
" Bella aku pulang!, sayang." Ibas membuka pintu rumah dan terus mencari dimana keberadaan Bella, namun Ibas tidak mendapatkan Bella di dalam rumah itu.
Bella pergi kemana?, dia keluar, kenapa dia tidak memberitahu aku dulu, kemana Bella keluar sampai larut begini, sama siapa juga dia keluar sampai malam begini?.."
Bella sengaja tidak memberitahu Ibas kalau dia pergi keluar bersama dengan Dias, sebenarnya bukan sengaja, Bella lupa memeberitahu Ibas itu saja. Kurang lebih sampai jam 12 malam Bella dan Dias baru selesai berbelanja, banyak sekali belanjaan yang mereka berdua bawa.
" Ini banyak banget Di, kamu gak berubah berubah kalau masalah ini ya, semua aja Di kamu beli, atau sekalian mall ini juga."
" Ya aku mau Bell, kamu belikan lah mall ini untuk aku, gampang kan." dengan enteng nya Dias berbicara seperti itu, tapi memang dia tidak salah, Bella memang mampu membeli mall yang barusan dia katakan tadi, karena Dias tau kalau Bella sangatlah kaya raya.
Sepanjang perjalanan mereka terus mengobrol dan tertawa tanpa henti, Dias terus saja membuat lelucon yang konyol dan membuat Bella tertawa. Namun disisi lain ada seorang Ibas yang sedang menunggu kepulangan Bella dengan wajah yang sangat musam dan terlihat sedang kesal, Ibas menunggu Bella di ruang tamu sejak satu jam yang lalu, namun Bella tak kunjung pulang juga.
" Ehhh, ini pasti suami mu ya Bella?, aduh maaf ya kakak ipar, tadi aku ajak Bella untuk makan di luar dan juga shooping, tidak apa bukan?." sapa Dias sambil menunjukan belanjaan di tangan nya.
" Ibas, kamu nunggu saya dari tadi?, maaf ya saya tidak bilang ke kamu kalau saya mau pergi tadi.'
" Boleh saja pergi Bella, tapi lihat coba ini sudah jam berapa sekarang?, ini sudah tengaj malam, bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?.."
" Eitsss sudah sudah, tidak akan terjadi apa apa pada Bella, dia pergi bersamaku bukan sendiri, jadi jangan cemas sampai seperti itu, santai lah." Dias memotong pembicaraan antara Bella dan Ibas.
Ibas memang sangat posesif menjadi seorang suami, bahkan Bella hanya pergi sebentar saja dia bisa sangat kesal.
" Yasudah Di, masuk ke kamar mu dan istirahatlah."
" Oke, selamat malam guys." Dias pergi meninggalkan Bella dan Ibas berdua di ruang tamu.
Ibas cuma terus memandangi Bella dari tadi, dia masih tampak sangat kesal karena Bella pergi tanpa izin dari dirinya. Melihat itu Bella langsung memeluk Ibas dan mengecup pipi nya.
" Sudah, jangan kesal seperti itu, saya tidak terluka kan?, sekarang ayo kita tidur." ajak Bella dengan lembut.
Satu hari ini Bella benar benar menghabiskan banyak waktu dengan Dias, tidak apa karena Bella juga merasa nyaman.
Pagi ini rencana Ibas akan merekrut sekretaris baru di kantor nya untuk menggantikan Emi karena dia sudah tiada. Namun Ibas sama sekali belum berbicara pada Bella mengenai hal tersebut, entah Ibas lupa atau dia sengaja tidak mau memberitahu Bella.
" Hari ini saya tidak ikut ke kantor mu dulu Ibas, karena saya harus menemani Dias."
" Gak masalah Bell, kamu bisa ikut Ibas ke kantor, aku bisa di rumah sendiri."
" Yasudah kalau kamu mau di rumah dulu Bella, aku tidak masalah."
"Terimakasih." Setelah menyelesaikan perbincangan kecil mereka di meja makan tadi, Ibas pun berangkat ke kantor nya seorang diri, hari ini Ibas terliat sangat rapih sama seperti biasa nya.
__ADS_1
" Suami mu itu nampak nya cuek sama perempuan lain ya Bell."
" Haha, begitu menurut mu?." Bella tertawa ketika mendengar itu, Bella tertawa karena mengingat kembali pengkhiantan antara Ibas dan Emi pada dirinya.
" Loh, kenapa kamu ketawa?, emang perkataan aku barusan lucu Bell?."
" Ibas itu gak seperti yang kamu kira Di, dia bisa akrab dengan siapa saja, dia juga gak sedingin itu."
Dias menganggap bahwa Ibas adalah laki laki yang cuek, karena semenjak dia menginap di rumah Bella, Dias tidak pernah melihat Ibas berbicara padanya ataupun tersenyum ke arah nya, yang dia lihat Ibas hanya mentap Bella dan tersenyum kepada nya, Ibas terlihat seperti laki laki yang benar benar mencintai istri nya saja.
Sementara di kantor Ibas para karyawan sudah mulai bergosip karena melihat para wanita muda dan cantik berdatangan ke kantor mereka. Mereka belum di beritahu oleh Ibas kalau hari ini Ibas akan mencari sekretaris baru pengganti Emi.
**Telpon Bella Berdering!!!!
" Kenapa bu Bella ga jawab telpon aku sih, padahal ini penting**."
Bella tidak menjawab telpon dari salah satu karyawan Ibas yang ingin memberitahu kalau saaat ini di kantor suami nya sedang ramai dengan para wanita. Ibas benar benar tidak memberitahu Bella mengenai ini, bukan karena dia lupa, tapi memang sengaja sepertinya.
" Pak maaf, ini kenapa di kantor ramai begini, ada apa ya pak?."
" Saya sedang mencari sekretari baru untuk menggantikan Emi." Ibas berlalu begitu saja memasuki ruangan nya, saat Ibas berlalu semua mata wanita wanita itu tertuju pada nya.
" Itu bos nya ya?."
" Iya deh sumpah ganteng banget, harum banget juga."
" Harus bisa sih jadu sekretaris nya, jadi bisa ketemu sama dia setiap saat."
Semua berbicara mengenai ketampanan Ibas, semua menyukai nya, bahkan niat mereka bekerja bukan lagi untuk bekerja melainkan untuk bisa melihat Ibas setiap harinya.
Ibas sudah mewawancarai semua wanita yang mendaftar untuk menjadi sekretaris pribadi nya dan juga Ibas sudah menemukan pilihan nya dari sekian banyak nya pendaftar.
" Baik Nasya, mulai hari ini kamu sudah bisa bekerja sebagai sekretaris pribadi saya, kamu saya pilih di antara yang lain karena saya pikir kamu lebih pantas, saya harap kamu bisa bekerja dengan baik disini."
" Baik pak terimakasih, saya pasti akan bekerja dengan baik disini."
Nasya adalah pendaftar yang akhirnya di pilih oleh Ibas, Nasya adalah wanita lulusan managemant di sebuah fakultas negeri, dia memiliki postur tubuh yang kurus dan juga tidak terlalu tinggi, memiliki rambut dan kulit yang bagus untuk kalangan wanita. Namun Nasya belum mengetahu kalau Ibas sudah mempunyai seorang istri karena memang Ibas tidak meletakkan foto Bella ataupun foto pernikahan nya dengan Bella di ruang kerja nya.
" Bell, kita ke kantor kamu aja gimana?."
" Mau apa memangnya disana?."
__ADS_1
" Aku mau keliling, pasti kantormu cantik kan?."
" Ya cantik lah."
" Bell bolehin aku kerja disana dong, ya?."
" Kamu mau bekerja?, memangnya kamu bisa?."
" Bisa lah, aku ini juga sekolah Bell, mana mungkin aku gak bisa."
Bella tidak percaya kalau Dias bisa bekerja, karena dia memang sangat manja, dia tidak pernah bekerja sama sekali karena memang dia tidak mau, orang tua nya juga sangat memanjakan dirinya.
Setelah membujuk Bella sejak satu jam yang lalu akhirnya Bella memutuskan untuk mencoba menerima tawaran dari Dias.
" Kamu boleh bekerja di kantor saya besok, jadi pegawai magang dulu."
" Jadi pegawai magang juga boleh lah Bell, yang penting aku bisa kerja di kantor mu yang sangat nyaman itu hahaha."
" Orang kalau mau bekerja ya bekerja saja Di, bukan karena kantor nya cantik."
Sementara disisi lain saat jam makan siang Ibas mendatangi meja Nasya.
" Ayo kita makan siang bersama, kamu belum tahu kantin kantor ini kan?."
" Belum pak, tapi apa tidak apa apa kalau saya makan dengan bapak?."
" Kenapa?, kita cuma makan bukan yang aneh aneh."
Yess, akhirnya aku bisa makan siang dengan si ganteng ini, kapan lagi aku bisa makan siang dengan bos sendiri, bos nya ganteng lagi..
Ibas mengajak Nasya makan namun bukan di kantin kantor, Ibas mengajak Nasya makan di restoran sebrang jalan kantor nya, entah kenapa Ibas malah mengajak Nasya makan du luar kantor begitu.
" Pak, ini bukan di wilayah kantor kan?."
" Iya, saya mah bertemu seseorang jadi kita makan disini saja." Ibas menunggu seseorang, seorang pria yang tiba tiba datang memakai pakaian serba hitam dan masker di di wajah nya.
" Semua beres kan?, tidak ada lagi yang perlu aku khawatirkan mengenai masalah kemarin?."
" Tidak ada pak, semua suda seperti yang anda inginkan, semua sudah bersih dan beres."
" Baiklah, kamu boleh pergi."
__ADS_1
Ibas menemui laki laki yang sudah dia suruh untuk menhghabisi Emi, dia memastikan bahwa kasus ini sudah benar benar bersih dan selesai.
Nasya tampak heran mendengar isi pembicaraan antara Ibas dan lelaki tadi, namun dia tidak ambil pusing, dia hanya mengabaikan nya dan sibuk dengan ponsel milik nya.