
*BOOOOM!
“Mungkin dulu kamu bisa mengalahkanku, tapi untuk sekarang kamu sudah sangat jauh dari kultivasiku Jenderal Bingwen Sang Pengkhianat, jadi lebih baik kamu diam saja dan nanti biarkan Kaisar yang memutuskan nasibmu,” ucap Jenderal Xia yang sudah berhasil membuat Kakek Mo Bingwen babak belur.
“Penjaga Angin Abadi!” Jenderal Xia langsung mengeluarkan salah satu jurus terkuat miliknya dan memasukkan Kakek Mo Bingwen yang sudah sekarat itu ke dalamnya.
Mo Chen yang terkena pukulan keras tadi baru saja bangkit dari tanah, wajahnya masih terasa begitu sakit dan kepalanya pusing karena mendapat pukulan langsung dari seorang ranah Jalan Surgawi Puncak itu.
Dia lalu melihat Jenderal Xia itu ingin memasukkan Xia He ke tempat yang sama dengan Kakek Mo Bingwen, tentu saja dengan kegilaannya dia langsung menerjangnya dengan hanya kekuatan ranah Kaisar ✩ 1 semata.
“Logam Cair Terkutuk : Jarum Kematian!” Mo Chen sudah mengubah senjatanya, kini dia menggunakan senjata andalannya untuk menyerang musuhnya itu.
“Tidak akan kubiarkan kamu membawa kekasihku! Majuuuuu!” Mo Chen sudah menggunakan Aura Elemen Cahaya miliknya untuk bergerak sangat cepat dan mengincar kepala Sang Jenderal Xia.
*TING!
*TING!
*TING!
“Kamu masih terlalu lemah dan tidak pantas menginginkan Tuan Putri kami anak muda. Dan kalau tidak salah bukankah Aura Elemen Cahayamu sudah dicuri, kenapa kamu masih bisa menggunakannya?!” tanya Jenderal Xia sambil terus menangkis semua serangan logam itu.
Jenderal Xia menahan dan menangkis semua serangan itu dengan sangat mudah, baginya kecepatan Mo Chen juga tidak lebih cepat dari seekor burung, inilah perbedaan nyata dari seorang Jalan Surgawi Puncak dan Kaisar Rendah.
“Stealth : Menghilang!” Selain menggunakan kecepatannya, Mo Chen juga menghilangkan hawa keberadaan dan tubuhnya dengan sempurna, sayangnya semua itu masih tidak berhasil melawan musuh yang begitu kuat itu.
“Tornado Angin : Hancurkan sekitar!” Jenderal Xia terlihat tersenyum ringan dan menghentakkan kakinya ke tanah. Seketika sebuah tornado besar terbentuk dan menghempaskan Mo Chen yang menghilang itu.
__ADS_1
“Oh kamu disitu! Kalau begitu…”
*BAAAM!
*BAAAM!
*BAAAM!
Jenderal Xia meskipun tidak bisa melihat tubuh Mo Chen secara jelas, namun instingnya sebagai seseorang yang sudah berada di medan pertempuran selama puluhan tahun tak diragukan lagi.
Dia terus menghantam Mo Chen dengan pukulan dan tendangan yang beruntun, serta semuanya benar-benar tepat sasaran, dia terus menghancurkan Mo Chen dengan sangat keras.
“Ugh…” Mo Chen muntah darah, dia masih menahan serangan itu hanya dengan kedua tangannya yang himpatkan untuk melindungi wajahnya, dia terus seperti itu hingga tubuhnya menabrak beberapa pohon dan menumbangkannya sampai lebih dari 10 pohon beruntun.
“Hanya dengan beberapa gerakan saja dariku, kamu sudah kewalahan, apakah kamu benar-benar pantas menginginkan Tuan Putri kami, lebih baik kamu sampai di ranah Jalan Surgawi, jika tidak maka lupakanlah untuk memiliki Tuan Putri kami!” tegas Jenderal Xia.
“Tapi karena aku juga ingin menolong Keluarga Wu untuk membunuh cecunguk sepertimu, bagaimana jika aku tidak memenuhi janjiku pada Tuan Putri Xia He untuk menyelamatkanmu dan malah membunuhmu, bukankah aku akan mendapat hadiah tambahan dari Keluarga Wu?” gumam Jenderal Xia dengan suara keras.
“HENTIKAN! Jika kamu berani melakukannya, aku akan bunuh diri!” teriak Xia He yang sudah dimasukkan ke dalam penjara angin oleh Jenderal Xia sebelumnya, dia mengeluarkan belati pendek dan meletakkannya pada lehernya sendiri.
Jenderal Xia yang melihat hal itu langsung berhenti, dia balik badan dan mendekati Xia He yang tidak main-main dengan perkataannya itu.
“Baiklah-baiklah, saya tidak akan melakukannya. Tapi kenapa Anda sampai melakukannya? Bukankah dia hanya orang biasa yang kebetulan bertemu dengan Anda? Bahkan Pangeran Wu ribuan kali lebih baik dari dirinya,” ucap Jenderal Xia.
“Memangnya kamu siapa ingin mengaturku, jika kamu berani melakukan itu, maka lebih baik aku mati saja dan lihat bagaimana ayah akan sangat marah padamu,” ancam Xia He sudah sedikit menggores lehernya.
Jenderal Xia tidak memiliki pilihan lain, akhirnya dia mengurungkan niatnya itu. Kemudian dia menyuruh semua bawahannya untuk mendekat dan mereka siap untuk kembali.
__ADS_1
“Saya tidak akan melakukannya, tapi saya sudah menyiapkan hadiah yang baik untuk kekasih Anda itu,” ucap Jenderal Xia yang sudah siap melakukan teleportasi dengan bantuan array.
“Dan kamu Pak Tua Tong Sheng, aku senang karena kamu tidak ikut-ikut dalam hal ini. Dengan ini mungkin kita masih bisa menjadi sahabat di kemudian hari,” ucap Jenderal itu memandang langit.
Raja Kota Tong Sheng hanya diam saja, dia tidak ingin berkomentar dalam hal ini, matanya menunjukkan rasa bersalah yang mendalam pada sahabatnya yakni Kakek Mo Bingwen dan Mo Chen yang sudah sekarat di tempat masing-masing itu.
“Dan kamu anak muda! Mungkin kamu berbakat, tapi berbakat saja tidak cukup, jadilah kuat dan jika memang kamu berniat membalas dendam, lampauilah kekuatanku,” teriak Jenderal Xia.
“Dan aku sudah menyiapkan sebuah hadiah untukmu agar bisa memberikanmu motivasi lebih cepat untuk menjadi kuat, kamu akan tahu ketika kembali ke rumah,” lanjut Jenderal Xia.
“Kalau begitu sampai jumpa semuanya, terima kasih karena telah menunjukkan hal yang menarik disini. Dan aku akan menganggap Pedang Api Cahaya ini sebagai rampasan, aku pergi dulu!”
*SPLASH!
Jenderal Xia tersenyum penuh kemenangan dan kemudian menghilang begitu saja bersama dengan semua orang. Sekarang yang tersisa di sana hanya Raja Kota Tong Sheng dan Mo Chen yang sekarat.
Raja Kota langsung mendekati Mo Chen dan meminumkan beberapa pil untuk setidaknya meringankan luka yang ada dalam tubuhnya. Mo Chen sendiri sudah sedikit lebih baik dan berterima kasih.
“Terima kasih, tapi bisakah aku minta tolong lagi Raja Kota, tolong bawa saya menuju kembali ke rumah, aku merasakan firasat yang buruk mengenai hal tadi,” ucap Mo Chen berusaha dengan keras menyembunyikan amarahnya.
Raja Kota Tong Sheng hanya mengangguk ringan, lalu menggendong tubuh Mo Chen yang sudah bisa sedikit bergerak kembali ke rumah.
‘Semoga apa yang aku takutkan tidak terjadi, jika sampai apa yang ada dipikiranku terjadi, aku benar-benar akan membuat Kekaisaran Xia hancur lebuh!’ batin Mo Chen.
Sayangnya terkadang apa yang diharapkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi pada kenyataan. Semua ketakutan Mo Chen benar-benar terjadi, dia melihat Kong Yin dan Kong Liang yang mati dengan leher yang penuh darah.
“Ke– kenapa mereka melakukan ini?”
__ADS_1
“Kenapa mereka begitu kejam pada kedua orang tak berdosa ini?”
“KENAPA– AKU BERSUMPAH DEMI LANGIT DAN BUMI, AKU AKAN MENGHANCURKAN KALIAN SEMUA KEKAISARAN XIA! DAN MUSUH ABADIKU KEKAISARAN WU! KEHANCURAN KALIAN HANYA TINGGAL MENUNGGU WAKTU!” teriak Mo Chen pada langit sambil mengelus kepala Kong Liang dan Kong Yin yang sudah berlumuran darah.