
MALAM ini, aku tidak menginap di rumah Suci lagi. Selain tidak ingin menimbulkan masalah lebih besar kepada gadis berkacamata yang mendesis ini, aku memang merasa tidak nyaman dan sungkan jika harus merepotkan keluarganya lagi.
Atau mungkin karena hati kecilku yang juga menolak?
Tidak ingin mengingat masa lalu, tidak ingin mendapatkan kehangatan yang membicarakan masa lalu, karena masa lalu tidak bisa lagi terulang.
Semuanya berubah, semuanya tidak lagi sama.
Apalagi karena mesin waktu tidak bisa pergi ke masa lalu.
Meskipun Mama Suci bersikeras, aku tetap memaksa untuk menolaknya. Tapi, kami sama-sama keras kepala, sampai pada akhirnya muncul kesepakatan bahwa aku akan diantar oleh sopir pribadi keluarga Suci. “Baiklah kalau begitu. Saya berterima kasih banyak, Tante. Saya pulang dulu,” pamitku menunduk sembari menutup pintu ruang tamu.
“Hati-hati di jalan ya, sayang,” sahut Mama Suci dengan kecupan selamat tinggal.
Meninggalkan Mama Suci, gadis dengan telinga kecil lancip, dan gadis berkacamata yang mendesis, aku pun mulai turun dari teras menuju carport, membuka pintu mobil hitam SUV setelah bercakap sebentar dengan sopirnya, kemudian duduk dan mempersilakan sang pengemudi untuk memulai perjalanannya.
“Bapak sudah menyetir mobil berapa lama? Nyaman sekali rasanya disetir oleh Bapak. Jangan-jangan punya kemampuan rahasia, ya? Kkkkk,” celotehku basa-basi
“Ah, tidak. Mas Ragib berlebihan. Ini pekerjaan saya, jadi saya sudah terbiasa untuk melakukanya. Hahahah!” tawa sang sopir dengan suara bulat.
Dan dengan begitu, perjalanan yang sebenarnya membutuhkan waktu lebih dari 40 menit bisa aku rasakan kurang dari lima menit saja. Dengan percakapan basa-basi, persepsi waktu pun bisa terasa lebih cepat. Sampai pada akhirnya kami sampai pada rumah yang berantakan penuh sampah dan berdebu hebat, di sudut terlihat beberapa sarang laba-laba, cat tembok yang pudar penuh noda, bahkan dianggap sebagai tempat angker menyeramkan.
Setelah mengucapkan selamat tinggal secara singkat, aku dan sang sopir mobil pun berpisah dengan instan. Aku langsung masuk membuka pintu depan, untuk mendapati lagi ruangan yang gelap tak karuan. Dengan gesit, aku langsung meraih sakelar memberi penerangan pada ruang tamu, lalu ruang tengah, juga kamar tidur. Melewati manekin yang masih memenuhi ruangan, aku buka kulkas untuk mengambil air dingin, meminumnya untuk menghilangkan rasa dahaga dan sedikit kantuk.
Sekarang pukul 11 malam? Pantas saja…
Setelah berganti pakaian di kamar tidur, mengumpulkannya di kresek besar untuk dikirim pada jasa laundry di akhir pekan, aku hanya duduk dengan tatapan kosong di atas kasur. Menatap meja belajar yang masih penuh dengan kertas kosong dan sampah kertas yang bergumpal, pensil, pulpen, penghapus yang berserakan, aku tersenyum kecil menyadari lucunya takdir yang aku alami (setelah sedikit mual pada perut).
Aku selalu disuruh untuk berpisah dengan mereka.
Tapi, pada akhirnya aku tetap tidak bisa. Bukan karena tidak ingin, mereka sendiri yang kembali padaku. Tidak tentang pencarian jati diri, maupun kasus Suci ini.
Aku menatap meja lebih lama, melirik kiri dan kanan, menunggu rasa kantuk menggerayangi dan merasuki tubuh. Kamar ini masih penuh dengan manekin, tapi kali ini aku tidak terlalu butuh mereka. Pulang ke rumah tidak semenakutkan sebelumnya, entahlah karena alasan apa.
Menggeser manekin, aku kosongkan satu bagian kasur untukku tidur dengan nyaman. Kasur di rumah Suci memang lebih empuk dan nikmat dari ini. Tapi, rasanya kasur sederhana ini bisa aku nikmati penuh sukacita. Meskipun ini adalah kasur yang cukup padat dan keras, bantal yang sudah mengempis, tidak ada selimut berendai, aku dapat tidur nyenyak, aku bisa merasakan ketenangan.
Sembari memeluk dan dipeluk, merangkul dan dirangkul oleh manekin sedemikian rupa, aku pun perlahan mulai menyerahkan diri. Perlahan dikonsumsi dengan lembut dan baik hati, juga oleh kehadiran manekin-manekin yang memberikan kehangatan tambahan, imajinasi dan fantasi mulai merasuki pikiranku.
“Selamat datang bunga tidur,” salamku memberikan tos padanya.
MENGINGAT semua kekejian yang dua gadis ini pernah lakukan, aku bukannya ingin melakukan jalan-jalan secara sukarela. Menemani gadis yang membuatku sakit hati karena menghinaku yang tidak bisa mengikuti kejeniusannya, dan gadis satu lagi yang pada dasarnya sangat membenciku sampai ke ubun-ubun. Lidahnya masih mendesis, tangannya siap memberikan serangan taser jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Tidak. Justru serangan taser itulah sesuatu yang tidak aku inginkan.
Tapi, mau bagaimana lagi? Aku sudah terlanjur berjanji, sebelum aku tahu sifat lain dari Suci ini. Aku memang tidak yakin apakah kepribadian ‘C’ ini akan kembali merasukinya, membuat Suci kembali bertransformasi. Tapi, aku tidak benar-benar bisa percaya kepadanya setelah semua yang dia lakukan kemarin.
Itu sesi belajar 15 menit yang serupa seperti neraka 15.000 tahun!
“Jalan-jalan! Suci gak sabar. Suci senang!” teriak gadis dengan mata berbinar dengan tangan ke atas di tengah keramaian. Sekarang, kami sudah berada di komplek mall Permata Indah, salah satu pusat perbelanjaan yang luas dan lengkap, dengan banyak ruko yang menjajakan apapun di sekeliling.
“Haaah… Ini buruk, ini buruk, ini buruk! Mereka semua menyesakkan. Gahhh!” gumam Nila dengan suara rendah dan napas berat. “Serang, serang mereka semua. Lindungi Suci! Suci? Suci! Ini demi Suci! Cowok brengsek! Buaya! Anak setan! Iblis! Anak anjing! Benci! Benci! Benci!” lanjutnya protes dan melakukan sumpah serapah, dengan ekspresi yang ketakutan seperti melihat hantu menyeramkan, seperti kemarin ketika dia membuka pintu kamar Suci.
Tapi, aku bisa lihat dengan jelas bahwa pundaknya gemetar, kakinya tidak bisa diam, keringat dingin pun mulai bercucuran. Ini serupa seperti yang aku rasakan, namun dengan kondisi yang berkebalikan.
Jadi, apakah Nila memang memiliki kondisi khusus terhadap sesuatu?
Kalau memang jalan-jalan ini membuatnya menderita, kenapa harus repot-repot mengikuti kami? Demi melindungi Suci? Atau itu hanya alibi belaka?
Selama di sekolah, Suci dapat hidup dengan baik-baik saja meskipun bentuk perundungan dapat disaksikan dengan nyata. Apakah Nila masih belum bisa mempercayaiku setelah semua yang telah kita lakukan?
Apakah Nila benar-benar keberatan terhadap jalan-jalan ini? Berarti tidak hanya aku pribadi? Kami sama-sama dipaksa oleh keinginan Suci, sama-sama dipaksa untuk melalui tantangan yang berat. Beruntung, aku bisa mengisi energi dengan cukup setelah sesi belajar dengan Nila tiga hari lalu. Selama aku tidak diganggu Suci, aku bisa menjadi diriku kembali. Bermain dengan Remi, membantu apapun di sekolah sebagai serabutan bersama Balkis, kecuali tidak lagi bermain futsal dengan Faisal. Aku sebenarnya sempat bertanya kepadanya. Tapi, lagi-lagi aku ditolak dengan berbagai alasan olehnya.
“Sal, hari ini lo futsal lagi?”
“Aku? Iya. Aku sih rajin futsal. Olahraga, bro! Investasi masa depan. Kamu juga mending jangan sering-sering main ponsel. Bikin penyakit. Orientasi untuk masa depan juga kurang. Kurang-kurangi, deh,” jawab Faisal di parkiran motor samping sekolah yang justru terlihat tengah memainkan ponselnya entahlah sedang apa.
“Wah, gue ikut dong! Lagi pengen main, nih! Kkkk.”
“Eh? Em… gak bisa, Gib. Udah penuh. Kayaknya besok, deh,” tolaknya kemudian.
Yah, mau bagaimana lagi? Mungkin memang anggotanya sudah lengkap, aku pun tidak dibutuhkan lagi. Mungkin lain kali, mungkin ada waktu yang tepat untukku bermain bersama mereka. Apalagi, Faisal terang-terangan berjanji untuk menyisihkan waktunya esok hari untuk mengajakku bermain futsal? Aku masih memiliki harapan, masih memiliki cara untuk menjalin pertemanan lebih erat dengannya.
Sayangnya, ketika esok datang, aku tidak menerima kabar dari Faisal meskipun kita sama-sama memiliki nomor telepon masing-masing. Meskipun ini sabtu, dia tidak akan bolos berolahraga bermain futsal, kan? Mungkin dia sudah lebih dahulu pergi ke tempat futsalnya? Mengingat janjinya kemarin, aku inisiatif saja pergi ke tempat futsal, menyusul mereka dengan harapan untuk bermain futsal lagi, sekaligus memberikan kejutan yang tidak terduga.
Tapi, yang terkejut justru aku sendiri.
Bukan Faisal dan teman-temannya, karena mereka menolaknya mentah-mentah.
“Kenapa kamu ada disini, Gib?”
“Ya… gue pikir bisa main bareng? Kemaren lo bilang hari ini bakal main futsal bareng, kan? Ya gue semangat banget!” jawabku sambil mengangguk-angguk semangat.
__ADS_1
“Hah? Aku kan bilangnya ‘kayaknya’. Kalau kamu gak diajak hari-h, artinya anggotanya masih penuh. Besok itu artinya bisa dua tiga hari ke depan, kan? Biasanya juga selalu aku yang ajak kamu untuk ikut. Bukan gini cara mainnya,” kesal Faisal sambil terengah-engah penuh keringat karena masih berada di dalam sesi bermain futsal.
“Ya, kali-kali gue yang inisiatif duluan, kan? Kkkkk.”
“Gak bisa. Udah dibilang bukan gitu cara mainnya,” tolak Faisal sekali lagi. “Kita main futsal setiap hari bukannya tanpa alasan. Kita punya masa depan yang harus dipersiapkan. Lagipula, di dalam tim harus ada kekompakan dan stabilitas. Kalau orangnya ganti-ganti, kita gak bisa menciptakan itu. Termasuk kamu, Gib,” sambungnya kemudian.
“…”
“Yasudah. Aku masih sibuk. Kalau mau nonton terserah, mau apa aja terserah. Tapi jangan ganggu kami, ya.”
Serupa seperti gelas beling yang Nila jatuhkan kemarin, itulah kondisi perasaanku sekarang ini. Hancur berkeping-keping, terjadi tanpa sadar, secara tiba-tiba, tanpa ada upaya pencegahan yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkannya. Yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah kekehan lain, seperti biasa, untuk menutupi luka sementara. “Kkkk. Sibuk banget, ya? Nanti kalau ada apa-apa bisa hubungi gue, ya. Gue selalu siap, kok!”
Faisal memberi jempol tanda setuju, dengan senyuman yang dipaksakan setelahnya. Perasaanku sedikit membaik, tanda bahwa Faisal masih membutuhkanku, masih ada harapan di masa depan ketika dia akan mengajakku bermain futsal lagi.
“Gitu doang? Yailah, Gib. Lihat, tukang parkir disana dibentak-bentak terus? Biasa aja tuh gue liat-liat? Udahlah, gue bilang juga mending kita main gim ponsel sambil ngopi aja disini,” jawab Remi sambil mengisap rokok ke tiganya untuk sore ini.
“Kkkk. Iya, ya… Untung aja gue udah kejer ranking. Bisa ikut main bareng kalian, nih. Ayo main bareng!”
“Ah, yang bener?”
“Lo naik ranking? Wah, ayo pesta pesta! Akhirnya ini bocah mikir juga. Otaknya akhirnya dipake? Ahahahaha!”
“Pake pelet pasti. Bayar berapa lo, Gib? Nanti juga pasti turun lagi.”
““Ahahahahahaa!””
Beruntung, ketika kembali ke tongkrongan di warung stasiun, aku mendapatkan lagi jati diri dan energi. Kembali bermain bersama, kembali berbicara dan bercengkrama. Mengisi daya energi hingga penuh, mengisi kembali semua kekuatan yang aku butuhkan (terutama setelah habis oleh Suci kemarin).
Aneh juga memang. Aku yang menyukai keramaian dan orang banyak ini harus terkuras energinya oleh satu orang saja.
Sayangnya, apa yang aku rasakan dalam dua hari terakhir sepertinya tidak berlaku untuk Nila? Aku bisa memulai hari dengan semangat membara, sementara Nila hanya bisa berdiri dengan gemetar. Tapi, harus aku akui juga kegigihannya. Dia masih berusaha untuk bertahan, masih berusaha untuk menghadapi rasa takutnya itu. Meskipun aku yakin, itu pasti kegigihan untuk melindungi teman tercintanya dari predator ganas (yaitu aku).
Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, kami sekarang berada di komplek mall Permata Indah, tepatnya berada di jalan setapak di luar gedung yang penuh dengan ruko di kiri kanan. Untuk pameran yang Suci ingin hadiri itu sendiri, berada di lantai dasar dari gedung mall yang berada di tengah-tengah dari wilayah komplek ini.
Bila ditakar, panjang dari wilayah komplek mall ini (gedung, bagian luar gedung, ruko yang berjejer, hingga lahan parkir) membutuhkan waktu setidaknya 15-20 menit berjalan dari satu sisi ke sisi lain, dari gerbang depan menuju gerbang belakang.
“Beli es krim!” pinta Suci memulai, setelah melihat ruko dengan plang merah menyala dengan maskot salju yang lucu. “Suci ingin dingin-dingin!” sambungnya kemudian.
“Ya, ya,” sahutku setengah bersemangat.
Yah, jika aku tidak banyak berpikir tentang ini dan itu, sebenarnya melihat Suci yang polos dan riang gembira seperti anak kecil menyenangkan juga. Kalau dia tidak bertransformasi menjadi kepribadian ‘C’, tidak ada yang perlu dikhawatirkan sama sekali.
Aku melangkah dengan tenang, mengikuti Suci yang berlari-larian tidak sabar membeli es krim, meninggalkan Nila yang mendesis menolak segala bantuan yang aku tawarkan.
PERLU aku ingatkan sekali lagi betapa fokusnya Suci pada suatu hal, sampai dia benar-benar terdistraksi. Jika dia sedang fokus, dia akan melupakan semua hal di sekelilingnya (seperti saat diganggu Gen, atau ketika menggambar laba-laba berekor kemarin). Tapi, jika Suci sudah mulai terdistraksi, dia malah akan sulit untuk kembali lagi fokus pada suatu hal itu.
Mau bagaimana lagi, itu dua kepribadian yang berbeda, kan?
Melupakan pameran, Suci lebih tertarik untuk berjalan kesana-kemari, berlari-larian mengejar ruko atau stand toko yang unik dari satu tempat ke tempat lain. Dimulai dari yang berjualan makanan atau minuman, pergi ke toko pakaian, bahkan aksesoris hadiah, pokoknya apapun itu yang dapat menghiburnya.
“Lihat ini,” ajak Suci saat mengunjungi stand toko yang menjajakan yogurt dingin. Dengan atraksi yang ditampilkan dalam melayani pembelinya, tentunya setiap pelanggan merasa takjub, bahkan hingga tertarik untuk membelinya.
“Tadi kamu baru makan es krim, kan? Apa kamu sudah lupa kalau kepala bahkan sampe sakit? Jangan berlebihan, dong!” saranku pada Suci.
“Tapi Suci mau ini!”
“Kenapa gak yang lain? Masih banyak pilihan, kan? Lagipula, gimana pamerannya? Gimana kalau kita terlambat dan pamerannya keburu tutup? Kamu pergi kesini mau pergi ke pameran atau beli jajanaan, sih?”
“GAK! Suci mau ini! Suci juga beli pake duit Mama, kan? Ragib repot banget! Nila, ayo sini!” paksa Suci mengeluarkan tantrum.
“…,” meskipun Suci mengatakan fakta, entah kenapa aku hanya bisa membatu saja.
“Akhirnya,” ucap Nila pelan. “Minggir!” bentaknya kemudian sambil menghampiri Suci. Nila yang sejak awal seperti ketakutan dan panik, akhirnya bisa sedikit merasa tenang meski dipaksakan. Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah. Sikapnya kepadaku masih memberikan mata yang dingin, ekspresi yang ketus, dengan tindakan yang kasar, merasa semua di sekelilingnya adalah hal yang salah, kecuali Suci. Gadis yang digandengnya ini adalah adalah satu-satunya kebenaran absolut untuk Nila.
Yah, bukannya aku ingin protes juga.
Disini, aku hanya menenami Suci, menepati janji atas apa yang telah disepakati sebelumnya. Sayangnya, semuanya terjadi sebelum aku tahu kepribadian ‘C’ milik Suci.
Aku hanya bisa mengikuti apapun yang ingin Suci lakukan, seperti budak yang hanya bisa menyetujui apa yang tuannya berikan. Tidak pantas untuk memberikan pendapat pribadi, tidak pantas untuk memberi masukan.
Tapi, entah mengapa melihat tingkah Suci yang tidak sesuai umurnya ini membuat hati kecilku ingin memberinya saran atau segala macam. Melarangnya melakukan hal yang berlebihan, menyuruhnya untuk melakukan suatu hal yang menurutku lebih baik. Namun, apa yang aku harapkan? Justru karena tingkahnya yang tidak sesuai umur inilah yang membuat Suci sangat sulit diatur dan diajak bekerjasama.
Aku yakin Nila juga ingin melakukan hal yang serupa, kan?
Atau hanya prasangkaku saja?
Apakah Nila hanya ingin pamer kedekatan dengan Suci, apakah ini karena Nila yang tertekan dengan lingkungan sekitar, entahlah mana motif Nila yang benar. Aku pikir, seharusnya Nila juga ingin memberikan saran pada teman karibnya. Namun, tidak seperti di rumah Suci, kali ini Nila tidak banyak membentak, tidak banyak melakukan apapun, kecuali menjadi serupa sepertiku. Hanya menjadi budaknya Suci, untuk terus menyetujui apapun yang ingin dia lakukan.
Menjilatinya hingga sisi-sisi, tanpa ada sisa-sisa yang terlewatkan, terus berusaha untuk lebih dekat dengan Suci dari apapun di dunia ini. Bahkan, aku pikir Nila akan menjadi orang yang lebih paham tentang Suci daripada Suci sendiri.
Pernah aku mencoba sekali untuk memberikan saran dengan niat baik, yakni saat Suci terus membuang uangnya dan bersifat boros, bersikap konsumtif, membeli apapun atas dasar keinginan dan hasratnya saja untuk menghibur diri.
__ADS_1
Mau bagaimana? Diawali dengan membeli tiga es krim, satu gelas besar minuman dingin yang penuh dengan es (yang tidak habis), kentang goreng spiral (masih tidak habis), hingga aksesoris atau pakaian yang dianggap lucu oleh Suci dan Nila ketika kita mulai memasuki bagian gedung mallnya. Dimulai dari kacamata dengan lensa berbentuk hati, beberapa topi, anting-anting bersinar, lalu sepatu sneakers yang harganya tidak murah, hingga membeli tiket untuk bermain di tempat arcade yang ternyata menghasilkan beberapa boneka binatang berbulu.
Aku sebenarnya terkejut Suci berhasil memenangkan permainan mesin cakar.
Aku pikir mereka adalah penipuan?
Pokoknya, banyak sekali hal-hal tidak penting yang Suci beli dan lakukan, yang pada dasarnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan tujuan utama kita pergi ke komplek mall Permata Indah ini. Yakni pergi ke pameran lukisan, yang entahlah apakah kita masih bisa mengunjunginya atau tidak.
Ini sangat tidak nyaman, keluhku berdeham.
Tidak hanya aku pergi dengan keterpaksaan, sifat Suci yang seenaknya pun membuat segalanya menjadi lebih berantakan.
“Ragib banyak protes. Udah. Cepet kesini!” bentak Suci lainnya di depan rumah hantu. “Suci gak sabar, nih! Ragib lambat banget. Cowok tapi gak berguna! Gimana, sih!?”
“Belanjaan kalian berat, tahu! Lagipula, aku gak mau masuk rumah hantu. Aku tunggu di luar aja.”
“Ragib takut, ya? Hehe-hehe, hehehe. Ayo masuk biar gak takut! Cepet!” tarik Suci pada kedua tanganku—yang sebenarnya tidak membantu sama sekali—untuk mendekati salah satu sisi bagian mall yang menampilkan wahana rumah hantu yang terlihat gelap, penuh aksesoris darah, wewangian bunga melati maupun sedap malam, bahkan ada banyak orang yang berpenampilan seperti hantu dari pocong hingga kuntilanak yang menyambut kami di pintu depannya.
“Silakan, tiket untuk bertiga? Sekaligus menitipkan barang?” tanya seorang wanita dengan suara halus di belakang meja administrasi dengan dandanan pucat penuh luka buatan.
“Bertiga! Bertiga! Masuk rumah hantu! Ya!” teriak Suci antusias sambil berjingkrak-jingkrak dengan satu tangan yang dikait kepadaku.
Setelah menukarkan uang berwarna merah dengan tiga tiket yang digelangkan kepada tangan, lalu kami titipkan barang pada tempat yang telah disediakan (hanya barang bawaan Suci sebenarnya), kami pun langsung disambut masuk pada ruangan gelap dengan beberapa aksen sinar berwarna merah. “Semoga kalian menikmatinya, ya!” ucap sang wanita lembut di belakang meja administrasi sebelum aku tiba-tiba lupa apa yang sebenarnya aku rasakan di dalam wahana rumah hantu ini.
Apakah itu teriakan penuh rasa takut, apakah itu teriakan bahagia, aku hampir tidak bisa membedakannya. Yang pasti, Suci benar-benar menikmatinya.
“He-hehe-hehehe, HEHEHEH!” kekehnya seperti baru saja mendengarkan lelucon pertunjukkan stand up comedy begitu kami mengibas kain hitam di pintu keluar. Kami akhirnya kembali ke kenyataan, kembali ke mall yang penuh dengan orang-orang dan penerangan maksimal, tidak ada lagi kesendirian dan ruangan gelap remang-remang berwarna merah dengan hantu di kiri-kanan.
“Hah-hah, hah, hah!” berbalikan dengan Suci, aku justru keluar dengan penuh keringat, terutama keringat dingin, dengan perasaan yang teramat sangat lega.
Aku lihat ke samping, rupanya gadis berkacamata yang menarik bajuku dengan enggan pun sama-sama memberikan perasaan lega. Setelah sadar bahwa dia sudah keluar dan kembali ke kenyataan, tarikannya pada bajuku dilepaskan, kembali mendesis, kembali menggenggam Suci.
Apakah ini sebuah kemajuan? pikirku menyadari bahwa aku dan Nila memiliki satu kesamaan lain, yakni untuk menolak Suci yang ingin kembali memasuki rumah hantu lagi.
Tidak, deh. Aku tidak ingin lagi.
Aku tidak ingin lagi merasa tersesat, berputar-putar mencari jalan keluar, dan selalu kembali ke jalan pertama. Kebingungan mengapa aku seperti ada di hutan belantara, padahal aku yakin masih berada di dalam gedung mall yang modern. Dengan suara-suara teriakan atau tangisan bayi, ada juga tawa-tawa tidak nyaman terdengar di seluruh penjuru, hingga suasana dingin mencekam menusuk kulit.
Ada juga banyak kejadian yang membuat suasana semakin mencekam seperti dilempari oleh bunga atau daun yang disengaja, disentuh dari belakang oleh sesuatu entahlah apa, kaki yang digenggam oleh tangan dari balik semak, terbentur tak sengaja oleh perangkap yang digantung seperti pocong, merasa diikuti oleh sesuatu karena memang seorang hantu mengikuti kita dari belakang, kehadiran boneka menyeramkan yang berdiam diri di pojokan, atau kejutan dari boneka lain yang muncul secara tiba-tiba.
“Kalian lemah! Gak mau lagi? Ayo!”
“Gak. Makasih.”
“Ayo, dong! Suci bayarin, nih! Gim-” sebelum Suci bisa berceloteh lebih lanjut untuk membujuk dan mengajak memasuki wahana rumah hantu lagi, lebih dahulu Nila menarik tangannya untuk pergi menjauh dari wilayah perhantuan ini lagi.
Kerja bagus, Nila!
Beruntung, Nila mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan di wahana rumah hantu ini. Sehingga dia bisa menolak Suci, mengajaknya untuk pergi ke tempat lain. Karena sahabatnya yang memaksa, Suci pun tidak bisa protes atau mengeluarkan tantrum yang terlalu hebat.
Mengambil barang bawaan Suci yang dititipkan tadi, aku pun langsung mengikuti kedua gadis sadis ini dengan sedikit antusias.
Apalagi karena mengetahui keinginan Nila yang menginginkan ini semua berakhir secepatnya. Kami pergi ke lantai dasar, pergi mengunjungi tujuan awal dari acara jalan-jalan ini, yakni pergi ke pameran lukisan yang berada di tengah-tengah mall di tempat terbuka (yang ternyata tidak mewajibkan pengunjung untuk membayar atau mendaftar terlebih dahulu jika ingin melihat dan menikmatinya).
Akhirnya perhatian Suci bisa teralihkan, bisa kembali bertransformasi menjadi kepribadian ‘A’ yang bisa sangat fokus hingga melupakan segala hal di sekelilingnya. Bahkan, ketika aku melihatnya dari samping, aku bisa melihat dengan jelas bahwa mata suci kembali bersinar seperti saat aku pertama kali bertemu dengannya. Tidak hanya fokusnya yang kembali, gerakan kepalanya pun kembali menjadi cepat seperti leher hewan yang melihat mangsa di sekitarnya.
Padahal, Suci tidak berkata satu patah pun, mulutnya tidak bergerak kecuali terbuka sedikit menunjukkan rasa kagum. Tapi, rasanya aku bisa mendengar Suci sedang berkata kepadaku dengan matanya yang penuh bintang, “Ini menakjubkan.”
\~\~\~\~\~\~\~\~
Akhirnya mimpi buruk Ragib kejadian juga
Ragib dan Suci beneran jalan-jalan WKWKWKWK
Bareng Nila tentunya yekan dan bisa diliat betapa merepotkannya jalan-jalan ini ...
Selamat datang lagi, teman-teman!
Gimana jadinya kalau Suci beneran masuk rumah hantu lagi ya?
Gimana jadinya kalau jalan-jalan ini beneran dikendaliin sama Suci?
WKWKWKKWKWKWK
Untung aja Suci balik jadi fokus lagi.
Tapi, apa ini sebuah kabar baik? hmmmmmmm
Btw …
See you next time ;)
__ADS_1
Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!