
Dhika sudah sampai kantor,
melanjutkan pekerjaannya. Hari ini Ia berencana pulang lebih cepat karena ingin
mempersIapkan pakaIan dan segala kebutuhan 8 setengah bulan kedean.
Saat di jalan pulang, hujan mulai
turun. Suara petir menyambar dengan kerasnya, Ia merasakan firasat buruk, entah
ap aitu, Ia melanjutkan perjalanannya dengan kecepatan di atas rata2
--
Di rumah, Nisa terbangun karena
suuara hujan yang lebat, Ia sangat takut dengan petir, apartemen millik Dhika
berada di lantai 28, sehingga suara petir terdengar lebih keras dari bIasanya. Nisa
ketakutan sampai Ia sulit mengontrol emosinya. Ia menangis, marah, tertawa,
seperti orang gila. 30 menit berlalu, Nisa sudah tidak ada tenaga untuk marah
maupun tertawa, Ia hanya menangis ketakutan, hujan tak kunjung berhenti. Nisa
terdampar di karpet sebelah Kasur, Ia memegang bantalnya erat, Ia masih
ketakutan. Takut sekali.
Saat itu Dhika berlari kecil
menuju apartemennya. Ia langsung mecari Nisa
“hei, dimana kamu?”
Ia mencari di dapur, belum sempat
ke kamar, lampu tiba2 padam, semua terlihat hitam, gelap gulita. Disusul dengan
pemberitahuan alarm gempa bumi dari pengeras suara pusat informasi. Dhika
berterIak karena tidak mendapat respons Nisa
“Nisa! Hei dimana kamu!”
Masih tidak ada jawaban, Dhika
periksa satu persatu ruangan, hingga Ia periksa kamarya sendiri. Terdengar Nisa
mengangis ketakutan. Dhika mencari sumber suara itu dan dengan banTuan cahaya
ponselnya. Ia melihat Nisa terkapar lemas ketakutan di karpet lantainya.
Dhika mendekati Nisa, Nisa melihat
wajah Dhika langsung spontan memeluknya.
Apartemen sudah terasa bergoyang
akibat guncangan gempa. Tanpa ambil pusing Dhika langsung menggendong Nisa
sampai ke lantai 1, dan membawanya ke lapangan luas jalur evakuasi, menghindari
jika ada reruntuhan dari Gedung. Saat situasi masih hujan Dhika masih
menggendong Nisa. Keduanya basah kuyup, pengungsi lain yang berada di lapangan
pun demikIan. Namun Nisa masih ketakutan, tangannya bergetar. Dhika menurunkan Nisa,
mendudukannya di tempat yang aman.
__ADS_1
“Tuan..” bibirnya gemetar
“iya kenapa” Dhika memegang
tangan Nisa
“takut.. Tuan aku takut…” Nisa
masih bergetar
“ada saya, saya jaga kamu disini”
Dhika masih menggenggam Nisa penuh khawatir
“Nisa mendekatkan badannya ke Dhika,
Dhika pun langsung memeluknya. Nisa menjadi lebih tenang. Nisa tidur entah
pingsan di pelukan Dhika.
Setelah 1 setengah jam, apartemen
masih gelap gulita. Tubuh Nisa sudah sangat lemas, badannya sedikit panas. Dhika
memutuskan untuk pergi ke hotel menghangatkan diri. Nisa masih dalam keadaan
tak sadarkan diri. sesampainya di hotel, Dhika memesan asal kamar. Setelah
mendapat kunci, Dhika langsung pergi ke kamar tersebut. Suasana kamar hening,
sepi, namun hangat. Ada 2 kasur sesuai yang Dhika pesan.
Oh shit, Nisa pingsan atau mati, dIa belum bangun juga.
Dhika melihat Nisa dengan kasihan. Rambutnya
basah, sekujur tubuhnyapun basah.
“tu.. Tuan…” lirih Nisa tersadar
“di..dingin..”
Dengan cepat Dhika mendudukan Nisa
di kursi, Ia segera menyIapkan air hangat untuk berendam. Setelah itu Ia
membawa Nisa ke kamar mandi. Dhika memasukan Nisa ke bathub dengan keadaan baju
masih utuh. Namun Nisa melirih lagi
“dingin..” Ia terlihat begitu kedinginan.
Wajahnya pucat, bahkan warna bibirnya memutih
Dhika memutar otak, Ia kasihan
sekali dengan Nisa. Namun Ia tidak enak bila harus melepas bajunya dan
mengganti bajunya”
“Nisa,..” ucap dhika ragu.
“Tuan.. tolong” lirih Nisa sambil
memegang tangan Dhika
Dhika pun tanpa berpikir panjang
membuka satu persatu baju Nisa, Ia merasa ada yg tegang di bawah sana akibat
melihat wanita polos tanpa baju, itu sesuatu yang normal bagi pria. Ia tetap
__ADS_1
focus untuk menyelamatkan Nisa, toh mereka pasangan suami istri yang halal.
Sekarang Nisa sudah tidak
menggunakan sehelai kain pun di tubuhnya. Tangan Nisa Kembali memegang tangan Dhika.
Rasa takut masih menyelimuti relung Nisa. Nisa Kembali mendekatkan tubuhnya ke
tubuh Dhika, dengan otomatis, Dhika memeluk Nisa
“hangat..” lirih Nisa
“iya, sudah tidak apa-apa,
tenang”
Nisa tidak melepaskan pelukan Dhika.
Nisa merasakan kenyamanan berada di pelukan Dhika. Dhika pun merasa lega Nisa
sudah tidak kenapa2.
Dhika pun keluar sebentar mencari
handuk dan handuk kimono yang disedIakan hotel. Dhika mengeluarkan Nisa dari
bathub, mengelap seluruh tubuh Nisa dan memberinya handuk kimono. Dhika pun
menggendong Nisa ke Kasur, dan menyelimutinya. Tarlupa akan baju Dhika yang
basah kuyup juga, Dhika segera bersIap berendam air hangat, namun belum Dhika
pergi Nisa menarik tangan Dhika
“jangan tinggalin aku ma.. mama… Nisa
takut”
“sstt, ada saya disini, kamu aman”
kata dika sambil menepuk nepuk lembut bahu nisa
“mama… Nisa takut”
“Dhika pun memeluk Nisa Kembali,
setelah Nisa tenang, dhika bergegas membersihkan badnanya dan memakai handuk
kimono yang disedIakan. Entah apa yang ada di pikiran Dhika, Ia dengan
kemauannya menaiki ranjang yang sama dengan Nisa, Nisa menyadari itu, Ia
langsung memeluk Dhika erat. Menenggelamkan kepalanya di dada bidang Dhika. Kasur
kecil itu bIasanya hanya muat untuk 1 orang. Dhika berusaha menahan nafsunya
dan focus menenangkan Nisa, walaupun juniornya sudah tidak bisa dikendalikan.
“Tuan, jangan pergi”
“saya tidak kemana2, di samping
kamu” kata Dhika dengan hangat sambil mengeus halus rambut Nisa.
Tanpa disengaja handuk kimono Nisa
melorot, hingga menampakkan belahan dada Nisa. Nisa yang selama ini menggunakan
dress longgar tidak disangka memiliki tubuh yang memuaskan Hasrat Dhika.
Terlihat dua gunung kesukaan para lelaki di bawah handuk kimononya itu. Dhika menahannya Kembali dan berusaha untuk
__ADS_1
tidur, namun tidak bisa. Ia menahan hasratnya sampai pagi.
--