Sistem Reinkarnasi Mendadak Kaya

Sistem Reinkarnasi Mendadak Kaya
Bab. 57. Habislah Kau Brandon.


__ADS_3

Brandon, terlihat melepas piyamanya, di sela pertarungan. Dan, kini nampaklah raganya dengan otot-otot yang masih nampak perkasa pada lengan, bahu, dada dan perutnya.


"Yaelah, kadal burik. Segala mau pamer otot lu Ama gua! Okelah, lu jual gua beli!" gumam David pelan. Ia pun kembali berbisik pada Pa'ul si sistem kesayangan.


"Lu tau apa yang harus lu lakuin kan Ul!"


Tak lama kemudian.


Srekkk!


Suara robekan dari kain terdengar nyaring, ketika David merobek atasannya. Hingga, menampilkan apa yang selama ini hanya bisa di bayangkan oleh para readers.


Dada bidang berotot dengan roti kombinasi delapan kotak. Pinggang yang terbentuk ramping membuat body proporsional nan gagah itu terlihat sempurna. Mereka berdua pun bergaya bak binaraga. Bayangkan saja mereka laksana duet dari iklan susu Elmen.


Setelah adegan pamer otor dan bentuk tubuh, mereka kembali adu jurus dan banting membanting. Keadaan di ruangan itu itu sudah sangat berantakkan. David terus mengikuti kemauan Brandon. Tenaganya masih full sementara pria paruh baya itu mulai terengah-engah.


Brandon yang sudah terengah-engah. Mendapat terjangan dari serangan secepat kilat David. Tubuhnya terjengkang menabrak meja hingga hancur.


Blakk!


Duakkk!

__ADS_1


David menendang Brandon hingga masuk kedalam kamarnya yang super mewah itu. Para wanita yang habis jadi mainannya memilih bersembunyi ke dalam walk in closet. Segera, David menutup pintu kamar tersebut, tanpa memperdulikan tiga wanita setengah bugil itu.


Inilah saat baginya untuk menghabisi Brandon selamanya. Soal sisa anak buah dari klan Vinjoul ini urusan gampang. Karena, mereka yang berada di ruangan lain tidak akan mendengar kejadian di dalam. David, ingin melampiaskan kekesalan sekaligus kemarahannya terhadap pria yang selama ini ternyata menjadi dalang dari semua masalah hidupnya.


"Anak buah sialan! Bukankah mereka banyak. Kemana mereka sekarang! Berengsekk! Aku jadi bulan-bulanan anak ingusan yang sok keren ini!" gumam Brandon sambil menguasai deru napasnya. Usia ternyata tak mampu membohongi kenyataan.


Brandon tersudut, keadaannya nampak terlihat kelelahan. Namun, pria paruh baya itu masih berusaha berdiri. Meski, hidung dan sudut bibirnya telah mengeluarkan cairan berwarna merah.


"Kau masih sanggup berdiri rupanya, kadal burik!" ejek David dengan seringai yang nampak jelas meremehkan.


"Ini belum seberapa, jangan banyak lagak kau!" Lalu Brandon pun kembali melakukan serangan.


Brukk!!


"Sudah di ujung ajal, masih saja kau tak sadar diri, dasar kadal burik tua bangka bau kuburan!" hardik David semakin menekan tubuh, Brandon ke dinding.


"Beraninya kau melakukan ini pada keluargaku! Hendak menyakiti kedua orangtuaku dengan menghabisi nyawaku perlahan. Bahkan, kau menggunakan tangan orang lain! Dasar pengecut! Jangan mimpi!" David segera membalik tubuh Brandon lalu mencengkeram leher pria paruh baya itu kuat.


Brandon masih sempat menyeringai, meski napasnya sudah tercekat. Kedua tangannya menahan lengan perkasa anak muda dihadapannya ini , yang menekannya penuh emosi. Seluruh urat mencuat kebiruan dari leher hingga pelipis Brandon.


"K–kau ... harus merasakan ... a–apa yang, kurasakan!" Dengan terbata Brandon berusaha mengucapkan kata-katanya.

__ADS_1


"Masih berani bicara!" David , mendaratkan lututnya pada alat tempur Brandon, hingga terdengar seperti suara telor yang pecah.


Kedua mata tajam itu berair, merasakan ngilu sekaligus susah bernapas.


Teriakannya tak dapat keluar, karena David telah menutup akses dengan menekan pita suara Brandon. Pintu kamar yang di kunci membuat kegaduhan mereka tak terdengar. Karena kamar itu kedap suara, maka David dengan leluasa menghajar Brandon yang kini bukanlah tandingannya.


Belum lagi, Brandon sudah setengah sadar. Membuat, dia dengan mudah mematahkan setiap jurus serangannya. "Kau, sudah melewati batas mu orang tua! Aku akan menghentikan semuanya hari ini." David pun mengendurkan cengkeraman pada leher Brandon, hingga tubuh lunglai itu luruh ke lantai.


Ia tak ingin mengotori tangannya dengan menghabisi lawan yang sudah lemas tak berdaya. Tapi, tidak dengan kakaknya.


Dugghh!!


Dengan segenap amarah, David kembali melayangkan kakinya, hingga mendarat dengan keras ke pinggang Brandon. Kedua mata pria paruh baya itu mendelik. Ia tak bisa berteriak ataupun memohon, ketika raganya terpental melayang hingga menabrak dinding.


Tak ada lagi pergerakan dari pria paruh baya itu.


Brakk!


Pintu kamar terbuka, dan David mendapati beberapa pasang mata menatap nyalang ke arahnya.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2