
APAKAH ini nyata? Ini kamar mandi…? Bukan kamar tidur yang direnovasi menjadi kamar mandi?
Sebesar ini kamar mandinya? Aku pikir ini bahkan lebih luas dari kamar tidurku? Yah, jika membicarakan megahnya rumah ini, kamar mandi seluas ini memang
bukan sebuah keganjilan, pikirku mengangkat bahu
Padahal, mereka bilang ini kamar mandi ‘biasa’. Lalu, bagaimana dengan kamar mandi yang tidak biasa? Apakah lebih mewah
dari ini? Dari kamar mandi dengan ubin dan dinding putih yang mengilap, cantik
bersih dari batu pualam? Ada banyak hiasan dan lukisan tersebar di seluruh
dinding, dengan lampu gantung di tengah-tengah ruangan, ventilasi dengan kusen
tetap mewah, beberapa tanaman di sudut ruangan, dan juga sebuah air terjun
kecil kombinasi antara bebatuan dan bambu.
Lebih lanjut, terdapat ruang shower dengan dinding kaca, bathtub di sudut ruangan yang dibenamkan pada keramik? Ada kabinet panjang
sekaligus cermin super besar dengan frame berwarna coklat keemasan. Di
atas kabinet itu terdapat juga wastafel, sabun, sampo, sikat gigi, ada produk
perawatan kulit lainnya (yang setelah aku periksa di internet harganya
jutaan rupiah), hingga sebuah bak mandi rendah untuk mencuci kaki di sisi kiri
dan sebuah kloset duduk di sebelahnya.
Harus aku bilang, aku sangat terpesona
melihat ini semua.
Ini bahkan lebih luas dari rumah lamaku?
Sebelumnya, aku terjatuh tertimpa berbagai
minuman hingga basah kuyup, kan?
Terimakasih kepada gadis yang tiba-tiba
datang dari pintu depan dan melempar entahlah apa kepada punggungku, baik
kesadaranku, maupun kesadaran Suci dan Mamanya, langsung ditarik kembali ke
dunia nyata. Kita kembali merasakan kehadiran benda fisik secara nyata, tidak
ada halusinasi lagi, tidak ada lagi yang dapat mengganggu hubungan raga dan
jiwa, tidak bisa lagi merasa bahwa ‘dunia ini hanya milikku saja’.
Setelahnya, Mama Suci—dengan mata biru cerah dan rambut pirangnya—langsung
tersadar, langsung melepaskan pelukannya pada Suci. Beliau membantuku yang
terjungkal terjatuh berantakan, tersiram semua hidangan minuman baik air putih,
coklat panas, teh panas, dan teko yang penuh dengan teh tawar di dalamnya.
Tidak terlalu peduli dengan gelas yang pecah
tak karuan, wanita perawat pun langsung berlari ke bagian dalam rumah, lalu
memberikan handuk lembut merah muda, juga membawaku untuk memasuki rumah
lebih dalam setelah anjuran dari Mama Suci. Berjalan meninggalkan ruang tamu,
pergi ke sebuah koridor dengan ruang makan luas dengan meja panjang terisi
banyak lilin di bagian kiri, lalu dapur yang dibatasi oleh konter meja panjang
dari pualam di bagian kanan.
Selanjutnya, aku memasuki koridor yang dipenuhi berbagai vas tanaman dan
lukisan di dinding putih kiri-kanan, sampai pada akhirnya memasuki pintu hitam
dengan aksen abu-abu yang menyimpan sebuah kemegahan kamar mandi, tempat aku
terpukau sekarang.
“Maafkan merepotkan Mas dengan tumpahan air
minumnya. Silakan gunakan kamar mandi biasa ini untuk membasuh diri,” sebut
sang wanita perawat ketika membukakan pintu kamar mandi untukku. “Di dalam laci
ada banyak baju ganti. Silakan pakai yang nyaman saja. Saya pamit dulu, ya”
lanjutnya langsung menutup pintu pelan dan praktis meninggalkanku sendirian
tanpa sempat menjawab atau meresponnya.
Aku disuruh… untuk membasuh diri?
Hanya membasuh dengan handuk saja atau boleh
juga untuk gunakan shower dan segala macam? pikirku bingung. Jujur, tumpahan ini membuat tubuhku, seragamku,
kulitku, rambutku tidak nyaman, seperti perasaan lengket yang mengganggu.
Tidak. Meskipun diberikan kendali penuh, aku
tetap sungkan untuk tiba-tiba menggunakan fasilitas semewah ini. Lagipula
ada wastafel, kan? Gunakan itu saja, putusku dan lanjut berjalan mendekati
kabinet panjang di bagian kanan.
Menyudahi perasaan terkesima terhadap
penampilan kamar mandi, aku langsung bergegas menyimpan handuk, juga membuka
seluruh seragam dan pakaianku (hingga hanya menyisakan ****** ***** saja). Aku
nyalakan keran, membasuh wajah dengan kedua tangan, membasuh juga rambutku
hingga akarnya, hingga aku benar-benar basah kuyup lagi.
Aku berhenti sebentar, untuk melirik kiri-kanan
pada semua produk sabun yang ada. Apa aku boleh gunakan sabun cuci mukanya,
ya? pikirku menimbang-nimbang. Jika hanya dibasuh saja, rasanya ada yang
kurang. Tapi, aku pun tidak ingin sembarangan menggunakan produk yang harganya
jutaan. Akhirnya, setelah pilih-pilih mencari produk paling murah, aku langsung
mengusap mencuci muka, dan rasa segar, juga dingin, sesuatu yang menindik kecil
secara lucu, menerpa seluruh permukaan wajahku.
Tidak lupa, aku usap juga tangan hingga jauh ke sikut, lalu perut,
punggung dan sisi tubuh, hingga kakiku dari paha dan betis, pokoknya semua yang
masih lengket dan tidak nyaman. “Fuahhhhh!” teriakku puas setelah membasuh
tubuh dengan sempurna, sampai mengelap pula dengan handuk nyaman berwarna merah
muda.
Seperti terlahir kembali, seperti baru mandi, aku benar-benar merasa
puas diri.
Namun, saat masih mengelap diri, tidak
sengaja aku melihat bayanganku sendiri di dalam cermin. Disana, terlihat
penampakan lelaki berumur 18 tahun, dengan rambut lembap hitam abu-abu
bergelombang kasar yang melintasi pupil mata. Wajahku sedikit tirus,
alis sedikit tebal, mata yang turun, hidung yang pesek, bibir yang pucat
seperti kurang nutrisi, kumis tipis baru tumbuh, tidak berjenggot maupun
berjambang.
Turun ke bawah, terlihat tubuh yang tidak terlalu berbentuk banyak otot,
tapi bukannya kurus hanya tulang belaka. Dengan warna kulit kuning coklat,
tidak terlalu putih seperti Mama Suci, tapi tidak terlalu gelap juga. Tidak
pendek, tidak tinggi. Normal saja. Sekitar 165 senti mungkin? Aku menunduk, dan
sedikit memberikan komentar. Normal. Tapi bisa lebih baik, pikirku.
Aku menengadah lagi menatap cermin, menatap lebih dalam, menatap lebih
lama. Aku menepuk-nepuk pipi, memainkan wajah, membuat beberapa ekspresi jelek,
sampai menyudahinya dengan senyuman yang langsung menampilkan lesung
pipi.
Apa yang aku rasakan? Apa yang bayangan itu pikirkan?
Ini aku, aku Ragib. Berada di kamar mandi seorang gadis bernama Suci
yang tidak begitu aku kenali. Aku sendirian, disini, tanpa teman.
Sendirian?
Aku sendirian disini. Tapi, entah mengapa
__ADS_1
rasanya sangat berbeda dari kemarin. Aku tidak benar-benar sendirian, aku tidak
benar-benar merasa kesepian. Napasku masih normal, tidak ada tanda-tanda akan
adanya serangan panik lainnya.
Aku menunduk lagi, melihat kabinet yang
tingginya hanya sebatas pinggang. Di sini ada baju ganti? Maka
selanjutnya, aku pun langsung menarik laci paling atas.
Di bagian pertama ini, terdapat berbagai macam pakaian lengkap. Dimulai
dari kaus dalam, kaus oblong, ada juga yang tak berlengan, berwarna-warni, dari
polos hingga sablon. Ada juga kemeja dari yang polos hingga bermotif, lengan
pendek, dan lengan panjang. Ada ****** *****, celana pendek, celana boxer,
celana panjang berbagai bahan, celana jeans, rok pun ada, ikat pinggang
berbagai warna, lalu kaus kaki, dan sarung tangan. Topi pun ada, berbagai
handuk dan lap, pokoknya semua jenis pakaian lengkap berada di laci pertama.
Di laci kedua, terdapat berbagai macam benda-benda elektronik yang
kabelnya digulung dengan rapi tidak berantakan. Dimulai dari pengering rambut,
ada juga catok rambut, alat cukur, alat pembersih wajah? Alat pemijat wajah?
Pelentik bulu mata? Entahlah. Banyak sekali jenisnya dan jumlahnya. Dan dari
setiap benda, jumlahnya lebih dari satu.
Di laci ketiga paling bawah kuantitas
barangnya tidak seperti kedua laci sebelumnya. Hanya terisi setengah, hanya
menjadi tempat penyimpanan cadangan. Terisi dari pasokan tisu, ada juga kapas,
sampai benda-benda guna mencuci baju seperti deterjen dan pewangi yang
jumlahnya pun lebih dari satu untuk masing-masing produk.
Dengan rasa penasaran yang terpuaskan, aku
langsung menutup semua laci kecuali hanya laci pertama. Aku langsung mencari
baju dan celana apapun yang cocok, memilah-milah yang tidak longgar dan tidak
sempit, sampai pada akhirnya aku memilih baju lengan panjang berwarna hitam
dengan sablon bertuliskan ‘lets go’ berwarna emas, dengan celana katun
yang juga berwarna hitam.
“Baiklah. Sudah, ya?” tanyaku lagi pada bayangan. Aku memantaskan diri
di depan cermin, sampai merasa yakin. Tidak ada kejanggalan (kecuali rasa aneh
dan canggung karena memakai pakaian orang asing), aku pun balik badan,
menyimpan baju seragam kotor yang lembap pada keranjang di sudut ruangan, siap
menarik pintu keluar.
Aku melirik kiri-kanan di koridor, mencari siapapun yang harus aku temui
selanjutnya (meskipun aku tidak mengharapkan siapapun kecuali wanita perawat,
sih). Sayangnya, di koridor ini tidak ditemukan siapapun kecuali vas tanaman
yang tidak bisa diketahui apakah asli atau tidak, lukisan-lukisan dengan
bingkai indah di sekitarnya, ruangan lain dengan pintu hitam yang berseberangan
dengan kamar mandi, dan pintu kaca di bagian kiri yang menampilkan langit malam
dan sebuah mesin cuci yang bersembunyi.
“Sudah selesai?” tegur seseorang dari kanan, tempat aku melewati ruang
makan tadi. Ah, itu wanita perawat, hembusku lega. “Bagaimana
pakaiannya? Apakah nyaman?” tanyanya dengan nada gembira seperti petugas di
toko pakaian yang sedang merekomendasikan baju pada pelanggan.
“Sulit juga bilangnya. Bagus, nyaman, tapi canggung juga karena ini
bukan pakaian saya. Kkkkk! Oh, ya. Tadi saya simpan baju kotor di keranjang
sudut ruangan. Itu benar? Atau justru itu tempat sampah? Kkkkk!”
“Siap. Nanti saya bersihkan seragamnya, ya.”
istana kerajaan? Kakak bekerja sendiri? Kalau harus urus semua pekerjaan rumah
pasti lelah, ya. Kkkkk!”
“Tidak sendirian, kok. Tapi, beberapa memang sedang ada urusan saja.”
“Oh, begitu, ya? Kerja disini harus banyak sabar, ya. Kkkk!”
“Saya bahagia, kok. Ngomong-ngomong… Mas diminta pergi ke ruangan ini.
Mbak Nila sudah menunggu,” pinta wanita perawat menunjuk pintu hitam di
seberang.
“Mbak Nila? Siapa dia? Eh, tunggu… aku ditunggu? Hah!? Saya sudah
lakukan apa!? Apakah saya sedang dalam masalah? Apakah Kakak tahu sesuatu?
S-saya tidak bersalah, kan!?” tanyaku panik.
“Tidak, kok. Mas Ragib tidak salah apa-apa. Mbak Nila itu gadis yang
baru datang tadi. Mohon maaf atas perilakunya, ya.”
“Hah, syukurlah kalau begitu,” hembusku lega sambil mengusap dada.
“Nila… memangnya dia kenapa, sih? Dia yang melempariku itu, kan?”
“Yah… Mbak Nila memiliki kondisinya sendiri terhadap laki-laki. Dengan
posisi Mas yang canggung tadi, wajar saja Mba Nila beraksi seperti itu. Tapi,
Mas benar-benar sudah ditunggu di ruang ini. Silakan,” ucap sang wanita perawat
yang langsung menunduk dan mempersilakanku untuk pergi ke ruangan di depan.
Jika ditilik kembali, rasanya ruangan di depan tidak sepenuhnya
tertutup. “Aku buka saja?” tanyaku heran kepada wanita perawat. Tapi, dia masih
terus menunduk dan memberikan senyum seperti seorang pramugari yang
mempersilakan penumpang untuk keluar dari pesawat.
Aku menelan ludah, mulai membuka pintu pelan, untuk melihat apa gerangan
yang sudah menungguku di dalam.
Kenapa gadis bernama Nila ini menungguku? Kenapa dia menyerangku? Apakah
ada urusannya dengan aksiku yang memeluk Suci dan Mamanya secara tidak sengaja?
Atau dia ingin meminta maaf? Wanita perawat bilang… Mbak Nila ini memiliki
kondisinya sendiri yang membuatnya wajar untuk menyerang laki-laki. Apakah dia
teman Suci? Bisakah aku mempercayainya?
SEPERTI ruangan-ruangan lainnya, ruangan di depanku ini didominasi oleh warna putih
bersih. Terlihat modern, terlihat sangat apik—meskipun lampu gantung sudah
diganti dengan lampu LED. Di bagian kiri ruangan terlihat meja panjang dan
perlengkapan komputer yang lengkap dengan tiga monitor, beberapa hiasan di atas
meja, dua kursi empuk yang masuk ke kolong meja, beberapa alat musik dan
alat-alat penunjang sistem suara lainnya, dan diakhiri oleh tenda segitiga di
sudut ruangan.
Di sisi ruangan di depanku, terdapat bean bag hijau terang dan
merah muda yang terlihat mengempis, lemari tinggi menutup separuh dinding, dan
diakhiri dengan sebuah bagian yang menjorok ke dalam di sudut bagian kanan. Sepertinya
terlihat siluet ranjang berwarna putih? Lalu di bagian kanan ruangan,
terdapat lemari pakaian yang dibenamkan ke dalam dinding, sebuah lemari buku
lebar, sampai akhirnya terdapat dua buah sofa yang membentuk sudut 90 derajat
dengan meja rendah di tengah sofa, persis berada di kananku.
Aku tidak bisa berhenti terperana, terus tersenyum menengadah ke seluruh
ruangan. Tidak hanya megah dan mewah, ini memang ruangan yang sangat luar
biasa, pikirku kembali melihat sekeliling ruangan. Sampai pada akhirnya
__ADS_1
terdengar suara yang menyakitkan gendang telinga, sebuah teriakan yang tidak
ragu-ragu, sebuah bentakkan dengan niatnya yang ingin menyingkirkan sesuatu.
Padahal sejak tadi aku menyelidiki seluruh ruangan ini dengan cermat.
Kenapa aku tidak sadar akan kehadiran mereka?
Di atas masing-masing bean bag, terdapat dua penampakan gadis
yang tidak asing. Dari gadis di bagian kiri dengan kacamata bulat dan rambut
bergelombang melebihi pundak, dialah ‘Mbak Nila’ yang disebutkan oleh wanita
perawat? Lalu ada pula gadis yang sedang tiduran bersandar di bean bag sebelah
kanan, tengah membaca sesuatu, dengan banyak remah wafer di dadanya, dan
sebuah toples tergeletak di sampingnya. Dialah Suci, yang tidak peduli kecuali
bersantai dengan kombinasi bean bag dan karpet bulu lembut di tengah
ruangan.
“Duduk di sofa itu! Cepat!” pinta sang gadis berkacamata sambil menunjuk
sofa di samping kananku ini. “Jelaskan secara singkat, padat, dan jelas sedang
apa kamu kemari? Dasar lintah darat. Tidak diajak sudah berani melakukan
pelecehan pada Suci dan Nyonya Besar. Sungguh tidak bisa dipercaya. Dasar
lelaki jahanam! Serigala busuk! Mati saja kamu!” lanjutnya lagi dengan penuh
emosi yang meledak-ledak.
“Ak–”
“Di-diam! Hoe-ekkk! Ekk!” potong sang gadis berkacamata sambil menahan
mulutnya, seperti ingin memuntahkan sesuatu dari dalam mulutnya. Dia pucat?
Memang separah itu atau hanya dibuat-buat? Tapi atas alasan apa dia muntah?
Karena aroma parfum di ruangan ini?
Aku pun mengendus, aroma apa yang membuat ‘Mbak Nila’ ini tidak nyaman?
Sebenarnya, memang ada ‘aroma’ di dalam ruangan ini. Hanya saja, aroma tersebut
adalah aroma yang manis, bahkan bukannya aroma yang terlalu kuat juga. Ini
adalah aroma yang menyenangkan, seperti aroma bunga, seakan kita bermain-main
di atas taman rindang yang menyejukkan.
Kalau memang dia alergi terhadap aroma disini, kenapa aku ditunggu di
sini?
Kkkk! Ada saja orang yang suka menyiksa dirinya sendiri.
“Eee-ekkk. Puh! Puh!” ludah sang gadis berkacamata menyudahi muntahnya.
“Kamu membuka mulut pun rasanya langsung menyebarkan aroma menjijikkan seperti
tempat sampah. Tidak bisa punya mulut yang bersih, apa!? Tidak pernah gosok
gigi, ya?”
“Eh? Apa hubungannya deng–”
“Sudah! Tidak perlu basa-basi. Hina sekali waktuku dihabiskan untuk
laki-laki sepertimu yang kurang ajar. Jelaskan saja dengan cepat!” pintanya
lagi dengan berteriak.
Sekalipun mulutku memiliki bau tanah ataupun kotoran kuda, jarak kita
berbicara dari ujung ruangan ke ujung yang lain, kan? Jaraknya mungkin sekitar
delapan meter. Apakah dia waras? Bisa mencium aroma mulutku sejauh ini?
Atau memang aroma mulutku seburuk itu?
Inikah alasan Remi atau Faisal hari ini enggan mengajakku nongkrong?
“Aku juga tidak tahu. Yang membawaku kesini itu Suci. Dia mengajak
pulang untuk perlihatkan sesuatu entahlah apa. Sisanya terjadi begitu saja,
sampai kamu melempar punggungku dengan apapun itu,” jawabku sambil mengangkat
bahu. “Tapi, kamu memang yang namanya ‘Mbak Nila’ itu, ya?”
“Tch, dia tahu namaku?” sebut gadis berkacamata dengan suara
tipis seperti sedang berbicara sendiri. “Kenapa pula aku harus beritahu
namaku padamu? Tidak penting! Mau diapakan nanti? Tidak bisa dipercaya! Lagipula,
kamu datang kesini karena diajak Suci? Bohong juga ada batasnya! Apakah kamu
tidak bisa membuat alasan yang lebih masuk akal!? Jelaskan dengan betul, dong!”
bentak Nila lebih lanjut.
“Aku bisa dengar decakanmu, tahu! Lagipula, aku tidak berbohong. Tanya
saja pada Suci sendiri. Dia yang ajak untuk melihat lebih banyak gambar
binatang,” jelasku.
“Sudah kubilang alasanmu it–” sebelum Nila selesai berbicara, Suci
terlebih dahulu memotongnya dengan suara cempreng lantangnya. Benar-benar
dipotong, suara Nila sampai tidak terdengar barang sedikitpun.
“Binatang…? Binatang! Ragib, binatang! Sekarang!” seru Suci nyaring. Dia
berteriak seperti orang kesurupan, seperti dia baru teringat oleh sesuatu yang
sangat penting. Dia tinggalkan buku bacaanya, simpan sembarangan barang itu
dimana saja. Suci menyeka bajunya, bangkit lalu berdiri, untuk kemudian
mendekatiku dengan semangat penuh gairah, dengan matanya yang bersinar lebih
terang dari bintang-bintang.
“Suci!?” pekik Nila tidak percaya, juga sedikit kebingungan. Reflek, dia
hendak meraih tangan Suci untuk mengikutinya, mungkin juga untuk memaksanya
duduk di sampingnya. Namun, tiba-tiba saja gadis itu merasa enggan untuk
bangkit. Dia kembali duduk manis, membiarkan Suci menarik tanganku, untuk pergi
keluar dari ruangan.
Aku yang kebingungan sebenarnya sedikit bersyukur, karena bisa
mengakhiri ocehan Nila yang tidak masuk akal. Meskipun sebenarnya, aku juga
tidak begitu tahu apakah yang akan aku lihat ini adalah hal yang lebih baik
atau buruk, batinku mulai bimbang
Pergi dari ruangan, kami pun melewati koridor sekaligus ruang makan di
bagian kanan dengan taman yang berada di belakangnya di balik pintu kaca, juga
dapur yang sedang digunakan oleh wanita perawat di sebelah kiri. Selanjutnya, aku
melewati ruang tamu lagi, mengikuti masuk menaiki tangga, melewati ruangan
besar terbuka yang diisi oleh berbagai alat olahraga seperti treadmill, sepeda
statis, matras yoga di lantainya, dumbbell, bahkan ada samsak tinju?
Sampai akhirnya aku berada di depan pintu berwarna putih, dengan sebuah
papan nama bertuliskan ‘Suci’ di depannya. “Ayo!” ajak Suci dengan riang.
\~\~\~\~\~\~\~\~
Ternyata gak cuman dilempar tas seenaknya
Perempuan yang namanya nila ini kayaknya dendam kesumat sama Ragib
WKWKWKWWKWKWKWK
Bahkan nganggep Ragib seakan-akan kaya Binatang hina gitu
Jahat amat ya…
Selamat datang lagi, teman-teman!
Selain punya kamar mandi yang super besar, rumah ini punya ruangan khusus ruang bermain? Keren,
ya! udah kaya villa aja!
Tapi baru disuguhi fasilitas enak, Ragib udah disuruh suruh aja kaya pembantu
Kasian deh hidupnya
Btw …
__ADS_1
See you next time ;)
Tungguin setiap minggu untuk chapter barunya, ya!