Story Of Kanata

Story Of Kanata
16. Takjub


__ADS_3

"Ketopak ... ketopak ... ketopak ... ketopak ..."


"Ketopak ... ketopak ... ketopak ... ketopak ..." lengkapdengan langkah kuda terlatih melaju dengan cepat.


"Hyiakk" Seusai urusan kayangan King Leo sangat bersemangat. "Aaaghhh...hya" lepas dan tak memperdulikan apa-apa dari jembatan mulai memasuki arena yang sejuk. Sayangnya ada prajurit yang mendahului dan membelokkan. "Res...resst...kresst" menghantam setiap dedaunan yang menghalangi.


"Tunggu dulu...sepertinya yang berwarna merah itu biji kopi" ah setitik saja bisa mengalihkan. Memetiknya dan berfikir sejenak itu seperti gangguan yang melintas " Baiklah aku tidak peduli". Padahal Leo baru pertama kali ini melihatnya langsung di tempat liar jika ingin maju apa mungkin seorang raja meninggalkan sesuatu yang berguna sia-sia.


Bahkan prajurit menghayalkan dirinya seperti tanah yang ditinggalkan itu. Tapi masalahnya mereka tidak spontan memberikan respon pasti bukan tugas mereka namun bisa diamati seketika untuk waktu lainnya. "Susah" para prajurit menyepakati itu dan begitulah tuan Leo yang akan memperlambat perjalanan untuk menikmati kealamian yang ditatapnya kosong.

__ADS_1


Yang lebih diutamakan ... adil... sekaligus berguna akan banyak hal. "Bagaimana dengan rasanya?" Leo masih memikirkan itu. Mungkin mau dan lebih dari itu "Aku menginginkanya full di hutan ini" merasa tidak mengerti dengan psikis yang dialaminya.


Prajurit cepat cepat menggaruk i tanah mempermudah pencabutan tanah untuk dipelajari tanamannya. "Tuan ini butuh satu hari untuk menyimpulkan penemuan" namun Leo sekedar menanggapi cuek yang duduk tegap diatas kudanya.


Orang terakhir mengatakan itu hanyalah bawang merah dan itu artinya King Leo sedang lapar pasti ingin segera mendapatkan buruannya seperti tempo lalu. Jika itu tak didengar mungkin yang ada dipikiran Leo seperti malam menjelang tidur yaitu membosankan.


Prajurit agak kebingungan dengan kediamnya apalagi jika yang ditemui adalah tanaman-tanaman beracun. Tentu saja itu memilukan dan menjadi penyebab luka King Leo. "Atau itu saja bahagiamu?" King Leo yang tetap menanti cerita pasukannya.


Yang lain hanya bisa memandangi sebelum diizinkan tapi sebenarnya mereka sudah disiapkan dengan makanan siap saji untuk jaga jaga akan keterbatasan. Warna warni yang dihangatkan oleh gemerlap cahaya mentari bagai molekul molekul yang sedang disatukan untuk menerjemah ketampanan Leo diantara belukar menyesatkan.

__ADS_1


"Ketopak ... ketopak ... ketopak ... ketopak"


Disetiap ada tanaman yang serupa pasukan pasti diberi tugas untuk membukanya. "Eh...kena mata" lalu sampai menangis. Apa boleh buat tak ada binatang yang menampakkan diri tapi saat Leo keluar tentu harus memperoleh pengalaman sebanyak banyaknya supaya tak terlalu bergantung pada Penasehat kayangan.


Seharian berlalu Leo masih bersandar pada pohon merasakan ada kerusakan. Memandang amat jauh "Ingat ini dan lindungi" membahas tanaman yang berhasil diterima keamannannya. "Tidak ada binatang yang muncul jika kalian tidak mengusiknya" lalu mereka masih ada yang membantah sekalipun sambil memencar jaga jarak mengamankan.


Untuk memastikan bahwa Leo pandai berburu itu adalah kewajiban yang menyalamatkan dirinya sendiri barulah rakyatnya. "Tidak ada yang bisa kamu percayai...heh..." dan dunia ini saat ujung panah siap diluncurkan ke arah langit satu ekor burung pun jatuh dihadapan.


"Okay a... selain dirimu aku percaya" pemilik jabatan diantara pasukan yang bisa menemani Leo berpetualang menyusuri alam. Turin dari pelana kuda dan mencabut panah dari burung itu "Gini amat sih" dan berhasil memancing senyum tipis nan sinis dari Leo.

__ADS_1


Ya mereka akan terus terbagi dengan masing masing tugasnya walau tinggal sedikit berputar dan tetap berputar. Itu semacam hobi "Fix...kebetulan banget" tentu bisi bikin banyak erita yang digunakan untuk bermain juga menghibur Leo yang sedang pemanasan untuk buruannya yang lebih besar.


Leo benar benar galau .


__ADS_2