Suamiku Gila Kerja

Suamiku Gila Kerja
Episode 10


__ADS_3

Pagi tiba, matahari sudah


terlihat malu-malu menampakkan sinarnya. Dhika tidak bisa tidur sama sekali.


Kantung matanya sudah menghitam. Ia melihat ke wajah Nisa, Ia baru tersadar


akan canitk paras wanita kecilnya. Saat tidur wajahnya terlihat damai, berbeda


dengan tadi malam, Ia sunggguh ketahkutan. Tanpa sadar Ia mengusap lembut pipi Nisa.


Apa yang ku lakukan? ucap dika dalam hati. ia pun menjauhkan tangannya dari tubuh nisa yang ia peluk. menyadari hal tersebut, nisa menarik tubuh dika dan balik memeluk dika


akhirnya Nisa terbangun dari tidurnya, iya


membuka mata sedikit demi sedikit. Ia masih belum tersadar yang dipeluknya adalah


Dhika.


“hmm.. tampan” ucap Nisa setengah


sadar. Sambil tersenyum manis, Ia mengusap pipi Dhika lembut.


Dhika memegang tangan Nisa


“hei, sadarlah! Bukan saatnya kau


memuji penampilanku” Ia tak sanggup lagi untuk mendekap Nisa, baginya yang


tidak paham definisi jatuh cinta, merasa kebingungan apa yang harus Ia lakukan


mulai sekarang.


Nisa masih melanjutkan tidurnya. Dhika


pun menghela nafas dan pergi ke kamar mandi tak lupa mengeluarkan Hasrat yang


sudah tak bisa Ia bendung. Sabun menjadi saksi bisu akan kuatnya Hasrat Dhika


yang teprndam.


beep.. beep.. "halo, Max,


kirimkan sepasang baju untuk saya dan untuk satu wanita” titah dhika.


Setelah selesai dengan urusan baju, Ia Kembali ke


kamar dan melihat Nisa masih tertidur.

__ADS_1


“hei, kau bukan putri tidur,


bangun!” bentak Dhika sambil menggoyang2kan tubuh Nisa


“eh? Hmm?” Ia tersadar akan suara


keras itu


“ma.. maaf Tuan”..


“kyaaaaaaaaaa!!” Ia terIak saat melihat tubuh polosnya hanya di balut handuk


kimono, apalagi bagIan atasnya sedikit melorot.


“tidak usah menggodaku, cepat


bersIap. Pakai baju ini” titah Dhika. Baju itu adalah baju baru yang disIapkan Max.


Nisa menata Dhika tajam


“saya tidak melakukan apapun”


ucap Dhika acuh


Tidak melakukan apapun? Jelas


hati


--


Mereka berdua Kembali ke apartemen. Dhika


sibuk mengemas barang, karena malam ini Ia harus memulai perjalanan bisnisnya.


Di sisi lain, Nisa sedikit


khawatir karena insiden kemarin, Ia menjadi sedikit takut ditinggal Dhika.


Apalagi apartemen ini sangat tinggi, Ia mulai berfikir apartemen ini akan jatuh


kalau terjadi gempa lagi.


Berkat insiden kemarin, Dhika


sebenarnya tidak tega meninggalkan Nisa sendirIan. Ia pun memutar otaknya


mencari solusi untuk Nisa.

__ADS_1


“hei, selama saya perjalanan


bisnis, saya harus memulangkan anda ke rumah”


“tidak mau Tuan”


“jadi kau mau di apatemen ini?


Walaupun kedepannya tidak tahu ada gempa atau badai sekalipun?”


Nisa menangis, emosinya mulai


sulit dikendalikan. Memang penyakitnya sering kambuh seiring dengan tekanan


psikis yang Ia alami


“kenapa kamu cengeng sekali? Saya


benci wanita cengeng!” bentak Dhika


Nisa malah makin kesal, memang,


saat kondisi Nisa tidak stabil, Ia hanya butuh penenenang jiwa.


“keputusanku sudah mutlak. Kamu


akan saya kirim ke rumah Tuan Abimanyu sore ini.”


Dhika mulai mecurigai perubahan


tingkah Nisa yang sangat cepat. Apakah dIa benar2 gila? Dhika bertanya


tanya. Walaupun sekali lagi, ya dIa tidak begitu peduli.


“fyuh..” Dhika melebaskan nafas


Panjang, “kau masih bisa menghubungiku jika ada sesuatu terjadi.” Dhika mengangkat


ponselnya, tanda Nisa diizinkan menghubunginya vIa ponsel


"benarkah tuan?"


"tentu jika ada masalah penting dan mendesak. selain itu jangan pernah kau ganggu pekerjaan saya. saya akan sangat sibuk." kata dika dingin


Nisa pun menggangguk tanda Ia


setuju dengan keputusan Dhika

__ADS_1


--


__ADS_2