Suamiku Gila Kerja

Suamiku Gila Kerja
Episode 7


__ADS_3

Pukul 14.00, watu jam makan siang


sudah lewat, namun Dhika belum sempat mengisi perutnya, Ia membuka aplikasi layanan


pesan antar lagi untuk makan sIagnya. Dan melanjutkan kerjaan yang masih


segudang.


Ia mengecek email, laporan


karyawan, presentase keuangan perusahaan, hingga trend ekonomi dunIa saat ini. Ia


benar benar sibuk sampai lupa waktu. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul


20.00 iya berencana menginap di kantor lagi, namun Ia lupa bahwa baju cadangan


di kantor sudah habis. Maklum, Ia belum terbIasa dengan kondisi seperti ini. Ia


pun memutuskan untuk pulang ke rumah.


Sampai dirumah Ia langsung


mengetikkan pasword pintu apartemen dan masuk. Ia melihat Nisa sedag menonton


tv. Nisa sadar dan terkaget bahwa Dhika tiba2 muncul di hadapannya.


“s.. selamat datang Tuan” ucap Nisa


gugup


Aku lupa sekarang satu rumah dengan seorang prIa


Dhika tidak menggubris Nisa, Ia langsung menuju kamar dan membersihkan diri. Setelah Ia membersihkan diri Ia pergi ke ruang tv, tempat dimana Nisa sedang berada.


“hei, ada yang harus aku sampaikan”


“baik Tuan” Ia langsung mematikan tv dan mendengarkan Dhika


“saya akan pergi perjalanan dinas


ke luar negeri. Waktunya cukup lama, 8 bulan. Mungkin hanya beberapa kali aku


pulang ke Indonesia. Aku berencana memulangkanmu sementara ke rumah Tuan Abimanyu”


ucap Dhika jelas


Nisa sontak mendengar hal


tersebut, dengan cepat respons Nisa berterIak


“TIDAK! AKU TIDAK MAU PULANG!” Nisa


membentak Dhika marah


Dhika mengambil dagu Nisa,


memegangnya keras “HEI, kau sadarlah diri! Apa maksudnya kau membentakku!”


Nisa seketika tersadar dan mulai menangis, Ia tidak menangis sesegukan, melainkan Ia menangis karena Lelah


dengan sikapnya yang tidak bisa Ia kendalikan


“hu..hu..hu.. aku tidak mau pulang……” rengeknya keras


“ma.. maaf Tuan” lagi-lagi cairan bening keluar dari matanya, Ia benar benar menyesal telah membentak Dhika.


Dhika benar benar heran dengan tingkah Nisa yang berubah drastic, 180 derajat. Namun, seperti bIasa Dhika lebih memilih menghiraukannya.


Kali ini ada yang berbeda. Ia menangis sungguhan. Dhika merasakan kesedihan di raut muka Nisa. Ia mulai tidak tega. Ia menurunkan nada bicaranya


“yausdah kalau kau tidak mau pulang. Saya hanya membeikan masukan, karena kau akan bosan 8 bulan di apatemen kecil begini.”

__ADS_1


Nisa menggeleng cepat, “tidak!


Lebih baik disini!”


Di rumah aku akan lebih tersiksa. Guman Nisa


“tapi saya akan memberitahu


keluargamu juga. Itu adalah keharusan.”


“ba.. baiklah” Nisa menunduk lagi


“apa yang kau butuhkan?”


“a.. aku tidak memegang uang sama


sekali Tuan”


Dhika bingung. DIa anak perepuan


satu satunya dari pengusaha kaya raya, bagaimana bisa dIa tidak membawa uang.


“yasudah, pakai kartuku. Ingat


kau harus berhemat. Kau tau perusahaanku sedang memulai Kembali, jangan


dihambur2”


“baik Tuan, saya tidak akan


menghamburkan uang, itu pasti” tegas Nisa


Masa sih, anak sultan kaya


gini bisa hemat. Tapi yasudahlah, terserah dIa. ucap dhika dalam hati


“berapa nomor ponsel mu? Aku akan


“aku tidak punya ponsel Tuan”


“yang benar saja? Kau benar anak


perempuan satu2nya AD Group kan? Apa kau se sengsara itu?”


Nisa hanya dIam dan menunduk.


“Yasudah, besok kau datang ke


kantorku sIang hari. Pakai saja taksi online aku tidak bisa menjemputmu.”


“baik Tuan terimakasih”


“apa lagi yang mau kau


bicarakan?”


“aku masih kuliah Tuan, aku masuk


hari rabu dan jumat, apakah aku bisa pergi menggunakan mobilku yang di rumah Tuan?”


“oh ya kau masih 21 tahun.


Sebenarnya aku tidak peduli kau mau pake taksi online atau ojek sekalipun, tapi


kau anak AG GROUP, dan keluarga kita tahu bahwa kita menikah secara hukum dan


agama”


Nisa masih terdIam, dIa sedikit


canggung saat Dhika mengatakan bahwa mereka sudah menikah

__ADS_1


“ekhm, kalau hanya rabu dan


jumat, kau bisa bawa mobilmu itu.”


“baik Tuan terimakasih”


“Ada lagi?”


“um.. apakah disini tidak ada


pelayan tuan?”


“tidak ada. Saya tidak butuh


pelayan. Daripada mengeluh seperti tuan putri, lebih baik saya pulangkan kamu


ke rumah tuan abimanyu”


“tidak tuan, aku hanya bertanya. Aku


tidak ingin merepotkan”


“Baiklah, pergilah tidur, disini


tempat tiduku” menunjuk sofa besar itu


“baik Tuan” Nisa pun Kembali ke


kamar dan segera tidur.


Keesokan harinya seperti bIasa, Nisa


menyiapkan sarapan, Dhika menyantapnya lalu pergi ke kantor tanpa bertegur sapa.


Nisa pun Kembali menjalankan aktivitasnya, beres2 rumah, dan melakukan senam kecil meniru tutorIal di depan TV.


Di kantor, seperti bIasa, Dhika disibukan oleh berbagai kerjaan.


Ketukan pintu seperti bIasa tanda Max masuk ke ruangan


“selamt pagi pak, saya meu


memberikan laporan. Setelah melihat kemajuan pesat perusahaan dan partisipasi


AG Group, ada banyak sekali perusahaan yang mengantri. Salah satunya perusahaan


professor Akimura Atsushi dari Japan Building Foundation Jepang.”


“akimura atsushi? BelIau mantan


dosen saya di Harvard dulu.”


“belIau menawarkan kerjasama juga


pak, apakah akan dIambil?”


“tentu, harus dIambil. Apapun


tawaran kita harus sIap bekerja keras”


“baik pa, akan saya aturkan


jadwal lebih 2 minggu pak, jadi total perjalanan 8 setengah bulan”


“baik, akan saya lakukan”


Mereka Kembali ke pekerjaannya


masing masing


--

__ADS_1


__ADS_2