
Pagi tiba, matahari sudah
terlihat malu-malu menampakkan sinarnya. Dhika tidak bisa tidur sama sekali.
Kantung matanya sudah menghitam. Ia melihat ke wajah Nisa, Ia baru tersadar
akan canitk paras wanita kecilnya. Saat tidur wajahnya terlihat damai, berbeda
dengan tadi malam, Ia sunggguh ketahkutan. Tanpa sadar Ia mengusap lembut pipi Nisa.
Apa yang ku lakukan? ucap dika dalam hati. ia pun menjauhkan tangannya dari tubuh nisa yang ia peluk. menyadari hal tersebut, nisa menarik tubuh dika dan balik memeluk dika
akhirnya Nisa terbangun dari tidurnya, iya
membuka mata sedikit demi sedikit. Ia masih belum tersadar yang dipeluknya adalah
Dhika.
“hmm.. tampan” ucap Nisa setengah
sadar. Sambil tersenyum manis, Ia mengusap pipi Dhika lembut.
Dhika memegang tangan Nisa
“hei, sadarlah! Bukan saatnya kau
memuji penampilanku” Ia tak sanggup lagi untuk mendekap Nisa, baginya yang
tidak paham definisi jatuh cinta, merasa kebingungan apa yang harus Ia lakukan
mulai sekarang.
Nisa masih melanjutkan tidurnya. Dhika
pun menghela nafas dan pergi ke kamar mandi tak lupa mengeluarkan Hasrat yang
sudah tak bisa Ia bendung. Sabun menjadi saksi bisu akan kuatnya Hasrat Dhika
yang teprndam.
beep.. beep.. "halo, Max,
kirimkan sepasang baju untuk saya dan untuk satu wanita” titah dhika.
Setelah selesai dengan urusan baju, Ia Kembali ke
kamar dan melihat Nisa masih tertidur.
__ADS_1
“hei, kau bukan putri tidur,
bangun!” bentak Dhika sambil menggoyang2kan tubuh Nisa
“eh? Hmm?” Ia tersadar akan suara
keras itu
“ma.. maaf Tuan”..
“kyaaaaaaaaaa!!” Ia terIak saat melihat tubuh polosnya hanya di balut handuk
kimono, apalagi bagIan atasnya sedikit melorot.
“tidak usah menggodaku, cepat
bersIap. Pakai baju ini” titah Dhika. Baju itu adalah baju baru yang disIapkan Max.
Nisa menata Dhika tajam
“saya tidak melakukan apapun”
ucap Dhika acuh
Tidak melakukan apapun? Jelas
hati
--
Mereka berdua Kembali ke apartemen. Dhika
sibuk mengemas barang, karena malam ini Ia harus memulai perjalanan bisnisnya.
Di sisi lain, Nisa sedikit
khawatir karena insiden kemarin, Ia menjadi sedikit takut ditinggal Dhika.
Apalagi apartemen ini sangat tinggi, Ia mulai berfikir apartemen ini akan jatuh
kalau terjadi gempa lagi.
Berkat insiden kemarin, Dhika
sebenarnya tidak tega meninggalkan Nisa sendirIan. Ia pun memutar otaknya
mencari solusi untuk Nisa.
__ADS_1
“hei, selama saya perjalanan
bisnis, saya harus memulangkan anda ke rumah”
“tidak mau Tuan”
“jadi kau mau di apatemen ini?
Walaupun kedepannya tidak tahu ada gempa atau badai sekalipun?”
Nisa menangis, emosinya mulai
sulit dikendalikan. Memang penyakitnya sering kambuh seiring dengan tekanan
psikis yang Ia alami
“kenapa kamu cengeng sekali? Saya
benci wanita cengeng!” bentak Dhika
Nisa malah makin kesal, memang,
saat kondisi Nisa tidak stabil, Ia hanya butuh penenenang jiwa.
“keputusanku sudah mutlak. Kamu
akan saya kirim ke rumah Tuan Abimanyu sore ini.”
Dhika mulai mecurigai perubahan
tingkah Nisa yang sangat cepat. Apakah dIa benar2 gila? Dhika bertanya
tanya. Walaupun sekali lagi, ya dIa tidak begitu peduli.
“fyuh..” Dhika melebaskan nafas
Panjang, “kau masih bisa menghubungiku jika ada sesuatu terjadi.” Dhika mengangkat
ponselnya, tanda Nisa diizinkan menghubunginya vIa ponsel
"benarkah tuan?"
"tentu jika ada masalah penting dan mendesak. selain itu jangan pernah kau ganggu pekerjaan saya. saya akan sangat sibuk." kata dika dingin
Nisa pun menggangguk tanda Ia
setuju dengan keputusan Dhika
__ADS_1
--