
Bolak balik bangun padahal masih petang. Yang lain juga masih tiduran tapi udara yang berhembus makin segar dan bersih bersama tetesan air dari pucuk daun. Bukannya mata tak ingin terpejam tapi tak ingin terbuka. Bergerak sedikitpun menimbulkan suara, berharap itu Sonda yang membereskan tempatnya.
"Kamu tidak akan heran melihatnya" Sonda menepuk-nepuk badannya.
Sejak di awal Sonda memperlihatkan sifatnya yang dewasa dan mulai menua. Mana mungkin orang biasa yang mengajak bocah liar seperti Krugeri dan Sinyo. Berhubung Krugeri membangunkan Sinyo secara paksa ahirnya terjungkal dan tanah liat mengenai pipinya.
"WO" Sonda jadi tak mengantuk lagi karena kaget dan menancapkan batang kayu sebagai tanda tempat yang aman untuk pemberhentian. Begitu juga seikat tali diatasnya, sambil menunggu Sinyo tersadar. Balik ke pedesaan lagi Sonda menawarkan keduanya untuk berkunjung. "Jangan lewatkan apa saja yang menarik dalam hidupmu" Sonda mengingatkan.
Dari penampilannya sih Sonda pantas untuk menaklukan dua bocah liar Krugeri dan Sinyo. Dengan bantuan cahaya bulan memperjelas arah, dibalik langkah menghitung jarak tempuh. Status Krugeri dan Sinyo amat sangat dipertanyakan.
Sinyo memang agak gendutan dibanding Krugeri di ujung kayu yang akan terhempas saat satu langkah kaki Sinyo dilewatkan. Tidak ada yang bertanya keberadaan keduanya baru kenal atau dari asal yang sama. "Pasti sampe lebih cepat" Sonda tak pernah menunda.
__ADS_1
Adakalanya pasar sudah ramai semenjang petangnya fajar menyingsing tapi kalkun ditangan pemangsa sehingga bunyi-bunyi tersebut terasa senyam. Menjemput lampu diujung pintu kayu dan tak terkunci.
Seseorang menyambut dan segera mengolahnya bersama tak ada yang bermalasan sama memperhatikan. Yang asik bertanya dan mencampur adukkannya bahkan hampir memancing emosi Sonda. Sedangkan lelah fisik tak dipikirkan sedikitpun ini hanya kringat biasa.
Sinyo dan Krugeri berputar mengelilingi rumah kecil Sonda yang ada didekat pasar lantas Sonda memanggil "Kamu" menunjuk Krugeri. Tak ada yang diincar dari tubuh kering kurusnya, mungkin memang sering menahan lapar dari wujud yang tak menunjukkan adanya kekuatan.
Tapi menurut keterangannya bukan tidak makan tapi susah untuk tidur. Matahari tak segera muncul tetap bersembunyi tertutup awan. Angin badai kencangpun menarik pintu kuat-kuat menggedor dan menutupnya
Pasti kali ini Krugeri tenang dengan tempat berteduh yang terjamin. Memperlihatkan senyum lucunya, Sonda jadi teringat masa kecil menuju muda. Berlalu hangat dengan jamuan soup yang sudah matang. Sinyo begitu menginginkannya... "Itu bagian untukku" dan lupa diri.
"Pasti...mari kita makan" Sonda menertawakan semua itu dan menagih cerita konyol dari mereka. Tapi Krugeri mengalihkannya dengan membahas pasar yang super antik di daerah sini terkesan sangat membahayakan padahal tidak.
__ADS_1
"Ingat aku butuh bantuanmu" Sonda juga mensyaratkan sesuatu selagi keduanya masih mau tinggal. Masih didalam melihat rintik hujan deras bersama angin membentur bebatuan, dan begitu santai mengenalkan perempuan dalam rumahnya.
"Apa kau mendapatkannya dari pasar" Sinyo tertegun disambar topan yang tak sengaja memberantakkan peralatan dalam rumah melalui ventilasi. "Dia ada begitu saja" Sonda begitu pelit seolah menyamakannya padahal berbeda.
Sedangkan gadis yang disinggung Sinyo menghindar dengan keluar dibawah langit dan mengecek tinggi air yang menggenangi tanah. "Banjir" ucapnya pelan dan berlari entah kemana. Tanpa rasa takut Sonda membiarkannya...
Tiba-tiba gempa menyusul "Okey...diamlah rumah ini tidak akan roboh" sampai bocah cantik tadi datang dengan menggebyor air kepada Sonda dengan rasa marah.
"HYAACTH" bertingkah aneh padahal salah sasaran dan yang ingin dijelaskan adalah dia perembuan baik-baik bukan rendahan. Syallu sedang bermain, tertawa dan tumbuh berkembang.
"OOPPS...CKIKIK" Syallu dan Sonda tertawa kwalahan.
__ADS_1
"Itu bukan tsunami" Krugeri menjingkat ngeri.