Suamiku Gila Kerja

Suamiku Gila Kerja
Episode 15


__ADS_3

Di IndonesIa, Nisa Bersama fahmi dan salma menikmati kopi yang dibeli di café. Salma terihat bengong. Ia


memikirkan sesuatu, yaitu bagaimana cara berterimakasih yang benar.


“hei, ngelamunin apa lu” kata salma


“hm, engga ko”


“Nisa, lo bisa ko cerita sama gue, eh sama kita maksudnya” kata fahmi hampir keceplosan


“menurut kalIan, gimana sih cara berterimakasih sekaligus meminta maaf yang benar? Misalnya kalIan punya utang


makasih pada lawan jenis”


“lo punya pacar?” tanya fahmi curiga sekaligus sedih


“eh.. engga ko, Cuma penasaran aja hehe”


“menurut gue, kalau ke lawan jenis, kita harus bilang dengan tulus. Kalau dIa belum memaafkan mungkin bisa


kasih dIa hadIah. Eh Cowo gasuka Dhikasih hadIah kaya cewe, tapi mereka suka Dhikasih perhatIan lebih. Ia ga sih mi?”


“hm, sebagai cowo, gue sih suka kalau si cewe ngambil inisIatif, misalnya ajak ngobrol kita duluan, perhatIan,


dan…. ga bisa dipungkiri sih, cowo butuh sentuhan2 lembut hahhahaha”


“gile lu, kalau sebatas temen pasti gagal itu, yang ada malah di tabok, bukan sIapa sIapa eh berani


pegang-pegang.. tepi beda lagi kalau misanya udah suami istri. Kalo udah sah, ya peluk2 dikit gapapa lah ya”


“waah, kalo udah suami istri sih jelas harus lebih dari sekedar peluk dan cium lah hahaha”


“mesum lo mi”

__ADS_1


“engga ko, serius gue”


Nisa yang dari tadi memperhatikan pembicaraan mereka, langsung tersipu malu, mukanya merah kaya tomat. Ia malu sendiri mengingat statusnya yang sudah menikah dengan Dhika.


--


Malamnya, Nisa menelpon Dhika, Ia akan coba mengambil inisIatif seperti yang Dhikatakan fahmi, Ia sudah menyIapkan pertanyaan untuk tujuan menjadi lebih perhatIan


“halo Tuan..”


“ada apa”


“Tuan sedang apa”


“merokok”


“oh.. ku harap Tuan jangan terlalu sering merokok, tidak baik bagi Kesehatan”


anggap ibu. DIa tidak menyangkal Nisa


“sudah ku matikan”


“bagus, hehe, Tuan udah makan?” Nisa terdengar begitu perhatIan


“belum, gaada waktu”


“Tuan harus tetap makan ya, nanti sakit. Disana sedang ada masalah Tuan?”


“ya beberapa masalah, kau baik-baik  saja kan di Jakarta?”


Ia tiba2 ingin bertanya kabar Nisa Pasalnya Ia jadi teringat kejadian dengan velicIa, Ia tidak sudi jika istrinya menjadi wanita murahan


“maksud Tuan? Aku baik baik saja ko” ucapnya lembut

__ADS_1


Entah kenapa hati Dhika jadi lebih tenang


“Tuan jangan sampai sakit ya, segeralah pulang. Disini aku akan membantu Tuan, jadi terimalah maafku untuk


beberapa hari yang lalu”


“membantu apa?


“apa saja yang Tuan mau” jawabnya dengan semangat


“benarkah?”


“ya Tuan, cepatlah pulang, aku akan sering menelpon Tuan, apakah boleh?”


“terserah, asal tidak mengganggu pekerjaan saya” kata dhika dingin


“baik, sampai jumpa di Jakarta”


“satu lagi, jangan panggil aku Tuan”


“eh? Aku harus panggil dengan


sebutan apa Tuan?”


“pikirkan sendiri. Aku tutup


telponmu.”


Beeb.. suara telpon dIakhiri.


Yaampun, deg degan sekali mendengar suaranya, ku kira dIa akan marah. Membayangkan mukanya saja membuatku ngeri, ternyata Tuan bukan orang yang menakutkan… kayanya sih begitu.. eh tunggu, jangan panggil Tuan? Lantas apa? DIa 7 tahun lebih tua dariku. Mungkin kakak? Nisa berpikir keras, namun Ia menyukainya, Ia senang mendengar suara Dhika yang berat.


--

__ADS_1


__ADS_2