Story Of Kanata

Story Of Kanata
10. Bahagia


__ADS_3

Sonda yang baik, keadaan yang tak menunjukan apa-apa meski sedemikian rupa perlakuan Krugeri terhadapnya tapi sama sekali tak membekas dalam ingatan. "Aku jadi stress jika ada kerjaan" duduk dengan kaki terangkat.


Lokasi tempat makan yang cukup ramai semenjak penampilannya berubah lebih trendy, orang akan mengira Sonda orang daerah asal, tulen cocok banget. Tidak akan berbicara keras-keras untuk membuat Sinyo paham.


Hampir tidak mungkin menyelamatkan diri dari sana, kecuali jika memang ada banyak pendukung untuk menjelaskan pemahaman mereka selama ini. Kalau saja Sonda yang tertangkap mungkin itu lebih baik.


Tapi dengan iming-iming teknologi industri masa depan, Sonda mempunyai tujuan lain dibaliknya mendekati tampang orang dalam menuju kasir. "Kayaknya melakukan lelucon" Sonda tidak tertarik apapun melainkan menemukan Krugeri kembali.


Kalo berkenalan dengan orang lain fikiran masih tidak tenang dengan keganjalan yang berasa mengancam seperti ledakan diatas kepala. "BUM" Sonda bolak balik melirik ke arah Sonda yang tertawa terbahak-bahak saking asiknya.


"Hai bung... Lihat temanmu menjatuhkan sesuatu" awalnya Sonda malas menanggapi dan membiarkannya. Begitu juga seseorang yang belajar mendekatinya dengan jantan, mendesak dan menggeser porsi tempat duduk.

__ADS_1


"Dikasih tahu juga" orang tersebut tadi mulai tak perduli sehingga mendorong dari samping kiri melalui tangan kanan hingga Sinyo terjatuh.


"BUGsrttT" yang terjadi adalah buku itu terlempar dan ditendang oleh kaki-kaki pengunjung yang menjingkat kaget disekitar, kebetulan.


Tanpa mengenalkan diri tapi masih mengeluarkan tangan untuk memungut buku tadi dan memberikan pada Sinyo. Sedangkan Sonda masih asik dengan menengok sekilas keadaan yang terjadi apalagi tanpa kericuhan hanya sorak bengong dan balik ke meja masing-masing.


Pemuda yang berwibawa bahkan hendak menyodorkan beberapa lembaran kertas duit sebagai permintaan maaf. Pikiran Sinyo yang terbuka akan terobati dengan pertunjukan orang-orang waras dan berprinsip banyak. Mengerjakan sesuatu yang tidak setengah-setengah dari belum apa-apa hingga matangnya.


Tidak dilarang sama sekali begitu masuk dapat makanan orang baru itu sungguh menyenangkan. Dari cara menggauli mengenal dan Sinyo membuka buku lusuh itu didepan siapa saja yang melihat. Irama musik asmara yang dikirim untuk semua yang hadir menambah gelak tawa keduanya. "Loh gak papa?" menepuk pipi Sinyo mengakrabi.


"Ga Anjir" Sinyo menggunakan bahasa yang aneh sehingga dia sendiri kurang bisa dalam memahami tulisan dalam buku, yang renik dan panjang. "Gampang untuk egois" penolong yang sengaja penasaran dan sangat percaya diri akan pengetahuannya.

__ADS_1


Hampir bercerita tanpa basa-basi pembukaan, penolong tersebut blak-blakan membeberkan soal kelebihan puncak tanah Kayangan Panthera dengan lenggak lenggok kepala mengangguk-angguk, seolah bercanda padahal serius.


Sedangkan Sonda benar-benar lalai, instingnya mengatakan seperti ditempatnya sendiri selalu tercukupi. Meskipun Sinyo juga menikmati keterangan orang yang ia sendiri pernah menyaksikannya secara langsung lebih dekat sekitar 100 meter, itu sudah didepan gerbang.


"Enaklah di kota ini, tidak akan ada yang keluar dari sini" banyak mengerti yah... tentu dia penolong yang tanah kelahirannya di Panthera. Yaa Sinyo mendengar suaranya dan senyum-senyum tertawa tak mempercayai. Seperti konyol untuk apa mencari Krugeri di tempat yang banyak kucingnya.


Diluar sana menggeliat dan melompat disembarang tempat. Sinyo yang dingin tak akan membahasnya lagi dan segera menutup menyembunyikan buku itu. Untuk si penolong tak sadar, tapi itulah yang bikin gak kalah enak. Waktu luang bersantai, istirahat dan makan murah bahkan gratis sepuasnya.


"Lhooo" Sinyo & food.


"Tunggu apa lagi"

__ADS_1


"Buruan!" Ah Sonda tak membiarkan Sinyo mendapat diskon 50% saja, sungguh bermanfaat ikut nimbrung menyusul sambil tertawa sok tahu. Apa boleh buat "Karena kamu" Sinyo menunjuk Sonda.


__ADS_2