Sibadgirl, Kelebihan Hormon

Sibadgirl, Kelebihan Hormon
mengadopsi Azhar


__ADS_3

Tadi malam Naila sudah bicara pada ibu panti untuk mengadopsi Azhar. Ibu Tina memberikan Azhar dengan tulus, dia percaya bahwa Naila akan menjadi Ibu yang baik untuk Azhar dan Lala nanti. Azhar sangat senang karena ibu panti mengizinkan dia untuk menginap di rumah Sang ibu angkatnya.


Pagi nya Naila segera pulang karena dia akan mengatakan pada Panraj untuk mengadopsi anak lagi.


Naila pulang dengan menggunakan taksi dan tidak menelpon pak Gojo. Dalam perjalanan senyum Azhar terus mengembang dan membuat Naila gemes.


"Azhar senang ikut mama? " tanya Naila.


Azhar mengangguk semangat, "Azhal senang banyak-banyak hihi. " Azhar cekikikan.


Naila ikut terkikik mendengar suara antusias Azhar. "Nanti dirumah mama kita akan ketemu opa sayang. " beritahu Naila.


"Opa? " bingung Azhar.


"Iya opa, ayah dari mama dan itu kakek Azhar, "


"Azhal punya kakek? " tanya Azhar senang.


"Iya Azhar punya dan nanti panggil dengan sebutan Opa ya? " sahut Naila.


"Oke mama, " ujar Azhar mengangguk, untuk usia Azhar yang akan memasuki empat tahun itu dia sudah berbicara dengan lancar walaupun masih belum bisa mengatakan huruf R. Azhar anak yang pintar terbukti saat pengurus panti mengajarkan sesuatu seperti membaca dan menghitung Azhar lebih cepat mengerti dari pada Adel.


"Kenapa adek tidul telus?padahalkan Azhal mau main sama adek bayi. " ujar Azhar yang memandangi Lala dipangkuan Naila.


"Adek bayi emang selalu tidur sayang. "


"Adek gak boleh tidul telus, gak baik. " Azhar malah menasehati Lala yang masih tertidur itu.


Naila gemes dengan Azhar yang bicara terus tanpa rasa lelah, "adek bayi tidur sayang mana bisa diajak bicara. " ucap Naila.


"Emang adek gak dengal? " tanya Azhar.


"Kalau tidur mana bisa mendengar sih, " Naila mencubit gemes pipi Azhar.


"Mama gak boleh cubit dan cium Azhal, Azhal udah Besal."peringat Azhar yang tidak mau lagi dicium dan cubit pipi nya.


Naila tertawa dan Sopir taksi yang menyaksikan itu ikut tertawa kecil. Mereka kini sudah sampai dikediaman Albirru, Azhar menatap kagum mansion mewah milik sang ibu angkatnya.


"Woahh, rumah mama besal. " Azhar berlari dihalaman mansion tersebut.


Naila terkekeh,"jangan lari-lari dulu sayang, kita temui Opa dulu sebelum Opa pergi. "Naila mengajak Azhar untuk masuk.

__ADS_1


Ting tong


Naila memencet bel karena pintu masih terkunci, Naila memang pulang pagi-pagi sekali maka dari itu Lala masih tidur.


Ceklek


Pintu dibuka oleh Panraj dan bukan dibuka Bi Ijah karena biasanya bi Ijah akan memasak untuk sarapan pagi disaat jam segini.


"Morning pa, " ucap Naila.


"Morning, " sahut Panraj lalu melihat kearah Naila yang sedang menggendong Lala. Panraj belum menyadari bahwa Naila membawa satu balita laki-laki, Panraj meminta Lala untuk digendong nya dan masuk kedalam.


"Ma, " cicit Azhar yang sedang berada dibelakang Naila.


Naila menoleh kearah belakang dan tersenyum lalu menggenggam tangan mungil Azhar.


"Kenapa sayang? " tanya Naila saat melihat wajah muram Azhar.


"Apakah Opa tidak menyukai Azhal? Soalnya Opa tidak menyapa Azhal. " lirihnya.


Naila tersenyum, "Opa tidak liat kamu yang berada dibelakang mama tadi sayang. Kamu samperin Opa dan sapa Opa ya. " titah Naila dan Azhar mengangguk ragu, dia agak takut jika sang Opa tidak menyukainya, tapi dia harus mencoba menyapa kan? Azhar mendekati Panraj yang sudah duduk disofa sambil menciumi Lala hingga terbangun.


"Opa, " Azhar bersuara pelan saat sudah disamping Panraj. Dia menunduk tidak berani menatap ekspresi Panraj, dia takut Panraj tidak akan menerima diri nya.


Azhar mendongak menatap Panraj, "Opa, " panggil Azhar lagi.


"Iya? Siapa namanya hm? " tanya Panraj.


"Azhal, " sahut Azhar antusias karena dia dapat melihat bahwa Panraj tampak menyukai dirinya.


Panraj terkekeh mendengar suara cadel Azhar, "cucu Opa juga? " tanya Panraj lagi.


Azhar menganggukkan kepala nya dengan semangat, "iya Opa. " girang nya.


"Duduk sebelah Opa sini? " Panraj menepuk-nepuk sofa disamping nya, saat Azhar ingin duduk dia tidak bisa karena kaki nya yang masih pendek, Naila membantu Azhar untuk duduk.


Naila ikut duduk tapi dia berhadapan dengan Panraj. "Pa Naila mengadopsi Azhar. " ucapnya.


Panraj menatap anaknya itu, "apakah tidak repot nanti? " tanya Panraj yang takut anaknya kerepotan.


"Apakah papa keberatan? " tanya Naila.

__ADS_1


"Papa tidak keberatan, hanya saja papa takut kamu akan kerepotan merawat dua anak padahal sebentar lagi kamu akan menikah, mereka masih kecil dan papa takut kamu hamil dan itu akan tambah merepotkan kamu. "


"Banyak maid yang akan menjaga anak-anak pa, lagian Naila gak tega biarin Azhar bersedih. "


"Papa terserah kamu saja, apakah kamu sudah memberi tahu Samar dan orang tuanya? "


"Naila akan memberi tahu Mommy nanti. "


Panraj menaikkan sebelah alisnya, "kenapa tidak Samar? " tanya Panraj.


"Karena Naila sengaja, " sahut Naila terkekeh dan Panraj ikut terkekeh, dapat dipastikan sekarang calon menantunya itu uring-uringan karena Naila tidak menghubungi nya.


"Mama adek bayi nangis, " beritahu Azhar bahwa Lala sedang menangis dipangkuan sang Opa.


"Papa sih dibangunin, sini Lala biar Naila bawa kekamar. " Naila mengambil alih Lala, "Azhar sini dulu ya ajak Opa bicara, mama mau tidurin adek dulu, karena adek keliatan nya masih mengantuk, " titah Naila dan Azhar mengangguk, Naila bergegas kekamar nya untuk menyusui Lala.


"Azhar sudah sekolah? " tanya Panraj, dia berpikir bahwa Azhar sudah sekolah karena anak itu cepat bisa bicara dan kelihatan pintar.


Azhar menggeleng, "belum Opa, kata mama saat umul Azhal empat tahun balu Azhal sekolah, " Naila memang mengatakan bahwa Azhar akan sekolah pada umur empat tahun pada anak itu.


"Memang kamu mau sekolah? "


"Mau Opa, kata mana disekolah kita bisa banyak dapat teman sepelti teman-teman Azhal dipanti. " antusias Azhar.


Panraj terkekeh dan mengacak rambut Azhar dan mendapat protes dari Azhar, "Opa jangan acak lambut Azhal, kata Adel kalau lambutnya belantakan Azhal gak ganteng. "Azhar sudah berani bersikap galak didepan Panraj, bukannya Panraj takut dia malah gemes melihat ekspresi galak itu.


"Emang Azhar ganteng? " tanya Panraj.


"Iya, kata Adel ganteng, Adel suka Azhal. "


"Gantengan Opa, " jahil Panraj.


"No, ganteng Azhal, Azhal masih muda dan Opa sudah tua, " Azhar menggerakkan jari telunjuk nya kekanan dan kekiri.


"Iya Opa tua tapi masih ganteng nih, " Panraj mengangkat dagu angkuh.


"Opa tidak boleh sombong, " nasehat Azhar karena melihat wajah angkuh kakeknya itu.


Panraj terkekeh karena dinasehati oleh balita, "Azhal juga sombong, "


"No, Azhal tidak sombong, Adel sendili yang bilang kalau Azhal ganteng. "

__ADS_1


Panraj kembali terkekeh, uhh gemesnya dia dengan balita laki-laki ini, hidup Panraj semakin berwarna karena dia ada teman debat.


__ADS_2