
Uhukk uhukk
Samar tersedak sarapannya setelah mendengar apa yang Mommy nya katakan. Dia mengambil air minum lalu meminum nya hingga tandas.
"Apa yang Mommy katakan tadi? " tanya Samar memastikan apakah dia salah dengar atau tidak.
"Ooo,, itu Naila pagi-pagi telpon Mommy lalu mengatakan bahwa dia mengadopsi balita laki-laki yang berumur hampir empat tahun. " beritahu Desi sekali lagi.
Ya Naila sudah menelpon calon mertua nya itu untuk memberitahukan pesan untuk Samar bahwa Naila mengadopsi anak lagi.
Samar menghela nafas lelah, "makin susah ini. " gumamnya.
Shykar yang mendengar gumaman anaknya itu tersenyum mengejek, "alamat bakal susah berduaan terus, " ledek Shykar dan Samar mendengkus kesal.
"Gak susah, malam-malam kan bisa. " ucap Samar.
"Heh dengerin Daddy ya, anak yang berumur empat tahun itu lebih susah nidurin nya, apalgi diumur segitu sedang aktif-aktifnya. " Shykar melirik Samar sinis.
"Kan honeymoon nanti, jadi puas-puasin dulu honeymoon baru kami pulang. " ucap Samar dengan wajah sengaknya.
"Yakin bisa pergi honeymoon? " ejek Shykar lagi.
"Iyalah, kenapa gak coba? "
"Kan kalian udah punya anak dua, mau pergi ajak mereka? Bisa bebas emang honeymoon? "
Samar terdiam membenarkan perkataan dari Daddy nya itu. "Nanti Samar titipin anak-anak, " ide Samar.
"Lala gak bisa dititipin Boy, dia masih bayi yang perlu ASI dari ibunya. " sahut Desi.
"Lala dibawa dong, cuma Azhar yang dititipin. " ujar Samar, kan Lala suka tidur jadi dia bisa berduaan dengan Naila.
"Azhar? " bingung Shykar dan Desi.
Samar berdecak, "ck, balita laki-laki yang diadopsi Naila itu Azhar deh kayanya.. " Samar yakin bahwa balita laki-laki yang berumur hampir empat tahun itu hanya ada Azhar seorang dipanti. Tapi kenapa Naila mengadopsi Azhar trus bagaimana dengan Adel? Heran Samar.
Shykar dan Desi menganggukkan kepala secara bersamaan. "Calon mantu kita punya hati yang baik ya Mas, ikhlas banget dia merawat anak orang. " Desi kagum akan kebaikan Naila. Shykar setuju dengan perkataan istrinya itu, iya Naila baik tapi Samar nanti yang gelisah hihi.
'Iya baik, tapi gimana nasibku, dapat dipastikan aku bakal lebih susah untuk nyusu, 'cibir Samar dalam hati.
"Aku mau ketemu Naila, " ucap Samar tiba-tiba.
"Ehh gak boleh.. " larang Desi.
__ADS_1
"Bentar doang Mom, mau bicarakan masalah ini dengan serius. " Samar memelas agar sang Mommy kasian.
"Gak yakin Daddy kamu hanya bicara saja. " Shykar mengompori Samar hingga meledak dan hancur berkeping-keping, candaaa dengg xixi.
"Benar yang dibilang Daddy, Mommy juga gak yakin kamu cuma bicara saja. " Desi menatap sinis anaknya itu.
"Paling cuma nyicip dikit Mom, ayolahhh ini penting lohh, aku harus bicarain ini secara langsung. "
"No icip-icip jika ingin bertemu. " tegas Desi.
"Kok gitu? " Samar kan mau nyusu juga yahhh.
"Setuju atau tidak bertemu sama sekali. " tegas Desi yang tidak ingin perkataan nya dibantah.
Samar menghela nafas pasrah, "yes Mom. " pasrah Samar.
Desi tersenyum,"banguss,,,tapi siang aja nemuin Naila nya, pagi ini kamu ada meeting kan? "Tanya Desi.
"Iya Mom, " sahut Samar lelah, lelah menghadapi ritual pingit sialan ini. Kenapa harus ada ritual pingit coba pikir Samar.
Shykar yang melihat wajah tertekan anaknya itu tertawa kecil, "puasa seminggu berasa setahun ya, " sindir Shykar.
Samar mendengkus, "Daddy kalau mau mengejek aku jagangn sekarang deh, aku lagi gak mod ladenin ejekan Daddy. " kesal Samar.
"Masih pagi Dad, dan ingat usia deh. " cibir Samar, dia merasa iri dengan Daddy nya yang bisa kelonan dengan istri tercinta. Dia kan jadi ingin menikah sekarang juga.
"Iri aja kamu itu, " sahut Shykar dan pergi bersama sang istri, Samar hanya bisa mendengkus kesal.
****
Setelah selesai meeting jam setengah 12 Samar segera pergi untuk menemui Naila di mansion Albirru. Samar tidak memberitahu Naila bahwa dia akan berkunjung ke mansion.
"Naila ada dikamar Bi? " tanya Samar pada Bi Ijah saat sudah masuk ke mansion Albirru itu.
"Ada dikamar tuan, perlu saya panggilkan? " tawar Bi Ijah.
"Tidak perlu Bi, biar saya aja yang kesana. " Samar kan ingin mengejutkan Naila jadi biar dia saja yang keatas untuk menemui calon istrinya itu.
"Silakan tuan. " Bi Ijah mempersilahkan Samar untuk keatas dan Samar mulai memasuki lift.
Skip
Samar sampai didepan pintu kamar Naila, saat Samar ingin mengetuk tiba-tiba terlihat celah yang berarti pintu nya tidak dikunci jadi Samar me nyelonong masuk tanpa permisi.
__ADS_1
Glekk
Samar menelan saliva nya saat melihat Naila sedang menyusui Lala disofa yang ada dikamar Naila.
Naila mendongak untuk melihat siapa yang masuk kekamar nya.
"Loh? Kamu kesini ngapain? " tanya Naila saat melihat Samar yang sedang menatap dirinya dengan wajah memerah menahan hasrat.
Samar tersadar mendengar suara Naila, "ahh itu aku pengin nen ehhh bukan, pengin bicara serius maksudnya. " Samar mendekat dan duduk disamping Naila.
"Azhar? " Naila sudah menebak apa yang ingin di bicarain oleh Samar. Samar mengangguk tapi matanya tertuju pada Lala yang sedang menyusu itu, membuat Samar ingin menyusu juga.
Naila yang sadar dengan arah pandang Samar mendengkus kesal.
"Kalau mau bicara yang ditatap mata aku bukan payudara aku, " sindir Naila.
Samar cengengesan lalu dia melihat Naila, "aku jadi pengin. " cicit Samar.
"Ck, tunggu beberapa hari lagi. " kesal Naila.
"Tapi Lala buat aku iri, " rengek Samar.
"Jangan ngerengek Samar, " Naila memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Samar yang merengek itu.
"Mauu... " Samar berucap seperti balita yang menginginkan makanan kesukaannya.
"Gak boleh elahh, tadi katanya mau bicara serius kan? Sekarang apa yang mau kamu bicarain, cepat bicara agar kamu segera pulang. " ketus Naila.
"Kamu ingin aku cepat pulang? " tanya Samar mendramatisir seperti anak tiri yang dibuang oleh ibu nya.
"Kita ini sedang dipingit jadi jangn ketemu lama-lama Samar. "
"Pingit lagi huhhh, " mod Samar mendadak buruk karena pingitin ini.
"Iya, jadi apa yang ingin kamu bicarakan? Tentang Azhar kan? " tanya Naila, mendadak dia merasa sedih, "aku ada alasan Samar, apa kamu tidak suka dengan keputusan ku? Apa kamu takut miskin untuk menafkahi Azhar dan Lala? " tanya Naila sendu.
Samar yang melihat Naila agak sedih dia merubah raut wajahnya yang awalnya sok imut sekarang jadi lebih tegas dan dewasa persis seperti kanebo kering yang pertama kali Naila bertemu Samar.
"Aku gak keberatan, bahkan kamu mau adopsi anak-anak yang dipanti semua harta aku tidak akan habis, aku cuma mau tanya alasannya saja. " ucap Samar lembut.
"Ada sesuatu yang belum kamu ketahui dari aku Samar, " Naila berucap sambil menunduk, dia tidak yakin akan memberitahu Samar, dia takut jika nanti dia memberi tahu apakah Samar masih ingin dengannya?
"Apa? " tanya Samar penasaran, sesuatu apa yang belum dia ketahui dari gadisnya itu.
__ADS_1