Setan, Suci, Siuman

Setan, Suci, Siuman
Bab 16: Nyaman Bersama Teman


__ADS_3

APAKAH hidup memang serumit ini, ya? Penuh pilihan yang merepotkan, tanpa ada cara untuk mundur atau kabur dan berharap semuanya selesai begitu saja. Seperti sedang dikejar oleh penjahat mematikan, namun kita tidak memiliki jalan kabur lain karena di depan mata hanya ada tepi tebing yang terjal. Apapun pilihannya, kita pasti akan tersiksa, lecet berdarah, patah tulang, hingga luka-luka lainnya.


Apakah pilihan yang aku miliki memang pelik begini, ya?


Apakah aku tidak punya pilihan lain selain menghadapi Suci dan Nila serta seluruh kekacauan dan amarah yang mereka miliki demi tetap bersekolah? Tapi, jika aku tidak melakukan apapun aku tetap akan kehilangan semuanya. Aku akan pindah sekolah dan memulai dari nol lagi, kehilangan teman dan sahabat dan kembali sendirian lagi.



Tidak.


Kenapa aku harus repot? Semuanya sudah selesai, kan?


Kenapa aku harus memikirkan hal yang tidak penting, sih? Aku sudah yakin bisa mengerjakan kuis susulan Pak Prima pekan ini, kan? Aku bisa mengambil hati para guru lagi, tidak perlu pindah sekolah, semuanya bisa kembali seperti sedia kala. Hanya minggu kemarin saja penderitaannya berlangsung, bahkan hanya satu hari itu saja ketika jalan-jalan di komplek mall Permata Indah?


Lagipula murid pintar tidak hanya Suci saja, kan?


Permasalahan tentang kuis susulan Pak Prima bisa selesai, aku pun tidak perlu lagi berurusan dengan Suci, apalagi dengan Nila yang masih terus mendesis. Untuk masalah yang akan datang, bisa aku urus nanti lagi saja. Masih ada waktu hingga UTS, masih ada Balkis dan teman OSIS yang selalu mengadakan sesi belajar, masih ada waktu hingga aku bisa mempersiapkan diri lebih matang.


Tenang.


Tenang saja.


Remi juga tidak ingin tinggal kelas, kan? Aku masih bisa bertanya satu dua hal di tongkrongan itu, aku masih bisa menjadi bagian dari mereka. Kalau Faisal… mungkin bisa dilupakan saja. Aku tidak mungkin lulus dengan jalur prestasi atau olahraga. Semuanya bisa kembali dengan normal. Tidak ada masalah yang merepotkan.


Tidak perlu bercengkrama dengan Suci dan Nila lebih lama.


Tidak perlu merasa tidak nyaman lagi.


“Heh, Gib. Nungguin apa? Ayo masuk,” seru seseorang membangunkanku dari balik ruangan dengan pintu yang separuh terbuka. Itu Balkis, dia mengajakku masuk untuk mulai melakukan pekerjaan, di sebuah ruangan dengan papan nama tertulis ‘Gudang’ yang sedikit lusuh dimakan waktu.


Setelah sadar sepenuhnya, aku pun mendorong pintu kayu yang macet hingga mendecit mengikis ubin lantai. “Mau apa kita disini, Kis?” tanyaku sambil mengusir kepulan debu yang mengusik pandangan hingga membuat hidung hampir bersin.


“Lah? Jangan tanya gue. Kalian yang butuh kesini, kan?” sewot Balkis sedikit protes.


Kalian? batinku bertanya-tanya. Aku langsung balik badan untuk melihat, ternyata ada satu orang di belakangku yang sedang mengenakan seragam olahraga. Tunggu. Aku pun mengenakan seragam olahraga? Dengan kaus pendek putih berlengan hijau dan celana panjang hijau pula? Sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri? Sibuk memikirkan banyak hal, tiba-tiba saja aku berada pada posisi yang membingungkan ini.


“Cari pompa bola aja atau bola baru sekalian?” tanya murid dengan rambut keriting pendek di belakangku ini.


Ah, betul juga, aku mengiyakan dalam hati.


Pagi menjelang siang saat pelajaran olahraga, ada beberapa bola voli kempes yang tidak dapat dipakai sama sekali. Karena cukup merepotkan, Pak Cipto selaku guru olahraga pun langsung memanggil namaku.“Ragib tolong urusi, ya,” suruhnya dengan malas.


“Kkkk! Siap, pak! Sekalian cari bola baru, pak? Kalau udah tua kan jadi lemes gak ada tenaga lagi untuk main, pak.”


““AHAHAHAHA”” tawa seisi kelas (laki-laki saja).


“Terserah kamu saja, Gib. Nanti sekalian untuk Balkis yang olahraga setelah kelas kalian, kan? Kondisikan saja. Saya kembali ke ruang guru dulu.”


Dan dengan begitu, disinilah aku berada. Pada ruangan yang diisi oleh banyak rak, beberapa lemari kayu yang terisi banyak dokumen dan diatasnya banyak kardus, matras yang bertumpuk di satu sisi ruangan, ada pula sebuah tongkat mungkin bekas kegiatan pramuka, jaring wadah bola yang tersebar disana-sini, hingga sebuah pemandangan di sudut ruangan berupa langit-langit yang berlubang.


“Untuk bola voli ada gantinya, sih. Tapi bukan bola baru.”


“Pompa bola dimana?”


“Harusnya di sekitar sini,” ucapku mengorek-ngorek lemari.


“Kis, olahraga lo juga voli?”


“Ya… sama kayak kalian? Voli, ya? Ngapain aja?”


“Yah begitulah. Belajar cara passing, cara nangkep, pokoknya hal-hal dasar, terus sisanya olahraga bebas. Kayaknya sih cuman sekali ini doang. Minggu depan ada tes lari, ya? Berapa meter, sih?”


“Sekitar 800 meter? Kal—”


“Nah, ketemu. Ini, kan?” tanyaku memotong pembicaraan sambil memegang pompa bola. Dengan suara decakan lidah yang terdengar sarat, aku hanya terkekeh untuk kemudian mulai meninggalkan gudang dengan damai.


Namun, setelah aku keluar dari gudang, ada hal yang menghancurkan kedamaian itu menjadi sebuah ledakan kejutan yang tidak aku duga-duga. Berjalan santai di koridor, ternyata ada seorang murid dengan badan dan bahu yang lebar, serta poni yang terbelah dua sedang meminum air mineral. “Wah, Ragib! Kebetulan!” seru Faisal bahagia.


“…? Gue duluan, ya,” ucap Balkis dan murid dengan rambut keriting pendek yang mempersilakanku dan Faisal untuk berbicara berdua saja.


“Hari ini kita main futsal!?” tanyaku girang. Kita bakal main futsal lagi? batinku tidak bisa berhenti berharap. Tapi, ekspektasi dan imajinasiku ini terlalu tinggi untuk menganggap semuanya berjalan dengan lancar.


“Engga, Gib. Bukan itu. Hehe,” tolaknya santai.


Mengenyampingkan air mineralnya, Faisal mulai bersandar pada pagar koridor yang mengarah ke luar untuk mulai bercerita tentang kehidupannya (yang sebenarnya sudah aku ketahui). Tentang ekonomi keluarganya yang menengah ke bawah, jumlah adiknya yang banyak masih harus bersekolah, kehidupan sekolah yang cukup rumit karena Faisal bukan murid dengan akademik paling pintar, hingga solusinya untuk menjadi pemain bola agar bisa menghidupi keluarganya seperti idolanya Chrstian Ronaldo.


Sayangnya, dalam meraih mimpinya ini, ia harus terhalangi oleh fasilitas yang kurang memadai,  ingin segera menggantinya karena sudah tidak nyaman lagi. Singkatnya, Faisal memintaku untuk mengunjungi mall bersamanya, karena dia cukup malu tidak pernah menghabiskan waktu di tempat mahal seperti itu.


Tidak masalah.


Tanpa basa-basi, aku langsung menyetujui tawarannya untuk menemaninya berbelanja. Meskipun tawarannya berbeda dari ekspektasiku untuk mengajak bermain futsal bersama, setidaknya ini tidak jauh berbeda. Aku masih diperlukan, seseorang masih membutuhkan pertolonganku, batinku sumringah. Ini kesempatan yang baik, ini peluang yang sesuai untukku. Selagi ada yang bisa aku lakukan, selagi aku mampu untuk membantu, tentu saja jawabanku adalah anggukan ‘ya’.

__ADS_1


Senyum Faisal merekah, langsung menepuk pundakku pelan (yang jauh lebih pelan dibandingkan Atma), sembari berterima kasih dengan tulus. “Makasih ya, Gib,” ucapnya kemudian sambil berjalan menghilang di belokan.


MENCARI aktivitas mengisi waktu, aku pun pergi mengunjungi warung stasiun yang berjarak 10 menit berjalan dari gerbang belakang sekolah. Melakukan aktivitas seperti biasa, benar-benar kembali menjadi Ragib seperti biasanya, menjalani hari-hari yang normal.


“Weh, Gib!? Ayo kita push rank! Cepet!” ajak seorang lelaki dengan rambut licin ke belakangnya.


“Wah? Ayo ayo! Kalian turun lagi ke emas? Kkkk! Hari hari ditipu sama gim. Merah lagi merah lagi. Ninggalin gue sih, jadinya dikutuk selamanya di emas. Kkkk!”


“Ah udahlah. Cepet gabung!” lanjut Remi sambil menyeruput kopi panasnya.


Lihat, kan?


Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sama sekali. Penderitaan hanya terjadi pada satu hari minggu kemarin, dan sekarang semuanya sudah kembali normal kembali.


Ternyata, pikiran-pikiranku tadi pagi tidak ada manfaatnya sama sekali. Hanya prasangka terhadap kejadian yang belum terjadi, bahkan tidak terjadi sama sekali. Yah, ini memang salah satu kelemahanku juga. Tapi, siapa yang tidak, sih? Yang penting, sekarang aku bisa melupakan semuanya, benar-benar kembali kepada keseharian yang tidak terganggu, keseharian yang nyaman bersama teman.


Aku masih diperlukan, seseorang masih membutuhkanku.


Itu sudah cukup, meskipun aku berharap ini bisa terjadi selamanya, sih.


Tidak membuang waktu lebih lama lagi, aku langsung duduk di samping Remi, simpan tas di bawah, untuk kemudian mengeluarkan ponsel dan langsung masuk ke dalam gim kesayangan.


“Si Ragib punya kostum epik!? Itu habis berapa duit?” tanya Remi.


“Lah, iya? Kok bisa? Ini kan kostum baru? Ngepet ya, lo?” ucap yang lain dengki.


“Kkkk. Ngiri ya? Limited edition, nih. Gak semua orang punya!”


“Halah, untuk apa punya skin? Yang penting itu skill. Percuma kostum epik juga kalau masih jadi beban. Buang-buang duit aja lo beli kostum keren-keren. Mending beliin makanan biar dimakan bareng, kan?”


“Kkkk. Basi banget kodenya. Santai santai. Bu, beli gorengan 20 ribu, ya!”


Tanpa ada jawaban kecuali anggukan dari ibu penjual yang masih mengenakan daster, kami pun kembali menunggu match dimulai. Beruntung, ada sisa-sisa makanan yang masih bisa kita makan sebelum yang baru datang.


“Oh iya, gue liat kemarin lo jalan sama cewe. Itu siapa, Gib?” sembur Remi.


“Hah? Jalan sama cewek?” tanyaku bingung.


“Gak usah ngelak. Gue kemaren liat lo main ke Permata Indah, kan? Persis kemaren minggu. Tumben-tumben juga lo jalan sama cewek. Ada yang mau sama lo? Kakakaka!”


“Gak mungkin ada yang mau sama si Ragib! Biasa… dia pasti pake pelet. Atau mata si cewek lagi picek aja pasti. Ahahaha!”


“Akhirnya ada yang bisa lo capai juga, ya.”


“Ah, yang bener?”


“Nah, kan. Udah gue jamin itu bukan cewek si Ragib.”


“Kkkk. Segitunya banget, ya? Kemaren itu udah janji—”


“Udah gak penting. Itu tower bawah diserang, woi! Bantu bantu!” potong Jojo, seorang yang matanya sipit itu.


“Tahan tahan! Ayo lawan balik!”


Meninggalkan topik yang justru dimulai oleh mereka sendiri, memotong ceritaku yang sebenarnya tidak penting juga, kami pun kembali fokus memainkan gim berusaha untuk memenangkan match tanpa mesti kalah melulu. “Aduh si Ragib mati lagi,” protes Remi memukul jidatnya.


Beruntung, kita berhasil memenangkan match pertama dengan cukup baik. Dengan hidangan yang juga sudah hadir, suasana hati pun langsung berubah menjadi positif, siap untuk menghabiskan waktu hingga tengah malam bermain gim saja. Tidak lupa, kami pun meminta colokan terminal kepada ibu penjaga warung untuk menjaga baterai ponsel dalam kondisi prima. Sehingga, kami dapat menghabiskan waktu bermain dengan nyaman, aku secara khusus pun dapat menikmati semuanya dengan tenang.


Sayangnya, terdapat keterbatasan durasi bagi kami untuk menghabiskan waktu sepuasnya. Ini tidak terjadi seperti biasanya, karena bukan ada yang mengundurkan diri, bukan juga ada yang berhalangan.


“RAGIB! LAGI APA, SIH!?” terdengar amukan seperti terompet sangkakala, membuat seluruh orang (yang bahkan tidak memiliki nama Ragib) ikut kaget dan menghentikan aktivitasnya.


Ternyata, tengah turun seorang gadis yang perawakannya langsing dan ramping, dengan rambut hitam diikat seperti ekor kuda, telinga yang kecil dan lancip, dari mobil SUV hitam yang terpakir dengan gagah diantara banyak motor bebek. Terlihat jomplang dan ketara perbedaan yang dihasilkan oleh pemandangan unik ini, meskipun sebenarnya tidak ada yang membanding-bandingkannya juga.


Seluruh orang termasuk diriku sendiri menelan ludah, mengamati jalannya gadis ini yang memberikan aura penuh waspada (dan melupakan atau pura-pura lupa dengan kecerbohannya hampir terpeleset jatuh saat hendak turun dari tangga mobil).


“Kenapa di sini!? Pulang. Bahas lomba!” lanjut sang gadis yang berhenti tepat di hadapanku.


Berdiri berkacak pinggang, dengan alis tegas tanda marah, semua orang tidak siap untuk menjawab kecuali masih membatu dengan bulu kuduk yang berdiri, seperti baru saja melihat hantu. Tidak. Bukan hantu.


Ini adalah musuh semua orang yang lebih nyata.


Gadis yang datang marah-marah ini terlihat seperti seorang ibu-ibu yang datang memergoki anaknya yang bandel dan selalu bermain, meski sudah ratusan kali diminta untuk menjaga rumah. Tinggal menunggu jeweran dan paksaan untuk pulang, semuanya ikut menelan ludah berusaha untuk siap-siap melindungi diri.


Untung saja bukan aku yang kena marah, batin semua orang (mungkin).


“Hah? Memangnya kenapa kalau aku disini? Kamu juga kenapa marah-marah, sih?” tanyaku heran sambil mengernyitkan alis


“Pulang! Sekarang! Bahas lomba!” lanjut Suci singkat.


“Itu kan lomba kamu. Kamu yang pengen ikut? Ya silakan saja urusi sendiri. Aku kan sudah ikut ke pameran kemarin. Kita udah selesai, kan?”

__ADS_1


“Gak! Ragib bantuin Suci. Harus berdua!”


“Ada Nila, kan? Kenapa harus sama aku? Lagipula—” belum sudah kuselesaikan jawabanku, tanganku ditarik oleh gadis ini dengan kasar.


“Pulang!” paksa Suci tidak ingin mengalah


Beruntung, Suci bukan murid yang cukup atletis. Meskipun dia memaksaku sekalipun, itu hanya menyerang kesadaranku saja. Hanya tersentak sebentar, sisanya aku bisa kembali mengendalikan tubuh dengan maksimal. Kutolak tarikan dan genggaman Suci yang tidak berbeda dengan cengkraman anak kecil, yang membuatnya justru sedikit terhempas terjungkal.


“Pulang saja sendiri,” jawabku tidak peduli. “Ayo lanjut main,” sahutku kepada Remi dan yang lain sembari duduk tegak membelakangi Suci.


Sayangnya, tidak ada yang menjawab ajakanku, kecuali tatapan jijik dan benci seperti melihat kotoran di tengah jalan. Bingung dan penasaran, aku balik badan lagi untuk melihat Suci yang sekarang terjatuh kotor dan penuh debu.


Tidak ada hal lain disana.


Hanya pemandangan seorang gadis SMA yang terjatuh dan tersungkur.


Namun, orang-orang menatapku seakan-akan akulah pelakunya, akulah yang harus disalahkan, karena telah menodai gadis cantik nan menawan ini.


Merasa ini waktunya menjadi pahlawan, seorang lelaki yang lebih dewasa mengenakan pakaian serba jeans mendekati Suci yang tersungkur untuk membantunya. Naas, niatnya itu ditolak mentah-mentah, bahkan tidak dihiraukan sedikitpun. Seperti lalat yang hanya berlalu lalang, Suci tidak terlalu peduli dengan sekitar kecuali satu tujuannya.


Suci sudah bertransformasi lagi menjadi kepribadian ‘A’?


Kembali berdiri dengan tegak, menyeka seragamnya sebentar, tangannya kembali menarikku tidak menyerah. Suci terlihat seperti sedang membuka pintu macet secara paksa, seperti sedang menarik pedang excalibur yang tertanam mantap pada batu.


Suci terus berusaha menarik paksa dengan marah dan kesal, juga sedikit geram dan mengerang. Tidak lagi seperti ibu-ibu yang menarik pulang anaknya, apalagi seperti perempuan yang memergoki pacarnya berselingkuh dan mengajaknya pulang.


Ini sudah merupakan penampakan yang berbeda.


Seperti dua sumbu magnet yang sama, namun dipaksa bersatu oleh keisengan dan keingintahuan anak kecil. Mereka pasti saling tolak menolak, seperti keinginanku dan Suci yang tidak akan pernah menemukan titik temu. Suci bersikukuh menarikku ‘pulang’ pada rumah yang isinya hanya bentakkan dan hinaan, dan aku yang bersikukuh untuk tetap hidup dengan damai dan nyaman bersama teman, meskipun sekadar menghabiskan waktu tidak berarti sampai mati.


“Kayaknya kalau masih terus gini, orang-orang bakal ketinggalan kereta deh,” sebut Remi memecah keheningan. “Ganggu orang, Gib. Kakakakak!”


“Udalah, Gib. Ikutin aja. Gak malu diliatin orang-orang?”


“Jangan bikin masalah, lah. Kita udah nyaman nongkrong disini. Jangan sampe lo yang punya masalah kita yang kena batunya.”


“Eh, tapi… gue kan,” kepalaku menoleh kiri dan kanan mencari pertolongan.


“Udah, udah. Pergi aja lo. Gak enak sama orang-orang.”


“Mumpung ada yang mau nampung lo, Gib. Masa mau tidur di jalanan lagi? Kakakakak!”


“…iyasih. Yasudah,” ucapku mengalah menuruti kemauan Remi dan yang lain. Aku tidak lagi duduk tegak menolak, siap pergi mengikuti Suci untuk pulang (ke rumahnya).


Aku pikir bisa memutuskan hubungan dengan Suci selamanya.


Kenapa harus terpaksa terikat lagi?


“Gue tunggu di peringkat berlian, ya! Emas cuman untuk kaum lemah. Kkkk.”


“Asalkan lo gak mati mulu, Gib.”


“Kakaka! Jangan ngimpi terus, Gib!”


\~\~\~\~\~\~\~\~


Baru aja weekend yang berdarah-darah beres.


Baru aja Ragib bisa balik jadi normal sedia kala.


Baru aja semuanya kembali normal.


Tapi Suci masih keras kepala datang (dan gangguin) Ragib?


WKWKWKWKKW


Selamat datang lagi, teman-teman!


Kalau kalian punya temen kayak Suci gini kalian bakal gimana, nih?


Masalahnya meskipun udah menghindar dia tetep aja ngikutin kita.


Eh…


Suci udah termasuk stalker bukan, sih?



Btw …


See you next time ;)

__ADS_1


Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!


__ADS_2