
"Iya, Tuan besar."
"Kemana putraku akan pergi?" tanya Regan kembali.
"Tuan muda akan ke pusat perbelanjaan terbesar di kota Tuan. Mall Pegasus," jawab Peter.
"Baiklah, perintahkan pengawal terbaik kita!" titah Regan. Kepala pelayan di mansionnya itu mengangguk. Ia pun kembali memutar langkahnya dan meneruskan niatnya untuk ke lantai atas menemui Sovia. Kemudian Peter pun berlalu, mempersiapkan apa yang David butuhkan.
"Silakan, Tuan muda. Kendaraan anda telah siap." Peter mengangguk ketika David berada di depan mansion seraya menggandeng Agnes.
David pun tersenyum tipis. Ia menoleh Agnes sekilas kemudian menuntun masuk kedalam mobil mewah itu. Agnes menahan dirinya untuk bersikap biasa saja. Meskipun hati yang sebenarnya ingin berdecak kagum. Seumur hidup belum pernah ia memasuki mobil yang desain interiornya semewah ini. Ia bahkan merasa bukan sedang berada di dalam mobil.
"Kau menyukainya? Aku akan memberikannya untukmu."
"Hah!"
Jangan kaget begitu. Kondisikan ekspresi mu. Atau--" Agnes semakin terbelalak ketika David mencengkram dan mendekatkan wajahnya. Hingga, ia kembali dapat merasakan bau mint dari desah napas David.
Fuuhh! David meniup wajah Agnes hingga kedua mata gadis itu mengerjap lucu.
"Aku ini anak sultan, kau ingat? Masih ada dua belas lagi yang seperti ini di garasi." David berbicara santai macam sudah mendarah daging keadaannya saat ini. Nampaknya, David mulai lihai memainkan perannya sebagai pemuda kaya raya. Anak konglomerat yang uangnya tak berseri ini.
Namun, bukan konglomerat biasa. Kedua orang tuanya gemar berdonasi sama seperti dirinya. Kini David dapat sesuka hati dan puas membantu siapapun yang ia kehendaki tanpa memikirkan bagaimana mencari caranya.
Mereka berdua telah sampai di sebuah pusat perbelanjaan terbesar dan termegah di kota itu. Tempat dimana para pesohor negeri serta para publik figure menghabiskan waktu santai mereka. Jadi, tak heran jika ketika kau berjalan menyusuri tempat itu menemui beberapa wajah-wajah yang biasanya kau lihat di majalah maupun di layar televisi.
Satu hal yang Agnes bagi tau, ternyata David, pria yang semalam menikmati nektar pada bunganya ini ternyata lebih terkenal daripada artis. Terbukti, pria itu beberapa kali mengajaknya lari untuk bersembunyi dari kejaran para fans wanita. Akhirnya, Agnes mengajak David ke salah satu butik. Lalu ia mengambil salah satu wardrobe. Sebuah topi hitam polos, kaus lengan pendek, masker dan juga hoodie yang berwarna senada.
"Buka pakaianmu!" Agnes hendak menarik jas yang David kenakan. Namun pria itu menahannya.
"Kenapa?"
" Terlalu mencolok!" jawab Agnes ketus. Nampak sifatnya yang dulu keluar lagi.
"Tapi ini keren dan stylish. Sudah lama aku ingin mengenakan pakaian dengan gaya eksklusif seperti ini!" tolak David tegas.
"Oh, jadi kau suka ya di kejar-kejar anak remaja seperti itu? Atau kau memang sengaja mengajakku kesini untuk menunjukkan itu semua!" cecar Agnes dengan ketus yang naik level lebih tinggi dari yang tadi. Kini di sertai dengan delikan matanya juga.
__ADS_1
Hal itu lantas membuat David terkesiap kaget. Pria itu hendak menyentuh bahu Agnes namun langsung ditepis kasar oleh gadis itu. "Hei, bukan begitu," kilah David memasang ekspresinya semanis mungkin. Berharap Agnes tak salah paham padanya.
Agnes tetap menatapnya tajam. Ia tak bergeming. Sama sekali tak tergoda dengan apapun cara David merayunya. Akhirnya, ia menyerah dan memilih menuruti saran dari Agnes.
"Oke, aku pakai." David masuk ke sebuah bilik dan ia menanggalkan semua atribut yang menempel di tubuh atletisnya itu. Agnes yang berada di depan pintu bilik menanggapi setiap potong pakaian yang telah dapat tanggalkan lalu ia memasukkannya ke dalam tempat sampah di butik itu.
Gilaa juga nih cewek. Stelan seharga seratus lima puluh juta gue maen dibuang gitu aja. Coba aja kamu tau nes. Pasti kamu berubah pikiran tuh.
David yang sempat mengintip kelakuan Agnes terhadap pakaiannya hanya bisa menghela napas. Meskipun pada akhirnya ia tersenyum lebar, pada saat melihat pantulan dirinya di cermin. Ini dia gaya di David Zerenk!" seru David sambil bergaya. Hilang sudah aksen konglomerat. Karena yang menempel di raganya ini total hanya berkisar sekitar lima juta saja.
David keluar dan ketika ia mendapatkan senyuman manis dari Agnes. Tak menyesal juga, ia pun merelakan pakaian mahalnya demi mendapat senyum kepuasan dan kebahagiaan dari Agnes, gadisnya. Dimana kini gak gadis lagi karena ia telah mengambilnya semalam.
"Pakai maskernya dan juga penutup kepala ini. Nah, tidak akan ada siapapun yang tau siapa kau. Kecuali aku." Agnes masih mengulas senyum manis itu di wajahmu.
Rela deh. Diapain juga sama kamu. Asalkan kamunya senyum nggak jutek seperti tadi.
David tersenyum juga di balik masker yang ya kenakan. Agnes tau, karena mata David berubah segaris jika pria itu menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
"Lanjut lagi yuk!" Agnes merangkul lengan David. Baru selangkah mereka keluar dari butik tersebut. Ada dua orang wanita yang mendekat ke arah keduanya. Melihat itu, Agnes semakin mengencangkan pegangannya pada lengan David.
Sepasang mata biru laut David sempat membola meski sekejap. Sialnya, hal itu tak luput dari perhatian Agnes.
David sontak menoleh ketika lengannya merasakan perih dikarenakan sebuah cubitan mendarat mulus. Padahal lengannya terbalut Hoodie yang tebal.
Kau itu milikku Dav.
Agnes seakan memberi peringatan kepada David dari sorotan matanya yang tajam.
Faham, akan maksud Agnes, David hanya dapat menelan ludahnya kasar.
"Selamat pagi, Nona Agnes," sapa keduanya.
Agnes kaget karena dia wanita asing ini pun mengetahui namanya.
"Sudah jangan menunduk lagi!" tegur Agnes melarang keduanya melakukan hal yang sebenernya hanya modus.
Mereka pasti sengaja melakukannya berkali-kali. Siapa sih mereka ini? Ingin sekali aku mempraktekkan apa yang telah Nora ajarkan padaku.
__ADS_1
Agnes semakin geram saja. Karena dua wanita ini seperti sengaja menggoda David.
"Kami sudah menyiapkan reservasi khusus di restauran dekat sini. Semua, atas undangan Tuan Regan," kata salah satu wanita cantik dengan rambut berwarna jingga bernama Miranda.
"Papa? Tidak bisakah nanti saja. Kenapa harus mengirimkan kandidat selanjutnya sekarang."David berdecak pelan.
Agnes mendengarnya meskipun suara David sangat halus.
Sial. Aku lupa jika bukan hanya aku saja wanita yang akan menampung benihnya.
"Katakan, dimana restorannya?" tanya Agnes. Namun, kedua wanita ini tidak menggubrisnya. Miranda dan Sarah sedang fokus memasang senyum terbaik mereka dengan berdiri pada posisi macam SPG otomotif.
"Kayak sales!" David dan Agnes saling menatap karena mereka berdua mengagumkan kalimat yang sama.
Agnes pun menutupi kekehan darinya dengan kepalan tangan. Sementara David tak tertawa tanpa suara di balik maskernya.
"Tunjukkan tempatnya!" titah David pada kedua wanita di hadapannya ini. Entah siapa lagi mereka dan darimana berasal. Kenapa Regan sang papa seperti sedang di kejar deadline.
Ini semua juga karena keinginan pemilik tubuh lama yang gak ngotak. Kenapa sih dia harus jadi pria hyper-***? Kan aku pulak yang akhirnya ketempuan.
[ Tidak usah mengumpat Tuan. Ini adalah misi Anda. Jalani saja. Demi poin kesembuhan dan juga kekuatan. ]
David memejamkan matanya dan ia berhenti sebentar. Ketika di hadapannya nampak Paul dengan wajah datar akan komputer itu. Ia terlihat komat-kamit memaki dalam hati.
[ Saya dengar Tuan. Tak usah mengumpat. ]
Sistem sial!
David membekap mulutnya yang tertutup masker. Karena dia keceplosan bicara. Bagaimana jika Paul marah dan ia di kembalikan lagi pada tubuh lamanya yang sudah jadi abu. Atau dia hanya akan jadi arwah yang gentayangan. Kasian Agnes kan.
"Dav? Are u okay?" Agnes nampak memperhatikan David secara menelisik.
"Sarah, kita harus menyingkirkan wanita itu!" Miranda menatap wanita di depannya dengan tatapan penuh arti.
Sementara Sarah hanya tersenyum miring.
...Bersambung...
__ADS_1