
Setelah beberapa menit kemudian ibu zaara sampai di rumah sakit dan buru- buru menghampiri zaara
"zaara apa yang terjadi dengan ibu?" zaara membalas pertanyaan dari ibu nya "ibu nenek sudah meninggal kan kita, ini semua salah aku seharusnya aku tidak meninggalkan nenek sendirian" sambil menangis tersedu-sedu
"nak dengarkan ibu,ini bukan salahmu ini sudah takdir walaupun kamu menemani ibu, ibu akan tetap meninggalkan kita karena tidak ada yang tau kapan kita akan kembali menghadap tuhan, jadi jangan salahkan dirimu sendiri atas kematian nenek mu yaa jangan nangis lagi yaah"
setelah pulang dari rumah sakit dan membawa pulang jenazah naina rasyid agar segera di makam kan, Nabil, satria dan putri pun turut hadir di pemakaman nenek zaara
"zaara aku turut berduka cita yaa atas meninggalnya nenek mu,dan maafkan aku, aku tidak tahu kalo nenek..."
"iyaa tidak papa, ayoo masuk"
"satria kamu datang juga ayo masuk"
__ADS_1
"iyaa aku juga turut berduka cita atas meninggalnya nenekmu"
"tidak papa ayo masuk, "senyum paksa"
"kenapa kamu memaksa untuk tersenyum, kalo tidak mampu tersenyum jangan memaksa dirimu untuk tersenyum"
"nabil aku tidak ingin bercanda denganmu, jadi jangan membuat ku marah,jadi cepat masuk sebelum aku mengusir mu"
"iyaa baiklah, kamu walaupun sedang sedih masih bisa tersenyum yaahh, aku bangga padamu"
"sayang ibu bukannya tidak sayang kita, tapi sudah waktunya nenek harus bertemu dengan kakek dan ayahmu, jadi jangan merasa bersalah lagi ibu akan selalu berada di samping mu"
"ibu janji tidak akan meninggalkan aku seperti ayah, nenek dan kakek meninggalkan kita"
__ADS_1
"iyaa ibu janji mulai sekarang tidak ada yang bisa memisahkan ibu dari anaknya, "tersenyum tipis" sudah ayo tidur ibu sangat mengantuk, lagian juga kamu besok harus kesekolah"
"iyaa,aku sampai lupa kalo besok harus kesekolah"
Pagi berikutnya suasana hati zaara sudah mulai membaik dan sudah tidak terlalu memikirkan kematian neneknya
"selamat pagi sayang cepat sini makan ibu harus mengejar bis, ini sarapan mu dan jangan lupa bereskan setelah selesai makan, kalo giti ibu duluan yaa sayang"
"iyaa, hati-hati bu jangan lupa kabari zaara setelah sampai"
Zaara dan ibunya tidak mau mengungkit lagi meninggal neneknya walaupun itu membuat mereka merasa sesak setelah neneknya meninggal, dan mereka merasa itu bukan pertama kalinya mereka ditinggalkan oleh keluarga yang mereka cintai ada kakeknya ayahnya sudah pergi lebih dulu menghadap yang maha kuasa zaara dan ibunya tidak mau berlarut-larut dalam kesedihannya atas kepergian nenek Rasyid
"buk, apakah nenek, kakek, dan ayah bahagia disurga? kenapa mereka cepat sekali perginya padahal zaara masih mau berada disisi mereka zaara ingin bahagia berada disisi mereka, zaara rindu ayah kakek nenek buk, rasanya tuhan tidak adil pada kita buk hikksss... hikksss..." ucap zaara sambil berada diperlukan ibunya
__ADS_1
"nak ini sudah takdir kita, tuhan sayang sama ayah kakek dan nenek mu makanya tuhan cepat mengambil ayah mu dari kita dan juga nenek dan kakek mereka pasti bahagia disana karena melihat kita juga bahagia jadi jangan sedih lagi nanti kakek nenek dan ayah juga ikutan sedih melihat kita sedih, sebaiknya kita tidur ini sudah larut dan juga besok kamu harus sekolah kan" ucap buk rasyid