
SAMPAI beberapa hari selanjutnya, aku benar-benar kembali menjalani rutinitas kehidupan yang normal, seperti sedia kala. Terlambat bangun di tempat Remi karena alarm yang tidak becus, mandi hanya dengan satu atau dua gayung saja, pergi ke sekolah dengan berlari terbirit-birit seperti dikejar anjing, menyusup ke parkiran motor karena gerbang depan yang sudah ditutup, hingga mengendap-endap memasuki kantin dan bersekongkol dengan para pegawai disana.
Kalau tidak sial, bisa juga mengendap ke kamar mandi agar benar-benar terlihat seperti murid yang memang hadir secara resmi meski meninggalkan sesi doa pagi.
Teknik dan cara yang cukup menegangkan, namun terbukti aman dari hukuman. Tidak perlu mengikuti embel-embel olahraga pagi dari pihak kedisiplinan yang sebenarnya melakukan perundungan. Tidak perlu melakukan squat atau push up di tengah lapang upacara bersama murid-murid yang tertangkap terlambat.
Selanjutnya, setelah melakukan sesi doa pagi yang hampir selesai (dan berharap bahwa jam pertama merupakan jam kosong dan guru tidak datang), kegiatan mulai dilakukan sesuai kebutuhan. Ada yang mengerjakan tugas dan pekerjaan rumah bersama-sama, ada yang bergosip membicarakan kakak kelas, atau ada juga yang membicarakan dunia pribadi mereka masing-masing.
Aku pribadi? Tentu saja mengeluarkan sarapan.
Setelah membeli gorengan, nasi kuning, atau apapun yang sudah disediakan oleh petugas kantin—mungkin juga dari orang tua Atma—yang mudah untuk dibawa, aku pun mulai membukanya untuk menyantapnya diam-diam.
Tidak.
Sebenarnya, meskipun ada guru pun aku pasti akan mencuri-curi waktu untuk memakan sarapan ini. Tidak lupa, membujuk teman sebangku dengan satu suap atau mungkin minuman dingin agar tidak mengadu dan melaporkannya kepada guru.
Masalahnya, aku tidak bisa menghancurkan citraku di hadapan para guru lagi. Dengan ancaman bahwa aku akan ditendang dari sekolah, itu artinya para guru sudah hampir menyerah kepadaku. Sulit untuk berdalih, sulit untuk mendapatkan nilai kasih sayang lagi.
Tapi, rasanya kali ini semuanya akan berjalan lancar.
Tidak perlu tinggal kelas lagi, tidak perlu memaksa untuk naik kelas namun dengan bayaran bahwa aku akan ditendang dari sekolah.
Masalah dari Pak Doktor dan Pak Prima bisa terselesaikan, masa depan terbuka lebar.
“Jangan lupa langsung pulang ke rumah, ya. Jangan main-main ke mall gak jelas kalau masih pake seragam sekolah. Jangan membuat nama sekolah jadi buruk,” pamit seorang guru di penghujung waktu sekolah.
Akhirnya, waktu menjadi tahanan penjara berakhir, kami pun berhasil untuk menghirup udara segar lagi. Berhasil menyelesaikan proses pembelajaran yang tidak bisa dibedakan dengan cerita pengantar tidur, bisa menyelesaikan semua hal merepotkan yang merupakan bagian dari program cuci otak dari pemerintah.
Rasanya aku mulai paham yang Remi katakan kemarin, batinku.
Pada saat yang bebas ini, ada beberapa hal yang bisa aku lakukan untuk menghabiskan waktu. Mungkin di kantin atau lapangan belakang tempat Atma (sekarang dengan Gatra) menjajakan dagangan orang tuanya, mungkin berharap Faisal mengajak bermain futsal lagi, mengikuti sesi belajar yang diadakan oleh OSIS bersama Balkis, bekerja serabutan disuruh-suruh oleh guru membantu memindahkan dokumen, membantu petugas kebersihan membersihkan kelas, melakukan apapun itu dengan tidak lupa untuk mengakhirinya dengan pergi ke warung stasiun untuk bermain bersama Remi dan teman-teman yang lain (dan juga ikut menginap di indekos Remi atau siapapun yang bisa aku pinta atau pelas dengan jajanan).
Keseharian sekolah yang menyenangkan.
Keseharian sekolah tanpa gangguan ataupun masalah.
Semuanya terjadi dengan lancar, hingga akhir pekan pun datang, saatnya menepati janji bersama Faisal. Sebenarnya, tidak ada hal signifikan yang terjadi. Aku hanya datang sedikit terlalu cepat, prosesi belanja itu sendiri yang cukup sederhana, hingga diakhiri di tengah hari karena Faisal yang ternyata ada janji lain.
“Kamu memang selalu bisa diandalkan. Aku duluan, ya! Nanti kalau mau minta bantu lagi kamu pasti siap, kan? Hahahah! Makasih sekali lagi traktirannya, ya!” tawa Faisal sembari pergi perlahan dan melambaikan tangan.
“Tenang! Gue pasti selalu siap bantu siapapun, kok! Kkkkkkk!” tawaku puas.
__ADS_1
SAMPAI terjadi sebuah kejadian yang tidak kusangka pada waktu pulang sekolah, sebuah pengecualian yang tidak kukira dan kuduga, padahal aku pikir semuanya akan menjadi hari-hari yang biasa-biasa saja. Ketika aku berencana untuk bercengkrama dengan Atma membahas satu dua hal, mungkin membantu petugas kantin atau petugas kebersihan, mungkin juga disuruh-suruh oleh guru membantu apapun itu, mungkin bertanya kepada Faisal kapan kita bisa futsal lagi, mungkin akan diakhiri lagi menghabiskan waktu bersama Remi untuk bermain.
Kenapa harus hari ini? pikirku heran
Ada apa dengan hari rabu? Apanya yang spesial dari hari rabu?
Kenapa dia menghadapku lagi?
Meskipun sejujurnya, ada sedikit senang di hati kecil begitu melihatnya lagi.
Sebenarnya, aku bisa dengan mudah untuk mencarinya di sekolah, karena dia memang murid resmi sekolah ini. Tapi, mungkin karena alam bawah sadarku yang menolaknya, mungkin karena takdir sedang tidak berpihak pada kita, atau mungkin juga karena memang pada dasarnya gadis ini tidak masuk sekolah, dalam tiga minggu terakhir, ini pertama kalinya aku bertemu lagi dengan Suci. Gadis yang memiliki tubuh langsing ramping, dengan buah dada yang cukup tepos dan datar (aku mengutuk diriku sendiri selalu memperhatikan ini lagi), dengan rambut hitam legam diikat seperti ekor kuda, dengan telinganya yang lancip dan kecil.
Sebenarnya, gadis ini menunduk tidak berani menunjukkan wajahnya.
Namun, aku yakin betul identitas dari gadis yang menghalani jalanku ini.
“Apa yang kamu lakukan disini?” ucapku heran sambil mengernyitkan alis.
Aku tahu pertanyaanku hanya terdiri dari kata-kata yang keluar setengah hati, pun suara yang seperti sedang berbisik. Mau bagaimana lagi? Ini merupakan pertanyaan yang benar-benar tulus dari dalam hatiku, benar-benar penasaran apa yang gadis ini lakukan. Masalahnya, kita bukannya berpapasan tidak sengaja di pertigaan koridor atau semacamnya. Suci dengan sengaja mencuri perhatianku, memotong jalanku yang ingin menjalani hari-hari yang normal, seperti ingin mengabari sesuatu.
Meski begitu, pertanyaanku masih tidak digubris oleh Suci. Dia hanya diam seribu kata, bahkan sepertinya tidak berencana untuk mengangkat kepalanya? Masih egois untuk menundukkan kepalanya, tidak ada niatan untuk mengutarakan maksud dan tujuan dari aksinya ini.
Sebenarnya, aku masih penasaran dan sedikit berharap, terlepas dari hatiku yang mulai kesal dan ingin bodo amat merasa tidak peduli. Sayangnya, harga diriku menolak untuk luluh. “Tck,” decakku sambil berencana untuk meninggalkan gadis ini.
“...?”
“Ehm, i-ini. Kas-ih? Biskuit. Ragib,” lanjutnya terbata-bata tidak tertata.
“Hah? Aku gak ngerti? Aku gak punya apa-apa. Aku gak punya biskuit. Kamu ingin minta belikan biskuit?”
“Bukan. Tidak. Maaf. Biskuit. Ini biskuit kasih ke Ragib,” sebutnya masih lirih namun kali ini dengan lebih lengkap. Tanganku mulai dilepas, dan tangannya satu lagi yang sejak awal disembunyikan di belakang tubuhnya mulai menunjukkan sesuatu. “Suci minta maaf. Ke Ragib. Maaf. Ini biskuit… untuk Ragib,” tambahnya sembari memberikan gestur yang cukup lucu namun kaku, sambil memberikan sebuah wadah transparan yang berisi biskuit coklat dengan kedua tangannya.
Aku menatap Suci penasaran, lalu menatap biskuit diantara kami, lalu balik menatap Suci lagi dengan bingung. Nyatanya, ketika aku perhatikan, wajah Suci merah seperti sedang menahan malu. Kepalanya menoleh ke samping, berusaha untuk tidak melakukan kontak mata denganku.
“Untukku? Te-terima kasih,” jawabku canggung. Aku ambil wadah plastik transparan yang terisi delapan biskuit kering lingkaran dengan taburan chocochips tersebut, berusaha untuk menyelesaikan dan pergi dari momen yang sama-sama membuat kami saling merasa canggung dan tidak nyaman ini.
Tunggu. Apa itu?
Tangan Suci kenapa?
Ketika aku mengambil wadah dari Suci—mungkin karena tertutupi oleh wadah biskuit ini, atau mungkin karena aku yang sedang tidak fokus—terlihat banyak plester yang menutupi jari-jari Suci disana-sini.
__ADS_1
Ini malah membuatku merasa tidak enak, nih, batinku merasa sungkan dan bersalah.
“Ehe, hehe-hehe, hehehe,” kekeh Suci selanjutnya sambil menarik kedua tangannya untuk kembali disembunyikan di belakang tubuhnya. “Ragib terima maaf Suci?”
“Maaf? Terima terima saja. Tapi, kenapa? Aku yang harusnya minta maaf, kan?”
“Hehe-hehe! Ragib terima maaf! Kita berteman lagi? Teman?”
“Teman? Bo-boleh saja.”
“Hehe-hehe, hehehe,” kekeh Suci seperti sedang pamer. “Sekarang, ayo pulang!”
“Pulang? Ke rumah kamu? Tung—” sebelum aku berhasil untuk menyelesaikan kata-kataku, seperti biasa, Suci menarik tangan dengan cekatan. Suci kembali mengajakku untuk pergi, dengan pola yang serupa seperti pertama kali bertemu. Pergi ke ruangan satpam, menyeberang jalan dengan sembarangan, pergi menunggu mobil angkutan kota berwarna hijau dengan dua garis putih, Suci kembali menikmati angin perjalanan, lalu hampir terjatuh lagi saat turun tangga dari mobil angkutan kota, hingga pada akhirnya kembali ke rumah mewah tiga lantai ini lagi.
Seperti biasa, Suci masih memaksa, masih membawaku tanpa izin lagi.
Tidak bertanya terlebih dahulu apakah aku ingin mengunjungi rumahnya, melainkan langsung menyuruhku untuk pulang ke rumahnya lagi.
Tapi, rasanya kali ini aku tidak ingin untuk protes, bahkan memarahinya.
Bahkan, aku merasa tidak perlu untuk marah lagi.
\~\~\~\~\~\~\~\~
Semuanya kembali normal sihhhhh
Tapi tiba-tiba Suci dateng dan minta maaf?
BAHKAN NGASIH HADIAH BISKUIT?
Selamat datang lagi, teman-teman!
Meskipun udah minta maaf, tapi Suci masih suka maksa aja ya
WWKKWKWKWK
Tapi, kayaknya Ragib justru sekarang mulai suka?
Cieee ada yang kangen
Btw …
__ADS_1
See you next time ;)
Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!