
"Sepertinya ada yang ingin bermain dengan anak-anak kita. " ujar Shykar pada Panraj. Saat ini Shykar dan Panraj sedang berada di sebuah cafe untuk makan malam sambil membicarakan tentang anak-anak mereka yaitu Samar dan Naila.
"Benar, apa yang harus kita lakukan? " tanya Panraj.
Shykar tersenyum miring, "Kita akan menyusun rencana untuk mempertahankan rumah tangga anak-anak kita tapi kita akan tetap membuat orang itu merasa menang. " jelas Shykar.
Panraj mengernyit bingung, "Bisa jelaskan secara detail? Usia ku yang sekarang membuat otak ku agak lemot berfikir, " ujar Panraj.
"Hahaa, kasian yang udah tua. " ledek Shykar yang tidak menilai dirinya sendiri, mereka itu sama-sama tua tapi Shykar keliatan tidak sadar diri.
"Gak sadar diri. " cibir Panraj.
"Apa? Gak sadar diri? Aku masih muda yaa. " ujar Shykar yang tidak terima dikatain gak sadar diri itu berarti Panraj juga menyebutnya tua kan? Enak aja dia kan masih muda xixi.
"Tua an kamu dari aku. " cibir Panraj, benar memang tua an Shykar dari Panraj kok.
"Tapi aku awet muda. " sombong Shykar.
"Ck, lanjutkan pembicaraan tadi aja deh. " decak Panraj yang sudah merasa kesal dengan sikap sahabatnya itu.
"Hahah sensi amat, makanya cari istri deh gak bosen apa jadi duda mulu. " ejek Shykar semakin menjadi.
Panraj memutar bola matanya malas, "Sudah deh, ini mau dilanjutkan atau tidak? Kalau tidak aku mau pulang dan tidur saja. "
Shykar terkekeh karena untuk sekian kalinya dia berhasil menggoda teman duda nya itu. "Oke kita serius, jadi...... " Shykar menceritakan semua rencana nya dan didengar baik oleh Panraj.
"Perlu kita gabung dengan mereka lagi? " tanya Panraj.
Shykar menggeleng, "Tidak usah, kita cukup meminta bantuan para mafia itu saja dan tidak perlu gabung lagi, aku tidak mau membahayakan keluarga ku sama seperti mu.. Karena keras kepala mu itu lihatlah istrimu yang menjadi korban. "Ucap Shykar.
Panraj terdiam karena mengingat mendiang sang istri yang meninggal bukan karena penyakit tapi karena racun yang sengaja di masukkan seseorang ke tubuh sang istri, dan Naila belum mengetahui fakta ini. Sebab diri nya lah istrinya meninggal, karena musuh yang dia punya dimana-mana. Oleh sebeb itu Panraj menjaga jarak dengan Naila dengan alasan, jika melihat Naila maka dia akan teringat mendiang sang istri, padahal sebenarnya dia tidak ingin putri satu-satunya ikut di incer oleh musuhnya walaupun dia sudah berhenti bergelut didunia bawah.
Shykar yang paham akan diamnya sang sahabat berusaha mencairkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan. "Samar dan Naila, akan berangkat honeymoon besok pagi. Untuk dua hari ke depan Azhar bersama kamu dulu ya! " ucapnya.
Panraj yang tadi sedih tiba-tiba mendelik kesal kearah Shykar. "Udah aku bilang, kalau aku gak bisa. Aku mau keluar kota buat urusan bisnis. " tukas nya.
"Bawa! " celetuk Shykar tanpa beban.
"Gak, udah! Ini gimana soal anak-anak nanti? " tanya Panraj.
Shykar menghela nafas. "Kita tidak bisa ngatur rencana karena kita belum tau apa yang akan di perbuat orang itu buat misahin Naila dan Samar. "
"Cari tau dong! "
Shykar mendengus kesal. "Lo juga cari tau. "
"Iya, yaudah aku mau pulang. " ujar Panraj yang sudah hendak pulang.
"Santai, lagian kamu duda. Gak ada yang nungguin dirumah. " ejek Shykar.
"Lah, kamu bini ada dirumah! Ngapain diluar lama-lama? Nanti bini ngamok loh. "
(Aihh kelakuan kakek-kakek itu sama seperti ABG xixixi). Shykar mendengus. "Yaudah, kita pulang. "
Panraj pun tersenyum lalu dia berdiri dan diikuti oleh Shykar. Mereka pun pulang ke mansion masing-masing.
***
"Sayang! " panggil Samar pada Naila.
Naila menoleh kearah Samar yang sedang duduk di tepi ranjang itu sedangkan Azhar sudah tidur. Naila baru saja meletakkan Lala di ranjang bayi lalu dia berjalan mendekati Samar.
"Kenapa? " tanya Naila.
__ADS_1
"Mau nen. " rengek Samar.
Naila memutar bola matanya malas, baru saja selesai menyusui Lala dan sekarang dia harus menyusui bayi gede nya lagi.
"Azhar tidur bareng kita loh! " ujar Naila.
"Cuma nen, ayangg! " manja Samar.
Naila menghembuskan nafas kasar, lalu dia membaringkan tubuhnya ke sisi kanan ranjang. Samar tersenyum lalu dia menggeser Azhar ke sisi kiri ranjang agar dia bisa berbaring di tengah dan lebih mudah menyusu.
"Ayangg!! " ucap Samar manja setelah dia sudah berbaring disamping Naila.
Naila memiringkan badannya menghadap Samar. "Sekarang habis menyusui bayi kecil, aku pun harus menyusui bayi gede ku ini... " gemes Naila. Sungguh, dia merasa menjadi ibu muda dengan dua bayi yang usia bayi itu berbeda jauh.
Samar tidak mengindahkan ucapan Naila, dia malah membuka kancing baju piyama Naila. Naila terkekeh melihat Samar yang membuka dengan tidak sabaran.
"Gak sabaran. " kekeh Naila saat baju nya sudah terbuka dan Samar segera melahap Niple kesukaannya itu.
"Aku mau lebih dari ini! " ucap Samar disela isapannya pada Niple Naila.
"Dih, enggak yah. " tolak Naila.
"Biar cepat jadi junior kita. " ujar Samar.
"Malam ini doang gak main. Lagian, besok kita pergi honeymoon! "Ucap Naila.
Samar mengangguk seraya melahap rakus ASI Naila. Tangan sebelah nya meremes-remes buah d*d* itu.
"Ahh, Mas! " desah Naila karena remesan Samar begitu kuat.
"Gemes, hihi! " Samar malah cengengesan.
"Sakit tau. " kesal Naila.
Samar terkekeh melihat Naila yang malu-malu. " Ngapain malu, hm? Kan kita sudah nikah! " goda Samar.
"Diam, Mas! " ujar Naila yang membuat Samar tergelak pelan.
***
Pagi nya, Samar dan Naila beserta Lala sudah siap untuk pergi honeymoon.
"Sarapan dulu! " ucap Desi pada keluarga kecil yang baru turun dari atas itu.
Samar menggandeng tangan mungil Azhar dan berjalan menuju meja makan diikuti oleh Naila yang sedang menggendong Lala.
"Morning, Mom Dad. " ucap Naila dan Samar bersamaan.
"Molning, Kek Nek! " ucap Azhar dengan suara cadel nya.
"Papapapapapa.. " Lala ikut berceloteh dan membuat yang lain tertawa gemes.
"Morning!! " ucap Shykar dan Desi bersamaan.
Mereka duduk dan sarapan dengan tenang. Tidak tenang sih, karena Azhar terus berceloteh dan minta dibelikan banyak hal pada Samar.
"Mamamamaaa." celoteh Lala seraya menepuk-nepuk dada Naila.
Naila terkekeh karena Lala meminta ASI. "Anak mama lapar? Bentar yaa, mama mau minum dulu. " ucapnya lalu Naila mengambil gelas dan meminumnya hingga tandas.
"Naila mau menyusui Lala dulu, Mas, Mom, Dad. " izin Naila yang ingin menjauh lebih dulu.
"Iya, sayang! " ucap Samar, sedangkan orang tua Samar mengangguk kan kepala saja.
__ADS_1
"Adek bayi nen? " tanya Azhar setelah Naila sudah menjauh.
"Iya! " sahut Samar.
"Azhal, juga mau nen! " ujar Azhar.
"Heh, gak boleh. Kamu udah gede! " ucap Samar.
"Tapi, papa tadi malam nen ke mama. " ucap Azhar polos.
Uhuk uhuk
Uhuk uhuk
Uhuk uhuk
Shykar, Desi dan Samar tersedak makanan karena mendengar ucapan polos dari Azhar. Shykar dan Desi menatap tajam kearah Samar.
"Gak bisa nahan diri, padahal semalam doang. " cibir Shykar.
'Ni bocil liatkah, tadi malam? 'Batin Samar bingung. Perasaan, tadi malam Azhar tidur pulas.
"Azhal mau nen! " ucap Azhar lalu dia berusaha turun dari kursi.
Samar menahan Azhar yang ingin turun itu. "Azhar, gak boleh nen. " ujar Samar.
"Tapi, papa tadi malam nen! "
"Itu bukan papa! " kilah Samar.
Shykar dan Desi hanya menyaksikan drama antara anak dan papa angkat itu. Sesekali, mereka terkekeh karena ucapan polos yang keluar dari mulut Azhar.
Azhar memiringkan kepalanya lucu. "Kalau bukan papa, siapa dong? " tanya Azhar. "Hantu kah? " lanjutnya polos yang membuat Shykar dan Desi tergelak.
Samar sendiri mendengus kesal karena dia disamakan dengan hantu.
***
"Mom, Dad, Pa! Kami pamit, jagain Azhar. " pamit Naila kepada orang tuanya dan orang tua Samar. Saat ini, mereka berada di beranda ehh di bandara untuk mengantarkan kepergian pengantin baru yang hendak berbulan madu itu.
"Iya, pasti kami jagain. " ucap Panraj.
"Aku yang jaga, kamu mah enggak. " cibir Shykar.
Panraj terkekeh. "Cuma tiga hari aku keluar kota, " kekeh nya.
"Cimi tigi hiri iki kiliir kiti. " ejak Shykar kesal.
"Udah deh, Mas! " ucap Desi seraya tertawa kecil.
Naila dan Samar hanya geleng-geleng kepala melihat ayah dan mertua mereka yang tidak akur.
"Sayang, kamu baik-baik sama kakek, nenek ya! " peringat Naila pada Azhar.
"Hu'um, " Azhar mengangguk paham.
"Papa sama mamanya pergi dulu, Boy! " ujar Samar seraya mengacak-acak rambut Azhar.
Azhar menepis tangan Samar yang mengacak-acak rambutnya itu. "Jangan acak-acak, nanti Azhal nda ganteng lagi! " kesal Azhar lucu yang membuat Samar terkekeh.
"Maaf ya, dadahhh... " Samar melambaikan tangannya pada keluarga nya dan anak angkat nya itu. Samar dan Naila beserta Lala yang sedang tidur di stroller itu manaiki pesawat.
"Dadah, mama papa!! " teriak Azhar.
__ADS_1