Sistem Reinkarnasi Mendadak Kaya

Sistem Reinkarnasi Mendadak Kaya
Ban. 58. Episode Akhir.


__ADS_3

David yang masih berselimut emosi. Semakin kesel karena musuhnya belum habis lagi. Kapan dia bisa pulang untuk menemani Agnes. Bahkan malam hampir berubah menjadi pagi.


Sementara itu di luar area villa, terdengar suara gaduh.


Anak buah Brandon ternyata tengah bersitegang dengan kubu dari pasukan yang Regan bawa. Pasukan kiriman Regan membawa senjata yang lengkap.


Perang tembakan kembali terjadi dengan jumlah pasukan yang lebih banyak pada kubu Regan.


Senjata laras panjang yang mereka gunakan mampu menandingi senjata pasukan klan Vinjoul.


Berbagai jebakan juga mampu mereka tangkis. Karena pasukan yang Regan bayar mampu menurunkan pakar di bidang tersebut.


Salah satu pria yang menggunakan topeng, dengan percaya diri merangsek ke samping villa. Pria yang juga hanya mengenakan rompi tanpa lengan itu, melempar sebuah benda yang mirip buah kopi, tapi berwarna hijau kehitaman. Hingga tak lama keluar asap dari sana. Dalam sekejap, para anak buah Brandon pingsan tak sadarkan diri.


Doorr!


David berkelit lincah, Bahkan dia sengaja menggunakan mayat dari Brandon untuk tameng dari timah panas tersebut. Dirasa lengah dan ada selah, dengan gerangan cepat David menghampiri 3 orang di depan pintu yang bersenjata.


Mata mereka melotot terpercaya. Saat senjata api itu telah berpindah ke dalam genggaman David semua.


Dor dor dor!


Tiga pria terkapar dalam sekejap.


David kembali berlari melewati Mereka kemudian turun ke bawah. Dengan jelas ia mendengar suara pertarungan. Pada saat itulah dirinya sadar bahwa tidak sendirian di tempat ini.


"Siapa mereka?"


David bertanya-tanya. Kira-kira siapa pasukan yang juga menyerang Klan Vinjoul ini. Tiba-tiba ...


Bangunan samping villa meledak, menimbulkan getaran yang cukup besar. Selain membuat bangunan rusak, ledakan itu pun mampu membuat belasan anak buah Brandon terkapar tak berdaya. Bahkan lantai yang dari pijak ikut bergetar.


David Yang penasaran pun langsung maju, melewati pasukan klan Vinjoul yang telah tak berdaya. Merampas senjata mereka, meski harus dengan melangkahi raga tak bernyawa itu.


Dorr Dorr


Dorr Dorr!!


David menembaki musuh yang baru saja keluar dari arah bangunan lain.


Kau! Cari, tuan David. Kemungkinan di lantai atas bangunan ini. Cepat!" Perintah, Regan yang memang ikut dalam penyerangan tersebut. Perintahnya kemudian diangguki oleh si pria kepala botak. Panggil saja Max.

__ADS_1


Pria tersebut pun melesat cepat, menaiki undakan tangga yang memutar.


Kembali kekamar, dimana dua pria beda generasi tengah mengambil napas, menjeda sebentar duel antar sesama pria perkasa.


Bunyi senjata di kokang, membuat David seketika menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka pintu ruangan lain.


Jemari pria yang merupakan salah satu anak buah Brandon yang masih hidup itu, telah siap di depan pelatuk, tinggal menekannya saja.


"Kau bisa memilih, bagian mana yang ingin di lubangi? Kepala ... atau punggungmu?" ancam pria itu yang merupakan kaki tangan Brandon.


David, diam tak bergeming. Sistem kebal peluru tak lagi aktif. Ia tak lagi memiliki sisa tenaga untuk mengaktifkannya. "Sial!"


Namun, dia gak kehabisan ide. "Pa'ul, berikan aku kemampuan seperti the matrix."


[ Siap, Tuan. Tapi ingat, tenaga anda cukup untuk 15 menit. ]


"Lumayan." David terlihat mengeratkan geraham belakangnya.


Pria di belakang tubuhnya ternyata telah mendapatkan dua buah peluru sekaligus. David yang sudah mengetahui ke mana arah gerakan dari timah panas itu. Ia bergerak dengan


slow motion, bagaikan gerakan yang sama persis dengan tokoh yang ia tonton di film tersebut. Kemudian, menangkap peluru peluru tersebut menggunakan telapak tangannya.


Zepp!


"David di lawan!"


Ia turun ke bawah dan keadaan sudah kondusif.


Regan langsung berlari memeluknya. Lega ketika putra satu-satunya masih dalam keadaan utuh.


"Kau ini, bagaimana sih Max!" Regan protes pada anak buahnya yang kembali keluar dengan tangan kosong. Pria plontos itu menggaruk kepalanya yang tanpa rambut.


"Bagaimana, Daddy bisa--"


"Agnes melapor. Ia kembali ke mansion sambil menangis. Tapi, sudahlah. Semua telah berakhir dan yang terpenting adalah kau selamat. Lain kali, jangan bertindak sendiri!" ucap Regan seraya menepuk bahu putranya itu. Seakan, ia mengerti apa yang akan ditanyakan oleh David.


Keterangan dari Regan, justru membuat David merasa bersalah kepada istrinya. Ternyata, ya telah meninggalkan Agnes cukup lama. Bahkan, hal yang ia lakukan agar kesadaran Agnes tetap saat ia kembali telah memudar.


"Aku harus menemuinya Dad! Kami harus meneruskan program yang kau inginkan." David meminjam salah satu mobil dan mengendarainya dengan cepat. Regan hanya menggeleng melihat aksi putranya itu. Ia berpikir jika David menyerang markas Brandon dengan anggotanya.


Sekarang musuh mereka telah habis.

__ADS_1


Mungkin, David akan tenang dan tinggal merenda kebahagiaan bersama Agnes.


David sampai ke mansion milik Regan. Ia langsung berlari menuju ke lantai atas di mana kamarnya berada. Membuka pintu kamar dengan tergesa dan mendapatkan sosok cantik itu di sisi tempat tidurnya.


"Sayang," tanggal David pelan. Senyumnya berkembang. Rasanya Ya sudah lama sekali meninggalkan Agnes.


"David!" pekik Agnes kaget, pada saat mendapati kepulangan suaminya. Agnes langsung berdiri dan berlari untuk menubruk sosok yang telah meninggalkannya secara diam-diam di dalam kapal.


"Kau keterlaluan, Dav!" Agnes memukul-mukul pelan dada David.


Sontak, David terkekeh dan menangkap tangan ramping yang memukul dadanya.


"Maafkan aku. Semua itu terpaksa kulakukan demi keselamatan kita semua. Terimakasih, karena kau telah mengadu pada daddy. Sekarang tidak ada lagi yang dapat mengganggu kita. Aku dan kamu juga anak-anak kita yang terlahir dari rahimmu akan bahagia menikmati semua ini," ucap David kemudian mengecupi seluruh wajah istrinya itu.


"Aku takut tadi Dav. Ku pikir kau meninggalkanku," ucap Agnes parau. Wanita ini sudah cukup lama menangis rupanya.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan calon ibu dari anak-anakku kelak. Aku mencintaimu untuk selama-lamanya. Hanya kau yang ada di hatiku sejak dulu dan sampai nanti." David menangkap kedua pipi Agnes dan menatap matanya dalam.


Kemudian, ia mendekatkan wajahnya ... hingga bibir keduanya beradu dalam kecupan. Hingga, irama yang syahdu mengalun seiring dengan permainan keduanya.


"Lanjut yang tadi ya. Kan baru dua ronde," ajak David yang kini sudah nampak menanggalkan seluruh pakaiannya. Kebetulan ia hanya mengenakan Coat sebagai atasan.


"Ih kamu bau acem, Dav!"


Mendapati reaksi seperti itu dari Agnes, David langsung mencium aroma tubuhnya. Benar juga, iya kan baru saja berkelahi jadi sangat berkeringat dan lengket.


"Ah, Baiklah aku mandi dulu. Nanti kita bikin anak lagi ya!" teriak David, sambil berlari ke dalam kamar mandi.


"Baiklah sayang. Aku akan melahirkan anak untukmu. Semoga, mimpi kita terwujud," gumam Agnes, dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya.


Mereka kini sudah bahagia.


Semua keadaan sudah aman terkendali.


Tinggal, menunggu takdir apakah menitipkan kebahagiaan berlipat ganda dengan menghadirkan keturunan yang sangat diinginkan oleh keluarga Voster.


Tak ada satupun yang tau.


Satu hal yang pasti, perasaan sudah terjalin erat dan semakin kuat.


...Selesai...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2