
Mo Chen yang sudah bersiap melakukan siksaan kerasnya melihat ke arah orang yang berbicara itu, disana dia melihat tubuh Kakek Mo Bingwen yang sangat kurus dan mengenaskan.
Dan orang yang berteriak padanya itu sudah meletakkan pedangnya tepat di leher Kakek Mo Bingwen dan bisa menariknya kapan saja dan membuat Kakek Mo Bingwen tewas.
“Cepat lepaskan dia atau aku juga akan menyiksamu seperti Jenderal Besar Xia yang sudah sekarat itu?” tegas Mo Chen yang jaraknya cukup jauh dari orang yang mengancamnya itu.
“Lepaskan dulu Jenderal Besar Xia! Dan menyerahlah pada Kekaisaran Xia! Kalau tidak maka aku akan membunuh orang yang paling kamu sayangi ini!” teriak bawahan jenderal itu lagi.
Mo Chen terdiam, bagaimanapun menyelamatkan Kakek Mo Bingwen dan Xia adalah prioritasnya, jadi tidak mungkin dia membiarkan kedua orang tersayangnya itu mati tepat di depan matanya.
Mo Chen sudah terlihat hendak menyerah dengan mengangkat tangan, namun tangannya yang terangkat itu memberikan sebuah kode pada Xiao Zhan untuk yang tak jauh dari sana mengambil keputusan.
Mo Chen akan menyerahkan semuanya pada Penasihat Utamanya itu, karena di saat-saat seperti ini, dia harus mengakui bahwa dia tidak bisa berpikir rasional dan akan menyebabkan kekacauan di masa depan, jika salah dalam mengambil keputusan sekarang.
Xiao Zhan yang melihat itu menatap Wang Yibo, lalu dia mengirimkan telepati untuk melakukan sesuatu. Xiao Zhan menyuruh Wang Yibo untuk membuat semua musuh dalam radius 1500 meter harus mati terbunuh dengan satu serangan.
‘Lakukanlah sekarang! Gunakan Tapak Tangan Naga Api milikmu dan buat sebuah dentuman keras yang bisa membunuh semua orang, kita akan mengalahkan musuh secara langsung dan mengambil kembali pak tua itu, percayalah padaku!’ ucap Xiao Zhan.
‘Luo Yun kamu bersiaplah menyergap beberapa bawahan jenderal lainnya yang ada disekitar orang yang berteriak pada Tuan Muda itu. Bunuh mereka semua dengan sesenyap mungkin, berikan aku jalan untuk bisa masuk dan menyelamatkan pak tua yang merupakan orang terdekat Tuan Muda!’ ucap Xiao Zhan.
Tepat ketiga orang itu mengangguk bersamaan, mereka langsung melakukan tugasnya masing-masing. Dan karena kekuatan mereka bertiga sudah di Ranah Nirwana, melakukan semua itu hanya masalah waktu sampai akhirnya mereka semua berhasil.
Xiao Zhan sendiri sudah berhasil membuat orang yang berteriak dan mengancam Mo Chen itu mati dalam sekali sedang menggunakan sebuah benang baja tipis yang merupakan senjata khas miliknya.
“Ugh…” Orang yang berteriak dan mengancam Mo Chen itu terjerat benang itu secara melingkar serta akhirnya kepalanya terputus begitu saja karena Xiao Zhan menariknya dengan lebih kuat dan mengalirkan energi qi di dalamnya.
*BOOOM!
__ADS_1
Begitu juga dengan tugas Wang Yibo yang sudah menyamarkan pergerakan Xiao Zhan dan Luo Yun dengan serangan besar dan area yang mampu membunuh ribuan orang sekaligus itu.
Luo Yun juga tak kalah ganas, dengan kepandaiannya dalam menggunakan sebuah belati pendek, dia layaknya seorang pembunuh yang sangat terlatih dan akhirnya membunuh 3 dari bawahan jenderal lainnya yang tadinya menjaga keadaan tadi.
“Kami sudah mendapatkan Kakek Tua ini, Tuan Muda! Anda bisa melanjutkan membunuh Jenderal Besar Xia yang ada di depan Anda. Dan biarkan kami yang mengurus pasukan musuh yang masih tersisa ratusan ribu orang ini, kami akan membunuh mereka semua!” ucap Xiao Zhan dari kejauhan.
“Bukan hanya kekuatanmu yang meningkat drastis, bahkan sekarang kamu memiliki bawahan kuat yang kalau aku tidak salah merasakan kekuatan mereka setara denganku, kamu memang benar-benar sesuatu anak muda,” ucap Jenderal Besar Xia sudah pasrah dan memandang langit di atasnya.
“Andaikan kala itu aku tidak mengambil Putri Xia He dan Jenderal Mo Bingwen secara paksa, mungkin kita sekarang akan bertemu sebagai kawan bukan lawan, baiklah sekarang bunuhlah aku, aku sudah menerima kekalahanku,” ucap Jenderal Besar Xia.
“Aku tidak akan bergerak dengan kata-kata manismu, aku masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah Kong Liang dan Kong Yin yang sudah kamu penggal dengan kejam itu, matilah untuk menebus kesalahanmu pada mereka!” ucap Mo Chen sambil menusuk jantung Jenderal Besar Xia dengan logam cair yang membentuk belati sedang.
“UGH! Ini memang pantas untukku, selamat tinggal anak muda! Dan … musuhmu yang sebenarnya adalah Kekaisaran Wu bukan Kekaisaran Xia, semoga kamu … paham … dengan … mak–” Jenderal Besar Xia itu tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena sudah terlanjur meninggal terlebih dulu.
“Aku sudah tahu, memang musuhku dari awal adalah Kekaisaran Wu atau lebih tepatnya Keluarga Wu. Orang yang dulu mencuri Aura Elemen Cahaya milikku! Tenang saja, aku juga akan menuntut balas pada mereka nanti!” tegas Mo Chen menarik senjatanya dan mengangkatnya tinggi-tinggi ke atas.
[Selamat! Master mendapatkan 2,35 miliar PP & 235 juta PS.]
[Selamat! Master mendapatkan 7,98 miliar PP & 798 juta PS.]
[Selamat! Master mendapatkan 16,7 miliar PP & 1,67 miliar PS.]
[Selamat! Master mendapatkan 30,1 miliar PP & 3,01 miliar PS.]
Dering pemberitahuan sistem terus terdengar sampai akhirnya peperangan itu selesai dalam waktu sehari saja, 1 juta musuh dibantai habis oleh Pasukan Langit Abadi yang menguasai 10 Kota Benteng.
Sebuah kemenangan telak yang terkenal dengan Peperangan 10.000 melawan 1.000.000 juta pasukan. Dan membuat heboh seluruh dunia karena peperangan itu berakhir tidak lebih dari satu hari, benar-benar sebuah peperangan yang tidak imbang sama sekali.
__ADS_1
***
Beberapa hari kemudian di Istana Kekaisaran Xia.
“Bagaimana mungkin salah satu Jenderal Terkuatku kalah dalam peperangan itu, apalagi hanya melawan 10.000 orang saja? Apa yang sebenarnya terjadi dalam peperangan itu?” marah Kaisar Xia di ruang tahta itu.
“Maafkan kami Yang Mulia. Tapi menurut laporan beberapa mata-mata yang kami tugaskan kesana, sepertinya musuh itu memang sangat kuat, bahkan yang terlemah diantara mereka berada di Jalan Kesengsaraan Puncak dan kebanyakan sudah mencapai Jalan Surgawi Menengah ke atas,” jelas salah satu menteri.
“Kami juga menemukan fakta baru mengenai orang yang menyerang kita itu masih satu keluarga dengan Jenderal Mo Bingwen, kalau tidak salah nama pemimpin mereka itu adalah Mo Chen, nama pasukannya adalah Pasukan Langit Abadi,” lanjut menteri itu menjelaskan.
Mata Putri Xia He yang ada di sana bersama dengan calon suaminya dari Kekaisaran Wu melotot, ketika mendengar nama orang yang memimpin pasukan itu, hatinya bergetar hebat dan matanya tak kuasa menahan tangis.
“Kamu kenapa Putri Xia He? Apakah ada yang membuatmu bersedih?” tanya Putra Mahkota Kekaisaran Wu yang bernama Pangeran Wu Yanzi itu memecahkan keheningan semua orang.
Kaisar Xia yang sedikit merasa pernah mendengar nama itu langsung sadar bahwa orang yang bernama Mo Chen itu adalah orang yang dicintai putrinya, bahkan sampai membuatnya tidak mau kembali ke istana beberapa tahun lalu itu.
“Aku kira dia sudah tua atau teman dari Jenderal Pengkhianat Mo Bingwen. Tapi apakah dia adalah orang yang telah membuatmu tidak mendengarkan perintahku itu, He’er?” tanya Kaisar Xia pada putrinya yang menangis itu.
Putri Xia He diam saja, dia sama sekali tidak berniat menjawab pertanyaan itu, karena satu kata darinya saja yang salah, maka mungkin Mo Chen akan ditargetkan oleh dua kekaisaran secara langsung.
“Oh jadi pemimpin mereka itu adalah orang yang telah menculikmu beberapa tahun yang lalu itu? Kalau begitu biarkan aku saja yang membunuhnya, aku akan membuat dia menyesal karena telah membuatmu sedih dan menangis seperti ini,” tegas Pangeran Wu Yanzi pada Putri Mei Yin dan bisa didengarkan oleh semua orang.
“PUTRI XIA HE! DIA ADALAH PUTRA MAHKOTA KEKAISARAN WU! TIDAKKAN KAMU BISA MEMBUKA MULUTMU DAN MENJAWAB PERTANYAANNYA! APAKAH HUKUMAN AYAH MASIH KURANG KERAS PADAMU!” marah Kaisar Xia ketika melihat putrinya itu tidak mau menanggapi dan menjawab pertanyaan dari Pangeran Wu Yanzi.
“Sepertinya kamu masih keras kepala seperti biasanya, kalau begitu aku akan menghilangkan semua kekeraskepalaanmu itu. Kita akan menyerang 10 Kota Benteng dengan seluruh kekuatan! Bunuh pria yang bernama Mo Chen dan 10.000 Pasukannya itu! Cepat laksanakan perintahku ini!” tegas Kaisar Xia.
“Baik, Yang Mulia!”
__ADS_1