Sistem Reinkarnasi Mendadak Kaya

Sistem Reinkarnasi Mendadak Kaya
Bab. 31. Agnes Gadisku.


__ADS_3

David menggendong Agnes ala bridal style masuk kedalam rumah. Para pelayan yang bingung hanya bisa diam dan melongo saja. Mereka tidak memiliki hal bahkan hanya untuk sekedar bertanya sekalipun.


"Tolong, bawakan minuman hangat yang dapat membantu tubuh segar dan perasaan lebih baik. Juga makanan penambah energi yang tidak terlalu berat. Antar ke kamar atas, dan agak cepat!" David menoleh pada salah satu ketua pelayan yang kini hadir di hadapannya sesaat setelah ia panggil. Kemudian memberi perintah seperti yang ia sebutkan tadi.


"Ba–baik, tuan muda." Pria berusia matang itu menjawab dengan tegas dan sedikit membungkukkan tubuhnya. Kemudian ia langsung memerintahkan kepada beberapa pelayan di bawah kendalinya untuk menyiapkan apa yang di butuhkan.


"Buatkan lemon tea hangat. Masukkan batang kayu manis.bLalu, kue pie telur susu dengan salad buah stroberi. Cepat!" titah pria berkumis tipis itu pada anak buahnya.


"Jangan sampai mengecewakan tuan muda. Bukankah, hidup kita lebih tenang semenjak tuan muda berubah. Tunjukkan padanya rasa terimakasih kita. Ini adalah untuk permintaan pertama dari tuan muda selama ia kembali ke mansion ini," ucap ketua pelayan itu lagi.


Ia akan berusaha semaksimal mungkin menyiapkan segala permintaan tuan mudanya dengan sempurna. Sebelum David koma ia dan pelayan lain sering mendapat marah, cacian dan makian. Bahkan tak seorang jika ada pelayan yang akan di hukum oleh David.


Entah itu secara fisik maupun pemecatan langsung. Padahal kala itu mereka telah berusaha keras mengabulkan setiap permintaan tuan muda mereka itu. Hanya saja sifat David yang memang arogan dan selalu seenaknya juga kejam jika sudah marah dan tak suka. Membuat lara pekerja di mansion ini sering dilanda ketakutan.


Keadaan itu sontak berubah semenjak David bangun dari koma. Sosok yang selalu memasang wajah sinis, selalu mendongak ketika berjalan. Sejak ia bangun kembali tak pernah lepas memasang senyum ketika berinteraksi dengan para pelayan dan pekerja. Selalu mengucapkan tiga kalimat ajaib. Tolong, Maaf dan terimakasih.


David telah tiba di dalam kamarnya yang megah dan mewah. Ia merebahkan Agnes perlahan. Membuka sepatu gadis itu juga stocking-nya.


"Maaf, aku harus melonggarkan pakaianmu. Agar keadaanmu lebih baik." David berbicara sendiri seakan meminta ijin pada Agnes ketika ia harus membuka beberapa atribut pada tubuh Agnes.


Termasuk cardigan yang gadis itu gunakan. Meksipun, jemarinya sempat bergetar. David berusaha keras mengalihkan segala pikiran lain. Ketika ia mendapati Agnes mengenakan pakaian yang terbuka dan terdapat belahan panjang di bagian bawah gaunnya.


Ketika kain itu tersibak, maka tampaklah betis dan paha yang putih mulus. Sungguh bagian yang belum pernah David lihat sedekat ini sebelumnya. Ia belum pernah mau memperhatikan bagian dari perempuan secara serius. Biasanya David akan memalingkan wajahnya.


"Ma–maaf. Mataku ini kelepasan. Kenapa kau begitu cantik. Apa yang sudah kau lakukan pada dirimu. Kemana Agnes yang urakan dan tomboi serta galak padaku?" David terkekeh kecil setelah mengucapkan kalimat terakhirnya.


David menepuk bantal agar kepala Agnes lebih tinggi dari tubuhnya. Ia menaikkan selimut hingga menutupi dada Agnes yang menonjol karena pakaiannya yang memang ketat membentuk tubuh. Selama ini, David selalu melihat Agnes menggunakan kaus besar dan longgar. Puas memandangi wajah pucat dan sembab di hadapannya ini. Lalu, David terlihat mengoles sesuatu ke bawah hidung Agnes.


Hingga, tak lama kemudian gadis itu bergerak pelan. "Syukurlah kau telah sadar," gumam David seraya menghela napas lega. Perlahan kedua mata Agnes membuka secara keseluruhan dan ia menatap David dengan berkaca-kaca kembali.

__ADS_1


David tersenyum dan mengulurkan tangannya mengusap air mata yang kembali bergulir menuruni pipi Agnes yang putih. " Sudah, Jangan sedih lagi. Itu semua bukan kesalahanmu. Aku tidak pernah menyesal telah berusaha menolongmu. Meksipun, aku tidak di hidupkan lagi sekalipun. Aku tidak pernah menyesal terhadap keputusan yang telah aku ambil. Jadi, Jangan merasa bersalah lagi," ucap David seraya memberi remasan lembut melalui genggaman tangannya pada jemari Agnes.


Agnes sontak bangun mendudukkan dirinya. Tentu saja hal itu membuat selimut merosot kebawah. Sehingga menampakkan sesuatu bagian yang seharusnya tidak di lihat oleh David. Tapi mau bagaimana lagi, mau tak mau ia lihat juga karena terpampang jelas di depan matanya.


Astaga! Ini Agnes sadar gak sih kalau pakaiannya itu terlalu terbuka dan menggoda.


David membatin seraya mengontrol degup jantungnya. Karena seperti belum menyadari keadaan dirinya saat ini. Gadis itu masih sibuk dengan air matanya. Menikmati kesedihan dalam meratapi takdir yang hinggap dalam hidupnya.


"Tolong, kenakan ini untuk ... tutup itu ... kamu," ucap David seraya menyerahkan cardigan tipis yang tadi Agnes pakai. Hanya saja, David menyatakan agar Agnes mengenakannya terbalik.


Agnes yang bingung pun menatap kearah pandangan David. Dimana mata pria di hadapannya ini seakan tak berkedip. Memberi perintah menutup tapi sendirinya terpana kan?


Sontak Agnes kaget dan membulatkan matanya. Ia pun segera meraih apa yang di pegang David. Pria itu segera memalingkan wajahnya. Meksi ia sempat melihat semburat kemerahan di kedua pipi Agnes. Bersamaan dengan pintu kamar yang di ketuk.


David beralih menuju pintu.


Setelahnya masuklah Beberapa pelayan. Meletakkan apa yang David pesan tadi.


"Ah iya. Tunggu sebentar!" Mendengar panggilan satu tuan muda. Dua orang pelayan itu pun berbalik.


"Ada yang bisa kami bantu lagi, Tuan Muda?" tanya salah satu pelayan. Hatinya khawatir, takut apa yang ia suguhkan terdapat kesalahan.


"Tolong, sampaikan pada Peter. Bawakan pakaian ganti yang nyaman untuk gadis itu. Seperti dress di bawah lutut. Kau lihat dan perhatikan. Setelah itu kira-kira berapa ukurannya. Bawakan kurang dari satu jam!" pesan David. Pelayan tersebut mengerti dan mengangguk. David pun tersenyum serta tak lupa mengucapkan kata terimakasihnya.


Meskipun sebagai majikan mereka, tapi kesopanan itu tetap harus di jalankan. Sehingga mereka semua bukan takut tapi segan dan hormat padanya.


"Dav. Apa ini?" Agnes memundurkan wajahnya ketika David menyodorkan gelas berisi teh hangat.


"Minumlah. Agar tubuhmu kembali segar juga hati dan pikiranmu. Setelah ini baru kita bicarakan lagi. Masih banyak bagian yang tidak aku mengerti. Tapi, pelan-pelan saja. Lagipula, kau akan tinggal di sini bersamaku," tutur David dengan senyum yang membuat Agnes seketika menundukkan pandangannya.

__ADS_1


Kedua pipinya menghangat. Ia kembali merasa terlindungi. Pria ini memang satu-satunya orang yang mampu membuat jiwanya merasa nyaman dan tenang.


Betapa senangnya aku ketika dapat bertemu denganmu lagi, Dav. Aku merasa mampu menghadapi apapun ketika bersamamu. Aku merasa ini seperti mimpi. Melihatmu yang sangat berbeda, kau semakin ... mempesona. Apakah hati ini sudah terpaut padamu? Karena aku tak ingin apapun dan siapapun memisahkan kita lagi.


Agnes tanpa sadar ternyata tengah memperhatikan wajah pria di hadapannya ini tanpa kedip. Hingga David menyadarkan lamunannya dengan sebuah colekan pada ujung hidungnya.


"Eh! Maaf, aku melamun."


David terkekeh mendengar alasan Agnes. "Minumlah selagi hangat. Setelah itu makan kue ini. Isi tenagamu. Aku tidak mau menggendong mu lagi yang tiba-tiba pingsan," seloroh David.


"Maaf, karena aku berat."


"Hemm, Ternyata sadar!"


"Ish!"


Menyebalkan. Kenapa dia bilang aku berat?


Kau sendiri yang mengakuinya, Nes.


Tak lama kemudian, Peter si kepala pelayan datang membawa pesanan David.


Bukan satu atau dua pakaian tapi berjejer berikut dengan gantungan berjalan.


"Oh, Peter. Apa kau membawa satu toko ke kamar ini?" heran David seraya menepuk keningnya.


"Apa perlu, Tuan?"


"Tidak. Terimakasih!"

__ADS_1


"Keluarlah. Biar gadisku mencobanya dulu."


...Bersambung ...


__ADS_2