
Agnes merasa seluruh raganya kembali bugar, bahkan lebih segar dari sebelumnya. Karena air di dalam kolam Jacuzzi tersebut telah diberi ramuan khusus yang dimiliki hanya oleh kelompok Triad yang di ketuai oleh Arthur.
Sehingga, setiap selesai bertarung maka para anggota akan berendam untuk mengembalikan tenaga dan juga menyembuhkan luka-luka yang kemungkinan mereka derita.
Ramuan ajaib, yang Arthur dapatkan dari seorang profesor berikut dengan racun yang pernah membaut David Voster koma dan hampir tiada. Sebenarnya bukan mendapatkan, tapi Arthur mencurinya. Sedangkan profesor itu telah mati di tangannya.
Arthur, bermimpi ingin menguasai dunia bawah tanah. Ia berpikir anak buahnya tidak akan setengah abadi begitupun dirinya. Karena ramuan penyembuh itu. Bagus saja, ia memiliki banyak persediaan. Hingga, ia menemukan profesor pengganti yang akan menuruti segala keinginan serta mendukung ambisinya itu.
"Dia telah siap Tuan. Anda bisa memberikan racun itu padanya." Wanita yang bernama, Nora terlihat melapor pada, Arthur. Ketuanya itu terlihat sedang di tunggangi oleh wanita bayaran. Aktifitas mereka tak terhenti dan seakan tak terganggu sama sekali dengan keberadaan Nora di sana.
...Ketua sialan! Kenapa dia memanggilku **ke**tika tengah bercinta. Kebiasaan! Pria brengsekk!...
Nora terus mengumpat dalam hatinya. Pemandangan ini menjadi biasa ia lihat. Karena memang Arthur kerap memanggilnya ketika ia hampir pada puncak kenikmatan itu. Entah apa maksudnya. Tapi, Nora tak bergeming. Ia tetap berdiri tegak hingga tuannya itu menyelesaikan permainannya.
Kedua matanya menatap kearah lain. Meskipun begitu, ia harus siap merasa gatal pada telinganya kala berkali-kali mendengar lenguhan serta erangan dari dua manusia tak tau malu yang sebagai mengikutsertakan pada aksi nista mereka.
Tak berapa lama, Arthur telah mengusir wanita pemuas hasratnya itu keluar. Ia mengenakan kembali piyamanya dan berjalan menuju kamar mandi. Sekali lagi, Nora harus menunggu. Hingga pria itu keluar dalam keadaan raga yang telah bersih. Sialnya lagi bagi Nora. Arthur keluar tanpa menggunakan sehelai benang pun untuk menutupi tubuh luar biasanya.
Nora sekali lagi memalingkan wajahnya keluar jendela. Apalagi ketika tanpa sebagian ia melihat dengan jelas penampakan jamur sakti yang membuat para wanita bayaran Arthur mengemis lagi agar kembali di ajak bercinta.
Benar-benar manusia sialan! Apa sih maksdnya? Apa dia berniat menggodaku. Percuma saja. Aku tidak tertarik!
Nora bergumam kesal dan memaki dalam hati meskipun begitu ia nampak was-was. Karena melalui ekor matanya ia dapat melihat bahwa Arthur berjalan semakin dekat ke arahnya.
"Apa kau yakin, tidak tertarik padaku?" Arthur yang telah berada di samping raga Nora, menarik wajah wanita berkulit eksotis itu agar menoleh ke arahnya.
"Maaf, Tuan. Bukankah anda ingin membahas kapan saya akan mengantar gadis itu ke mansion keluarga Voster." Nora sengaja mengutarakan maksudnya sekaligus mengingatkan Arthur apa maksud dari kedatangannya kesini. Takut-takut pria itu lupa.
__ADS_1
"Ya, itu adalah salah satunya. Tapi yang lebih penting dari itu ialah, keingintahuan ku akan kewarasanmu. Apa benar, kau tidak menyukai pria?" ucap Arthur dengan orang berbisik di akhir kalimatnya.
"Anda ingin mengetes saya Tuan?" heran Nora. Jadi benar alasan kenapa dirinya dipanggil ketika Arthur tengah melakukan kegiatan panasnya. Karena pria itu ingin melihat apakah Nora akan terhanyut dan terpancing setelah melihat dan mendengar itu semua.
"Ya, kau membuatku penasaran, Nora. Semua wanita di sini sudah kurasakan. Hanya kau dan gadis kecil itu yang belum. Tapi, aku ingin lebih dulu merasakanmu," bisik Arthur lagi, membuat Nora muak bukannya geli.
"Anda pasti gagal. Saya tidak suka batang," balas Nora dengan berbisik pula. Seketika, ucapan wanita bertato anaconda itu membuat jamur sakti milik Arthur layu sebelum berkembang.
_____________
"Tem, apa lu sudah menemukan keberadaan si Zerenk? Kenapa lama sekali. Bukankah, elu sistem paling canggih di jagad Andromeda ini?" cecar Boy. Sore ini ia tengah berdiri di puncak bukit. Menikmati suasana senja di sebuah negara yang terdapat banyak sekali balon udara di sana.
Cappadocia.
Ya, nama tempat wisata di sebuah negara yang sempat viral karena sebuah serial perselingkuhan. Sungguh, miris. Karena, tempat ini memiliki kesan hangat dan romantis.
Ucapan sistem barusan membuat Boy sontak menoleh dan berdiri dari duduknya. "Lu bilang apa, Tem? Zerenk dapet sistem juga.!" Boy mengulang ucapan sistem lantaran kaget.
[ Benar Tuan, karena sangat mustahil manusia yang sudah hampir di bakar tiba-tiba menghilang dari peti kremasi. Lagipula, sinyal saja selalu kacau jika melacak sahabat anda itu. ]
"Terus? Lu kagak bisa gitu lacak sistem apa yang kira-kira menjadi pendamping si Zerenk! Lu kan sistem juga. Masa ngelacak yang sebangsa ama elu aja kagak bisa? Aneh!" protes Boy gemas. Ia ingin sekali mengetahui keadaan sahabatnya itu. Karena ia pernah bermimpi jika ada yang berniat mencelakai pria berambut abu-abu itu.
[ Saya masih terus mencoba, Tuan. Menggunakan cara apapun itu. Anda bersabarlah. Jangan jadi panik hanya karena pesan dari sebuah mimpi. Bukankah mimpi itu bunganya tidur? ]
"Ck. Kau itu sistem. Mana tau tentang perasaan." Boy kembali duduk pada kursinya dan ia pun menyalakan kembali rokok yang entah sudah berapa banyak ia hisap hari ini. Sepulang dari kantornya di Korsel, Boy tidak langsung kembali pada rumah. Melainkan mampir ke beberapa tempat, di negara berbeda.
"Kapan-kapan, Bolehkan aku mengajak Chie menggunakan teleportasi?" tanya Boy tiba-tiba. Karena ia berpikir akan lebih asik jika menikmati sore bersama istrinya tercinta.
__ADS_1
[ Anda boleh memberi tahu keadaan saya, jika anda sudah memiliki keturunan. Karena pada saat itu, saya akan mendampingi keturunan anda. Namun, kalian masih bisa menggunakan kekuasaan saya sampai keturunan anda berusia tujuh belas tahun. ]
Penjelasan dari sistem, membuat Boy mengangguk lemah tanda mengerti. Gagal sudah berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam sekejap mata bersama wanita kesayangannya. Pasti hal itu akan sangat hebat dan romantis.
"Tem! Aktifkan Avatar dewa. Dan berikan padaku kekuatan dari dewa mata satu!"
___________
"Ada apa, Nak? Kenapa wajahmu seperti itu. Bukankah semalam --"
"Apa yang Daddy ketahui tentang semalam?" selidik David. Baru saja ia ingin menceritakan pasal Felly. Tapi sepertinya sang ayah telah mengetahui sesuatu.
"Ah, itu ... sebenarnya semalam, Daddy melihat bahwa kau mengajak Felly menginap di sini. Dan kau mengundangnya untuk ke kamarmu." Regan menatap sang putra dengan keringat yang membasahi pelipisnya.
"Apa Daddy mengintip?" tanya David dengan pandangan penuh kecurigaan.
"Eh, tidak begitu. Daddy hanya tidak sengaja lewat saja. Ah sebaiknya kau lupakan. Jadi bagaimana, apa kalian sudah berhasil? Maksud Daddy, apa kau telah memilihnya?" cecar Regan.
"Sebaiknya, Daddy lihat rekaman video ini. Setelah itu, kau pasti akan tau apa yang pantas dilakukan kepada keluarga licik itu." David berkata sambil menahan geram.
Regan yang melihat kemarahan sekaligus kekecewaan di raut wajah putranya, semakin yakin jika ada yang tidak beres. Padahal, malam ini rencananya ada satu kandidat wanita lagi. Apakah ini saat yang tepat untuk mengatakannya kepada David?
"Bocah ini!" Regan pun mengepalkan telapak tangannya dengan rahang yang ikut mengeras.
"Akan kuhabisi bisnis keluarganya tanpa sisa!" Amarah Regan pun tersulut melihat bukti yang terpampang nyata di depan mata.
...Bersambung ...
__ADS_1