Suamiku Gila Kerja

Suamiku Gila Kerja
Episode 18


__ADS_3

Dhika menjalani sisa harinya di AustralIa dengan sangat ekstra. Baginya satu hari adalah 28 jam, bukan 24 jam.


Sekeras itu Ia berjuang. Ia sadar bahwa orang Tuanya tidak akan membantu masa depannya. Tidak ada gunanya berharap. Dhika memang memulai perusahaannya dari nol. Tanpa banTuan sIapapun. Karenanya Ia sudah terbIasa banting tulang berjuang. Dhika memang tipe laki laki pekerja keras, karenanya dIa tidak mengenal dunIa percintaan, yah.. walaupun dIa punya asya, wanita yang tidak pernah dIa sentuh.


Malam itu, Dhika sedikit demam. Namun Dhika harus kuat untuk melanjutkan perjalanan ke Jepang besok. Terlalu


Lelah, Dhika pun tertidur lelap. Terlalu lelap hingga Ia bangun kesIangan, bahkan ketinggalan jadwal pesawat.


“oh shit! KesIangan gue…. Uhuk uhuk..” memaki dirinya sendiri sampai terbatuk


“gila, sudah terlambat begini bagaimana aku punya muka di depan professor Atsushi”


Dhika pun mencoba menghubungi professor nya vIa email. Namun sudah satu jam Ia tak kunjung dapat balasan. Ia


pun memberanikan diri untuk meminta maaf vIa telpon.


“halo, professor. It’s me Radhika, you student year 2010”


“ah yes, my favorite student. What makes you call me?”


“ah, I want to apologize I won’t be on time for our meeting today. I am still in Sydney.”


“oh, no worries, you don’t have to come today! Next week I will go to IndonesIa. Let us just meet there, in


Bogor. I want to see your big company as well”


“really, so happy to hear that. My company is not that big, professor. But i apprecIate your coming”


“ok, see u in Indonesia”


“yes professor”


Fyuh.. Dhika bernafas lega. Ia tak harus pergi ke jepang. Spontan Dhika menelpon Max untuk mempersIapkan


penerbangan ke IndonesIa hari itu juga. Ia ingin peerbangan tercepat. Ia sudah tidak kuat udara dingin musim salju yang menusuk ke tulang2 nya.


--


Malam itu, max sudah berada di bandara untuk menjemput Dhika. Ia mengenakan pakaIan semi santai sehingga max dan Dhika terlihat seperti kakak beradik.


“selamat malam pak! Mari saya antar pulang” kata max dengan senang hati sambil membawa koper-koper Dhika.


“ya, kita ke rumah Tuan Abimanyu”


“baik, bolehkah saya bertanya untuk apa Tuan pergi ke sana? Apakah maslah bisnis dengan AG group belum


selesai pak?”


“tidak, saya mau menjemput istriku”


“hah? Istri! Bapa sudah beristri? Sejak kapan?” tanya max dengan antusIas


“sekitar 9 bulan lalu. Sudah jangan banyak bertanya.” Ucapnya keras


“baik pa” jawab max murung, Ia menekukkan bibirnya ke bawah seperti anak kecil.


--


Saat ini di rumah Tuan Abimanyu, kebetulan suasana sedang tegang. Helen yang Nisa tau adalah pembuli Nisa di


kampus berada di rumahnya. Ia bertanya2 apakah dIa senekat itu datang ke rumahnya. Bahkan ada banyak pengawalan ketat sebelum masuk rumahnya. Rumah Nisa memiliki bayak sekuriti, tidak mungkin orang asing lolos dari penjagaannya


“ngapain lo disini anak gila?”


“maksud lo apa?”


“lo mau ngelonte ke anak2nya Tuan Abimanyu? Murahan banget lo”


“jaga omongan lo helen, disini banyak pejaga”


“heh gue ga takut, Mama gue yg berkuasa disini. Emang nya lo, gapunya mama.udah murahan, pIatu pula” kata


helen mengintimidasi

__ADS_1


“helen apa yang kau lakukan!” terIak Bella, ibu tiri Nisa


“ini ma, si ****** murahan gapernah jera dIa ngedeketin cowo kaya, di kampus juga gitu ma, emang gapunya otak ini” ucapnya menggebu-gebu.


“helen! Jaga ucapanmu, banyak penjaga disini!”


“tidak ma, sudah ku perintahkan untuk pergi dari ruang ini semua”


“begitukah?”


“iya ma”


“huh! Memang nak, anak ini gaada otak, ngomong selalu seenaknya, pernikahan ku dulu hampir batal karenanya!


Memang menyusahkan”


“betulkah begitu? Kurang ajar!” helen mendaratkan tamparan keras di wajah polos Nisa


“bagus nak, anak ini semakin tertekan, akan semakin gila. Kita lihat saja, sebelum Ia menangis keras aku


akan coba tampar juga” “PLAKK” tamparan keras melayang di pipi sebelahnya.


Nisa tetap terdIam. Menundukkan wajahnya. Ia memang harus mengontrol emosinya. Ia ingin hasil berobatnya ke


psikeater selama 8 bulan terakhir  tidak sIa-sIa. Wajah merahnya tertutup rambut panjangnya. Belum puas sampai Nisa menangis, helen mencoba memukul Nisa lagi. Namun kali ini helen memegang dagu Nisa. Ia berbicara keras di depan muka Nisa, mengatai Nisa yang murahan dan tidak memiliki ibu. Saat helen akan mendaratkan tamparan yang kedua..


seolah memecah suasana tegang, Dika datang dengan aksi heroiknya, namun tak dapat dipungkiri dika datang terlambat.


“hentikan!” Dhika berbicara cukup kencang. Tak disangka sIapa yang datang, seolah pahlawan yang datang kesIangan. Max yang melihat pemangdangan suram itu hanya bisa terdIam di belakang Dhika.


Dhika menghampiri Nisa, melihat muka Nisa yang kemerahan. Ada bekas tangan masih terlihat jelas di kulit


putihnya Nisa. Darah dalam diri Dhika mendidih, ingin rasanya Ia membunuh kedua pembuli yang tidak Ia ketahui sIapa ini.


“Tuan, anda jangan membela wanita murahan ini. Ia menjual dirinya ke segala lelaki tampan dan kaya. Tuan begitu


tampan, Nisa pasti mendekatimu” ejek helen


Tanpa di duga Dhika malah memeluk Nisa lembut


Nisa tak kuasa menahan tangisnya saat Dhika datang, membalas peluka Dhika hangat.


Helen terbelalak dengan pemandangan di depannya


“tuh kan Tuan, Ia memang murahan! Sudah berani dIa memeluk anda!”


“bocah, hentikan omong kosongmu itu. Asal kau tahu, Nisa adalah putri satu satunya keluarga ini. Sedangkan kau


sIapa? Bocah ingusan dengan dandanan menor. Eh maaf, apakah aku harus panggil kau tante? Kau mirip tante tante.”


“apa! DIa anak sIapa?” kaget helen


“sayang, sudah nak jangan diteruskan. Nanti malah kita yang diusir. Kita hentikan hari ini” ucap Bella


sedikit ketakutan


“hahaha! Dasar para penjilat! Sekali lagi kau menyentuh wanitaku, kalIan kubunuh” ucap Dhika tegas memandangi


mereka dengan tajam. ereka pun meninggalkan rumah abimanyu.


--


Di mobil, Nisa dan Dhika duduk di bangku belakang. Max merasakan suasana canggung Ia hanya bisa memandangi jalanan. Nisa masih menempel di bahu Dhika. Masih sedikit menangis. Dhika mengelus Pundak Nisa lembut, menenangkan Nisa


“kenapa mereka seperti itu?”


Nisa hanya menggelengkan kepalanya. Sekarang kepalanya menempel di dada bidang Dhika. Ia merasa sangat


terlindungi dengan adanya Dhika. Karena Ia baru mendapatkan kejadIan dengan scenario paling buruk. Helen adalah saudara tirinya. Dari 4 tahun yang lalu, helen tidak pernah muncul di hadapan keluarga Abimanyu. Mana bisa Nisa hidup di rumah itu, yang ada dIa mati sekarat dipukuli duo macan itu.


“menangislah, kau tidak menyedihkan. Mereka yang menyedihkan. Tenangkan dirimu. Ada aku disini, kau


sudah aman” ucap Dhika sambil mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Max yang mendengar dari bangku supir merasa terharu sekaligus sedih dan kaget. Bosnya tidak pernah bersikap


lembut seperti itu. Namun Ia juga sedih melihat Nisa yang menangis sesegukan. Ia menekkukan mulutnya ke bawah sambil mengemuDikan mobil di kecepatan sedang.


Sesampainya di apartemen, Dhika menyuruh max untuk pulang. Sedangkan Dhika menggendong Nisa melewati lift seperti pasangan suami istri yan baru melaksanakan pernikahan.  Nisa hanya pasrah dibawa Dhika, Ia sudah Lelah


dengan hari ini.


Tiba di kamar, Dhika mendudukan Nisa di ujung Kasur. Ia segera pergi mencari kotak p3k untuk mengobati pipi Nisa yang lebam-lebam. Dhika membuka jas dan dasi kerjanya, segera mengobati Nisa.


“bIar aku obati”


“aku sangat menyedihkan” Nisa kembai menangis sedih


“sudah, jangan dipikirkan. Kau punya aku” Dhika memeluk Nisa dan mengelus lembut rambut Nisa.


“sekarang bIar aku obati, kau dIam saja”


Dhika mulai mengambil salep. Namun wajah Nisa masih tertutup rambut. Dhika menyingkirkan rambut tersebut ke


belakang teinga Nisa dengan lembut dan hati hati. Merah sekali. Sekeras apa mereka memukulnya tadi. Dhika menahan emosinya dan mulai mengobati Nisa.


Nisa menghindari kontak mata dengan Dhika. Ia sangat malu. Yang pertama Ia tidak tahu bahwa uaminya pulang


hari ini. Yang kedua Ia merasa merepotkan Dhika. Yang ketiga, selama di perjalanan, Nisa nangis di pelukan Dhika. DIa banyak berspekulasi di otaknya. Bagamana jika Dhika terganggu akan sikapnya yang tidak bisa mengontrol emosi itu.


“aw.. sakit mas” Nisa kesakitan


“tahan” singkat Dhika


“aahh! Sakit mas! Sudah tidak usah diobati” rengek Nisa seperti anak kecil


“sedikit lagi Nisa Aksani Damar, mas juga tahu ini sakit” kata Dhika sambil tersenyum.


“selesai, apa kau punya ikat rambut?” tanya Dhika


Nisa menyerahkan tangannya ke Dhika, mengisyaratkan bahwa ikat rambut yg Ia bawa ada di pergelangan tangan Nisa. Dhika mengerti dan mengambil ikat rambut itu.


Berbaliklah, aku ikat rambutmu. Rambutmu mengganggu jika nanti sampai tertempel di salep”


Nisa menurut Ia membalikkan badannya. Dhika mulai mengikat rambut Nisa. Nisa yang saat itu menggunakan baju


model sabrina longgar tidak sengaja menampakkan SebagIan punggung mulusnya itu. Dhika juga melihat ada tali surge di Pundak Nisa, membuat Dhika menelan ludah berkali kali saat mengikat rambut Nisa.


“selesai, kau beristirahatlah. Aku akan membersihkan diriku”


Dhika berdiri dan akan pergi meninggalkan Nisa. Saat itu Nisa langsung menggapai tangan Dhika.


“ada apa?”


Nisa menunduk malu, ragu untuk mengatakannya.


“ada apa? Tanya Dhika Kembali


“mas, terimakasih untuk hari ini. Aku terus diselamatkan oleh mu. Aku bersyukur kau selalu ada untukku.


Terimakasih, Mas Dhika”


Nisa mengatakannya dengan pelan dan ragu. Terlihat raut wajah yang malu-malu. Bahkan Ia tidak menatap mata Dhika.


Dhika kehilangan akal melihat keimutan wanitanya itu. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Nisa. Dengan pelahan


tangan Dhika memegang dagu Nisa dengan hangat. Jarak bibir mereka tinggal 5 cm. Nisa yang terbawa suasana sudah memejamkan matanya.


Saat itu Dhika tersadar bahwa Ia sedang flu. Tidak mungkin Ia mencium bibirnya. Ia akan menyebarkan virus


penyakit pikirnya. Dan akan menjadi canggung jika Ia mengecup pipi atau kening Nisa yang penuh salep.


Dhika menarik diri tanpa mencium Nisa. Dhika melihat Nisa yang sudah memejamkan mata dengan tegang. Ia terlalu imut untuk Dhika. Dan Dhika tertawa kecil, puas dengan apa yang Ia lihat.


“hei bukalah matamu, untuk apa kau memejamkan mata” kata Dhika


Nisa yang sudah sIap menerima kecupan mengeuarkan nafas lega. Ia mengira sesuatu besar akan terjadi di malam

__ADS_1


itu. Dhika berjalan menjauhi Nisa dan pergi ke kamar mandi. Ia membersihkan diri dengan berendam lama, tak lupa bermain dengan sabun sabunnya untuk melepaskan Hasrat laki laki yang tertunda kesekIan kalinya.


__ADS_2