
Setelah selesai berbicara serius dan menyusu Samar pamit pulang dan Naila akan mengantarkan Samar sampai bawah.
Sesampainya mereka di lantai bawah Panraj dan Azhar ada diruang tamu, cucu dan kakek itu sedang bersantai disofa karena kelelehan jalan-jalan dan berbelanja terbukti banyak paper bag diruang tamu itu.
"Baru pulang pa? " tanya Naila lalu menghampiri kakek dan cucu yang sedang duduk itu.
"Iya, " sahut Panraj dengan mata terpejam.
Azhar menoleh saat mendengar suara ibu angkatnya itu, "mamaaa, " seru Azhar lalu berlari mendekati ibunya itu.
"Senang hm, " tanya Naila lembut pada Azhar yang kini sudah memeluk kakinya.
"Senang,, " seru Azhar lalu dia melihat kearah pria yang disamping ibunya.
"Paman? " tanya Azhar saat mengingat wajah Samar waktu datang ke panti bersama Naila dulu.
Samar tersenyum lalu berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Azhar, "no paman, tapi papa. " ujar Samar.
"Papa? " beo Azhar lalu dia mendongak melihat kearah Naila.
Naila tersenyum lalu mengangguk, "iya sayang dia papa Azhar. " ujar Naila.
"Yeayyy Azhal punya papa, " senang Azhar lalu dia memeluk leher Samar dengan erat.
"Azhar mau bunuh papa hm? " tanya Samar karena merasa pelukan Azhar terlalu kuat.
"Ck, lemah banget padahal Azhar anak kecil lohh, " cibir Panraj yang sedari tadi membuka mata karena mendengar suara Samar dan Samar hanya acuh mendengar cibiran dari calon mertuanya itu.
"Hihi maaf papa, Azhal senang jadi peluk papa elatt. " Azhar melonggarkan pelukannya dan Samar mencium gemes pipi gembul Azhar.
Cup
Cup
Cup
"Haha belhenti papa, Azhal geli dan Azhal juga udah besal jadi jangan cium cium haha. " tawa Azhar sembari menjauhkan wajah Samar dari wajahnya.
Samar menghentikan ciumannya, "siapa bilang Azhar sudah besar? Azhar masih kecil. " gemes Samar.
"Azhal besall papa, " seru Azhar.
"Kecil, "
"Besal."
"Kecil, "
"Besallll." teriak Azhar dan membuat Samar tertawa kecil. Panraj dan Naila yang melihat interaksi antara Samar dan Azhar tersenyum kecil.
__ADS_1
"Iya Azhar sudah besar, mau ikut pulang kerumah papa? " tanya Samar pada Azhar.
Azhar nampak berpikir, "Azhal mau sama mama. " ucapnya.
"Kenapa? " tanya Samar.
"Kalena Azhal mau sama mama, "
Samar terkekeh, "Azhar masih kecil makanya mau sama mama terus kan,, " ledek Samar, uhh kenapa Samar sangat menyukai Azhar? Karena Azhar lucu dan gemesin.
Azhar menggeleng kuat, "no no no, Azhal udah besall. " Azhar menunjukkan jari telunjuk mungilnya itu dan menggerakkan kekanan dan ke kiri.
"Kalau udah besar kamu ikut papa yaa. " ajak Samar, seperti nya hari hari nya akan bertambah semangat walau hanya sedikit, beda lagi kalau Naila yang ikut mungkin dia akan lebih semangat lagi untuk menyusu ehh? Xixixi.
"Azhal mau ikut papa, tapi Azhal belum pelnah nginap sini, " jelas Azhar kenapa alasan dia mau bersama mamanya_Naila.
"Tiga hari nanti kita akan tinggal sama-sama, sekarang Azhar ikut papa dulu yaa, papa kasian lohh sendirian kalau mama kan sudah ada adek Lala. " Samar memelas pada Azhar.
'Dia menerima dan menyayangi Azhar layaknya anak sendiri, ' batin Naila yang sedari tadi melihat interaksi antara Samar dan Naila.
"Kenapa papa gak tinggal sini aja? " saran Azhar.
"Kalau boleh yaa papa maulah tinggal disini, " senang Samar, siapa yang gak mau coba tinggal seatap dengan gadisnya yakan?.
"Boleh kan ma? " tanya Azhar pada Naila.
"Tidak boleh, " larang Panraj, enak aja mau tinggal kan Samar dan Naila belum menikah.
Azhar menoleh kearah Panraj, "kenapa tidak boleh opa? " tanya Azhar.
"Mereka belum menikah, " jawab Panraj memberitahu cucu laki-laki nya tersebut.
"Menikah? " bingung Azhar.
"Kalau belum menikah laki-laki sama perempuan belum boleh tinggal bersama sayang, " Naila memberi tahu Azhar. Azhar hanya mengangguk saja walaupun dia belum mengerti maksud dari menikah itu, yang dia tahu kalau belum menikah tidak boleh tinggal bersama.
"Kenapa kamu kesini? Bukan kah tidak boleh bertemu dulu? " tanya Panraj pada Samar.
"Mau nen pa, " jawab Samar spontan.
"Heh, " sentak Panraj.
Samar kaget dan dia baru sadar apa yang dia ucapkan tadi, mendadak dia ketar ketir melihat calon mertuanya itu Memolototi nya.
"Papa nen? " tanya Azhar dan Naila ikut Memolototi Samar.
Samar gelagapan, "gak, papa gak nen papa kan udah besar ha ha, " Samar tertawa canggung.
Azhar mengangguk, tapi Panraj masih menatap sengit kearah Samar.
"Aku mau bicara serius tentang Azhar pa makanya kesini, lagian aku juga udah izin sama Mommy, " ucap Samar dengan menyebut Panraj dengan sebutan 'pa' bukan 'paman' lagi.
__ADS_1
Panraj memicing, "bicara sambil minum susu kan? " sinis Panraj.
Samar otomatis mengangguk lalu dia menggeleng kan kepalanya, 'sial gak bisa diajak kerjasama mulut dan tubuh ini, 'Samar mengumpati dirinya sendiri karena mulut dan tubuhnya spontan mengaku.
"Kamu ini mass, " Naila mencubit pelan lengan kekar Samar, wajah Naila memerah karena malu akan kejujuran Samar itu.
"Spontan yang, " cengir Samar.
Panraj menggeleng kan kepalanya, "dasar anak zaman sekarang suka nyicil lebih dulu. " Panraj ngedomel.
"Enak pa, " jawab Samar spontan lagi karena dia mendengar Panraj ngedomel, saat sadar Samar bergegas menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Mass, "
"Samar,"
Naila dan Panraj spontan melotot lagi kearah Samar.
"Papa." Azhar ikutan memanggil Samar padahal dia tidak tahu apa-apa.
Samar melihat kearah Azhar, "iya kenapa? Mau ikut papa pulang? Ayoo kita pulang sekarang. " ajak Samar terburu karena dia takut disemprot mertuanya itu.
Samar menarik pelan tangan mungil Azhar dan dia berjalan keluar, Panraj dan Naila terkekeh karena tingkah Samar.
"Belhenti papa, " ucap Azhar saat dirinya ditarik pelan oleh Samar dan spontan Samar berhenti.
"Kenapa? Gak mau ikut papa hm? " Samar bertanya sambil memperlihatkan wajah sedihnya agar Azhar kasian.
Dan benar saja, Azhar kasian melihat wajah sedih papa nya itu, "Azhal mau ikut, tapi pamit dulu ke mama dan opa, " ucap Azhar dan membuat senyum Samar mengembang.
Samar kembali mendekat kearah calon mertuanya itu, "pa pamit dan maaf udah icip dikit, " ucap Samar dan mendapat tatapan sengit dari mertua nya itu.
"Mau ditambah hari pingitnya, " ancam Panraj dan Samar menggeleng kuat.
"Opaa Azhal mau ikut papa, " Azhar pamit ke Panraj.
Panraj berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Azhar dan membisikkan sesuatu ke Azhar membuat Samar was-was.
"Ingat pesan opa oke? " senyum jahil Panraj terlihat.
"Oke opa, " sahut Azhar lalu memeluk Panraj.
Setelah memeluk Panraj,Azhar mendekati Naila, "mama Azhal pelgi dulu yaa.. " pamitnya pada Naila.
"Iya sayang, jangan nakal ya dirumah papa, " peringat Naila dan Azhar mengangguk. Naila memeluk dan mencium Azhar.
"Aku pulang ya sayang. " pamit Samar pada Naila dan diangguki oleh Naila, "Hati-hati." ujar Naila.
"Pa kami pulang, " ujar Samar pada mertuanya itu dan dibalas deheman saja.
"Dadahhh mama, opaa. " Azhar melambaikan tangan mungilnya kearah ayah dan anak itu.
__ADS_1