Sibadgirl, Kelebihan Hormon

Sibadgirl, Kelebihan Hormon
sikulkas yang manja


__ADS_3

Sudah tiga hari Lala keluar dari rumah sakit dan sudah tiga hari juga Naila dimansion. Panraj senang karena sekarang ada anak dan cucu yang bisa menemani nya dirumah, seperti Naila yang sudah menganggap Lala anak nya maka Panraj menganggap Lala cucu nya, Panraj begitu menyayangi Lala terlihat Panraj sering menemani Lala atau menggendong Lala.


Naila sangat senang karena ayahnya begitu menyayangi Lala, Naila sudah berhenti bekerja di showroom milik Samar walaupun dia bekerja disana hanya untuk menyusui bayi gedenya alias Samar. Selama tiga hari Samar tidak mendapat ASI dari Naila itu membuatnya kurang semangat bekerja padahal dia harus bekerja lembur sebelum dia keluar negeri untuk menjemput kedua orang tuanya. Orang tua Samar akan menikah kan anaknya jika anak nya itu menjemput mereka kesana mau tak mau Samar harus menjemput mereka agar dia bisa menikah dengan Naila.


Samar mengirim pesan kepada Naila, dia mengatakan tidak kekantor karena sakit dan Samar hanya mau dirawat oleh Naila.


[Sayang aku sakit, aku mau kamu yang rawat aku, kamu kesini ya, CEPATTT!!! ]pesan dari Samar.


Naila menghela nafas melihat pesan yang dikirimkan Samar. Naila bergegas ke walk in closet dan mengganti baju nya. Setelah berganti baju Naila menghampiri ayah dan anaknya itu.


"Pa Naila mau ke mansion Samar, katanya Samar sakit," ucap Naila kepada sang ayah.


"Kamu bawa Lala? " tanya Panraj.


"Maunya sih tapikan Samar sakit takutnya Lala ketularan, " sahut Naila.


"Apa kamu lama? " tanya Panraj lagi.


"Kalau Samar memberi izin untuk pulang mungkin gak nyampe malam!"


Panraj menghela nafas dia tau Samar tidak akan mudah membiarkan Naila untuk pulang apalagi sedang sakit ini. Beberapa bulan dekat dengan Samar membuat Panraj tau karakter Samar.


"Sebaiknya kamu bawa Lala aja, takut nanti dia nangis karena ingin ASI dari kamu, Samar sedang sakit itu tidak mungkin mudah buat kamu pulang dengan cepat atau dia akan menyuruhmu bermalam! " Panraj memang sudah tahu bahwa Naila bisa mengeluarkan ASI karena sewaktu sampai di mansion saat Lala baru keluar rumah sakit dia menangis dan Naila harus menyusui nya.


"Baiklah, papa tidak kekantor?" Tanya Naila.


"Sebentar lagi! " sahut Panraj. Hari memang masih pagi, jam baru menunjukkan pukul 8.


"Kalau gak sibuk-sibuk banget mending papa dirumah aja! " ujar Naila karena papa nya jam segini masih dirumah itu berarti gak sibuk-sibuk amat kan di kantor?.


"Papa ada meeting jam 10 nanti,"


"Oo, kalau begitu Naila pergi ya pa! " pamit Naila lalu menggendong Lala.


"Hati-hati sayang! " ucap Panraj. Naila mengangguk lalu mencium punggung tangan sang ayah.


Naila keluar dan memilih naik taksi saja kerumah Samar.


****


Naila sudah sampai di mansion Samar, dia masuk kerumah dan para penjaga yang membukakan pintunya. Didalam Naila disambut oleh kepala pelayan.


"Samar dikamar bi? " tanya Naila.


"Iya nona," sahut pelayaran itu.

__ADS_1


"Apakah Samar sudah sarapan? " tanya Naila.


"Belum nona, katanya tidak bernafsu,"


"Yasudah, kalau begitu Naila keatas dulu ya bu."


"Iya nona."


Naila berjalan menuju lift untuk kekamar Samar yang berada dilantai tiga. Sesampainya nya didepan kamar Samar Naila tidak langsung masuk dia mengetuk pintu dulu takutnya Samar sedang tidur.


Tok tok tok


"Samar ini aku! " ucap Naila sambil mengetuk.


Ceklek


Samar langsung membuka pintu saat tau yang mengetuk itu adalah kekasih nya.


"Sayang! " ucap Samar manja dan hendak memeluk Naila tapi Naila tahan karena dia sedang bersama Lala takutnya nanti akan tertular ke Lala.


"Jangan peluk, gak liat ini aku sedang gendong Lala," peringat Naila dan Samar cemberut. Samar memilih kembali keranjang dengan berjalan gontai.


Naila berjalan menuju ranjang bayi yang sudah disiapkan oleh Samar karena mereka ingin menikah jadi harus persiapan lebih dulu. Naila meletakkan Lala yang sedang tidur itu diranjang bayi. Setelah meletakkan Lala, Naila langsung menghampiri Samar dan duduk ditepi ranjang sambil memegang dahi Samar.


"Gak ada kamu jadi sakit deh! " ujar Samar.


"Masa? Kamu aja yang kerja rodi gak perduliin kesehatan! "


"Kesehatan aku gak nemenin aku kerja,"


"Kaata papa aku gak boleh kerja lagi fukos urusin Lala aja! "


"Urusin aku juga dong sayang," ucap Samar dengan manja.


"Iya ini aku urusin kamu."


"Berbaring sini! " Samar menepuk-nepuk kasur pertanda menyuruh Naila untuk berbaring disebelahnya.


"Kamu belum makan kan? Makan dulu ya nanti aku temenin tidur! "


Samar menggelengkan kepalanya, "aku mau minum aja," uucap Samar.


"Yasudah aku ambilin dulu."


"Gak, aku mau minum ini aja." tunjuk Samar kearah dada Naila.

__ADS_1


"Makan dulu biar perutnya isi,"


"Gak mau, aku mau ini! " rengek Samar.


Naila menghela nafas kasar, dia harus sabar menghadapi sikap manja Samar. Gak kebayang sih Naila seorang badgirl yang gak suka dengan laki-laki alay atau manja sekarang malah dapat pacar yang sangat manja.


"Minum ini doang gak kenyang Samar,"


"Kenyang kok kalau minumnya seharian."


"Gak bisa seharian dong, nanti Lala juga mau. "


"Lala paling siang nanti baru *****, sekarang aku dulu yang nen. "


"Minum obat dulu ya,"


Samar menggeleng, "gak mau ayangg, aku mau nen. " rengek Samar seperti bayi.


Dengan sedikit gemes Naila berbaring disamping Samar. Dia berbaring lebih tinggi dari Samar agar wajah Samar langsung berhadapan dengan payudara nya.


Samar tersenyum saat di depannya ini adalah benda yang sangat disukainya. Beruntung Naila peka dengan memakai kemeja agar mudah untuknya membuka baku itu.


"Gak minum ini selama tiga hari buat aku sakit ayangg, " ucap Samar manja sambil membuka kancing baju.


"Sekarang aku gak kerja lagi dan gak bisa menyusui bayi gede aku ini tiap hari! " gemes Naila sambil mencubit ppipi Samar.


"Aaa ayang atittt, " ucap Samar seperti suara bayi.


"Ututututu sakit ya, maaf ya bayi gedenya Naila. " Naila sangat gemes dengan tingkah manja kekasih nya itu.


Samar tidak menjawab dia fukos dengan membuka bra Naila. Setelah bra terbuka mata Samar berbinar melihat sumber ASI nya itu, berasa lama gak lihat padahal baru tiga hari.


"Hai aku rindu kalian! " sapa Samar pada kedua payudara Naila. Naila terkekeh karena Samar seperti bayi yang mengajak temannya berbicara.


"Aku mau nen ini itu ya, nanti kamu setelahnya nya, " ucap samar menunjuk payudara Naila yang sebelah kanan.


"Sebelah aja, sebelahnya buat Lala." goda Naila.


Samar mendongak dan menatap Naila yang sedang terkekeh.


"Gak mau, aku mau dua-duanya ayanggg, " rengek Samar.


"Ha ha ha, iya sayang dua-duanya, " tawa Naila. Samar langsung melahap payudara Naila dengan kuat membuat Naila terkejut dan mendesah.


"Ahhh Samar pelan,"

__ADS_1


__ADS_2