa memisahkan dekapan antara dua
perempuan di depan, lebih dahulu punggungku dilempari sesuatu. Lemparan yang
kuat, lemparan yang cukup menyakitkan, lemparan bukan tanpa sengaja. Ini
lemparan yang memang dilakukan dengan motif tertentu, lemparan yang membuat
titik gravitasi di bawah kakiku hilang sepenuhnya, hilang kendali atas
keseimbangan. Hasilnya, aku harus tersungkur jatuh ke depan, siap ikut
berpelukan dengan Suci dan Mamanya.
Suci dan Mamanya?
APA YANG AKU PIKIRKAN? sesalku kemudian.
Masalahnya, semuanya sudah terlanjur terjadi. Aku akan tersungkur
terjatuh, aku tidak bisa mengelak lagi. Aku hanya harus siap-siap menghadapi
dampak yang pasti akan terjadi setelah kejadian memalukan ini.
“Kkkk! Aduh aduh, maaf. Melihat kalian berpelukan, jadi ingin ikut
juga,” kekehku berusaha untuk membela diri ketika ikut berpelukan.
Namun, tentu aku masih memiliki harga diri. Aku tidak berlama-lama ikut
berpelukan dengan mereka, langsung bangkit berdiri, siap untuk meminta maaf
dengan lebih layak. Masalahnya, genggaman tanganku bukan pada sesuatu yang
kokoh yang dapat membawaku berdiri. Tiba-tiba aku terpeleset entahlah oleh apa,
bersamaan dengan wanita perawat yang sedang membawa minuman.
Praktis, aku kembali terjatuh, ikut membawa wanita perawat untuk
terjatuh juga, bersamaan dengan seluruh minuman dan gelas di atas nampan.
Semuanya terjatuh, semuanya kacau, semuanya berantakan tidak karuan.
Setidaknya, aku bisa tahu pelaku dari semua kekacauan ini adalah seorang
gadis yang datang dari pintu depan, berada dalam posisi canggung yang
menjelaskan bahwa ia baru saja melemparkan sesuatu. Gadis ini mengenakan
kacamata bulat, rambutnya bergelombang panjang melebihi pundak, perawakannya
serupa seperti perawakan Suci. Gadis ini memberikan ekspresi marah, kaget,
jijik, semuanya campur aduk, yang juga masih sama-sama mengenakan seragam,
meskipun bukan seragam dengan kemeja putih dan rok rempel abu-abu seperti kami.
Seragamnya terdiri atas kemeja putih dengan garis hitam di kerahnya, blazer
berwarna biru tua, dasi merah di depan dada, dan rok biru tua dengan tekstur
kotak-kotak berwarna putih.
\~\~\~\~\~\~\~\~
Tiba-tiba Ragib ngeliat sosok ibunya lagi meluk Suci?
Tapi yang lebih penting lagi…ITU SIAPA YANG NGERUSAK SUASANA????
SEENAKNYA AJA NGELEMPAR BARANG KE RAGIB??
Selamat datang lagi, teman-teman!
Kira-kira Ragib yang bener bener kepaksa ini bakal gimana ya?
Kondisinya kan bener bener gak nyaman banget untuk dia!
Btw …
__ADS_1
See you next time ;)
Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!