Setan, Suci, Siuman

Setan, Suci, Siuman
Bab 10: Aku Tidak Bisa Berhenti Terperana


__ADS_3

APAKAH ini nyata? Ini kamar mandi…? Bukan kamar tidur yang direnovasi menjadi kamar mandi?


Sebesar ini kamar mandinya? Aku pikir ini bahkan lebih luas dari kamar tidurku? Yah, jika membicarakan megahnya rumah ini, kamar mandi seluas ini memang


bukan sebuah keganjilan, pikirku mengangkat bahu


Padahal, mereka bilang ini kamar mandi ‘biasa’. Lalu, bagaimana dengan kamar mandi yang tidak biasa? Apakah lebih mewah


dari ini? Dari kamar mandi dengan ubin dan dinding putih yang mengilap, cantik


bersih dari batu pualam? Ada banyak hiasan dan lukisan tersebar di seluruh


dinding, dengan lampu gantung di tengah-tengah ruangan, ventilasi dengan kusen


tetap mewah, beberapa tanaman di sudut ruangan, dan juga sebuah air terjun


kecil kombinasi antara bebatuan dan bambu.


Lebih lanjut, terdapat ruang shower dengan dinding kaca, bathtub di sudut ruangan yang dibenamkan pada keramik? Ada kabinet panjang


sekaligus cermin super besar dengan frame berwarna coklat keemasan. Di


atas kabinet itu terdapat juga wastafel, sabun, sampo, sikat gigi, ada produk


perawatan kulit lainnya (yang setelah aku periksa di internet harganya


jutaan rupiah), hingga sebuah bak mandi rendah untuk mencuci kaki di sisi kiri


dan sebuah kloset duduk di sebelahnya.


Harus aku bilang, aku sangat terpesona


melihat ini semua.


Ini bahkan lebih luas dari rumah lamaku?


Sebelumnya, aku terjatuh tertimpa berbagai


minuman hingga basah kuyup, kan?


Terimakasih kepada gadis yang tiba-tiba


datang dari pintu depan dan melempar entahlah apa kepada punggungku, baik


kesadaranku, maupun kesadaran Suci dan Mamanya, langsung ditarik kembali ke


dunia nyata. Kita kembali merasakan kehadiran benda fisik secara nyata, tidak


ada halusinasi lagi, tidak ada lagi yang dapat mengganggu hubungan raga dan


jiwa, tidak bisa lagi merasa bahwa ‘dunia ini hanya milikku saja’.


Setelahnya, Mama Suci—dengan mata biru cerah dan rambut pirangnya—langsung


tersadar, langsung melepaskan pelukannya pada Suci. Beliau membantuku yang


terjungkal terjatuh berantakan, tersiram semua hidangan minuman baik air putih,


coklat panas, teh panas, dan teko yang penuh dengan teh tawar di dalamnya.


Tidak terlalu peduli dengan gelas yang pecah


tak karuan, wanita perawat pun langsung berlari ke bagian dalam rumah, lalu


memberikan handuk lembut merah muda, juga  membawaku untuk memasuki rumah


lebih dalam setelah anjuran dari Mama Suci. Berjalan meninggalkan ruang tamu,


pergi ke sebuah koridor dengan ruang makan luas dengan meja panjang terisi


banyak lilin di bagian kiri, lalu dapur yang dibatasi oleh konter meja panjang


dari pualam di bagian kanan.


Selanjutnya, aku memasuki koridor yang dipenuhi berbagai vas tanaman dan


lukisan di dinding putih kiri-kanan, sampai pada akhirnya memasuki pintu hitam


dengan aksen abu-abu yang menyimpan sebuah kemegahan kamar mandi, tempat aku


terpukau sekarang.


“Maafkan merepotkan Mas dengan tumpahan air


minumnya. Silakan gunakan kamar mandi biasa ini untuk membasuh diri,” sebut


sang wanita perawat ketika membukakan pintu kamar mandi untukku. “Di dalam laci


ada banyak baju ganti. Silakan pakai yang nyaman saja. Saya pamit dulu, ya”


lanjutnya langsung menutup pintu pelan dan praktis meninggalkanku sendirian


tanpa sempat menjawab atau meresponnya.


Aku disuruh… untuk membasuh diri?


Hanya membasuh dengan handuk saja atau boleh


juga untuk gunakan shower dan segala macam? pikirku bingung. Jujur, tumpahan ini membuat tubuhku, seragamku,


kulitku, rambutku tidak nyaman, seperti perasaan lengket yang mengganggu.


Tidak. Meskipun diberikan kendali penuh, aku


tetap sungkan untuk tiba-tiba menggunakan fasilitas semewah ini. Lagipula


ada wastafel, kan? Gunakan itu saja, putusku dan lanjut berjalan mendekati


kabinet panjang di bagian kanan.


Menyudahi perasaan terkesima terhadap


penampilan kamar mandi, aku langsung bergegas menyimpan handuk, juga membuka


seluruh seragam dan pakaianku (hingga hanya menyisakan ****** ***** saja). Aku


nyalakan keran, membasuh wajah dengan kedua tangan, membasuh juga rambutku


hingga akarnya, hingga aku benar-benar basah kuyup lagi.


Aku berhenti sebentar, untuk melirik kiri-kanan


pada semua produk sabun yang ada. Apa aku boleh gunakan sabun cuci mukanya,


ya? pikirku menimbang-nimbang. Jika hanya dibasuh saja, rasanya ada yang


kurang. Tapi, aku pun tidak ingin sembarangan menggunakan produk yang harganya


jutaan. Akhirnya, setelah pilih-pilih mencari produk paling murah, aku langsung


mengusap mencuci muka, dan rasa segar, juga dingin, sesuatu yang menindik kecil


secara lucu, menerpa seluruh permukaan wajahku.


Tidak lupa, aku usap juga tangan hingga jauh ke sikut, lalu perut,


punggung dan sisi tubuh, hingga kakiku dari paha dan betis, pokoknya semua yang


masih lengket dan tidak nyaman. “Fuahhhhh!” teriakku puas setelah membasuh


tubuh dengan sempurna, sampai mengelap pula dengan handuk nyaman berwarna merah


muda.


Seperti terlahir kembali, seperti baru mandi, aku benar-benar merasa


puas diri.


Namun, saat masih mengelap diri, tidak


sengaja aku melihat bayanganku sendiri di dalam cermin. Disana, terlihat


penampakan lelaki berumur 18 tahun, dengan rambut lembap hitam abu-abu


bergelombang kasar yang melintasi pupil mata. Wajahku sedikit tirus,


alis sedikit tebal, mata yang turun, hidung yang pesek, bibir yang pucat


seperti kurang nutrisi, kumis tipis baru tumbuh, tidak berjenggot maupun


berjambang.


Turun ke bawah, terlihat tubuh yang tidak terlalu berbentuk banyak otot,


tapi bukannya kurus hanya tulang belaka. Dengan warna kulit kuning coklat,


tidak terlalu putih seperti Mama Suci, tapi tidak terlalu gelap juga. Tidak


pendek, tidak tinggi. Normal saja. Sekitar 165 senti mungkin? Aku menunduk, dan


sedikit memberikan komentar. Normal. Tapi bisa lebih baik, pikirku.


Aku menengadah lagi menatap cermin, menatap lebih dalam, menatap lebih


lama. Aku menepuk-nepuk pipi, memainkan wajah, membuat beberapa ekspresi jelek,


sampai menyudahinya dengan senyuman yang langsung menampilkan lesung


pipi.


Apa yang aku rasakan? Apa yang bayangan itu pikirkan?


Ini aku, aku Ragib. Berada di kamar mandi seorang gadis bernama Suci


yang tidak begitu aku kenali. Aku sendirian, disini, tanpa teman.


Sendirian?


Aku sendirian disini. Tapi, entah mengapa

__ADS_1


rasanya sangat berbeda dari kemarin. Aku tidak benar-benar sendirian, aku tidak


benar-benar merasa kesepian. Napasku masih normal, tidak ada tanda-tanda akan


adanya serangan panik lainnya.


Aku menunduk lagi, melihat kabinet yang


tingginya hanya sebatas pinggang. Di sini ada baju ganti? Maka


selanjutnya, aku pun langsung menarik laci paling atas.


Di bagian pertama ini, terdapat berbagai macam pakaian lengkap. Dimulai


dari kaus dalam, kaus oblong, ada juga yang tak berlengan, berwarna-warni, dari


polos hingga sablon. Ada juga kemeja dari yang polos hingga bermotif, lengan


pendek, dan lengan panjang. Ada ****** *****, celana pendek, celana boxer,


celana panjang berbagai bahan, celana jeans, rok pun ada, ikat pinggang


berbagai warna, lalu kaus kaki, dan sarung tangan. Topi pun ada, berbagai


handuk dan lap, pokoknya semua jenis pakaian lengkap berada di laci pertama.


Di laci kedua, terdapat berbagai macam benda-benda elektronik yang


kabelnya digulung dengan rapi tidak berantakan. Dimulai dari pengering rambut,


ada juga catok rambut, alat cukur, alat pembersih wajah? Alat pemijat wajah?


Pelentik bulu mata? Entahlah. Banyak sekali jenisnya dan jumlahnya. Dan dari


setiap benda, jumlahnya lebih dari satu.


Di laci ketiga paling bawah kuantitas


barangnya tidak seperti kedua laci sebelumnya. Hanya terisi setengah, hanya


menjadi tempat penyimpanan cadangan. Terisi dari pasokan tisu, ada juga kapas,


sampai benda-benda guna mencuci baju seperti deterjen dan pewangi yang


jumlahnya pun lebih dari satu untuk masing-masing produk.


Dengan rasa penasaran yang terpuaskan, aku


langsung menutup semua laci kecuali hanya laci pertama. Aku langsung mencari


baju dan celana apapun yang cocok, memilah-milah yang tidak longgar dan tidak


sempit, sampai pada akhirnya aku memilih baju lengan panjang berwarna hitam


dengan sablon bertuliskan ‘lets go’ berwarna emas, dengan celana katun


yang juga berwarna hitam.


“Baiklah. Sudah, ya?” tanyaku lagi pada bayangan. Aku memantaskan diri


di depan cermin, sampai merasa yakin. Tidak ada kejanggalan (kecuali rasa aneh


dan canggung karena memakai pakaian orang asing), aku pun balik badan,


menyimpan baju seragam kotor yang lembap pada keranjang di sudut ruangan, siap


menarik pintu keluar.


Aku melirik kiri-kanan di koridor, mencari siapapun yang harus aku temui


selanjutnya (meskipun aku tidak mengharapkan siapapun kecuali wanita perawat,


sih). Sayangnya, di koridor ini tidak ditemukan siapapun kecuali vas tanaman


yang tidak bisa diketahui apakah asli atau tidak, lukisan-lukisan dengan


bingkai indah di sekitarnya, ruangan lain dengan pintu hitam yang berseberangan


dengan kamar mandi, dan pintu kaca di bagian kiri yang menampilkan langit malam


dan sebuah mesin cuci yang bersembunyi.


“Sudah selesai?” tegur seseorang dari kanan, tempat aku melewati ruang


makan tadi. Ah, itu wanita perawat, hembusku lega. “Bagaimana


pakaiannya? Apakah nyaman?” tanyanya dengan nada gembira seperti petugas di


toko pakaian yang sedang merekomendasikan baju pada pelanggan.


“Sulit juga bilangnya. Bagus, nyaman, tapi canggung juga karena ini


bukan pakaian saya. Kkkkk! Oh, ya. Tadi saya simpan baju kotor di keranjang


sudut ruangan. Itu benar? Atau justru itu tempat sampah? Kkkkk!”


“Siap. Nanti saya bersihkan seragamnya, ya.”


istana kerajaan? Kakak bekerja sendiri? Kalau harus urus semua pekerjaan rumah


pasti lelah, ya. Kkkkk!”


“Tidak sendirian, kok. Tapi, beberapa memang sedang ada urusan saja.”


“Oh, begitu, ya? Kerja disini harus banyak sabar, ya. Kkkk!”


“Saya bahagia, kok. Ngomong-ngomong… Mas diminta pergi ke ruangan ini.


Mbak Nila sudah menunggu,” pinta wanita perawat menunjuk pintu hitam di


seberang.


“Mbak Nila? Siapa dia? Eh, tunggu… aku ditunggu? Hah!? Saya sudah


lakukan apa!? Apakah saya sedang dalam masalah? Apakah Kakak tahu sesuatu?


S-saya tidak bersalah, kan!?” tanyaku panik.


“Tidak, kok. Mas Ragib tidak salah apa-apa. Mbak Nila itu gadis yang


baru datang tadi. Mohon maaf atas perilakunya, ya.”


“Hah, syukurlah kalau begitu,” hembusku lega sambil mengusap dada.


“Nila… memangnya dia kenapa, sih? Dia yang melempariku itu, kan?”


“Yah… Mbak Nila memiliki kondisinya sendiri terhadap laki-laki. Dengan


posisi Mas yang canggung tadi, wajar saja Mba Nila beraksi seperti itu. Tapi,


Mas benar-benar sudah ditunggu di ruang ini. Silakan,” ucap sang wanita perawat


yang langsung menunduk dan mempersilakanku untuk pergi ke ruangan di depan.


Jika ditilik kembali, rasanya ruangan di depan tidak sepenuhnya


tertutup. “Aku buka saja?” tanyaku heran kepada wanita perawat. Tapi, dia masih


terus menunduk dan memberikan senyum seperti seorang pramugari yang


mempersilakan penumpang untuk keluar dari pesawat.


Aku menelan ludah, mulai membuka pintu pelan, untuk melihat apa gerangan


yang sudah menungguku di dalam.


Kenapa gadis bernama Nila ini menungguku? Kenapa dia menyerangku? Apakah


ada urusannya dengan aksiku yang memeluk Suci dan Mamanya secara tidak sengaja?


Atau dia ingin meminta maaf? Wanita perawat bilang… Mbak Nila ini memiliki


kondisinya sendiri yang membuatnya wajar untuk menyerang laki-laki. Apakah dia


teman Suci? Bisakah aku mempercayainya?


SEPERTI ruangan-ruangan lainnya, ruangan di depanku ini didominasi oleh warna putih


bersih. Terlihat modern, terlihat sangat apik—meskipun lampu gantung sudah


diganti dengan lampu LED. Di bagian kiri ruangan terlihat meja panjang dan


perlengkapan komputer yang lengkap dengan tiga monitor, beberapa hiasan di atas


meja, dua kursi empuk yang masuk ke kolong meja, beberapa alat musik dan


alat-alat penunjang sistem suara lainnya, dan diakhiri oleh tenda segitiga di


sudut ruangan.


Di sisi ruangan di depanku, terdapat bean bag hijau terang dan


merah muda yang terlihat mengempis, lemari tinggi menutup separuh dinding, dan


diakhiri dengan sebuah bagian yang menjorok ke dalam di sudut bagian kanan. Sepertinya


terlihat siluet ranjang berwarna putih? Lalu di bagian kanan ruangan,


terdapat lemari pakaian yang dibenamkan ke dalam dinding, sebuah lemari buku


lebar, sampai akhirnya terdapat dua buah sofa yang membentuk sudut 90 derajat


dengan meja rendah di tengah sofa, persis berada di kananku.


Aku tidak bisa berhenti terperana, terus tersenyum menengadah ke seluruh


ruangan. Tidak hanya megah dan mewah, ini memang ruangan yang sangat luar


biasa, pikirku kembali melihat sekeliling ruangan. Sampai pada akhirnya

__ADS_1


terdengar suara yang menyakitkan gendang telinga, sebuah teriakan yang tidak


ragu-ragu, sebuah bentakkan dengan niatnya yang ingin menyingkirkan sesuatu.


Padahal sejak tadi aku menyelidiki seluruh ruangan ini dengan cermat.


Kenapa aku tidak sadar akan kehadiran mereka?


Di atas masing-masing bean bag, terdapat dua penampakan gadis


yang tidak asing. Dari gadis di bagian kiri dengan kacamata bulat dan rambut


bergelombang melebihi pundak, dialah ‘Mbak Nila’ yang disebutkan oleh wanita


perawat? Lalu ada pula gadis yang sedang tiduran bersandar di bean bag sebelah


kanan, tengah membaca sesuatu, dengan banyak remah wafer di dadanya, dan


sebuah toples tergeletak di sampingnya. Dialah Suci, yang tidak peduli kecuali


bersantai dengan kombinasi bean bag dan karpet bulu lembut di tengah


ruangan.


“Duduk di sofa itu! Cepat!” pinta sang gadis berkacamata sambil menunjuk


sofa di samping kananku ini. “Jelaskan secara singkat, padat, dan jelas sedang


apa kamu kemari? Dasar lintah darat. Tidak diajak sudah berani melakukan


pelecehan pada Suci dan Nyonya Besar. Sungguh tidak bisa dipercaya. Dasar


lelaki jahanam! Serigala busuk! Mati saja kamu!” lanjutnya lagi dengan penuh


emosi yang meledak-ledak.


“Ak–”


“Di-diam! Hoe-ekkk! Ekk!” potong sang gadis berkacamata sambil menahan


mulutnya, seperti ingin memuntahkan sesuatu dari dalam mulutnya. Dia pucat?


Memang separah itu atau hanya dibuat-buat? Tapi atas alasan apa dia muntah?


Karena aroma parfum di ruangan ini?


Aku pun mengendus, aroma apa yang membuat ‘Mbak Nila’ ini tidak nyaman?


Sebenarnya, memang ada ‘aroma’ di dalam ruangan ini. Hanya saja, aroma tersebut


adalah aroma yang manis, bahkan bukannya aroma yang terlalu kuat juga. Ini


adalah aroma yang menyenangkan, seperti aroma bunga, seakan kita bermain-main


di atas taman rindang yang menyejukkan.


Kalau memang dia alergi terhadap aroma disini, kenapa aku ditunggu di


sini?


Kkkk! Ada saja orang yang suka menyiksa dirinya sendiri.


“Eee-ekkk. Puh! Puh!” ludah sang gadis berkacamata menyudahi muntahnya.


“Kamu membuka mulut pun rasanya langsung menyebarkan aroma menjijikkan seperti


tempat sampah. Tidak bisa punya mulut yang bersih, apa!? Tidak pernah gosok


gigi, ya?”


“Eh? Apa hubungannya deng–”


“Sudah! Tidak perlu basa-basi. Hina sekali waktuku dihabiskan untuk


laki-laki sepertimu yang kurang ajar. Jelaskan saja dengan cepat!” pintanya


lagi dengan berteriak.


Sekalipun mulutku memiliki bau tanah ataupun kotoran kuda, jarak kita


berbicara dari ujung ruangan ke ujung yang lain, kan? Jaraknya mungkin sekitar


delapan meter. Apakah dia waras? Bisa mencium aroma mulutku sejauh ini?


Atau memang aroma mulutku seburuk itu?


Inikah alasan Remi atau Faisal hari ini enggan mengajakku nongkrong?


“Aku juga tidak tahu. Yang membawaku kesini itu Suci. Dia mengajak


pulang untuk perlihatkan sesuatu entahlah apa. Sisanya terjadi begitu saja,


sampai kamu melempar punggungku dengan apapun itu,” jawabku sambil mengangkat


bahu. “Tapi, kamu memang yang namanya ‘Mbak Nila’ itu, ya?”


“Tch, dia tahu namaku?” sebut gadis berkacamata dengan suara


tipis seperti sedang berbicara sendiri. “Kenapa pula aku harus beritahu


namaku padamu? Tidak penting! Mau diapakan nanti? Tidak bisa dipercaya! Lagipula,


kamu datang kesini karena diajak Suci? Bohong juga ada batasnya! Apakah kamu


tidak bisa membuat alasan yang lebih masuk akal!? Jelaskan dengan betul, dong!”


bentak Nila lebih lanjut.


“Aku bisa dengar decakanmu, tahu! Lagipula, aku tidak berbohong. Tanya


saja pada Suci sendiri. Dia yang ajak untuk melihat lebih banyak gambar


binatang,” jelasku.


“Sudah kubilang alasanmu it–” sebelum Nila selesai berbicara, Suci


terlebih dahulu memotongnya dengan suara cempreng lantangnya. Benar-benar


dipotong, suara Nila sampai tidak terdengar barang sedikitpun.


“Binatang…? Binatang! Ragib, binatang! Sekarang!” seru Suci nyaring. Dia


berteriak seperti orang kesurupan, seperti dia baru teringat oleh sesuatu yang


sangat penting. Dia tinggalkan buku bacaanya, simpan sembarangan barang itu


dimana saja. Suci menyeka bajunya, bangkit lalu berdiri, untuk kemudian


mendekatiku dengan semangat penuh gairah, dengan matanya yang bersinar lebih


terang dari bintang-bintang.


“Suci!?” pekik Nila tidak percaya, juga sedikit kebingungan. Reflek, dia


hendak meraih tangan Suci untuk mengikutinya, mungkin juga untuk memaksanya


duduk di sampingnya. Namun, tiba-tiba saja gadis itu merasa enggan untuk


bangkit. Dia kembali duduk manis, membiarkan Suci menarik tanganku, untuk pergi


keluar dari ruangan.


Aku yang kebingungan sebenarnya sedikit bersyukur, karena bisa


mengakhiri ocehan Nila yang tidak masuk akal. Meskipun sebenarnya, aku juga


tidak begitu tahu apakah yang akan aku lihat ini adalah hal yang lebih baik


atau buruk, batinku mulai bimbang


Pergi dari ruangan, kami pun melewati koridor sekaligus ruang makan di


bagian kanan dengan taman yang berada di belakangnya di balik pintu kaca, juga


dapur yang sedang digunakan oleh wanita perawat di sebelah kiri. Selanjutnya, aku


melewati ruang tamu lagi, mengikuti masuk menaiki tangga, melewati ruangan


besar terbuka yang diisi oleh berbagai alat olahraga seperti treadmill, sepeda


statis, matras yoga di lantainya, dumbbell, bahkan ada samsak tinju?


Sampai akhirnya aku berada di depan pintu berwarna putih, dengan sebuah


papan nama bertuliskan ‘Suci’ di depannya. “Ayo!” ajak Suci dengan riang.


\~\~\~\~\~\~\~\~


Ternyata gak cuman dilempar tas seenaknya


Perempuan yang namanya nila ini kayaknya dendam kesumat sama Ragib


WKWKWKWWKWKWKWK


Bahkan nganggep Ragib seakan-akan kaya Binatang hina gitu


Jahat amat ya…


Selamat datang lagi, teman-teman!


Selain punya kamar mandi yang super besar, rumah ini punya ruangan khusus ruang bermain? Keren,


ya! udah kaya villa aja!


Tapi baru disuguhi fasilitas enak, Ragib udah disuruh suruh aja kaya pembantu


Kasian deh hidupnya


Btw …

__ADS_1


See you next time ;)


Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!


__ADS_2