
Bella berencana ingin meminta izin pada Ibas agar dia bisa kembali bekerja seperti biasanya, namun Bella masih bimbang, sepertinya Ibas tidak akan memberikan izin untuknya. Bella sudah benar benar bosan hanya duduk diam di rumah, walaupun semua kebutuhan Bella sudah di penuhi oleh Ibas, tetap saja rasanya tidak betah jika tidak melakukan apapun.
" Bella, kamu sudah pulang rupanya?."
" Ibas, iya sudah, tadi saya cuma sebentar, kamu mandilah, lalu kita makan, saya tunggu di ruang makan." Ibas berlalu pergi mengikuti perintah yang Bella katakan.
Haduh, kalau Ibas tidak memberi izin ya bagaimana lagi, aku mana mungkin memaksa, nanti dia bisa curiga, kalau dia tidak memberi izin yasudah aku terima dan diam saja, tapi mana mungkin aku terus terusan jadi pengangguran begini, aku coba saja bujuk Ibas, kalau tidak berhasil juga yasudah.
" Kamu masak apa malam ini Bella?."
" Saya masak capcay dan ayam bakar, ayo makan ya, biar saya ambilkan."
" Hari ini kamu pergi kemana saja sayang?."
" Tidak ada, saya hanya pergi melakukan perwatan, lalu makan dan belanja sedikit."
" Warna rambut mu baru Bella?, kamu merubah warna nya?."
" Kamu tidak menyukai nya?, saya bisa ganti besok."
" Suka, kamu cantik dengam segala hal yang kamu pakai, mau bagaimana pun kamu selalu cantik Bella, jadi jangan tanya apa aku suka atau tidak, jika kamu suka aku pasti lebih menyukai itu.."
" Tapi menurut saya ini kurang bagus, pelayan di salon itu tidak ramah, biasanya saya tidak pernah datang kesana, salon langganan saya tadi tutup." Bella mengadu seperti anak kecil pada Ibas
" Jadi kamu tidak senang ya?, kamu kesal dengan pelayanan disana sayang?."
" Tentu saja, mereka tidak ramah dan sangat tidak sopan, tadi saya malas untuk pindah ke salon yang lain jadi yasudah biarkan saja."
" Apa nama salon itu Bella?, biar aku suruh bawahan ku untuk menutup permanen salon itu, aku tidak menyukai jika kamu kesal seperti ini karena orang lain, mereka tidak tau siapa kamu sampai mereka bisa memperlakukan kamu seperti itu sayang." Mendengar itu Bella langsung menatap Ibas.
Sayang sekali Ibas, sayang karena kamu sudah berkhianat, jika tidak bukan tidak mungkin untuk ku bisa mencintai mu, aku suka caramu memperlakukan ku seperti ratu, tapi tidak dengan caramu mengkhianati ku dengan cara yang rendah itu..
" Bella!!, kenapa melamun begitu?."
" Ohh, tidak tidak, saya cuma sedang melihat kamu saja Ibas, bukan melamun.."
" Kenapa?, apa suami mu ini sangat tampan sampai kamu menatap ku seperti itu?."
" Kamu memang sangat tampan Ibas, tapi tidak dengan kelakuan mu.." Tanpa sadar Bella mengucapkan itu
" Maksudnya Bella?.."
__ADS_1
" Ah, bukan, oh ya Ibas, boleh tidak jika saya kembali bekerja lagi seperti biasanya?."
" Kamu pasti sudah mengetahui jawabannya Bella, aku tidak akan mengizinkan kamu untuk kembali bekerja."
" Kenapa Ibas?, saya benar benar bosan di rumah terus, apa tidak bisa saya kembali bekerja?..."
" Cukup kamu di rumah saja Bella, kamu boleh kemana pun kamu mau, asal kamu jangan bekerja kembali, aku tidak mau waktu kamu kembali terbagi seperti dulu, rumah tangga kita sudah mulai membaik Bella, jadi aku mohon tetaplah di rumah dan tidak perlu bekerja."
Sudah ku duga, mana mungkin dia mengizinkan aku bekerja lagi, dasar Ibas, egois sekali laki laki ini, dia mau seluruh waktu yang aku punya hanya untuk nya, yasudah lah, malas berdebat dengan nya..
Sama sekali tidak ada bantahan dari Bella atas larangan Ibas tadi, Bella hanya diam dan menuruti perkataan Ibas barusan.
" Ibas, tangan mu ini kenapa terluka?." Bella melihat tangan Ibas yang tergores seperti bekas cakaran
" Bukan, ini tadi terkena penggaris sewaktu rapat, tadi tidak sengaja sewaktu aku mau mempresentasikan dokumen kerja."
" Mau saya obati?."
" Tidak usah sayang, hanya luka kecil, sekarang ayo kita tidur, malam ini sepertinya malam yang indah, jadi ayo kita tidur sekarang."
Mengalah mungkin untuk sekarang adalah bagian dari hidup Bella, tidak membantah dan menurut itulah Bella sekarang. Lebih baik seperti itu agar dirinya bisa bebas terus menyelidiki perselingkuhan antara suami nya dan Emi, walaupun sebenarnya Bella sudah sangat muak dengan semua lelucon ini.
Hari ini Bella berencana untuk mengunjungi orang tua nya, sudah lama Bella tidak melihat keadaan kedua orang tua nya, Bella hanya pergi sendiri karena memang Bella tidak memberitahu Ibas kalau dia akan berkunjung ke rumah orang tua nya.
**Telpon Bella Berdering!!!!!
" Iya, ada apa?."
" Bu Bella, ibu sudah dapat kabar belum kalau Emi sudah meninggal dunia kemarin malam?."
" Apa???, meninggal dunia?."
" Ibu belum tahu rupanya, saya kira ibu sudah tahu."
" Bagaimana dia bisa meninggal dunia?."
" Emi di bunuh bu, sampai sekarang pelaku nya belum di temukan, bahkan jasat Emi baru di temukan tadi pagi di sebrang jalan kantor."
" Bapak disana?, bagaimana respon nya?."
" Iya bu, pak Ibas hanya terlihat bingung."
__ADS_1
" Yasudah, saya akan kesana sekarang**."
Kabar yang benar benar mengejutkan untuk Bella tentunya, bagaimana bisa Emi di bunuh oleh seseorang, bahkan dalam waktu yang terbilang sangatlah cepat, Bella benar benar terkejut dan bingung dengan informasi yang dia dapat barusan.
" Ibas, Ibas bagaimana bisa terjadi pembunuhan seperti itu?."
" Bella kamu ada disini?, aku juga tidak tahu Bella, dia di bunuh oleh seseorang, bisa jadi kalau itu musuh nya."
" Kamu tidak tahu mengenai itu Ibas?."
" Bagaimana aku bisa tahu Bella?, dia hanya sekretaris ku, kenapa kamu bertanya seperti itu?."
" Bukan, saya hanya terkejut saja Ibas, bukan bermaksud yang lain."
Bagaimana mungkin sih, Emi meninggal secara tiba tiba, bahkan Ibas tidam tahu bagaimana Emi bisa di bunuh seperti ini, aku benar benar bingung sekarang.
" Bu Bella, ibu ada disini juga?."
" Iya iya, tadi saya di beritahu kalau ada pegawai yang meninggal karena di bunuh."
" Kasihan bu, dia meninggal dengan tragis, sekujur tubuhnya penuh dengan tusukan, bahkan leher nya di jerat oleh kawat tajam."
Mendengar pernyataaan itu Bella semakin bingung dan heran, bagaimana mungkin itu terjadi.
" Sayang, sudah jangan kamu pikirkan, mungkin itu sudah menjadi takdir untuk nya."
Kenapa Ibas terlihat biasa saja padahal Emi wanita simpanan nya telah di bunuh, kenapa Ibas sama sekali tidak terlihat sedih ataupun frustasi karena Emi sudah meninggal?, apa sebenarnya ini?."
**Telpon Ibas Berdering!!!!
" Bagaimana pak?, sesuai dengan perintah bapak bukan?."
" Kerja bagus, pastikan kalau semua ini bersih, tidak akan ada pihak manapun yang akan mengetahui mengenai kasus pembunuhan wanita itu!."
" Baik pak, bapak serahkan saja pada kami**."
Ibas adalah dalang di balik kematian Emi, Ibas memerintahkan beberapa bawahan nya untuk membunuh Emi malam kemarin. Ibas melakukan itu karena tidak mau kalau Emi sampai memberitahu Bella mengenai perbuatan mereka, setelah Emi meninggalkan ruangan Ibas kemarin, Ibas langsung memerintahkan bawahan nya untuk menunggu sampai Emi pulang bekerja lalu langsung menghabisi nya.
Flash Back
Lihat Emi, kamu berani mengancam saya dengan kata kata kamu tadi, kamu tidak tahu kamu sedang berhadapan dengan siapa, tidak ada satupun orang yang boleh mengusik rumah tangga saya dengan Bella, jika ada maka orang itu harus lenyap dari muka bumi ini, wanita murahan seperti kamu bukanlah hal yamg sulit untuk saya, berani nya kamu menyombongkan diri di hadapan saya, kita lihat saja, hidup mu hanya tinggal hitungan jam di dunia ini.
__ADS_1