Sistem Reinkarnasi Mendadak Kaya

Sistem Reinkarnasi Mendadak Kaya
Bab. 25. Mendiskualifikasi Si Mesum.


__ADS_3

"Ti–tidak! Bukan begitu maksudku. Aku benar-benar mencintaimu. Aku jatuh cinta pada segala sikap baikmu!" Felly terus saja memelas dan membela dirinya.


Ia terus bersimpuh bahkan menarik ujung Piyaman David. Namun, David menepis tangannya. Ia jijik, wanita seperti Felly menyentuh dirinya. "Setelah ini aku harus mandi kembang tujuh rupa dan menggosok tubuhku dengan pasir tujuh warna!" sarkas David tanpa berniat memandang wajah Felly.


Napasnya memburu menahan kesal. Ia ingin wanita ini segera pergi dari hadapannya sebelum ia tak mampu lagi mengendalikan emosinya.


"Kau pikir aku ini najis, hah! Jangan menghinaku sembarangan!"


" Kau sendiri yang telah membuat dirimu terhina dan pantas untuk di hina. Apakah ada wanita baik-baik yang berniat menjebak laki-laki demi mendapat keuntungan!"


"I–itu. Tidak begitu. Kau salah paham maksudku, Tuan." Felly tetap bersikeras membela diri.


"Aku akan menyerahkan bukti pada ayahku. Dan biarkan beliau yang menetapkan. Apakah aku salah menilaimu atau tidak."


"Bukti?" Felly mendelik, matanya berkeliaran pandang kesana dan kemari. Mencari penampakan dari kemungkinan adanya CCTV diruangan ini.


"Bukti apa maksudnya? Lagipula aku ini masih virgin. Aku tidak terima dengan tuduhan dari-mu Tuan." Felly, berusaha tetap mempertahankan posisinya di pihak yang benar. Tanpa ia ketahui jika pria di hadapannya ini bukan orang sembarangan. Felly salah jurusan. David yang sekarang tidak mudah ditaklukkan dengan hanya wanita telanjang di hadapannya.


"Kau akan mengetahuinya nanti. Sekarang, keluarlah!" David menunjuk ke arah pintu keluar dengan suara menggelegar. Tanpa ditatap pun Felly sudah gemetar. Ia mau tak mau menuruti apa perintah dari David saat ini. Ia takut jika pria ini kalap dan membunuhnya. Tadi ia sudah merasakan bagaimana hampir meregang nyawa kala David mencekik lehernya.


"Paul!"


[ Ya, Tuan.]

__ADS_1


"Cek statusku sekarang. Ku rasa kesehatanku menurun. Dadaku sesak." Davis berpegangan pada lengan sofa. Ia merasa dadanya seakan di remas kuat.


[ Baik. Cek status! ]


[ Status: Pria usia 26 tahun.


Kekuatan: 35%


Kesehatan: 25%


Ketampanan :45%


Kepintaran : 45%


[ Kesehatan anda menurun sebanyak sepuluh persen Tuan. Beristirahatlah. Anda terlalu emosi. Tensi anak naik drastis hingga menimbulkan sesak. Coba lakukan ... exhale ... inhale. ]


Begitulah saran Paul yang ternyata dituruti juga oleh David. Pria itu menarik napas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Negri terus sampai tiga kali. Hingga, ia merasa dadanya tak sesak lagi.


[ Anda harusnya menaikkan poin kesembuhan. Bukan justru mengurangi sebanyak itu. ]


Protes Paul, membuat David kembali mengeratkan rahangnya.


"Apa kau sedang menyalahkan aku, hah!" pekik David. Ia sudah mulai memperbaiki cara bicaranya pada Paul. Tapi, sistem satu ini seperti selalu sengaja memancing amarahnya.

__ADS_1


[ Seharusnya anda bisa mengendalikan emosi. Tidak perlu mencekik wanita itu seperti tadi. Saya hanya mengingatkan, Tuan. Misi menginginkan anda berpikir seperti David yang baik hati. Bukan seperti pemilik tubuh yang sebelumnya. Lain kali, coba tahan amarah anda. Bawa tubuh ini merasuk ke dalam karakter David Zerenk. Bukan malah sebaliknya. Semoga, Anda paham maksud saya.]


Ucapan Paul, sukses membaut David diam. Ia mendudukkan tubuhnya lemas ke atas sofa. Pqa yang Paul katakan benar. Semakin lama, ia akan terbawa tabiat buruk pemilik tubuh. Seharusnya memang tindakannya tadi tidak harus terjadi.


"Aku mengerti. Terimakasih sudah mengingatkan ku. Kau sistem yang bijak, Ul. Macam si kancil!" seloroh David membuat Paul semakin memasang ekspresi datar.


"Dasar kau sistem. Tidak bisa diajak bercanda. Tidak asik!" cibir David. Hingga akhirnya Paul mengeluarkan suara tawa ala mesin. Kaku dan datar.


[ Haha ... haha ...]


"Itu Ketawa?"


[ Iyaa, Tuan.]


"Mending gak usah deh!"


[ Kenapa, Tuan? ]


"Merusak suasana!" celetuk David dan ia menjatuhkan kasar raganya ke atas kasur yang membal dan empuk. Tak lama ia pun terlelap.


[ Anda pasti kelelahan. Bersabarlah, Tuan. Takdir anda sebentar lagi tiba. ]


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2