Sibadgirl, Kelebihan Hormon

Sibadgirl, Kelebihan Hormon
flashback


__ADS_3

"Apa? " tanya Samar penasaran, sesuatu apa yang belum dia ketahui dari gadisnya itu.


"Waktu kamu hilang sebulan lalu ehh bukan hilang tapi sengaja menghilang, aku sakitt...."


"Apa? Kamu sakit apa? " belum selesai Naila bercerita tapi sudah dipotong oleh Samar dan membuat Naila jengkel.


"Bentar aku naro Lala dulu, " Naila berdiri lalu meletakkan Lala diranjang bayi, karena Lala sudah tertidur. Setelah meletakkan Lala, Naila kembali ke duduk disofa samping Samar.


"Dengerin cerita aku, jangan dipotong atau marah ketika cerita belum selesai bercerita, kalau mau marah saat aku sudah selesai bercerita oke? " jelas Naila dan Samar mengangguk.


Flashback on


Setelah balapan dan curhat tentang hilangnya Samar ke Tobby. Naila pulang dengan tergesa karena dia merasakan sakit yang luar biasa pada payudara nya, ASI yang belum Naila keluarkan sejak pagi sampai tengah malam itu membuat kedua payudara nya sakit luar biasa, tapi disaat Naila melewati panti yang dulu pernah menjadi tempat tinggal nya dia melihat seorang laki-laki sedang memantau panti tersebut, karena Naila penasaran akan terjadi apa-apa pada anak panti dia menahan rasa sakit di dada nya dan mendekati pria tersebut.


"Heyy anda siapa dan mau ngapain? " tanya Naila saat sudah berada tepat di belakang laki-laki itu.


Laki-laki yang sedang memantau panti itu sontak terkejut mendengar suara Naila yang agak tinggi. Dia berbalik dan menghadal Naila.


"Maaf, jangan salah paham oke. " ujar laki-laki yang kira-kira seumuran dengan Naila itu.


"Gimana saya tidak salah paham kalau anda seperti penculik yang mengendap-endap. "


"Saya akan ceritakan tapi jangan disini ya. "


"Kenapa? Kamu mau macam-macam sama saya? "


"Saya janji tidak macam-macam, saya hanya ingin bercerita. "


Naila melihat kesungguhan laki-laki itu mengatakan bahwa dia tidak akan macam-macam. Naila mengangguk saja walaupun saat ini *********** sangat sakit.


Laki-laki itu mengajak Naila duduk dikursi panjang yang ada di ujung halaman panti tersebut dan menyuruh Naila duduk disamping nya.


"Perkenalkan saya Arman Smith kakak dari Azhar Smith.. "


"Azhar yang dipanti itu? " sela Naila.


"Iya, "

__ADS_1


"Kenapa anda tega menitipkan Azhar dipanti, padahal dia punya kakak yang sehat, " Naila memarahi laki-laki yang bernama Arman itu.


Arman menghela nafas, "saya ada alasan, orang tua kami sudah meninggal, kami hanya keluarga miskin dan saya harus sekolah sambil bekerja demi menghidupi diri, Azhar tidak ada yang merawat maka dari itu saya menitipkan Azhar dipanti agar dia ada yang merawat... Saya sering mantau Azhar tengah malam begini, kadang jika siang itu saya ada waktu untuk melihatnya saya akan kesini, tapi saya hanya memantau. " jelas Arman.


"Ssh,kenapa tidak menemuinya langsung? " tanya Naila sambil menahan sakit.


"Karena saya tidak ingin adek saya bersedih lagi, saya meninggalkan dia saat berumur 2 tahun, waktu itu dia sudah bisa mengenali saya maka dari itu saya hanya memantau nya dari kejauhan. "


"Sekarang kan anda sudah lulus sekolah, apa tidak menjemput nya saja? "


"Saya harus bekerja keras dan sukses agar saat menjemputnya nanti dia tidak kekurangan. Lagian juga saya melihat nya selalu bahagia bersama teman perempuan nya itu. "


"Gimana kalau teman perempuan adekmu nanti ada yang mengadopsi nya? Adekmu akan bersedih lagi. "


Arman menunduk dan tersenyum getir, "kamu benar, tapi saya besok mau keluar kota untuk merantau, kamu wanita yang tinggal disini kan? " tanya Arman pada Naila karena dia pernah melihat adeknya bersama dengan Naila dihalaman panti.


"Saya sudah tidak tinggal disini lagi karena saya sudah pulang kerumah asal saya. "


Arman menghadap Naila dan melihat Naila yang seperti nya sedang menahan sakit tapi Arman tidak bertanya, "benarkah? Tapi bisakah jika suatu saat nanti akan kejadian dimana membuat adek saya kesepian kamu bisa merawatnya? Saya berharap kamu mau merawatnya karena saya melihat kamu tipe wanita penyayang terhadap anak-anak. " mohon Arman.


Naila terdiam dan memikirkan permintaan Arman dari kakak nya Azhar itu.


Arman terkejut mendengar ringisan Naila, "heyy kamu kenapa? Ada yang sakit, " tanya Arman khawatir.


Naila mengangguk, "sa-kittt." ucap Naila yang merasakan sakit luar biasa.


Arman panik saat Naila berucap sakit sambil memegang dada nya, Arman mengira Naila sedang sesak nafas.


"Apa perlu saya antar kerumah sakit? Tapi apakah rumah sakit buka saat tengah malam begini? " tanya Arman, dia bingung mau ngapain.


Naila harus segera mengeluarkan ASI sebelum rasa sakit itu akan jadi penyakit.


"To-longhh, " Naila tidak tau harus bagaimana lagi, jarak rumahnya masih jauh dan Naila tidak akan bisa menahan rasa sakit itu lagi, sakit ngilu pada payudara juga berefek ke kepala sehingga Naila juga merasakan pusing.


"Saya akan tolong, apakah perlu saya memepah kamu untuk mencari taksi? "


"Sshh di sini.. Saya hanya perlu mengeluarkan ASI. " ringis Naila.

__ADS_1


"Hah? " Arman terkejut dengan permintaan Naila.


"Kamu menyusu lah ke saya, ini sangat sakitt dan saya harus mengeluarkan ASI saat ini juga. " Naila harus meminta hal yang sebenarnya tidak boleh dia minta karena ASI nya hanya boleh diminum oleh Samar dan anak-anak nya saja tapi apa boleh buat, sekarang keadaannya berbeda dan mendesak.


Naila menarik pergelangan Arman agar duduk kembali dan dia segera membuka kancing baju nya. Arman speechless , dia bingung harus bantu atau tidak, sejujurnya dia takut tapi dia juga kasian melihat Naila yang kesakitan itu.


"Pleaseee ini sangat sakit sshh, " Naila memohon dan menarik kerah baju Arman sehingga wajah Arman tepat berada di depan payudara Naila yang besar itu.


"Kamu ya-kin?" tanya Arman ragu, takut nanti Naila meminta pertanggungjawaban nya setelah menyusu kan dia belum punya uang dan belum sukses.


"Ya cepatlah, cuma sebentar pleasee, " desak Naila lagi. Ahh persetan dengan Samar sekarang, yang penting dia harus mengeluarkan ASI sekarang juga walau itu hanya beberapa menit, yang penting sakit nya berkurang.


"T-tapi itu ummm!! Jangan meminta tanggungjawab dari saya yah, " ucap Arman yang tidak mau dimintai tanggung jawab.


"Saya tidak akan meminta tanggungjawab mu dan saya berjanji akan menjaga Azhar sampai kamu menjemputnya nanti... Cepatlah ini sangat sakit,, " desak Naila dan Arman segera membantu Naila. Dia menghisap pelan tapi karena ASI Naila yang sudah hendak keluar itu mengalir deras dimulut Arman sehingga Arman terpaksa melahap itu dengan kencang.


Cuma 15 menit Arman menyusu dan itu membuat Naila sedikit merasa lega karena sakit di payudara nya sedikit berkurang.


'Maafkan aku Samar, ini terjadi karena keadaan dan aku harap kamu bisa menerima ku jika sudah mendengar cerita ini, "ucap Naila didalam hati, dia sangat merasa bersalah kepada Samar dan malu akan permintaan nya kepada Arman. Mau bagaimana lagi, sudah dikatakan ini karena keadaan dan bukan disengaja.


"Terimakasih, dan maaf sudah membuat mu tidak nyaman, " Naila tahu apa yang dirasakan Arman. Terlihat dari wajah kaku Arman.


"Sama-sama." ucap Arman.


"Besok kamu mau keluar kota kan? Semangat bekerja dan setelah sukses jemput lah Azhar, aku akan menemaninya. " janji Naila dan membuat Arman tersenyum bahagia.


"Terimakasih sudah bersedia merawat adek saya.. " Arman terharu karena adeknya akan dijaga oleh wanita baik seperti Naila.


"Sama-sama, dan kamu lupakan kejadian tadi dan saya berharap kamu tidak menaruh hati kepada saya karena perlakuan saya tadi, saya sudah memiliki kekasih. " walaupun Samar tidak ada kabar tapi Naila tetap mengakuinya, Naila takut Arman akan menaruh hati padanya apalagi kejadian dia menyusui Arman tadi. Bukannya Naila kepedean tapi dia hanya waspada kan perasaan bisa datang tiba-tiba.


Arman mengangguk, dia sebenarnya juga sudah memiliki kekasih jadi dia tidak akan menaruh hari kepada Naila.


"Saya mengerti, dan sekali lagi saya mohon jaga adek saya sampai saya kembali nanti. " Arman kembali memohon.


"Pasti, dan kamu semangat kerja nya agar cepat sukses, adekmu pasti bangga kepadamu. " Naila memberi semangat ke Arman.


"Terimakasih... "

__ADS_1


Flashback off


__ADS_2