
"Mas udah jam berapa sih? " tanya Naila yang agak gelisah dan juga lelah karena berdiri terus menyambut para tamu yang ingin bersalaman atau pun foto-foto.
"Kenapa? Udah gak sabar mau di unboxing yaaa, " goda Samar.
"Unboxing apaan? " sewot Naila karena pemikiran liat Samar.
"Malam pertama, " ujar Samar.
"Gak kok, aku cuma mau tau Lala gimana, dia harusnya tidur jam segini, tapi apakah dia bisa tidur? Aku gak ada pompa ASI tadi buat minum Lala. " khawatir Naila karena sedari tadi juga dia tidak ada melihat Lala bersama mertuanya atau pun bi Ijah.
"Baru jam setengah 8 sayang, kamu tenang aja kan ada Mommy yang jaga Lala." sahut Samar.
"Ini kapan selesai acaranya? " tanya Naila.
"Hmm 3 jam mungkin, " sahut Samar.
"Lama sekali, gimana dengan Lala? " keluh Naila. Lala itu tidak bisa minum susu formula, maka dari itu Naila sungguh gelisah memikirkan Lala.
"Ada Mommy sayang. "
"Dimana Mommy? "
"Kedalam mungkin, kan angin malam tidak baik untuk bayi. "
Naila tidak lagi bicara dia mengedarkan pandangan nya melihat para tamu yang sedang mencicipi jamuan dan ada yang berbincang. Mata Naila terus melihat-lihat sekitar dan tanpa sengaja melihat pria yang kata nya tidak diundang Samar itu sedang berbicara asikk dengan dengan ayah nya Samar.
"Mas, " panggil Naila.
"Kenapa hm? " tanya Samar.
"Siapa sih pria itu, kok asik banget bicara sama Daddy, beda sama kamu tadi. " tunjuk Naila kearah sudut kanan.
Samar mengikuti arah tunjuk Naila dan melihat sang Ayah sedang berbicara sambil tertawa kecil. Samar menghela nafas kasar saat melihat itu.
"Teman SMA, " ujar Samar.
"Teman? Tapi kenapa tadi kamu seperti tidak menyukainya? " bingung Naila.
"Ada terjadi sesuatu antara kami dimasa lalu. " ucap Samar.
"Apa? Masalah apa? " tanya Naila. Naila benar-benar kepo.
Samar diam, dia bingung mau menjelaskan seperti apa agar istrinya ini tidak salah paham.
"Kenapa diam? Masalah cewek yaa? " tuduh Naila, bukan nuduh sih tapi lebih tepatnya mengira karena Samar hanya diam.
"Sayang jangan bahas disini yaa, dikamar aja nanti... Liat tuh sebagian orang-orang sudah pulang, jadi sebentar lagi resepsinya akan selesai. " Samar tidak mau menjelaskan diluar karena takut Naila akan marah mungkin, kalau marahkan susah bujukin nya diluar gini, kalau dikamar kan bisa sambil peluk, cium, dannnn.. Ehhh? Dan apaan tuh xixixi.
"Pasti tentang cewek, " sinis Naila.
Saat Samar akan mengatakan sesuatu tiba-tiba Bi Ijah datang menghampiri mereka.
"Maaf non, Non disuruh ibu nya tuan Samar untuk masuk sekarang, karena Lala sedang menangis dan mengantuk.. " ucap Bi Ijah dengan nafas tersenggal karena berlari kecil menghampiri pelaminan.
Naila jelas khawatir, "bi tolong bantu Naila berjalan ya, ini gaunnya sangat berat. " pinta Naila dan bi Ijah mengangguk.
"Biar aku yang bantu. " ucap Samar.
__ADS_1
"Dihh, gak yah, kamu kekamar saat para tamu udah pulang semua. " ketus Naila.
"Loh? Terus aku ngapain di sini sendiri seperti orang gila yang kehilangan istri. "
"Bicara kek sama siapa gitu, kalau perlu bicara sama teman SMA kamu itu perbaiki hubungan kalian, tidak perlu lagi marah-marah gitu, Daddy aja gak marah tuh sama teman kamu itu.. Apa kamu masih menyukai gadis masalalu mu itu sehingga sampai sekarang masih kesal sama teman kamu itu? " tuduh Naila. Dan Samar menggeleng kuat.
"Aku tidak menyukai siapapun kecuali kamu sayang. " wajah Samar berubah menjadi pias.
"Udah lah, ingat!!! Jangan masuk sebelum para tamu pulang, gak enak sama tamu kalau kedua pengantin tidak ada di pelaminan. " ucap Naila dan Samar mengangguk lemah.
Naila mulai beranjak dari pelaminan dibantu oleh bi Ijah. Samar hanya bisa menghela nafas pasrah saat Naila menyuruhnya jangan masuk, kan dia juga ingin masuk.
Samar hanya diam bak orang bodoh dipelaminan sampai dia mendengar suara orang yang dia kenal sedang menyapa nya.
"Hai broo, sendirian aja? Dimana istri mu yang cantikk itu. " tanya Raditya Ehsan_teman SMA Samar.
Samar memandang Radit dengan malas, "ngapain tanya istri saya. Mau diembat juga? "
"Wooo rupanya dendam masalalu belum dilupakan yahh. " Radit terkekeh mendengar perkataan Samar.
Dulu waktu SMA Samar menyukai seorang gadis tapi karena Samar itu orang nya dingin dan kaku banget dia tidak berani menyatakannya langsung. Samar waktu SMA berteman dengan Radit dan Cecelia. Mereka sering bertiga sampai perasaan suka didiri Samar tumbuh untuk Cecelia, Samar perhatian dan selalu perduli terhadap Cecelia walaupun dia terlihat cuek, tapi sangat disayang kan Cecelia hanya menganggap perhatian Samar itu hanya karena mereka berteman dekat. Sampai waktu dimana Samar akan menyatakan cinta pada Cecelia dihari perpisahan. Di hari perpisahan/kelulusan Samar menghampiri Radit dan Cecelia yang sedang berbincang, Samar hanya diam mendengar perbincangan keduanya tanpa mau menyela.
Flashback on
"Radit aku menyukai mu, " ucap Cecelia dengan senyum mengembang.
Deg
Samar terkejut mendengar pernyataan itu dari mulut Cecelia, rencananya dia akan menyatakan perasaannya terhadap Cecelia setelah Cecelia selesai berbincang dengan Radit.
'Radit brengsekk, 'Samar menatap sinis kearah Radit yang sedang tersenyum mengejek kearahnya. Radit tau bahwa Samar menyukai Cecelia tapi mengapa dia mengatakan bahwa dia juga menyukai Cecelia? Penghianat.
"Ahh benarkah? Mulai sekarang kita pacaran yahh. " senang Cecelia lalu dia memeluk Radit. Radit membalas pelukan Cecelia dan membuat Samar panas akan pemandangan itu.
Lima menit mereka berpelukan Cecelia mengurai pelukan mereka dan melihat kearah Samar.
"Samar ucapin selamat dong untuk kami, " ucap Cecelia.
"Eh, selamat yah. " ujar Samar .
"Kamu sebenarnya ganteng dari Radit tapi sayang terlalu dingin dan kaku, jika kamu seperti Radit yang tidak dingin mungkin aku akan menyukaimu. " Cecelia terkekeh mengatakan isi hatinya yang sebenarnya. Memang benar, Samar itu ganteng, tapi sayanganya dia terlalu dingin dan Cecelia tidak menyukai itu.
Samar hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Cecelia.
Flashback off
"Sudahlah itu hanya masalalu, sekarang kamu bahkan sudah mendapatkan istri yang lebih cantik dari Cecilia. " ucap Radit membuyar kan lamunan Samar.
"Siapa juga yang ingat masalalu, " ketus Samar.
Radit terkekeh, "Apa kamu masih sedingin dulu dan takut istrimu akan jatuh hati kepadaku? "
"Gak tuh. "
"Benarkah? Tapi aku melihat nya seperti itu. " ucap Radit terkekeh. "jangan khawatir aku tidak akan menjerat istrimu dengan pesona ku, jadi tenang saja. " goda Radit.
"Apaan sihh, " ketus Samar.
__ADS_1
"Kamu tau? Seharusnya kamu bersyukur bisa selamat dari wanita seperti Cecelia itu. Dulu waktu SMA kan kamu berpenampilan sederhana dan agak culun kan? Cecelia mengira kamu anak orang sederhana saja jadi dia menyatakan cinta terhadapku karena aku terlihat lebih kaya yaa walaupun lebih kaya kamu sih.. Saat hubungan ku dan Cecelia ingin lanjut ke tahap yang lebih serius perusahaan orang tuaku mau gulung tikar dan disaat itu Cecelia meninggal kan ku dan memilih mencari pria yang lebih kaya dariku. " jelas Radit panjang kali lebar.
Samar terkejut mendengar penjelasan itu, "terus gimana perusahaan orang tua mu itu? " tanya Samar prihatin.
Radit tersenyum, "syukurlah ada om Shykar yang membantu menyuntikkan dana ke perusahaan kami, dan sekarang sudah maju kembali. "
Samar bernafas lega, sebenarnya dia tidak marah lagi pada Radit tapi dia hanya kesal karena Radit sok kegantengan. Mereka terus berbincang dan saling bermaafan.
***
Didalam kamar hotel Naila sudah menidurkan Lala, karena tidak ada box bayi disana terpaksa Lala tidur diranjang yang akan dia tiduri bersama Samar malam ini. Naila melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam.
Ceklek
Pintu terbuka dan terlihatlah Samar masuk dengan wajah lelah tapi saat melihat kearah ranjang dia mendapati istrinya itu sudah memakai baju tidur yang lumayan terbuka membuat Samar kembali bersemangat.
"Sayangg, " ucap Samar lalu dia hendak memeluk Naila namun ditahan oleh Naila.
"Mandi dulu ihhh. " ujar Naila mendorong pelan dada bidang Samar.
"Nanti aja mandi sehabis malam pertama. "
"Dih apaan, liat Lala tidur disini. " wajah Naila memerah mendengar perkataan Samar tapi dia berusaha bersikap tenang.
Samar melihat kearah samping Naila, Lala tertidur pulas lalu Samar menjauhkan Lala agak kesisi sedikit agar dia bisa bergerak bebas saat bermain tanpa takut menimpa putrinya itu.
"Sudahh." ucap Samar senang karena sudah menjauhkan Lala sedikit.
"Mandi dulu ihh, " titah Naila. Sebenarnya Naila gugup karena malam ini dia akan melepas Mahkotanya.
"Bantu lepasin bajunya sayang. " Samar mencondongkan badannya kearah Naila. Naila membantu Samar melepaskan pakaian Samar hingga hanya tertinggal celana boxer saja.
"Sudah, sekarang mandi lah. "
Samar tersenyum menggoda lalu dia mengukung Naila. "Malam pertama dulu baru mandi sama-sama yahh. " bisik Samar dengan suara serak nya dan membuat badan Naila meremang.
"Gak mau mandi dulu? Gak lengket? " tanya Naila.
"Buat apa mandi jika nanti lengket lagi karena keringat.... Sekarang aja yaa, aku ingin ini. " Samar meremas payudara Naila.
"Sstt, " Naila meringis, "pelan donggg. " kesal Naila.
Samar terkekeh, "iya sayang. " ucap Samar lalu mencium bibir ranum Naila. Lama berciuman Samar melepaskan tautan bibir mereka lalu beralih mencium leher Naila untuk menciptakan kissmark.
"Sempurna." ucap Samar saat melihat tanda kissmark yang dia bikin di area leher Naila.
"Sekarang yaaa, " pinta Samar dan Naila hanya mengangguk. Samar tersenyum lalu dia merobek baju tidur Naila.
Prakkk
"Mass kok dirobek, " kejut Naila saat dengan mudahnya Samar merobek bajunya.
Karena suara Naila yang seperti orang berteriak membuat Lala terbangun karena kaget.
Hoeee hoeee
Samar dan Naila saling pandang saat mendengar suara tangis Lala. Naila hanya cengengesan saat Samar menatap Naila datar.
__ADS_1