
Dari siang tadi ponsel Bella benar benar sangat berisik karena notifikasi dari Sonya dan juga beberapa clien yang akan bekerja sama dengan perusahaan Bella, dia tahu kalau ponsel nya dari tadi terus berbunyi tidak henti henti nya, namun Bella masih bingung, dia tidak mau mengatasi semua ini hanya dari rumah saja, Bella ingin sekali datang langsung ke kantor nya untuk menyelesaikan semua pekerjaan itu. Bella ingin meminta izin sekali lagi pada Ibas tapi takut kalau nanti itu semua akan sia sia saja, mau berapa kali pun Bella meminta izin sepertinya Ibas tetap tidak akan mengizinkan nya bekerja kembali, tapi Bella tidak bisa diam saja di rumah, Bella harus mencari cara bagaimana agar dia bisa bekerja lagi.
" Bella, aku sudah taruh semua barang barangku di kamar, jadi sekarang apa lagi?."
" Apa?, kamu mau apa memangnya?."
" Ajak aku shooping lah Bella, udah lama juga aku gak jalan jalan di sini kan?."
" Kamu pergi sendiri aja, saya lagi gak ada mood keluar rumah."
" Bell, ayo lah, kita ini saudara, masa kamu begitu."
Bella benar benar tidak ingin keluar rumah, di tambah lagi jika keluar rumah bersama dengan Dias, Bella tidak suka pergi bersama dengan Dias karena anak itu terlalu banyak mau, bukan karena Bella takut Dias akan menghabiskan uang nya, hanya saja Bella malas jika berlama lama ketika memilih sesuatu.
" Bell, udah ayo lah, kapan lagi kita jalan berdua Bell!." Dias terus memaksa Bella untuk menemani nya.
" Tunggu disini, saya akan bersiap." Bella terpaksa mengikuti permintaan Dias karena jika tidak dia akan terus merengek meminta Bella untuk menemani nya.
Sementara di kantor Ibas terlihat wanita paruh baya yang kemarin menarik narik tangan Bella ada di dalam ruangan Ibas.
" Saya mau kamu bertanggung jawab atas kematian anak saya, kamu bersalah atas semua ini!!." Bentak wanita paruh baya itu
" Anda jangan lancang, datang ke ruangan saya lalu mengancam saya, anda pikir anda ini siapa?."
" Saya tahu kamu dan anak saya pernah melakukan hubungan, dan saya tahu kalau kamu sudah berselingkuh dengan anak saya, tapi karena kamu tidak bisa meninggalkan istri mu yang cantik itu, kamu hanya memanfaatkan anak saya!!."
" Lalu?, salah saya dimana?, anak anda yang menawarkan diri pada saya, dia yang datang dengan sukarela dan memberikan tubuh nya untuk saya nikmati dengan cuma cuma, katakan dimana letak kesalahan saya!?."
Tidak ada sedikitpun rasa iba Ibas kepada orang tua Emi, Ibas malah kembali melawan dan menantang nya dengan alibi bahwa dia tidak bersalah, karena Emi lah yang sudah menyerahkan diri nya dengan sukarela di hadapan Ibas.
" Benar benar keterlaluan kamu!, anak saya meninggal bahkan kamu tidak mengucapkan bela sungkawa sedikitpun."
__ADS_1
" Jangan memperumit keadaan, kamu butuh uang bukan?, katakan berapa yang kamu inginkan?."
" saya tidak membutuhkan uang mu manusia sialan!, saya hanya mau keadilan untuk putri ku, saya tidak akan membiarkan dia tersiksa disana, saya akan memberitahu istri mu semua kebusukan mu selama ini, saya akan memberitahu nya, kamu harus tersiksa, kamu dan istri mu harus merasakan apa yang putriku sudah rasakan!, dengar dan pegang ucapan ku ini!."
Setelah melampiaskan semua kemarahan dan ancaman nya pada Ibas, ibu Emi langsung pergi meninggalkan kantor milik Ibas, dia pergi dengan keadaan marah dan menangis, dia benar benar tidak bisa terima atas kematian putri nya yang terjadi begitu saja, bahkan kasus pembunuhan putrinya di putuskan untuk di tutup oleh pihak kepolisian, dia benar benar tidak tenang dan tidak terima, kemarahan nya benar benar sudah memuncak, dia sangat yakin jika kematian Emi ada hubungan nya dengan Ibas maupun Bella.
" Kata momy ku kamu sudah menikah Bell, mana suami mu?."
" Bekerja."
" Bukan nya kamu juga bekerja ya?, kenapa tadi kamu cuma duduk di rumah saja?."
" Bisa gak kamu gak usah banyak tanya?, cukup duduk diam."
" Ya ampun Bell, aku cuma tanya, apa salahnya tinggal kamu jawab aja."
" Suamiku melarangku bekerja, sudah puas?."
Benar yang di katakan Dias barusan, Bella dari dulu tidak pernah mau menurut ataupun di atur oleh siapapun, kenapa sekarang dia harus menuruti semua perkataan Ibas, terlebih lagi Ibas sudah mengkhianati dirinya.
" Udah Bell, jangan mau di atur sama suami mu, dia memang harus di hormati, tapi bukan berarti kita sebagai wanita tidak bisa punya kebebasan kan?."
Benar apa yang anak ini katakan, kenapa aku harus menuruti Ibas?, terlebih lagi sekarang Emi juga sudah tiada, lebih baik aku kembali bekerja seperti dulu, aku juga tidak perlu mendengarkan Ibas lagi seperti wanita lugu yang penurut.
" Woyyy!!, melamun aja sih, mikirin apa Bell?."
" Gak, udah kita udah mau sampai ini sebentar lagi."
Dias memang anak yang manja dan egois, tapi Bella tetap sepupu nya, dia tumbuh bersama Bella, dia selalu bermain dengan Bella, bagaimana pun dia pasti mengerti Bella, walaupun Bella tidak menyukai Dias tapi Dias sangat menyukai Bella.
Hari ini Bella menuruti permintaan Dias untuk shooping dan makan di luar rumah, tadi nya Bella akan memasak tapi tidak jadi. Bella dan Dias seperti adik kakak, mereka berdua sama sama cantik, hanya saja Dias memiliki postur tubuh yang lebih kecil dari Bella, sudah lama semenjak Dias pindah, mereka berdua tidak pernah menghabiskan waktu bersama.
__ADS_1
" Kita makan dulu ya Bell, laper banget ini." rengek nya pada Bella, dan Bella hanya menyetujui permintaan Dias
Bella mangajak Dias untuk makan di tempat favorit nya sejak dulu.
" Bell, sebenernya kamu cinta gak sih sama suami kamu?."
" Apaan pertanyaan kamu itu sih?."
" Jujur aja Bell, kita ini sepupu kandung, kita juga besar sama sama, aku tahu kamu bukan tipe orang yang akan cerita ke orang lain, tapi kamu harus bisa cerita sama aku." Mendengar itu Bella sedikit luluh, benar memang Bella tidak pernah bercerita apapun selama ini kepada siapapun.
" Kalau kamu tanya saya cinta atau gak, jawabanya enggak sama sekali Di."
" Lalu kenapa kamu mau terima sih Bell?, kamu bisa tolak, dan aku yakin tante gak akan maksa kamu."
" Kamu gak akan ngerti posisi saya Di, itu pilihan yang sulit."
" I know Bell, jangan sesekali kamu bilang aku gak ngerti posisi kamu, kenapa kamu gak hubungi aku Bell?, padahal aku selalu tunggu kamu buat hubungi aku."
" Sorry ya Di, mungkin karena saya selalu ngerasa kalau saya bisa melakukan apap pun sendiri jadi saya gak butuh siapa pun."
" Look, kamu butuh Bell, kamu butuh orang untuk mendengarkan cerita kamu kaya sekarang ini kan?."
Bella hanya bisa terdiam mendengarkan ucapan Dias tadi, dia benar, Bella butuh seseorang untuk menjadi tempat Bella bercerita, Bella tidak selalu bisa mengatasi semua sendirian, entah kenapa tapi setelaj bercerita dengan Dias tadi Bella benar benar merasa lebih nyaman.
" Kamu boleh bekerja Bella, dan kamu juga bisa nikmati harta suami mu itu, kamu boleh serakah, hidup mu sudah kamu serahkan untuk nya, jadi kamu berhak atas apapun yang kamu mau."
" Makasih Di, tadi nya saya pikir kamu gak akan bisa jadi orang yang welcome, tapi ternyata saya salah selama ini."
" Mulai sekarang kamu punya aku Bell, kita akan tetap sama sama, aku gak akan ninggalin kamu, aku bakal jadi teman dan adik yang baik buat kamu."
Entah lah moment yang tadi nya sangat menyebalkan sekarang berubah menjadi moment yang sangat mengharukan bagi Bella, sekarang Bella merasa punya tempat untuk dia bercerita, Dias yang selama ini dia pikir adalah wanita yang manja dan sangat egois ternyata adalah orang yang paling mengenal dirinya.
__ADS_1