Story Of Kanata

Story Of Kanata
7. Bersyukur


__ADS_3

Krugeri hanya sedang tidak sadar tapi sifat-sifat nya bisa membahayakan. Pengetahuannya yang meningkat, kekalahan yang diterima bisa berubah jadi permusuhan. Leo yang tak sanggup melampiaskan nafsu buasnya memperhatikan semalaman bahwa Krugeri tidak bisa tidur. Perubahannya menjadi seekor SINGA yang bercahaya kali ini begitu sempurna.


Reinkarnasi Sio; saat ini Leo memastikan tidak ada apa-apa disekitar Kayangan Panthera kecuali Krugeri yang terbaring sebagai mainan. Kalau tidak Leo bisa mengobrak-abrik tanpa ampun, itulah yang terjadi sekalipun kesalahan kecil. "Aku tidak tahu batas kekuatan ini" kembali menjadi manusia. Tapi Yusame melihat dengan mata kepalanya sendiri pertumbuhan sejak kecil sampai sekarang.


"Jangan keluar dari kayangan, aku akan membantumu" Yusame memberi nasehat. Mengajaknya duduk di singgasana mulia permata biru, disanalah energi bisa di transformasi kan ulang.


Yusame menggerai rambut Leo yang memanjang dan bermaksud untuk memutusnya. Dia rasa itu lebih baik dan menggenakan hadiah mahkota zamrudnya sehari. Leo yang cerdas menutupi luka di dadanya, beberapa gadis datang ke kamarnya untuk membaluri racikan obat.


Balutan yang pertama, melingkari seperti arah rusuk melindungi jantung untuk negeri Panthera.


Zzzzzzzz Zzz


* * *

__ADS_1


//Other settings_


Krugeri meskipun kulitnya lecet sesekali ia duduk bersila memutar kepalanya kesegala arah. Tatapan bola matanya berkilau "Tempat apa ini?" tiada tahu berapa takdir hidup Krugeri bertahan.


Keberadaannya masih menjadi tujuan yang tepat, mengagumi dan yang lain bisa saja menghabisi Krugeri dengan keadaan yang lebih hina. Tempat yang memukai berhasil mencuci mata dari cambuk berbisa.


Setelah dua hari Krugeri tak akan membusuk dalam kurungan itu janjinya untuk diri sendiri, semakin berfikir tentang ikatan yang menarik perlahan mengarah kejurang. "Enggak sih, sepertinya aku hanya berfantasi dengan pesona kayangan" terbesit keinginan Krugeri menyerah.


* * *


//Other settings_


Waktu Sonda berhasil merampas cincin pemuda gagah yang mengamuk itu, sedang Sinyo terbawa emosi kehilangan Krugeri memaksa menceritakan apa yang sedang terjadi. Kakinya mencoba menendang Sonda sampai terpleset, namun ada sesal yang membelenggu.

__ADS_1


Malam berdua Sinyo tak henti-hentinya merayu Sonda untuk menemukan sahabatnya itu. Mendorong-dorong bahkan mengangkatnya selama bisa mendekati tempat pertandingan. Bukannya tidak berminat tapi kadang tekad akan meningkat seiring emosional. "Tidak pernah terlambat, silahkan!" akhirnya Sonda membiarkan Sinyo.


*Perang revolusi, taktik-taktik Sonda melompat dengan gerak cepat ke satu bebatuan ke batuan lainnya dijalur itulah yang aman. Semua itu hanya keterangan yang belum terlaksana, "Maaf" Sinyo yang masih di pinggiran hutan hanya melihat jembatan diatas lembah curam. "Ya" Sonda memilihkan gua sebagai tempat berhenti.


Kalo tidak ada Sonda yang mengarahkan Sinyo mana mungkin berangkat. "Keberanian yang setara dengan bunuh diri, aku tidak akan memutuskan apapun" terlebih Sonda cukup puas dengan cincin indah yang dibawanya.


Sering kali melihat tapi belum pernah mencoba pergi hingga ke puncak jika lewat dari dataran yang rendah menjadi sangat jauh. Gak sembarang orang berhasil melalui jembatan garis hitam itu.


Sedangkan Sinyo masih konsisten dengan kemauannya terkadang long leaf dia pakai menutupi wajahnya ketakutan. Hawa panas dingin tubuhnya saat memusatkan perhatian ke kayangan, "Aku dan kamu harus pergi kesana untuk menebus" terkadang kemampuan itu keluar dengan sendirinya.


Karena di pedesaan yang dekat dengan kayangan akan ada banyak perlombaan yang mungkin mengacaukan, Sonda akan lebih berhati-hati untuk mencari tahu. "Aku aslinya pernah dengar" hanya saja Sonda meragukan keberadaan dua orang.


...NEW LEO...

__ADS_1



__ADS_2