Suamiku Gila Kerja

Suamiku Gila Kerja
Episode 9


__ADS_3

Dhika sudah sampai kantor,


melanjutkan pekerjaannya. Hari ini Ia berencana pulang lebih cepat karena ingin


mempersIapkan pakaIan dan segala kebutuhan 8 setengah bulan kedean.


Saat di jalan pulang, hujan mulai


turun. Suara petir menyambar dengan kerasnya, Ia merasakan firasat buruk, entah


ap aitu, Ia melanjutkan perjalanannya dengan kecepatan di atas rata2


--


Di rumah, Nisa terbangun karena


suuara hujan yang lebat, Ia sangat takut dengan petir, apartemen millik Dhika


berada di lantai 28, sehingga suara petir terdengar lebih keras dari bIasanya. Nisa


ketakutan sampai Ia sulit mengontrol emosinya. Ia menangis, marah, tertawa,


seperti orang gila. 30 menit berlalu, Nisa sudah tidak ada tenaga untuk marah


maupun tertawa, Ia hanya menangis ketakutan, hujan tak kunjung berhenti. Nisa


terdampar di karpet sebelah Kasur, Ia memegang bantalnya erat, Ia masih


ketakutan. Takut sekali.


Saat itu Dhika berlari kecil


menuju apartemennya. Ia langsung mecari Nisa


“hei, dimana kamu?”


Ia mencari di dapur, belum sempat


ke kamar, lampu tiba2 padam, semua terlihat hitam, gelap gulita. Disusul dengan


pemberitahuan alarm gempa bumi dari pengeras suara pusat informasi. Dhika


berterIak karena tidak mendapat respons Nisa


“Nisa! Hei dimana kamu!”


Masih tidak ada jawaban, Dhika


periksa satu persatu ruangan, hingga Ia periksa kamarya sendiri. Terdengar Nisa


mengangis ketakutan. Dhika mencari sumber suara itu dan dengan banTuan cahaya


ponselnya. Ia melihat Nisa terkapar lemas ketakutan di karpet lantainya.


Dhika mendekati Nisa, Nisa melihat


wajah Dhika langsung spontan memeluknya.


Apartemen sudah terasa bergoyang


akibat guncangan gempa. Tanpa ambil pusing Dhika langsung menggendong Nisa


sampai ke lantai 1, dan membawanya ke lapangan luas jalur evakuasi, menghindari


jika ada reruntuhan dari Gedung. Saat situasi masih hujan Dhika masih


menggendong Nisa. Keduanya basah kuyup, pengungsi lain yang berada di lapangan


pun demikIan. Namun Nisa masih ketakutan, tangannya bergetar. Dhika menurunkan Nisa,


mendudukannya di tempat yang aman.

__ADS_1


“Tuan..” bibirnya gemetar


“iya kenapa” Dhika memegang


tangan Nisa


“takut.. Tuan aku takut…” Nisa


masih bergetar


“ada saya, saya jaga kamu disini”


Dhika masih menggenggam Nisa penuh khawatir


“Nisa mendekatkan badannya ke Dhika,


Dhika pun langsung memeluknya. Nisa menjadi lebih tenang. Nisa tidur entah


pingsan di pelukan Dhika.


Setelah 1 setengah jam, apartemen


masih gelap gulita. Tubuh Nisa sudah sangat lemas, badannya sedikit panas. Dhika


memutuskan untuk pergi ke hotel menghangatkan diri. Nisa masih dalam keadaan


tak sadarkan diri. sesampainya di hotel, Dhika memesan asal kamar. Setelah


mendapat kunci, Dhika langsung pergi ke kamar tersebut. Suasana kamar hening,


sepi, namun hangat. Ada 2 kasur sesuai yang Dhika pesan.


Oh shit, Nisa pingsan atau mati, dIa belum bangun juga.


 Dhika melihat Nisa dengan kasihan. Rambutnya


basah, sekujur tubuhnyapun basah.


“tu.. Tuan…” lirih Nisa tersadar


“di..dingin..”


Dengan cepat Dhika mendudukan Nisa


di kursi, Ia segera menyIapkan air hangat untuk berendam. Setelah itu Ia


membawa Nisa ke kamar mandi. Dhika memasukan Nisa ke bathub dengan keadaan baju


masih utuh. Namun Nisa melirih lagi


“dingin..” Ia terlihat begitu kedinginan.


Wajahnya pucat, bahkan warna bibirnya memutih


Dhika memutar otak, Ia kasihan


sekali dengan Nisa. Namun Ia tidak enak bila harus melepas bajunya dan


mengganti bajunya”


“Nisa,..” ucap dhika ragu.


“Tuan.. tolong” lirih Nisa sambil


memegang tangan Dhika


Dhika pun tanpa berpikir panjang


membuka satu persatu baju Nisa, Ia merasa ada yg tegang di bawah sana akibat


melihat wanita polos tanpa baju, itu sesuatu yang normal bagi pria. Ia tetap

__ADS_1


focus untuk menyelamatkan Nisa, toh mereka pasangan suami istri yang halal.


Sekarang Nisa sudah tidak


menggunakan sehelai kain pun di tubuhnya. Tangan Nisa Kembali memegang tangan Dhika.


Rasa takut masih menyelimuti relung Nisa. Nisa Kembali mendekatkan tubuhnya ke


tubuh Dhika, dengan otomatis, Dhika memeluk Nisa


“hangat..” lirih Nisa


“iya, sudah tidak apa-apa,


tenang”


Nisa tidak melepaskan pelukan Dhika.


Nisa merasakan kenyamanan berada di pelukan Dhika. Dhika pun merasa lega Nisa


sudah tidak kenapa2.


Dhika pun keluar sebentar mencari


handuk dan handuk kimono yang disedIakan hotel. Dhika mengeluarkan Nisa dari


bathub, mengelap seluruh tubuh Nisa dan memberinya handuk kimono. Dhika pun


menggendong Nisa ke Kasur, dan menyelimutinya. Tarlupa akan baju Dhika yang


basah kuyup juga, Dhika segera bersIap berendam air hangat, namun belum Dhika


pergi Nisa menarik tangan Dhika


“jangan tinggalin aku ma.. mama… Nisa


takut”


“sstt, ada saya disini, kamu aman”


kata dika sambil menepuk nepuk lembut bahu nisa


“mama… Nisa takut”


“Dhika pun memeluk Nisa Kembali,


setelah Nisa tenang, dhika bergegas membersihkan badnanya dan memakai handuk


kimono yang disedIakan. Entah apa yang ada di pikiran Dhika, Ia dengan


kemauannya menaiki ranjang yang sama dengan Nisa, Nisa menyadari itu, Ia


langsung memeluk Dhika erat. Menenggelamkan kepalanya di dada bidang Dhika. Kasur


kecil itu bIasanya hanya muat untuk 1 orang. Dhika berusaha menahan nafsunya


dan focus menenangkan Nisa, walaupun juniornya sudah tidak bisa dikendalikan.


“Tuan, jangan pergi”


“saya tidak kemana2, di samping


kamu” kata Dhika dengan hangat sambil mengeus halus rambut Nisa.


Tanpa disengaja handuk kimono Nisa


melorot, hingga menampakkan belahan dada Nisa. Nisa yang selama ini menggunakan


dress longgar tidak disangka memiliki tubuh yang memuaskan Hasrat Dhika.


Terlihat dua gunung kesukaan para lelaki di bawah handuk kimononya itu.  Dhika menahannya Kembali dan berusaha untuk

__ADS_1


tidur, namun tidak bisa. Ia menahan hasratnya sampai pagi.


--


__ADS_2