
Pukul 14.00, watu jam makan siang
sudah lewat, namun Dhika belum sempat mengisi perutnya, Ia membuka aplikasi layanan
pesan antar lagi untuk makan sIagnya. Dan melanjutkan kerjaan yang masih
segudang.
Ia mengecek email, laporan
karyawan, presentase keuangan perusahaan, hingga trend ekonomi dunIa saat ini. Ia
benar benar sibuk sampai lupa waktu. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul
20.00 iya berencana menginap di kantor lagi, namun Ia lupa bahwa baju cadangan
di kantor sudah habis. Maklum, Ia belum terbIasa dengan kondisi seperti ini. Ia
pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sampai dirumah Ia langsung
mengetikkan pasword pintu apartemen dan masuk. Ia melihat Nisa sedag menonton
tv. Nisa sadar dan terkaget bahwa Dhika tiba2 muncul di hadapannya.
“s.. selamat datang Tuan” ucap Nisa
gugup
Aku lupa sekarang satu rumah dengan seorang prIa
Dhika tidak menggubris Nisa, Ia langsung menuju kamar dan membersihkan diri. Setelah Ia membersihkan diri Ia pergi ke ruang tv, tempat dimana Nisa sedang berada.
“hei, ada yang harus aku sampaikan”
“baik Tuan” Ia langsung mematikan tv dan mendengarkan Dhika
“saya akan pergi perjalanan dinas
ke luar negeri. Waktunya cukup lama, 8 bulan. Mungkin hanya beberapa kali aku
pulang ke Indonesia. Aku berencana memulangkanmu sementara ke rumah Tuan Abimanyu”
ucap Dhika jelas
Nisa sontak mendengar hal
tersebut, dengan cepat respons Nisa berterIak
“TIDAK! AKU TIDAK MAU PULANG!” Nisa
membentak Dhika marah
Dhika mengambil dagu Nisa,
memegangnya keras “HEI, kau sadarlah diri! Apa maksudnya kau membentakku!”
Nisa seketika tersadar dan mulai menangis, Ia tidak menangis sesegukan, melainkan Ia menangis karena Lelah
dengan sikapnya yang tidak bisa Ia kendalikan
“hu..hu..hu.. aku tidak mau pulang……” rengeknya keras
“ma.. maaf Tuan” lagi-lagi cairan bening keluar dari matanya, Ia benar benar menyesal telah membentak Dhika.
Dhika benar benar heran dengan tingkah Nisa yang berubah drastic, 180 derajat. Namun, seperti bIasa Dhika lebih memilih menghiraukannya.
Kali ini ada yang berbeda. Ia menangis sungguhan. Dhika merasakan kesedihan di raut muka Nisa. Ia mulai tidak tega. Ia menurunkan nada bicaranya
“yausdah kalau kau tidak mau pulang. Saya hanya membeikan masukan, karena kau akan bosan 8 bulan di apatemen kecil begini.”
__ADS_1
Nisa menggeleng cepat, “tidak!
Lebih baik disini!”
Di rumah aku akan lebih tersiksa. Guman Nisa
“tapi saya akan memberitahu
keluargamu juga. Itu adalah keharusan.”
“ba.. baiklah” Nisa menunduk lagi
“apa yang kau butuhkan?”
“a.. aku tidak memegang uang sama
sekali Tuan”
Dhika bingung. DIa anak perepuan
satu satunya dari pengusaha kaya raya, bagaimana bisa dIa tidak membawa uang.
“yasudah, pakai kartuku. Ingat
kau harus berhemat. Kau tau perusahaanku sedang memulai Kembali, jangan
dihambur2”
“baik Tuan, saya tidak akan
menghamburkan uang, itu pasti” tegas Nisa
Masa sih, anak sultan kaya
gini bisa hemat. Tapi yasudahlah, terserah dIa. ucap dhika dalam hati
“berapa nomor ponsel mu? Aku akan
“aku tidak punya ponsel Tuan”
“yang benar saja? Kau benar anak
perempuan satu2nya AD Group kan? Apa kau se sengsara itu?”
Nisa hanya dIam dan menunduk.
“Yasudah, besok kau datang ke
kantorku sIang hari. Pakai saja taksi online aku tidak bisa menjemputmu.”
“baik Tuan terimakasih”
“apa lagi yang mau kau
bicarakan?”
“aku masih kuliah Tuan, aku masuk
hari rabu dan jumat, apakah aku bisa pergi menggunakan mobilku yang di rumah Tuan?”
“oh ya kau masih 21 tahun.
Sebenarnya aku tidak peduli kau mau pake taksi online atau ojek sekalipun, tapi
kau anak AG GROUP, dan keluarga kita tahu bahwa kita menikah secara hukum dan
agama”
Nisa masih terdIam, dIa sedikit
canggung saat Dhika mengatakan bahwa mereka sudah menikah
__ADS_1
“ekhm, kalau hanya rabu dan
jumat, kau bisa bawa mobilmu itu.”
“baik Tuan terimakasih”
“Ada lagi?”
“um.. apakah disini tidak ada
pelayan tuan?”
“tidak ada. Saya tidak butuh
pelayan. Daripada mengeluh seperti tuan putri, lebih baik saya pulangkan kamu
ke rumah tuan abimanyu”
“tidak tuan, aku hanya bertanya. Aku
tidak ingin merepotkan”
“Baiklah, pergilah tidur, disini
tempat tiduku” menunjuk sofa besar itu
“baik Tuan” Nisa pun Kembali ke
kamar dan segera tidur.
Keesokan harinya seperti bIasa, Nisa
menyiapkan sarapan, Dhika menyantapnya lalu pergi ke kantor tanpa bertegur sapa.
Nisa pun Kembali menjalankan aktivitasnya, beres2 rumah, dan melakukan senam kecil meniru tutorIal di depan TV.
Di kantor, seperti bIasa, Dhika disibukan oleh berbagai kerjaan.
Ketukan pintu seperti bIasa tanda Max masuk ke ruangan
“selamt pagi pak, saya meu
memberikan laporan. Setelah melihat kemajuan pesat perusahaan dan partisipasi
AG Group, ada banyak sekali perusahaan yang mengantri. Salah satunya perusahaan
professor Akimura Atsushi dari Japan Building Foundation Jepang.”
“akimura atsushi? BelIau mantan
dosen saya di Harvard dulu.”
“belIau menawarkan kerjasama juga
pak, apakah akan dIambil?”
“tentu, harus dIambil. Apapun
tawaran kita harus sIap bekerja keras”
“baik pa, akan saya aturkan
jadwal lebih 2 minggu pak, jadi total perjalanan 8 setengah bulan”
“baik, akan saya lakukan”
Mereka Kembali ke pekerjaannya
masing masing
--
__ADS_1