Suamiku Gila Kerja

Suamiku Gila Kerja
Episode 20


__ADS_3

Setelah itu Ia menjalankan mobilnya ke kantor Dhika. Ia langsung menuju bagIan resepsionis untuk meminta izin masuk ke ruangan Dhika. Nisa dipersilahkan menunggu di lobi seperti bIasanya.


Terlihat max sedang membawa makanan sIap saji berjalan kearah Nisa.


“halo bu, masih ingat saya” kata max tersenyum pada Nisa. Max terpana melihat rambut Nisa yang berbeda. Rambut yang diikat setengah membuatnya terlihat seperti seorang putri. Cantik sekali.


“ha..halo” ucap Nisa. Ia sedikit canggung karena max lah saksi bisu “kemesraan” Nisa dan Dhika di mobil. max


juga lelaki yang sudah melihat Nisa mengangis karena dipermalukan


“ibu mau bertemu Pak Dhika? Mari saya antar. Tidak usah menunggu disini. Ibu kan istriya.” Ajak max pada Nisa. Nisa pun berdiri berjalan disamping max. Ia berjalan melalui resepsionis yang tadi. Mbak2 penjaga resepsionis penasaran sIapa sosok Nisa itu. Pasalnya sudah 2 kali dIa bertemulangsung dengan presidir. Kali ini bahkan max mengantarnya.


Di lift, Nisa mengutarakan alasan Ia tidak dapat langsung ke pergi ke ruangan Dhika.


“um, tan sekretaris, aku tidak bisa mengatakannya pada resepsionis. DIa mengenalkanku pada orang lain sebagai


sepupu” ucap Nisa pelan


“apa? Sepeupu?” max terheran. Gila, cakep gini Cuma dIanggep sepupu. Buat saya aja bos.


“i.. iya. Dan aku tidak mau dipanggil ibu. Aku masih 21 tahun” ucap Nisa mali malu


“ah, maaf. Ini karena kebIasaanku memanggil pa Dhika dengan sebutan pak. Baiklah aku akan memanggilmu non Nisa. Hehe” ucapnya manis. Namun dalam hatinya max sangat iri dengan bosnya. Bos


dapet daun muda cantik, putih, wangi, mulus. Menang banyak ni si bos.


“non? Panggil nama juga tidak apa apa”


Gilaa polos banget istri bos. Gue bisa di hajar kalo manggil dIa nama. Kemarin aja si bos meluk meluk non Nisa.


Udah jelas si bos ciinta mati.” ujarnya dalam hati gemas


“manggil nama tidak mungkin non. Baiklah, kita sudah sampai. Saya tinggal dulu ya non Nisa. Saya


lapar hehe, belum makan sIang.” Ucapnya santai sambil menggoyang2kan makanan yang dipegangnya.


“baik, terimakasih Tuan sekretaris”


Max pun pamit undur diri Kembali ke ruangannya.


Nisa mengetuk pintu presidir dengan gugup. Ia takut mengganggu pekerjaan Dhika.


Tok..tok..


“masuk” titah Dhika


Nisa membuka gagang pintu dengan perlahan. Ia melihat Dhika sibuk dengan laptopnya. Dhika terlihat focus sekali.


“mas, sudah makan?”


“belum”


“aku bawa makanan, mas makan dulu ya”


Dhika senang mendengar Nisa yang perhatIan. Namun jika Dhika sedang bekerja, Ia benci di ganggu. Sampai saat


ini, Nisa belum menjadi prioritasnya. Ia harus ekstra kerja untuk membesarkan lagi nama perusahaannya walaupun sekarang nama perusahaan Dhika sudah terkenal di seluruh IndonesIa.


“kau tidak lihat aku sedang sibuk?” kata Dhika dingin


Nisa sedikit kecewa dengan jawaban Dhika. Iapun duduk di sofa ruangan Dhika. Nisa akhirnya menyimpan makanan di atas meja yang ada dihadapannya.

__ADS_1


Satu jam lebih berlalu. Nisa pun melihat Kembali kea rah Dhika. Ia masih focus pada pekerjaannya. Nisa khawatir


pad Dhika. Ia takut Dhika Kembali sakit. Pasalnya Ia baru pulang perjalanan ke luar negeri dan belum istirahat dengan cukup.


Nisa memberanikan diri menghampiri Dhika di meja kerjanya Dhika, rasa takut dimarahi Dhika sebenarnya


ada, namun Nisa lebih takut jika Dhika akan sakit semakin parah.


Nisa sudah berada di dekat Dhika, Dhika belum mempedulikannya. Ia masih mengetik beberapa dokumen penting. Nisa merasa dIabaikan langsung menyentuh pipi Dhika. Pipi kiri lalu pipi kanan. Nisa juga menyentuh hahi Dhika. Ia melakukannya untuk memastikan dIa masih demam atau tidak. Sampai akhirnya Dhika menghentikan pekerjaannya.


“mas.. mas harus makan sIang, badan mas masih hangat. Mas harus tetap sehat agar bisa bekerja keras seperti


ini” Nisa masih memegang pipi Dhika


“kau tidak lihat aku sibuk, Nisa aksani damar?” Dhika mengambil tangan Nisa yang masih mendarat di pipinya. Ia


menjauhkan tangan Nisa dari wajahnya


“iya tapi mas harus makan”


“aku tidak suka diganggu saat aku bekerja” Ia Kembali memalingkan wajah kea rah laptop


“mas…” Nisa khawatir. Tapi ekspresi Nisa sangat imut. Dhika tak kuat menahannya. Dhika pun menyerah


“kau suapi aku. Dan jangan ganggu pekerjaanku”


Apa? Suapi? Tapi aku membawa masakan sunda, ah akua da ide, aku berikan spagettiku saja. Tapi, aku juga


ingin makan spaghetti." Tangis Nisa dalam hati


“cepat atau aku berubah fikiran” kata Dhika singkat


“aku tidak mau itu. Tadi aku mencium ada bau masakan sunda. Itu lebih enak” protes Dhika


“ta tapi mas minta di suapin kan” Nisa malu


“iya cepat atau tidak sama sekali”


Nisa pun dengan cepat mengganti menu tersebut. Ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangannya bersih, karena Ia tau makanan sunda dimakan menggunakan tangan. Nisa Kembali mendekat kea rah Dhika.


Ia pun membuka makanannya. Wangi khas masakan sunda membuat Dhika semakin lapar.


“mas ini.. aa…” kata Nisa menyuruh Dhika membuka mulutnya, Dhika pun memakan nya. Nisa malu sekali karena


tangannya menyentuh mutut Dhika.


Dhika masih bekerja, Nisa tidak ingin mengganggunya. Namun lama2 Nisa pegal harus menyuapi suaminya dengan berdiri. Ia memutar2 kaki agar tidak pegal. Dhika menyadari hal itu.


“duduklah” titah Dhika


“tidak ada kursi mas, aku tidak kuat membawa sofa2 besar itu.”


“duduklah” titah Dhika sambil menepuk2 pahanya. Ia menyuruh Nisa untuk duduk di pangkuannya.


“Tapi mas..”


Dhika langsung meraih pinggang Nisa. Nisa pu terjatuh di pangkuan Dhika. Wajah Nisa yang merah merona terlihat jelas karena rambutnya yang diikat setengah tak kuasa menahan malu. Dadanya berpacu seperti Ia habis berolah raga lari keliling monas.


“mas aku berat.. aku berdiri saja” Dhika menahan pnggang Nisa. Seolah tidak mengiyakan keinginan Nisa tersebut


“lanjutkan” titah Dhika untuk melanjutkan makan sIangnya

__ADS_1


Karena susah mengoperasikan lapotop, Dhika mengambil ipadnya dan Kembali membaca sesuatu yang tidak


dimengerti Nisa. Nisa hanya pasrah menyuapi Dhika sampai makanannya habis.


Setelah makanan habis Nisa memberikan Dhika minum dan mengelap mulut Dhika dengan tisu. Nisa meminta izin


untuk turun dari pangkuan Dhika namun Dhika tidak mengiyakannya.


“mas aku pingin cuci tangan”


Dhika yang merasa Nisa terlalu banyak bicara segera mengambil tangan Nisa yang penuh nasi. Dhika menjilat satu


persatu jari Nisa sampai tidak ada sisa makanan.


Nisa geli dan merinding. Entah apa yang ada dipikiran Dhika pikirnya. Namun Nisa hanya bisa dIam menurut.


Sesekali Dhika mengendus leher Nisa. Dhika penasaran mengapa wanita kecilnya wangi sekali. Dhika merasa nyaman ada Nisa di dekatnya. Dhika pun menyenderkan dagunya di bahu Nisa.


Karena pegal, satu tangan Nisa merangkul belakang pinggang Dhika. Nisa juga merasakan kenyamanan yang sama berada sedekat itu dengan Dhika.


Tapi, Tak lama kemudIan max memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu. Nisa kaget dan Ia spontan turun dari


pangkuan Dhika


“max, kau lupa sopan santun?” ucap Dhika dengan nada rendah. Terlihat aura kesal dalam dirinya.


“anu.. maaf pak, ini ada wanita yang mencari bapak. Ia memaksa dan Ia sudah sampai disi……”


“saying kenapa aku gaboleh masuk. Yang benar saja. Pelayanan kantormu sangat tidak bertatakrama pada pacar


presidir”


dIa adalah asya. Pacar Dhika saat ini walaupun tidak pernah dIanggap. Asya melihat keberadaan Nisa disamping Dhika. Membuat asya kesal sepertinya Nisa dIanggap specIal oleh Dhika


“mau apa kau kemari”


“saying aku mau bicara serius” aysa menggandeng tangan Dhika dan sesekali memeluk nya


Dhika langsung mematikan laptop dan ipadnya. Ia ingin menggandeng asya keluar agar tidak terjadi kericuhan di


kantornya, Dhika sangat mengetahui karakter asya yang keras kepala. Asya senang Dhika meninggalkan pekerjaan untuknya. Asyapun semakin memeluk Dhika mesra.


“saying kita mau kemana?” tanya asya mesra


“suatu tempat yang sepi. Hanya ada kau dan saya” (padahal tujuannya agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka)


“ah sayang sudah lama ga ketemu makin romantic” kata asya menggelIat di dada Dhika.


“kau tunggu disini” titah Dhika kepada Nisa. Nisa hanya menunduk tanpa mengiyakan. Dhikapun keluar Bersama


asya. Disisi lain max hanya menatap bengong kelakuan bosnya yang bIadab. Beraninya dIa menduakan non Nisa cantik seperti putri bidadari dengan tante girang kaya gitu. Umpat max dalam hati.


Nisa ditinggal sendiri di ruangan besar itu. Sesekali Ia melihat ke arah jendela transparan melihat langit


berawan.


Hatinya terluka, bukan karena salah Dhika, Ia menyalahkan dirinya sendiri yang terlanjur berharap.


Aku takut perasaan akan keberanIanku dalam menunggu mu perlahan menghilang. Aku tidak percaya diri. aku


takut akan arti “pantas”. Karena sebenarnya aku sedang berusaha menjadi lebih baik untukmu, Mas Radhika.

__ADS_1


__ADS_2