
Satu bulan kemudian.
Huek huek huek
"Sayang, kamu baik-baik aja? " tanya Naila pada Samar yang saat ini sedang berada dikamar mandi.
"Aku gak tau, rasanya mau mual terus. " sahut Samar lemah.
"Kamu masuk angin? " tanya Naila.
"Sepertinya, begitu! "
Naila mengusap-usap punggung Samar. "Hari ini, gak usah ke kantor dulu ya? " ucapnya.
"Maunya gitu. Tapi, hari ini ada pertemuan penting! Jadi, harus kekantor. " jelas Samar.
"Gak bisa ditunda? " tanya Naila. Dia tidak ingin Samar pergi bekerja disaat sedang sakit.
"Gak bisa, sayang! " ucap Samar.
Huek huek
Samar kembali muntah yang membuat Naila semakin cemas. "Istirahat aja ya? Aku takut kenapa-napa di kantor nanti! " ucap Naila yang kerasa cemas.
Samar membalikkan badan dan menghadap Naila dengan senyum manis yang dia tunjukkan. "Aku gak apa-apa, sayang! Kamu jangan cemas yaa! " ujar Samar lembut.
Naila mendongak menatap Samar yang lebih tinggi dari nya itu. "Bagaimana tidak cemas? Kamu dari tadi muntah-muntah terus. " ucap Naila dengan nada sedih.
Samar yang melihat wajah sedih Naila terkejut, kenapa istrinya hendak menangis? Padahal dia tidak apa-apa, cuma mual-mual sedikit saja.
"Sayang, heyy! Kamu kenapa, hm? " tanya Samar lembut seraya memeluk Naila dengan sayang.
Naila menggeleng tapi air matanya luruh. "Aku gak tau, Mas! Hikss, tiba-tiba nangis hikss. " isak Naila. Entah kenapa mod nya pagi ini cepat berubah-ubah, tadi pagi Naila marah-marah karena Azhar susah dibangunin, padahal Azhar harus berangkat sekolah. Biasanya Azhar tidak pernah kena marah Naila tapi karena mod Naila yang tidak stabil jadi dia marah-marah walaupun cuma marah biasa gak sampai mukul tapi tetap saja Azhar merasa takut. Dan sekarang dia menangis hanya karena Samar mau kerja? Aihh ada apa denganmu Naila?.
Samar panik karena sang istri tiba-tiba menangis, padahal yang sakit dia tapi malah istrinya yang menangis.
"Ssst, sayang! " Samar mengusap kepala sang istri berniat untuk menenangkan sang istri.
Naila mendongak menatap Samar dengan mata berkaca-kaca. "Mas! " ujar nya.
"Ya! mau apa, hm? " tanya Samar lembut.
"Mau ini! " tunjuk Naila pada junior Samar. Samar mengernyit heran, maksud istrinya itu ingin bermain kah? Tumben istrinya yang minta dulu, biasanya dia yang duluan meminta! Heran Samar akan perubahan sang istri.
"Aku harus kerja, sayang! " ujar Samar. Lagian, jam sudah menunjukkan pukul sembilan dan pukul sebelas nanti dia ada pertemuan bisnis di kantor. Jadi, takut keburu nanti kalau bermain dulu.
Naila cemberut karena apa yang dia inginkan tidak terwujud. Dia semakin menangis, dia pun sebenarnya bingung kenapa dengan perubahan sikapnya.
Samar kelabakan karena istrinya menangis. "Sayang, jangan nangis, hm! " ucap Samar.
Naila melepaskan diri dari pelukan Samar lalu keluar dari kamar mandi dengan menangis. Samar mengejar sang istri, seketika rasa mualnya hilang karena sang istri menangis.
"Sayang! " panggil Samar pada Naila yang sedang meringkuk diatas kasur itu.
"Mas kalau kerja silakan! Pergi aja sana, hikss. " usir Naila namun menangis nya semakin menjadi.
Samar mendekati Naila kemudian dia ikut berbaring lalu memeluk Naila dari belakang.
Cup
Cup
Cup
Samar menciumi kepala Naila dengan sayang. "Kamu kenapa, hm? Gak biasanya seperti ini. " tanya Samar lembut.
Naila membalikkan badannya menghadap Samar lalu ngedusel didada bidang Samar. "Aku mau deket kamu terus, Mas! " ucap Naila manja. Beruntung Lala tidur jadi Naila bisa bermanja dengan Samar sekarang. Azhar? Azhar sudah berangkat sekolah sama bodyguardnya. Yaaa setelah pulang dari honeymoon, Samar mencari bodyguard untuk Azhar. Padahal Samar ingin mencarikan pengasuh aja biar segala keperluan Azhar ada yang mengurus tapi Azhar menolak karena dia sudah terbiasa mandiri. Jadilah, Samar mencari kan bodyguard saja untuk menjaga Azhar diluar.
Cup
Cup
Cup
Cup
Samar menghujani kecupan diwajah Naila. Sehingga, membuat sang empu terkekeh geli.
"Geli, Mas! " kekeh Naila seraya menjauhkan wajah Samar dari wajahnya.
"Inikan yang kamu mau, hm? " tanya Samar seraya menatap Naila sayu.
"Katanya mau kekantor. " ujar Naila.
"Mari bermain sebentar. " sahut Samar yang sudah bergairah. Naila dengan semangat mengangguk dan mereka pun bermain dengan sebagaimana semestinya.
****
"Assalamu'alaikum, Naila! " ucap seseorang yang berkunjung ke Mansion Adelard.
Naila yang sedang bermain dengan Lala diruang tamu itu menoleh kearah pintu. Naila berdiri dari duduk nya seraya menghampiri tamu yang datang itu.
"Walaikumsalam, Pa? " ucap Naila lalu mencium punggung tangan sang papa. Yaa, yang bertamu adalah Panraj_orang tua Naila.
"Azhar belum pulang? " tanya Panraj.
"Sudah, Pa! Dia sedang mandi. " ucap Naila, "mari masuk, Pa! " lanjutnya menyuruh Panraj masuk.
Mereka pun berjalan menuju ruang tamu itu. "Capek gak? " tanya Panraj.
"Capek apa, Pa? " tanya Naila balik.
"Ngurusin Mansion, kan mertua kamu udah balik ke London. " ucap Panraj seraya duduk didekat stroller Lala.
"Gak, Pa! Lagian banyak kok pelayan, jadi Naila tidak kerja ngurus rumah. Paling ngurus anak doang sama suami! " ujar Naila.
Panraj mengangguk dan bersyukur karena putri nya tidak harus kecapekan mengurus Mansion ini. "Hai, cucu opa!" sapa Panraj pada Lala yang sedang duduk manis di stroller.
"Papapapapa... " celoteh Lala menyahuti Panraj.
Panraj terkekeh gemes dengan Lala yang masih belum bisa bicara itu.
"Opaaaa!!! " teriak Azhar yang baru saja keluar dari kamar nya dan berlari menghampiri Naila dan Panraj.
"Jangan lari-lari, sayang! " peringat Naila.
Azhar berhenti berlari kencang tapi tetap berlari hanya kecepatan nya saja dikurangi. Setelah sampai dia duduk disamping Panraj.
"Opa, ngapain? " tanya Azhar.
"Mau menemui cucu-cucu Opa lah, gak boleh? " tanya Panraj bercanda.
__ADS_1
"Opa, nda kelja?" tanya Azhar.
"Opa sudah kerja, "
"Kok cepet? Papa lama kalau kelja. " ujar Azhar.
"Karena kerjaan papa kamu banyak!" sahut Panraj dan Azhar mengangguk mengerti.
Lala tiba-tiba menangis yang membuat mereka terkejut. "Kok adek nangis? " tanya Azhar.
"Adek lapar! " sahut Naila yang paham kalau Lala sedang lapar.
"Lapal? Adek mau nen? " tanya Azhar.
Naila mengangguk. "Pa, titip Azhar ya! Aku mau keatas dulu sekalian nidurin Lala. " ucap Naila pada Panraj.
"Iya, " sahut Panraj.
Naila pun menggendong Lala lalu beranjak dari sana.
***
"Bagaimana? " tanya seorang pria pada anak buahnya.
"Sudah beres, Bos! " sahut sang anak buah.
"Bagus! " pria tersebut tersenyum karena sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang membuat nya senang. "Mari kita tunggu kabar mengejutkan ini!! " ucap nya tersenyum devil.
****
Sekarang sudah waktunya jam makan siang tapi Samar masih berada diruang meeting dengan beberapa orang yang ikut dalam meeting tersebut.
"Senang bisa bekerja sama dengan anda! " ucap pria paruh baya seraya berjabat tangan dengan Samar.
"Saya juga senang bisa bekerja sama dengan anda! " ucap Samar sopan kepada orang yang lebih tua itu dari nya.
"Semoga kerjasama ini memuaskan. "
"Iya, semoga saja. "
"Saya duluan! " pamit pria paruh baya itu.
"Ah iya, silakan pak. " ucap Samar mempersilahkan rekan bisnis nya itu terlebih dulu.
Setelah kepergian rekan bisnis nya, Samar melihat jam di pergelangan tangannya itu. "Sudah jam dua siang, kita melewatkan makan siang. " ucap Samar pada sekretaris nya.
"Saya tidak masalah, Tuan! " ucap sang sekretaris.
"Apakah setelah ini ada meeting lagi? " tanya Samar.
"Sudah tidak ada, Tuan! " sahut sekretaris itu.
Samar mengangguk. "Saya pulang saja, kamu makan siang lah! " ucap Samar.
"Baik, Tuan. "
Samar pun pergi dari ruangan tersebut. Dia merasa rindu dengan sang istri, maka dari itu dia memilih langsung pulang setelah meeting. Entah kenapa dia menyukai sikap manja Naila akhir-akhir ini.
"Dia begitu manja pagi tadi, mod nya gampang berubah, apakah dia hamil? " gumam Samar seraya masuk kedalam mobilnya dan melajukan Mobilnya.
Samar tersenyum sendiri saat sadar apa yang dia ucapkan. "Kalau memang benar dia hamil, aku orang pertama yang akan merasakan kebahagiaan didunia ini. " ucapnya dengan wajah yang tak henti-hentinya tersenyum.
Samar bersenandung kecil sambil sesekali melihat sisi jalan yang ramai itu. "Kasian mereka! " gumam Samar saat melihat pengemis yang ada di panggil jalan itu. Samar akan memberikan mereka uang! Saat, Samar ingin menepikan mobilnya dan menghentikan dengan menginjak remaja tapi mobil nya tidak berhenti karena remnya tidak berfungsi.
"Shitt, lampu merah! " Samar mengumpat karena didepan nya ada lampu merah, dia tidak bisa berhenti karena rem nya blong.
TIN TIN TIN
"MINGGIRR!! " teriak Samar pada pengendara yang ada didepan nya itu seraya membunyikan Klakson nya. Dengan cepat orang-orang yang berada di depan Samar itu minggir.
Wushh
Samar menerobos lampu merah bertepatan dengan truk yang datang dari arah berlawanan.
"Aaaaaa, "
"Awasss!! "
Brakk
"Astagfirullah... "
Mobil Samar menabrak trotoar dengan keras karena menghindari truk, orang-orang disana berteriak karena kaget dengan kecelakaan yang mereka saksikan di depan mata mereka.
Samar sendiri sudah hampir tidak sadarkan diri karena kecelakaan. "Sayang, maaf kalau aku tidak bisa menemani mu lagi! " lirih Samar sebelum kesadaran nya hilang.
****
Drrrt drrt drrrt
Naila melihat kearah nakas yang dimana ponselnya berbunyi, dia menjangkau ponselnya yang berada di nakas. Karena susah untuk menjangkau Naila berusaha melepaskan niple nya pada mulut Lala secara perlahan.
Setelah terlepas Naila mengambil ponselnya dan melihat nomor yang tidak dikenal menelpon.
"Halo? " ujar Naila.
"Maaf, apa ini ibu Naila! Istri dari pak Samar? " tanya orang tersebut.
"Iya, saya sendiri! Ada apa? " tanya Naila.
"Kami dari pihak kepolisian, ingin mengatakan kalau suami anda baru saja mengalami kecelakaan dan meninggal ditempat. " ucap polisi itu.
Deg
Naila terduduk ditepi kasur saat mendengar kabar itu, Naila tidak bisa berkata-kata tapi dia juga tidak yakin akan kabar itu sebelum dia memastikan sendiri. Dia tidak ingin tertipu untuk kedua kalinya yang dimana Samar pernah dinyatakan kecelakaan tapi sebenarnya tidak kecelakaan.
"Bu, anda bisa datangi kerumah sakit xxxx untuk memastikan jenazahnya. " ujar polisi itu lagi.
"B-baik, Pak! " ucap Naila terbata dan air matanya pun menetes. Padahal dia sudah meyakini kalau itu bukan suaminya tapi entah kenapa firasat itu ada sehingga membuat Naila menangis.
Naila melihat kearah Lala yang tertidur kemudian dia berlari kebawah untuk menemui Panraj.
"Papa!! " panggil Naila saat sudah berada di lantai bawah.
Panraj yang sedang menemani Azhar nonton karton itu pun menoleh kearah Naila yang berlari sambil menangis itu. "Sayang, kenapa? " tanya Panraj khawatir.
"Pa, hikss! Samar, Pa! " isak Naila.
Panraj mengernyit heran. "Samar? Kenapa dia? " tanya Panraj.
"Samar kecelakaan, Pa! Dan Samar meninggal ditempat, hikss! " lirih Naila dan dia memeluk Panraj.
__ADS_1
Deg
Panraj terkejut, kenapa? Kenapa dia tidak menyadari akan bahaya ini? Padahal dia dan Shykar sudah membahas ini, tapi siapa sangka kejadian ini terjadi begitu saja.
"Pa, kita kerumah sakit untuk memastikan. Ayooo! " ajak Naila.
"Mama kenapa? " tanya Azhar yang melihat Naila menangis.
Naila menoleh kearah Azhar lalu dia menghampiri sang putra. Naila berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Azhar.
"Sayang, mama dan Opa kerumah sakit dulu ya! Kamu dirumah sama pelayan dan adek, ya! " ucap Naila.
Azhar mengangguk patuh. "Iya, Ma! " ucap nya.
Cup
Naila mengecup kening Azhar, beruntung Azhar anak yang mandiri dan pengertian. Sehingga, dia bisa pergi kerumah sakit untuk memastikan jenazah sang suami.
Skip
Sesampai nya dirumah sakit Naila segera menemui pihak resepsionis, dan menanyakan perihal korban kecelakaan di lampu merah itu.
"Silakan cek di ruang jenazah, Bu! " ucap sang resepsionis.
Setelah bertanya Naila dengan segara berlari kearah ruangan jenazah yang diikuti oleh Panraj.
"Pa, semoga bukan Samar ya! " ucap Naila saat sudah di depan jenazah yang baru dibawa ke ruangan itu.
"Semoga saja! " ucap Panraj sambil menepuk punggung Naila berniat untuk memenangkan smag putri.
Naila mengatur nafas sebelum tangannya tergerak membuka kain penutup jenazah itu.
Deg
"SAMARRR!!! " teriak Naila histeris saat melihat jenazah itu.
Bug
Naila jatuh pingsan setelah berteriak. Panraj yang kaget putrinya itu pingsan dengan segara menggendong sang putri keluar ruangan.
"Dok, tolong putri saya!! " ucap Panraj saat keluar dari ruang jenazah itu.
Dokter yang kebetulan sedang berada diluar ruang jenazah itu dengan segera mengarahkan Panraj untuk membawa Naila keruangan rawat.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok? " tanya Panraj setelah sang dokter selesai memeriksa Naila.
"Dia hanya syok. Tapi, kandungannya lemah, pak! " ucap sang dokter.
Panraj diam mencerna ucapan dari dokter tersebut. "Kandungan? Maksudnya, putri saya hamil? " tanya Panraj dan diangguki oleh sang dokter.
Panraj melihat kearah brankar yang dimana Naila sedang berbaring di sana sambil mengelus perut nya yang masih rata itu. Ya Naila sudah sadar dan mendengar ucapan dari dokter tersebut.
"Mas, yang kamu inginkan sudah terwujud! Malaikat kecil itu sudah hadir di rahim ku, tapi kenapa kamu malah pergi ninggalin aku dan calon anak kita. " lirih Naila dan tak terasa air matanya kembali luruh.
Naila duduk dan turun dari brankar, Panraj yang masih berbincang-bincang dengan dokter mengenai apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan wanita hamil jadi berhenti karena melihat Naila yang turun dari brankar.
"Sayang, kuat? " tanya Panraj khawatir.
"Kuat, Pa! " ucap Naila terus berjalan keluar. Panraj permisi keluar kepada sang dokter lalu mengikuti Naila yang kembali memasuki ruang jenazah.
"Mas, kamu bakal punya anak lagi! Anak kandung, Mas! " ucap Naila tepat di depan jenazah Samar seraya menangis.
"Kamu tega ninggalin aku dan anak-anak, Mas! Bahkan kamu tega ninggalin anak kamu yang belum lahir. Kamu jahat, Mas! "
Panraj merasa sakit melihat putrinya yang menangis itu. "Sayang, sudah ya! Kita pulang dulu. Papa sudah menghubungi orang tua Samar dan mereka akan kesini untuk mengantarkan Samar ke peristirahatan terakhirnya. "Ucapnya.
Naila menggeleng lemah. "Boleh gak Naila ikut Samar, Pa? " lirih nya.
Panraj meneteskan air mata nya mendengar ucapan Naila. "Gak, kamu gak boleh ninggalin papa, kamu harus kuat demi calon anak kamu, sayang! " ucap Panraj sambil membawa Naila kedalam pelukan nya. Naila tidak menjawab ucapan sang ayah, dia hanya menangis dan menangis didalam pelukan Panraj.
***
Esok harinya Naila sudah mengenakan pakaian serba hitamnya. Naila melihat dirinya kearah cermin, matanya sembab hingga membengkak karena menangis terus sedari kemarin hingga sekarang.
"Aku gak sanggup tanpa kamu, Mas! Tapi, aku harus kuat demi anak kita yang belum lahir. " ucap Naila.
Naila menghapus air matanya lalu berjalan keluar kamar. Dibawah sana sudah banyak orang-orang datang untuk ngelayat. Naila berjalan menghampiri Desi yang sedang menangis disisi jenazah Samar.
"Mom! " panggil Naila lirih.
Desi menoleh kearah Naila. "Sayang, kamu yang kuat ya! " ucap Desi pada Naila.
"Mommy, juga yang kuat! " sahut Naila.
Desi tidak menjawab dia kembali menatap jenazah Samar dan kembali menangis. Naila ikut menangis karena dia mengingat kebersamaan nya bersama Samar selama ini. Sulit untuk melupakan nya, apalagi Samar pria yang baik dan perhatian, tidak akan ada yang bisa menggantikan Samar dari hati nya.
Skip
DI PEMAKAMAN UMUM
Naila tak henti-hentinya menangis saat tubuh sang suami mulai ditimbun tanah. Azhar yang masih kecil itu pun ikut menangis karena pria yang selama ini menjadi ayahnya adalah pria yang baik dan penuh perhatian itu sedang ditimbun tanah itu.
Setelah selesai membaca do'a orang-orang pada pulang, kecuali Naila beserta orang tuanya dan Azhar yang masih disana.
Naila masih menangis di kuburan sang suami. "Kamu harus kuat, sayang! " ucap Desi menenangkan Naila walaupun dia juga merasa rapuh karena kehilangan putra satu-satunya itu.
Shykar melirik kearah Panraj. Panraj yang kebetulan melihat Shykar pun tak sengaja mata mereka bertemu. Shykar memberikan kode mata pada Panraj. Panraj yang paham pun melirik kearah belakang dan Panraj dapat melihat ada seseorang yang bersembunyi dibalik pohon.
'Setelah ini dia akan mati karena sudah membuat putriku menangis. 'Batin Panraj penuh dendam pada orang yang telah berani menyabotase mobil sang menantu.
'Daddy janji akan membalaskan dendam mu, Boy! Akan daddy jadikan anakmu kelak sebagai penguasa mafia yang paling terkenal di dunia ini. 'Tekad Shykar dalam hati.
"Mas, aku janji akan membesarkan anak-anak kita dan menjaganya dengan baik. Kamu yang tenang diatas sana, Mas! Terimakasih hari-hari nya selama ini, Mas! Aku sayang kamu. " ucap Naila lalu mencium batu nisan sang suami.
"Papa, Azhal janji bakal jagain mama! Azhal juga janji bakal jagain adek-adek Azhal. Papa pasti bangga sama Azhal kalau berhasil jagain mama sama adek-adek Azhal bukan? Azhal sayang papa! " ucap Azhar dengan suara cadel nya itu.
"Tenang diatas sana. Sayang! " ucap Desi.
Naila menatap kuburan baru itu, dia baru merasa kan berumah tangga dengan orang yang dia sayang. Namun, sayangnya rumah tangga itu tidak bertahan lama karena Samar lebih dulu meninggalkan nya. Naila kembali menangis karena mengingat kenangan manis bersama Samar.
***
Seminggu kemudian. Naila selalu menangis dalam diam dia sangat sulit melupakan Samar.
"Sayang, kamu mau ikut kami ke London? " tanya Desi. Dia mengira Naila akan sulit melupakan Samar karena pertemuan mereka diindonesia, banyak kenangan manis yang mereka lalui sehingga sulit untuk dilupakan.
Naila menatap sayu mertuanya itu. "Boleh, Mom! " ucap nya lemah. Dia akan ikut mertuanya ke London dan memulai hidup baru, mungkin di London nanti dia kan mudah melupakan Samar, mengingat kenangan mereka hanya ada di Indonesia dan California tempat meraka honeymoon dulu. Mungkin di London dia bisa melupakan segalanya.
"Yasudah, kamu bersiap saja! Sore ini, kita akan terbang ke London. " ucap Desi.
Naila mengangguk lemah lalu menyerahkan Lala pada Desi, dia pun pergi ke kamar nya untuk packing.
__ADS_1
"Selamat tinggal Indonesia, selamat tinggal kenangan! " ucap Naila seraya berjalan menyosori Mansion nya.