
SEKOLAH kembali normal, aku bersekolah dengan normal, kembali seperti sedia kala (meski tentu bukan kembali ke titik nol). Kembali seperti tidak ada masalah sama sekali, aku bisa melupakan perjalanan minggu kemarin yang merepotkan.
Tidak terjadi apa-apa, tidak ada yang terjadi, aku tidak bertemu siapapun, bahkan peringatan dari guru pun bisa aku hiraukan. Tidak perlu khawatir terhadap kuis atau ulangan yang datang, masih ada waktu untuk belajar dan tampil tidak mengecewakan pada penilaian tengah semester, pun pada penilaian akhir semester. Aku masih bisa memenuhi batas minimum pelajaran wajib, tidak perlu khawatir akan pemindahan sekolah yang menyeramkan. Masih bisa bertemu teman, masih bisa bermain dengan teman, masih bisa berteman.
Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Semuanya baik-baik saja.
“Masih ada teman, tidak perlu kesepian lagi,” ucapku di depan cermin, dengan helaan napas panjang. “Semuanya kembali normal, ini hanya hari lain untuk masuk sekolah. Masih bisa membantu Balkis dan OSIS, masih ada janji dengan Faisal di akhir pekan, ada Remi juga yang selalu bermain dan menghabiskan waktu di warung stasiun. Bahkan, ada turnamen yang mungkin bisa aku lakukan bersama Remi? Pokoknya masih banyak aktivitas yang bisa aku lakukan, mungkin aku pun bisa sembari mencari seorang teman yang bisa membantu belajar? Ya. Bisa. Semuanya bisa diatur. Semuanya baik-baik saja.”
Menutup mata, aku kembali menghela napas panjang.
Berusaha mengatur ulang pernapasan, berusaha untuk mengatur ulang perasaan. Refleks, aku menoleh pada jam dinding. “Ah, aku harus berangkat,” ucapku dengan lebih tenang.
Dengan fakta bahwa hari ini diadakan kuis susulan Pak Prima, aku pun langsung menyendiri di sudut ruangan, terpisah dari murid lain yang sibuk dan fokus pada sesi pembelajaran. Dengan persiapan yang lebih matang, dengan tubuh yang lebih bugar, serta tanpa mimpi buruk di malam harinya, aku bisa mengerjakan kuis ini dengan lancar.
Tidak lupa, ada peran Nila (bukan Suci) yang membantuku merangkum pembelajaran kelas 11 menjadi satu sesi ceramah saja. Meskipun Nila memang membenciku dari hati terdalamnya, sesi belajar pun dilakukan dengan jarak jauh dari ujung ke ujung ruangan, trik dan sarannya untuk mencari jalan pintas dari sebuah permasalahan benar-benar membekas pada pikiran.
Meskipun sebenarnya, ini memang kelas 11 keduaku yang membantuku lebih paham terhadap penjelasan Nila.
Mau bagaimana lagi? Pelajaran sekolah sama sekali tidak penting.
Karena tidak diaplikasikan ke dunia nyata, pelajaran-pelajaran itu mudah dilupakan oleh kita, kan? Jadi untuk apa sejak awal kita mempelajarinya?
Beruntung, meskipun secara harfiah aku dijauhi teman sekelas (karena sedang fokus mengerjakan kuis susulan), serangan panik tidak menggerogoti tenggorokanku lagi. Mungkin karena pikiranku fokus untuk mengerjakan soal? Bisa jadi. Yang penting, semuanya berjalan lancar. Tidak ada lagi drama yang membahasku akan jatuh ambruk lagi, tidak ada gosip dari teman sekelas membicarakanku tentang apapun lagi, proses pembelajaran dari Pak Prima pun berjalan dengan semestinya (meskipun kami tetap berharap ada jam kosong, sih).
“Jangan lupa pekerjaan rumahnya dikerjakan,” ucap Pak Prima menutup pelajaran sembari menyusun buku dan dokumen. “Ragib, bantu bawa, ya.”
“Eh? Siap, pak! Laksanakan!” hormatku dengan percaya diri karena kuis berhasil diselesaikan dengan baik. Tidak lupa senyum yang besar, juga dada yang dibusungkan.
“Eh, Gib. Nanti sekalian ke kanting, dong!” bisik Julian teman sebangku.
“Ah, iya setuju. Bisa kali mengkol mengkol dikit?”
“Hm…? Kalian emang gak sarapan? Kasian amat udah laper lagi. Kkkk!” kekehku dengan nada rendah juga “Mau beli apaan?”
“Nasi kuning atau mi goreng aja.”
“Mana bisa buset. Gorengan aja yang praktis!”
“Ragib? Ayo,” ajak Pak Prima memecah bisik-bisik singkat ini sambil berdiri canggung di depan kelas.
“Siap, pak! Kkkk!” jawabku langsung berdiri gesit dan berlari menuju meja guru, mengambil berbagai buku siswa dan kertas lain di atasnya. Berjalan menyusul Pak Prima melewati papan tulis, aku menoleh kepada Julian berusaha berkomunikasi dengan saling memberikan gestur kepala dan kedipan mata. Saling memberikan kode satu sama lain, saling berkomunikasi tentang keputusan yang harus dibuat sebelum aku praktis meninggalkan kelas.
“Gimana? Jadi, kan?” tanyaku tanpa suara, kecuali gestur kepala saja.
Mereka pun menjawab dengan gerakan dan gestur lain, dimulai dari gerakan tangan seperti jentikkan jari seperti simbol uang, lalu tangan yang menunjuk-nunjukku, ada juga anggukan kepala sebagai tanda setuju, hingga tidak lupa sebuah kedipan mata sebelah yang memintaku untuk membuat aksi ini tidak diketahui oleh siapapun. Mungkin, translasinya akan menjadi seperti ‘iya beli aja, Gib. Tapi uangnya dari lo dulu, ya.’
Dengan anggukanku yang paham sepenuhnya, aku pun praktis melewati pintu kelas untuk keluar sambil diiringi tawa tanpa suara.
Sadar bahwa aku cukup tertinggal oleh Pak Prima, aku mulai berjingkrak berlari kecil untuk menyusulnya. Berjalan santai melewati koridor sekolah, hingga akhirnya kembali lagi ke ruangan favoritku, sebuah ruangan yang berada di tengah gedung utama yang menghadap ke lapangan upacara. Dengan banyak ventilasi dan kipas angin, inilah ruang tempat para guru bergosip dan mengeluh tentang hari-harinya bekerja.
Tapi, karena ini masih jam belajar dan ada kewajiban yang harus dilaksanakan, ruang guru tampak kosong tanpa penghuni. Ada beberapa sebenarnya, tapi itu hanya hitungan jari saja. Beberapa ada yang menatapku penasaran siapa yang datang, beberapa ada yang menyambutku dengan tertawa kecil saja.
Daripada tidak ditanggapi sama sekali, ini masih baik-baik saja rasanya.
“Ada apa Pak Prima? Ragib berulah lagi? Haha. Semangat, ya!”
“Hem,” deham Pak Prima dengan nada sedikit tinggi seperti tertawa. Setelahnya, kami tetap berjalan pelan, hingga akhirnya sampai di meja Pak Prima untuk langsung menyimpan buku dan lembaran soal. Awalnya, aku langsung ingin pamitan saja. Namun, Pak Prima rupanya masih membutuhkan kehadiranku. Dia memanggilku singkat, sebagai tanda praktis untuk melarangku pergi kemana-mana terlebih dahulu.
Aku dipersilakan duduk menggunakan kursi sebelah, siap untuk mendengarkan ceramah membosankan lagi.
Atau tidak?
Ada senyum kecil yang memberikan kesan bahwa Pak Prima dalam kondisi hati yang baik, bahkan mungkin bahagia? Dengan kepercayaan diriku dalam pengerjaan soal yang sempurna, aku pun siap menjawab dengan senyum lebar yang sama. Hatiku berdegup kencang, siap tertawa, siap berharap untuk mendapatkan pujian.
“Yah, bagus bagus. Saya lihat sekilas, sepertinya kamu memang mengisi jawaban dengan baik, ya? Kamu sudah mulai belajar dengan giat lagi? Bagus. Mungkin kamu tidak perlu pindah sekolah? Bisa bisa. Bisa diatur. Sayangnya nilai kamu masih di bawah rata-rata, Gib. Ahahahah! Nanti sore ikut kelas tambahan, ya!” gurau Pak Prima sambil duduk santai.
Bisa terlihat, di dalam mata Pak Prima terdapat harapan yang hidup kembali.
Harapan tersebut pun tertular kepadaku, seperti mata suci yang bergairah dan penuh bintang, yang merespon dengan anggukan bahagia dan bangga. “Siap, pak! Kkkkk.”
Untuk pertama kalinya, aku keluar dari ruang guru dengan perasaan puas dan hati yang lapang. Meskipun biasanya aku tidak terlalu peduli dengan ceramah atau apapun yang guru berikan, namun kali ini aku benar-benar bahagia. Seperti sesuatu berhasil digapai, seperti aku berhasil untuk mencapai puncak gunung dan bisa melihat pemandangan yang indah memukau mata.
Aku ingin berteriak, aku merasa berhasil untuk menggenggam dan menguasai dunia.
__ADS_1
Oh ya, aku harus memutar dulu, ya?
Aku masih harus pergi mengendap ke kantin. Aku akan traktir semua teman kelas.
HARI sudah berubah menjadi jingga, bel terakhir sudah berdentang tanda murid boleh untuk pulang dan beristirahat, boleh untuk mulai mengerjakan pekerjaan rumahnya masing-masing meski sekolah sudah membuat lelah dan menguras tenaga.
Setelah selesai dari kelas tambahan, aku pun berinisiatif untuk pergi ke lapang belakang yang dipenuhi oleh suara decitan sepatu dan aspal, juga suara bola yang dipantulkan. Ada berita baik yang harus aku sampaikan!
Sambil meminum susu berperisa buah yang dingin, aku menatap senja dengan perasaan yang lebih tenang dari sebelumnya. Tidak. Tidak begitu tenang. Aku baru saja mengikuti kelas tambahan yang merepotkan. Kepalaku panas, asap mengepul dari ubun-ubun, seperti asap yang muncul dari air yang sudah mendidih.
“Berarti lo gak perlu pindah sekolah? Udah pasti? Ufufufufu! Hebat Ragib, hebat!” sebut gadis dengan rambut yang mengembang sambil memukul punggungku seperti biasa. “Gimana kelas tambahannya? Lo bisa ikutin?”
“Pada dasarnya gue bukannya idiot. Cuman gak pernah belajar aja karena gak ada waktu. Jadi, kalau udah paham dasarnya, apalagi ini tahun kedua, sisanya tinggal ikutin aja. Easy peazy,” jawabku penuh percaya diri.
“Apa gue perlu tinggal kelas juga, ya? Gak mau juga kalau harus lulus duluan terus ninggalin lo, Gib. Kasian. Ufufufu.”
“Tinggalin gue? Idih. Lo gak mau jauh-jauh dari orang tua dan adik kali? Kkkk.”
“Iya sih. Itu juga. Gue lulus pun gak mungkin langsung kuliah. Masih harus bantu orang tua, adik pun masih kecil semua,” curhat Atma bingung sambil mengayunkan kakinya.
Ah, sial. Malah jadi begini. Padahal aku tidak berniat untuk menyinggung ini.
Canggung, aku tepuk bahu Atma saja dengan lembut. Merasa heran, Atma langsung memukulku lagi tidak ingin dikasihani. Setelahnya, kami mengalihkan pembicaraan pada topik yang lebih ringan, saling bercanda dan mengisi waktu dengan nyaman dan menyenangkan. Ini baru kehidupan sekolah yang kembali normal, batinku bahagia
Sangat menyenangkan dan menenangkan, tidak perlu khawatir ada orang yang sibuk memarahi dan berkata kasar lagi.
“Atma, mau beli minum, dong!” teriak seorang dari ujung koridor, seorang siswa yang baru menyelesaikan latihan ekstrakurikuler basketnya.
“Okee!” jawab Atma dengan ceria seperti biasa. “Gue ke sana dulu, Gib. Bentar,” lanjutnya sembari menenteng wadah yang berisi banyak minuman.
“Eh, gue juga duluan, ya. Mau ke stasiun dulu.”
“Eh? Sekarang…? Yasudah. Sampai besok,” jawab Atma sedikit kecewa.
Mau bagaimana? Aku harus membagi waktu untuk masing-masing teman agar tidak ditinggalkan lagi, dan ini sudah waktu untuk bermain bersama Remi.
Meskipun sebenarnya, aku berencana untuk batal bermain ke warung stasiun karena mendengar suara tabrakan. Dengan jarak sedekat ini, seharusnya itu suara Atma. Dan benar saja, terlihat dua orang yang sedang duduk terjatuh, dan salah satunya adalah gadis dengan rambut mengembang.
Mereka tertabrak di pertigaan koridor? Gadis ini sial terus, ya? Kkkk.
Wadah yang Atma bawa ikut terjatuh, seluruh minuman yang hendak dijualnya sekarang praktis berubah menjadi genangan air kotor di atas ubin.
Namun, sudah lebih dahulu hadir sesosok murid yang besar seperti beruang yang membantu Atma untuk bangkit berdiri.
Itu Gatra?
Seperti biasa, Atma tertawa saja menghadapi kesialannya, dengan tidak lupa sebuah pukulan pada punggung lawan bicaranya. Rasanya canggung jika aku malah ikut membantu, pikirku sungkan. Lagipula, aku memang cukup sering melihat Atma dan Gatra bersama. Apakah takdir kali ini lebih bersifat lembut kepada Atma?
Akhirnya, Atma pun dievakuasi ke tempat yang lebih aman, kecelakaan sudah diselesaikan seperti tidak terjadi apapun disana.
DUDUK di atas kursi semen dengan permukaan yang diberi ubin, aku, Remi, Jojo, dan yang lain bermain ponsel seperti biasa. Menatap dengan fokus, berusaha memikirkan strategi bagaimana memenangkan gim dan menghancurkan istana musuh.
“Aduh, ini support kita kok mati lagi, sih? Lemah banget. Gimana kita mau menang!?” sindir seseorang.
“Kkkk. Sorry sorry. Gue kan tadi korbanin diri bir kalian bisa kabur.”
“Tck.”
“Balik balik. Gak bisa maksa. Farming dulu aja cari duit.”
“Udah dibilang berkali-kali perasaan si Ragib gak bener-bener, deh,” bisik seorang yang bisa terdengar dengan jelas. Aku hanya bisa merespon dengan senyuman lain dan menegak minuman, sambil menunggu waktu untuk kembali respawn.
“Level lo ketinggalan jauh banget, Gib. Masa iya kita dicomeback?” protes yang lain.
“Hari-hari merah terus.”
“Udah dibilang lo cari posisi di belakang aja, Gib. Jangan sembarangan maju dan mati lagi, dong! Kalau lo mati terus gimana kita bisa menang? Lo selalu aja ulangin kesalahan yang sama. Kalau gini mending cari orang random aja lama-lama,” saran Remi dengan lelah seperti orang tua yang tidak kuat menangani sikap anaknya yang bandel dan sulit diatur.
“Kkkk. Sorry sorry. Pikiran gue ngepul nih abis kelas tambahan.”
“Ah masa? Alasan aja bisanya.”
“Yang bener?”
“Udah udah. Fokus fokus! Masa kalah lagi, sih?”
__ADS_1
Dan dengan begitu, aku pun kembali fokus untuk bermain lebih baik, dengan mengikuti saran Remi dan berusaha untuk tidak lagi menjadi beban yang lain. Masalahnya, aku memang tidak bermain sangat intensif seperti mereka. Kemampuan yang kami miliki pun memiliki perbedaan signifikan. Tapi, aku tidak punya pilihan selain mengejar ketertinggalan. Aku ingin bermain bersama mereka.
Aku tidak ingin lagi ditinggalkan seperti kemarin!
“Bagus! Menang juga. Mantap!” seru Remi mengepalkan tangan dengan posisi ‘yes’, disusul hembusan napas panjang, peregangan tangan, atau sandaran tubuh seperti baru saja melewati bencana alam. “Bentar istirahat dulu. Capek sumpah,” lanjutnya menyeruput kopi.
“Lah, kok udahan sih? Baru juga main. Kkkk. Ayo main lagi!”
“Lo kan baru dateng, Gib. Kita udah main dari tadi.”
“Lagian lo ngapain pake acara kelas tambahan, sih? Najis bet dah. Emangnya lo murid pinter yang mau ikut olimpiade? Gak juga, kan?”
““Ahahahahaha!””
“Gue bukannya pengen juga buset. Disuruh sama Pak Prima. Ya itung-itung curi hati biar dapet nilai kasih sayang, kan? Kkkkk.”
“Ngapain sih, Gib? Nih gue kasih tahu ya, untuk lo juga, saran yang baik dari teman nih. Ngapain fokus sama sekolah, sih? Ini tuh jenis cuci otak dari pemerintah untuk nyiapin masyarakat jadi robot tahu, gak? Kita tuh manusia. Punya nafsu dan kebebasan! Mendingan kita kejar mimpi dan ninggalin sekolah. Itu lebih bermanfaat! Orang-orang sukses juga kebanyakan keluar dari sekolah, kan? Lo tahu, gak? Orang-orang yang capek-capek sekolah itu bakal kerja di perusahaan dari orang yang justru keluar!”
“Nah, setuju. Ngapain jadi orang pintar kalau akhirnya jadi karyawan juga? Jadi budak korporat dan hidupnya dikekang disuruh ini itu. Gak mau gue.”
“Ga ada manfaatnya belajar di sekolah. Mending main gim. Bisa mengasah otak, ningkatin nalar dan bikin tajem pikiran, ngasah reflek juga, semuanya dipake! Gue liat itu ada penelitiannya di internet kemarin.”
“Gue juga males sekolah sebenarnya. Apa-apa dilarang. Kemarin gue ditegur ‘harus patuhi aturan bla bla bla’ buset? Mau napas juga harus izin kali, ya?”
“Lo masih mending. Gue kalau telat satu detik aja, pintu kelas pasti ditutup. Padahal, guru juga sering telat? Munafik banget memang. Mau izin masuk kalau harus dibully dulu di depan kelas bikin pidato keras-keras. Muntah gue.”
““Ahahahahaha!””
“Gak enak banget sekolah memang. Makanya mending main gim aja, lah.”
“Eh, find lagi, yuk?”
“Ayo ayo.”
“Jangan jadi beban lagi lo, Gib. Gue capek sumpah.”
“Kkkk, iya gue usahain. Eh, gue sekalian latihan di kos lo aja gimana, Rem?”
“Hah? Emm… nginep di kosan gue?” bimbang Remi cukup lama. “Boleh, lah. Tapi lo kalau tidur ngorok lagi gue banjur lo pake air seember!”
“Kkkk, santaiii.”
Sampai hari sudah berubah gelap, kami masih terus menatap ponsel untuk bermain gim dan mengejar peringkat berlian. Dengan motivasi yang tertanam di hati, juga sebuah pencucian otak dari beberapa orang di sekeliling, ini memang lebih baik daripada melakukan kewajiban sebagai murid sekolah.
Aku bukannya mendukung mereka untuk meninggalkan sekolah.
Tapi, aku juga bukannya menolak saran teman-temanku ini.
Prioritasku saja yang saat ini bukan tentang dunia persekolahan.
Sampai pada akhirnya memang sudah waktunya untuk tidur, kami mulai berpisah satu sama lain. Pergi ke rumah masing-masing, terkecuali aku pribadi yang mengikuti Remi pulang ke indekosnya. Tidur di atas karpet seadanya, menggunakan tas ransel sebagai bantal, berusaha sebisa mungkin untuk tidak mendengkur atau aku pasti dibanjur.
Bukan aturan yang merepotkan.
Asalkan masih bersama teman, semuanya bukan masalah.
\~\~\~\~\~\~\~\~
Akhirnya Ragib bisa balik ke hari-hari yang normal!
Bahkan Pak Prima sampe muji dia WKWKWKK aneh banget yak
Apakah ini tetap disebut normal? Apa jangan-jangan besok bakal kiamat?
Selamat datang lagi, teman-teman!
Apakah ini sebuah kabar baik, bahwa Ragib bisa kembali hidup dengan normal?
Apalagi jelas-jelas Ragib nolak kehadiran Suci kan?
Tapi dia punya penyesalan gak ya udah bentak Suci mentah-mentah gitu?
Hmmmm... mari kita tunggu kelanjutannya :D
Btw …
__ADS_1
See you next time ;)
Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!