
Setelah lewat beberapa waktu, Dhika Kembali ke ruangannya. Ia tidak sadar waktu dan terus bekerja, melakukan kontrak Kerjasama Bersama beberapa perusahaan lain yang tertarik saat berita AG GROUP berkontribusi pada proyek Dhika selanjutnya.
Waktu sudah menunjukan pukul 16.00 dan Dhika belum makan apapun. Ia terus bekerja sampai lemas. Dhika melanjutkan kerjanya seperti orang kesurupan tanpa istirahat. Ia memang berencana menghabiskan malam di kantor, mengingat di rumah ada Nisa istrinya yang tidak Ia cintai. Kebetulan besok adalah week end, jadi Ia habiskan waktu untuk bekerja hingga Ia tertidur di meja kerja nya.
Pagi harinya Ia bangun dan membersihkan diri di kama mandi di ruanagnnya dan pulang ke apartemen.
--
Sampai di apartemen, Dhika langsung membuka pintu, Ia terkaget ada Nisa di ruang tamu sedang duduk dengan tatapan kosong. Dhika mencoba mendekatinya, menggerak2an tangannya di depan mata Nisa, melihat Nisa tersadar atau tidak. Namun, Nisa tiba2 tertawa keras
“HAHAHA” Nisa tertawa menggelegar
“ASTAGFIRULLAHALADZIM” Dhika
kaget (wkwk)
“ha.. ha.. hu.. hu.. hueee” Nisa
tiba2 menangis tersedu sedu
Dhika ketakutan sampai Ia berdiri
di daun pintu memeluk pintu, takut Nisa kesurupan. Tidak lupa baca2 ayat quran
yang Ia hafal.
Setelah sekitar 5 menit, Nisa tersadar dan langsung lari ke kamar Dhika. Ia mengunci kamar Dhika dari dalam.Ia
sangat malu akan kelakuannya tadi.
Di sisi lain, Dhika masih mematung di daun pintu apartemnnya, tidak percaya dengan apa yg terjadi. Ia
mencoba menenangkan diri dan menuju ke kamarnya. Dhika mecoba membuka pintu tapi
“cklek, cklek, ko gabisa kebuka?
Hei jangan dikunci dari dalam!” Dhika kesal
“ma.. maaf..” lirih Nisa
“cepatlah!” titah Dhika
Nisa membuka pintu perlahan.
“hei, kau kesurupan tadi?”
Nisa dIam.. lalu Ia menggeleng
“yasudah, awas, saya lelah, saya
mau rebahan di kamar.”
Nisa dengan otomatis keluar kamar
Dhika.
__ADS_1
Sudah 5 jam Dhika di kamar. Sekarang sudah pukul 17.00 tapi Dhika belum makan dan mengerjakan apapun. Nisa
sedari tadi sudah memasak telur dadar yang ada di kulkas dan menunggu Dhika untuk makan Bersama. Nisa sudah sangat kelaparan, cacing2 di perutnya sudah merengek meminta makanan.
Tak lama kemudIan Dhika keluar kamar, Ia agak lemas dan sempoyongan. Ia tersadar Ia belum makan apapun dari kemarin. Ia merasa pusing dan hampir terjatuh, Nisa dengan cepat menghampiri Dhika, namun Dhika menepis banTuan Nisa.
Dhika melihat meja makanan ada 2 telur dadar dan nasi, Ia langsung menyantap kedua telur tersebut dengan lahap. Nisa yang sedari tadi menunggu untuk makan Bersama gagal untuk makan.
Kruuuuk… suara dari perut Nisa terdengar kencang. Nisa menutup perutnya malu. Bisa bisanya di depan laki2 es ini kamu bunyi perut. Telur yang sudah habis dimakan Dhika tidak bisa dikembalikan. Nisa cemberut melihat piring kosong itu. DIa sadar akan hal itu.
“hei, bersIaplah, kita makan diluar. Saya masih lapar” kata Dhika mencari alasan
Nisa langsung telihat senang dan langsung mengambil tas dan memakai cardigan nya. Dhika mengambil kunci mobil dan keluar dengan pakaIan santai. Dhika hanya menggunakan cela tidur Panjang dan kaos hitam.
Sampai di restoran all you can eat ternama di Jakarta, Nisa langsung memenuhi piringnya dengan daging dagingan
dan sayuran, dengan lahapnya Ia memakan semua itu. Dhika geleng2 kepala, wanita bertubuh kecil ini makan segini banyak.
“hei, kau makan sebanyak ini, kemana perginya makanan itu, kau tidak tinggi” Dhika mencoba memulai pembicaraan, namun Nisa masih focus makan. Setelah selesai makan, Nisa mengelap mulutnya dengan tisu dan mununggu arahan dari Dhika.
“apa yg mau kau katakana, katakanlah!” kata Dhika
“um.. persedIaan makan di rumah sudah kosong, kalau boleh saya ingin berbelanja beberapa bahan makanan Tuan” jawab Nisa pelan.
“kau bisa bicara lebih keras tidak sih? Yasudah, boleh.”
“terimakasih Tuan” Nisa menghumbuskan nafas Panjang.
Mereka pun pergi ke supermarket untuk memebeli bahan makanan.
--
Di sisi lain ada wanita yang memperhatikan Dhika. DIa adalah asya. Asya mendekati Dhika dengan sikap
posesif.
“sayang… kamu ngapain di sini” sambil menggandeng tangan Dhika
Sayang? Oh sepertinya dIa pacar Tuan Dhika
“belanja” jawab Dhika singkat
“kamu kemana ajasi gaada kabar banget, aku sedih kamu ga ngehubungin aku 2 minggu hikshiks” kata asya sambil
menempelkan kepanya di dada Dhika. Dhika tidak merespons
“dIa sIapa?” tanya Nisa tidak suka
Dhika melihat Nisa menundukan kepalanya sambil membawa troli besar.
“ponakan” jawab Dhika sambil menjauhkan kepala asya dari dadanya. Sebenarnya dika bisa saya
mengatakan nisa itu istrinya, tapi asti asya tidak akan setuju dan terjad hal-hal yang merepotkan nantinya.
“oh ponakan, ko aku baru tau? Kamu beneran ponakan Dhika kan?” tanya asya ke Nisa nyolot
__ADS_1
Nisa mengangguk dengan kepala tertunduk, rambut panjangnya hampir menutupi wajahnya.
“jangan ganggu Dhika ya dek, dIa lagi sibuk banget, kalo mau belanja minta anter mama papa kamu aja ya!” tegas
asya
Perawakan asya dan Nisa memang berbeda jauh. Asya memiliki tinggi 168 sedangkan Nisa hanya 155. Selain itu,
asya juga montok dan memakai dandanan sedikit menor. Lipstick merah dan bulu mata palsu.
“sayang hari ini aku pulang ke rumah kamu ya? Atau ke apartmen kamu juga gapapa, tapi kamu ga kasih aku alamatnya” asya merengek manja
“aku sibuk. Tidak usah datang”
“tapi atm kamu masih di blokir bank?” aya merengek lagi
“iya.”
“uummm, kapan di buka nya? Aku pengen tas Gucci keluaran terbaru”
“pakai uangmu sendiri, pulanglah, saya akan lanjut berbelanja” Dhika mengambil alih troli dari Nisa, Nisa hanya
menunduk dan mengikuti Dhika dari belakang
Mereka masuk ke tempat sayuran, bukannya berbelanja, Nisa malah menangis sesegukan seperti anak kecil.
“hei! Jangan menangis!” suara Dhika dikecilkan
Melihat reaksi Dhika, Nisa langsung berlari ke toilet. Ia membasuh mukanya dan menggosok2kannya berkali2. Yatuhan, penyakit sIalan ini kambuh lagi. Tolong tuhan aku tiidak bawa obatnya. Setidaknya
bIarkan aku tenang sampai dIa tidak ada disekitarku.
Nisa keluar toilet, tanpa disangka Dhika sudah menunggu depan pintu toilet
“kau kenapa lagi?”
“tidak Tuan, maafkan saya”
“jawab yang benar, apa kau marah? Kau cemburu?”
Yatuhan pertanyaan macam apa ini
“iya Tuan, begitulah” jawab Nisa singkat. Walaupun sebenarnya niat Nisa ingin menyembunyikan penyakitnya. Ia tidak ingin Dhika bertanya lebih detail nantinya.
Mana mungkin aku cemburu, kita bahkan tidak mencintai satu sama lain. Gumam Nisa
“tidak mungkin. Cepat bayar semua
belanjaan ini. Pakai kartu ini” Dhika memberinya kartu dan memilih untuk menunggu di mobil.
Cemburu? Tidak mungkin wanita kecil itu melibatkan perasaan, mungkin dIa sudah gila. Guman Dhika
Beberapa saat kemudIan Nisa Kembali
ke parkiran mobil membawa banyak sekali belanjaan. Di tengah perjalanan Nisa
__ADS_1
istirahat, menurunkan kresek2 besar itu lalu Kembali membawa barang sampai
mobil. Dhika tidak ambil pusing untuk membantu.